No comments yet

Doktrin Tentang Alkitab – Bibliology

Alkitab – Bibliology

dilihat: 924 kali

Allah adalah Allah yang berkenan menyatakan diri-Nya. Ia adalah Tuhan yang berkenan menyatakan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Hanya Allah yang dapat mengungkapkan diri-Nya sehingga diketahui manusia. Allah yang disaksikan dalam Alkitab adalah Allah yang berfirman. Firman Allah dinyatakan kepada manusia dengan wahyu. Wahyu yang terbesar dan paling utama ialah Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ialah Firman atau Logos yang berinkarnasi menjadi manusia. “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1,2). “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita…” ( Yohanes 1:14 ). “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada akhir zaman ini ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan anak-Nya…” ( Ibrani 1:1,2 ).

Allah berkenan bahwa semua wahyu-Nya kepada manusia tertulis dalam buku yang kita katakan Alkitab. Alkitab juga berisi kesaksian tentang usaha manusia untuk bertemu dengan Allah. Oleh sebab itu penting sekali memahami mengenai asalnya Alkitab, otoritasnya, tidak kelirunya Alkitab serta inspirasi Ilahi atas Alkitab. Hal-hal inilah yang dibicarakan dalam Bibliologi.

I. NAMA-NAMA KITAB SUCI

A. Alkitab.

Nama umum untuk buku Firman Allah adalah Alkitab. Ini dikatakan misalnya dalam Lukas 4:16, “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan… Ia masuk ke rumah Ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.” Dalam bahasa Inggris dikatakan Bible, yang berasal dari Bahasa Grika Biblios.

B. Nama-nama lain.

Alkitab juga dikatakan sebagai Kitab Suci ( Markus 12:24; Lukas 24:27; Yohanes 2:22; Yohanes 20:9; Kisah 17:11; 18:28; 1 Korintus 15:3; 2 Timotius 3:15; 2 Petrus 1:20 ). Dalam Roma 1:2 dikatakan sebagai Kitab-Kitab Suci.
Ungkapan lain yang banyak digunakan yaitu Firman Allah ( Markus 7:13; 2 Korintus 2:17; 1 Tesalonika 2:13; Ibrani 4:12 ) dan adakalanya dikatakan sebagai Firman Kristus ( Roma 10:17 ).

II. PARA PENULIS KITAB SUCI

Alkitab adalah salah satu Buku, tetapi juga terdiri dari banyak buku yang ditulis oleh sekurang-kurangnya 40 penulis yang berbeda-beda, dalam periode tak kurang dari 1500 tahun, kebanyakan dari mereka tak pernah saling mengenal. Namun Alkitab adalah satu kesatuan yang kesinambungannya demikian jelas dan dapat saja dipikirkan seolah-olah buku itu hanya punya seorang penulis, yaitu Allah sendiri.

Dari keenampuluh enam buku di Alkitab, yang 55 dikenal baik penulisnya di sejarah dan tradisi. Yang 11 buku para penulisnya tidak diketahui adalah Hakim-hakim, Rut, 1 & 2 Samuel, 1 & 2 Raja-raja, 1 & 2 Tawarikh, Ester, Ayub dan Ibrani. Beberapa buku seperti Kejadian, Hakim-hakim, 1 & 2 Raja-raja dan 1 & 2 Tawarikh meliputi masa yang panjang dalam sejarah sehingga merupakan kemungkinan bahwa buku-buku ini berupa kumpulan catatan-catatan kuno yang digabungkan dan diedit oleh beberapa orang yang dipilih Allah, yaitu yang ada di akhir periode waktu yang dilukiskan di buku tersebut. Sebagai contoh, Musa mungkin merupakan pengumpul sumber-sumber yang menjadi buku kejadian. Mazmur dan Amsal adalah buku-buku yang ditulis oleh lebih dari seorang. Judul-judul yang ada pada sejumlah Mazmur menyarankan ada sekitar 7 penulis yang berbeda-beda. Sebagai penulis Amsal adalah Salomo, Agur ( 30:1 ) dan raja Lemuel ( 31:1 ).

Semua penulis, terkecuali Lukas, adalah orang-orang Israel/Yahudi dan menulis dalam konteks agama Yahudi atau Kristen. Namun kata-kata yang mereka tulis mempunyai daya tarik universal bagi semua bangsa di seluruh dunia.
Menarik untuk diperhatikan berbagai latar belakang pekerjaan penulis-penulis yang dapat diketahui yaitu:
Dua penulis adalah Raja – Daud dan Salomo Dua penulis adalah Imam – Yeremia dan Yehezkiel Lukas seorang Dokter Dua penulis adalah Nelayan – Petrus dan Yohanes Dua penulis adalah Gembala – Musa dan Amos Paulus seorang Farisi dan Theolog Daniel seorang Negarawan Matius seorang Pemungut Cukai Yosua seorang Tentara Ezra seorang Ahli Kitab Nehemia seorang Juru Minuman.

III. KESATUAN ALKITAB

Bersamaan dengan adanya perbedaan besar, Alkitab juga memiliki kesatuan yang menakjubkan. Perbedaannya sangat jelas yaitu terdiri dari enampuluh enam buku yang berbeda-beda yang ditulis dalam jangka waktu 1500 tahun. Buku-buku ini ditulis oleh sekitar 40 penulis yang berbeda-beda, yang hidup dalam budaya dan negara yang berbeda-beda, dari Mesir sampai Roma ke Babilon. Tulisan mereka meliputi hampir setiap jenis sastra, termasuk sejarah, hukum, puisi, nubuat, biografi, nyanyian, surat, perumpamaan dan Amsal. Adalah suatu mujizat bahwa mereka menghasilkan sebuah buku yang menjadi satu secara ajaib, dimana setiap penulis menyumbangkan bagian tertentu yang diperlukan, yang serasi dan tidak bertentangan dengan keseluruhannya.

l. Keharmonisan Pembagian Buku-buku

a. Perjanjian Lama.

Buku-Buku Perjanjian Lama

*** Taurat = Sejarah = 17 Buku (5 Pentateukh + 12 Buku-buku sejarah).
5 Pentateukh/Pentateukh Historis (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan).
12 Buku sejarah (9 Sejarah Pra Pembuangan + 3 Sejarah Pasca Pembuangan).
9 Buku Sejarah Pra Pembuangan (Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 & 2 Samuel, 1 & 2 Raja-raja, 1 & 2 Tawarikh).
3 Buku Pasca Sejarah (Ezra, Nehemia, Ester).

*** Mazmur = 5 Buku Puisi = Puisi Hati (Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung).

*** Nabi-Nabi = 17 Buku Nubuat = {5 Buku Nubuat Nabi-Nabi Besar = Pentateukh Nubuat (Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel) + 12 Buku Nubuat Nabi-Nabi Kecil} 12 Buku Nubuat Nabi-Nabi Kecil = {9 Nubuat Pra Pembuangan (Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya) + 3 Nubuat Pasca Pembuangan (Hagai, Zakharia, Maleakhi) }

b. Perjanjian Baru.

*** Sejarah Perjanjian Baru = Dasar Historis = 5 Buku (Matius, Markus, Lukas, Yahya, Kisah).

*** Surat-Surat Doktrin (Surat-surat Gereja Kristen = 9 Buku = Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika). Surat-Surat Pastoral & Pribadi = 4 Buku (1 & 2 Timotius, Titus, Filemon). Surat-Surat Kristen = 9 Buku (Ibrani, Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1,2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu).

IV. KANON DARI KITAB-KITAB SUCI

Kata “kanon” berasal dari Bahasa Grika kanon, yang berarti tongkat pengukur, dan berarti suatu ukuran, suatu standard. Jadi kanon Alkitab berisi nama buku-buku yang dianggap layak dimasukkan dalam kitab suci. Kanonisasi dihasilkan dalam perkembangan berabad-abad, yang hasilnya bahwa hanya tulisan-tulisan yang terbukti bermanfaat untuk iman dan penyembahan yang diresmikan untuk termasuk dalam kanon. Dapat dikatakan bahwa kanon tidak ditentukan para Rabbi atau Gereja dan dekritnya, tetapi sebenarnya dihasilkan oleh mutu intrinsik tiap-tiap buku dan oleh penerimaan masyarakat yang beribadah dan ini membuktikan bahwa tulisan-tulisan itu diinspirasikan atau karena terbukti menguatkan umat.

A. Kanon Perjanjian Lama.

Alkitab tidak mengatakan mengenai kapan kanon Alkitab itu diadakan. Ada catatan di Alkitab tentang penulisan peristiwa-peristiwa yang dikatakan dalam Alkitab. Catatan pertama tentang penulisan terdapat di Keluaran 17:14, “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan…” Kemudian di Keluaran 24:4 dikatakan, “Lalu Musa menuliskan segala Firman Tuhan itu.” Dalam Ulangan pasal 31 disaksikan mengenai Musa menuliskan hukum Taurat, yang harus dipelihara dan dibacakan kepada umat Israel setiap 7 tahun. Peristiwa ini menandai dengan baik awal dari kanon Perjanjian Lama. “Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan-perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian Tuhan, demikian “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian Tuhan Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.” Ulangan 31:24-26. Yosua juga menuliskan perkataan-perkataan dalam kitab hukum Allah Yosua 24:26. Samuel mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya dalam sebuah buku 1 Samuel 10:25. Nabi-nabi yang kemudian menulis buku-buku seperti yang dikatakan “Datanglah Firman ini dari Tuhan kepada Yeremia, bunyinya: “Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Ku firmankan kepadamu…” Kemudian waktu umat berkumpul kembali di Yerusalem sesudah penawanan Babilon, hukum Musa dibaca dan dihormati Nehemia 8:1-8. Sebelumnya Raja Yosia yang memerintah di Yehuda mendapat laporan bahwa buku hukum Taurat Tuhan yang telah hilang telah ditemukan 2 Raja-raja 22:8. Inilah catatan-catatan mengenai apa yang kemudian menjadi Kitab Suci Perjanjian Lama.

Ahli-ahli menyimpulkan bahwa buku-buku Taurat mulai dikanonkan di masa Ezra ( 444 SM ); buku-buku Nabi-nabi dikenal sebagaimana sekarang pada sekitar tahun 200 SM dan bahwa tulisan-tulisan mendapat kewenangannya pada sekitar tahun 100 SM. Jadi ada 3 kelas tulisan yang di antara sekitar tahun 450 SM sampai 100 SM yang berada di atas sebagai dasar, yang perlahan-lahan menjadi berwewenang. Tidak diragukan lagi bahwa pada masa Yesus Kristus, Kitab Suci Perjanjian Lama sudah menjadi kanon. Di antara kesaksian mengenai hal ini ada di Lukas 24:27, “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Dalam Alkitab Kristen ada 39 buku di Perjanjian Lama, sementara Perjanjian Lama Yahudi berisi 24 buku. Perbedaan ini terjadi karena 12 buku Nabi-nabi Kecil (dari Hosea sampai Maleakhi) hanya merupakan satu buku; juga buku-buku yang merupakan satu buku yaitu: 1,2 Samuel; 1,2 Raja-raja; 1,2 Tawarikh dan Ezra-Nehemia. Jadi tak ada perbedaan perkataan di dalamnya. Ahli sejarah Yahudi, Yosephus, menghitung hanya 22 buku, karena ia menggabungkan Rut dengan Hakim-hakim, Ratapan dengan Yeremia.

B. Apokrifa.

Apokrifa menunjuk kepada buku-buku Apokrif, yaitu 14 buku yang ditambahkan pada Perjanjian Lama, yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai kanon Perjanjian Lama, terutama kalangan Katolik Roma. Kalangan Protestan biasanya tidak mencantumkan Apokrifa dalam Alkitab. Secara harafiah Apokrifa berarti yang tersembunyi atau yang dirahasiakan. Septuaginta (LXX), yaitu terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Grika yang dilakukan di antara tahun 280 M dan 180 M berisi buku-buku Apokrifa ini. Yerome memasukkan juga Apokrifa dalam terjemahan Perjanjian Lama yang disebut Vulgata. Kalangan Protestan tak memasukkan buku-buku Apokrifa dalam Alkitab karena tidak konsisten dengan doktrin. Keempatbelas buku yang tergolong Apokrifa adalah sebagai berikut: 1 Esdras, 2 Esdras, Tobit, Yudit, Sisa dari Ester, Hikmat Salomo, Pengkhotbah, Barukh dan surat Yeremia, Nyanyian Tiga Anak Kudus, Sejarah Susana, Bel dan Naga, Doa Manase, 1 Makabe, 2 Makabe.

C. Kanon Perjanjian Baru.

Buku-buku Perjanjian Baru ditulis pada parohan kedua abad pertama. Waktu Gereja Kristen baru mulai, mereka hanya memiliki Perjanjian Lama sebagai dasar untuk iman mereka, ditambah dengan perkataan Yesus Kristus dan perkataan-perkataan para Rasul. Dengan demikian tulisan-tulisan para Rasul yang menjadi Injil-injil dan tulisan-tulisan lainnya digunakan bersama-sama dengan Perjanjian Lama yang sudah ada sebelumnya. Mengenai kewenangan para rasul, itu adalah karena pergaulan langsung dengan Yesus Kristus. Yohanes mengatakan mengenai hal ini, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga…” ( 1 Yohanes 1:3 ). Petrus mengatakan bahwa mereka “adalah saksi mata dari kebesaran-Nya” 2 Petrus 1:16.

Dengan demikian orang-orang percaya dikatakan bahwa “mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.” Kisah 2:42.
Karena surat-surat Paulus ditulis untuk memenuhi kebutuhan khusus sidang jemaat atau pribadi tertentu, surat-surat ini dipelihara karena nilai rohaninya dan mungkin dibaca di gereja-gereja. Malahan pada kesempatan tertentu Paulus meminta supaya surat-suratnya dibacakan dan diedarkan. Oleh sebab itu surat-surat Paulus ada yang disalin dan diedarkan. Dengan demikian ada sidang-sidang jemaat yang mempunyai kumpulan surat-surat Paulus.

Petrus membuat surat untuk diedarkan kepada “orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia” 1 Petrus 1:1. Ini juga menambah bukti bahwa banyak sidang jemaat yang mempunyai kumpulan tulisan-tulisan rasul-rasul. Mengenai tulisan-tulisan Paulus, ia mengatakan: “Seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.” 2 Petrus 3:15. Ini bukti bahwa tulisan-tulisan Paulus telah tersebar luas dan banyak sidang jemaat yang memilikinya.

Dalam abad kedua terasa pengaruh para bapa Gereja. Dalam tulisan para guru dan pemimpin Gereja, mereka mengutip tulisan-tulisan para bapa Gereja, yaitu yang telah menjadi Perjanjian Baru. Surat-surat ini telah menjadi bukti yang jelas mengenai nilai buku-buku yang telah menjadi Perjanjian Baru itu.

Sesuatu yang di luar dugaan, seorang yang menganut ajaran yang tidak sepenuhnya benar, Marcion, (140 M) yang menyatakan bahwa beberapa buku tertentu menurut pendapatnya memang diinspirasikan dan dimasukkannya dalam kanonnya, Kanon Marcion. Buku-buku yang diakui dalam kanon Marcion adalah Lukas dan 10 surat Paulus. Ia menolak surat-surat penggembalaan, Ibrani, Markus, Yohanes, Kisah, Surat-surat Umum dan Wahyu. Akibatnya muncul banyak kritik, dan diadakanlah studi yang lebih mendalam atas buku-buku yang ditolak Marcion. Pada akhir abad kedua sudah 20 buku dari Perjanjian Baru yang diterima sebagai kanon. Tujuh buku yang belum sepenuhnya diterima adalah buku-buku berikut: Ibrani, 2 Yohanes, 3 Yohanes, 2 Petrus, Yudas, Yakobus dan Wahyu.

Suatu pengalaman dalam sejarah mempercepat terbentuknya kanon yang diakui semua orang Kristen. Pada masa Kaisar Diocletian (302) memerintahkan bahwa semua buku yang termasuk Kitab Suci harus dibakar, orang-orang Kristen mau berkorban demi kepentingan buku-buku yang termasuk Kitab Suci itu. Tetapi timbul masalah yaitu buku-buku manakah yang termasuk Kitab Suci Perjanjian Baru itu.

Kemudian Constantin, Kaisar yang menggantikan Diocletian, memeluk agama Kristen, dan Ia memerintahkan Eusebius, Uskup Kaisarea yang adalah ahli sejarah Gereja, untuk menyiapkan 50 salinan Perjanjian Baru. Dengan demikian pada akhir abad keempat, maka semua 27 buku telah diterima. Setelah diputuskan, tak ada lagi usaha untuk menambah atau mengurangi buku-buku di dalam Perjanjian Baru.

Prinsip-prinsip yang digunakan untuk menentukan penerimaan dalam kanon yaitu:

– Kerasulan. Apakah buku itu ditulis oleh salah seorang rasul atau seorang yang dekat dengan rasul?

– Isi Kerohanian. Apakah buku itu dibacakan di Gereja-gereja dan apakah isinya terbukti membawa kekuatan rohani? Ini adalah test praktis.

– Sehatnya Doktrin. Apakah isi buku itu secara doktrin sehat? Buku yang berisi hal-hal yang sesat, atau yang bertentangan dengan apa yang telah diterima di kanon, ditolak.

– Penggunaan. Apakah buku itu digunakan secara universal, dikenal di Gereja-gereja dan apakah buku itu dikutip secara luas oleh bapa-bapa Gereja?

– Inspirasi Ilahi. Apakah buku itu memberi kesaksian yang benar mengenai inspirasi Ilahi? Ini adalah test terakhir dan yang terpenting.

V. KETIDAKSALAHAN KITAB SUCI

A. Ketidaksalahan (Inerrancy).

Ketidaksalahan dalam Kitab Suci berarti bahwa dalam penulisannya yang asli, Alkitab tak berisi yang salah. Dalam bahasa aslinya waktu Alkitab itu ditulis, secara mutlak tidak mungkin salah (infallible) – tanpa salah apapun. Inilah posisi semua pengakuan Gereja-gereja evangelikal selama ini.

B. Kesaksian atas Ketidaksalahan.

1. Dari manakah doktrin ketidaksalahan itu berasal?

a. Dari para penulis Perjanjian Lama.

Para penulis Perjanjian Lama sangat jelas menyatakan bahwa mereka mengatakan firman Allah. Mereka mengatakan 3.808 kali mengenai penyampaian Firman Allah itu saja. Musa berkata: “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya…” ( Ulangan 4:2 ).

Pemazmur mengatakan, “Taurat Tuhan itu sempurna… Peraturan Tuhan itu teguh…” ( Mazmur 19:6 ). Samuel berkata, “Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku.” ( 2 Samuel 23:2 ). Yeremia berkata, “Dan apapun yang kuperintahkan kepadamu haruslah kau sampaikan… Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanKu ke dalam mulutmu.” ( Yeremia 1:7,9 ). Hamba-hamba Allah ini bersaksi bahwa mereka mengatakan Firman Allah, jadi Perjanjian Lama menyaksikan tentang ketidaksalahan Alkitab.

b. Dari para penulis Perjanjian Baru.

1) Dalam Injil ada tertulis,“Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi.” ( Matius 1:22 )

2) Dalam Surat-suratan. Penulis Ibrani menganggap Firman Allah hidup dan kuat yang dapat memisahkan jiwa dan roh, sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Ibrani 4:12. Yohanes menegaskan dalam Wahyu, Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis dalam kitab ini. Wahyu 22:18,19.

c. Yesus Kristus Yesus Kristus sendiri bersaksi mengenai Kitab Suci.

Kristus mengukuhkan keseluruhan Perjanjian Lama. Ia tidak mengungkapkan adanya kesalahan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Mengenai hukum Taurat Ia mengatakan, “Karena Aku berkata kepadamu: sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Matius 5:18. Ia juga mengatakan, “Inilah perkataan-Ku, yang telah kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang tertulis tentang Aku dalam Kitab Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi dan Kitab Mazmur Lukas 22:44.

Yesus juga menunjuk pada orang-orang dan peristiwa di Perjanjian Lama, dan dengan demikian bersaksi mengenai keaslian dan otoritas Perjanjian Lama. Yesus mengesahkan persetujuan-Nya atas peristiwa-peristiwa dan mujizat Perjanjian Lama yang justru dikritik secara tajam oleh para pengeritik. Contoh-contoh yang diberikan:

– Penciptaan dan Perkawinan – Matius 19:5

– Air Bah dan Bahtera Nuh – Lukas 17:26,27

– Penghancuran Sodom dan Gomora – Lukas 17:28,29

2. Alkitab adalah wahyu kebenaran yang unik.

Alkitab adalah wahyu kebenaran yang tentang itu manusia tak pernah dapat mengetahuinya bila terpisah dari apa yang dikatakannya. Alkitab tak terbatas karena mengungkap kebenaran mengenai Allah yang Maha Besar, kekudusan yang tak terhingga, dosa dan penebusan yang tak terbatas.
Yang unik juga adalah Yesus Kristus. Tetapi apakah yang kita ketahui tentang Yesus Kristus bila tidak dikatakan dalam Alkitab? Keseluruhan informasi tentang Yesus Kristus ada di Alkitab. Namun bila manusia tidak dapat mempercayai Alkitab, bagaimana ia yakin bahwa informasi tentang Yesus benar?

3. Alkitab adalah wahyu yang tak berubah.

Buku-buku teks ilmu Pengetahuan dapat menjadi basi atau ketinggalan zaman hanya dalam waktu yang tidak lama. Tetapi Alkitab tak dapat diganti atau diubah setelah ribuan tahun ditulis. Walaupun Alkitab bukan buku teks ilmu pengetahuan, tetapi belum ada yang dapat membuktikan kalau Alkitab salah dilihat dari fakta ilmiah.

4. Alkitab benar secara moral dan rohani.

Yang sangat penting adalah bahwa Alkitab benar secara moral dan rohani. Ketepatan Alkitab adalah terutama dalam bidang moral dan rohani. Walaupun pembelaan secara intelektual atas Alkitab ada tempatnya, namun di atas semuanya adalah argumentasi dari nilai praktisnya. Dan ternyata Alkitab telah berperan. Alkitab telah mempengaruhi kebudayaan, mengubah hidup, membawa terang inspirasi dan kesenangan kepada jutaan manusia. Dan peran Alkitab berjalan, terus. Ini sesuai pernyataan Alkitab, “Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami berikan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi -dan memang sungguh-sungguh demikian- sebagai firman Allah.” 1 Tesalonika 2:13.

VI. INSPIRASI KITAB SUCI

Alkitab adalah buku yang tak mungkin salah dan tak dapat disalahkan – sebuah Buku dimana kata-katanya, frasa-frasa dan kalimat-kalimatnya, waktu ditulis aslinya, tidak berisi kesalahan apapun. Buku ini memang ditulis oleh manusia yang telah jatuh, lemah dan berdosa. Manusia dapat salah mengerti, salah menafsir, kurang dalam mengingat, malahan dapat berbohong.
Namun dikatakan Buku itu tidak berisi kelemahan-kelemahan manusia penulisnya. Pernyataan ini mengatakan bahwa apa yang ditulis sungguh-sungguh benar dan bahwa semua yang harus ditulis tak ada yang terlupakan. Hal ini sukar untuk dipercaya dapat ditulis manusia yang telah jatuh. Juga ditambah dengan kenyataan bahwa tidak kurang dari 40 orang yang berbeda-beda yang hidup dalam jangka waktu 1500 tahun, yang masing-masing tak saling mengenal, namun yang tulisan-tulisan mereka ternyata tak ada yang bertentangan. Hanya mujizat yang memungkinkan hal ini. Mujizat itu adalah misteri dan mujizat Inspirasi Ilahi.

A. Definisi Inspirasi.

Alkitab mengungkapkan mengenai sumber dari keagungan itu “Semua tulisan yang diilhamkan Allah” 2 Timotius 3:16. Kata kuncinya adalah “diilhamkan” (Grika: theopneustos) yang secara harafiah berarti dinafasi Allah. Ini tidak berarti bahwa para penulis “dinafasi oleh Allah”, tetapi bahwa firman itu dihasilkan oleh nafas yang kreatif dari Allah. Jadi Kitab Suci adalah hasil Ilahi. Dalam 2 Petrus 1:21 dikatakan: “Oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” Demikianlah tulisan di Alkitab tidak dihasilkan oleh kehendak manusia pada suatu waktu, melainkan manusia menulis apa yang dari Allah, yang dihasilkan oleh Roh Kudus.

B. Perbedaan di antara Wahyu, Inspirasi dan Iluminasi.

Penting bagi kita untuk membedakan Wahyu (Revelation), Inspirasi (Inspiration), dan Iluminasi (Ilumination). Wahyu adalah tindakan Allah yang dengannya Ia mengkomunikasikan secara langsung kebenaran yang tidak diketahui sebelumnya dengan cara apapun. Inspirasi adalah tentang komunikasi kebenaran. Wahyu menemukan kebenaran baru, sementara inspirasi mengawasi pengkomunikasian kebenaran yang ditemukan itu.
Kita perlu memperhatikan bahwa tidak semua yang di Alkitab itu diungkapkan secara langsung kepada manusia. Ada banyak sejarah dan pengamatan pribadi yang tercatat di Alkitab. Yang harus diyakinkan bahwa yang dicatat di Alkitab adalah benar. Roh Kudus mengarahkan dan mempengaruhi para penulis, sehingga dengan inspirasi mereka tidak melakukan kekeliruan mengenai fakta dan doktrin. Alkitab merekam firman dan tindakan Allah, manusia dan bahkan yang dari iblis. Oleh sebab itu perlu diperhatikan mengenai siapa yang berbicara. Jadi walaupun semua yang di Kitab Suci itu diinspirasikan, namun bukan semua kalimat yang dilaporkan di sana dimeteraikan dengan otoritas Ilahi. Demikian pula tidak semua disetujui secara ilahi setiap tindakan yang ada kaitan dengan mereka yang biografinya dibicarakan.

Sebagai contoh dalam buku Ayub, inspirasi itu memberikan ketepatan mengenai apa yang dikatakan Allah, yang dikatakan oleh setan, Ayub dan ketiga sahabatnya; namun tidak semua yang diucapkan mempunyai nilai otoritas yang sama. Setiap yang berbicara bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. Dan tak ada jaminan bahwa perkataan Setan, Ayub dan ketiga sahabatnya adalah inspirasi Allah. Mereka masing-masing membawakan pendapat mereka; dan inspirasi adalah bahwa tak ada di antara mereka yang ucapan mereka salah direkam, dan bahwa setiap mereka berbicara sesuai dengan keadaan atau sentimen yang ada padanya, yang menurut Kitab Suci demikian.
Iluminasi adalah mengenai pengaruh Roh Kudus, biasa bagi semua orang Kristen, yang menolong mereka memahami hal-hal yang dari Allah. Iluminasi hal-hal rohani dijanjikan kepada semua orang percaya dan dapat dialami oleh mereka.

C. Arti dari Inspirasi.

1. Pandangan kalangan Liberal tentang Inspirasi.
Pandangan teolog liberal secara khusus terungkap dalam pernyataan: “Alkitab berisi Firman Allah.” Ini menyarankan bahwa Alkitab juga berisi sebagian perkataan manusia. Bahayanya di sini bahwa manusia dapat memilih mana yang Firman Allah dan mana yang bukan Firman Allah.

2. Pandangan Neo-ortodoks tentang Inspirasi.
Secara singkat pandangan ini adalah pernyataan: “Alkitab menjadi Firman Allah.”

a. Pandangan yang eksistensial dari Karl Barth.
Pandangan ini mengajarkan ada banyak kesalahan manusiawi dan ketidaksempurnaan di dalam Alkitab. Tetapi Alkitab menjadi Firman Allah bila ia memilih menggunakan saluran yang tidak sempurna ini untuk memperhadapkan manusia dengan Firman-Nya yang sempurna. Ini terlaksana dengan terjadinya perjumpaan di antara Allah dan manusia dalam suatu tindakan wahyu. Dalam pengalaman eksistensial ini – yang disebut perjumpaan krisis – maka gumpalan-gumpalan yang tak berarti di halaman melompat dari Alkitab dan berbicara kepada manusia secara tepat dan berarti. Pada saat berarti inilah Alkitab menjadi Firman Allah kepada orang percaya.

b. Pandangan demitologis dari Bultman dan Neibuhr.
Alkitab harus dibersihkan dari dongeng (mite) agama supaya memperoleh arti yang sebenarnya dari kasih Allah yang memberi-diri di dalam Kristus.

Seseorang harus mencari di balik catatan sejarah, dengan dongeng dan kesalahannya di Alkitab, untuk menemukan yang super-historis itu. Jadi, Alkitab menjadi wahyu, bila dengan penafsiran yang sebenarnya (demitologis) seseorang diperhadapkan dengan kasih yang absolut yang dikemukakan dalam “mite” kasih Allah yang tak-mementingkan-diri di dalam Kristus.

3. Pandangan-pandangan konservatif.
Pandangan konservatif adalah bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Namun di dalam kalangan konservatif ada perbedaan pendapat mengenai apa yang termasuk inspirasi itu. Jadi ada beberapa teori inspirasi konservatif di bawah ini.

a. Teori Imla Verbal. Teori ini mengatakan bahwa setiap kata, tanda baca itu semua didikte Allah, seperti seorang eksekutif mendiktekan isi surat kepada sekretarisnya. Ini juga disebut “inspirasi mekanis” atau “imla verbal”. Kelemahan terbesar teori ini yaitu mengeluarkan kemungkinan adanya gaya pribadi dalam penulisan oleh penulis pilihan Allah itu.

b. Teori Konsep Diilhami. Untuk mengatasi bahaya teori Imla Verbal di atas, ada yang mempunyai ide bahwa Allah memberikan pikiran-pikiran kepada orang-orang pilihan, dan membiarkan mereka mencatat pemikiran-pemikiran ini dalam kata-kata mereka sendiri. Jadi yang diinspirasikan hanya pemikiran, bukan kata-kata. Ini juga disebut “Inspirasi Dinamis”.

c. Pandangan Inspirasi Kata Penuh (The Verbal, Plenary Inspiration).
Pandangan ini berpegang bahwa semua kata yang ditulis itu dinafasi-Allah 2 Timotius 3:16. “Verbal” memaksudkan kata-kata dan “Plenary” artinya sepenuh, komplit, bukan hanya sebagian (partial). Jadi pandangan ini berpegang bahwa kata-kata itu, semuanya, diilhami. Allah memberikan pengungkapan sepenuhnya atas pikiran-Nya dalam kata-kata rekaman Alkitabiah. Ia membimbing dalam pemilihan kata-kata yang digunakan dalam kepribadian dan kompleksnya kebudayaan penulis. Dengan demikian secara rahasia Alkitab adalah Firman Allah dan juga sebagai perkataan manusia. Jadi inspirasi adalah proses yang dengannya manusia yang digerakkan Roh Kudus 2 Petrus 1:21 menghasilkan tulisan-tulisan yang dinafasi -Roh 2 Timotius 3:16.

VII. SIMBOL-SIMBOL KITAB SUCI

Ada sejumlah simbol yang digunakan di seluruh Alkitab untuk menjelaskan Alkitab itu. Di sini didaftarkan sejumlah simbol yang sangat jelas.

A. Firman itu seperti Api ( Yeremia 23:29 ). Api membakar, membersihkan dan menyucikan semua yang bertentangan dengan standard kekudusan-Nya.

B. Firman seperti Palu ( Yeremia 23:29 ). Palu menghancurkan dan melumpuhkan kejahatan.

C. Firman seperti Lampu ( Mazmur 119:105 ). Lampu adalah alat terang dan sebagai penerangan.

D. Firman seperti Cermin ( Yakobus 1:23 ). Cermin memantulkan kepada kita keberadaan kita dan apa yang dapat kita peroleh di dalam Allah.

E. Firman seperti Susu ( 1 Petrus 2:2 ). Susu memberi makanan kepada yang muda di dalam Kristus.

F. Firman seperti Tongkat ( Wahyu 11:1,2 ). Sebagai alat pengukur ini adalah standard Ilahi dalam segala sesuatu tentang iman dan penerapannya.

G. Firman seperti Benih ( 1 Petrus 1:23; Lukas 8:11; Yakobus 1:18 ). Ini adalah Firman yang berkecambah, yang menghasilkan kehidupan, yang punya potensi kehidupan kekal di dalamnya.

H. Firman seperti Pedang ( Ibrani 4:12 ). Pedang itu tajam dan dua sisinya bekerjanya, yang memisahkan hal-hal daging dari hal-hal Roh.

I. Firman seperti Air ( Efesus 5:26; Yohanes 15:3; 17:17; Mazmur 119:5,9 ). Air adalah agen yang memberi hidup, yang menyegarkan dan membersihkan.

J. Firman seperti Emas ( Mazmur 19:7-10; Ayub 28:1; Amsal 25:2 ).
Emas berharga tinggi. Alkitab adalah tambang emas yang tidak habis-habisnya, dimana seorang dapat menggali yang sangat mahal sepanjang masa.

K. Firman seperti Madu ( Mazmur 19:10; Wahyu 10:10 ). Rasanya manis dan memberi kekuatan.

L. Firman seperti Tongkat Musa ( Pengkhotbah 12:11 ). Ini adalah alat yang memecut sapi supaya melaksanakan tugasnya.

M. Firman seperti Paku ( Pengkhotbah 12:11 ). Paku tertancap di tempat tertentu. Kita dapat menggantung barang dengan aman di situ.

N. Firman seperti Roti ( Matius 4:4; Ulangan 8:3; Mazmur 119:103; Yesaya 55:10; Keluaran 16). Ini adalah bahan pokok kehidupan, yang selalu segar, yang dimaksudkan untuk dimakan sehari-hari.

O. Firman seperti Mutiara ( Matius 7:6 ). Ini adalah permata yang mahal. Walaupun dibentuk dalam kegelapan, tetapi mempunyai warna pelangi bila dibawa ke terang.

P. Firman seperti Jangkar ( Ibrani 6:18,19 ). Ini menahan orang percaya dalam keamanan walau ada badai.

Q. Firman seperti Bintang ( 2 Petrus 1:19; Wahyu 2:28 ). Ini membimbing orang percaya kepada Kristus.

R. Firman seperti Daging ( Ibrani 5:14 ). Ini adalah makanan yang memberi kekuatan bagi orang dewasa.

[END] @2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).

Author :

Related Post

Post a comment