No comments yet

Doktrin Tentang Allah – Theology

Allah – Theology
dilihat: 1372 kali.

BAB I: ADANYA ALLAH.

Sebelum Alkitab diwahyukan atau sebelum Firman Allah itu diberitakan, manusia oleh akal budinya sebenarnya menyadari adanya Allah. Manusia menyadari adanya Allah karena ia adalah mahluk satu-satunya di bumi ini yang memiliki roh didalam dirinya. Kesadaran akan adanya Allah itu belum dalam bentuk baku, teratur dan sistematis. Juga pembuktian akan adanya Allah itu pada mulanya bersifat tidak langsung dari wahyu umum.

1. Adanya Allah menurut manusia itu pertama-tama disimpulkan dari wahyu umum.

Alam semesta ciptaan Allah itu sebenarnya amat luar biasa. Tanpa terasa oleh manusia, alam semesta itu ternyata bergerak dan digerakkan oleh suatu kekuatan yang teratur, harmonis dan akurat, yang membentuk hukum alam yang maha luas. Sampai sekarangpun manusia masih mengira-ngira luas dan besarnya jangkauan hukum tersebut. Alam semesta inilah yang sebenarnya merupakan pernyataan Allah secara umum tentang adanya Dia; sehingga dikenal dalam dunia theologia dengan istilah wahyu umum, “General Revelation”, Roma 1:19-20; Mazmur 19:2. Manusia sejak zaman purbakala sudah mengenal serta mengalami bagian kecil dari kekuatan hukum alam itu. Hujan, panas matahari, angin, gempa bumi, letusan gunung berapi, dan lain-lain, merupakan gejala alam dalam percikan kekuatannya yang tak dapat ditandingi oleh manusia itu sendiri. Dari sinilah awal mula manusia mulai menyadari adanya informasi dari luar dirinya tentang adanya Allah, walaupun masih sederhana dan bersifat umum sekali.

1.1 Manusia dari dirinya sendiri tidak mampu mengenal Allah yang benar.

Walaupun dalam rohnya, manusia menyadari adanya Allah, tetapi tanpa pertolongan informasi dari luar dirinya sendiri, ia tidak akan mampu memahami secara akali tentang Allah yang benar itu, 1 Yohanes 5:20. Hal itu disebabkan karena :

a. Dosa manusia itu yang memisahkannya dari Allah.

Oleh dosa, semua manusia sudah kurang kemuliaan dari Allah, Roma 3:23. Terjadi ketidak seimbangan dalam roh, jiwa dan tubuh manusia. Itulah sebabnya manusia duniawi (manusia yang belum dijamah oleh pekerjaan Firman dan Roh Kudus), tidak dapat mengenal Allah yang benar karena tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, 1 Korintus 2:14.

b. Adanya perbedaan substansial manusia dan Allah, Yesaya 55:9.

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, perbedaan substansial itu ternganga menjadi jurang yang tak terseberangi. Perbedaan-perbedaan itu antara lain:

Manusia:            Allah:
Kelihatan           Tidak kelihatan
Fana                  Kekal
Terbatas            Tidak terbatas

Dengan perbedaan yang hakiki ini, tanpa bantuan informasi dari luar dirinya, manusia itu sendiri tidak akan sanggup memahami Allah yang benar itu.

c. Setan berusaha mengikis habis informasi yang benar tentang Allah.

Setan tahu bahwa waktu penghukuman baginya sudah dekat. Wahyu 12:12. Yesus sendiri memberi perumpamaan bagaimana giatnya setan berusaha mengikis habis benih yang benar tentang Allah, Matius 13:19cf.

d. Pengalaman manusia itu sendiri.

Alkitab mencatat, bahwa Kain itu bukanlah orang yang tidak mengenal Allah. Kejadian 4:3. Tetapi oleh kekerasan hatinya ia memilih jalannya sendiri dan makin jauh dari Allah, Kejadian 4:16; Yudas 1:11. Keturunannya menjadi orang-orang yang tak mengenal Allah. Keturunan Nuh pun mempunyai pengalaman yang serupa. Hal itu terjadi berulang-ulang dalam sejarah. Memang kedagingan manusia, mencondongkan manusia kepada dosa, Kejadian 6:5; Roma 7:22-23cf, yang makin menjauhkan manusia dari pengenalan akan Allah.

1.2. Pertama-tama Allah menyatakan keberadaanNya kepada manusia lewat wahyu umum.

Sudah jelas bahwa bumi adalah sebagian kecil dari alam semesta ciptaan Allah. Sedangkan bumi dengan segala isi ciptaan itu diadakan bagi tempat kediaman manusia, Kejadian 2:4-7; Mazmur 115:16; Yesaya 45:18. Tujuan semuanya ini supaya manusia mengenal Allah, memuliakanNya, dan bersyukur kepadaNya, Roma 1:21. Sebenarnya hal utama yang dapat dipelajari manusia dari alam semesta ini adalah kekuatan, kebesaran, kekekalan dan harmoninya hukum alam. Semua kebijaksanaan itu secara tidak langsung kelak membawa manusia kepada perancang bahkan sumber dari segala sesuatu: “Sang Pencipta”.

1.3. Akibat negatif bila wahyu umum tidak dilengkapi dengan wahyu khusus.

Sejarah mencatat bahwa dari merenungkan kekuatan, kebesaran, kekekalan dan harmoninya hukum alam, para orang bijak zaman purba mencari Allah didalamnya. Dari hasil pemikiran jenius mereka, dirumuskanlah kesimpulan-kesimpulan tentang Allah. Inilah cikal-bakal agama-agama dunia; agama-agama alam; natural religion. Allah bagi mereka digambarkan sesuai dengan jalan pikiran mereka, sehingga muncullah berbagai ragam allah-allah.

Wahyu khusus – special revelation, adalah Alkitab yang diilhamkan Allah. Dalam Alkitablah Allah yang benar itu dinyatakan. Bila wahyu umum tidak dilengkapi oleh wahyu khusus, maka akibat negatifnya yakni manusia tidak dapat menemukan Allah yang benar. Hal itu terbukti dari begitu banyaknya agama atau aliran kepercayaan manusia di dunia ini.

2. Adanya Allah itu tidak mampu disangkal oleh manusia. Mazmur 19:1-5; Roma 1:19-20.

Walaupun manusia dari dirinya sendiri tidak mampu mengenal Allah yang benar, bahkan akhirnya banyak orang yang menyangkal keberadaan Allah, tetapi manusia hanya dapat berargumentasi dengan dirinya sendiri. Adanya Allah yang tercermin dalam wahyu umum itu tidak dapat disangkal oleh manusia. Berbagai kesaksian dari luar manusia memberi gambaran adanya Allah, Mazmur 19:1-5; Roma 1:19-20.

3. Adanya Allah dalam argumentasi.

Suatu kewajiban orang percaya untuk memberi jawaban kepada siapa saja tentang imannya, 1 Petrus 3:15. Kewajiban kita untuk berapologia dengan memberi argumentasi bahwa Allah ada:

3.1 Argumentasi Kosmologis.

Kata ‘kosmos’ itu berarti ‘dunia’; dan dapat juga berarti ‘alam semesta – universe’. Argumentasi kosmologis itu menunjuk kepada alam semesta, kemudian berupaya membuktikannya dari hukum sebab akibat. Keberadaan dari akibat itu senantiasa menunjuk pada keberadaan dari sebabnya. Alam semesta itu ternyata bergerak dan digerakkan oleh suatu kekuatan yang teratur, harmonis dan akurat, yang membentuk suatu hukum alam yang maha luas dan dahsyat.

Bila alam semesta yang digambarkan tadi adalah akibatnya, menjadi pertanyaan: ‘Apa’ atau lebih tepat ‘siapakah’ penyebab dari semua ini? Manusia memang tidak dapat menjawab pertanyaan besar ini. Berbagai hypothesa telah diteorikan oleh para ahli astronomi dan ilmu pengetahuan alam, tetapi semuanya tidak memuaskan. Alamlah sendiri yang menjadi saksi bahwa penyebab awal – causa prima dari semua ini adalah Allah, Sang Pencipta itu, Kejadian 1:1; Mazmur 19:1-5; Roma 1:19-20; Ibrani 11:3.

3.2 Argumentasi Teleologis.

Argumentasi ini adalah pembuktian dari bentuk dan tujuan. Tidak sekedar bahwa alam semesta itu ada, tetapi alam semesta dan isinya itu mempunyai bentuk sempurna dan mempunyai fungsi tertentu, sesuai peran penciptaannya. Masing-masing ciptaan yang tak terhitung jumlah dan jenisnya dalam alam ini menunjuk pada maksud penciptaannya dan masing-masing mempunyai peran tertentu, bahkan kesemua ciptaan itu ada dalam harmoni satu dengan yang lain.

Alam semesta – Bima Sakti – Melky Way System diciptakan sedemikian rupa, sehingga tata surya kita merupakan satu dari sekian juta tata surya yang ada dalam sistem alam semesta ini. Kemudian bumi ini merupakan planet teristimewa dalam susunan tata surya kita. Sedangkan planet bumi ini diciptakan sedemikian rupa, dilindungi oleh sistem perlindungan sedemikian rupa, diisi oleh tak terbilang jenis ciptaan dalam kontrol hukum yang harmoni satu dengan lainnya; sehingga manusia dapat hidup di dalamnya.

Menjadi pertanyaan: Siapakah yang merancang segala sesuatu ini dengan sempurna? Apakah sebenarnya tujuan penciptaan segala sesuatu ini? Dapatkah manusia mengukur intelegensia dari sang perancang semua ini? Argumentasi dari bentuk dan tujuan adanya ‘suatu’ yang jauh melebihi inteligensia manusia, Yesaya 55:8-9, bahkan tanpa batas, yang lebih besar dari alam semesta, 2 Tawarikh 6:18.

3.3 Argumentasi Antropologis.

Kata’anthropos’ dalam bahasa Grika berarti ‘manusia’. Dari keberadaan manusia itu sendiri argumentasi ini bertitik tolak. Manusia adalah ‘master piece’ dari tindakan penciptaan Allah. Manusia yang diciptakan dalam gambar Allah menjadi mahkota kemuliaan dari segala ciptaan, Kejadian 1:1-28; Mazmur 94:9. Manusia jauh lebih berkuasa dari pada gabungan seluruh binatang ciptaan. Seekor monyet yang paling sempurna tidak dapat dibandingkan dengan manusia dalam keseluruhan keberadaannya. Teori evolusi sebenarnya adalah usaha untuk melepaskan manusia dari kelayakan dan pertanggung-jawaban kepenciptaan bagi dirinya. Manusia yang cerdas adalah salah satu argumen terbesar bagi adanya Allah yang cerdas pula. Bermilyard-milyard umat manusia, masing-masing berbeda dan unik, pun semua dasar kepenciptaan mereka, membuktikan adanya seorang pencipta.

3.4 Argumentasi Ontologis.

Ontologi adalah bagian dari isi filsafat yang mempelajari tentang keberadaan yang hakiki dari sesuatu. Ontologi datang dari kata Grika ‘ontos’ yang berarti ‘yang sedang berada’. Argumentasi ontologis dihubungkan dengan argumentasi anthropologis, yakni yang membicarakan keberadaan hakiki dari manusia itu.

Manusia bukan hanya sekedar ciptaan yang cerdas belaka, ia juga adalah mahluk yang secara intuitif percaya dan mengetahui akan adanya Allah. Intuisi berbicara tentang pemahaman atau pengetahuan dimana manusia memilikinya tanpa proses berpikir. Manusia mengetahui secara intuitif bahwa ada Allah. Ia dilahirkan dengan pengetahuan ini di dalam dirinya. Kadang-kadang hal ini disebut sebagai agama instink di dalam manusia, yang membuatnya ingin menyembah sesuatu atau seseorang. Manusia diciptakan untuk menjadi seorang penyembah untuk menyembah Allah. Manusia tidak akan ingin menyembah Allah bila Allah tidak menaruh di dalam manusia itu pengetahuan intuitif tentang keberadaanNya sendiri.

Argumentasi menjadi hakiki oleh fakta adanya suatu keyakinan universal pada ‘satu allah’ atau ‘allah-allah’ dalam setiap bangsa pada permukaan bumi ini. Apabila manusia tidak menerima atau mendapatkan Allah yang benar, ia membuat allah/dewa bagi dirinya sendiri untuk disembah, untuk memuaskan pengetahuan instinktifnya itu.

Percaya akan Allah bukan hanya sekedar hasil dari kondisi budaya. Secara ontologis, manusia tercipta dalam roh, jiwa dan tubuh. Dari aspek rohnya inilah muncul secara intuitif kesadaran dan pengetahuan akan adanya Allah, Kisah Para Rasul 17:23-24; Roma 1:18-32; Yohanes 1:3-7; Mazmur 115:1-8.

3.5 Argumentasi Moral.

Etika adalah pengetahuan yang mempelajari baik atau buruk perbuatan manusia dilihat dari sistim nilai tertentu. Moral adalah tindakan baik atau buruk manusia itu sendiri. Manusia adalah mahluk moral. Ia memiliki suatu perasaan hakiki tentang baik atau buruk, benar atau salah, sebaik perasaan tentang pertanggung-jawaban untuk mengikuti apa yang benar dan menolak apa yang salah. Alkitab menamainya ‘suara hati – conscience’ dan memandangnya sebagai pemberian Allah.

Apabila manusia melanggar suara hatinya, ia tunduk pada kejahatan dan suatu rasa takut akan penghukuman. Walaupun kata hati itu dapat dikondisikan atau dilatih dengan arahan-arahan berbeda, kata hati itu tetaplah suatu yang umum pada manusia secara inheren. Kata hati itu bersifat universal, dan menjadi saksi tentang keberadaan dari suatu pemberi hukum dan hakim tertinggi, yang menciptakan di dalam manusia rasa pertanggung-jawaban bagi kebenaran ini, Roma 2:14-15; 1 Timotius 4:2; Titus 1:15; Ibrani 9:14; Yohanes 8:9.

3.6 Argumentasi Biologis.

Kata Grika ‘bios’ berarti ‘hidup’. Kata ini merupakan suatu fakta ilmiah dimana hidup itu hanya dapat datang dari hidup yang sudah ada sebelumnya, tidak semata-mata dari benda. Hal itu mengusut semua kehidupan kembali kepada sumbernya. Akhirnya kita harus kembali kepada Allah sendiri. Harus ada sesuatu yang menjadi sumber utama kehidupan itu. Asal muasal dari semua kehidupan dan pemilik dari kehidupan asal dan kekal dari Dia sendiri. Sumber kehidupan itu ialah Allah, Mazmur 36:10; Yohanes 11:25; 14:6; 10:28; 1:1-5.

3.7 Argumentasi Historis.

Sejarah manusia menunjuk pada satu tangan yang tak kelihatan, yang membimbing, mengatur dan mengawasi nasib bangsa-bangsa. Sebagai contoh, Babylon jatuh pada suatu malam ketika para tentara lupa menutup pintu-pintu pada dinding yang melaluinya air sungai besar Efrat mengalir. Nabi-nabi Allah telah mengatakan ini sebelumnya, lebih seratus tahun sebelum hal ini terjadi, Yesaya 45:1-5; Daniel 5. Suatu penelitian seksama dari sejarah akan mengungkapkan beberapa ilustrasi dari fakta ada tangan Allah yang bergerak untuk menyelesaikan kehendakNya, Wahyu 17:17. Sejarah membuktikan adanya Allah yang mengawasi jalannya sejarah.

3.8 Argumentasi Kristologis.

Satu dari argumentasi-argumentasi terbesar adalah argumentasi Kristologis. Kristus yang historis adalah suatu fakta; dan adalah tidak mungkin untuk menggambarkan pribadi dari Yesus Kristus terpisah dari adanya Allah. KelahiranNya dari perawan, kehidupanNya yang tanpa dosa, mujizat-mujizat, pengajaran, kematian, penguburan, kebangkitan dan keangkatanNya ke Surga yang kesemuanya itu tak mungkin dijelaskan terpisah dari Allah. Yesus Kristus adalah wahyu terbesar dari adanya Allah. Semua keberadaanNya, semua perbuatanNya, dan semua yang Ia katakan, membuktikan adanya Allah, Yohanes 1:1-3, 14-18; 14:6-9; 1 Timotius 3:16; Ibrani 1:1-3; 1 Yohanes 1:1-3.

3.9 Argumentasi Bibliologis.

Alkitab adalah saksi untuk keberadaan Allah. Dalam penjelasan Doktrin Pewahyuan, Alkitab melampaui semua tulisan lain yang diwahyukan secara ilahi; tidaklah mungkin bagi kitab-kitab itu menjadi sekedar produksi kemanusiaan belaka. Semua kitab itu membuktikan keberadaan dari suatu kecerdasan yang lebih tinggi yang secara berdaulat membimbing para penulis dalam tugas mereka menulis kitab-kitab itu. Sebagai saksi yang tak mungkin keliru dari semua yang Alkitab ungkapkan tentang Allah, sifat dasarNya dan maksud-maksudNya harus diterima seakurat mungkin.

3.10 Argumentasi Keharmonisan.

Kata ‘harmoni’ sebenarnya berarti ‘sesuai, seimbang, serasi’. Kesembilan argumentasi yang ada sebelum ini semuanya ada dalam kesesuaian. Ada keseimbangan dan keserasian diantara semua itu. Tidak ada satupun argumentasi yang telah diungkapkan itu membawa suatu pemahaman yang bertentangan, tetapi semua argumentasi itu membentuk suatu keharmonisan secara keseluruhan. Inilah argumentasi dari keharmonisan itu. Fakta bahwa argumentasi Kosmologis, Theologis, Anthropologis, Ontologis, Moral, Biologis, Kristologis dan Bibliologis, semuanya tercampur bersama dalam keharmonisan.

Semuanya itu berbicara tentang adanya Allah dan bila tidak demikian maka semua fakta yang menghubungkannya satu dengan yang lain itu tidak dapat dijelaskan. Percaya kepada keberadaan dari pribadi Allah yang ada dengan sendirinya adalah dalam harmoni dengan semua fakta tentang sifat mental dan moral manusia; sebagaimana juga dengan sifat dari materi alam semesta. Manusia sungguh-sungguh tidak dapat menolak fakta tentang adanya Allah. Hanyalah suatu kedunguan yang disengaja bila orang mau menolak bukti kesimpulan yang ada ini.

4. Kebutuhan intrinsik manusia untuk mengenal Allah yang benar.

Menunjuk pada argumentasi anthropologis, ternyata secara umum, didalam hatinya manusia mempunyai suatu kebutuhan untuk mengenal Allah yang benar. Alkitab mencatat bahwa manusia terdiri dari roh, jiwa dan tubuh, Kejadian 2:7; 1 Tesalonika 5:23. Masing-masing bagian manusia itu mempunyai fungsinya sendiri-sendiri, tetapi substansi manusia ada pada rohnya, Yohanes 6:63; Yakobus 2:26. Dengan tubuhnya, manusia bereksistensi di dunia ini, menjadi mahluk alamiah, Kejadian 2:7; 1 Korintus 25:44-50; dan mahluk biologis, Kejadian 1:27-28. Jadi, dengan tubuhnya manusia ada kontak dengan alam lingkungannya. Dengan jiwanya, manusia menyadari kemanusiaan dan pribadinya, sehingga dengan demikian ia dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan mahluk-mahluk lain dalam dunia. Dengan rohnya, manusia menyadari dimensi rohaninya; dan dengan rohnya manusia dapat berkomunikasi dengan dunia roh.

Dengan roh yang menjadi substansi manusia, ternyata manusia itu secara intrinsik butuh pengenalan akan Allah. Sejarah perkembangan budaya membuktikan bahwa semua bangsa di dunia ini mempunyai latar belakang keyakinan terhadap dunia rohani. Tetapi oleh karena dosa, manusia tidak dapat menemukan Allah yang benar; itulah sebabnya manusia menciptakan berhala bagi dirinya sendiri, Roma 1:21-23; Ulangan 4:16-18. Bila manusia tidak puas dengan berhala dan ia merasa mampu atau kuat, ia menjadikan dirinya sendiri berhala. Atheisme modern pada dasarnya adalah upaya manusia menolak keberadaan Allah yang benar dan menjadikan dirinya sendiri allah dalam pikirannya sendiri. Pengkultus-individuan seseorang itu sebenarnya menjadikan seseorang itu idola; apakah ia seorang politikus, artis, musisi dan lain-lain. Orang-orang memuji-muji sang idola itu secara berlebih-lebihan. Alkitab mencatat, berhala itu ditulis dengan kata ‘idol’.

Secara tegas Alkitab memperingati orang-orang percaya: “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala – idol”. Hal itu ditegaskan oleh Alkitab karena kecenderungan manusia, oleh kebutuhan intrinsiknya untuk mengenal Allah yang benar. Bila karena dosa lalu manusia itu tidak dapat menemukan Allah yang benar, ia akan mencari objek lain untuk disembah.

BAB II: ALLAH YANG MEWAHYUKAN DIRI-NYA SENDIRI

Allahlah yang berinisiatif memperkenalkan diriNya sendiri kepada manusia. Ibrani 1:1 jelas menulis bahwa ‘sejak zaman purba Allah berulang kali dan dalam berbagai cara berbicara.” Berbicara langsung, Kejadian 18:1-33; Bilangan 12:8; melalui penglihatan, Yehezkiel 1:1; Bilangan 12:6; Zakaria 1:7-8; Daniel 2:18; lewat mimpi, Daniel 2:1, 24; Matius 1:20; 2:13,19; dengan tanda-tanda ajaib, Keluaran 19:16-19; 20:18, 21; Oleh bimbingan Roh Kudus, Matius 16:17; Kisah Para Rasul 6:10; Juga dalam berbagai penampakan, Kejadian 32:22-30; Hakim 13:1-23; Daniel 5:5. Bahkan Allah sendiri dalam diri Anak Tunggal-Nya menyatakan diri, Ibrani 1:2; I Yohanes 1:1-3; Yohanes 7:16; 12:49.

Kesemua ini ditambah dengan uraian, penjelasan, ungkapan, kejadian penting bagi sejarah dunia, direkam Allah dan diilhamkan kepada para hambaNya, Yesaya 34:16; II Timotius 3:16; dalam bentuk tulisan yang kita kenal dengan istilah Alkitab. Itulah wahyu khusus – special revelation. Beginilah Allah memperkenalkan diriNya sendiri kepada manusia; yakni dengan mewahyukan diriNya sendiri. Bila tidak demikian, tidaklah mungkin manusia mengenal Dia dengan benar.

1. Wahyu khusus

adalah untuk mengungkapkan kepada manusia siapakah Allah itu. Firman Allah yang tertulis atau Alkitab itu disebut wahyu khusus, karena melaluinya secara khusus Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia. Cara Allah berbicara kepada manusia yang memakan waktu ribuan tahun itu, tidak akan dapat diikuti manusia yang umur rata-ratanya tidak sampai satu abad itu. Tetapi dengan mengilhamkannya dalam bentuk tulisan, maka manusia dapat mempelajari siapa Allah itu dari informasi tertulis yang lengkap.

1.1 Alkitab sebagai media pengajaran satu-satunya tentang Allah -Theologia proper.

Kerinduan manusia untuk mempelajari Allah, melahirkan berbagai spekulasi filosofis, baik yang disampaikan secara lisan maupun secara tertulis; menggambarkan siapa Allah menurut versi mereka masing-masing. Setiap agama dan kepercayaan mempunyai gambaran sendiri-sendiri tentang Allah, tetapi hanya merupakan upaya menusia memahami secara tidak langsung lewat wahyu umum.

Tetapi untuk mempelajari Allah yang benar itu, hanyalah Alkitab sumber satu-satunya yang benar dan dapat dipercaya. Karena Alkitab itu diwahyukan Allah kepada manusia untuk menjadi media pengajaran formal satu-satunya tentang Allah. Alkitab dalam Firman Allah dan Firman Allah itu adalah kebenaran – the truth, Yohanes 17:17. Itulah sebabnya pengetahuan tentang Allah dengan dasar satu-satunya sumber informasi – Alkitab – disebut theologia proper, secara harafiah berarti: pengetahuan tentang Allah yang sebenar-benarnya.

1.2 Alkitab yang diwahyukan dijamin benar dan menjadi jaminan.

Sebagai satu-satunya sumber yang benar dan dapat dipercaya dalam mempelajari pengetahuan tentang Allah, ada dua sifat azasi Alkitab yang perlu dijelaskan secara singkat, sebagai dasar pengajaran, yakni:

a. Alkitab itu tidak pernah salah (inerrancy).

Sifat pewahyuan Alkitab itu dibuktikan dari keadaan Alkitab itu sendiri yang tidak pernah salah. Dari berbagai kesaksian dari para penyelidik Alkitab ini, selalu dibuktikan kebenarannya. Sebagai contoh: Tidak satupun tempat yang disebut dalam Alkitab lalu tidak dapat dibuktikan oleh ilmu purbakala. Sifat-sifat alam yang ditulis Alkitab; angin, arus laut, musim, flora, fauna dan seterusnya, semuanya benar. Informasi sejarah begitu akurat. Apalagi informasi tentang sifat manusia dan kemanusiannya, semuanya tepat.

Ada beberapa hal yang sukar dipahami dalam Alkitab, tetapi hal itu karena keterbatasan manusia itu sendiri untuk memahaminya dan satu demi satu mulai terungkap. Ada beberapa hal yang belum terbukti; hal itupun karena Alkitab bersifat nubuatan dan hal-hal itu mulai tergenapi satu demi satu. Ada halangan-halangan lain yang berupa kesulitan penerjemahan bahasa; hal itupun dapat teratasi satu demi satu oleh para ahli yang dibimbing oleh Roh Kudus.

Alkitab itu tidak pernah salah (inerrancy); dijamin benar untuk menjadi sumber satu-satunya bagi mereka yang mau belajar mengenal Allah yang benar.

b. Alkitab itu otoritas tertinggi (sola scriptura).

Ada banyak pandangan, penafsiran atau ajaran tentang Allah; tetapi semuanya harus dirujukkan kebenarannya dengan Alkitab. Sebab Alkitablah yang menjadi ukuran satu-satunya sehingga menjadi otoritas tertinggi. Apa saja pendapat, pandangan, penafsiran ataupun ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab, harus ditolak. Hal itu prinsipil, supaya manusia tidak tersesat.

Tuhan Yesus menjadikan Alkitab sebagai ukuran, Matius 4:4,7,10; Lukas 24:44-48. Para Rasul-pun menjadikan Alkitab itu ukuran satu-satunya, Kisah Para Rasul 1:20; 2:16cf; Roma 1:17; 4:6cf; 1 Petrus 2:7,10. Bapa-bapa Gereja menjadikan Alkitab itupun ukuran satu-satunya. Inilah yang disebut dengan prinsip sola scriptura.

Alkitab itu adalah otoritas tertinggi. Semua penafsiran, ajaran atau pendapat, harus merujuk kepada Alkitab. Konsekuensinya yakni semua penafsiran, ajaran atau pendapat yang tidak sesuai dengan Alkitab itu, harus ditolak.

1.3. Allah sendiri membela kebenaran Alkitab dengan memberi bukti.

Setan tahu bahwa poros pengajaran tentang Allah ada dalam Alkitab. Sejarah mencatat, orang-orang yang dipakai setan berusaha membelokkan sejarah bahkan berusaha memusnahkan Alkitab. Tetapi Allah sendirilah yang melindungi ilham-Nya itu sehingga tetap utuh untuk menjadi kesaksian sepanjang zaman, Yesaya 34:16; Yeremia 36:1-32; Matius 5:18; 24:35; Lukas 16-17.

a. Bukti sejarah penyusunan Alkitab.

Dari pembuktian sejarah dan naskah-naskah kuno, dapat dibuktikan bahwa Allah sendirilah yang melindungi naskah-naskah kuno penulisan wahyu Allah yang awal. Penemuan naskah-naskah kuno gua Qumran di tepi Laut Mati, merupakan bukti otentik. Naskah-naskah kuno yang tetap terpelihara itulah yang memungkinkan Alkitab terkumpul seperti yang ada sekarang ini.

b. Bukti sejarah dunia dalam kaitan dengan Alkitab.

Sejarah dunia mencatat bahwa semua usaha manusia untuk memusnahkan Alkitab itu selalu gagal. Manusia memang tidak mungkin memusnahkan Firman Allah itu.

1.4 Manusia yang terbatas itu harus percaya pada keterangan Alkitab, bila ia rindu mengenal Allah yang benar.

Orang yang tidak percaya Firman Allah itu tidak akan berjumpa Yesus Juruselamat dan tidak mendapatkan keselamatan itu. Orang yang tidak menerima keselamatan dari Yesus Kristus, tidak akan mengenal Allah yang benar, Yohanes 5:38-40. Untuk mengenal Allah dengan benar memang ada prosesnya. Kunci awal pembuka pengenalan akan Allah adalah percaya.

a. Iman timbul dari mendengar Firman Allah, Roma 10:17.

Sudah dijelaskan di depan bahwa orang mengenal Allah dengan keyakinan. Sedangkan keyakinan yang benar – iman – berdasarkan Firman Allah, Roma 10:17. Iman adalah konsep kebenaran (the truth) yang didasarkan pada Firman Allah. Jadi iman kepada Allah adalah kebenaran-kebenaran tentang Allah yang didasarkan pada Firman Allah.

b. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, Ibrani 11:6a.

Sudah jelas, bahwa tanpa konsep kebenaran Firman Allah, tidak seorangpun berkenan kepada Allah. Manusia tidak dapat mencari Allah dengan kebenarannya sendiri, Yudas 1:11. Allah hanya berkenan ditemui lewat konsep kebenaran Firman Allah itu sendiri.

c. Siapa berpaling kepada Allah, harus percaya bahwa Allah ada, Ibrani 11:6b.

Percaya merupakan respons seseorang secara pribadi kepada konsep kebenaran Firman Allah itu, Roma 10:16. Contoh terbesar adalah orang-orang Yahudi itu. Walaupun mereka mempunyai konsep kebenaran Firman Allah, mereka beriman; tetapi ketika kebenaran itu sendiri datang, mereka tidak percaya, Yohanes 1:11; 3:18,36; 6:36, 66; 10:25.

Berbeda dengan Abraham bapa orang beriman. Ketika Firman Allah datang padanya, ia memberi respons positif; Abraham percaya kepada Allah melalui FirmanNya, Roma 4:3; Kejadian 15:1-6. Jadi percaya adalah tindakan manusia merespons Firman Allah secara positif dengan menerima Firman Allah dengan segenap hati. Untuk memulai pengenalan akan Allah, maka seseorang harus percaya sesuai Firman Allah bahwa Allah ada dan memberi pahala kepada mereka yang mencarinya.

2. Allah menurut Alkitab – Allah yang mewahyukan diriNya kepada manusia.

Awal dari Alkitab adalah pernyataan awal Allah tentang diriNya sendiri. Awal dari Firman tertulis itu adalah deklarasi awal tentang Allah. Dari sinilah awal dari pengetahuan tentang Allah itu.

2.1 Allah memperkenalkan diriNya sendiri secara bertahap dan progresif kepada manusia.

Inilah prinsip utama belajar tentang Allah. Allah tidak menyatakan diri sekaligus kepada manusia, melainkan bertahap dan progresif. Perlu dicamkan bahwa tahapan dan perkembangan maju dari pernyataan Allah tentang diri-Nya itu memakan kurun waktu ribuan tahun. Umur manusia tidak seperti itu. Itulah sebabnya tahapan dan perkembangan tersebut dicatat dalam Alkitab untuk kelak menjadi kesaksian bagi manusia dan kemudian dapat dipelajari oleh manusia itu.

2.2 Perkenalan pendahuluan,

Kejadian 1:1. Kejadian 1:1 itu bukan sekedar awal dari pernyataan Allah tentang diriNya sendiri, melainkan sekaligus sebagai dasar pengenalan akan Allah. Dari dasar inilah, secara bertahap dan progresif Allah memperkenalkan diriNya kepada manusia makin dalam dan luas.

2.3. “Allah” dalam Kejadian 1:1.

Kata ‘Allah’ dalam Kejadian 1:1 itu merupakan subjek kalimat dari ayat itu. Karena merupakan subjek atau pokok dari kalimat itu, maka kata ‘Allah’ itulah yang lebih dahulu dijelaskan singkat.

Kata ‘Allah’ itu sebenarnya diterjemahkan dari kata ELOHIM (Ibrani), GOD (Inggris). Kata ELOHIM itu berarti ‘Maha Kuasa’ – Almighty (Inggris). Jadi kata Allah disini lebih menunjuk pada sifatNya, yakni sifat kemaha-kuasaan itu dan belum menunjuk pada pribadi.

Walaupun nanti akan diuraikan lebih luas, tetapi sudah perlu dimulai disini sebagai pembukaan: Kata ‘Allah’ dalam bahasa Indonesia itu sebenarnya berasal dari bahasa Arab. Tetapi secara gramatikal, kata tersebut adalah kata benda tunggal – singular. Sedangkan kata ELOHIM itu mengandung makna jamak – plural. Dalam kandungan makna jamak inilah pemahaman Bapa, Putra dan Roh Kudus dapat dijelaskan kelak.

Tetapi bukan karena kata ELOHIM itu mengandung makna jamak lalu Allahnya Alkitab itu banyak dan agamanya Alkitab menjadi Polytheisme. Melainkan Alkitab dengan tegas mengajarkan: “Dengarkanlah, hai orang Israel : TUHAN itu Allah kita. TUHAN itu esa !” Ulangan 6:4. Dengan demikian, kata ELOHIM itu bila menunjuk pada Allahnya Alkitab, tidak akan diterjemahkan menjadi ‘Allah-Allah’ atau ‘Gods’ (Inggris), melainkan tetap diterjemahkan dengan kata ‘Allah’ atau ‘God’ (Inggris).

Jadi sejak awal, secara implisit, Allahnya Alkitab itu sudah bersifat unik – tidak ada duanya – tidak ada persamaannya. Yesaya menulis: “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah ? . . .”, Yesaya 40:18.

2.4. ‘Pada mulanya’ , dalam Kejadian 1:1.

Kata ini dalam bahasa aslinya mengandung makna waktu. Sedangkan waktu dalam pemahaman ini adalah kekekalan masa lampau, karena manusia tidak tahu berapa jauhnya masa lampau itu. Melihat rangkaian kata itu dalam kalimatnya, maka kata ‘pada mulanya’ itu, bukanlah keterangan untuk kata Allah, melainkan keterangan untuk kata-kata ‘langit dan bumi’.

2.5. ‘Pada mulanya Allah’, dalam Kejadian 1:1.

Kata-kata ini membawa pemahaman bahwa Allah terkait dengan masa lalu. Tetapi karena kata ‘pada mulanya’ itu lebih menunjuk sebagai keterangan untuk kata-kata ‘langit dan bumi’, menjadi jelaslah pemahaman bahwa Allah itu sudah ada sebelum dimulainya ukuran kekekalan masa lampau itu. Waktu itu memang menunjuk pada kefanaan akibat dosa. Jadi sebelum ada ide tentang waktu, Allah sudah ada.

Pernyataan Alkitab tentang ‘pada mulanya Allah’ itu ternyata merupakan pernyataan tegas dari Allah sendiri untuk menihilkan isme-isme tentang allah lainnya, misalnya:

a. ‘Pada mulanya Allah’; menihilkan atheisme.
b. ‘Pada mulanya Allah’; menihilkan animisme.
c. ‘Pada mulanya Allah’; menihilkan polytheisme.
d. ‘Pada mulanya Allah’; menihilkan dualisme.

2.6. ‘Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi’, Kejadian 1:1.

Ayat ini sungguh-sungguh menunjukkan kedaulatan Allah dalam bertindak. Di dalam Allah-lah segala takdir berawal, sebab Ia maha kuasa dan sekaligus berdaulat. Tetapi orang tidak boleh memikirkan takdir sedemikian rupa sehingga Allah ditempatkan sebagai penguasa lalim yang semena-mena menetapkan nasib (fatum, Latin) seseorang – fatalisme. Orang seperti itu tidak memahami keseluruhan sifat-sifat Allah. Penafsiran seperti itu sungguh amat naif dan menyesatkan banyak orang. Allah harus dilihat dari seluruh sudut pandang yang diperkenankan oleh Alkitab. Untuk itulah Alkitab ada dan Kejadian 1:1 ini baru merupakan awal perkenalan tentang Allah.

Masih ada pemahaman-pemahaman lain lagi dengan kata ‘mencipta’ dan ‘langit dan bumi’. Tetapi karena uraian ini lebih tertuju pada pengungkapan tentang Allah, maka pemahaman yang berkaitan dengan kata-kata tersebut belum perlu diuraikan disini.

Pernyataan Alkitab tentang ‘pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi’, ternyata merupakan pernyataan tegas dari Allah untuk menihilkan isme-isme filosofies yang membinasakan umat manusia, misalnya:

a. ‘Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi’; menihilkan fatalisme.

Paham fatalisme ini meyakini bahwa nasib manusia itu ditentukan oleh penentuan yang ada diluar dirinya sendiri, tanpa ia dapat mengubahnya lagi. (Catatan: Apa bedanya dengan paham Predestinasi dalam Calvinisme?). Penentuan nasib manusia menurut fatalisme itu datang dari kekuatan alam semesta itu sendiri.

Dengan adanya Kejadian 1:1 ini, paham fatalisme itu dinihilkan. Alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Jadi bukan alam semesta yang menentukan nasib manusia. Juga Allah pencipta alam semesta ini adalah Allah yang penuh kasih, 2 Petrus 3:9. Didalam Allah tidak ada bentuk fatalisme.

b. ‘Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi’; menihilkan paham evolusi.

Paham evolusi ini menyakini bahwa terjadinya mahluk hidup itu merupakan suatu kebetulan dalam alam semesta, sehingga tercipta satu sel hidup. Sel hidup tersebut kemudian berevolusi pada tingkat yang lebih tinggi. Muncullah species-species mahluk hidup. Species akhirnya adalah manusia.

Dengan adanya Kejadian 1:1 ini, paham evolusi itu dinihilkan. Allahlah yang menciptakan mahluk hidup itu. Mahluk hidup ciptaan itu adalah mahluk hidup yang sempurna menurut speciesnya masing-masing.

c. ‘Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi’; menihilkan pantheisme.

Pantheisme ini mengidentikkan Allah dengan alam. Sedangkan Kejadian 1:1 menegaskan bahwa alam ini adalah ciptaan Allah. Jadi alam ini bukanlah Allah.

d. ‘Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi’; menihilkan materialisme.

Kejadian 1:1 ini hanya dapat diterima dengan iman, bukan ratio. Mengapa? Karena ratio manusia itu amat terbatas, sesuai dengan keterbatasan substansi manusia itu sendiri. Catatan: Deisme nanti akan disangkal Alkitab dalam Kejadian pasal 2.

2.7. Kesimpulan.

Awal pernyataan Allah tentang diriNya sendiri dalam Kejadian 1:1 ini sungguh-sungguh merupakan dasar utama pengenalan akan Allah yang benar itu. Beberapa kesimpulan penting dari Kejadian 1:1 ini, antara lain:

a. Allah memperkenalkan diriNya secara bertahap dan progresif kepada manusia.
b. Allah itu maha kuasa. Kemaha-kuasaan itu nyata dengan tegas ketika Ia mencipta. Allah dengan kemaha-kuasaanNya itu adalah Sang Pencipta, Khalik.
c. Kata ‘Allah’ itu sendiri tak dapat menampung keseluruhan idea dari kata ELOHIM di dalamnya.
d. Allah itu unik – tidak ada duanya – tidak ada persamaannya.
e. Allah itu sudah ada sebelum ada waktu.
f. Allah itu berdaulat penuh. Di dalam Allah-lah segala takdir itu berawal. Tetapi kedaulatanNya itu tidaklah menyuburkan fatalisme, sebab sifat-sifat utama lainnya dari Allah masih belum dibicarakan dan Kejadian 1:1 itu barulah awal perkenalan.
g. Allahnya Alkitab itu sungguh-sungguh menihilkan segala macam isme filosofis manusia yang mencoba menentangNya.
h. Allahnya Alkitab itu hanya dapat dipahami lewat iman.

3. Hakekat Allah – Ada.

Keberadaan atau eksistensi Allah sudah dibicarakan, bahkan Allah sendiri sudah mulai menyatakan diriNya kepada manusia. Kini muncul pernyataan, bagaimanakah sebenarnya sifat hakekat atau substansi Allah itu? Kalau eksistensinya saja sudah merupakan suatu pergumulan iman dan butuh penegasan Allah sendiri, apalagi manusia akan membicarakan hakekat atau substansiNya. Untuk memahaminya, maka Allah sendirilah yang mempersiapkan segala sesuatu dan memberi informasi yang cukup bagi manusia untuk mengenal siapa ia sebenarnya.

3.1. Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, Kejadian 1:1-2:3.

Sangat jelas bahwa dengan kedaulatan dan kemaha-kuasaan-Nya, Allah menciptakan langit dan bumi. Dari ayat-ayat ini jelas bahwa dalam kisah pertama penciptaan itu hanyalah ‘kata atau nama Allah’ yang disebut-sebut sebagai pencipta. Bahkan tiga puluh lima kali kata ELOHIM itu disebut-sebut dalam ayat-ayat ini.

3.2. Allah mulai memperkenalkan ‘pribadiNya kepada manusia, Kejadian 2:4.

Ayat ini membuka sebuah tahap baru untuk mengenal Allah lebih baik lagi. Ternyata ayat ini mengungkapkan bahwa yang menciptakan langit dan bumi itu adalah TUHAN ALLAH – YEHOVA ELOHIM (berkembang dari istilah ALLAH – ELOHIM, Kejadian 1:1-2:3, menjadi istilah TUHAN ALLAH – YEHOVA ELOHIM).

Penjelasan awal dari perkembangan istilah dalam ayat ini yakni: Didalam sifat kedaulatan dan kemaha-kuasaanNya itu, Allah mulai memperkenalkan pribadiNya, yakni TUHAN – YEHOVA. Tahap baru memperkenalkan diriNya itu adalah untuk memulai memperkenalkan ‘pribadi’Nya kepada manusia.

3.3 Pribadi Allah dalam hubungannya dengan manusia, dikenal dengan nama: TUHAN, Kejadian 2:4-3:24.

Karena manusia ‘mahkota ciptaan’ Nya sendiri, maka Allah memperkenalkan pribadiNya. Jadi pribadi Allah itu diperkenalkan dalam hubungan Allah yang khusus dengan manusia. Keberadaan – eksistensi Allah dapat dikenal secara umum lewat wahyu umum, tetapi pribadi Allah hanya dapat dikenal khusus dalam hubunganNya dengan manusia, lewat wahyu khusus. Dalam pribadi Allah itulah manusia dapat memahami hakekat atau substansiNya.

Perkenalan pribadiNya kepada manusia juga secara bertahap. Eksposisi Kejadian 2:4-3:24 menggambarkannya:

Kejadian 2:4; Allah mulai memperkenalkan bahwa dibalik kedaulatan dan kemahakuasaan-Nya, ternyata ada pribadi Illahi yang namaNya: TUHAN. Terdapat kesan bahwa istilah Allah itu menunjuk pada lembaga Illahi. Sedangkan istilah TUHAN itu menunjuk pada nama pribadi. Jadi istilah gabungan TUHAN ALLAH itu menunjuk pada ‘lembaga Illahi yang berpribadi’.

Kejadian 2:4-7; Walaupun ada kesan bahwa cerita penciptaan dalam pasal satu diulangi lagi disini, tetapi jelas bahwa fokusnya hanya kepada manusia itu sendiri. Kalau penciptaan manusia dalam pasal satu itu bersifat umum dalam suatu kerangka universal, dalam pasal dua ini dijelaskan secara khusus hubungan istimewa manusia itu dengan TUHAN Allah. Hubungan istimewa itu adalah ‘neshamah – nafas hidup – roh manusia’, Kejadian 2:7, yang sebenarnya berasal dari TUHAN Allah. Sebelum manusia diciptakan, TUHAN Allah mempersiapkan suatu kehidupan alamiah bagi manusia.

Kejadian 2:8-9; TUHAN Allah mempersiapkan dan menempatkan manusia pada tempat khusus – Eden – supaya manusia dapat hidup dengan baik.
Kejadian 2:10-14; TUHAN Allah memberi segala faslitas kepada manusia.
Kejadian 1:15-17; TUHAN Allah memberi tugas dan hukum kepada manusia.
Kejadian 2:18; TUHAN Allah merencanakan secara istimewa teman hidup bagi manusia.
Kejadian 2:19-20; TUHAN Allah mendidik manusia memahami arti kehidupan dan menjadi dewasa.
Kejadian 2:21-22; TUHAN Allah mewujudkan rencana istimewaNya itu bagi manusia, yakni menciptakan isteri baginya.
Kejadian 2:23-25; Manusia memahaminya dan hidup menurut rencana istimewa TUHAN Allah itu.
Kejadian 3:1-24; TUHAN Allah menyiapkan rencana keselamatan bagi manusia yang jatuh ke dalam dosa.

Catatan: Ternyata ayat-ayat ini menihilkan keyakinan ‘Deisme’ itu. Allah tidak sekedar mencipta lalu meninggalkan ciptaanNya itu untuk berproses sendiri. Allah hadir dan aktif berperan dalam alam ciptaanNya; lebih khusus lagi, dalam menyelamatkan umat manusia. Jadi, dengan pengungkapan pribadi Allah melalui pernyataan Nama ‘TUHAN Allah’. Deisme itu dinihilkan.

Jadi jelas sekali bahwa dalam hubungannya yang khusus dengan manusia, Allah memperkenalkan pribadiNya dengan sebutan atau nama: TUHAN – YEHOVAH. Hal ini lebih terbuka lagi setelah mempelajari seluruh kitab Perjanjian Lama itu. Istilah Allah – ELOHIM hanya disebut 3.000-an kali, sedangkan istilah TUHAN – YEHOVAH disebut 6.823 kali dalam Kitab Perjanjian Lama itu. PribadiNyalah yang dikedepankan, bukan lembaga.

3.4 Hakekat TUHAN Allah itu, ‘ADA’ yang kekal, Keluaran 3:14-15.

Ketika Allah menyuruh Musa pergi ke Mesir untuk melepaskan orang Israel dari cengkeraman kekuasaan Firaun, Musa menanyakan nama pribadi Allah yang menyuruhNya, Keluaran 3:13. Pertanyaan itu penting, sebab allah-allah Mesir, dari yang rendah sampai yang tertinggi, mempunyai nama. Allah menjelaskan kepada Musa bahwa namaNya dalam bahasa Ibrani ditulis: EHEYEH ASHER EHEYEH, yang dipendekkan menjadi EHEYEH. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan I AM THAT (WHO OR WHAT) I AM, dipendekkan menjadi I AM. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan AKU ADA YANG AKU ADA, dipendekkan menjadi AKU ADA. Dari sinilah kata Ibrani YAHWEH atau YEHOVAH itu berakar.

Kata-kata ini berarti: Aku adalah Dia yang Ada dengan sendirinya; Dia yang kekal; Dia yang senantiasa ada dan senantiasa akan ada. Kata-kata yang dipendekkan menjadi AKU ADA itu berarti: Dia yang senantiasa ada dan hidup. Nama ini sama artinya dengan ‘YEHOVAH Yang Kekal’.

3.5 Dibandingkan dengan ‘ada’nya umat manusia, Yesaya 40:6-8.

Dibandingkan dengan ‘ada’nya Allah, maka eksistensi manusia hanya diumpamakan seperti rumput. Dengan kata lain, TUHAN Yang Kekal itu tidak dapat dibandingkan dengan eksistensi umat manusia yang fana itu.

3.6 Dibandingkan dengan ‘ada’nya alam semesta.

Eksistensi alam semestapun tidak sebanding dengan ‘ada’nya TUHAN Allah . Alkitab memberi kesaksian, bahwa: Kejadian 1:1; TUHAN Allah yang menciptakan langit dan bumi (universe – alam semesta) ini.

2 Petrus 3:7; TUHAN Allah yang memelihara langit dan bumi ini. Matius 24:35; 2 Petrus 3:10-13; TUHAN Allah akan membinasakan langit dan bumi ini; dan kemudian menciptakan langit dan bumi baru. Dengan kata lain, eksistensi alam semesta ini tidak kekal seperti ‘ada’nya TUHAN Allah.

3.7 Kesimpulan.

Sebenarnya, berbicara tentang hakekat adalah berbicara tentang isi filsafat, yakni bidang metafisika. Tetapi hakekat Allah itu tidak dapat dipahami oleh kemampuan manusia menganalisa sekedar informasi wahyu umum untuk mencari epistemologinya. Pengetahuan tentang Allah yang menjadi ukuran kebenaran hanyalah didapat dari informasi wahyu khusus itu. Sekali lagi, bukan oleh kesanggupan manusia menganalisa wahyu umum. Sehigga nampak jelas bahwa hakekat Allah itu tidak dapat dipahami secara filosofis melalui metafisikanya. Hanya Alkitablah yang memberi informasi tentang hakekat Allah itu.

‘Pengkotbah’, orang berhikmat yang mencari hakekat kehidupan, menulis: “Apa yang ada, itu jauh dan dalam, sangat dalam, siapa yang dapat menemukannya?”, Pengkotbah 7:24. Kata ‘ada’ disini menunjuk pada akar kata yang sama dengan ‘ada’ dalam Keluaran 3:14.

Jadi, menurut Alkitab, hakekat TUHAN Allah adalah ‘ADA’. Sifat ‘ADA’nya TUHAN Allah itu jauh berada diluar jangkauan analisa filosofis manusia, yakni:

a. ADA – yang essensial, hakiki, substansi.
b. ADA – karena diri-Nya sendiri, bukan diadakan, self existent, Wahyu 16:5.
c. ADA – penyebab segala yang ada – cause prima, Roma 11:36.
d. ADA – Maha Ada, melebihi konsep manusia tentang ruang, Mazmur 139:5-12.
e. ADA – tidak terbatas, tidak berubah, kekal, Yakobus 1:17; Maleakhi 3:6; 2 Timotius 2:13.
f. ADA – melampaui konsep waktu akibat dosa, Keluaran 3:14; Ibrani 13:8; Wahyu 1:17; kekal.
g. ADA – kehidupan kekal; sumber kehidupan, Kisah Para Rasul 17:25, 28; Ayub 34:14-15.
h. ADA – suatu pribadi; Maha Pribadi.

i. ADA – creatio ex nihilo; sifat penciptaan Allah, Kejadian pasal satu – mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Pandangan filosofi manusia adalah ex nihilo fit – dari ketiadaan, tidak ada sesuatu yang jadi – from nothing, nothing comes. Tetapi mustahil bagi manusia, bagi Allah tidak mustahil. Dari hakekatNya sendiri, Allah mencipta sesuatu dari yang nihil menjadi ada! Kejadian pasal satu.

BAB III: PRIBADI ALLAH

Allah yang berpribadi merupakan pernyataan agung Ilahi, sehingga manusia tidak hanya mengenal Allah dalam bentuk kelembagaan yang biasanya kaku, tetapi mengenalNya secara pribadi. Sebenarnya istilah ‘pribadi’ atau ‘oknum’ atau ‘person’ mengandung arti keadaan orang-perorangan yang dapat dilihat dari seluruh sifat yang merupakan watak orang tersebut. Dengan istilah ‘pribadi’ ini, kita dapat mengenal seseorang lebih baik dan lebih dalam lagi. Jadi, Allah sebagai pribadi adalah Allah yang menyatakan diriNya dalam seluruh sifatNya, sehingga manusia mengenal siapa Dia.

1. Lembaga ke-Allahan dan Pribadi Allah.

Istilah ‘Allah’ adalah istilah umum diseluruh dunia, walaupun dalam bentuk kata yang berbeda: EL (Ibrani); THEOS (Grika); DEUS (Latin); GOD (Inggris); ALLAH; DEWA; (di Minahasa dikenal dengan istilah ‘OPO’), dan lain-lain. Istilah Allah sebenarnya menunjuk pada suatu pengertian tentang ‘lembaga’, yang mempunyai otoritas mutlak atas seluruh alam semesta, dan kepadanya manusia menyembah. Bila dalam agama-agama polytheisme, lembaga ke-Allahan itu memiliki begitu banyak allah. Allah-allah ini masing-masing dengan sifat dan perannya sendiri-sendiri. Ada allah yang khusus mengurus kematian – dewa maut. Ada allah yang khusus mengurus hujan – dewa hujan, dan sederetan tugas serta sifat ataupun peran. Tetapi Allah-nya Alkitab adalah suatu pribadi (Maha Pribadi) Yang Esa. Maha Pribadi itu memiliki seluruh sifat Ilahi yang ada. Jadi dalam lembaga ke-Allahan itu berdiam pribadi Yang Esa dengan seluruh sifat Ilahi.

Lembaga manusia dapat terpisah dari pribadi manusia itu pada saat ia mati. Tetapi lembaga ke-Allahan menurut Alkitab itu tidak dapat dipisahkan dari Pribadi Allah, karena Allah itu hidup, dalam arti hidup kekal.

2. Allah itu berpribadi.

Menarik sekaligus rumit, bila kita menyimak berbagai pandangan yang berkembang sejak Gereja mula-mula tentang pribadi Allah. Pribadi atau oknum atau Hypotasis (Grika) atau Persona (Latin). Bagaimana bentuknya berbagai nuansa pandangan mereka itu tidak akan dibicarakan dalam bagian ini. Tetapi yang terutama dibuktikan dulu dari Alkitab yakni bahwa Allah itu berpribadi. Bukti-bukti Allah berpribadi yakni antara lain:

2.1 Sebagai Pribadi; Allah memperkenalkan NamaNya.

Ada bagian tersendiri membicarakan Nama Allah secara luas dan mendalam. Allah Alkitab memperkenalkan NamaNya, Keluaran 3:14; 6:1-2. Nama itu jelas menunjuk pada pribadi.

2.2 Sebagai Pribadi; Allah dikenal dengan pikiranNya, Mazmur 139:17; Yesaya 40:13; 50:9; Zakharia 1:6; 8:14-15; Kisah Para Rasul 15:18; 1 Korintus 2:11, 16.

Hasil berpikir adalah maksud, niat atau rencana. Jelas, Alkitab berisi pikiran dalam bentuk rencana agung Allah untuk keselamatan dan kesejahteraan manusia. Hanya orang-orang rohanilah yang memahami rencana Allah itu.

2.3 Sebagai Pribadi; Allah dikenal dengan emosi atau perasaanNya.

Bentuk-bentuk perasaan itu amat, seperti: Kejadian 6:6, menyesal; Keluaran 20:5; Ulangan 6:15, cemburu; Ulangan 1:37; 4:21; 9:8; 2 Raja-raja 17:18, murka; Mazmur 45:8; Ibrani 1:9, mencintai atau membenci, dan lain-lain.

2.4 Sebagai Pribadi; Allah dikenal dengan kehendak atau keinginanNya.

Kehendak atau keinginan Allah itu begitu jelas dalam Alkitab Yosua 3:10, Allah sungguh-sungguh menepati janji-Nya. Mazmur 115:3, Allah melakukan apa kehendakNya. 2 Petrus 3:9, Allah tidak suka seorangpun binasa.

3. Keadaan dasar (nature) pribadi Allah.

Keadaan dasar manusia itu antara lain: lemah, tidak sempurna dan seterusnya. Alkitab menyimpulkan bahwa keadaan dasar manusia adalah ‘daging’. Dengan demikian kita mengenal siapa manusia itu. Demikian juga dengan Allah jelas dari uraian diatas bahwa Allah itu berpribadi, tetapi pribadi itu amat luar biasa bila keadaan dasar (nature) dan sifat-sifat (attributes)Nya dapat dipelajari. Tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi itu selain menegaskan bahwa pribadi itu sungguh-sungguh melampaui kesanggupan daya analisa manusia, sehingga hanya cocok disebut dengan ‘Maha Pribadi’. Dengan tepat Paulus mulai memberi gambaran kepada orang-orang kafir, bahwa: “. . . kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan Ilahi sama seperti emas atau perak atau batu ciptaan kesenian dan keahlian manusia”, Kisah Para Rasul 17:29.

Alkitab menggambarkan keadaan dasar Allah sebagai berikut :

3.1 Allah itu adalah Roh adanya, Yohanes 4:19-24.

Alkitab mengajarkan bahwa substansi manusia adalah rohnya, yakni ‘nafas hidup – neshamah’ yang datang dari Allah, Kejadian 2:7; Yohanes 6:63; Yakobus 2:26. Alkitab juga mengajarkan bahwa ada mahluk-mahluk roh yang diciptakan surga dan dunia roh, Kolose 1:16; Ibrani 1:7; Mazmur 104:4. Tetapi semua itu adalah roh-roh (mahluk roh) ciptaan. Allah adalah Roh; Ialah ‘ADA’ yang mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Dengan kata lain, Allah itu adalah Roh yang mencipta segala sesuatu, termasuk roh-roh ciptaan itu. Tentunya Roh Allah itu berbeda dengan roh-roh ciptaan lainnya.

Itulah sebabnya Westminster Cathecism mendefinisikan Allah sebagai berikut: “Suatu Roh, tak terbatas, keadaan yang tak dapat berubah, hikmat, kuasa, kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaran”.

Perlulah diberi gambaran umum dari wujud Roh itu. Sehingga dengan menyebut ‘Allah itu Roh adanya’, dapatlah digambarkan idea rohani tentang Roh itu. Gambaran umum dari ujud Roh itu yakni:

a. Roh itu tidak dapat dilihat manusia. Roh memang tidak terlihat oleh manusia biasa, tetapi bukan tidak mungkin terlihat. Malaikat-malaikat dapat sewaktu-waktu terlihat, roh-roh jahat pun demikian, Wahyu 13:1; 11:1; 17:8. Tetapi Allah yang adalah Roh adanya tidak dapat dilihat oleh seorang manusiapun, kecuali Yesus Kristus Putra-Nya yang tunggal itu, Ulangan 4:12; Yohanes 1:18; 6:46.

b. Roh itu tidak kelihatan karena tidak terhampiri. Roh-roh lain dalam dimensi alam roh itu dapat terlihat. Tetapi Allah bukan sekedar ‘mahluk’ rohani yang tak terlihat oleh mata jasmani, Yohanes 3:6-8, melainkan tak terlihat karena tak terhampiri. 1 Timotius 6:16 (lihat penjelasan lebih lanjut dalam: Allah itu Api…).

c. Roh itu ada dimana-mana – Maha Ada. Melebihi konsep manusia tentang ruang, Kejadian 1:2; Mazmur 139:7cf; Wahyu 1:4.

d. Roh itu tahu segala sesuatu – Maha Tahu. Karena Ia ADA, maka Ia pasti tahu segala sesuatu, 1 Korintus 2:10-11.

e. Roh itu Maha Benar. Ialah Roh Kebenaran itu, 1 Yohanes 5:9.

f. Roh itu supra dinamika, Zakaria 4:6; Kisah Para Rasul 1:8; Ayub 42:2.
Selain mencipta, Allah yang Roh adanya menembusi alam rohani dan alam jasmani; mengatur harmoni alam rohani oleh hukum rohani dan harmoni alam jasmani oleh hukum alam; mengatur harmoni antara alam rohani dan alam jasmani.

g. Roh itu sumber kehidupan, Kejadian 2:7; Ayub 34:14-15; Roma 8:10-11.

3.2 Allah itu sempurna, Ulangan 32:4; 2 Samuel 22:31; Mazmur 18:31; 19:8; Matius 5:48.

Suatu ungkapan prinsipil tentang pribadi Allah adalah kata ‘sempurna’. Ketika Lucifer diciptakan, dikatakan: “Gambar dari kesempurnaan engkau, . . .” Yehezkiel 28:12. Bahkan ditambahkan: “engkau tak bercela ditengah kelakuanmu”, Yehezkiel 28:15. Tetapi kata sempurna itu menjadi nisbi. Juga oleh nilai yang ada diantara manusia sejak ia diciptakan, maka kata sempurna itupun menjadi nisbi. Jadi kata ‘sempurna’ yang dipakai untuk malaikat dan manusia itu menjadi nisbi dan tidak dapat dipakai untuk memberi gambaran kesempurnaan pribadi Allah itu (simak baik-baik rangkaian kata dari ayat -ayat referensi diatas tadi).

Hampir tidak ada kata yang cocok untuk menerangkan keadaan dasar kesempurnaan pribadi Allah itu. Ada satu frasa yang dapat dipakai, yakni: “Maha sempurna”. Kata ‘Maha sempurna’ itu hanya dapat digambarkan orang bila ia dapat membuat gambaran dari gabungan sifat-sifat moral Allah. Kesempurnaan Allah ini sedemikian rupa sehingga tidak ada kesempatan atau celah bagi seorang theolog untuk mencari alasan bahwa dosa itu berasal dari Allah.

3.3 Allah itu Api Yang Menghanguskan – Terang – Tak terhampiri.

Salah satu keadaan dasar pribadi Allah yakni: ‘Allah itu tak terhampiri’, 1 Tesalonika 6:16. Sebenarnya ‘tak terhampiri itu’ karena Allah bersemayam dalam terang. Jadi Allah itu adalah ‘terang yang tak terhampiri’. Sedangkan terang itu datang dari sumbernya, yaitu api. Makin besar api itu, makin tak terhampiri ia, karena sifatnya yang menghanguskan, Daniel 3:23. ‘Api’ itu menunjuk pada ‘kekudusan’ Allah, karena kekudusan Allah itu mutlak, maka Ia itu bagaikan ‘api yang menghanguskan’, Ibrani 12:29; Keluaran 24:17; 33:20cf; Yesaya 10:17. Api itu menghasilkan terang – Allah itu disebut ‘Bapa segala terang’, Yakobus 1:17. Dimana ada terang disana tak ada kegelapan dan segala sesuatu menjadi kelihatan. Tetapi justru sumber terang itulah yang menyilaukan. Sedemikian terangnya atau menyilaukannya Allah itu sehingga ‘tak kelihatan’ oleh mata manusia.

Kekudusan Allah itu membinasakan manusia berdosa, Keluaran 3:2-5; 33:20; 1 Samuel 6:19-20; 2 Samuel 6:6-7; Yesaya 6:3-5. Tepatlah ungkapan itu bahwa Allah itu ‘Api yang menghanguskan, Terang yang tak terhampiri’

4. Sifat-sifat (attributes) Allah.

Sifat itu berarti: peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada sesuatu; atau dasar watak; tabiat. Jelas sekali, sebagai pribadi manusia itu mempunyai sifat-sifat, yakni peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada manusia. Demikian pula Allah. Untuk mengenal pribadi Allah, perlu bagi orang percaya mengenai sifat-sifat Allah.
Karena banyaknya sifat-sifat Allah, maka sepanjang zaman pergumulan theologia, para theolog pada umumnya membagi sifat-sifat Allah itu dalam dua bagian besar. Tetapi pembagian kedalam dua bagian besar itupun berbeda-beda menurut sudut pandang masing-masing penafsir. Lihat dibawah ini diberi gambaran perbedaan sudut pandang tersebut :

Atribut natural dan atribut moral. Atribut natural itu bersifat ada pada diri sendiri (self existence), seperti ketidak-terbatasan, kesederhanaan, dan seterusnya. Atribut moral itu erat kaitannya dengan kehendak Allah, seperti kebaikan, belas kasih, keadilan dan seterusnya.
Atribut absolut dan atribut relatif. Atribut absolut dimiliki oleh esensi ke-Allahan yang mutlak. Sedangkan atribut relatif dimiliki oleh esensi ke-Tuhanan yang dalam hubungannya dengan manusia ciptaanNya.

Atribut yang incommunicable dan atribut yang communicable. Atribut yang incommunicable adalah atribut yang tidak ada pada mahluk ciptaan. Sedangkan atribut yang communicable adalah atribut yang ada pada mahluk ciptaanNya. Masih ada lagi pembagian dalam nuansa yang berbeda. Tetapi yang tiga tadi sudah cukup memberi gambaran bagaimana usaha para penafsir Alkitab untuk memahami sifat-sifat Allah.

Dalam theologia sistimatika GPdI yang asli, yang dikenal dengan istilah ‘Pelajaran Alasan’, sifat-sifat Allah itu tidak dibagi secara kelompok seperti diatas. Sifat-sifat Allah itu dideskripsikan satu demi satu secara singkat satu demi satu sesuai pokoknya, lalu diberi ayat-ayat referensi. Tetapi justru setelah sifat-sifat itu diuraikan, nampaklah bahwa sifat-sifat Allah itu erat kaitannya dengan keselamatan manusia. Dari sifat-sifat (atribut) Allah itu, nampaklah rencana, methode dan maksud dari usaha Allah menyelamatkan manusia. Jadi, penguraian sifat-sifat Allah itu mengikuti pola yang ada dalam ‘Pelajaran Alasan’ tersebut. Sifat-sifat Allah itu yakni:

4.1 Allah itu kekal.

Pengertian kekal disini erat kaitannya dengan waktu. Sedangkan pemahaman waktu pada manusia itu ada karena dosa. Oleh dosalah maka manusia menjadi fana. Oleh dosalah maka manusia mengenal masa lalu dan masa yang akan datang. Memang sebelum ada dosa di bumi ini, Alkitab telah memakai istilah-istilah waktu ‘hari pertama’, Kejadian 1:3-5; ‘hari kedua’, Kejadian 1:6-8; dan seterusnya. Tetapi istilah waktu itu sebenarnya hanya menunjuk pada pentahapan penciptaan Allah. Sebab sebelum pentahapan penciptaan itu , Kejadian 1:1-2 Allah memang sudah melakukan penciptaan itu. Itulah kekekalan masa lalu itu (The eternal past).
Allah itu kekal. Allah itu sudah ada sebelum kekekalan masa lalu itu. Allah sudah ada sebelum adanya konsep tentang waktu, Kejadian 1:1; Yohanes 1:1; Mazmur 93:2.

Masih ada satu aspek waktu, yakni masa yang akan datang. Ukuran waktu inipun dilihat dari sudut pandang kefanaan manusia akibat dosa. Karena manusia tidak dapat mengukur waktu yang akan datang itu, maka ia disebut ‘kekal’. Jadi waktu kekal yang akan datang itu disebut ‘kekekalan masa yang akan datang’ – ‘eternal future’; atau ‘everlasting’ – tak berkesudahan.
Allah itu kekal, masa lalu maupun masa yang akan datang, Kejadian 21:33; Ulangan 33:27; Mazmur 9:8; 29:10; 45:7; 90:2; Yesaya 40:8; Yeremia 10:10; Roma 16:26; 1 Timotius 1:7; 6:16; 1 Petrus 5:10; Yesaya 44:6; 48:12; Wahyu 1:17; 10:6; 15:7; 22:13. Kekekalan masa lalu itu milik Allah. Tetapi kekekalan masa yang akan datang, dalam bentuk hidup yang kekal itu diwariskan kepada orang-orang percaya yang takut dan setia kepadaNya, Matius 19:29; Lukas 18:30; Yohanes 3:16. Tetapi orang yang tidak percaya kepadaNya akan dihukum dengan hukuman yang kekal, Daniel 12:2; Matius 18:8; 25:41, 46.

4.2 Allah itu tidak berubah.

Selain kekal, Allah itu tidak berubah. Ada sebuah ungkapan tentang Allah, yakni; Allah itu ‘Gunung Batu’, Mazmur 18:3; 31:4; 40:3; 42:10; 71:3; 78:16, dengan berbagai tambahan, misalnya: Tempat Berlindung, Perisai; Tanduk Keselamatan; Kota Bentengku! Maksudnya, sebagaimana Gunung Batu itu tidak berubah oleh perubahan cuaca dan pengaruh eksternal lainnya, sehingga dapat diandalkan, analogi berjenjang itu ditujukan kepada Allah yang tidak dapat diubah oleh apapun juga, Maleakhi 3:6; Ibrani 13:8; Yakobus 1:17.

Catatan sebagai bahan study Alkitab; Sebenarnya kata ‘Gunung Batu’ itu ditulis dengan kata ‘sela’ (Ibrani), yang sama dengan kata ‘petra’ (Grika) – ‘rock’ (Inggris) – batu (dalam arti batu yang besar sekali). Ada juga kata Grika lainnya yang berarti batu, yakni ‘lithos’, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan ‘stone’. Kata ‘petra’ itu sendiri berarti batu yang besar sekali, sedangkan ‘lithos’ adalah batu yang kecil, yang lebih besar dari kerikil.

Karena perbendaharaan kata bahasa Indonesia yang agak miskin, maka kata ‘sela’ dan ‘petra’ ini diterjemahkan dengan kata ‘gunung batu’, Mazmur 18:3 atau ‘bukit batu’ Matius 27:60; Markus 15:46. Sayang sekali, terjemahan seperti ini bukanlah terjemahan literal, melainkan terjemahan yang sudah berisi penafsiran. Hal itu berdampak pada bagian lain dari terjemahan kata ‘petra’ ini yang diterjemahkan dengan kata ‘batu karang’, Matius 16:18; 1 Korintus 10:4, sehingga nampak sekali keganjilannya. Kalau dalam kitab Mazmur , Allah digambarkan sebagai ‘Gunung Batu’, maka dalam 1 Korintus 10:4, Yesus digambarkan sebagai ‘Batu Karang’.

Ternyata bahwa dari keterangan para ahli bahasa, bahwa penerjemahan kata ‘petra’ menjadi ‘batu karang’ – ‘cliff’ (Inggris), diambil dari latar belakang Yunani sekular yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan Alkitab. Banyak bagian dalam Alkitab yang diterjemahkan seperti ini, yakni dalam Alkitab terjemahan baru. Akibatnya, sering terjadi banyak salah penafsiran terhadap Alkitab itu sendiri. Seterusnya, terjadi banyak kesesatan. Hal ini merupakan peringatan kepada mereka yang ingin belajar Alkitab !

Pembuktian bahwa Allah itu tidak berubah, bukanlah pada penampakannya (Theopany). Yesuspun demikian walaupun Ia disebut tidak berubah, Ibrani 13:8, yang dalam penampakan-penampakanNya (Khristophani) sering berubah. Ketidak-berubahan Allah itu sangat sulit dipahami bila membicarakan sifat-sifat Allah yang mutlak itu. Nampaknya untuk memudahkan pemahaman, maka ketidak-berubahan Allah itu dilihat secara berjenjang: Ketidak-berubahan hukum Allah, Mazmur 93:5.

Hukum Allah itu tidak berubah. Sebab bila hukum Allah itu berubah, maka hukum itu tidak dapat menjadi patokan hidup. Bukti-bukti bahwa hukum Allah itu tidak berubah, yakni: dalam pertobatan orang Niniwe (kitab Yunus). Walaupun Allah sudah menentukan pembinasaan terhadap kota itu, tetapi ketika raja dan penduduknya bertobat, Allahpun mengampuni mereka, Yunus 3:10; 4:2. Hukum keselamatan itu tidak berubah: ‘Pendosa yang menjadi percaya dan bertobat itu diampuni’, Yehezkiel 18:3; 21-23; Markus 16:16; Kisah 2:37-38. Isteri Lot yang menjadi tiang garam, Kejadian 19:26; Lukas 17:32. Inipun merupakan bukti ketidak berubahan hukum keselamatan Allah, yakni ‘Orang benar yang berpaling dari Allah, kehilangan keselamatannya’, Yehezkiel 18:24, 26; Ibrani 6:3-6; 10:26-31. Hukum keselamatan Allah itu tidak berubah dan berpusat kepada Kristus, Ibrani 9:22; Yohanes 14:6; Matius 26:27-28.

Ketidak berubahan Firman Allah, Yesaya 40:6-8; Matius 5:18; 24:35; Lukas 21:33; 1 Petrus 1:24-25. Firman Allah itu dikatakan sebagai ‘kebenaran’ – aletheia (Grika), Yohanes 17:17. Artinya bahwa Firman Alah itu tidak berubah, permanen, tetap, kekal, sehingga dapat dijadikan ukuran. Itulah sebabnya ada hukuman bagi mereka yang menambah-kurang Firman Allah, Ulangan 4:2; 12:32; Amsal 30:6; Matius 5:19; Wahyu 22:18-19.

Ketidak-berubahan Yesus Kristus, Ibrani 13:8. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, Yohanes 1:1, 14. Yesus Kristus yang dimaksud ini adalah Ia yang dalam lembaga ke-Allahan. Ia yang memang tidak berubah, Ialah ADA kekal yang tidak berubah itu. FirmanNya menyaksikan hal itu.
Makna utama ketidak-berubahan Allah itu, yakni: kepada manusia diberi suatu jaminan, bahwa Allah itu dapat dipercaya, menjadi sumber pengharapan, Mazmur 102:26-29.

4.3 Allah itu Maha Kuasa – Omnipotent.

Pemahaman ke-Maha Kuasaan Allah itu datang dari kata ELOHIM – Allah itu sendiri. Di dalam ke-Maha Kuasaan itu terkandung ‘kedaulatan mutlak’. Tidak ada yang lebih berkuasa lagi selain Dia. Alkitab memberi kesaksian penting tentang hal ini: Kejadian 1:1; 14:19; Keluaran 18:11; Ulangan 10:14, 17; 1 Tawarikh 29:11-12; 2 Tawarikh 20:6; Nehemiah 9:6; Ayub 38; 42:2; Mazmur 22:28; 47:2-3,7-8; 50:10-12; 95:3-5; 115:3; 135:5-6; 145:11-13; Yeremia 27:5; 32:17; Matius 28:18; Lukas 1:53; Kisah 17:24-26; Kolose 1 :16-17; Wahyu 1:8; 4:8; 11:17; 19:6; 21:22.

Didalam melaksanakan ke-Maha KuasaanNya, terkandung pikiran, perasaan dan keinginan pribadi Allah yang mutlak. Tetapi ke-Maha Kuasaan Allah itu tidaklah bersifat sewenang-wenang atau diktator. Hal itu terjadi karena sifat ke-Maha Kuasaan Allah itu tidak bertentangan dengan sifat-sifat Allah yang lain, 2 Timotius 2:13. Sifat-sifat Allah itu sinkron satu dengan yang lain, seperti: kasih, kekudusan, kebenaran, keadilan, kesetiaan Allah itu sendiri.

Ada tiga bagian besar yang diperbuat Allah dalam ke-Maha KuasaanNya (lihat bab V), yakni: Allah mencipta segala sesuatu; Allah memberi hukum; Allah menentukan dan mengatur takdir manusia.
Dalam mencipta segala sesuatu, nampak jelas ke-Maha KuasaanNya, sehingga Ia disebut ‘Khalik’. Allah mencipta dunia rohani, sekaligus dengan mahluk-mahluk roh. Allah juga mencipta dunia jasmani (universe) dan mahluk-mahluk jasmani. Ada tumbuh-tumbuhan, ada binatang atau hewan, ada manusia. Ternyata dosa itu bukan ciptaan Allah. Dosa adalah suatu kondisi yang merupakan akibat perbuatan malaikat dan manusia melawan hukum Allah.

Selain mencipta segala sesuatu, dalam ke-Maha KuasaanNya itu, Allah memberikan hukum-hukumNya. Maksud pemberian hukum itu ialah supaya keserba-aneka-ciptaan itu tidak menjadi kacau balau. Allah memberikan hukum rohani dan mahluk-mahluk rohani. Allah juga memberi hukum alam untuk dunia dan mahluk-mahluk alami. Seringkali untuk membuktikan adanya Allah Yang Maha Kuasa, Allah mengizinkan terjadi mujizat. Mujizat artinya perbuatan atau kejadian yang melangkahi hukum alam. Sedangkan khusus bagi manusia, Allah dalam ke-Maha KuasaanNya memberi hukum untuk manusia, supaya ada pertangung-jawaban dari manusia (human responsibility) itu.

Bagi manusia, Allah memberi beberapa hukum, yakni:

Pertama, hukum untuk Adam di Taman Eden. Maksudnya, supaya manusia menghargai Allah dalam keterbatasannya dan tidak berbuat dosa, karena adanya kehendak bebas (free will). Kedua, hukum suara hati – conscience law. Dengan suara hati, manusia memahami ukuran baik buruk atau etika. Maksudnya, supaya manusia bersikap baik, adil dan tidak sewenang-wenang. Ketiga, hukum keselamatan. Hukum ini tidak dilaksanakan Allah secara langsung, melainkan secara tidak langsung yakni dengan perantara (korban darah) yang menunjuk kepada Yesus Kristus.

Bagian ke-Maha Kuasaan Allah yang lain adalah Allah menentukan dan mengatur takdir manusia. Manusia memang hidup dalam takdirnya dan takdir manusia itu ditentukan oleh ke-Maha Kuasaan Allah yang berdaulat penuh. Beberapa hal yang menjadi takdir manusia, yakni: takdir menjadi pria atau wanita; takdir menjadi anggota keluarga dari ayah dan ibu; takdir menjadi anggota suku atau bangsa (ras); takdir lahir di suatu tempat. Takdir-takdir ini adalah ketentuan Allah secara langsung bagi umat manusia, dalam hal ini manusia tidak dapat memilih. Manusia harus menerima apa adanya. Manusia tidak berdosa karena menjadi laki-laki atau perempuan, tidak berdosa karena menjadi bangsa A atau B, tidak berdosa karena berkulit hitam atau putih dan seterusnya. Dihadapan Allah, semua manusia itu sama.

Ada satu takdir yang tidak dikerjakan secara langsung oleh Allah, yakni takdir keselamatan manusia. Takdir keselamatan menjadi satu dengan hukum keselamatan; takdir keselamatan diatur dalam hukum keselamatan, kedua hal itu hanya lewat Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia. Takdir dan hukum keselamatan itu menihilkan fatalisme (fatum=nasib – Latin). Bila hukum dan takdir keselamatan bagi manusia dikerjakan oleh ke-maha kuasaan ditambah ke-maha tahuan Allah secara langsung kepada manusia, maka itulah fatalisme, Calvinisme itu fatalisme. Bila keselamatan kekal atau kebinasaan kekal manusia ditentukan oleh ke-maha kuasaan dan ke-maha tahuan Allah, maka sifat Allah yang satu ini berubah menjadi ‘ke-maha sewenang-wenangan’, karena tidak dilatar belakangi oleh sifat-sifat moral Allah yang lain.

4.4 Allah itu Maha Ada – Omnipresent.

Pemahaman ini menunjuk kepada Allah yang hadir di semua tempat pada waktu atau saat yang bersamaan – maha hadir. Setan itu tidak maha hadir, tidak maha kuasa, tidak maha tahu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Allah itu omnipresent tetapi tidak omnibody, artinya yakni Allah hanya hadir di satu tempat, tetapi hadiratNya secara rohani ada dan dapat terasa dimana-mana. Tetapi nampaknya pandangan itu kurang tepat, sebab pemahaman omnipresent itu sebenarnya menunjuk pada kehadiranNya secara pribadi dimanapun dalam waktu yang sama. KehadiranNya secara pribadi itu disebabkan karena : Allah itu Roh adanya; Ia tak terbatas; Ia adalah ADA yang Ilahi itu; Ia Maha Besar. Beberapa ayat penting tentang ke-maha hadiran Allah itu ialah: Ulangan 4:39; 1 Raja-raja 8:27; Mazmur 139:7-10; Amsal 15:3; Yesaya 66:1; Yeremia 23:23-24; Matius 18:20; Matius 28:20; Kisah Para Rasul 17:24-28.

Dalam pergumulan theologis dari abad ke abad dipertanyakan, apakah Allah juga ada di neraka? Sebelum menjawab pertanyaan itu, perlu diingat bahwa Allah itu Immanuel yang selalu bersama-sama orang yang takut kepadaNya. Tetapi Roh Allah akan meninggalkan orang yang sengaja melawan Firman Allah dan hidup dalam dosa. Hakim-hakim 16:20; 1 Samuel 16:14; Mazmur 51:13. Walaupun demikian, Yesus pernah turun ke Hades – alam maut, tempat penampungan jiwa-jiwa orang yang mati di luar Tuhan. Turunnya Yesus ke Hades itu adalah untuk mengalahkan maut dan alam maut dan Yesus Kristus menjadi sulung kebangkitan itu.

Sedangkan neraka – gehenna, adalah tempat penghukuman kekal bagi orang-orang yang tidak percaya dan malaikat-malaikat yang berdosa. Mereka mengalami kematian kekal – eternal death, yakni terpisahnya roh manusia dari Roh Allah selama-lamanya. Karena neraka adalah tempat penghukuman dengan pemisahan hadirat Allah selama-lamanya, maka memang Allah tidak menghadirkan pribadiNya di tempat itu. Itulah penghukuman bagi semua mahluk, baik malaikat maupun manusia, yang berdosa melawan Allah. Ingat, Allah itu sumber kehidupan; jadi jelas bahwa neraka adalah tempat penghukuman bagi mahluk yang mati kekal.

4.5 Allah itu Maha Tahu – Omniscient.

Pokok ini adalah salah satu bagian yang paling menarik untuk dipelajari, sebab amat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang termulia di bumi. Manusia memiliki akal budi yang dengannya ia mengetahui sesuatu. Manusia menjadi tahu karena pengamatan, pengalaman dan informasi dari pihak lain, Matius 13:11; Markus 13:28-29; Yohanes 7:26; 10:38; 13:12; 2 Korintus 8:9; Ibrani 10:34; 1 Yohanes 2:5; 4:2. Tetapi pengetahuan manusia itu makin bertambah, Daniel 12:4, sehingga manusia sering tergoda untuk ingin menembus keterbatasan pengetahuannya itu ke ‘alam maha tahu’.

Sebenarnya manusia itu tidak tahu persis apa yang bakal terjadi, Matius 24:36cf; Yohanes 13:9-12; 1 Korintus 13:9, 12; 1 Yohanes 3:2, sebab pengetahuan manusia itu terbatas. Manusia hanya mampu menilai zaman atau dengan kata lain memprediksi atau memperkirakan, Lukas 12:54-56. Tetapi justru pengetahuan tentang masa depan itu merupakan satu bagian dari ke-maha tahuan Allah yang sangat ingin dipahami oleh manusia. Banyak sekali manusia yang akhirnya tergoda mencari tahu nasib masa depan mereka kepada roh-roh peramal, Imamat 19:31; Ulangan 18:11-12, 14, 20; 1 Samuel 28; Kisah 16:16.

Ke-maha tahuan (omniscience) nya Allah itu didasarkan pada pengetahuan Allah yang mutlak, pengetahuan Ilahi, Matius 6:8, 32; Yohanes 6:6, 64; 8:14; 11:42; 13:11; 18:4; 2 Korintus 11:31; 2 Petrus 2:9. Ia Maha Tahu karena Ia Maha Ada. Alkitab mencatat bahwa Ia Maha Tahu, Ayub 37:16; Mazmur 139:17-18; Roma 11:33-35; Ibrani 4:13; 1 Yohanes 3:20. Pengetahuan Allah yang sempurna itu terdiri dari beberapa aspek :
Allah mengetahui segala sesuatu di masa lalu.

Allah mengetahui hal-hal yang tersembunyi, Mazmur 139:1-5, 16. Allah mengetahui rahasia-rahasia alam, Ayub 38-39. Allah mengetahui pikiran dan isi hati manusia, 1 Samuel 16:7; 1 Tawarikh 28:9; Mazmur 7:10; 17:3; 44:22; 94:11; 139:23; Amsal 17:3; Yeremia 11:20; 17:9-10; Lukas 16:15; Yohanes 2:25; Roma 8:27; Wahyu 2:23. Allah mengetahui masa depan. Dalam bagian ini adalah dua hal penting, yakni : ‘Mengetahui lebih dahulu’, Kisah 2:23; 15:18; Roma 8:29; Efesus 2:7; 3:10-11; 1 Petrus 1:2, 20; dan ‘menetapkan lebih dahulu – predestinasi’, Kisah 4:28; Roma 8:29-30, 1 Korintus 2:7; Efesus 1:5, 11.

Bagian yang paling terakhir ini, atau bagian dimana Allah mampu mengetahui dan menetapkan sesuatu pada masa yang akan datang, merupakan salah satu bagian yang amat ramai diperbincangkan dalam dunia theologia. Secara lebih khusus yakni: keselamatan manusia pada masa yang akan datang. Justru hal itu sering menjadi kontroversi bila tidak dilihat dari sudut pandang yang tepat dan benar. Alkitab memberi kesaksian bahwa, dalam menentukan keselamatan manusia dimasa yang akan datang, Allah memberi hukum dan takdir keselamatan bagi manusia. Hukum dan takdir keselamatan manusia ada di dalam Yesus Kristus.

Semua konteks ayat yang bicara tentang predestinasi itu intinya adalah Yesus Kristus. Kisah 4:27-28; inti predestinasi adalah ‘di dalam Yesus Kristus’. Roma 8:28-30; inti predestinasi itu adalah ‘Yesus Kristus’. 1 Korintus 2:6-8; inti predestinasi itu adalah ‘Yesus yang disalibkan’. Efesus 1:3-14, yang di dalamnya ada ayat 5 dan 11, tercatat 4 kali ‘di dalam Yesus Kristus’; 6 kali ‘di dalam Dia’; 1 kali ‘di dalam kasih’.

‘Di dalam Yesus Kristus’ lah keselamatan manusia ditentukan, Kisah 4:12. Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus itu menjadi ‘Batu Penjuru’, Mazmur 118:22-23; Yesaya 28:16; Matius 21:42; Markus 12:10-11; Kisah 4:11-12; Efesus 2:20. Batu penjuru artinya: ukuran, patokan, standar. Tetapi batu penjuru itu mempunyai fungsi ganda. Bila orang tidak mau hidup dengan patokan, ukuran atau standar keselamatan itu, ‘batu penjuru’ itu pada sisi lain menjadi ‘batu sandungan’, Yesaya 8:13, 15; Lukas 20:17-18; Roma 9:32-33; 1 Petrus 2:6-8. ‘Batu sandungan’ itu juga adalah ‘batu kebinasaan’, Lukas 20:18. Yudas Iskariot adalah ‘anak kebinasaan – son of perdition’, Yohanes 17:12; Efesus 2:2; Kolose 3:6, karena ia murtad dan berbalik menyerahkan Yesus, Yohanes 13:18; 6:70-71. Binasanya Yudas Iskariot itu bukan ditentukan oleh Allah, melainkan pilihannya sendiri, ia tersandung pada ‘batu sandungan’ itu.

Bila penentuan selamat atau binasanya manusia dilakukan oleh Allah secara langsung kepada manusia, maka hal itu sama persis dengan fatalisme – percaya kepada takdir. Ya, Calvinisme itu sama dengan fatalisme. Tetapi yang benar yakni: Alkitab bersaksi dari Kejadian sampai Wahyu, bahwa hukum dan takdir keselamatan manusia itu dilakukan Allah melalui Yesus Kristus. Di dalam Yesus Kristuslah hukum dan takdir (predestinasi) keselamatan itu ada, 1 Petrus 1:20cf: 2 Timotius 1:9-10; Titus 1:2-3; Wahyu 13:8. Disinilah terbukti bahwa Allah itu bukan hanya Maha Kuasa dan Maha Tahu, tetapi juga sekaligus Maha Kasih, Maha Kudus, Maha Benar dan Maha Adil.

4.6 Allah itu Maha Benar.

Menarik sekali membahas kata ‘benar’ dalam bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan sifat-sifat Allah. Dalam bahasa Indonesia kata ‘benar’ untuk istilah theologi mempunyai dua arti penting yang saling berkaitan. Pertama: ‘Benar’ dalam arti, tidak salah, Amsal 24:24; righteous (Inggris) – tsaddiq (Ibrani) – dikaios (Grika). Kedua: ‘Benar’ dalam arti, tetap, tidak berubah, kekal; – true (Inggris) – emeth (Ibrani) – alethinos (Grika). Kedua kata dalam bahasa aslinya itu berbeda dengan pengertiannya. Tetapi saling mengisi dan melengkapi dalam penerapannya.

a. Allah itu Benar (dalam arti Righteous).

Benar ini artinya: suatu keadaan yang benar atau tingkah laku yang benar yang diukur dengan standar Ilahi. ‘Benar’ dalam arti kata righteous ini juga merupakan dasar dari dua sifat Allah yang lain, yakni: ‘Kudus’ (Kisah 3:14; Wahyu 16:5) dan ‘adil’ (kata benar ini sering diterjemahkan dengan kata adil). Jadi, ‘benar’ ini sebenarnya adalah tingkah laku Allah sendiri, yang benar dalam standar Ilahi. TUHAN Allah itu benar (selalu dibandingkan dengan keadaan dan tingkah laku manusia yang salah) Keluaran 9:27; 2 Tawarikh 12:6; Ezra 9:15; Nehemia 9:8, 33; Mazmur 11:7, 119:137; Yesaya 45:21; Yeremia 12:1; Ratapan 1:18; Daniel 9:14; Yohanes 17:25; Wahyu 16:5, 7. Pada gilirannya, Yesus Kristus itu benar, Lukas 23:47; 2 Timotius 4:8; 1 Yohanes 2:1-2; 3:7. Yesuspun disebut ‘orang benar – The Righteous One’ – Kisah 3:14; 7:52; 22:14.

Karena Allah itu benar, maka tindakan atau perbuatan-perbuatanNya adalah ‘benar’ – kata ‘benar’ (atau kebenaran) ini sering diterjemahkan dengan kata ‘adil’ (atau keadilan), Mazmur 36:7, 11; 40:11; 51:16; 72:2, 15-16, 19, 24; 72:1-2; 88:13; 89:17; 103:17; 111:3; 19:40, 142; 143:1, 11; 145:7; Daniel 9:16; Mikha 6:5. Karena Allah itu benar, muncullah hukum Allah yang benar – tsaddiq (Ibrani), Mazmur 19:9; 111:3 119:7, 62, 106, 160, 164; 2 Korintus 9:9. Pada tahap berikutnya muncullah pengadilan atau penghakiman Allah yang benar atau adil, Mazmur 72:1-2; Roma 2:5-6; 2 Tesalonika 1:5-6; Wahyu 16:7; 19:2. Karena Ia adalah hakim yang benar atau adil yang menghakimi dengan benar atau adil pula, Yeremia 11:20; 2 Timotius 4:8; 1 Petrus 2:23; Wahyu 16:5-7.
Karena Allah itu benar, maka dari kebenaran Allah itulah manusia menjadi benar – menjadi ‘orang benar’. Dengan tegas Roma 1:17 menulis: ‘Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘orang benar hidup oleh iman’. Walaupun memang semua orang telah berdosa, tetapi ia dapat menjadi orang benar, karena ia percaya dan dibenarkan dalam iman, Kejadian 15:6. Dalam Roma 3:26 ditegaskan, “. . . bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus”. Lihat juga Roma 3:21-26, 28:30; Galatia 2:16. Tetapi iman dan pembenaran karena percaya, iapun dibenarkan karena perbuatan kebenarannya, Matius 5:20; Kisah 10:35; Roma 5:18; 6:16; Titus 3:5; Ibrani 11:33; 1 Yohanes 2:29; 3:7, 10; Wahyu 22:11; Matius 3:15; Lukas 7:29; 1 Yohanes 2:17; 2 Petrus 1:5-8.

b. Allah itu benar (dalam arti true).

Benar dalam arti true ini adalah kata sifat yang berarti: betul, sejati, asli, tulen, jujur, murni, sungguh-sungguh. Kata benar ini menunjuk pada sesuatu yang secara realita kokoh, permanen, tidak berubah, kekal. TUHAN Allah itulah yang benar – true (dibandingkan dengan keadaan manusia yang fana), Yeremia 10:10; Yohanes 3:33; 8:26; Roma 3:4. Ungkapan tentang Allah yang benar itu dikokohkan lagi oleh kesaksian Alkitab, Yohanes 7:28; 17:3; 1 Tesalonika 1:9; 1 Yohanes 5:20; Wahyu 6:10. Jadi kata ‘benar’ dalam arti true disini sebenarnya menunjuk pada sesuatu yang hakiki atau substansial, sehingga yang lain itu atau yang serupa dengannya adalah tidak benar, tidak sungguh, tiruan. Itulah sebabnya Allah menyatakan siapa diriNya: “. . . tidak ada Allah lain selain dari padaKu . . .”, Ulangan 4:39; Yesaya 44:6, 8; Yohanes 17:3. Yesuspun menyebut diriNya ‘Kebenaran – the Truth’, Yohanes 14:6. Roh Kudus pun disebut ‘Roh Kebenaran’ – the Spirit of Truth’, Yohanes 14:17; 16:13; 1 Yohanes 4:6.

Karena Allah itu benar – true, maka Firman Allah itu adalah kebenaran – the Truth, 2 Samuel 7:28; 1 Raja-raja 17:24; Yohanes 17:17; 2 Korintus 6:7; Efesus 1:33; 2 Timotius 2:15; Wahyu 19:9. Firman Allah yang adalah kebenaran itu, pasti kekal, Yesaya 40:8; 1 Petrus 1:25; Firman Kristus pun kekal, Matius 24:35; Markus 13:31; Lukas 21:33. Karena Allah itu benar dan FirmanNya adalah kebenaran, maka dari FirmanNya itu muncul hukum Allah. Allah memberi hukumNya untuk menyatakan keadilanNya. Bila keadilan manusia berdasarkan haknya, maka keadilan Allah berdasarkan kebenaran (dalam arti righteousness) yang dinyatakan dalam Firman Kebenaran (dalam arti truth-Nya).

Karena Allah itu benar – true, maka dari kebenaran – truth Allah itulah manusia dikuduskan atau dimurnikan. Setelah orang percaya dibenarkan, maka dalam tahap keselamatan selanjutnya, ia dikuduskan. Firman Allah (Firman Kebenaran – The Truth) dan Roh Kudus (Roh Kebenaran – The Spirit of Truth) lah yang menguduskan orang percaya, Yohanes 17:17, 19; Ibrani 10:22; Yakobus 4:8; Titus 2:14; 1 Tesalonika 4:3-4; 1 Petrus 1:2; Kisah 20:32; Roma 15:16; 1 Korintus 6:11; Efesus 5:26; 2 Tesalonika 2:13; 1 Petrus 1:12. Roh Kudus bekerja menguduskan orang percaya lewat pembenaran. Tetapi Firman Allah menguduskan jiwa manusia ketika wujud sikap batinnya berbentuk ketaatan pada kebenaran (truth), yang menjadi perbuatan kebenaran (the act of righteousness), 1 Petrus 1:22; 2 Tesalonika 2:13.

Sifat Allah yang benar itu memberi warna pada sifat Allah yang lain, bila sifat benar – true itu dipasangkan dengan sifat-sifat Allah yang lain: Allah itu benar – true, dan hidup, Yeremia 10:10; 1 Tesalonika 1:9; 1 Yohanes 5:20.
Allah itu benar – true, dan kudus, Wahyu 6:10.
Allah itu benar – true, dan adil, Wahyu 6:10; 15:3; 16:7; 19:2.
Allah itu benar – true, dan setia, Wahyu 19:11.
Allah itu benar – true, dan maha kuasa, Wahyu 15:3; 16:7.

Jadi, bila sifat Allah yang benar (dalam arti kata ‘righteous’) dan benar (dalam arti kata ‘true’) dipadukan, maka akan didapat skhema tentang ‘Allah yang benar’ seperti dibawah ini:

Righteous
Benar dalam arti ‘righteous’, II Tawarikh 12:6
Semua manusia berdosa
Karena Allah benar – righteous, maka tindakannya pasti adil
Dari kebenaran – righteousness-Nya, muncul keadilan Allah
Dari kebenaran – righteousness-Nya, manusia dibenarkan (justified). Hal merupakan hasil dari sikap batin manusia-yakni respons pribadi pada Firman kebenaran atau The Word of Truth itu, yakni percaya.

True
Benar dalam arti ‘true’, Yeremia 10:10
Semua manusia fana
Karena Allah benar – true, maka Firman pasti kekal
Dari Firman kebenaran – Truth-Nya, muncul hukum Allah
Dari Firman kebenaran – Truth-Nya,manusia dikuduskan (sanctified). Hal ini menjadi nyata dari hasil sikap batin yang telah dibenarkan. Sikap taat karena pengudusan jiwa itu, berbuah-kan perbuatan dalam kebenaran – the act of righteousness; perbuatan dalam iman.

Betapa ajaibnya sifat-sifat Allah itu bagi manusia. Tidak heran bila orang percaya disebut orang benar, karena kebenaran Allah yang beraspek ganda itu dapat menjadi bagian orang percaya. Bandingkanlah dengan kebenaran manusia, Yesaya 64:6.

4.7 Allah itu Maha Baik.

Bilangan 19:19; 1 Tawarikh 16:34; 2 Tawarikh 5:13; 5:41; 7:3; Ezra 3:11; Mazmur 25:8; 34:9; 69:17; 73:1; 86:5; 100:5; 135:3; 145:9; Yeremia 33:11; Matius 5:45; 19:17; Markus 10:18; Lukas 18:19. ‘Baik’ adalah suatu sifat yang menyenangkan dan disenangi oleh semua orang karena dilatar-belakangi oleh kebajikan atau perbuatan baik. Oleh karenanya, ‘baik’ itupun merupakan bagian utama dalam sistem nilai: “. . . tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”, Galatia 5:23.

Allah itu memang baik. Bila segala kebaikan manusia direndengkan dengan kebaikan Allah, maka nyata benar bedanya: Lukas 18:19 mencatat: “Jawab Yesus, mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari Allah saja . . .” Memang banyak manusia yang mempunyai nilai-nilai baik, Lukas 7:4-5; Kisah 10:1-2. Tetapi kebaikan manusia tidak lengkap dan sempurna, dengan kata lain, kebaikan manusia itu terbatas sebagaimana sifat keterbatasan manusia itu sendiri. Kebaikan Allah itu lengkap dan sempurna serta tidak terbatas: “Bersyukurlah kepada TUHAN sebab Ia baik. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”, Mazmur 136.

Dari pemahaman yang didapat melalui Firman Allah maka kebaikan Allah itu: Pertama, berlaku umum untuk semua ciptaanNya. Kedua, terbaik untuk semua ciptaanNya. Ketiga, lengkap. Keempat, kekal. Banyak hal yang dapat disebut kebaikan Allah, tetapi ada tiga pokok terpenting yang menjadi inti di dalamnya, yakni: Kasih; Kasih karunia (anugerah); Kasih setia.

a. Kasih.

Istilah kasih dalam kitab Perjanjian Baru ditulis dengan tiga kata yang paling terkenal, yakni: agape, phileo dan eros; serta masih ada dua lagi yang jarang disebut-sebut yakni: thelo dan storge. Walaupun demikian, standar arti kata kasih itu ada dalam kata ‘agape’ itu. Untuk memahami isi kasih Paulus menulisnya dalam 1 Korintus 13:4-8, juga ia mengekspresikan penerapan kasih itu, Roma 13:8-10; 15:2; Kolose 3:12-14. Kasih itu nampak dalam aksi atau penerapannya, bukan sekedar kata-kata atau konsepnya, 1 Yohanes 3:18. Tidak heran jika seluruh hukum Taurat hanya dapat disimpulkan menjadi dua bagian besar hukum, yakni: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia, Matius 22:36-40; Markus 12:28-31. Tidak heran pula, tindakan kasih adalah memberikan nyawa bagi mereka yang dikasihi, Yohanes 10:11; 15:13; 1 Yohanes 3:16.

Allah itu adalah kasih, 1 Yohanes 4:16; dan kasih Allah itu adalah dasar tindakan Allah menyelamatkan manusia, Yohanes 3:16. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih Allah. Kasih itu menutupi dosa yang banyak, tetapi bukannya mengampuni dosa. Pengampunan dosa itu harus melalui proses hukum keselamatan. Allah memang tidak mengingini seorang manusia pun binasa karena kasihNya, tetapi keselamatan manusia itu ditentukan lewat proses hukum keselamatan itu, Yehezkiel 18:23; 33:11; 1 Tesalonika 5:9; 2 Petrus 3:9.

Jelas sekali, Allah itu Maha Kasih, dan penerapan kasih Allah itu dialami langsung oleh manusia. Kasih itu selalu ‘dua arah’. Arah pertama, adalah Allah yang menyatakan kasihNya kepada manusia. Oleh kasihNya, Allah menyediakan keselamatan bagi manusia – yang tidak secara langsung diberikan kepada manusia – tetapi lewat Yesus Kristus. Jelas sekali, bahwa orang percaya diselamatkan lewat jalan satu-satunya yakni Yesus Kristus. Penentuan pilihan (predestinasi) Allah bagi keselamatan manusia ada dalam Yesus Kristus. Arah kedua, adalah manusia yang memberi respons terhadap tindakan Allah dengan menyatakan kasih kepada Allah. Tetapi kasih manusia kepada Allah itu menjadi benar bila manusia mentaati hukum-hukum Allah, Yohanes 14:15, 23; Roma 13:10. Semua hukum Allah itu menunjuk kepada Yesus. Dari pemahaman ini menjadi lebih jelas bahwa ‘pernyataan kasih Allah kepada manusia’ itu lewat Yesus Kristus. Sedangkan ‘respon manusia untuk mengasihi Allah’ itu harus lewat Yesus Kristus.

b. Kasih Karunia (Anugerah).

Kasih karunia atau anugerah; Grace (Inggris); Gratia (Latin); Kharis (Grika), adalah pemberian Allah dengan cuma-cuma kepada manusia lewat iman, Roma 4:16. Kasih karunia ini merupakan bagian dari kebaikan Allah, Efesus 2:7. Kitab Perjanjian Lama lah yang meletakkan dasar pemahaman kasih karunia itu, walaupun ayat-ayatnya sedikit. Kasih karunia; Khen (Ibrani) adalah pemberian pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Kasih karunia Allah kepada manusia, Kejadian 6:8; Keluaran 33:12cf; Bilangan 6:25; Hakim-hakim 6:17; Mazmur 77:10; 84:12; Yeremia 31:2. Ada pula kasih karunia manusia kepada manusia, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata ‘kasih’; ‘kasihan’; ‘belas kasih’; ‘suka’ atau ‘murah hati – kemurahan’; Kejadian 32:5; 33:8cf; 39:4; 50:4; Bilangan 32:5; Rut 2:2, 10; 1 Samuel 20:3; 27:5; 2 Samuel 14:22; 16:4; Ester 2:17. Prinsip ini dutulis dalam Ibrani 7:7.

Dari dasar pemahaman ini, jelas bahwa ‘perjanjian-perjanjian’ (testaments) Allah bagi umat manusia, berdasarkan prinsip kasih karunia ini. Di satu sisi, Allah itu sebagai pihak yang superior; di sisi lain, orang percaya itu sebagai pihak yang inferior. Allah memberi kasih karunia dalam sifat baikNya itu, manusia hanya menerima dan menerima. Manusia tidak ada ‘tegen prestitie’ (Belanda) – ‘suatu perbuatan atau materi yang diberikan sebagai balas jasa’ – untuk diberikan kepada Allah, selain percaya dan setia melaksanakan hukum-hukum Allah, Kejadian 17:4, 9.
Kitab Perjanjian Baru mengulas kasih karunia itu begitu rinci. Ternyata kebaikan Allah itu bersifat umum kepada semua mahluk. Walaupun kehidupan semua manusia itu adalah kasih karunia Allah juga, 1 Petrus 3:7; dan kasih karunia juga untuk semua manusia, Roma 5:15cf; Ibrani 2:9, tetapi ada kasih karunia Allah yang lebih spesifik, yang lebih diprioritaskan untuk orang-orang percaya. Di dalam Yesus Kristuslah ada segala kepenuhan kasih karunia dan kebenaran Allah, Lukas 2:40; Yohanes 1:14, 16; Efesus 1:6; 2 Timotius 1:9; 1 Petrus 5:10. Lalu dari Yesus Kristus, kasih karunia itu dialirkan, Yohanes 1:17; Roma 16:20; 2 Korintus 8:9; Galatia 1:6; Efesus 2:7. Ada ‘Injil kasih karunia’, Kisah 20:24; ‘firman kasih karunia’, Kisah 20:32; ‘tahta kasih karunia’, Ibrani 4:16; dan ‘roh kasih karunia’, Ibrani 10:29.

Keselamatan adalah kasih karunia, Titus 2:11; 1 Petrus 1:10, karena Yesus mengalami maut oleh kasih karunia Allah bagi semua manusia, Ibrani 2:9. Penebusan oleh darahNya adalah kasih karunia, Efesus 1:7; pembenaran adalah oleh kasih karunia, Titus 3:7. Tetapi keselamatan sebagai kasih karunia itu harus diterima dengan iman dan percaya, Roma 5:1-2; 11:5cf; Efesus 2:5-8; Kisah 14:3; 15:11. Iman dan percaya itu bukan ‘tegen prestatie’ (Belanda), melainkan ‘prestasi’ – keputusan pribadi untuk menerima semua pembenaran Firman Allah dan setia melakukan segala perintah Allah. Bila tidak demikian maka salib Yesus Kristus itu akan menjadi ‘batu sandungan’ , Galatia 5:11.

Bagi mereka yang sudah menerima keselamatan itu, Allah memberi kasih karunia yang lebih spesifik. Ada kasih karunia untuk orang banyak, yang dalam hal ini adalah Jemaat Allah, Kisah 4:33; 11:23; 13:43; 1 Korintus 1:4; 2 Korintus 1:15; 4:15; 8:1. Ada juga kasih karunia bagi pribadi-pribadi, tetapi jenisnya berbeda-beda menurut ukuran pemberian Kristus, Roma 12:3-6; Efesus 4:7; 1 Petrus 4:10; 1 Korintus 3:10; 2 Korintus 12:9; Galatia 1:15; 2-9; Efesus 3:2; Filipi 1:7; 1 Timotius 1:14; Ibrani 4:16; 1 Petrus 1:13. Tetapi jangan lupa; kasih karunia itu dapat ditolak; disia-siakan ; atau disalah-gunakan, Roma 6:1cf; 1 Korintus 15:10; 2 Korintus 6:1; Galatia 5:4cf; Ibrani 12:15; Yudas 1:4. Orang-orang Yahudi itupun menolak kasih karunia Allah karena menolak Yesus, Galatia 2:21. Berarti keselamatan yang Allah anugerahkan dapat hilang karena menolak, menyia-nyiakan atau menyalahgunakan kasih karunia Allah itu. Sungguh keliru pandangan Calvinisme yang mengajar berdasarkan ‘doktrin pilihan’ bahwa kasih karunia itu hanya untuk sebagian manusia dan kasih karunia itu tidak dapat ditolak. Dari penerjemahan kata ini dalam kitab Perjanjian Lama, jelas kelihatan bahwa kasih karunia ini merupakan bentuk ‘kebaikan Allah’ atau ‘kemurahan Allah’ bagi manusia, sebagai pihak superior kepada pihak inferior.

c. Kasih Setia.

Kalau kata kasih karunia ditulis begitu banyak dalam kitab Perjanjian Baru, kata ‘kasih setia’ ditulis begitu banyak dalam kitab Perjanjian Lama; sekitar 250 kali disebutkan. Sebenarnya dalam bahasa aslinya kata kasih setia itu ditulis dengan ‘khesed’ (Ibrani) atau ‘eleos’ (Grika). Kata ‘khesed’ ini tidak dapat diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa-bahasa lain. Dalam bahasa Inggris saja kata ini diterjemahkan dengan kata ‘mercy’ atau dengan frasa ‘loving kindness’ atau ‘steadfast love’. Frasa terakhir yang dipakai adalah untuk menunjuk kepada kasih Allah yang setia terhadap perjanjian-perjanjianNya. Selain itu ada variasi arti yang cukup luas, yakni: kemurahan; kebaikan dan panjang sabarnya Allah, yang amat berlimpah. Dipakainya kata kasih setia yang begitu banyak dalam kitab Perjanjian Lama, ditambah dengan arti yang begitu luas, menunjuk pada kebaikan Allah yang luar biasa, dibanding dengan tegar tengkuknya Israel itu.

Dalam kitab Perjanjian Lama, hanya beberapa ayat yang menunjukkan kata kasih setia dari manusia kepada manusia. Pada umumnya ayat-ayat itu adalah ungkapan kasih setia Allah kepada manusia. Pengungkapan kata kasih setia yang terbanyak ada dalam kitab Mazmur. Dengan kata ‘khesed’ ini pemazmur mengungkapkan keyakinannya yang teguh atas kebaikan TUHAN yang menjadi sumber pertolongan, kekuatan, penghiburan, kemenangan. Semua hal baik ini dialami oleh si pemazmur bila ia juga taat dan setia melakukan segala hukum Allah.

Sifat kasih setia Allah itu seimbang. Di satu pihak Allah menunjukkan kasihNya yang setia terhadap perjanjian-perjanjianNya. Di pihak lain, orang-orang percaya yang menerima perjanjian Allah itu harus taat dan setia melakukan segala hukum Allah, Kejadian 17:4, 9. Bila orang percaya itu tidak setia, Allah tetap setia, 2 Timotius 2:13. Tetapi kesetiaan Allah itu dinyatakan dalam menghukum orang-orang percaya yang tidak setia itu sampai mereka bertobat. Bila mereka yang tidak setia itu sudah bertobat, kembalilah Allah menunjukkan kebaikanNya itu. Bila tidak bertobat, mereka akan binasa, Keluaran 20:5-6; Bilangan 14:8-9; Ulangan 5:9-10; 7:9-11, 12-26; 2 Samuel 7:15; 1 Raja-raja 3:16; 8:23; 1 Tawarikh 17:13; 2 Tawarikh 6:14; Nehemiah 1:5; 9:32-37; Ayub 37:13; Mazmur 36:6-8; 52; 62:13; 66:16-20; 89:15; 90:13-17; 101; 103:6-14; 15-18; 106:7; 119:124; Amsal 14:22; Yesaya 16:5; Ratapan 3:22, 32; Daniel 9:4; Hosea 10:12; Mikha 6:8; Zakharia 7:9; Matius 9:13; 12:7cf; 23:23; Lukas 1:50; Galatia 6:16; Titus 3:5; 1 Petrus 1:3.

Itulah sebabnya, kata ‘kasih setia’ itu dipasangkan dengan ‘kebenaran – the truth’, yang berarti : ‘pengajaran yang benar – yang berlawanan dengan pengajaran yang salah atau kesesatan’, Amsal 3:3; 14:22; 16:6; 20:28; Yesaya 16:5; Hosea 4:1; 6:4-6; 12:7cf.

4.8 Allah itu Maha Kudus.

Kitab Perjanjian Lama banyak mencatat kata ‘kudus’ atau ‘suci’ untuk menunjukkan keistimewaan sifat Allah yang satu ini. Dalam bahasa Ibrani, kata ‘qadosh’ – kudus itu, mempunyai arti dasar : ‘separate’, ‘set apart’ – ‘memotong’, ‘memisahkan’. Kata ini merupakan salah satu kata yang paling dalam maknanya di dalam kitab Perjanjian Lama, yang ditujukan untuk memberi gambaran bukan hanya pada sifat-sifat Allah, tetapi juga keseluruhan pribadi Allah, Imamat 11:44, 45; 19:2; 20:26; 21:8; 1 Samuel 2:2; 6:20; Mazmur 22:4; 99:3, 5, 9; 111:9; Yesaya 6:3. Idea kekudusan ini ditampung dalam kitab Perjanjian Baru dengan kata ‘hagios’, Lukas 1:49; Yohanes 17:11; 1 Petrus 1:15-16; Wahyu 4:8; 6:10.

Kalau dikatakan Allah itu Maha Kudus, itu bermakna bahwa Allah secara absolut berbeda dengan mahluk ciptaanNya. Terpisah dari dosa dan cacat moral secara absolut, 2 Raja-raja 19:22; Ayub 6:10; Yesaya 1:4; 5:19; 17:7; 37:23; 60:9, 14; Yeremia 50:29; 51:5; Yehezkiel 39:7; Hosea 11:9; Habakuk 1:12; 3:3. Tidak ada konsep kekudusan dalam dunia ini yang sama atau menyerupai konsep Alkitab. Jelas sekali dalam begitu banyak ayat Alkitab, bahwa kata kudus itu dipertentangkan secara radikal dengan dosa. Sebagai contoh: Yesaya 6:3-5, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam . . . Celakalah aku, . . . sebab aku ini seorang najis bibir”. Habakuk 1:13 menulis, “Mataku terlalu suci untuk melihat kejahatan.”

Kudus adalah sifat yang terutama, yang mewarnai pribadi dan sifat-sifat Allah yang lain. Pikiran, perasaan dan keinginan Allah sebagai pribadi adalah kudus. Sama sekali berbeda sifatnya dengan pikiran, perasaan dan keinginan manusia yang sudah tercemar oleh dosa. Penerapannya dalam sifat-sifat Allah yang lain itu nyata dan sungguh harmonis: Kedaulatan dalam ke-Maha Kuasaan Allah itu kudus; bila tidak demikian maka kedaulatan itu akan merosot sifatnya menjadi kesewenang-wenangan, bahkan kejam. Fatalisme dan Calvinisme itu sewenang-wenang dan kejam. Keadilan Allah tanpa kekudusan akan menjadi pembalasan dendam. Itulah sebabnya bagi manusia diberi kesempatan untuk percaya dan bertobat. Bila kebaikan Allah: kasih, anugerah, belas kasihan, kesabaran, kemurahan, tanpa kekudusan maka hasilnya adalah tidak ada neraka. Kebaikan itu akan menjadi kemanjaan tanpa batas kepada manusia, bukan merupakan kebaikan yang menyempurnakan. Jadi, sifat kudus Allah itu mewarnai seluruh sifat Allah sehingga sifat-sifat itu mencapai sasaran yang tepat dengan cara yang benar.

Semua manusia sudah berdosa di hadapan Allah yang kudus. Nampaknya dua objek ini merupakan dua kutub yang tidak dapat bertemu. Tetapi justru dalam kekudusanNya, Allah memberi isyarat keselamatan bagi manusia, yakni: “Kuduslah kamu karena Aku kudus”, Imamat 11:44-45: 19:2; 20:26; 21:8; 1 Petrus 1:16. Seluruh rangkaian Alkitab memberi gambaran umum, yakni: Pertama: Manusia yang sudah berdosa, memang terpisah dari Allah dan sia-sialah usaha manusia mencari Allah dengan kekuatannya sendiri. Kedua: Allah oleh kebaikanNya, menyediakan perantara bagi manusia, supaya manusia dapat menghampiri Allah. Perantara itu mulai dikenal manusia dengan ‘korban darah’ yang menunjuk kepada Yesus yang tersalib di Golgota. Keadilan Allah terpenuhi. Ketiga: Keselamatan itu memang anugerah Allah, tetapi juga merupakan proses penggenapan hukum Allah. Ibadah Tabernakel merupakan lambang proses keselamatan itu: Dari luar; masuk ke halaman; masuk ke ruang suci; dan akhirnya masuk ke ruang maha suci. Keempat: “Tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Allah”, Ibrani 12:14. Hal ini sebenarnya menunjuk pada peran Roh Kudus dalam keselamatan manusia. Inilah hidup dalam takut akan Allah. Tidak sekedar sudah sampai pada percaya, tetapi harus dilangsungkan sampai kekudusan – kesempurnaan.

Dibandingkan dengan kitab Perjanjian Lama, maka kitab Perjanjian Baru hanya sedikit mencatat tentang kekudusan. Apalagi, dalam Perjanjian Lama begitu banyak upacara korban sembelihan bagi pengampunan dosa. Tetapi Perjanjian Baru mencakup semua korban sembelihan itu dalam korban Yesus di kayu salib. Kemudian kitab Perjanjian Baru menempatkan Roh Kudus berperan mendewasakan, menguduskan dan menyempurnakan Gereja Tuhan.

4.9 Allah itu Maha Adil.

Dapat dibayangkan bila kekuasaan itu identik dengan keadilan (kasihpun dapat ditafsirkan menjadi kekuasaan). Maka apa yang ditetapkan oleh penguasa itu adalah keadilan, itulah tirani. Tetapi yang benar adalah, unsur keadilan dapat dipahami tersendiri di samping kekuasaan.

Alkitablah yang memberi patokan keadilan bagi umat manusia. Dalam menerapkan segala kedaulatanNya, Allah memberi hukum kepada semua ciptaanNya. Di dalam hukumNya nampak dengan jelas ke-Maha AdilanNya. Oleh keadilanNya, maka alam ciptaanNya yakni alam tak nampak dan alam nampak berada dalam keadaan harmoni. Hukum-hukum alam yang berlaku di bumi ini dalam keadaan harmonis. Planet bumi ini juga ada dalam keadaan harmoni dalam sistim tata surya yang ada. Sedang tata surya (galaxy) kita ini juga ada dalam harmoni, dalam sistim bima sakti – universe – melky way sistim atau alam raya yang ada.

Bagi mahluk-mahluk termulia ciptaan Allah; malaikat dan manusia, Allah menempatkan mereka secara khusus dalam sistim hukumNya, sehingga mahluk-mahluk ini mempunyai hak dan kewajiban, Kolose 1:16; Kejadian 2:15-17. Sayang sekali mahluk-mahluk ciptaan itu melawan hukum Allah, Yudas 1:6; Kejadian 3:6, mereka berdosa, ke-Maha Adilan Allahpun Nampak:

-Allah menjatuhkan hukuman bagi malaikat-malaikat yang berdosa, Matius 8:29; Ibrani 2:16.
-Allah memberi hukum keselamatan bagi manusia yang berdosa, Kejadian 3:15.
-Allah menguduskan surga yang sudah sempat tercemar oleh dosa, setan dan malaikat-malaikat lain yang melawan Allah, Ibrani 9:23.
-Allah menyiapkan tempat penghukuman bagi malaikat-malaikat yang berdosa dan bagi manusia yang tidak taat pada hukum keselamatan yang Allah anugerahkan, Matius 25:41.
-Allah menyiapkan langit dan bumi baru.

Harus dijelaskan bagaimana keadilan Allah dalam hukum keselamatan Allah itu. Akibat dosa ialah kematian, Kejadian 2:17; 3:19; Roma 6:23; Ibrani 9:27. Keadilan Allah yang diungkapkan dalam ToratNya, menegaskan adanya hukum pembalasan, yakni: kematian harus dibayar dengan kematian, Keluaran 21:23-25; Imamat 24:20; Ulangan 19:21; itulah keadilan yang seadil-adilnya. Upaya Allah menyelamatkan manusia dilakukan sesuai dengan prinsip keadilan hukum Allah, yakni: Yesus yang tidak berdosa harus mati menebus manusia yang berdosa. Dengan kematianNya di kayu salib maka Yesus menggenapkan hukut Taurat, Matius 5:17; Yohanes 19:30.

Jadi jelas sekali bahwa keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia itu bukan diberikan langsung, berdasarkan ‘ke-Maha Kuasaan’, ‘ke-Maha Tahuan’, dan ‘ke-Maha Kasihan’ Allah saja, melainkan dianugerahkan berdasarkan ‘ke-Maha Adilan’ Allah lewat Yesus Kristus:

-Keselamatan oleh Allah kepada manusia itu, lewat Yesus Kristus dalam keadilan hukum Allah.

-Keselamatan itu untuk semua orang, bukan hanya kepada beberapa orang yang ditentukan berdasarkan pilihan saja (menihilkan Calvinisme/Hyper Calvinisme – doktrin tentang takdir). Keselamatan itu hanya dapat diterima manusia dengan dasar percaya lewat hukum keselamatan. Dalam ke-Maha AdilanNya, orang-orang yang tidak percaya akan menerima penghukuman. Kepada manusia, Allah meminta pertanggung jawaban.

-Keselamatan Allah, ternyata tidak begitu saja dianugerahkan kepada manusia karena kasih Allah, melainkan lewat hukum keselamatan itu (menihilkan Calvinis Unversalisme; doktrin yang mengajarkan bahwa semua manusia itu selamat oleh kasih Allah).

5. Allah itu tidak dapat mengingkari diriNya sendiri;

Sifat-sifat Allah harus dilihat dari satu kesatuan. Pernyataan 2 Timotius 2:13 yang berbunyi : “. . . karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya”, merupakan gambaran awal supaya manusia harus berupaya memahami sifat Allah sebagai suatu kesatuan. Bila sifat-sifat Allah itu dilihat secara terpisah-pisah tanpa melihat pada sifat-sifat Allah yang lain, maka manusia akan melihat secara sepihak atau ekstrim, 1 Korintus 4:6; dan kesimpulannya pasti tidak sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya, 1 Korintus 2:13-16. Beberapa contoh cara pandang yang sepihak atau ekstrim, yakni antara lain: Bila orang melihat secara ekstrim pada sifat kebaikan Allah, ia pasti akan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada neraka, sebab Allah tidak tega menghukum manusia karena kasihNya – itulah Universalisme. Tetapi ternyata, ada sifat Allah yang lain, yakni: keadilan Allah yang berdasarkan pada kebenaran dan kekudusan Allah, sehingga Allah menyiapkan penghukuman bagi mereka yang tetap melawan FirmanNya. “Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri”.

Bila orang melihat secara ekstrim pada sifat ke-Maha Kuasaan Allah, apalagi ditambah dengan ke-Maha Tahuan Allah, maka ia akan tiba pada pandangan Fatalisme (Fatum – Latin) berarti nasib. Manusia akan menganggp segala sesuatu yang menimpa dia adalah nasib yang berdasarkan penentuan oleh kedaulatan Allah, termasuk selamat atau tidaknya ia – itulah Calvinisme. Tetapi ternyata ada sifat-sifat Allah yang lain, yang tidak boleh diabaikan. Sifat-sifat itu yakni: kebaikan Allah, berupa kasih, kemurahan, kesabaran, 2 Petrus 3:9 yang tidak mengingini manusia binasa. Masih ada lagi sifat Allah yang lain, yakni: kudus. Bila Allah yang menentukan manusia itu masuk ke dalam neraka, dengan menyediakan neraka serta penderitaan yang maha dahsyat itu, hal itu berarti Allah tidak kudus karena menjadi penyebab dosa dan merancang kematian kekal serta sengsaranya itu bagi manusia. Ingat baik-baik, bahwa hal serupa itu tidaklah mungkin, karena: “Allah tidak dapat menyangkal diriNya sendiri”.

Untuk mendapatkan pemahaman yang seimbang dan benar tentang Allah, hendaklah sifat-sifatNya dilihat dari semua sudut pandang. Jangan melebih-lebihkan yang satu sehingga manusia berkesimpulan secara extra biblika, sekaligus jangan mengurangi yang lain sehingga manusia meremehkan sifat itu, 1 Korintus 4:6.

6. Rahasia keselamatan manusia terungkap dalam sifat-sifat Allah.

Sebenarnya, dengan memahami sifat-sifat Allah, rahasia keselamatan dari Allah itu terungkap. Manusia menjadi tahu menempatkan dirinya pada posisi sebenarnya dihadapan Allah. Beberapa contoh dapat dijelaskan:
Sifat Kudusnya Allah. Alkitab mencatat bahwa Allah itu kudus. Tetapi Alkitab juga menulis ucapan Allah: “Kuduslah kamu, karena Aku kudus”, Imamat 11:44-45; 19:2; 1 Petrus 1:16. Dengan demikian, dalam sifat kudusNya itu, Allah menginginkan manusia hidup sesuai sifatNya, yakni kudus. Dengan tegas Alkitab mencatat : ” . . . tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan”, Ibrani 12:14. Itu berarti manusia diperintahkan Allah untuk mencari tahu rahasia hidup kudus; dan rahasia hidup kudus itu diajarkan oleh Alkitab.

Sifat Kebaikan Allah. Alkitab mencatat bahwa Allah itu baik, Bilangan 10:19; Mazmur 25:8; 34:9; 69:17; 73:1; 86:5; 100:5; 135:3; 145:9; Matius 5:45. Di dalam kebaikanNya itu ada: Kasih; Kasih Setia (Panjang sabar dan Kebaikan); Kasih Karunia (Anugerah) dan lain-lain lagi. Oleh kebaikan Tuhan, maka Ia mengampuni dosa manusia dan menganugerahkan keselamatan. Tetapi apakah dengan kebaikan Tuhan itu manusia boleh bermanja-manja, berbuat apa saja sekehendak hatinya?, Roma 6:1cf. Jangan salah tafsir! Paulus menulis panjang lebar dalam Roma 5:20; 6:14. Justru oleh kebaikan Allah itu, maka orang percaya dapat hidup dalam hidup baru (Roma 6:4); mati bagi dosa, hidup bagi Allah (Roma 6:11); tidak hidup dalam kuasa dosa (Roma 6:14). Petrus menulis dengan tegas : “. . . Ia sabar terhadap kamu, . . . supaya semua orang berbalik dan bertobat’, 2 Petrus 3:9.

Sifat ke-Maha Kuasaan Allah. Alkitab mencatat bahwa Allah itu maha kuasa dan maha tahu. Ia berdaulat penuh dalam setiap tindakanNya. Apakah dengan demikian manusia pasrah saja pada keadaan apa adanya dalam dosanya menunggu nasib? Matius 25:24-25; Lukas 19:20-21. Sebenarnya maksud Allah memperlihatkan ke-maha kuasaan dan kedaulatanNya itu supaya: “Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang kepada segala perintahKu”, Ulangan 5:29cf. Penulis Ibrani lebih menegaskan: “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang menyampaikan Firman Allah di bumi, tidak luput, apalagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari Surga?”, Ibrani 12:24.

7. Kesimpulan Dalam bab ini ada tiga pokok penting yang dipelajari yakni:

‘Pembuktian bahwa Allah itu berpribadi’; ‘keadaan dasar pribadi’; dan ‘sifat-sifat pribadi’ Allah. Ternyata untuk memahami pribadi Allah itu, maka tiga pokok penting itu harus dipelajari bersama, sebab ketiganya saling berkaitan erat dan saling menerangkan. Jadi pribadi Allah itu dijelaskan oleh keadaan dasar dan sifat-sifatNya.
Dari penjelasan tentang pribadi Allah ini begitu pekat terasa: betapa kecilnya atau tidak berartinya manusia itu. Kesimpulannya dapat diungkapkan dalam empat pertanyaan yang dapat dijawab dengan berbagai pertanyaan:

– Untuk apa manusia mengenal Allah? Supaya manusia percaya kepadaNya,Mazmur 46:11; 100:3; Yeremia 31:34cf; 1 Korintus 8:4.

– Untuk apa manusia mengenal pribadi Allah? Supaya manusia memahami agungnya nilai penciptaan baginya (gambar Allah), Kejadian 1:26-27; dan nilai keselamatannya, 2 Korintus 3:18.

– Untuk apa manusia mengenal keadaan dasar pribadi Allah? Supaya manusia mengenal dirinya sendiri seperti Ayub, Ayub 39:37-38; 42:1-6.

– Untuk apa manusia mengenal sifat-sifat pribadi Allah? Supaya manusia tahu ‘takut akan Allah’, Ulangan 5:29; Ibrani 12:28cf.

“BAB IV: NAMA DAN TRINITAS ALLAH”

1. Nama-nama Allah. 

Kitab Suci mewahyukan nama Allah yang menunjukkan sifat-sifat Allah kepada kita. Allah telah menyatakan diriNya dan namaNya melalui FirmanNya kepada manusia (Keluaran 6:3; 34:5-6). Barangsiapa yang mau menyembah Allah harus menyebut nama Allah, dan harus merasa takut terhadap kekudusan nama Allah (Ulangan 28:58;Kejadian 12:8; 2 Samuel 22:50). Manusia harus memuji nama Allah dan memuliakan nama Allah (Mazmur 86:9). Mengapa? Karena nama Allah identik dengan Pribadi Allah yang membela dan melindungi umatNya (Mazmur 20:1). Kalau kita berseru namaNya maka Allah tidak akan meninggalkan umatNya. Allah mengasihi dan mengikat diriNya dengan umatNya yang selalu berseru akan namaNya. (1 Samuel 12:22). Selanjutnya, Allah telah memperkenalkan Nama-namaNya sebagai berikut:

1.1. ELOHIM.

Nama Elohim menyatakan ke-Maha Kuasaan dari Allah. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, kemudian menciptakan manusia maka Allah memakai nama Elohim. Elohim adalah nama dalam bentuk jamak menunjukkan ke-Esa-an dari Allah yang Tritunggal. Nama Elohim-lah yang dipakai Allah ketika menjadikan manusia menurut rupa dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Walaupun Israel mengenal Allah yang Tungal tetapi Perjanjian Lama telah juga mewahyukan bahwa ke-jamak-an dari Allah telah diperkenalkan sejak pertama.

1.2. JEHOVAH.

Kata Jehovah berarti Tunggal. Itulah nama dari Bapa yang memperkenalkan Diri kepada Israel. Jehovah berarti Allah yang datang kepada umatNya dan mengadakan perjanjian dengan mereka Israel hanya menerima Jehovah sebagai Allah yang Tunggal dan kepadaNya mereka berseru dan menyembah. Kata Jehovah begitu sakral bagi umat Israel. Dengan nama Jehovah-lah Allah memperkenalkan diri kepada Israel bahwa Dialah yang ada sejak dahulu, sekarang dan selama-lamanya (Keluaran 3:13-14). Dalam memimpin Israel, memelihara dan membela maka Allah menyatakan namaNya yang menunjukkan sifatNya kepada umatNya:

1.  Jehovah Rapha,

berarti bahwa Tuhanlah yang menyembuhkan umatNya. Allah bertindak sebagai dokter yang Maha Kuasa ke atas umatNya (Keluaran 15:26).

2. Jehovah Nissi,

berarti bahwa Tuhan adalah Panji-panji Kemenangan Israel. Tuhanlah berperang ganti umatNya. Ketika mereka berhadapan dengan laut kolsum, benar bahwa Tuhan telah menjadi Panji Kemenangan Israel (Keluaran 17:8-15; 14:13-14).

3. Jehovah Shalom,

berarti bahwa Tuhan adalah Raja Damai. Dialah yang memberi damai-sejahtera kepada umatNya. Sifat Allah ini berlaku bukan hanya kepada Israel tetapi kepada umatNya masa kini. (Habakuk 6:24).

4. Jehovah Roi,

berarti bahwa Tuhanlah yang menjadi Gembala kita. Ialah yang memimpin dan melindungi dan memberkati kita. Tuhan sebagai Gembala dimanifestasikan dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai Gembala yang baik (Yohanes 10; Mazmur 23).

5. Jehovah Tsidkenu,

berarti bahwa Tuhanlah yang menjadi Kebenaran UmatNya. Ialah yang mengampuni, membela dan membenarkan kita. (Yeremia 23:6). Manifestasi Jehovah sebagai kebenaran dinyatakan di dalam Yesus Kristus Tuhan kita (Yohanes 14:6; Yohanes 16:13).

6. Jehovah Shammah,

berarti Tuhan ada dan hadir dengan umatNya, Tuhan senantiasa menyertai kita dimanapun kita berada (Yehezkiel 48:35).

Banyak orang tidak memahami kekuatan rohani apa yang ada kepada bangsa Israel sehingga mereka dapat bertahan melalui penghancuran yang terjadi untuk melenyapkan bangsa ini. Dua kali mereka terbuang untuk dilenyapkan tetapi selalu tetap bertahan dan eksis. Tidak satupun bangsa di dunia yang dapat menandingi penderitaan pembinasaan seperti yang dialami bangsa ini. Keyakinan atas ketujuh sifat Jehovah di atas-lah menjadi rahasia yang menyebabkan mereka mampu bertahan sebagai bangsa.

Allah Israel bukanlah sebuah gagasan dari satu agama manusia, melainkan Dia adalah Allah yang hidup yang bergerak ditengah-tengah umatNya. Karena itu, sejarah bangsa ini merupakan sejarah kerajaan Allah diatas muka bumi ini. Penggenapan Janji Allah diwujudkan melalui kedatangan Yesus Kristus dilanjutkan kedatangan Roh Kudus. Ketujuh nama Allah yang menunjukkan sifatNya yang menyertai orang percaya sekarang berlaku keatas GerejaNya. Tuhan dengan segala sifatNya yang diwujudkan melalui namaNya dinyatakan oleh Roh Kudus keatas orang percaya.

1.3. El-Elyon. Kata \”El\” berarti \”Tuhan\”, Satu-satunya Maha Kuasa\” (Ulangan 32:4).

El-Elyon artinya Allah Maha Kuat, Maha Berkuasa, Maha Agung, Dialah Allah Maha Penyelamat yang telah menolong umatNya dengan ke-Maha KuasaanNya dari tangan musuh (Kejadian 14:18-20). Dialah Allah yang Maha Kuasa yang mengasihi isi dunia dan memberikan AnakNya yang tunggal kepada isi dunia untuk menyelamatkan isi dunia (Yohanes 3:16).

1.4. El-Shaddai. El-Shaddai, berarti Allah yang mencukupi segala kebutuhan umatNya.

El-Shaddai bahwa Allah yang Maha Kuasa akan mencukupkan kita. Dia berjanji akan menggenapi janjiNya dengan sempurna. Allah Maha Kuasa selalu menggenapi janjiNya (Kejadian 17:1).

1.5. El-Olam. Berarti Allah yang kekal.

Dialah yang mengatur kehidupan manusia dan memberi hidup yang kekal kepada manusia. El-Olam bahwa Allah yang kekal selalu memegang teguh semua janjiNya (1 Timotius 1:17).

1.6. Adonai. Adonai, berarti Tuhan, yang menguasai, memerintah alam semesta dan memerintah umatNya (Keluaran 23:17).

Dia menuntut ketaatan dan kesetiaan umatNya. Ketika Yesus bangkit dari antara orang mati, maka Allah menjadikan Dia Tuhan. Yesus Kristus menjadi \”Adonai\”, orang percaya harus taat kepadaNya. Karena Dialah Adonai kita (Kisah 2:36; Filipi 2:9).

1.7. Abba = Bapa. Allah Israel juga menjadi Bapa kepada umatNya.

Ketika Roh Kudus turun ke atas orang percaya, maka Roh Kudus dari dalam hati berseru: \”Bapa, ya Abba. . .\”. Hubungan orang percaya dengan Allah dikiaskan seperti hubungan Bapa dan Anaknya. Inilah pekerjaan Roh Kudus yang ajaib, bahwa setiap anak Tuhan dapat menyebut Allah \”Ya Abba, Ya Bapa\” (Roma 8:14; Galatia 4:6).

2. Beberapa Faham dan Pandangan yang salah terhadap Allah. 

Supaya lebih memahami Nama dan Sifat Allah yang terkandung dalam Nama itu sehingga orang percaya berhasil mendapat kekuatan di dalam Nama itu. Pembentukan wawasan ini membutuhkan pengetahuan terhadap faham-faham yang jelas menolak ajaran Alkitab tentang Allah.

2.1 Agnostisisme.

Kata ini dalam bahasa Grika berarti \”Tidak tahu\”. Suatu faham yang berdasarkan kekuatan untuk mengetahui dari manusia. Beranggapan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu untuk tahu tentang Allah. Manusia adalah mahluk yang terbatas adalah mustahil untuk dapat mengetahui tentang Allah yang tidak terbatas. Aliran ini menutup pintu untuk mengenal Allah dengan dalih bahwa manusia adalah mahluk yang terbatas.

Aliran ini berusaha untuk membangun sifat skeptisme terhadap iman Kristen. Selalu berusaha untuk dengan keterbatasan berpikir supaya menerbitkan keraguan total terhadap Firman Allah. Karena aliran ini sesungghnya menolak Alkitab yang adalah Firman Allah.

Mereka tidak pernah kenal Roh Kudus yang membuat orang percaya mampu dan sanggup mengenal Allah. Roh Kuduslah yang sesungguhnya yang telah menolong orang percaya dapat mengenal Allah. (1 Korintus 2:11-12;Yohanes 16:13).

2.2 Panteisme.

Faham ini percaya bahwa Allah berada di semua keberadaan di alam semesta. Faham ini mempersatukan semua alam semesta dan seluruh isinya dengan Allah. Semua yang ada adalah Allah, bahwa Allah menyatu dengan semua yang ada. Panteisme mempersatukan Allah dengan alam semesta ini dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Alkitab dengan jelas memperbedakan antara alam semesta sebagai ciptaan dan Allah sebagai pencipta. (Roma 1:19-25).

2.3 Materialisme.

Materialisme adalah suatu faham yang melihat bahwa segala sesuatu adalah \”materi\” atau benda. Manusia tidak lagi dilihat sebagai mahluk ciptaan Allah yang mempunyai jiwa dan roh atau sebagai mahluk yang mempunyai kehidupan rohani. Semuanya diukur sebagai materi karena mempunyai tubuh. Sehingga manusia itu berfaedah selagi dia itu hidup dan kalau telah tua dan tidak lagi berbuat sesuatu manusia menjadi tidak berguna.  Manusia bukan mahluk rohani yang harus mempertanggung-jawabkan kehidupan ini. Manusia disamakan dengan benda saja sehingga tidak perlu bertanggung-jawab sesama manusia. Faham ini menjadikan manusia sama saja dengan binatang. Hanya lebih tinggi sedikit sebab dapat berpikir.

Faham materialisme menolak keberadaan Allah melalui filsafatnya. Manusia tidak perlu menyembah Allah karena manusia disamakan saja dengan benda-benda mati. Manusia harus bekerja sekeras-kerasnya supaya nilai materi bisa melebihi manusia lainnya. (1 Yohanes 2:15-17).

2.4 Ateisme.

Suatu faham yang dengan terang-terangan berkata bahwa Allah itu tidak ada. Bahwa Allah itu hanyalah hasil rekayasa dari keinginan manusia itu sendiri. Biasanya, faham Ateisme merupakan hasil dari faham-faham lain yang tidak percaya kepada Tuhan dan akhirnya berkata bahwa Tuhan itu tidak ada.

2.5 Humanisme.

Humanisme ialah suatu faham yang melihat diri manusia sebagai jawaban atas segala sesuatu. Hal yang baik dan buruk bukanlah yang dikatakan Firman Allah tetapi menurut pendapat diri sendiri. Segala sesuatu menunjuk kepada diri manusia. Diri manusia menjadi sentral keberadaan. Manusia telah menjadi allah sendiri atas hidup dan memberi keputusan untuk apa yang dianggap baik.

Setanlah yang telah membalikkan kebenaran dari menyembah kepada Allah dan sekarang menyembah kepada diri sendiri. Keputusan hasil berpikir manusialah yang harus diagungkan. Bukan Firman Allah yang dikatakan Allah dalam Alkitab. Hal itu bermula ketika Adam dan Hawa melawan Allah akibat tipuan setan. Setan setelah membalikkan manusia dari menyembah Allah dan taat kepada semua Firman Allah. Hawa telah mengambil dan makan buah terlarang berdasarkan pertimbangan sendiri karena tipuan setan. Semua telah berpusat kepada diri sendiri, bahwa manusia bukan lagi mahluk ciptaan yang menyembah Allah. Manusia telah berubah menjadi Allah bagi dirinya sendiri (Kejadian 3:3-6; 2 Timotius 3:1-5).

2.6 Liberalisme.

Ciri Liberalisme yaitu, menolak segala sesuatu yang tidak diterima oleh akal budi manusia. Akal untuk berpikir menjadi kebenaran manusia. Dari akal manusia harus mengambil keputusan sehingga semua sifat Allah yang supranatural ditolak oleh manusia. Liberalisme, menolak Alkitab sebagai wahyu Allah dan semua karya Kristus untuk menyelamatkan manusia yaitu, kematian dan kebangkitanNya. Semua bertitik tolak dari akal manusia. Mereka tidak mempunyai iman sama sekali sebab yang ada adalah hasil berpikir. Dari kata \”Liberal\” maka kita maklum bahwa tidak ada yang dapat mengikat mereka. Mereka bebas menafsir dan tidak tunduk kepada Alkitab yang adalah Wahyu Allah.

2.7 Deisme.

Semua faham yang percaya bahwa Tuhan yang menjadikan segala sesuatu di alam semesta. Namun, setelah Allah menciptakan segala sesuatu maka Sang Pencipta mengundurkan diri dan keluar dari ciptaanNya. Allah menyerahkan segala sesuatu kepada hukum-hukum yang telah ditetapkanNya.

Karena itu, menjadi pola faham teologi Deisme untuk mempelajari tentang Allah kepada alam semesta yang dapat dimengerti oleh otak manusia. Dikarenakan, bahwa Allah telah mengundurkan diriNya dari semua ciptaanNya sudah tentu tidak akan ada wahyu, ataupun mujizat-mujizat lagi. Faham ini mirip dengan \”Determinisme\” bahwa segala sesuatu telah ditentukan untuk bergerak ke suatu keadaan tertentu yang lebih baik dari yang ada.

Deisme menolak semua penyataan-penyataan Allah dalam Alkitab yang dapat mempengaruhi kehidupan orang percaya. Allah benar-benar telah keluar dari ciptaanNya dan telah meninggalkan segalanya bergerak secara alamiah. Secara jujur faham ini sama dengan pemikiran seorang filsuf abad ke 18, bahwa aku berpikir bahwa Tuhan sudah mati. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan tetap ada dan menyertai kita untuk selama-lamanya. Bahkan Dia sanggup mengerjakan mujizat-mujizat sebagai bukti kehadiranNya dalam pelayanan GerejaNya (Matius 28).

3. Allah Tritunggal. 

Kata Trinitas atau Tritunggal tentu saja tidak terdapat dalam Alkitab. Ke-Tritunggal-an dari Allah adalah satu fakta keberadaan Allah. Allah sendirilah yang datang mengungkapkan tentang diriNya kepada manusia. Memang doktrin tentang Tritunggal merupakan doktrin yang sangat sulit difahami. Hanya konsep Tritunggal dapat diterima melalui penelitian Alkitab. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru keduanya memuat doktrin Tritunggal yang dapat difahami. Hanya harus direnungkan bahwa siapakah yang dapat mengerti tentang kedalaman Pribadi Allah secara tuntas. Semua yang terbatas tidak akan mampu untuk merenung yang tidak terbatas. Tetapi bukankah agama Kristen berjalan dengan iman dan bukan semata-mata dengan pengertian. Demikianlah ajaran Tritunggal bukanlah ajaran manusia, sebab Allah sendiri yang telah mengungkapkan tentang diriNya, melalui bukti-bukti Firman Allah. Ajaran Tritunggal adalah ajaran kitab suci dan merupakan ajaran yang Alkitabiah.

3.1. Tritunggal dalam Perjanjian Lama.

Perjanjian Lama menekankan ke-Esa-an ke-Allah-an. Ajaran tersebut sebagai dampak langsung dari kepercayaan Israel yang Monotheisme, yaitu penekanan ke-Esa-an Allah diperhadapkan dengan bangsa-bangsa lain yang Polytheisme atau menyembah banyak allah. Ulangan 6:4 \”Dengarlah hai orang Israel Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa\”. Mengandung pengertian bahwa Tuhan kita bersifat ke-Esa-an, ada konsep pengertian lebih dari satu pribadi tersirat di dalamnya. Namun, tidak boleh disamakan dengan bangsa kafir yang jelas menyembah banyak dewa atau allah-allah. Perhatikan juga ayat-ayat seperti, Keluaran 20:3; Ulangan 4:35; Yesaya 45:14.

Memang Allah dengan penuh hikmat menyiratkan ke-jamak-an diriNya namun mengungkapkan diri sebagai \”Allah yang esa\”, supaya tidak boleh disamakan dengan bangsa kafir yang menyembah banyak allah. Identitas Allah Israel harus terpelihara untuk membedakan Allah Israel dengan penyembahan Polytheisme yang berlaku pada waktu itu.

1. Kata-kata Bentuk Jamak.

Kata Elohim ialah nama untuk Allah dalam bentuk jamak. Ketika Allah memulai menata alam semesta dan isinya. Dikatakan pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1-2). Memakai kata \”Elohim\” yaitu nama Allah dalam bentuk jamak. Begitu pula ketika Allah menciptakan manusia dikatakan, . . .Baiklah Kita menjadikan . . . Kata Kita dipakai sebagai kata ganti Allah. Menunjuk bahwa Allah yang Esa tetapi mempunyai Pribadi lebih dari satu atau bentuk jamak (Kejadian 1:26; 11:7; Yesaya 6:8).
Ketika Tuhan datang kepada Abraham dan menyatakan diriNya, Abraham berkata \”ya Tuhan Allah (Ibrani = Adonai Jehovah). Kata Adonai adalah bentuk jamak dari kata Adon. Kata-kata bentuk jamak mengisyaratkan bahwa Allah mempunyai lebih dari satu Pribadi (Kejadian 15:1-2).

2. Allah datang dalam wujud Theopani.

Dalam Kejadian 16:7-13; 18:1-21; 19:1-28, Allah Tritunggal datang dalam wujud malaikat-malaikat. Jelas, bahwa itu bukan malaikat-malaikat biasa sebab mereka dipanggil tuan oleh Abraham dan disembah. Malaikat-malaikat itu dikatakan Tuhan menyampaikan berita tentang kelahiran Ishak kepada Abraham. Dalam Perjanjian Lama sering Allah datang mengunjungi para nabi dalam bentu malaikat. Jelaslah bahwa kedatangan malaikat-malaikat biasa tetapi perkunjungan Tritunggal Allah kepada Abraham.

3. Pribadi-pribadi yang berbeda. Beberapa ayat Firman Allah sangat jelas menyebutkan tentang adanya pribadi-pribadi yang berbeda dalam ke-Allah-an sebagai contoh:

(1). Adanya perbedaan Tuhan di dalam ayat Firman Allah. \”Tuhan menurunkan hujan belerang yang berasal dari Tuhan\”, Kejadian 19:24;Hosea 1:7.

(2). Penyebutan tentang penebus yang dibedakan dari Tuhan (Yesaya 59:20).

(3). Roh sebagai pribadi yang aktif dibedakan dari Tuhan. (Yesaya 48:16;63:9-10).

Doktrin tentang Allah Tritunggal yang belum terlalu jelas dalam Perjanjian Lama namun itu merupakan benih yang dapat kehidupannya secara jelas dalam Perjanjian Baru. Kekuatan doktrin Tritunggal dalam Perjanjian Baru tidak dapat dipertahankan tanpa benih yang telah diungkapkan dalam Perjanjian Baru.

3.2. Tritunggal dalam Perjanjian Baru.

Ajaran Trinitas dalam Perjanjian Lama semakin jelas dalam Perjanjian Baru. Kalau dalam Perjanjian Lama masalah Allah yang berpribadi lebih dari satu hanyalah tampak dari bukti nama-nama yang dipakai oleh Allah dan penampakan Allah dalam wujud Malaikat. Tetapi dalam Perjanjian Baru Trinitas telah menyatakan diri. Yesus Kristus telah disembah sebagai Allah, demikian pula Roh Kudus. Dalam Perjanjian Baru ketika oknum Allah: Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus telah menyatakan diri secara terbuka lengkap dengan fungsi Ilahi yang berbeda.

Walaupun dalam Perjanjian Baru ketiga oknum Allah telah tampak dengan jelas, namun penekanan ke-Esa-an sepanjang Perjanjian Baru juga menjadi bukti bahwa Allah dalam perwujudanNya selalu dalam ke-Esa-an. Ayat-ayat Firman Allah yang menekankan bahwa hanya ada satu Allah yaitu: 1 Korintus 8:4-6; Efesus 4:3-6; Yakub 2:19; Yohanes 10:30; 17:11; Galatia 3:20, dan seterusnya.

Bukti Ketiga Oknum adalah Allah.

(1) Bapa diakui sebagai Allah sebagai kelanjutan Jehovah dalam Perjanjian Lama.

Hal tersebut jelas tidak akan terjadi perbedaan, Yohanes 6:27; 1 Petrus 1:2; Lukas 2:49; Markus 8:38.

(2) Yesus adalah Allah sebagaimana ketiga sifat yang dimiliki oleh Bapa sebagai Allah, juga ketiga sifat itu dimiliki Yesus Kristus.

Yesus Maha Tahu (Matius 9:24), Ia Maha Kuasa (Matius 28:18), Ia Maha Hadir (Matius 28:20). Yesus melakukan pekerjaan yang dilakukan Bapa, yaitu bahwa Dia mengampuni orang berdosa (Markus 2:1-12), Dia membangkitkan orang mati (Yohanes 12:9) selanjutnya bahwa Dia yang menciptakan segala sesuatu (Yohanes 1:3), menghakimi umat manusia (Yohanes 5:27). Dia dipanggil Tuhan oleh murid-muridNya (Yohanes 13:13). Para malaikat menyaksikan bahwa Yesus adalah Tuhan (Lukas 2:11). Sebagai Firman maka Dia dikatakan \”adalah\” Allah (Yohanes 1:1). Yohanes tidak mempunyai kata lain selain menyatakan kebenaran bahwa Dia berbeda dengan Bapa dan Dia adalah Allah (Yohanes 1:1, 14).

(3) Roh Kudus diakui sebagai Allah, Roh Kudus sebagai Allah dan memiliki sifat-sifat yang ada kepada Allah.

Dia Maha Tahu (1 Korintus 2:10), Dia juga Maha Hadir (1 Korintus 6:19), Roh juga Maha Kuasa memberi kuasa kepada GerejaNya (Kisah 1:8). Roh Kudus melahirkan kembali manusia (Yohanes 3:5-6, 8). Pekerjaan melahirkan kembali hanya dilakukan oleh Allah.

Bukti ke-Esa-an dan kepadanan ketiga oknum Allah dalam Tritunggal kelihatan dalam ayat Matius 28:19, ketika Yesus memberi amanah agung kepada murid-muridNya untuk membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dan ketiga gelar tersebut dipersatukan dengan lengkap menurut nama ke-Allah-an itu sendiri yaitu: Tuhan Yesus Kristus, gelar Bapa, Anak dan Roh Kudus dimateraikan dengan nama mereka masing-masing: Nama Bapa ialah Tuhan, Nama Anak ialah Yesus, Nama Roh Kudus ialah Kristus, Dia digelar sebagai yang dinamai oleh Roh Kudus. Karena itu, nama lengkap Tritunggal – Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu: Tuhan Yesus Kristus (Kisah 2:38; 10:48; 19:5) karena itu, alangkah sempurnanya apabila kita menyebut Tritunggal Allah yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus untuk langsung memateraikan dengan Nama mereka: Tuhan Yesus Kristus.

Gambaran Trinitas Allah

Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki kualitas ke-Allah-an yang setara. Allah Bapa tidak lebih dari Anak demikian pula bahwa Anak tidak lebih dari Roh Kudus. Namun, dalam status kedudukan lembaga surgawi, kita harus mengetahui bahwa Bapa lebih tinggi dari Anak dan Anak lebih tinggi dari Roh Kudus. Bukti Alkitab bahwa Yesus Kristus sebagai Anak selalu taat dan melakukan kehendak Bapa. Begitu pula seterusnya bahwa Roh Kudus taat kepada Yesus Kristus (Yohanes 5:37; 12:49; 14:28; Yohanes 16:14-15;Yohanes 16:7).

Beberapa ciri di alam semesta yang dapat dilukiskan untuk menjadi contoh pengertian Tritunggal yaitu: Air yang memiliki unsur kimia, zat padat, cair dan uap sekaligus. Air dapat menjadi es, dan cair serta uap sekaligus dengan berkeseimbangan. Suatu gambaran yang baik untuk menerangkan Tritunggal.

Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh, juga dalam waktu bersamaan secara seimbang bisa menjadi percontohan dari Tritunggal Allah begitu pula matahari yang terdiri dari matahari, sinarnya serta kekuatannya bisa menjadi ilustrasi tentang Tritunggal. Tetapi semuanya tetap tidak dapat menjadi ilustrasi yang secara tuntas dapat menggambarkan misteri Tritunggal. Bagaimanapun Tritunggal tetap merupakan satu misteri, karena kita sedang berbicara tentang sesuatu yang maha kuasa, maha pribadi yang menciptakan segala sesuatu cukup dengan berfirman. Tritunggal lebih diterima bila dipelajari dan diyakini dengan iman.

[END] @2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).”

Author :

Related Post

Post a comment