1

Doktrin Tentang Dosa – Hamartiologi

Dosa – Hamartiologi

dilihat: 2419 kali

Doktrin tentang dosa disebut Hamartiologi, yang berasal dari kata Grika Hamartia yang berarti dosa dan Logos yang berarti kata atau percakapan. Jadi Hamartiologi adalah pelajaran Alkitab mengenai dosa, asal-usulnya, definisi, pengungkapan dan akhirnya.

I. FAKTA TENTANG DOSA

1. Penciptaan mengatakannya. Segenap alam mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah. Alam membuktikan bahwa ada kehidupan dan kematian, ada keharmonisan dan perselisihan, ada keindahan dan keburukan, terang dan gelap, yang menyatakan fakta adanya dosa. Kekuatan-kekuatan alam dapat menjadi berkat tetapi dapat juga menjadi kutuk. Bumi yang dimaksudkan memberkati manusia, tetapi ada waktunya mendatangkan kesengsaraan. Ini semua jadi karena dosa telah masuk ke alam semesta. “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau.” (Kejadian 3:17).

2. Sejarah manusia mengatakannya. Pandangan singkat atas sejarah, dengan adanya perang, pertumpahan darah, kebencian, pembunuhan, kebejatan moral dan ketamakan, menunjukkan bahwa ada yang salah pada manusia bangsa-bangsa di bumi. Alkitab mengatakan bahwa perang dan perkelahian, pertengkaran dan pembunuhan adalah karena dosa. (Yakobus 4:1-2).

3. Logika manusia menyatakannya. Manusia yang jujur akan mengakui bahwa ada yang salah di dalam dirinya. Ia mengakui bahwa ia tidak harmonis di dalam dirinya. Inilah fakta adanya dosa di dalam diri yang bersangkutan. Seorang yang jujur dengan dirinya, mengakui di Alkitab, “Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Roma 7:14,19). Manusia melakukan yang salah karena ia orang berdosa.

4. Kata hati manusia menyatakannya. Kata hati manusia adalah saksi tentang dosa yang ada pada manusia. Pada saat seseorang melakukan yang salah, kata hatinya menyalahkan dia, menuduh dan menghukum dia. “Suara hati mereka saling menuduh atau saling membela.” (Roma 2:15). Kata hati membuktikan adanya dosa pada manusia.

5. Pengalaman manusia menyatakannya. “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Markus 7:20,21). “Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4). Ayat-ayat Firman Tuhan ini dan ayat-ayat lainnya mengatakan tentang dosa dalam hidup manusia dan pengalaman manusia mengesahkan bahwa apa yang dikatakan Firman Allah benar. Pengalaman manusia menyatakan bahwa dosa itu ada dalam hidup manusia.

6. Agama-agama manusia menyatakannya. Bangsa-bangsa di dunia mempunyai allah atau allah-allah yang disembah. Dengan korban-korban dan ibadah mereka berusaha menyenangkan dewa-dewa karena rasa bersalah atau dosa di hati mereka. Kepercayaan atau agama bangsa-bangsa di dunia membuktikan adanya dosa pada manusia. Manusia dengan agamanya mau menutupi atau menyelesaikan dosa itu.

7. Orang percaya menyatakannya. Orang percaya yang telah percaya Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya yang lebih menyadari adanya dosa. Setelah mendengar Injil, percaya dan bertobat dan dilepaskan dari dosa yang menguasainya, orang percaya lebih menyadari realitas dosa itu. Tetapi orang percaya yang menyadari bahwa untuk menyelesaikan dosa yang menguasai manusia, harus disucikan dan dikuasai oleh Firman Allah dan Roh Kudus.

8. Kitab Suci menyatakannya. Pengadilan tertinggi untuk membuktikan sesuatu adalah Firman Allah. Justru Firman Allah yang mengatakan bahwa semua manusia berdosa. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23). “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12).

II. TEORI-TEORI MENGENAI DOSA

1. Teori-teori yang salah tentang dosa.

a. Teori Ateistis. Ateistis tidak percaya adanya Allah. Karena tidak percaya adanya Allah, juga dengan sendirinya percaya tidak ada Allah yang menyebabkan manusia berdosa kepadanya. Karena tidak ada Allah, kepada siapa manusia berdosa dan mempertanggungjawabkan keberadaannya dan apa yang ia lakukan? Itulah kekeliruan keyakinan Ateistis mengenai dosa.

b. Teori Determinisme. Teori ini percaya bahwa manusia tidak mempunyai kehendak bebas. Manusia tak dapat melawan apa yang baik atau yang jahat. Pandangan ini bersifat fatalistis, karena manusia tak dapat menolak apa yang akan datang, dan oleh sebab itu manusia tak dapat dipersalahkan untuk apa yang dibuatnya. Inilah kekeliruan paham Determinisme mengenai dosa.

c. Teori Evolusi. Teori ini berpegang bahwa manusia adalah hasil dari evolusi, dan manusia mengalami evolusi dari monyet. Apa yang dikatakan “dosa”, hanya merupakan sifat-sifat binatang (monyet) yang ada pada manusia. Sebab itu manusia tak dapat dipersalahkan untuk apa yang dikatakan sebagai “dosa”. Tetapi teori ini menyangkali bahwa manusia adalah mahluk moral yang diciptakan menurut gambar dan teladan Allah. Inilah kekeliruan dari teori Evolusi.

2. Teori-teori Bidat tentang dosa.

a. Christian Science (Ilmu Pengetahuan Kristen). Christian Science mengatakan bahwa manusia tidak sanggup berdosa. Dosa adalah kesalahan pikiran fana. Manusia hanya memikirkan bahwa ada dosa dan bila pikirannya diperbaiki, dosa tidak ada lagi. Dosa, penyakit dan maut, bukan realitas tetapi hanya khayalan. Manusia tidak dapat berdosa karena ia mendapat esensinya dari Allah.

b. Spiritisme. Spiritisme mengatakan bahwa manusia tidak pernah jatuh. Apapun yang dijalani manusia, baik dan yang jahat, adalah jalan yang aturannya dan tujuannya Ilahi.

c. Russelisme. Russelisme atau saksi Yehovah mengatakan dosa, “Maut, padamnya hidup, adalah upah dosa”. Dalam waktu millenium, roh akan dibangkitkan dan akan diberi kesempatan kedua atau percobaan kedua untuk hidup kekal. Tiap-tiap orang tidak mati karena dosanya sendiri, tetapi karena dosa Adam, sehingga di dalam Adam semua mati. Waktu dimana manusia akan mati karena dosanya yaitu di milenium.

d. Teosofi. Teosofi mengajarkan bahwa semua pikiran meninggalkan jejaknya di tubuh dan muncul kembali sebagai kecenderungan didalam inkarnasi yang akan datang. Roh manusia dapat berpindah dan perbuatan manusia menentukan tubuh yang akan dimilikinya pada kelahirannya yang berikut. Kebebasan dari dosa yaitu bila hilang di dalam perenungan meditasi.

e. Unitas. Unitas mengajarkan bahwa tidak ada dosa, penyakit atau kematian. Allah tidak melihat ada yang jahat pada manusia. Dosa hanyalah kekurangan dalam menunjukkan sifat ilahi. Saya tidak dapat menyalahkan diri saya atau dunia karena saya mempunyai nafsu karena Allah ada dalamnya.

f. Mormonisme. Mormonisme mengajar bahwa Adam perlu mengambil bagian dalam memakan buah yang dilarang. Bila tidak demikian ia tidak mengetahui yang baik dan yang jahat dan tidak mempunyai keturunan di dunia.

III. TEORI-TEORI KRISTEN TENTANG DOSA

a. Teori Pelagian – Teori ketidak-berdosaan manusia secara alamiah. Teori ini berasal dari Pelagius, seorang rahib di Inggris yang lahir sekitar tahun 370 M. Ia mengajarkan bahwa dosa Adam hanya mempengaruhi dirinya. Ia berpendapat bahwa setiap jiwa manusia yang diciptakan Allah tidak berdosa dan bebas dari kecenderungan yang rusak. Allah menetapkan bahwa manusia bertanggungjawab untuk perbuatan dosa yang dengan sengaja ia lakukan. Roma 5:12 yang mengatakan bahwa maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa, ditafsirkannya bahwa itu telah menunjuk kepada kematian fisik yang berlaku kepada manusia setelah ia berbuat dosa.

b. Teori Arminian – Teori kerusakan yang diambil secara sukarela. Arminius seorang profesor di Belanda ( 1560-1609 ) mengajarkan teori tentang dosa yang dianggap Semi – Pelagianisme. Teori ini berpegang bahwa akibat dosa Adam manusia dilahirkan tanpa kebenaran dan tak berkemampuan memperoleh kebenaran. Namun manusia tidak diperhitungkan bersalah karena dosa Adam. Ia hanya bertanggungjawab karena dosa perbuatannya yang sadar. Mengenai Roma 5:12 ia menafsirkan bahwa maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa, yaitu bahwa manusia menderitakan konsekuensi dosa Adam. Karena itu Allah diwajibkan oleh tabiatNya untuk mengirimkan pengaruh Roh Kudus untuk meniadakan kecenderungan yang jahat yang diwarisi manusia karena kejatuhan Adam.

c. Teori Aliran Baru – Teori kerusakan yang tak-dapat-dihukum. Teori ini berdekatan dengan teori Arminian. Teori ini berpegang bahwa manusia hanya bertanggungjawab atas perbuatan pribadi, walaupun semua manusia lahir dengan kecenderungan untuk berdosa. Kematian bukanlah hukuman pada manusia, tetapi konsekuensi ketidak-senangan Allah atas pelanggaran Adam. Mengenai Roma 5:12 ditafsirkan bahwa kematian rohani melanda semua manusia, karena semua manusia secara aktual dan pribadi telah berdosa.

d. Teori Federal – Teori tuduhan oleh perjanjian. Teori ini berasal dari Cocceius ( 1603- 1669 ), seorang profesor Belanda, yang dikembangkan oleh Francis Turretin, juga seorang profesor Belanda. Teori ini berpegang bahwa Allah mengadakan perjanjian dengan Adam sebagai kepada perwakilan manusia, yang menjanjikan kehidupan kekal bila patuh, dan ada kematian dan kehancuran bila ia tidak menaati. Karena Adam berdosa maka semua keturunannya berdosa. Allah menyalahkan semua karena pelanggaran Adam. Teori ini berpegang bahwa setiap jiwa yang diciptakan Allah ada sifat buruk dan berdosa sebagai hukuman atas Adam.

e. Teori tuduhan tak langsung – Teori penghukuman karena kerusakan. Teori ini berasal dari Plaesus ( 1605-1655 ), seorang profesor Perancis. Ia mengajarkan bahwa semua manusia telah rusak secara fisik dan moral dan inilah sumber semua dosa di dalam manusia. Kerusakan fisik datang dari Adam karena pembiakan alami tetapi jiwa yang diciptakan Allah menjadi rusak saat bersatu dengan tubuh. Roma 5:12 ditafsirkannya bahwa semua berdosa karena mempunyai sifat alamiah yang berdosa.

f. Teori Augustinus – Teori pimpinan alami Adam. Teori ini pertama kali diterangkan oleh Augustinus ( 354-430 ), dan kemudian dilanjutkan oleh Tertulianus. Teori ini yang dipegang secara umum oleh para Reformator. Teori ini mengajarkan bahwa dosa Adam dituduhkan kepada generasi keturunannya yang belum lahir, karena kesatuan organis semua manusia “di dalam Adam”. Semua manusia ada di dalam di pinggangnya, walaupun belum lahir. Adam sebagai kepala perwakilan manusia, melakukan apa yang dilakukan manusia lain dalam percobaan yang sama. Roma 5:12 ditafsirkannya bahwa di dalam Adam semua manusia telah berdosa. Ini berarti kematian fisik, rohani dan kekal, dan semuanya terlibat dalam pimpinan Adam secara alamiah. Teori inilah yang paling Alkitabiah dibanding teori-teori yang lainnya.

IV. DEFINISI ALKITAB MENGENAI DOSA

1. Definisi-definisi Alkitab tentang dosa.

a. Dosa adalah pelanggaran hukum. “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (1 Yohanes 3:4).
b. Kejahatan adalah dosa. “Semua kejahatan adalah dosa.” (1 Yohanes 5:17).
c. Tidak melakukan yang baik adalah dosa. “Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berbuat dosa.” ( Yakobus 4:17 ).
d. Ketidakpercayaan adalah dosa. “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” (Roma 14:23).
e. Memikirkan kebodohan adalah dosa. (The devising of folly is sin). Amsal 24:10.

2. Kata-kata Ibrani untuk dosa.

a. Chattath, yang berarti kejahatan, pelanggaran, keberdosaan disengaja.
b. Avon, Avown, yang berarti kejahatan, pelanggaran, dosa.
c. Pasha, yang berarti pelanggaran, pemberontakan.
d. Asham, yang berarti pelanggaran, rasa salah.

3. Kata-kata Grika untuk dosa.

a. Hamartia – digunakan 174 kali di Perjanjian Baru, artinya dosa.
b. Hamartema – digunakan 4 kali di Perjanjian Baru, artinya dosa. Hamartema terutama untuk pengungkapan luar dari dosa atau ketidakpatuhan pada hukum Ilahi.
c. Parakoe – digunakan 5 kali di Perjanjian Baru, artinya ketidaktaatan atau ketidakpedulian terhadap Firman Allah.
d. Anomia – digunakan 15 kali di Perjanjian Baru, artinya pelanggaran hukum kedurhakaan. Pelanggaran hukum berasal dari pemberontakan di hati.
e. Parabasis – digunakan 16 kali di Perjanjian Baru, artinya pelanggaran, melanggar hukum Allah.
f. Paraptoma – digunakan 23 kali di Perjanjian Baru, artinya kejatuhan, pelanggaran, kesalahan, penyimpangan.
g. Agnoema – digunakan hanya sekali di Perjanjian Baru, artinya pelanggaran, dosa karena tidak peduli.

V. HUKUM ALLAH DALAM HAL DOSA

1. Perlunya hukum.

a. Di alam semesta. Allah adalah pencipta alam semesta dan pemberi hukum dalam alam semesta. Waktu Allah menciptakan alam semesta, Ia menciptakannya dengan diatur hukum-hukum. Tanpa hukum akan ada kekacauan di alam semesta. Jadi alam semesta takluk pada hukum-hukum Allah.

Allah adalah pencipta alam semesta dan pemberi hukum dalam alam semesta. Waktu Allah menciptakan alam semesta, Ia menciptakannya dengan diatur hukum-hukum. Tanpa hukum akan ada kekacauan di alam semesta. Jadi alam semesta takluk pada hukum-hukum Allah.

b. Pada mahluk. Allah yang menciptakan mahluk dan manusia dengan hukum. Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah, hidup di bumi dengan hukum. Karena manusia adalah sebagai mahluk moral, manusia dapat hidup dalam hukum. Walaupun manusia sebagai mahluk yang berkehendak bebas, namun manusia bertanggungjawab untuk hidup sesuai hukum. Bila individu-individu manusia tak memelihara hukum, akan terjadi kekacauan dan bentrokan antar individu. Jadi hukum diberikan Allah kepada manusia, supaya dapat hidup bersama dengan baik. Namun manusia sebagai mahluk moral yang berkehendak bebas, dapat memilih untuk memelihara hukum atau memberontak dan melanggar hukum, manusia dapat memilih untuk menjadi baik atau menjadi jahat.

2. Pelanggaran hukum.

Hukum mutlak perlu untuk alam semesta dan mahluk ciptaan. Allah juga memberi hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah sendiri. Bahasa hukum adalah “Engkau harus” dan “jangan engkau”. Manusia mempunyai kuasa untuk memilih apa yang ia lakukan. Manusia dikatakan sebagai agen moral dan agen kehendak bebas. Manusia dapat memilih untuk dengan bebas melakukan kehendak sendiri tanpa hukum, atau memilih untuk dengan kehendak sendiri melakukan yang sesuai dengan hukum. Dalam hubungan dengan Allah, misalnya, dikatakan dalam Matius 4:10, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dialah saja engkau berbakti.” Melanggar hukum ini adalah dosa, sebab dosa ialah “pelanggaran hukum Allah.” (1 Yohanes 3:4).

VI. ASAL-USUL DOSA

1. Masuknya dosa ke alam semesta.

Kitab Suci menunjukkan dengan jelas bahwa mahluk moral yang pertama diciptakan adalah rombongan malaekat, dan bahwa Lucifer dan malaekatnya adalah pendosa-pendosa pertama dan yang asli. Jadi dosa mulai di sorga di antara orde malaikat. Kemudian turun ke bumi di mahluk penggoda yaitu iblis.

Lucifer adalah mahluk malaekat, penghulu malaekat, yang dipakaikan dengan hikmat, terang dan keindahan. Ia ditugaskan sebagai pemimpin di dalam pelayanan penyembahan. Ia diurapi menjadi kerub yang mengawal takhta Allah. Ia tidak bercela di dalam tingkah lakunya sejak penciptaannya. Ini ada padanya sampai didapati ada kecurangan kepadanya. Keadaan dari Lucifer dapat dilihat dari Firman Tuhan yang menggambarkan mengenai raja Babel, seperti yang tertulis dalam Yesaya 14:12-14, dan raja Tirus seperti tertulis dalam Yehezkiel 28:1-19.

Esensi yang ada pada Lucifer yaitu keterpusatan-diri, yang menyatakan dalam tritunggal dosa: kesombongan, ketamakan (hawa nafsu) dan kehendak-diri.

a. Kesombongan. Lucifer menjadi sombong (Yehezkiel 28:5), dan berkata ia adalah Allah (ayat 2), dan menempatkan diri sama dengan Allah (ayat 6). “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18).

b. Ketamakan atau hawa nafsu. Lucifer menyatakan keinginan yang tamak waktu ia berkata: “Aku hendak naik mengatasi awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi” (Yesaya 14:14). Ia menginginkan posisi Allah dan penyembahan yang hanya menjadi hak Allah. Ia bangkit melawan Firman, Allah yang benar.

c. Kehendak diri. Nabi Yesaya dalam membicarakan kejatuhan Lucifer, mendaftarkan lima ungkapan kehendak-diri (Yesaya 14:13,14).
(1) Menaikkan diri. “Aku hendak naik ke langit.”
(2) Pengangkatan diri. “Aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah.”
(3) Penobatan diri. “Aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara.”
(4) Kepercayaan diri. “Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan.”
(5) Pemujaan diri. “Aku hendak menyamai Yang Mahatinggi.”
Kehendak-diri menjadi dosa-benih dari semua dosa. Semua buah dosa ada di dalam bentuk benih itu.

Jadi iblis, mahluk roh dan malaikat, mahluk moral dan berkehendak bebas yang diciptakan, bangkit melawan Allah Pencipta, dengan kesombongan, ketamakan dan kehendak diri penuh pemberontakan. Tetapi iblis bukannya naik melainkan jatuh.
Iblis adalah pendusta pertama, yang bertanggungjawab atas masuknya dosa ke alam semesta. Ia memimpin pemberontakan malaikat, dan akhirnya adalah kejatuhan manusia melalui Adam.

2. Masuknya dosa ke dalam manusia.

Dalam Kejadian 3:1-6 kita mendapat laporan tentang godaan pada manusia dan masuknya dosa ke dalam ras manusia. Percobaan pada manusia terpusat di sekitar suatu pohon di Taman Eden, pohon pengetahuan baik dan jahat. Secara khusus meliputi kedengar-dengaran pada perintah Allah yang diberikan di Kejadian 2:17. Manusia boleh makan dari semua pohon, kecuali buah yang dilarang, buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Di sini manusia diperhadapkan pada pilihan, kepatuhan atau ketidakpatuhan pada kehendak Allah. Manusia juga mengetahui konsekuensi pilihannya yaitu kematian atau kehidupan. Sebagai mahluk yang berkehendak bebas, ia mempunyai kuasa untuk memilih.

Di dalam percobaan pada manusia, Allah mengijinkan Iblis, pendosa yang pertama itu, untuk mencobai manusia. Cobaan pada manusia meliputi:

a. Pencobaan yang menyangkut tubuh, jiwa dan roh. Waktu Allah mengijinkan Adam dan Hawa dicobai ular, mereka digoda dalam:

(1) Tubuh, yaitu keinginan daging. “Pohon itu baik untuk dimakan.”
(2) Jiwa, yaitu keinginan mata. “Pohon itu sedap kelihatannya.”
(3) Roh, yaitu kesombongan hidup. “Pohon itu menarik hati karena memberi pengertian “Kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Jadi manusia di dalam ketritunggalannya dicobai menurut ketiga hal yang disebutkan di 1 Yohanes 2:15-17. Jadi waktu manusia jatuh, manusia jatuh secara tubuh, jiwa dan roh, yaitu manusia berdosa dalam tubuh, jiwa dan roh. Ini menyebabkan kerusakan total.

b. Pencobaan dalam hal keinginan, kesombongan dan kehendak-diri.

(1) Pencobaan menyangkut keinginan. Allah telah memberikan kepada manusia lima instink mendasar yaitu:

a). Hukum pemeliharaan diri, yang memungkinkan manusia memelihara dirinya.
b). Hukum penambahan diri, yang memungkinkan manusia memperoleh kebutuhan hidup untuk mencukupi diri.
c). Hukum pemberian makan pada diri, yaitu instink mencari makan.
d). Hukum pembiakan diri, yaitu instink kelamin, yang dengannya manusia bertambah-tambah.
e). Hukum penonjolan diri, yang dengannya manusia dapat menaklukkan dan menguasai bumi.

Instink-instink ini merupakan kemampuan manusia dan bukan dosa. Tetapi Iblis menjadikannya keinginan yang tidak terkontrol sehingga manusia ditaklukkan oleh keinginan. Pencobaan merupakan eksploitasi atas kemampuan manusia dan penyelewengan atas instink yang diberikan oleh Allah. Ular membujuk perempuan itu untuk melanggar hukum Allah. Manusia mengikuti keinginannya, dan itulah dosa.

(2) Kesombongan. Pencobaan juga meliputi apa yang muncul dari keinginan yang tidak wajar, yaitu kesombongan. Pernyataan Iblis, “Kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat”, merupakan bujukan ego manusia. Ini adalah bujukan dari kesombongan. Pencobaan Iblis membujuk manusia agar jatuh dalam kesombongan, yaitu bahwa manusia akan menjadi seperti Allah, yang tahu tentang yang baik dan yang jahat.

(3) Kehendak-sendiri. Setelah manusia terbujuk oleh si ular, manusia tetap bebas untuk melakukan atau tidak melakukan apa yang ditawarkan Iblis. Tujuan Iblis memang adalah untuk menguasai kehendak-sendiri manusia itu. Ia mau supaya manusia mempraktekkan kehendak-sendiri, yang bertentangan dengan kehendak Allah. Manusia membuat keputusan untuk tidak menaati kehendak Allah. Manusia mempraktekkan kehendak bebasnya, mengikuti kehendak-sendiri, dan manusia jatuh dalam dosa. Dengan demikian dosa ada dalam kehendak-sendiri manusia.

c. Pencobaan dalam hubungan dengan hukum.

Pencobaan pada manusia menyangkut serangan pada hukum Allah. Larangan yang diberikan Allah pada manusia di Kejadian 2:17 merupakan hukum Allah. Iblis harus menyerang hukum Allah untuk dapat menaklukkan manusia. Urutan langkah Iblis dalam menaklukkan kepatuhan pada hukum:

(1) Ular mendatangkan keragu-raguan pada pikiran wanita itu mengenai Firman Allah dan hukum Allah. Ia menganggu dengan pertanyaan, “Tentu Allah berfirman,…bukan?” Ini adalah keraguan atas otoritas firman yang dikatakan Tuhan. Inilah awal ketidakpercayaan.

(2) Perempuan itu menambah Firman dengan mengatakan bahwa mereka tidak boleh menjamah pohon itu.

(3) Perempuan itu juga memalsukan Firman. Bila dibandingkan Kejadian 3:3 dengan 2:17, perempuan itu telah menambah “nanti”.

(4) Ular itu berdusta dengan mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati.”

(5) Ular itu memfitnah Firman dengan menyerang maksud Allah, dengan mengatakan bahwa Allah menyembunyikan dari mereka hak untuk menjadi seperti Allah, yang mengetahui yang baik dan yang jahat.

(6) Perempuan itu tertipu dan percaya omongan Iblis ganti Firman Allah, dan jatuh dari iman kepada ketidakpercayaan.

Manusia melanggar hukum Allah. “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (1 Yohanes 3:4). Dengan melanggar satu hukum Allah maka semua hukum dilanggar. “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10).
Dengan demikian pencobaan Iblis pada manusia adalah pencobaan pada tubuh, jiwa dan roh manusia, pencobaan dalam keinginan, kesombongan dan kehendak diri, dan pencobaan dalam hal pelanggaran hukum Allah.

3. Kejatuhan manusia dan akibatnya.

Dosa Adam adalah pilihan bebas, suatu tindakan bebas kehendak menentang hukum. “Ini adalah pengkhianatan pada Allah, pemberontakan terbuka pada kebenaran. Kejatuhan itu tidak saja mempengaruhi Adam, tetapi juga semua keturunannya yang belum lahir. Akibat-akibat dari kejatuhan adalah akibat segera dan akibat jangka panjang.

Dosa Adam adalah pilihan bebas, suatu tindakan bebas kehendak menentang hukum. “Ini adalah pengkhianatan pada Allah, pemberontakan terbuka pada kebenaran. Kejatuhan itu tidak saja mempengaruhi Adam, tetapi juga semua keturunannya yang belum lahir. Akibat-akibat dari kejatuhan adalah akibat segera dan akibat jangka panjang.

a. Akibat segera dari kejatuhan.

(1) Kesucian hilang (Kejadian 3:7; 2:25).

Mereka tahu bahwa mereka telanjang. Suatu perasaan malu datang pada Adam dan Hawa karena ketidak-patuhan mereka.

(2) Pengetahuan akan yang baik dan yang jahat.

Mereka mengetahui yang baik dan yang jahat, dan yang jahat masuk dalam pikiran mereka. Walaupun mengetahui yang baik dan yang jahat, tetapi mereka lebih dapat melakukan yang jahat.

(3) Hukum kata hati bekerja.

Pada saat manusia berdosa, hukum kata hati mulai bekerja. Kata hati menghasilkan yang salah.

(4) Hukum pekerjaan.

Kata hati yang tertuduh membawa mereka pada usaha, supaya mereka dapat menghadap Allah. Mereka menyemat daun ara untuk menutup badan mereka (Kejadian 3:7).

(5) Takut akan Allah.

Dosa dan kata hati yang merasa salah mendorong mereka untuk menyembunyikan diri dari hadirat Allah. Dosa mendatangkan ketakutan. Waktu Allah datang, mereka menyembunyikan diri mereka di antara pohon-pohon (Kejadian 3:8).

(6) Menyalahkan orang lain.

Waktu Tuhan datang dan memanggil mereka, Adam dan Hawa bersembunyi. Sebenarnya Allah menunggu pengakuan dosa mereka. Tetapi mereka masing-masing hanya menyalahkan seorang terhadap yang lain. Adam menyalahkan perempuan itu. “Perempuan… dialah yang memberi dari buah pohon itu, maka kumakan.” Perempuan itu menyalahkan ular. “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Mereka mau menyeimbangkan rasa salah mereka dengan menyalahkan orang lain (Kejadian 3:9-13).

(7) Sifat-sifat manusia menjadi rusak.

Waktu dosa memasuki manusia, menyebabkan kerusakan keseluruhan sifat dasar manusia: roh, jiwa dan tubuh.

a). Roh manusia. Roh manusia, yang adalah lampunya Tuhan (Amsal 20:27) terbuang ke dalam kegelapan dan kehilangan kontaknya dengan Allah.
b) Jiwa manusia. Jiwa dengan kemampuannya yaitu pikiran, kehendak dan perasaan, dipengaruhi. Pikiran menjadi terpusat pada diri, perasaan menjadi tak terkendali dan kehendak dibengkokkan dari kehendak Allah.
c) Tubuh manusia. Tubuh manusia dengan alat-alat inderanya menjadi tunduk pada instink-instink yang salah, penyakit dan kematian.

b. Akibat jangka panjang dari kejatuhan.

(1) Dosa melanda semua manusia. Roma 5:12 menerangkan secara jelas bahwa oleh seorang manusia, dosa memasuki dunia dan semua telah berdosa di dalam Adam. Waktu Adam berdosa, semua manusia berdosa, walaupun mereka masih “di pinggang Adam”. Semua manusia menjadi orang berdosa di dalam Adam, karena Adam adalah sebagai kepala perwakilan seluruh ras manusia (Roma 5:19). Semua keturunan Adam dilahirkan di dalam dosa. Semua dilahirkan dengan sifat dasar yang berdosa dan telah rusak. Itu sebabnya semua perlu dilahirkan kembali.

(2) Kematian melanda semua manusia. Sebagaimana dosa memasuki dunia melalui seorang manusia, demikian pula hukuman dosa yaitu maut. (Kejadian 2:17; Roma 5:12-21; 6:23). Semua manusia telah berdosa dan semua mati “di dalam Adam”, bapa dan wakil ras manusia (1 Korintus 15:21-23; 45-50).

c. Pehukuman Ilahi diumumkan dan dilaksanakan.

(1) Pehukuman atas ular. Ular dihukum dengan kutuk yang tak dapat diperbaiki. Namun di tengah penyampaian keputusan pehukuman, janji kelepasan Mesianik diberikan. Benih perempuan itu akan meremukkan kepala ular itu nanti pada waktunya (Kejadian 3:14,15; Lukas 10:18; Roma 16:20; Wahyu 20:3,10).

(2) Pehukuman atas perempuan. Kesusahan dan kesakitan waktu melahirkan anak, berada di bawah kekuasaan suami, merupakan hukuman yang diberikan kepada perempuan (Kejadian 3:16).

(3) Pehukuman atas laki-laki. Pehukuman yang diberikan kepada manusia ( laki-laki ) adalah bahwa ia harus berpeluh di dalam bekerja untuk mendapat nafkahnya dan kemudian kematian akan menyusul (Kejadian 3:17-19).

(4) Pehukuman atas bumi. Bumi dikutuki dengan semak duri. Bumi bukanlah Eden tetapi menjadi kutuk (Kejadian 3:17,18). Pengaruhnya yaitu hewan menjadi liar, bermusuhan dan memberontak pada kekuasaan manusia.

(5) Pehukuman atas dosa oleh kematian. Roma 6:23 mengatakan, “Upah dosa adalah maut.” Allah berkata kepada Adam, “Pada hari engkau berdosa, engkau pasti akan mati.” Hukuman kematian menyangkut tiga bidang pada manusia:
a) Kematian fisik – perpisahan roh dari tubuh. (Kejadian 2:17).
b) Kematian roh – perpisahan roh dari Allah. Ini berbicara tentang manusia yang mati di dalam pelanggaran dan dosa, yang terkeluar dari persekutuan dengan Allah (Yohanes 5:24; Roma 8:6; Efesus 2:1; Roma 5:12-21).
c) Kematian yang kekal – pemisahan roh dan jiwa dari Allah di kekekalan di laut Api. Ini adalah perpisahan yang kekal dari Allah karena dosa (Matius 5:41; 2 Tesalonika 1:9; Wahyu 20:11-15).

(6) Pehukuman dengan pengusiran dari Eden. Laporan dari Kejadian bahwa Allah menyediakan penutup tubuh manusia dengan adanya kulit dari korban hewan, dan kemudian mengusir manusia keluar dari Eden. Allah menempatkan kerub dengan pedang bernyala-nyala yang menutup semua jalan ke Eden, sehingga menahan manusia dari pohon kehidupan. Pada waktunya nanti Kristus datang dan menangani dosa, dan membuka jalan ke Eden kembali dan memulihkan pohon kehidupan untuk manusia (Wahyu 22:14). “Berbahagialah orang yang menurut perkataan-perkataan nubuat kitab ini. Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.” (Wahyu 22:7,14). Adam kehilangan pohon kehidupan karena ketidak-dengar-dengaran pada perintah. Tetapi ini dipulihkan karena kepatuhan-Nya pada perintah Allah.

[END] @2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).

Author :

Related Post

Comment(1)

  1. Reply
    ray ban glasses says

    Thanks a lot for sharing!

Post a comment