Comments are off for this post

Doktrin Tentang Gereja – Ekklesiologi

Gereja – Ekklesiologi

dilihat: 1923 kali

I. Definisi

Gereja Gereja Tuhan adalah persekutuan orang-orang percaya yang telah lahir baru, bertobat dari segala dosa-dosanya, tidak terbatas pada satu denominasi tetapi seluruh orang percaya diseluruh dunia yang mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kelahiran baru tersebut adalah hasil pekerjaan Roh Kudus dan Firman Allah. Yohanes 3:3-5, 1 Petrus 1:23, 1 Petrus 2:9.

Dalam Perjanjian Baru ada satu istilah dalam bahasa Yunani yang berarti “Ekklesia”. Kata tersebut berarti sekelompok orang-orang yang terpanggil keluar. Tuhan memanggil orang-orang percaya untuk memberitakan kesaksian besar yaitu keselamatan didalam Tuhan Yesus Kristus (1 Petrus 2:9). Hal itu digambarkan seperti keluar dari dalam kegelapan masuk kedalam terangNya yang ajaib. Orang percaya yang tergabung dalam gereja Tuhan tidak mampu datang kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat kalau bukan karena panggilanNya. (Roma 1:6-7, 1 Korintus 1,2, Matius 16:18, Yohanes 15:18).

Gereja Tuhan adalah orang-orang yang terpanggil keluar dari dunia masuk kedalam Tubuh Kristus dengan maksud khusus untuk melayani Dia yang adalah Kepala Gereja. Orang-orang percaya terpanggil untuk mengeluarkan buah-buah rohani yaitu memberitakan keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus oleh kematianNya. (Yohanes 3:16).

Gereja Tuhan terdiri dari semua orang percaya dari berbagai denominasi yang lahir baru oleh Roh Kudus dan Firman Allah. Tidak boleh satu organisasi boleh menyatakan bahwa merekalah gereja Tuhan yang sejati. Tuhan Yesus berkata dalam doaNya, supaya semua orang percaya menjadi satu sebagaimana Yesus dan Bapa dan Roh Kudus satu adanya. (Yohanes 17:21). Jelaslah, untuk menjadi satu sebagai gereja Tuhan bahwa semua orang percaya harus mengalami “Kelahiran Baru” (Yohanes 3:3-5). Semua orang percaya yang mengalami kelahiran baru adalah anggota Tubuh Kristus yaitu Gereja Tuhan tanpa melihat dari organisasi mana dia menjadi anggota. (2 Korintus 5:17).

II. Dasar Gereja

Tuhan Yesus Kristus adalah dasar dari Gereja Tuhan. Tidak ada seorangpun yang akan diangkat melalui ajaran sebagai dasar Gereja. Hanya Yesuslah yang menjadi dasar Gereja dan ajaran tentang Dia oleh para Rasul.

Dalam Matius 16:18. Petrus yang juga berarti Kefas yang berarti “Batu”,Yesus berkata bahwa diatas batu ini, tidak menunjuk kepada Petrus tetapi pokok adalah batu yang menjadi dasar Gereja yang akan didirikan oleh Yesus Kristus. Kata Batu adalah menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus sendiri (1 Korintus 10:4, 1 Petrus 2:6-7). 1 Korintus 3:11. Kalau ada ajaran lain yang menaruh satu nama tertentu sebagai dasar Gereja maka ajaran itu telah menyimpang dari Firman Allah. Dasar Gereja yang hanyalah Tuhan Yesus Kristus, didasarkan melalui:

1. Darah Kristus.

Sebagaimana pada zaman Taurat yang merupakan bayang-bayang tentang kebenaran yang akan datang bahwa pengampunan dosa Israel melalui korban sembelihan dimana darah binatang tersebut dipakai sebagai “Grafirat” atas dosa bangsa Israel. Israel diampuni oleh pekerjaan Imamat oleh darah domba tersebut (Imamat 16:15-16, Ibrani 9:7).

Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah telah datang dan menggenapkan semua korban bayang-bayang dalam zaman Taurat tersebut. Dia telah disembelih dan darahNya telah tertumpah sebagai korban penebusan dan jalan pendamaian manusia dengan Allah. Darah Yesus inilah yang menjadikan manusia berkenan kembali dihadirat Allah. Darah Yesuslah yang telah membayar tunai kehidupan yang berdosa menjadi berkenan dan menjadikan orang percaya milik Allah. Darah Yesus telah menyucikan orang percaya sehingga dapat beribadah kepada Allah (Ibrani 9:13-14).

Efesus 2:13-14. Darah Kristus telah menjadi dasar utama memperdamaikan manusia dengan Allah. Allah Bapa hanya membenarkan manusia yang dapat dibasuh oleh darah Kristus. Darah Kristus menjadikan manusia berkenan dan dapat beribadah kepada Allah.

2. Ajaran Yesus Kristus.

Demikian juga gereja Tuhan dibangun diatas dasar ajaran Yesus Kristus. Semua orang percaya harus memahami mengapa dia diselamatkan dan arti kasih karunia Allah yang sangat dalam maknanya. Keempat injil dalam Perjanjian Baru berisi ajaran langsung dari Tuhan Yesus Kristus dan semua ajaran itu menjadi dasar yang teguh bagi gereja Tuhan.

Dalam 1 Korintus 3:10-11 Bahwa tidak ada dasar lain selain Yesus Kristus, berarti kita harus memperhatikan pelajaran yang murni dari Tuhan Yesus Kristus, sebab dengan ajaran yang murni tersebut gereja memiliki alasan atau dasar yang kokoh untuk membangun seterusnya diatas dasar itu.

Dalam Yohanes 16:12-16 Bahwa Yesus adalah kebenaran dan satu-satunya sumber ajaran Gereja Tuhan. Roh Kudus akan datang menuntun kita orang percaya untuk memahami dengan jelas ajaran Yesus Kristus. Roh Kudus akan menyampaikan kepada GerejaNya tentang apa yang Dia dengar dari Yesus.

3. Ajaran Para Rasul.

Selain ajaran langsung Yesus Kristus yang menjadi dasar yang teguh Gereja Tuhan, maka Gereja Tuhan dibangun diatas pengajaran para Rasul (Kisah 2:42).

Pengajaran Rasul-Rasul tidak terpisah dengan ajaran Yesus Kristus. Melalui para rasul Roh Kudus mengiluminasi ajaran Yesus Kristus dalam empat Injil. Melalui para rasul maka seluruh kehendak Yesus Kristus dalam ajaranNya dibukakan. Karena ajaran Yesus Kristus menjadi satu-satunya sumber kebenaran Gereja Tuhan. Karena itu, tidak benar kalau ada yang mengajarkan bahwa selain ajaran Yesus sebagai sumber yang menjadi dasar bagi Gereja adalagi ajaran lain. Para rasul tidak mempunyai ajaran yang terpisah, tetapi semua bersumber dari ajaran Yesus Kristus sebagai pusat ajaran Alkitab.

Para rasul dipakai oleh Roh Kudus untuk lebih menjelaskan tentang ajaran Yesus Kristus sebagai dasar Gereja. Tidak ada dasar lain selain yang diletakkan oleh Yesus Kristus. Gereja Tuhan dapat membangun ajaran, namun semua ajaran Roh Kudus bersumber dari satu “Kebenaran” yaitu Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah

III. Kelahiran Gereja.

Gereja Tuhan dilahirkan pada hari Petakosta, yaitu hari “Pencurahan Roh Kudus” dalam Kisah 2:4, bahwa ketika murid Tuhan berkumpul di atas kamar loteng Yerusalem maka “penuhlah” oleh Roh Kudus yang dijanjikan sejak Perjanjian Lama (Yoel 2:28-32). Gereja Tuhan dikatakan sebagai Tubuh Kristus dimana Yesus Kristus adalah Kepala Gereja atau Kepala atas Tubuh itu (Efesus 1:22-23).

Gereja Tuhan sebagai Tubuh Kristus dihidupkan dan mengalami persekutuan dengan Kepala (Yesus Kristus) oleh pekerjaan Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus maka Gereja Tuhan bukanlah Tubuh Kristus, tetapi hanya merupakan lembaga sosial masyarakat biasa saja. Roh Kuduslah yang menghidupkan Gereja Tuhan sehingga ada komunikasi dan persekutuan dengan Kepala sebagai satu organisme.

Ada pengajaran yang mengajarkan bahwa Gereja Tuhan telah lahir dalam Perjanjian Lama, ataupun sebelum kematian Yesus Kristus. Kita harus menolak bila ada ajaran yang demikian. Karena kelompok orang percaya, misalnya bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, atau para murid Tuhan sebelum kematian Yesus hanya merupakan “bayangan” Gereja Tuhan yang akan datang (1 Korintus 10:1-4). Yesus pernah berkata, bahwa diatas batu itu Dia akan membangun Gereja Tuhan (Matius 16:18), berarti Gereja belum lahir sebelum Yesus mati dan datangnya hari pencurahan Roh Kudus.

Karena itu sesuai ajaran Darah Yesus sebagai dasar kebenaran maka Gereja harus lahir setelah kematian Yesus Kristus. Kematian Yesus Kristus menjadi dasar lahirnya Gereja Tuhan. Dasar itu harus ada terlebih dahulu sebelum Gereja dilahirkan untuk berdiri diatas dasar itu. Hari Pentakosta adalah hari kelahiran Gereja, karena Roh Kuduslah yang memberi kehidupan kepada orang percaya sebagai Tubuh Kristus. Roh Kudus yang memberi kemampuan untuk melaksanakan amanat kepala. Roh Kudus yang memberi kehidupan kepada Gereja dan menjadi organisme Tubuh kristus. Roh Kuduslah yang mempersatukan semua orang percaya dimuka bumi sebagai Gereja Tuhan atau Tubuh Kristus yang tidak kelihatan. Jadi, pada hari ketuangan Roh Kudus dalam Kisah 2:4, merupakan hari kelahiran Gereja Tuhan.

IV. Dimensi Gereja

Gereja bukan berarti gedung atau bangunan phisik ataupun berarti organisasi Gereja. Kata Ekklesia tidak mempunyai pengertian gedung ataupun organisasi, tetapi semuanya menunjuk pengertian kelompok atau perkumpulan orang-orang percaya. Ada tiga dimensi dari Gereja Tuhan, yaitu:

1. Gereja Universal.

Gereja yang universal yaitu persekutuan orang-orang percaya diseluruh muka bumi yang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan telah mengalami kelahiran baru oleh Firman dan Roh Kudus. Kelahiran baru harus mendapat penekanan yang khusus, sebab tidak semua orang percaya telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Banyak orang beragama bukan Kristen tetapi mereka percaya bahwa Yesus adalah Nabi dan Tuhan. Karena itu menjadi pengikut Kristus bukan hanya dibuktikan dengan percaya tetapi telah dilahirkan baru oleh Firman dan Roh Kudus. (1 Korintus 12:13, Efesus 2:20).

Dengan demikian kita dapat memberi arti selengkapnya tentang Gereja sebagai berikut; bahwa Gereja Tuhan yaitu sekelompok orang yang telah dipanggil keluar dari milik dunia menjadi milik Yesus Kristus, untuk melaksanakan tugas Ilahi yaitu memberitakan keajaiban keselamatan penebusan Darah Yesus Kristus serta membangun diri untuk beribadah kepadaNya. (1 Petrus 2:9, Efesus 4:15-16).

Dengan definisi tersebut bahwa Gereja Tuhan adalah persekutuan orang-orang percaya diseluruh muka bumi maka itu berarti tidak boleh adanya organisasi Gereja tertentu yang bisa menyatakan bahwa anggota-anggotanya adalah Gereja yang benar. Semua orang percaya dalam semua organisasi Gereja adalah anggota Gereja Tuhan yang universal yaitu Tubuh Kristus asalkan memenuhi syarat bahwa dia percaya dan lahir baru oleh Firman dan Roh Kudus. Gereja universal yaitu persekutuan orang-orang percaya diseluruh muka bumi yang tidak kelihatan inilah yang dikatakan Tubuh Kristus. (Efesus 1:22-23).

2. Gereja Lokal.

Gereja Lokal adalah persekutuan orang-orang percaya yang lahir baru oleh Firman dan Roh Kudus di suatu tempat. Menunjuk kepada orang-orang percaya yang berkumpul pada tempat atau kota tertentu. Didalam Alkitab disebutkan tentang kumpulan orang-orang percaya atau Gereja setempat. Gereja di Yerusalem (Kisah 8:1, Kisah 11:22). Gereja di Korintus (1 Korintus 1:2, 2 Korintus 1:1), Gereja di Efesus (Kisah 20:17), dan seterusnya.

Apabila Gereja universal atau Tubuh Kristus adalah Gereja yang tidak kelihatan (Tubuh Kristus), maka Gereja lokal merupakan perwujudan yang kelihatan dari Gereja yang universal. Karena itu, Gereja yang universal menjadi jelas dalam Gereja lokal. Karena Gereja lokal merupakan kelompok orang-orang percaya yang kelihatan dan dapat disaksikan di setiap tempat. Karena dengan jelas Rasul Paulus mengalamatkan suratnya, kepada jemaat atau orang-orang percaya di Kolose, orang-orang percaya di Tesalonika, orang-orang percaya di Efesus, dan seterusnya. Namun kita juga harus mengetahui kesemuanya bahwa arti kata Ekklesia tidak menunjuk arti phisik atau organisasi, semua mengandung arti persekutuan orang percaya yang dikerjakan oleh Roh Kudus yaitu “organisme” Tubuh Kristus.

Kadang-kadang istilah Gereja lokal ini ditulis dalam bentuk “jamak” misalnya, jemaat-jemaat di Galatia, jemaat-jemaat di Asia (Wahyu 1:4), mungkin hal tersebut dapat dipakai dasar untuk membela bahwa disuatu tempat dapat terjadi beberapa jemaat lokal. Hal tersebut merupakan bukti pembenaran masa kini bahwa kelompok-kelompok orang percaya dibawah naungan organisasi yang berbeda boleh berdiri di satu tempat. Kesemuanya, dapat bertemu dalam definisi Gereja universal yaitu Tubuh Kristus, yaitu bahwa Gereja tuhan adalah persekutuan orang-orang percaya yang telah lahir baru oleh Firman dan Roh Kudus tanpa melihat dari denominasi atau organisasi manapun orang percaya tersebut menjadi anggotanya.

3. Setiap Orang Percaya Adalah Gereja Tuhan.

Keabsahan keanggotaan Gereja Tuhan adalah hasil pekerjaan Roh Kudus dan Firman Allah. Karena mendengar Firman Allah dan oleh peranan Roh Kudus maka seseorang dapat percaya, bertobat dan lahir baru. 1 Korintus 3:16, 1 Korintus 6:16.

Gereja yang universal yang tidak kelihatan dimanifestasikan melalui Gereja lokal yang kelihatan dan Gereja lokal adalah persekutuan dari setiap orang percaya yang telah lahir baru yang menjadikan dirinya rumah kediaman Roh Kudus. Kediaman Roh Kudus didalam GerejaNya didalam setiap orang percaya yang menjadikan dirinya rumah Roh Kudus. Roh Kudus yang menjadikan Gereja sebagai tubuhNya, ternyata berdiam dalam diri setiap orang percaya. Sehingga, setiap orang percaya berstatus sebagai Bait Allah.

Gereja Universal yang tidak kelihatan itu terdiri dari setiap orang percaya, tiap individu orang percaya yang berkumpul menjadi tampak dalam Gereja lokal. Karena itu, setiap orang percaya dapat juga dikatakan sebagai Gereja Tuhan. Sebab dipersekutukan dengan orang percaya lainnya oleh Roh Kudus dalam tubuh Kristus. (1 Korintus 12:12-13).

V. Atribut Gereja

Sebagaimana Allah Trinitas kita memiliki “Atribut” atau sifat yang menjadi ciri khas bahwa Allah kita, Allah yang omniscience, Omnipotence, Omnipresence, Maha Kasih, Maha Kudus. Demikian juga Gereja Tuhan memiliki sifat yang menjadi ciri khas. Namun, untuk mengetahui atribut yang ada pada Gereja Tuhan kita harus mengerti dahulu tentang makna yang terkandung dalam definisi Gereja. Beberapa makna yang terkandung dalam definisi Gereja yaitu:

1. Seluruh orang percaya di seluruh muka bumi yang mengalami pengalaman lahir baru. Yaitu, orang percaya yang terdiri dari pelbagai organisasi Gereja dimanapun di atas muka bumi ini pada waktu yang sama memiliki kriteria diatas. (1 Korintus 10:32, Galatia 1:13).

2. Seluruh orang percaya yang telah mengalami kelahiran baru sepanjang zaman para rasul sampai zaman masa kini. Walaupun sebagian besar dari mereka telah mati tetapi merupakan satu kesatuan yang oleh Roh Kudus dipersatukan sepanjang masa. Mereka akan kelihatan jelas sebagai satu persekutuan besar pada waktu Yesus Kristus datang kedua kali sebagai mempelai Kristus (1 Tesalonika 4:16-17).

3. Kelompok orang percaya dalam Gereja lokal, dalam Perjanjian Baru begitu banyak disebutkan tentang kelompok orang percaya dalam arti Gereja lokal. Misalnya: Jemaat di Kolose, Jemaat Filipi, Tesalonika dan seterusnya.

4. Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa tidak semua orang percaya yang menjadi anggota Gereja termasuk anggota Tubuh Kristus atau dalam arti Gereja yang sejati. Karena, banyak orang-orang percaya yang menjadi anggota organisasi tetapi tidak terhisab Gereja sejati. Yaitu mereka yang percaya tapi tidak bertobat dan mengalami kelahiran baru. Memang dalam Gereja Tuhan masa kini ada juga lalang yang hidup didalamnya, hari Penuaian yang akan memisahkan lalang dan gandum (Matius 7:21-23, Matius 13:24-30).

Dari makna definisi diatas maka ada empat atribut yang menjadi sifat atau ciri khas dari Gereja Tuhan, yaitu:

1. Gereja itu esa.

Sifat menjadi ciri khas Gereja mengikuti sifat dari KeAllahan kita yang trinitas, ketigaNya masing-masing sebagi Oknum tetapi esa adanya. Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, Mereka selalu berada dalam kesatuan yang esa dan tidak pernah terpisah. (Efesus 4:1-6).

Hanya harus dimengerti bahwa ke-esaan bukan berarti sama, Bapa dan Anak dan roh Kudus adalah Oknum yang berbeda tetapi esa adanya. Hal tersebut, berlaku pula kepada GerejaNya, ke-esaan tidak perlu untuk harus seragam, kesamaan warna, kesamaan liturgi atau kesamaan perwujudan dari pernyataan khusus Allah. Bisa terjadi keaneka ragaman bentuk ibadah. Bentuk ibadah di Korintus sangat berbeda dengan bentuk ibadah di Yerusalem demikian juga untuk ibadah di kota-kota lain dengan latar belakang budaya yang berbeda.

Demikian pula keaneka ragaman bentuk ibadah tergantung dengan liturgi yang selaras dengan organisasi masing-masing. Namun, Roh Kudus dari orang-orang percaya yang lahir baru menjadi satu kenyataan atau dinamika dan menjadikan Gereja Tuhan itu esa. itulah sebabnya, Alkitab mengajarkan supaya Gereja Tuhan tetap dalam satu kesatuan. Ke-esaan Allah berwujud dalam keaneka ragaman Gereja. Karena kekuatan didalam keaneka ragaman Gereja adalah kehidupan dari kekuatan Allah yang oleh Roh Kudus dan esa adanya. Yesus berdoa supaya keesaan Gereja ini tetap ada dan disadari setiap saat. Keesan inilah yang akan berwujud dan tampil sebagai satu manifestasi yang jelas sekali pada waktu kedatangan Yesus kedua kali. Segala keaneka ragaman organisasi tidak akan tampak sama sekali bahkan tidak terbayang sedikitpun. (Yohanes 17:21-23).

 Efesus 4:13-16, bahwa Gereja akan mencapai atributnya yaitu satu kesatuan iman, kedewasaan penuh yaitu kepenuhan Kristus dan kenyataan Gereja adalah esa dibawah satu otoritas Yesus Kristus sebagai Kepala dan orang percaya sebagai satu tubuh Kristus. Semua anggota akan merasa bagian dari anggota yang lain dan masing-masig anggota akan bertumbuh menyempurnakan pertumbuhannya dalam keesaan itu. Baca: 1 Korintus 12:4-6, Kolose 2:9-10.

2. Gereja itu Kudus.

Salah satu atribut Gereja bahwa Gereja Tuhan harus kudus, karena Allah itu kudus adanya. (1 Petrus 1:15-16). Persatuan dengan Kristus sebagai Kepala Gereja menyangkut kehidupan yang kudus secara nyata. Hubugan Gereja dengan Kristus sebagai Kepala Gereja harus terbukti dari kualitas moral sebagai bukti kualitas hidup sehari-hari. Didalam kitab Wahyu, Firman Allah kepada ketujuh sidang di Asia Kecil, sangat menekankan kehidupan yang kudus. (Wahyu 2 – 3). Tentu saja belum ada Gereja Tuhan yang telah mencapai kualitas “kekudusan” yang sempurna. Pengertian Gereja harus kudus itu juga mengandung arti bahwa Gereja Tuhan senantiasa bergerak dalam dinamika pertumbuhan rohani kearah Kristus yang adalah Kepala. (Kolose 3:10).

Atribut Allah yang adalah kudus, bahwa Gereja Tuhan terus bergerak dalam pertumbuhan kearah Kepala, sehingga Gereja Tuhan mencapai pertumbuhan “Dewasa” penuh yaitu mengalami “Kepenuhan” Kristus merupakan kriteria kekudusan sempurna. Gereja harus bertumbuh terus kedalam kekudusan Allah. (1 Petrus 2:9, Efesus 4:12-13).

3. Gereja Am.

Kata “Am” menyangkut keseluruhan secara kebersamaan bersifat Am. Gereja Tuhan terbuka kepada siapa saja sehingga barangsiapa percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka dia masuk kedalam Gereja Am yaitu bagian dari keseluruhan. Kita menjadi anggota keluarga Allah dalam status yang sama dan tidak berbeda. (Efesus 2:18-19).

Gereja masuk kedalam dunia dan terbuka untuk semua orang bagi yang percaya kepada Yesus Kristus dan beriman kepadaNya (Matius 28:19). Hanya satu syarat untuk menjadi anggota Gereja yaitu; menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dan menerima Baptisan sebagai bukti pengungkapan bahwa saya menerima Dia dalam satu upacara Gerejani. (Matius 28:19, Kisah 2:38-41).

Gereja Am yaitu, satu persekutuan kebersamaan tanpa memandang diskriminasi intelek, kekayaan, pangkat dan perbedaan ras. Menjadi anggota Gereja itu berarti kita menjadi “Am” terbuka dan tidak ekslusivisme untuk kelompok tertentu. Waspada, supaya kita tidak menjadi Gereja yang memagari diri untuk kelompok ekslusif tertentu. Gereja harus Am menjadi milik semua bangsa tanpa diskriminatif. (Roma 10:12, Galatia 3:28).

4. Gereja Apostolat.

Gereja “Apostolat” artinya Gereja rasuli yaitu yang bersaksi dan tidak berhenti melaksanakan Misi Kristus untuk memberitakan Injil Keselamatan. Sebelum Yesus naik ke Surga maka Ia tinggalkan “Amanat Agung” yang harus bergaung terus bagi GerejaNya. (Matius 28:19-20).

Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah mengemban misi utama Kepala yaitu, mengaktualisasi kematian Kristus bagi penebusan dosa isi dunia. Gereja harus mewartakan keselamatan terus menerus. (Kisah 1:8). Karena itu pelipat gandaan anggota jemaat merupakan kriteria keberadaan setiap Gereja sebagai Gereja Misi atau Rasuli.

VI. Lukisan – Lukisan Gereja Tuhan

Ada beberapa aspek rohani sebagai penekanan khusus hubungan Greeja Tuhan dan Kristus Yesus. Kesemua aspek tersebut mempunyai makna rohani tertentu. Lukisan-lukisan dalam Alkitab tentang Gereja Tuhan sebagai berikut:

1. Tubuh Kristus.

Gereja Tuhan dilukiskan sebagai Tubuh Kristus dan Yesus sebagai Kepala atas Tubuh itu. Ini menggambarkan satu kesatuan dan saling melayani antara Kepala dan Tubuh (Efesus 1:22-23). Setiap orang percaya sebagai anggota dari Tubuh itu harus memiliki sikap saling memiliki satu dengan yang lain. Saling mengakui tugas dan fungsi yang berbeda sesuai dengan tempat masing-masing anggota dalam tubuh itu. (1 Korintus 12:12-13).

Untuk melayani bersama-sama sebagai satu tubuh, maka yang pertama harus kita menyadari dan mengakui bahwa kita semua merupakan anggota satu dengan yang lain (1 Korintus 10:17). Kita mempedulikan bahwa kita mungkin datang dari organisasi Gereja yang berbeda, hal tersebut tidak dapat memisahkan anggota yang satu dengan yang lain. Apabila makna satu kesatuan dan saling memperlengkapi dalam pelayanan ini dipahami dan dilakukan maka Gereja sebagai satu tubuh semakin kelihatan jelas dalam pelayanannya (Yohanes 13:34-35, 1 Tesalonika 3:12).

Gereja Tuhan harus saling melayani dan menerima menjadi satu kesatuan untuk dapat melihat sasaran pelayanan yaitu mengemban misi utama amanat agung Tuhan Yesus untuk memenangkan dunia bagi Dia, dan bertumbuh terus dalam pertumbuhan rohani menuju Gereja yang sempurna. (Matius 28:19-20, Efesus 4:11-13).

2. Bait Allah.

Di dalam bait Allah di kota Yerusalem ketika Raja Solaiman menahbiskan bangunan itu maka turunlah kemuliaan Allah memenuhi Rumah Tuhan tersebut. Sejak itu, maka bait Allah di Yerusalem menjadi tempat kediaman Allah. Imam besar setiap tahun masuk ke ruangan Maha Kudus untuk menggrafiratkan pengampunan dosa Israel melalui darah domba binatang yang menjadi bayangan dari darah Yesus Kristus (Imamat 16:15-16).

Adalah kerinduan Yesus Kristus supaya setiap orang percaya dapat memberi tempat dalam dirinya untuk menjadi rumah kediaman Roh Kudus. Roh Kudus bertempat tinggal di hati manusia dan menjadikan diri orang percaya Bait Allah tempat kediamanNya. Supaya Dia dapat menyertai kita sampai selama-lamanya. Kaabah Yerusalem telah diruntuhkan tetapi Tuhan oleh Roh Kudus telah mendapat tempat kediaman yang lebih indah dimana setiap orang percaya merupakan bait Allah tempat kediamanNya.
Gereja Tuhan dilukiskan sebagai Bait Allah supaya Tuhan bertinggal untuk selamanya dan memerintah sebagai Raja dari dalam hati kita orang percaya (1 Korintus 3:16, 1 Korintus 6:19, 2 Korintus 1:22, Galatia 5:25).

3. Gereja Sebagai Umat Allah.

Dalam Perjanjian Lama dikatakan bangsa Israel sebagai umat Allah. Allah sendiri telah memilih bangsa ini dan kepada mereka dijanjikan janji-janji Illahi (Roma 9:4, Keluaran 7:7, Imamat 26:12).

 Tuhan Yesus telah mati diatas kayu salib sebagai korban penebusan dosa dan kita sebagai orang percaya telah ditebusnya sehingga hidup kita bukan milik kita lagi tetapi milik Dia yang telah mati untuk kita. Gereja Tuhan adalah umat tebusan darahNya, dimana harganya telah lunas dibayar sehingga kita yang bukan umat oleh penebusanNya telah menjadi umatnya yaitu milikNya sendiri (1 Korintus 6:19-20, 1 Petrus 2:9, Matius 26:23).

Sebagaimana lahirnya bangsa Israel sebagai umat Allah dalam Perjanjian Lama melalui panggilanNya (Kejadian 12:1-2, Keluaran 3:1-2, Hosea 11:1-2). Demikianlah panggilan Kristus kepada Gereja Tuhan melalui penebusan darahNya maka dipanggil sebagai umat Allah (Matius 11:28-29, Yohanes 7:37-38). Gereja Tuhan sebagai umat Allah mempunyai makna supaya Gereja menyadari bahwa kita adalah satu umat milik Allah sendiri. Sehingga sebagaimana janji Allah berlaku kepada Israel sebagai umatNya dalam Perjanjian Lama demikianlah sebagai umat kepunyaanNya sendiri kita memiliki juga janji-janji Illahi yang sama (1 Petrus 2:9, Roma 8:14-16).

4. Gereja Sebagai Mempelai Perempuan Kristus.

Didalam Perjanjian Lama bangsa Israel disebut sebagai mempelai Allah karena Allah mengasihi bangsa ini (Yesaya 54:5-8, Yeremia 2:2). Demikian juga bahwa lukisan yang sama dipakai Yesus untuk Gereja Tuhan. Hubungan Kristus dengan GerejaNya dilukiskan sebagai mempelai lelaki dan mempelai perempuan mempunyai makna tentang “Kasih Allah” yang sempurna kepada GerejaNya. Penebusan dosa isi dunia dilandaskan oleh kasih Allah yang melimpah dan dimanifestasi dalam kasih karuniaNya (Yohanes 3:16).
Karena kasih Allah lah, sehingga walaupun Yesus harus berkeringat darah yang menunjukkan betapa menderita Dia sebagai manusia untuk mati di kayu salib, namun karena kasihNya yang sempurna sehingga Dia boleh berkata “Biarlah kehendakMu jadilah Bapa”. Manusia tidak ditebus oleh perak atau emas (suatu harga yang dapat dibayar), tetapi dengan harga yang sangat mahal yaitu darah Kristus yang tidak bercela (1 Petrus 1:18-19).

Gereja sebagai “Mempelai Perempuan” mempunyai makna, supaya orang percaya juga dapat memberi kasih yang sejati yaitu yang sempurna kepada Kristus Juruselamat dunia. Gereja boleh melayani Dia dengan sepenuh kasih, karena semua kasih sayang Gereja kepadaNya dapat dirasakan Mempelai lelaki yaitu Kristus Yesus di sorga. Kita harus mengasihi Dia dengan sepenuh hati kita. Rasul Paulus berkata bahwa apakah yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Kristus. Tidak ada satu pengalaman situasi yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Kristus (Roma 8:35-39).

5. Gereja Sebagai Keluarga Allah.

Dalam Perjanjian Lama bangsa Israel telah disebut sebagai Anak Allah (Hosea 11:1, Keluaran 4:22). Bangsa Israel juga dikatakan sebagai anak sulung Allah. Allah sendiri telah mengangkat bangsa Israel sebagai keluarga Allah dan sudah tentu memiliki kemuliaan dan janji-janji Allah (Roma 9:4).

Didalam Perjanjian Baru, ketika seorang percaya dan lahir baru, maka telah dilahirkan kedalam keluarga Allah oleh Roh Kudus. Sebab, statusnya bukan lagi sebagai orang luar tetapi sebagai keluarga Allah. Setiap orang percaya yang lahir baru oleh Roh Kudus maka dia merupakan ciptaan yang baru atau mahluk baru yang lahir oleh Roh Kudus. Hakekatnya, seorang percaya yang telah dilahirkan oleh Roh Kudus pada saat itu berpindah dari generasi Adam yang pertama kedalam generasi Adam yang kedua (Yesus Kristus) (Efesus 2:18-19, 1 Korintus 15:47-49).

Sebagai keluarga Allah kita diangkat sebagai anak-anak Allah. Roh Kudus didalam hati orang percaya berseru kepada Allah Bapa, dan menyebutnya Bapa (Galatia 4:6). Roh Kuduslah yang mengangkat kita menjadi anak-anak Allah sehingga kita masuk menjadi keluarga Allah (Roma 8:14-16). Makna Gereja adalah keluarga Allah, mengingatkan kita bahwa kita berada ditempat yang mulia sebagai keluarga Allah sejati, sehingga segala kebutuhan kita tidak lagi bergantung kepada hal-hal lahiriah tetapi Allah Bapa di surga akan mempedulikan hidup kita setiap hari (1 Petrus 5:17).

6. Gereja Sebagai Kawanan Domba Allah.

Didalam Perjanjian Lama bahwa bangsa Israel merupakan kawanan domba Allah. Sesungguhnya, bahwa Allah sebagai Gembala langsung atas Israel dan segala masa depan bangsa ini ada dalam tangan Gembala itu (Yehezkiel 34:15). Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengatakan bahwa diriNya adalah Gembala atas domba-dombaNya. Yesus mengatakan bahwa diriNya menjadi Gembala atas Gereja Tuhan yaitu atas domba-domba yang telah ditebusNya dengan darahNya sendiri (Yohanes 10:1-30, Ibrani 9:13-14).

Walaupun Gereja-Gereja digembalakan oleh manusia atau gembala jemaat, tetapi Tuhan Yesuslah yang menjadi Gembala Agung atas seluruh orang percaya diseluruh muka bumi (1 Petrus 5:4, Ibrani 13:20). Lukisan ini menitikberatkan bahwa orang-orang percaya sebagai domba-domba Gembala Agung harus menitikberatkan ketergantungan dalam segala hal kebutuhan kehidupannya hanya kepada Dia sendiri sebagai Kepala atau Gembala atas domba-domba (Matius 11:28, 1 Petrus 5:7).

7. Gereja Sebagai Kebun Anggur Allah.

Dalam Perjanjian Lama, Israel adalah kebun anggur Allah tetapi yang mengeluarkan buah-buah masam yang tidak berkenan kepada Allah (Yesaya 5:1-7). Orang percaya sebagai kebun anggur Allah, tetapi Yesus Kristus adalah Pokok Anggur dalam kebun anggur Allah. Gereja tidak dapat berbuah-buah kalau tidak tetap dalam pokok anggur itu. Gereja harus melekat terus kepada pokok itu apabila ingin berbuah-buah lebat (Yohanes 15:4-8). Gereja sebagai kebun anggur menjadi pengharapan Gembala Agung supaya mengeluarkan buah-buah untuk Tuhan. Buah itu berbicara bahwa Gereja harus menjadi garam bagi dunia, Gereja Tuhan berada dimuka bumi bukan untuk diri sendiri, tetapi ada maksud Allah supaya dapat mengeluarkan buah-buah rohani supaya dunia bisa mengakui kebesaran kemuliaan Yesus Kristus Juruselamat dunia. Yesus Kristus pernah berkata bahwa makananKu yaitu melakukan kehendak Dia. Yesus Kristus sebagai Gembala senantiasa merindukan supaya Gereja Tuhan tetap mengeluarkan buah-buah rohani untuk menjadi kesaksian ditengah-tengah dunia supaya semakin banyak orang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Markus 12:1-12, Matius 5:13, Yohanes 3:34). Gereja sebagai kebun anggur bermakna bahwa kita tidak dapat mengeluarkan buah-buah bila tidak tetap melekat pada pokok itu (Yohanes 15:6-8).

VII. Misi Dan Tujuan Gereja Tuhan

Gereja dilahirkan oleh Roh Kudus supaya Gereja dapat memuliakan Allah dan menjadi agen untuk memberitakan keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus kepada isi dunia. Gereja harus menjadi garam bagi dunia, Gereja harus memanifestasikan kemuliaan bagi dunia. Gereja telah menjadi satu-satunya chanel didalam dunia untuk memproklamirkan keselamatan yaitu penebusan oleh Yesus Kristus (2 Korintus 5:15, Kisah 1:8, Filipi 1:9-10). Gereja menjadi chanel Allah untuk memuliakan Allah melalui tiga arah yaitu:

1. Keatas: Gereja memuliakan Allah dalam ibadah.

2. Kedalam: Gereja harus bertumbuh dan membangun diri sendiri untuk mencapai kesatuan iman.

3. Keluar: Gereja harus menjadi misi bersaksi kepada dunia tentang keselamatam didalam Tuhan Yesus Kristus.

1. Gereja Memuliakan Allah.

Maksud utama Kristus Yesus mati sebagai jalan penebusan untuk menyelamatkan manusia yaitu supaya manusia kembali kepada Allah untuk memuliakan Allah. Allah telah menjadikan manusia itu menurut gambar Allah (Kejadian 1:26-27). Manusia diciptakan supaya manusia memuliakan Allah dalam penyembahannya dan ibadah memuji Allah pencipta serwa sekalian alam dan pencipta semua kehidupan (Mazmur 8:1-10). Manusia diciptakan sebagai mahluk yang sangat mulia yang memuliakan Allah.

Ketika manusia jatuh kedalam dosa semua kemampuan untuk memuliakan Allah menjadi lenyap, sebab manusia mengalami kematian rohani. Roh Allah telah meninggalkan manusia sebab dosa. Manusia terpisah dari Allah untuk selama-lamanya. Semua kehidupan menjadi gelap dan upah dosa ialah maut (Roma 6:23).

Ketika kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka yang pertama terjadi bahwa setiap orang percaya menjadi imam yang mempersembahkan diri mereka dan pujian sebagai persembahan kepada Allah. Manusia dikembalikan kepada makna penciptaan yaitu untuk beribadah bersekutu dan memuliakan Allah. Manusia sebelum kejatuhan adalah mahluk rohani, yang pekerjaannya hanyalah memuji dan memuliakan Allah, setiap hari mempersembahkan persembahan rohani kepada Allah penciptanya. Demikianlah kewajiban utama manusia setelah diselamatkan yaitu beribadah, menyembah, memuji dan memeprsembahkan korban-korban rohani kepada Allah.

Dalam memuji dan memuliakan Allah haruslah melibatkan ketigabergandaan yang ada yaitu:

– Roh Manusia harus dipakai untuk senantiasa menyembah Dia, sebab Allah menciptakan roh manusia supaya manusia mampu bersekutu dengan Allah yang Roh adanya. Penyembahan kepada Allah sangat menyenangkan Allah (1 Yohanes 4:24).

– Jiwa Manusia. Kita harus memuliakan Allah dengan segenap jiwa kita yang berarti bahwa segenap akal budi kita harus percaya dan menerima Firman sebagai kehidupan. Akal budi harus ditaklukkan untuk dengan rendah hati bisa dibaharui dengan Firman Allah, selalu percaya dan beriman apa saja yang ditulis dalam Alkitab sebagai Firman Allah (Roma 12:2). Memberi akal budi (pikiran) seluas-luasnya untuk takluk dan beriman kepada Firman Allah. Demikian pula dalam memuliakan Allah, perasaan dan kehendak kita harus terlibat didalamnya. Karena itu dapat terjadi luapan sukacita dalam menyembah dan memuliakan Allah sebab melibatkan perasaan serta kehendak didalam ibadah orang percaya (2 Tesalonika 1:11, Ibrani 13:21, Filipi 2:5).

– Tubuh Manusia. Dalam beribadah yang memuliakan Allah, maka orang percaya harus mampu menaklukan semua kekuatan kehendak tubuh dan dipersembahkan diatas mezbah untuk memuliakan Dia, itu merupakan ibadah yang sejati (Roma 12:1). Seluruh kekuatan tubuh serta keinginan daging harus ditaklukan dan dipakai untuk memuliakan Allah.

2. Gereja Mengabarkan Injil.

Sebelum naik ke surga Tuhan Yesus meninggalkan amanat agungNya supaya Gereja Tuhan harus melakukan penginjilan. Gereja Tuhan harus memberitakan kabar keselamatan keseluruh dunia. Kata Yunani “Evangelion” yang berarti kabar kesukaan tentang Injil Keselamatan. Kematian Tuhan telah menebus dosa isi dunia dan menyelamatkan manusia. Berita keselamatan itu harus disampaikan keseluruh dunia, karena itu merupakan berita kesukaan (Matius 28:19-20, Markus 16:16, Kisah 1:8).

Secara yuridis, kematian Yesus telah menebus dosa isi dunia dan menyelamatkan manusia. Namun, berita kesukaan itu harus di proklamirkan melalui “Penginjilan Keseluruh Dunia” Manusia harus memberi tanggapan dan percaya serta menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Manusia harus bertobat serta menerima baptisan air sebagai bukti bahwa dia telah menguburkan hidup lama dan menerima kelahiran baru oleh Firman dan Roh Kudus. Melalui tanggapan tersebut maka keselamatan oleh penebusan Yesus menjadi milik orang percaya (Yohanes 3:16-17).

Tuhan Yesus telah naik ke surga dan menjadi Kepala dan Gereja sebagai tubuhNya yaitu, kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Hal itu berarti bahwa kepada Gerejalah yang oleh Roh Kudus telah diberikan tanggungjawab supaya menggenapkan melalui pemberitaan kepada seluruh isi dunia tentang keselamatan. Gereja bertanggungjawab untuk memberitakan berita keselamatan kepada seluruh isi dunia (Efesus 1:22-23). Karena itu, makna Gereja adalah “Gereja Misi” Gereja tidak boleh berhenti untuk melakukan tugas misi untuk mengemban amanat agung dari Kepala gereja.

Dalam melaksanakan amanat agung Yesus Kristus maka Gereja diperlengkapkan dengan “Kuasa” yang dianugerahkan oleh Roh Kudus. Sehingga Injil yang diberitakan disertai bukti untuk meyakinkan isi dunia bahwa Yesus Kristus yang diberitakan adalah Tuhan yang berkuasa. Kuasa Roh Kudus yang menyertai penginjilan menaklukan segala roh kuasa kegelapan diatas muka bumi (1 Yohanes 4:4, Efesus 6:10-18, 1 Petrus 5:7-9, Kisah 1:8).

Roh Kudus yang telah dicurahkan pada hari Pantekosta secara radikal telah merobah keadaan para rasul. Sebelumnya, mereka bersifat pasif dan bahkan cenderung menjadi penakut dan menyangkal Yesus sebagai Tuhan. Hal tersebut dialami oleh semua murid Tuhan. Petrus menyangkal Tuhan ketika mendapat pertanyaan bahwa ia adalah seorang pengikut Kristus. Namun, ketika dipenuhkan oleh Roh Kudus pada hari Pantekosta, maka Roh Kudus merobah dia secara radikal. Dia mulai bersaksi dan berkhotbah pada hari itu ada 3000 jiwa baru menerima anugerah keselamatan (Kisah 2:41).

Sesungguhnya penyertaan Roh Kudus kepada para rasul yang disertai oleh mujizat-mujizat yang ajaib tetap berlaku sampai pada hari ini. Harus kita ingat bahwa keberhasilan penginjilan hanyalah apabila dilaksanakan dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus. Sebab Roh Kuduslah yang memberi keyakinan kepada setiap orang setiap mendengar Firman Allah untuk mengambil keputusan percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya (1 Korintus 12:3, Yohanes 16:8).

3. Pertumbuhan Rohani.

Gereja Tuhan adalah satu organisme yang bergerak dan hidup. Sejak kita percaya kepada Yesus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka orang percaya telah mulai bergerak dalam satu pertumbuhan rohani. Mengapa kita harus bertumbuh dalam iman melalui satu pertumbuhan rohani ? Supaya orang percaya menjadi dewasa dan memahami maksud dan tujuan menjadi orang percaya, dan dapat menikmati segala kemuliaan Tuhan yang hanya diperoleh bagi mereka yang mengalami kedewasaan rohani. Gereja harus bertumbuh terus dalam pengetahuan dan iman kepada Tuhan setiap saat mampu mengerti taktik kuasa kegelapan yang ingin menggagalkan keselamatan kita. Dengan bertumbuh terus bukan hanya pengetahuan yang bertambah tetapi kekuatan rohani semakin teguh dan kokoh untuk mengalami segala macam badai.

Ada tiga alasan rohani yang dapat diketengahkan tentang mengapa Gereja harus bertumbuh dalam Yesus Kristus.

(1). Kehendak Allah menjelang hari Kristus.

Gereja harus bertumbuh menjadi dewasa supaya mampu mendeteksi taktik kuasa iblis dengan segala tipu daya dan dengan demikian Gereja akan dapat membawa dirinya dengan baik menjadi garam ditengah-tengah dunia. Bila Gereja tetap kanak-kanak akan tidak mampu memilih mana yang baik dan berkenan kepada Allah. Begitu banyak muslihat iblis yang terselubung dan hanya mampu dikenal apabila Gereja mempunyai pengetahuan yang melimpah tentang kasih Allah. Demikian juga untuk persiapan Gereja mempersembahkan dirinya supaya suci dan tidak bercela menjelang hari Kristus. Gereja dilukiskan sebagai mempelai perempuan bagi mempelai laki-laki Yesus Kristus yang harus melimpah dengan buah-buah kebenaran yang memuliakan Allah. (Filipi 1:9-11, 2 Korintus 11:2).

(2). Berkat-berkat rohani bagi Gereja dewasa.

Dalam Efesus 1:3-4, “Terpujilah Allah Bapa kita dalam Tuhan Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani didalam sorga”. Sebagaimana sebatang pohon akan mengeluarkan buah-buah pada waktunya akan berbuah setelah bertumbuh dengan baik demikian pula bagi orang percaya yang bertumbuh mengalami kedewasaan rohani diberkati dengan berkat-berkat rohani didalam sorga. Perhatikan pokok anggur dengan ranting-rantingnya, tidak akan mengeluarkan buah-buah bila tidak tetap didalam pokok itu. Berbicara orang percaya yang harus terus melekat pada pokok itu. Mengambil makanan pada pokok itu dan pada waktunya akan mengeluarkan buah-buah (Yohanes 15:1-8).

Dalam mengiring Tuhan begitu banyak janji-janji yang berharga yang dijanjikan Tuhan kepada GerejaNya. Gereja sebagai orang percaya dengan status keluarga Allah melimpah dengan janji-janji rohani. Kepada siapakah yang akan menerima janji itu? Yaitu, kepada mereka yang bertumbuh terus didalam Kristus sehingga mengambil sifat kodrat illahi. Harus diingat, bahwa pertumbuhan rohani atau pertumbuhan iman bukan ditandai dengan menjadi pandai dan banyak pengetahuan Firman Allah, tetapi mengalami transformasi kedalam Tuhan Yesus Kristus. Gereja berhasil memiliki sifat dan karakter Yesus Kristus. Kodrat manusia kita yang adalah daging semakin merosot, dan kodrat illahi atau sifat Allah semakin bertumbuh dalam diri orang percaya (2 Petrus 1:4-8). Berkat-berkat rohani bagi Gereja Tuhan adalah tergantung seberapa jauh kita bertumbuh kedalam Dia yang adalah sasaran pertumbuhan. Orang percaya akan mengalami kelimpahan berkat-berkat rohani sebagai janji kemuliaan bagi Gereja yang dewasa (Yesaya 62:1-3).

(3) Supaya tidak diombang-ambingkan ajaran sesat.

Salah satu tujuan rohani dimana Gereja harus bertumbuh supaya tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa ajaran yang sesat. Begitu banyak Gereja Tuhan yang mengalami pertumbuhan jumlah anggota tetapi dihancurkan oleh gelombang pengajaran yang menyesatkan. Hal tersebut terjadi karena Gereja tersebut tidak bertumbuh dalam pertumbuhan rohani dengan ajaran-ajaran yang sehat, akibatnya, mengalami kehancuran iman.
Masalah ajaran sesat harus menjadi tanda waspada bagi Gereja Tuhan. Iblis tidak mampu menandingi Roh Kudus di lapangan penginjilan sehingga mengakibatkan terjadinya gelombang pertobatan besar-besaran yang melibatkan jutaan manusia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iblis datang dengan strategi yang dahsyat ingin memberi kepuasan rohani palsu yang dengan mudah dapat dicapai. Begitu banyak ajaran yang berbeda dengan injil yang beredar dan diperkenalkan masa kini yang bisa menghilangkan keselamatan. Efesus 4:13-14.

VIII. Jawatan-Jawatan Pelayanan Gereja.

Gereja Tuhan dilahirkan Roh Kudus diatas muka bumi supaya dapat melakukan kehendakNya. Kehendak Tuhan semuanya berpusat pada “kebenaran” Yesus Kristus. Penebusan “darah Kristus” untuk menyelamatkan manusia adalah merupakan hikmat terbesar karya Allah sepanjang zaman. Inti dari pernyataan Kristus yaitu keselamatan yang dikerjakan oleh Allah sendiri melalui kematian anakNya sebagai domba sembelihan.

Setelah kematian Yesus Kristus maka semua orang percaya adalah “pelayan” , kata Yunaninya adalah “Diakonos” yang berarti orang yang melayani. Namun, konon diakonos sekarang ini diartikan bagi mereka yang melayani penuh waktu atau purna waktu, karena itu uraian selanjutnya tentang pelayanan Gereja, yaitu bagi mereka yang terpanggil untuk melayani purna waktu.

Sebagaimana dalam setiap organisasi harus ada pimpinan, demikian juga berlaku dengan Gereja Tuhan. Allah telah mengangkat sejumlah pelayan khusus didalam Gereja. Dalam Efesus 4:10-11, bahwa Dia yang telah menetapkan jawatan-jawatan pelayanan dalam Gerejanya. Yakni, Rasul-rasul, Nabi-nabi, Penginjil, Gembala-gembala dan Pengajar-pengajar untuk melengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan.

Kelima jawatan pelayanan dalam Gereja tersebut, sebagai berikut:

(1). Rasul-Rasul.

Kata Rasul dalam bahasa Yunani “Apostolos” yang berarti yang “diutus”, yang diberi tanggungjawab untuk memberitakan Injil keselamatan. Pelayanan para Rasul disertai dengan tanda-tanda mujizat karunia-karunia Roh Kudus sehingga merupakan demonstrasi kuasa dari Tuhan Yesus Kepala Gereja. Orang menjadi yakin dengan bukti dari penyertaan Roh Kudus. Para Rasul sambil memberitakan Injil yang disertai kuasa Allah, mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Dimana saja mereka pergi memberitakan Injil selalu diikuti oleh pertobatan sehingga bilangan orang percaya semakin bertambah. Para rasul selalu melahirkan sidang jemaat baru di kota mana yang dikunjungi. Lahirlah jemaat di Tesalonika, jemaat di Efesus, jemaat di Filipi, jemaat di Kolose dan seterusnya. Menjadi ciri khas, bahwa para rasul selalu berkeliling untuk memberitakan Injil disertai tanda-tanda mujizat yang meyakinkan orang banyak serta menetapkan jemaat-jemaat baru dikota mana mereka berkunjung. Mereka tidak menetap untuk menjaga jemaat sebagai Gembala Jemaat. Hal tersebut terlihat dalam ciri pekerjaan para rasul dalam kitab Kisah Para Raul.

Walaupun sekarang ini didalam pelayanan Gereja bahwa tidak ada seorang pelayanpun yang berani mengakui dirinya sebagai rasul, tetapi dilihat dari ciri pekerjaan saya percaya banyak yang menyamai ciri pelayanan para rasul dalam Gereja mula-mula. Bagaimanapun bahwa Yesus menetapkan para rasul dalam pelayanan Gereja mula-mula, demikian juga pelayanan Gereja masa kini. Pengaturan dalam Efesus 4:11 berlaku juga pada Gereja masa kini.

(2). Jawatan Nabi.

Kata nabi berasal dari bahasa Yunani “Prophetes”, yang berarti juru bicara atau seseorang yang berbicara atas nama orang lain. Jawatan nabi adalah suatu pelayanan dimana seseorang dipakai oleh Tuhan untuk berbicara atas nama Tuhan. Dalam hal ini bahwa Allah memakai seseorang untuk selalu menyampaikan kepada jemaat Tuhan melalui nubuatan. Jawatan nabi bukanlah karunia Roh seperti karunia untuk bernubuat. Tetapi jawatan yang ditetapkan Allah untuk selalu berbicara atas nama Allah tentang kehendak Allah kepada jemaatNya.
Kelima jawatan itu ditetapkan secara khusus oleh Allah dan tidak semua orang percaya mendapat tempat untuk pelayanan secara khusus tersebut. Kita harus dapat membedakan antara karunia nubuat dan jawatan nabi. Semua orang dapat beroleh karunia untuk bernubuat asal beraturan. Sedangkan jawatan nabi tidak untuk semua orang. Jadi, seseorang yang berkarunia nubuat orang tersebut melakukan pekerjaan nabi, walaupun ia bukan mempunyai jawatan nabi yang tercantum dalam Efesus 4:11. Berbeda dengan jawatan nabi, bahwa karunia nubuat diperuntukkan untuk semua orang (1 Korintus 13:31).

(3). Pemberita-Pemberita Injil.

Seorang pemberita Injil atau “Evangelist”, yaitu yang tugasnya memberitakan Injil yaitu kabar baik. Kata Yunaninya “Evangelion”. Kabar baik atau Injil tentang keselamatan didalam penebusan Darah Kristus.
Tugas pokok dari seseorang pemberita Injil adalah untuk membawa pertobatan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Berita inti dari seorang pemberita Injil yaitu tentang Tuhan Yesus Kristus, yaitu Allah yang menjadi manusia, kematianNya, penguburanNya dan kebangkitanNya (1 Korintus 15:1-4). Seorang pemberita Injil akan mengutamakan beritanya tentang keselamatan melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus. Bahwa Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita supaya dengan jalan itu manusia yang percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat akan diselamatkan (Roma 4:24-25).
Sebagaimana janji Yesus Kristus sebelum naik ke surga, maka kuasa mujizat Roh Kudus akan meneguhkan iman dan menyertai para pemberita Injil Keselamatan. Seorang pemberita Injil mempunyai ciri khas, yaitu berani meberitakan Injil Keselamatan dalam situasi serta lingkungan yang bagaimanapun. Seorang penginjil akan berani menentang segala kuasa penghambat berita Injil. Seorang pemberita Injil harus berani mendemonstrasikan kuasa Tuhan untuk meyakinkan orang banyak (Markus 16:17-18, Kisah 1:8).

(4). Gembala – Gembala Jemaat.

Kata gembala dalam bahasa Yunani “Poimen” yang berarti memberi makanan kawanan domba. Gembala Jemaat adalah penunggu jemaat dan berusaha memenuhi kebutuhan rohani kawanan domba, yaitu jemaat Tuhan. Gembala Jemaat bertugas untuk memelihara dan memberi semua kebutuhan rohani jemaat yang dipimpinnya (Yohanes 21:15-17, Kisah 20:28).

Gembala jemaat juga mendapat dua istilah lain yang kesemuanya merupakan tugas fungsional ….

missing text….. to be completed: VIII

(5). Guru….

Gereja juga harus waspada, karena Firman Allah menjelaskan bahwa akan ada juga guru-guru palsu yang akan menyusup untuk mengajarkan pengajaran sesat yang akan membinasakan jemaat. Jawatan guru adalah sangat penting supaya dapat memberi pengajaran sehat bagi kesehatan rohani Gereja Tuhan. Keselamatan Gereja untuk dapat bertahan sampai terakhir juga tergantung bagaimana kebenaran pengajaran yang diajarkan kepada jemaat. Dalam 1 Timotius 4:16, Gereja harus mengawasi semua ajaran yang ada karena itu sangat menentukan keselamatan umat. Iblis sedang menyiapkan guru-guru palsu untuk menyesatkan umat Allah.

Berkhotbah sangat berbeda dengan mengajar karena makna dan tujuannya berbeda. Berkhotbah bertujuan untuk meneguhkan iman jemaat Tuhan, sedang mengajar membawa jemaat pada pengertian yang berakar sehingga jemaat dapat bertumbuh dalam satu pertumbuhan iman yang pasti. Berkhotbah meneguhkan iman dan keyakinan sedangkan mengajar memperdalam pengertian, memperluas wawasan dan berakar kedalam Firman Allah. Betapa pentingnya jawatan guru didalam pertumbuhan rohani Gereja Tuhan.

(6). Diaken atau tua-tua jemaat.

Dalam 1 Timotius 3:8-13 disini dicantumkan syarat-syarat untuk menjadi diaken atau tua-tua jemaat dalam Gereja Tuhan. Para diaken sering disamakan dengan pembela sidang atau tua-tua sidang jemaat. Kedudukan mereka tidak dapat disamakan dengan kelima jawatan. Sebab diaken tidak terdapat dalam catatan Efesus 4:11, tetapi mereka semua juga adalah pelayan Injil, kata-kata diaken berasal dari kata Yunani “Diakonos” yang berarti pelayan atau hamba untuk melayani Tuhan.

Syarat-syarat untuk dapat diangkat menjadi diaken atau tua-tua sidang hampir sama dengan syarat-syarat untuk gembala jemaat. Berarti bahwa pelayanan diaken adalah penting dalam jemaat Tuhan. Karena para diaken adalah orang-orang yang diangkat untuk membantu pelayanan didalam jemaat. Dikatakan bahwa para diaken mendapat kedudukan yang sangat baik untuk melayani Tuhan didalam jemaat.

Dalam Kisah pasal 6, Gereja mula-mula mengangkat tujuh orang diaken untuk membantu pelayanan dalam sidang jemaat, terutama pelayanan meja. Maksudnya supaya gembala jemaat dapat mempersiapkan waktu secara khusus tanpa terganggu dengan pelayanan lahiriah. Gembala jemaat terpanggil untuk pelayanan rohani demi kepuasan serta kehidupan rohani jemaat Tuhan. Mereka mengangkat tujuh orang diaken atau tua-tua jemaat. Memperhadapkan dengan kebenaran Firman Allah, ternyata sekarang ini telah terjadi penyimpangan makna dan tujuan diaken. Kedudukan diaken masa kini lebih berorientasi kepada pelayanan mimbar. Struktural ini harus dikembalikan sesuai Alkitab. Supaya pelayanan Gereja yang bersifat majemuk kesemuanya dapat berfungsi dan Gereja dapat menemukan pola pelayanan yang tepat sasaran.

Namun cukup menarik dikarenakan maksud pelayanan para diaken untuk pelayanan meja (lahiriah), tetapi ternyata ada dua diantara mereka yang dipanggil untuk menjadi pelayan Injil, yaitu Stefanus dan Filipus (Kisah 6:8, 8:3, 8:4-13).

(7). Pelayanan Tubuh Kristus.

Kelima jawatan pelayanan bertugas memperlengkapi pelayanan orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan. Kelima jawatan sebagai pemimpin jemaat berkewajiban untuk mengatur pelayanan bagi setiap orang percaya sesuai dengan talenta serta karunia yang diberikan oleh Roh Kudus. Karena semua orang percaya adalah imam yang harus melayani sesuai dengan tempat didalam tubuh Kristus.

Dalam 1 Korintus 12:12-31, pengaturan pelayanan didalam Tubuh Kristus. Setiap anggota dalam Tubuh Kristus mempunyai tempat yang berbeda serta fungsi yang berbeda pula. Namun dikatakan bahwa semua anggota tubuh yang berbeda masing-masing saling melengkapkan. Tidak ada satupun anggota tubuh yang boleh berbangga dan merasa bahwa dia lebih dari anggota yang lain. Semua jenis pelayanan dinilai untuk kepentingan tubuh dan mendapat kemuliaan yang sama.
1 Korintus 12:7-11. Daftar kesembilan karunia Roh Kudus sebagai perlengkapan orang percaya untuk melayani dalam Tubuh Kristus. Kesembilan karunia Roh diperuntukkan bagi semua orang percaya untuk melayani sesuai dengan kasih karunia Allah. Begitu pula Roh Kudus menganugerahkan karunia berupa jenis pelayanan. Karunia memimpin, melayani, memberi, mengajar, menasehati, kemurahan, dst. Semua orang percaya melaksanakan pelayanan sesuai dengan hati yang ikhlas dan penuh sukacita (Roma 12:6-8).

IX. Sakramen Gereja.

Sakramen berarti upacara suci dari Gereja Tuhan. Kata sakramen berasal dari kata sacramentum (latin), berarti ungkapan lahiriah yang keluar dari pernyataan batin. Kita dapat mengartikan bahwa sakramen berarti sesuatu yang rahasia yang berasal dari Yesus Kristus yang diungkapkan dan wajib digenapkan oleh GerejaNya. Konotasi kata sakramen yang telah menjadi lazim yaitu upacara suci gerejani yang terkait dengan pernyataan iman sebagai perintah yang mutlak harus digenapkan. Bahkan perintah sakramen direlevansikan langsung dengan keselamatan. Karena itu sakramen wajib mendapat tempat yang lebih utama dalam liturgi kegerejaan.

Didalam Alkitab terdapat dua sakramen yang langsung merupakan perintah atau kehendak secara terbuka diungkapkan oleh Yesus Kristus. Sakramen Baptisan Air dan Sakramen Perjamuan Kudus. Gereja Pantekosta di Indonesia dalam Mukernas Palembang 1992, melalui komisi pendidikan menambahkan dua upacara gerejani yang dapat dianggap sebagai sakramen yaitu Sakramen Penyerahan Anak dan Sakramen Peneguhan Nikah Yang Kudus. Sesuai keyakinan iman hal tersebut dapat diterima.

Gereja Roma Katholik mempunyai tujuh sakramen gerejani.

Ada beberapa organisasi gereja tidak berani memakai istilah “Sakramen” dengan alasan bahwa kata sakramen terlalu berbau mistis. Mereka mengganti dengan istilah Peraturan-Peraturan Gereja. Tentang istilah-istilah tersebut tidak perlu menjadi polemik sebab Yesus Kristus juga tidak pernah menamakan itu sakramen. Tetapi yang jelas merupakan peraturan Firman Allah yang harus dilaksanakan oleh GerejaNya.

1. Sakramen Baptisan Air.

Menjelang kenaikanNya Tuhan Yesus memberi amanat kepada murid-muridNya untuk pergi keseluruh dunia memberitakan Injil kepada segenap bangsa dan barangsiapa percaya “baptislah” mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Selanjutnya, baptisan ini dirangkaikan dengan berita tentang keselamatan. Bahwa siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, dan yang tidak percaya akan dihukum (Matius 28:19-20, Markus 16:16). Baptisan adalah suatu perintah yang mutlak harus dilakukan sebab disertai dengan sangsi bila tidak percaya dan melakukannya.

Setelah hari ketuangan Roh Kudus, maka amanat yang ditinggalkan Yesus Kristus menjadi prioritas utama dalam pelayanan dan tantangan khotbah para murid. “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk jalan pengampunan dosa” (Kisah 2:38). Para rasul dengan teliti menekankan sakramen baptisan dalam pelayanan gereja mula-mula. Mereka memegang dan melaksanakan dengan teliti perintah Yesus. Semua petobat-petobat baru harus menggenapkan baptisan air (Kisah 2:41, 8:14, 9:18, 10:48, 16:15, 18:8, 19:5). Dari contoh yang dilakukan oleh para rasul bahwa baptisan dilaksanakan segera setelah seseorang bertobat menerima anugerah keselamatan.

Arti baptisan air: Baptisan air hanya dilakukan kepada mereka yang percaya dan mengambil keputusan bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Baptisan air merupakan suatu yang mulia dan suci yang dilaksanakan denga satu maksud sebagai bukti pertobatan dan menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi. Baptisan air tidak boleh dilakukan untuk maksud-maksud yang lain. Misalnya, dilaksanakan untuk maksud lain sebagai syarat tertentu. Baptisan adalah perintah Yesus Kristus bagi mereka yang percaya, bertobat dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Makna baptisan air bukan hanya sebagai tanda bukti bahwa kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi sebagai bukti iman yang dapat disaksikan oleh orang banyak bahwa kita mengalami penyatuan dengan Yesus Kristus. Kita disatukan dengan Kristus didalam kematianNya, penguburanNya dan kebangkitanNya.“Atau tidak tahukah kamu bahwa, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya?” dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:3-4). Orang percaya disamakan dengan Kristus, itulah sebabnya kita harus mengambil bagian dalam seluruh kehidupan dan karya Kristus. Orang percaya berada didalam Yesus Kristus, sehingga baptisan benar-benar merupakan perlambang bahwa orang percaya oleh iman secara realita berada didalam Yesus Kristus Tuhan kita.

Baptisan air juga sebagai bukti pengakuan dihadapan orang banyak bahwa kita mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, dan oleh iman kita berda didalamNya. Hanya didalam menekankan ajaran sakramen ini harus hati-hati jangan sampai kita memproklamirkan bahwa baptisan itulah yang menyelamatkan. Baptisan itu adalah satu bukti bahwa kita telah menerima keselamatan ketika kita percaya dan bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Baptisan adalah upacara membuktikan kepada orang banyak bahwa kita telah menerima keselamatan, sehingga menjadi kesaksian awal bagi orang banyak. Baca 4 ayat utama tentang baptisan yaitu, Markus 16:16, Kisah 2:38, Kisah 22:16, dan 1 Petrus 3:21. Ayat-ayat tersebut sangat menekankan keselamatan dalam baptisan. Tetapi tetap peristiwa baptisan adalah peristiwa lahiriah yang mengikuti peristiwa rohani yaitu, pengalaman percaya dan bertobat dan menerima kelahiran baru. Mereka yang telah diselamatkanlah yang harus membuktikan diri melalui makna penyatuan dengan Yesus Kristus melalui peristiwa lahiriah yaitu baptisan air. Percaya dan bertobat dan mengalami kelahiran baru oleh Firman dan Roh Kudus disinilah orang percaya diselamatkan suatu peristiwa rohani yang agung (Yohanes 3:3-5). Peristiwa rohani ini mutlak harus disertai dengan baptisan air sebagai bukti bahwa hidup kita telah disatukan masuk menjadi satu dengan Tuhan Yesus Kristus (Roma 6:3-5).

Siapakah yang harus dibaptis? Yesus meninggalkan amanatNya, “Siapa yang percaya” baptislah mereka (Markus 16:16). “Orang-orang yang menerima perkataanNya” memberi diri dibaptis. “Bertobatlah” hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis (Kisah 2:38). Bukti diatas bahwa calon dibaptis telah mempunyai kematangan mental dan moral untuk mengerti mana yang baik dan mampu mengambil keputusan untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Baptisan adalah untuk orang dewasa yang telah mampu mengambil keputusan.

Kami tidak mengecilkan atau mempersalahkan bagi gereja yang melaksanakan baptisan bayi. Alkitab adalah Firman Kebenaran yang menjadi petunjuk kebenaran apa yang harus dilkukan umatNya. Bahwa Alkitab tidak pernah mengajarkan adanya baptisan untuk bayi-bayi. Apabila itu ada, maka hanyalah merupakan keputusan teologi hasil tafsiran Alkitab. Kebenaran yang tertulis dalam Firman Allah adalah kebenaran yang tidak dapat digugat oleh keputusan teologi. Karena itu, layaklah kita harus membaptis orang dewasa yang setelah mendengar Firman Allah mampu untuk mengambil keputusan percaya dan bertobat serta mengalami kelahiran baru oleh Firman dan Roh Kudus, dan memberi dibaptis (Kisah 10:44, Kisah 16:31, 34).

Cara baptisan. Kata baptisan berasal dari kata Yunani “Baptizo” yang berarti diselamkan. Kata baptizo tidak dapat dikonotasikan sebagai sakramen yang tidak terikat dengan arti kata. Karena dewasa ini kelihatannya ada upaya ajaran yang mengkonotasikan kata baptisan yang tidak terikat dengan salah satu cara. Maksudnya, semua baptisan gerejani dengan cara yang berbeda-beda telah termasuk sempurna dalam konotasi baptisan. Artinya, baptisan selam, percik dan menuangkan air, dan mungkin ada cara lain lagi itu semua adalah sama hanya sebagai simbol , itulah konotasi baptisan.

Kata baptisan dalam Alkitab adalah definitif yang berarti diselamkan. Karena hanya dengan diselamkan sajalah maka perlambangan bahwa kita dibaptis kedalam kematianNya, penguburanNya dan kebangkitanNya tepat makna gambaran rohaninya (Roma 6:3-5). W.A Criwell, dalam bukunya “Great Doctrines of The Bible” menguraika tentang kata baptizo dalam tradisi Yunani, bahwa sejak zaman purba kata baptizo banyak dipakai dalam puisi atau cerita kuno Yunani kesemuanya berarti menyelam kedalam air, diselamkan seluruhnya kedalam air (halaman 68-70).

Dengan melihat Yesus dibaptis (Markus 1:10), sida-sida dari Ethiopia (Kisah 8:38-39), semuanya ada pernyataan bahwa mereka turun kedalam air dan keluar dari air sebagai bukti bahwa baptisan dilakukan dengan cara selam. Jelaslah bukti Alkitab bahwa baptisan dilakukan dengan cara menyelamkan seluruh tubuh kedalam air.

2. Sakramen Perjamuan Suci.

Perjamuan suci yaitu kita makan dan minum tubuh dan darah Yesus sebagai tanda persekutuan dengan tubuh Kristus. Dalam 1 Korintus 11:20 sakramen ini dikatakan sebagai “Perjamuan Tuhan”, sedangkan dalam upacara yang sama dalam Kisah 2:42 dikatakan mereka berkumpul “memecahkan roti”. Perjamuan Suci adalah perintah dan ketetapan Yesus Kristus sendiri untuk dilaksanakan dalam ibadah GerejaNya. Lukas 22:19-20 “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikan kepada mereka, kataNya: ‘inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku’. Demikian juga diperbuatnya dengan cawan sesudah makan, Ia berkata: ‘cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu’. Dalam 1 Korintus 11:25-26, Gereja Tuhan diminta untuk melakukan Perjamuan Suci ini sebagai peringatan akan Yesus. Kita didalam iman memperingati bahwa kita berada didalam Yesus Kristus sampai Ia datang kembali.

Gereja mula-mula selalu berkumpul setiap hari pertama dan mereka memecahkan roti dan makan dan minum tubuh dan darah Kristus. Dikatakan bahwa para rasul selalu berkumpul dan memecahkan roti. Memang tidak ada ketentuan dalam Alkitab tentang berapa banyak kali atau pada peringatan apa saja upacara perjamuan suci ini harus dilakukan. Hanya jelaslah, dikatakan bahwa para rasul selalu berkumpul memecahkan roti (Kisah 2:42). Begitu pula dalam 1 Korintus 11:26, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini…”. Rupanya perjamuan suci tidak mempunyai peraturan tertentu berapa kali harus dilakukan setiap tahun. Tetapi jelaslah bahwa sakramen ini adalah kehendak Yesus Kristus untuk dilakukan bagi GerejaNya.

Makna Perjamuan Suci. Kita harus mengakui bahwa apabila kita mengikuti upacara perjamuan suci sangat terasa bahwa ada sesuatu kekuatan rohani didalamnya. Makan dan minum perjamuan suci bahwa sesungguhnya oleh iman kita sedang terlibat persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus dalam arti sesungguhnya. Walaupun kenyataannya bahwa yang kita makan itu hanya sepotong roti dan cawan berisi anggur. Kita sangat keliru kalau kita sifatkan itu hanyalah sebagai lambang tubuh dan darah Tuhan. Ketika penetapan perjamuan kudus, Tuhan Yesus mengambil roti dan berkata “inilah tubuhKu”. Tuhan tidak pernah berkata sebagai lambang. Baca Markus 14:22-25, 1 Korintus 11:23-25. Karena itu sering terjadi mujijat sebagai manifestasi kuasa Allah pada upacara sakramen perjamuan suci. Rahasianya, orang percaya oleh iman sedang bersekutu dengan tubuh dan darah Yesus sesungguhnya.

Perjamuan Suci bukan sekedar satu upacara sakramen dengan arti persekutuan dengan tubuh dan darah Yesus Kristus tetapi mengandung arti rohani:

(1). Perjamuan Suci adalah tanda gereja berada pada/ didalam dimensi Perjanjian Baru.

Tanda Perjanjian Baru adalah Darah Yesus Kristus. Ditengah perjamuan malam itu Yesus berkata: “Cawan ini adalah Perjanjian Baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu”. (Lukas 22:20). Didalam zaman Taurat atau masa Perjanjian Lama oleh penumpahan darah binatang, Israel mendapat pengampunan (Imamat 16:15-16).

Perjanjian lama ditandai dengan grafirat darah binatang (Ibrani 9:6-7). Perjamuan Suci suatu pengaguman akan kebesaran Penebusan Darah Yesus Kristus. Perjanjian Baru telah melebarkan keselamatan dari satu bangsa ke segala bangsa dimuka bumi. Perjamuan suci mengandung unsur doksalogi yang patut gereja berikan kepadaNya (Ibrani 10:19-25).

(2). Perjamuan Suci Peneguhan Persekutuan.

Pada waktu melaksanakan perjamuan itu, Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkannya, kemudian dibagi-bagikan kepada murid-muridNya. Gereja adalah tubuh Kristus merupakan satu persekutuan oleh Roh Kudus yang tidak terpisahkan bersekutu dengan kepala yang ada di sorga.

Lukas 22:19. Persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus didalam perjamuan suci adalah persekutuan Roh Kudus. Ketika Yesus berkata tentang roti bahwa ini adalah “TubuhKu” dan tentang cawan anggur sebagai “DarahNya”. Bukan berarti tentang roti adalah daging Tuhan yang sungguh (reality), demikian juga tentang anggur bahwa itu bukan cawan yang berisi Darah Kristus yang sesungguhnya. Roti dan anggur itu tetaplah sebagai materi roti yang sejati demikian pula anggur sebagai cairan anggur yang sejati. Imanlah yang menjadi transubstensi sehingga roti dan anggur berkhasiat tubuh dan darah Yesus sejati. Didalam iman maka perkara-perkara yang tidak ada menjadi ada. Iman bukanlah satu khayalan atau sugestif, tetapi kekuatan Illahi yang dapat mengadakan.

Setiap kali kita melaksanakan perjamuan suci bahwa kita menyegarkan dalam iman tentang persekutuan kita dengan Kristus yang berlaku terus menerus sampai realita yang sesungguhnya di Kerajaan Sorga. (Markus 14:25).

(3). Perjamuan Suci menjadi peringatan Yesus Kristus.

“Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Lukas 22:19). Perjamuan suci mengingatkan kita semua bahwa Yesus Kristus tidak mati tetapi Dia hidup selama-lamanya. kataNya, bahwa mulai sekarang Ia tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah datang. Sebelum Dia naik ke sorga, Dia meninggalkan pesan kepada murid-muridNya bahwa Dia akan menyertai kita sampai ke akhir zaman (Matius 28:20).

Perjamuan suci suatu tanda peringatan bahwa Yesus Kristus hidup dan Dia pergi menyedikan tempat bagi kita. Sekali ketika ia akan datang kembali dan membawa kita ketempat dimana Dia berada. Supaya selalu berada bersama-sama dengan umat tebusan darahNya. Suatu peringatan bahwa Dia tetap hidup dan menyertai kita, dan sekali waktu kita akan bersama-sama dengan Dia untuk selama-lamanya (Yohanes 14:1-3, Filipi 3:20-21).

(4). Perjamuan Suci Peringatan KematianNya.

Apabila kita sedang mengikuti upacara Perjamuan Suci kita harus menikmati kemuliaan Yesus Kristus. Firman Allah berkata bahwa kita tidak ditebus dengan emas atau perak, tetapi ditebus dengan harga yang mahal yaitu Darah Anak Domba Allah yang tidak bernoda dan bercacat (1 Petrus 1:18-19). Upah dosa ialah maut tetapi kasih karunia Allah ialah hidup yang kekal didalam Yesus Kristus Tuhan kita (Roma 6:23).

Perjamuan suci adalah satu perenungan tentang keselamatan yang kita peroleh oleh kematian Tuhan. Gereja Tuhan menaikkan pujian syukur kepadaNya karena pengorbananNya telah melepaskan kita dari maut. Kita harus bersyukur sebab inilah karya terbesar yang pernah terjadi sepanjang zaman. Perjamuan suci mengandung dua peringatan sekaligus yaitu, bersyukur atas keselamatan dan memuja Dia atas kasih karuniaNya yang rela mati sebagai jalan penebusan dosa isi dunia (Efesus 2:8, Filipi 2:7-9).

(5). Perjamuan suci tanda kerinduan menanti kedatangan Kristus kedua kali.

Yesus berkata bahwa “mulai sekarang Aku tidak lagi meminum hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan BapaKu” (Matius 26:29). Upacara perjamuan suci tidak sekedar melihat kebelakang yaitu tentang kematianNya, tetapi dengan penuh harapan melihat kedepan. Berita tentang kedatangan Yesus Kristus kedua kali lebih mendominasi Alkitab daripada berita kelahiranNya. Orang percaya harus hidup dalam pengharapan dan hal tersebut mengakibatkan orang percaya tidak akan tergilas menghadapi segala macam tantangan serta ujian iman. Dunia tidak menerima kita karena orang percaya tidak bersal dari dunia (1 Petrus 1:6-7, Yohanes 17:13-14).

Sungguh, sangat menarik kata Yesus bahwa sampai Ia kan meminumnya yaitu anggur bersama kita di Kerajaan Sorga. (Wahyu 21:4-5). Perjamuan suci mengisyaratkan bahwa kita adalah warga kerajaan sorga yang sekarang masih bertempat tinggal di bumi. Perjamuan suci mengisyaratkan bahwa kita sedang bergerak menuju kepada sesuatu yang baru, sama sekali baru. Tengoklah bahwa Aku menjadikan segala sesuatu baru.

Syarat mengikuti perjamuan suci. Tuhan Yesus mengadakan perjamuan kudus bersama-sama dengan para murid-muridNya tanpa pengikut lain. Sehingga ada organisasi gereja membuat peraturan tertentu bagi mereka yang diperbolehkan mengambil bagian dalam perjamuan kudus. Dalam 1 Korintus 11:27-28, dijelaskan semua yang mengambil bagian harus dapat membedakan arti perjamuan suci yaitu mengambil bagian dalam kelayakan. Barangsiapa mengambil bagian dengan tidak layak, maka berdosa kepada tubuh dan darah Tuhan. Sehingga semua harus menguji diri sebelum turut serta dalam makan dan minum tubuh dan darah Tuhan. Hal itu mengisyaratkan bahwa yang mengambil bagian haruslah orang-orang yang telah percaya dan lahir baru. Hanya merekalah yang dapat mengukur diri apakah berlayak atau tidak untuk mengambil bagian.

Kelihatannya Tuhan Yesus juga memberi peraturan perjamuan suci harus dilakukan oleh para murid sebagai satu peringatan. Demikian juga dalam Kisah 2:42, 20:7, mereka selalu berkumpul pada hari pertama untuk memecahkan roti. Para rasul selalu berkumpul selalu berkumpul untuk melaksanakan perjamuan suci sesuai dengan kehendak Yesus Kristus. Mereka yang telah lahir barulah yang mampu mengukur diri mereka sendiri tentang syarat rohani keberlayakan mengambil bagian dalam perjamuan suci. Kalau tidak berlayak dikatakan berdosa kepada tubuh dan darah Yesus Kristus (1 Korintus 11:27-28). Dengan peringatan tersebut menjadi dasar bahwa mereka yang mengambil bagian haruslah bagi mereka yang mampu mengenal kelayakan rohani yang berarti bahwa perjamuan suci hanya bagi mereka yang bertobat dan lahir baru.

Didalam kitab Keluaran 12:3-8, Israel sebelum keluar dari negeri Mesir menyembelih anak domba dan dagingnya dimakan bagi seluruh isi rumah tangga (ayat 4). Hal itu berarti melibatkan anak-anak, karena isi keluarga bukan hanya kedua orang tua atau orang dewasa tetapi juga ank-anak. Banyak gereja Tuhan membangun ajaran yang melibatkan anak-anak dapat dilibatkan dalam perjamuan suci berdasarkan kebenaran itu.

Memang tidak ada bukti Alkitab yang mengatur dengan jelas siapakah yang berhak mengikuti perjamuan Tuhan. Harus diingat bahwa sakramen ini bukan perjamuan gereja tapi perjamuan Tuhan. Setiap orang harus mengukur diri apakah dia layak atau tidak untuk mengambil bagian. Kekudusan Kristus menyertai sakramen ini. Kita tidak dapat menyimpan anggur baru didalam kirbat yang lama, pasti kirbat itu akan pecah. Bahwa anggur yang baru haruslah disimpan didalam kirbat yang baru. Terang dan gelap tidak dapat disatukan. Kristus mempunyai karakteristik kekudusan, semua orang percaya haruslah mempersiapkan diri yang layak untuk mengambil bagian dalam sakramen Perjamuan Suci (Markus 2:22, Lukas 5:37, 1 Petrus 1:15-16).

3. Penyerahan Anak.

Memang penyerahan anak tidak termasuk sakramen perintah langsung dari Yesus Kepala Gereja. Tetapi tidak keliru juga kalau Gereja mengangkat penyerahan anak sebagai sesuatu yang dianggap upacara suci kegerejaan. Anak-anak yang baru lahir belum mengenal dosa dan Tuhan Yesus sering mengambil anak kecil dengan segala sifatnya untuk menjadi teladan bagi orang percaya. “Lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk kerajaan sorga (Matius 18:3). “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya” (Lukas 18:17).

Anak kecil mempunyai karakter kudus dan mulia sebab belum mengerti keadaan baik dan buruk. Suatu karakteristik seperti ketika Adam belum jatuh dalam dosa. Karena itu penyerahaan anak kecil didalam upacara gerejani mengandung makna supaya sifat dan karakter yang dimiliki sejak kanak-kanak dapat dipelihara oleh Tuhan sampai ia menjadi dewasa. Suatu karakter keadaan yang memperkenankan Allah sebagai syarat untuk masuk kedalam Kerajaan Allah.

Penyerahaan anak-anak juga berarti bahwa pengakuan kedua orang tua bahwa kanak-kanak itu bukan milik mereka tetapi milik Allah. Sehingga akan membangun pertanggungjawaban pertumbuhan anak dalam semua aspek kepada Tuhan yang memilikinya. Orang tua tidak lagi melihat anak-anak sebagai milik dan merasa menguasainya dan hal ini akan lebih mendorong pertanggungjawaban pemeliharaan kepada Tuhan. Begitu juga penyerahan anak membangun iman orang tua bahwa Tuhan terlibat langsung dalam pertumbuhan anak-anak tersebut sampai dewasa.

4. Ibadah Peneguhan Nikah.

Kedua mempelai dalam pandangan pernikahan Kristen mengandung misteri yang mendalam. Kedua mempelai adalah bayangan Kristus dan sidang jemaatNya (Efesus 5:32-33). Betapa mulianya penikahan Kristen dimata Allah Bapa. Iblis ingin menghancurkan gereja Tuhan mulai dari unit yang paling kecil yaitu, apabila mampu meretakkan hubungan suami istri dalam keluarga Kristen. Berita pertama dalam Alkitab adalah tentang pasangan Allah di taman Eden. Demikian juga menjadi berita terakhir pernikahan Kristus dan gerejaNya sebagai mempelai wanita.
Hubungan suami istri Kristen adalah berita sorgawi, dan dikatakan sebagai rahasia yang dalam satu misteri, yaitu hubungan Kristus dan Jemaat. Dari situlah kebenaran pernikahan menjadi kebenaran sorgawi. Hubungan Kristus dan jemaat adalah bersifat kekal demikian pula hubungan suami istri adalah hubungan seumur hidup. Hanya kematian saja yang dapat memisahkan suami dan istri. “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9).

Dari kebenaran diatas itulah menjadikan betapa indah dan mulianya upacara ibadah peneguhan nikah yang kudus didalam gereja. Begitu pula peneguhan nikah yang kudus suatu kerinduan dan pengharapan bahwa misteri hubungan Kristus dan jemaat yaitu hubungan Kristus dengan kedua mempelai sebagai jemaat Tuhan teraktualisasi dalam hubungan suami istri. Kasih Kristuslah yang membuat rumah tangga ada damai sejahtera sukacita penuh ucapan syukur dan melimpah dengan buah-buah kebenaran. Kerinduan itulah yang menjadikan ibadah Peneguhan Nikah Yang Kudus diakui sebagai sakramen dalam ibadah gereja-gereja pantekosta pada umumnya.

X. Bentuk Organisasi Gereja.

Pada umumnya ada 3 bentuk organisasi gereja yang dipergunakan dewasa ini. Walaupun ada banyak pola organisasi yang tidak dapat dikelompokkan kedalam salah satu kelompok itu. Ketiga kelompok bentuk organisasi tersebut adalah:

1. Bentuk Episkopal.

Bentuk episkopal berasal dari kata ” Episkopos” (Yunani) yang berarti diperintah oleh Uskup . Pelayanan gereja dilakukan oleh para pendeta yang dikepalai oleh seorang Uskup. Misalnya, disatu wilayah yang terdiri para pendeta yang memimpin sidang jemaat, namun semua pendeta tersebut tunduk atau dibawah pengawasan satu orang Uskup. Uskup inilah yang mengangkat dan menetapkan para pendeta untuk memimpin satu sidang jemaat dalam satu kota ataupun dalam satu wilayah tertentu.

Gereja Roma Katholik menerapkan sistim ini, karena menafsir bahwa seorang Uskup lebih tinggi dari seorang pendeta. Tetapi pemakaian sistim ini oleh gereja Roma Katholik telah menyimpang dari ajaran Alkitab. Ternyata mereka menetapkan seorang Paus atau kepala atau Uskup kota Roma (Vatikan) menjadi pemimpin atas seluruh gereja Roma Katholik sedunia. Kedudukannya bukan haya menjadi pemimpin atas seluruh gereja Roma Katholik sedunia tetapi segala penetapannya atau keputusannya dianggap sederajat atau sama berwibawa dengan Firman Allah.
Dasar gereja Roma Katholik bahwa gereja berdiri didasarkan atas pengajaran para rasul (Kisah 2:42). Kepercayaan gereja Roma Katholik bahwa Paus pemimpin gereja Roma Katholik adalah pengganti atau penerus para rasul yang melayani di gereja mula-mula.

Padahal hampir semua doktrin gereja tentang pemimpin jemaat masa kini sepakat bahwa kata Episkopos (Uskup) mempunyai arti yang sama dengan kata Presbuteros (Penatua). Uskup satu istilah yang menekankan gembala jemaat sebagai seorang “penilik” atau “pengawas”. Sedangkan penatua menekankan bahwa seorang gembala sidang adalah seorang yang dewasa dan memiliki pengetahuan dan pengalaman rohani yang matang. Kata Uskup dan Penatua menekankan jenis tugas yang menjadi tanggung jawab seorang gembala jemaat.

Bentuk Episkopal merupakan bentuk organisasi gereja-gereja Lutheran, Metodis dan Roma Katholik walaupun agak berbeda hierarki otorisasi, sebab dalam sistim gereja Roma Katholik Uskup sebagai pemimpin disatu wilayah harus tunduk sepenuhnya kepada Paus di Roma. Paus adalah pemimpin tertinggi gereja.

2. Sistim Presbiterian.

Sistim organisasi dimana penerapan pimpinan jemaat dibawah pimpinan para penatua. Tingkat pimpinan ini berlaku dari tingkat nasional oleh satu badan yang terdiri dari para pendeta, di tingkat daerah juga ada badan tingkat daerah atau sinode yang terdiri dari para pendeta dengan jumlah yang telah ditetapkan. Demikian seterusnya ditingkat sidang jemaat diangkat penatua-penatua yang memimpin sidang jemaat dan diantara penatua dipilih dan ditetapkan seorang penatua sebagai pendeta yang mengkoordinasi. Tetapi biasanya pendeta yang memimpin sidang jemaat itu ditetapkan oleh Badan Tingkat Daerah atau Sinode Daerah (Semacam M.D GPdI).

Sisitim ini juga mengakui hak seluruh anggota jemaat untuk memilih para penatua dan diaken yang bertindak sebagai pelayan pembantu yang berfungsi untuk melaksanakan pekerjaan tertentu dalam sidang jemaat. Biasanya dalam menetapkan pendeta koordinasi, pimpinan jemaat tidak mengabaikan usul serta saran dari seluruh sidang jemaat setempat.

Kebanyakan gereja-gereja protestan (Calvinisme) mengikuti pola organisasi Presbyterian. Pada bagian-bagian tertentu Gereja Pantekosta juga mengikuti pola ini. Contoh: Pengangkatan dan penetapan gembala jemaat melalui penetapan Badan Pimpinan Daerah, di GPdI dikenal dengan nama Majelis Daerah untuk setiap daerah tertentu. Pola ini untuk sidang jemaat setempat mengikuti pola yang ada di Gereja mula-mula. Kebanyakan pimpinan setiap sidang jemaat pada gereja zaman rasul mengikuti pola atau sistim dipimpin oleh para penatua. Seorang dari penatua tersebut ditetapkan sebagai gembala jemaat (Filipi 1:1, Kisah 15:2, 6; 20:17, Titus 1:5, Yakobus 5:14, 1 Petrus 5:1, 1 Timotius 5:17). Sistim kepemimpinan jamak yang terdiri dari penatua-penatua (Eldership) banyak diterapkan oleh jemaat-jemaat walaupun secara murni tidak mengikuti sistim Presbyterian.

3. Sistim Kongregasional.

Dalam sistim ini kepemimpinan jemaat berada ditangan seluruh anggota sidang jemaat. Kata kongregasional berasal dari kata Inggris “Congregation” yang berarti jemaat. Mereka beranggapan dan membangun ajaran bahwa adanya sidang jemaatlah sebagai awal atau dasar sehingga adanya pemimpin sidang jemaat. Karena itu, jemaatlah yang harus memilih dan menetapkan pemimpinnya. Anggota jemaatlah yang menjadi substansi gereja, karena itu tidak boleh ada satu badan gerejani atau satu panitia tertentu yang harus mengangkat pemimpin jemaat.

Dibeberapa tempat ada jemaat kongregasional yang tidak mengangkat gembala jemaat tetapi mereka dilayani oleh tua-tua jemaat untuk memimpin ibadah, sakramen semua liturgi gerejani secara bergantian dalam waktu tertentu. Tetapi hal tersebut atau pola ini sangat merugikan rohani sidang jemaat. Sebab kebanyakan tua-tua jemaat hanya memberi paruh waktu (part time) dan itu tidak membawa jemaat kedalam pertumbuhan rohani yang diharapkan.

Pola kongregasional mengikuti pola gereja mula-mula. Dimana tidak ada badan yang mengendalikan atau memerintah atas gereja, terkecuali rasul-rasul yang menetapkan pemimpin sidang jemaat. Ajaran kongregasional tidak melihat bahwa adanya pelayanan para rasul yang dapat disamakan rasul-rasul gereja mula-mula. Karena itu, seluruh jemaatlah yang mempunyai kuasa dan berhak mengangkat pemimpin jemaat atau gembala jemaat.

Pola ini dilakukan oleh gereja-gereja baptis, gereja kongregasional, sebagian gereja-gereja aliran pantekosta serta gereja independen lainnya. Dalam prakteknya bahwa pola kongregasional tidak menolak persekutuan dengan gereja-gereja lainnya, asalkan persekutuan itu tidak sampai mengganggu kedaulatan seluruh anggota jemaat dalam menentukan dan menemukan pola ibadah mereka sendiri.

Bisanya, dalam gereja-gereja menganut pola kongregasional sangat sukar mencari kesatuan ajaran. Hal tersebut disebabkan bahwa pimpinan jemaat tidak dibawah otoritas satu badan gereja yang membawahi gereja-gereja. Gembala jemaat tidak ada kewajiban bertanggung jawab secara penuh kepada satu lembaga diatasnya. Gembala jemaat hanya mengabdi dan mendengar kepada suara jemaat yang telah mengangkatnya. Apabila terjadi persekutuan dengan gereja-gereja lainnya maka sifatnya tidak mengikat.

4. Tidak ada pola organisasi yang sempurna dan Alkitabiah.

Mempelajari ketiga bentuk umum organisasi dari gereja-gereja dewasa ini, kebanyakan bentuk-bentuk dari organisasi itu telah mengalami penyesuaian dengan sifat dan kondisi serta ajaran yang dianut oleh setiap gereja. Tidak ada satupun dari ketiga mode organisasi tersebut yang seratus persen mengikuti pola Alkitab. Tetapi pola organisasi gereja mula-mula begitu banyak model dan bentuknya telah tersirat dalam ketiga bentuk umum tersebut.
Kita harus mengingat bahwa gereja mula-mula merupakan kelompok yang tidak diterima oleh tata krama adat istiadat Yahudi yang berorientasi pada hukum taurat.

Demikian pula sistim ketatanegaraan dibawah pemerintahan Romawi melihat kelompok gereja sebagai satu kelompok yang mempunyai kedaulatan rohani yang berbahaya bagi orientasi politik kerajaan Romawi. Hal-hal tersebut telah mengakibatkan keuntungan rohani gereja mula-mula, sebab berada sepenuhnya dibawah kedaulatan Roh Kudus melalui pengaturan para rasul. Pengaturan gereja pada zaman para rasul merupakan perwujudan organisme yaitu kehendak Allah melalui Roh Kudus. Karena itu, melimpah dengan pernyataan supranatural kedaulatan Allah.

Organisasi gereja-gereja masa kini tidak dapat terlepas dari iklim dan kondisi sosial budaya dimana gereja itu berada. Semua gereja-gereja masa kini adalah badan hukum dimana kehidupan berorganisasi selalu berupaya untuk mengikuti pola Alkitabiah, tetapi jelas tidak dapat terlepas dari unsur pragmatisme kondisi sosial budaya dimana organisasi itu berada. Namun, bagaimanapun juga gereja harus berkeyakinan tentang suatu ketika diwaktu yang akan datang bahwa Yesus Kristus melalui peranan Roh Kudus dapat kembali mengambil alih kepemimpinan gerejaNya. Gereja bukanlah organisasi lembaga hukum, tetapi tubuh Kristus sebagai organisme yang hidup oleh Roh Kudus milik Kepala yaitu, Tuhan Yesus Kristus.

[END] @2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).

Author :

Related Post

Comments are closed.