1

Doktrin tentang Malaikat – Angelogy

Malaikat – Angelogy

dilihat: 1268 kali

BAB I: KEBERADAAN MALAIKAT.

Memang harus diakui bahwa ayat-ayat referensi tentang malaikat dalam Alkitab hanya sedikit. Hanya sekitar 300 ayat referensi dalam seluruh Alkitab, bila dibandingkan dengan nama Yehovah, misalnya, yang disebut lebih dari 6.000 dalam kitab Perjanjian Lama. Walaupun demikian, tidak ada alasan bagi manusia untuk, pertama, menolak mengakui adanya malaikat, dengan alasan skeptis, seperti kaum Saduki dan Liberal. Kedua, tidak dapat membuktikan secara pasti keberadaan dan status malaikat sehingga manusia disesatkan dan menyembah malaikat-malaikat itu. Dari informasi yang diberikan Alkitab tentang malaikat, dapatlah kita lebih memahami betapa hebat kedaulatan Allah.

1. Asal dan arti kata malaikat.

Kata “malaikat” dalam bahasa Ibrani disebut “malak” dan dalam bahasa Grika disebut “anggelos”, yang berarti: messenger, agent-utusan/pembawa berita; perantara. Dalam bahasa Inggris, malaikat ditulis dengan kata “angel”. Jadi kata “malaikat” berasal dari bahasa-bahasa semit yang diserap dari bahasa Grika.

Kata “utusan/pembawa berita” haruslah dipahami dari konteks sejarah. Pada zaman dulu, dimana komunikasi masih sulit, jarak yang cukup dekat untuk zaman sekarang harus ditempuh selama berbulan-bulan, lihat Kejadian 24 dan Yoshua 9, maka peran seorang “utusan/pembawa berita” sangat besar artinya. Seorang pembawa berita adalah seorang yang sangat dipercaya oleh tuannya dan tidak akan berbicara selain apa yang dikatakan oleh tuannya. Pada pihak lain, seorang utusan yang membawa sabda dari seorang raja, akan disambut dengan penuh hormat oleh para kawula kerajaan, karena sabda yang dibawa oleh utusan tersebut.

Tidak heran bila Yohanes sampai menyembah malaikat yang membawa berita dari Allah baginya, Wahyu 19:10; 22:8-9. Tidak heran pula bila malaikat Gabriel sampai marah kepada Zakharia, karena ia tidak percaya kepada berita yang dibawa oleh Gabriel. Dengan wibawa ilahi, Gabriel mampu menghukum Zakharia menjadi bisu sampai semua itu terjadi, Lukas 1:20. Bahkan raja sebesar dan seagung Nebukadnezar pun, harus mengakui kebenaran kata-kata dari “sang utusan”, bahkan harus mengalami sendiri kewibawaan Allah melalui “sang utusan”, Daniel 4 (NIV). Allah sebagai raja diatas segala raja, tidak perlu turun tangan langsung, cukup melalui utusan-Nya saja. Betapa agungnya sang raja yang mengutus malaikat itu. Puji Tuhan.

2. Beberapa kata atau istilah lain yang diartikan atau berkaitan dengan malaikat.

Selain kata yang umum dikenal yakni “malaikat”, untuk “utusan/pembawa berita Allah”, dipakai juga beberapa istilah lain. Istilah-istilah itu sebenarnya lebih berarti sebagai gelar yang mengungkapkan berbagai aspek sifat, penampilan atau tugas yang ada pada malaikat itu. Untuk memahami istilah-istilah itu dibutuhkan referensi dan pemahaman prinsip-prinsip penting Alkitabiah. Sehingga istilah-istilah itu justru lebih mewakili maksud dan tujuan pemakaiannya. Dari bervariasinya istilah yang dipakai untuk pengertian malaikat, dapat dilihat betapa kayanya nuansa bahasa Alkitab itu.

2.1. Penjaga atau pengintai – Watcher, Daniel 4:13-23; Yesaya 62:6.

Malaikat-malaikat itu bertugas untuk berjaga-jaga, siang dan malam, untuk mengawasi apakah perintah atau ketetapan Allah tetap berlangsung sesuai dengan kehendak Allah. Jadi kata penjaga atau pengintai menunjuk kepada tugas utama malaikat sebagai penjaga berlangsungnya segala perintah Allah dengan benar.

2.2 Anak-anak yang perkasa – Sons of mighty, Mazmur 89:6 (KJV).

Malaikat sebenarnya adalah mahkluk perkasa, keperkasaan mereka melebihi manusia perkasa manapun juga. Sebagai contoh, Matius 28:2, malaikat Tuhan dengan mudah memindahkan batu penutup pintu kubur Yesus yang beratnya berton-ton. Beberapa istilah tentang keperkasaan malaikat, perkasa-mighty, Mazmur 29:1 (KJV). Kumpulan orang perkasa-congregation of the mighty, Mazmur 82:1 (KJV), orang-orang perkasa-mighty ones, Yesaya 13:3 (KJV).

2.3 Anak-anak Allah – Sons of God, Ayub 1:6; 2:1; 38:7.

Bila kita memahami situasi penciptaan, maka istilah “Bapa” untuk Allah berarti sumber segala sesuatu. Adam disebut anak Allah, Lukas 3:38, karena Adam dicipta oleh Allah. Sebagai mahkluk ciptaan gelar “anak Allah” bagi Adam adalah suatu kehormatan. Demikian juga dengan malaikat-malaikat ciptaan Allah itu, gelar “anak-anak Allah merupakan gelar kehormatan bagi mereka”. Gelar tersebut wajar untuk mereka karena merekalah mahkluk kudus berakal budi yang terlebih dahulu diciptakan. Kelak istilah “anak Allah” diberikan kepada orang yang lahir baru dalam Tuhan. Sebagaimana ada dua keturunan Abraham, yakni keturunan jasmani dan keturunan rohani yang mewarisi iman Abraham, demikian juga dengan anak-anak Allah. Anak-anak Allah secara jasmani adalah malaikat-malaikat dan Adam. Sedangkan anak-anak Allah secara rohani adalah orang percaya yang lahir baru.

2.4 Allah-allah – Elohim, Mazmur 8:5-6; 97:7.

Seharusnya kata Elohim kata Mazmur 8:6 diterjemahkan menjadi “allah-allah”, bukan kata “Allah”. Sehingga terjemahannya menjadi: “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama dengan “allah-allah”. Jadi istilah Elohim untuk para malaikat itu berarti “allah-allah”. Gelar “allah-allah” diberikan kepada malaikat-malaikat karena Allah sering menampakkan diri dalam rupa malaikat.

2.5 Orang-orang kudus – Saints, Ulangan 33:2; Daniel 4:13-23; Yudas 1:14.

Selain untuk manusia, istilah ini juga dipakai untuk malaikat.

2.6 Api yang menyala-nyala, Mazmur 104:4; Ibrani 12:18.

Api adalah simbol kekudusan Allah. Bila malaikat digambarkan sebagai api yang menyala-nyala, hal itu disebabkan karena kekudusan Allah yang senantiasa menyertai mereka.

2.7 Bala tentara Allah, 1 Raja-raja 22:19; II Raja-raja 6:17; Nehemiah 9:6; Mazmur 33:6; 103:21; Daniel 7:10; Lukas 2:13.

Malaikat memang merupakan “pasukan tentara sorgawi”. Yesuspun mengatakannya, Matius 26:53.

2.8 Pemimpin-pemimpin, Daniel 10:13, 20-21; 12:1.

Dalam konteks kitab Daniel yang berbicara mengenai nubuat tentang bangsa-bangsa dunia, malaikat digambarkan sebagai pemimpin bangsa. Boleh dikata, setiap bangsa dipimpin oleh seorang malaikat. Disebutkan bahwa bangsa Israel “dipimpin” oleh Mikhael. Bila Mikhael, yang artinya “siapakah yang seperti Allah”, menjadi pemimpin umat Allah, maka setan adalah pemimpin bahkan penguasa dunia, Yohanes 12:31; 14:30; 16:11; Efesus 2:2; 1 Yohanes 5:19. Pada zaman Daniel pasal 10, dunia dikuasai oleh kerajaan Persia. Itulah sebabnya, Lucifer, si setan digambarkan sebagai pemimpin kerajaan Persia, Daniel 10:13a. Kerajaan Persia membawahi begitu banyak raja-raja taklukan, itulah gambaran setan dan bawahan-bawahannya, Efesus 2:2; 6:12. Kelak bila pemimpin kerajaan dunia beralih kepada Yunani maka setan akan muncul sebagai “pemimpin Yunani”, Daniel 10:20.

2.9 Bintang-bintang pagi, Ayub 38:7; Yesaya 12:12-14.

Malaikat-malaikat digambarkan sebagai bintang-bintang yang bercahaya. Lucifer digambarkan sebagai bintang fajar, sebelum ia jatuh. Kemudian lucifer digambarkan sebagai bintang jatuh pada saat kejatuhannya. Gelar “bintang” bukan hanya diberikan kepada malaikat-malaikat. Tapi Allah juga memberikannya bagi orang-orang percaya, Kejadian 15:5; Wahyu 1:20.

2.10 Tahta-tahta; Kerajaan-kerajaan; Penguasa-penguasa, Kolose 1:16; Roma 8:38; Efesus 1:21; 3:10; 1 Petrus 3:22.

Dipakainya gelar-gelar kepemerintahan dalam ayat-ayat ini menunjukkan adanya hirarki atau strata yang rapi dan jelas dalam dunia malaikat. Hal ini juga jelas terlihat ketika si setan mengatur sistem pemerintahan kerajaan kegelapannya, Efesus 6:12.

2.11 Roh-roh yang melayani, Ibrani 1:13-14; Mazmur 103:21.

Malaikat-malaikat adalah pelayan-pelayan yang harus melaksanakan perintah Allah. Malaikat-malaikat adalah roh-roh yang melayani Allah, dalam arti bukan menjadi pengantara (Juru Syafaat) antara manusia dan Allah. Hanya Yesus Kristus-lah pengantara itu, 1 Timotius 2:5; Yohanes 14:1, 6.

2.12 Pilihan, 1 Timotius 5:21.

Istilah “malaikat-malaikat pilihan” kemudian dikenakan kepada malaikat-malaikat yang oleh kehendak bebasnya sendiri tidak mau mengikuti setan. Malaikat-malaikat yang mengikuti setan dan jatuh ke bumi, terbuang karena pilihan mereka sendiri untuk memberontak kepada Allah, II Petrus 2:4; Yudas 1:6. Yesus Kristus dan orang-orang percaya juga disebut pilihan Allah, Matius 24:22, 24, 31; Markus 13:20, 22, 27; Lukas 18:7.

2.13 Hamba, Wahyu 19:10; 22:9.

Malaikat pilihan itu sendiri yang menyebut diri mereka sebagai “hamba”. Berarti hanya Yesus Kristus, sang Tuan, yang layak disembah.

3. Kata “malaikat” yang dipakai bukan untuk para malaikat.

Menarik untuk disimak bahwa, kata malaikat itu sendiri sekali-sekali dalam Alkitab dipakai bukan untuk para malaikat itu sendiri. Hal ini dapat dipahami lewat arti katanya sendiri, yakni: “Utusan”. Sudah pasti bila kata malaikat itu dipakai untuk menunjuknya sebagai utusan, walaupun ia bukan malaikat, pastilah orang itu adalah utusan Allah yang istimewa. Untuk memahami bilamana kata “malaikat” itu ditujukan kepada pribadi yang lain, kontekslah yang amat menentukan.

3.1 Malaikat Tuhan – malaikat Yehovah.

Dalam kitab Perjanjian Lama sering dijumpai istilah ini. Isitilah ini tidak menunjuk kepada malaikat, melainkan pada dua hal yang amat penting bagi manusia, yakni Theophany dan Christhopany (lihat uraian tentang itu).

3.2 Malaikat Perjanjian, Matius 3:1.

Istilah ini sebenarnya ditujukan kepada Yesus Kristus sebelum ia berinkarnasi ke dalam dunia (lihat uraian tentang hal itu).

3.3 Malaikat Jemaat, Wahyu 2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14.

Istilah ini hanya ada dalam kitab Wahyu. Tetapi bila diingat bahwa oleh Yakub, Allah digambarkan sebagai “malaikat Gembala”, Kejadian 48:15-16 (lihat juga pandangan Daud dalam Mazmur 23), maka jelas sekali betapa pentingnya peranan seorang Gembala Jemaat. Nampaknya istilah “malaikat jemaat” dalam kitab Wahyu itu menggambarkan peran istimewa seorang gembala jemaat.

4. Seraphim dan Kherubim.

Memang jelas sekali bahwa semua hal dalam alam roh diungkapkan dengan jelas kepada manusia, lewat Alkitab. Berikut akan dijelaskan tentang Seraphim dan Kherubim.

4.1 Seraphim.

Mahkluk roh yang bernama Seraphim hanya muncul satu kali dalam Alkitab, yakni dalam penglihatan Yesaya, Yesaya 6:1-7. Gambaran tentang Seraphim ini adalah sebagai berikut:

* Sebentuk mahkluk roh dalam jumlah jamak, berdiri di bagian atas tahta Allah. Kata Tuhan ditulis dalam ADONAI, bukan YEHOVAH (ayat 1-2).

* Mahkluk ini mempunyai enam sayap (tiga pasang).

* Satu pasang sayap untuk menutupi wajahnya, satu pasang untuk menutupi kakinya, satu pasang untuk terbang (ayat 2).

* Mahkluk ini mempunyai wajah (ayat 2), tidak dijelaskan bagaimana bentuk kakinya.

* Mahkluk ini mempunyai tubuh kesimpulan logis dari adanya kaki dan wajah.

* Mahkluk ini berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya melalui bahasa lisan (ayat 3-4). Bahkan mereka juga satu kelompok pemuji Allah.

* Mahkluk ini mempunyai tangan (ayat 6), yang nampaknya berfungsi seperti tangan manusia.

* Salah satu mahkluk ini berkomunikasi dengan Yesaya (ayat 6-7), mengambil bara dari mezbah dengan penjepit bara, lalu datang menyentuhkannya ke bibir dan berbicara kepada Yesaya.

Seraphim berasal dari kata Ibrani “saraph”, yang berarti menyala-nyala. Melalui konteksnya nampak arti kata ini erat kaitannya dengan kekudusan Allah. Bukankah Allah itu adalah api yang menghanguskan, Ibrani 12:29; Keluaran 24:17. Nampak bahwa dalam hadirat Allah seperti inilah Yesaya menyadari kenajisan mulutnya dan butuh kekudusan dari Allah.

Dalam Yohanes 12:39-41, Tuhan Yesus menegaskan bahwa Yesaya telah melihat Dia. Maksudnya, penglihatan Yesaya dalam Yesaya 6 itu, adalah penglihatan tentang Yesus. Dalam Yesaya 6:1-2 ditulis: “Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan (ADONAI, bukan YEHOVAH) duduk di atas tahta . . . Para Seraphim berdiri disebelah atas tahtaNya”. Bila nama Allah itu disimak, maka Allah Bapa itu namanya YEHOVAH yang diterjemahkan dalam kata TUHAN (Lord – bahasa Inggris). Sehingga dalam kitab perjanjian lama, Allah Bapa sering disebut Tuhan Allah – YEHOVAH ELOHIM. Karena nama YEHOVAH (TUHAN, LORD) itu amat kudus bagi orang Israel maka nama itu sering disebut ADONAI, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Tuhan. Tetapi ternyata kelak dalam kitab perjanjian baru, kata Tuhan – KURIOS, yang menunjuk kepada Tuhan Yesus, tepat sekali bila diterjemahkan dengan kata ADONAI. Jadi, bila dalam Yesaya 6:1, Yesaya berkata :” . . ., aku melihat ADONAI . . .”, sebenarnya Yesaya telah melihat Tuhan Yesus, Yohanes 12:41.
Disebelah atas tahta ADONAI (KORIUS – bahasa Grika) berdiri para Seraphim, Yesaya 6:2. Bila disimpulkan maka Seraphim adalah malaikat-malaikat yang melayani Tuhan Yesus Kristus, lihat Matius 4:11; 26:53; Markus 1:13.

4.2 Kherubim.

Mahkluk roh yang disebut dengan nama Kherub (bentuk tunggal), Kherubim (bentuk jamak), lebih sulit dipelajari tetapi mempunyai cukup banyak informasi. Di Alkitab kata Kherub ditulis 25 kali sedangkan kata kherubim ditulis 65 kali, jadi seluruhnya sebanyak 90 kali. Dari 90 kali tertulis dalam Alkitab, hanya satu kali dalam kitab perjanjian baru, sedangkan dalam kitab perjanjian lama ditulis 89 kali.

Memang sulit untuk memberi penafsiran tentang kherubim ini, arti katanya sulit untuk dipahami. Gesenim, ahli bahasa Semit, penulis Lexikon yang terkenal, mencatat empat arti kata kherubim, yaitu: perkasa, kuat ia yang dekat kepada Allah; pelayan-pelayanNya; ia yang diakui dihadapanNya. Sulit untuk menafsirkan apa atau mahkluk apa kherubim itu. Terdapat banyak tafsiran tentang kherub.

Kevin J. Conner menulis bahwa para ahli menafsir dalam tiga kelompok yaitu:
(1). Kherubim adalah malaikat-malaikat.
(2). Kherubim erat kaitannya dengan ke-Allah-an, mewakili atau lambang dari berkat ke-Allah-an.
(3). Kherubim adalah orang-orang kudus.

Setelah meneliti ayat-ayat tentang kherubim, maka nampaknya penafsirannya harus dibagi dalam beberapa bagian, yakni:
(a). Kherubim dalam Kejadian pasal 3 dan Yehezkiel pasal 28.
(b). Kherubim dalam kitab Keluaran sampai Yesaya, termasuk yang ada dalam kitab Ibrani.
(c). Kherubim yang ada dalam Yehezkiel pasal 1,9,10 yang ada kaitannya dengan Wahyu 5 dan 6
(d). Kherubim yang ada dalam Yehezkiel pasal 41.

Dari pembagian ini akhirnya dapat disimpulkan apa atau siapakah Kherubim itu.

a. Kherubim dalam Kejadian 3:24 dan Yehezkiel 28:14, 16.

Nampaknya, penerjemah Alkitab terjemahan baru kurang tepat menerjemahkan Yehezkiel 28:14, 16. Versi terjemahan bode dan beberapa versi terjemahan bahasa Inggris, yang lebih tepat, menulis, yaitu: “Engkaulah menaungi . . . (bode), -Thou art the anointed cherub that covereth . . . (KJV). Para ahli Alkitab seperti Schofield, Dake, dan Ryrie menafsirkan bahwa Yesaya 28:11-19 itu sebenarnya merupakan analogi untuk lucifer yang memberontak terhadap Allah, kemudian dibuang dan dikenal sebagai setan. Jadi sebelum kejatuhannya lucifer adalah salah satu kherubim. Sebelum lucifer jatuh, ia pernah datang ke Eden. Setelah jatuh dan berubah status menjadi setan, ia masuk ke Eden, sebagai ular untuk menjatuhkan manusia ke dalam dosa, setelah manusia diusir dari taman Eden, Allah menempatkan beberapa kherubim, dengan pedang bernyala, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan, Kejadian 3:24. Kesimpulannya, yaitu: kherubim adalah malaikat-malaikat yang mempunyai kedudukan tinggi. Tentunya dengan tugas dan wewenang istimewa dari Allah.

b. Kherubim dalam kitab Keluaran sampai Yesaya dan Ibrani.

Kherub disini, disulam dalam kain atau dibentuk dalam rupa patung kecil atau besar, yang dipakai dalam kemah sembahyang dan kaabah Allah, bentuk dan penampilannya sebagai berikut:

* Kherub itu mempunyai 2 (1 pasang) sayap yang dapat dikembangkan atau ditutup, Keluaran 25:18-22; 37:9; 1 Raja-raja 6:23-27; 8:6-7; 1 Tawarikh 28:18; II Tawarikh 3:11-13; 5:7-8.

* Kherub itu mempunyai wajah, Keluaran 25:20; yang ada disini adalah wajah manusia; Keluaran 37:9.

* Kherub itu mempunyai tubuh, dalam bentuk manusia, 1 Raja-raja 6:25.

* Kherub itu mempunyai kaki, dalam bentuk manusia, II Tawarikh 3:13.

* Kherub itu pasti “memakai jubah” (tidak dalam bentuk telanjang), karena erat kaitannya dengan hal-hal yang kudus, Keluaran 28-29, 39; Imamat 6:10cf.

Dari gambaran yang dideskripsikan disini, maka kherubim mempunyai sosok manusia. Karena dibuat oleh para ahli, ditambah dengan dua buah sayap yang indah, maka sosoknya pasti anggun.

Kherubim yang ada di kemah sembahyang itu agak sulit ditafsirkan siapa mereka. Hal itu disebabkan karena, kherub disini dipakai di tiga bagian kemah sembahyang, yaitu:
(1) Dua buah kherubim yang saling berhadapan di atas tutup pendamaian, Keluaran 25:17-22; 37:6-9.
(2) Gambar tenunan pada sepuluh kain tenda kemah suci, Keluaran 26:1; 36:6.
(3) Gambar tenunan pada tirai pemisah antara ruang suci dan ruang maha suci, Keluaran 26:31; 3:35.

Kherubim pada tirai ini dalam bentuk jamak, walaupun tidak disebutkan berapa jumlahnya, satu hal yang harus diperhatikan, bahwa kepada Musa telah diperlihatkan pola Tabernakel, Keluaran 25:9, 40; Ibrani 8:5. Sehingga kherubim yang terdapat pada tiga bagian kemah itu pasti sesuai dengan pola yang diperlihatkan Allah kepada Musa diatas gunung Sinai.

Masih ada lagi dua patung kherubim besar dari kayu minyak yang menaungi tabut perjanjian dalam kaabah Salomo, 1 Raja-raja 6:23-35; 8:6-7; II Tawarikh 3:8-13; II Tawarikh 5:7-8. Kherubim pada tirai pemisah ruang kudus dan ruang maha kudus, 1 Raja-raja 6:32, 35. Kherubim pada dinding luar dan dinding dalam bangunan utama kaabah, 1 Raja-raja 6:29; II Tawarikh 3:7. Kherubim pada pintu penutup kereta untuk menopang laut, 1 Raja-raja 7:29, 36. Sudah pasti bentuk kherubim itu sama dengan yang ada pada kemah sembahyang.

Tafsirannya: Berdasarkan deskripsi diatas, maka dapat ditafsirkan bahwa ada dua kelompok kherubim.

Pertama : Kelompok kherubim yang ada dalam ruang maha kudus, kherubim tersebut adalah Theopany Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, ingat istilah malaikat YEHOVAH yang sering tertulis dalam kitab perjanjian lama. W.H. Offiler dalam buku “Allah dan NamaNya” menafsirkan bahwa kedua kherubim yang ada pada tutup pendamaian adalah Theopany Bapa dan Roh Kudus. Jeff dan Annete Harvey dalam buku “Tabernakel Musa” juga berpendapat sama. W.H. Offiler menafsir bahwa dua gambar kherub yang disulam pada tirai pemisah antara ruang suci dan ruang maha suci adalah Theopany Bapa dan Roh Kudus, sedang tirai itu adalah Kristus, Ibrani 10:20. Prinsip Trinitas itupun dapat diterapkan pada dua kherub besar yang menaungi tabut perjanjian dalam ruang maha suci di kaabah Salomo, juga terdapat dua kherub pada pintu masuk ke dalam ruang maha suci.

Kedua : Kelompok kherub yang ada pada bagian-bagian lain kemah sembahyang dan kaabah Salomo. Kherubim ini adalah malaikat-malaikat tingkat tinggi, seperti dalam Kejadian 3:24. Alasannya yaitu, kherubim ini tidak dalam posisi Trinitas, jumlahnya banyak.

c. Kherubim dalam kitab Yehezkiel pasal 1,9,10 dan 11.

Sebenarnya, penglihatan Yehezkiel akan kemuliaan Tuhan dan mahkluk-mahkluk hidup yang menyertai-Nya, Yehezkiel 1, tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa mahkluk-mahkluk itu adalah kherubim. Nanti dalam Yehezkiel 10:20, nabi itu mengerti bahwa mahkluk-mahkluk hidup itu adalah kherubim. Bentuk dan penampilan mereka adalah sebagai berikut:

Yehezkiel pasal 1:

* Menyerupai manusia, dengan empat muka (ayat 5-6), empat muka tersebut, ayat 10 adalah :
* Muka manusia, di bagian depan.
* Muka singa di bagian kanan
* Muka lembu di bagian kiri
* Muka rajawali di bagaian belakang .

* Mempunyai 4 (2 pasang) sayap (ayat 6); sepasang sayap untuk dikembangkan, sepasang saya untuk menutupi muka mereka (ayat 11:23); terbang seperti kilat (ayat 14); suara sayap itu dahsyat kedengarannya ketika mereka terbang; bila berhenti sayap itu terkulai (ayat 24-25).

* Kaki lurus, mengkilat seperti tembaga digosok dan tapak kaki seperti kuku anak lembu (ayat 7).

* Mempunyai tangan manusia (ayat 8).

* Cara berjalan atau bergerak yang unik (ayat 12); tidak menggerakkan kaki, karena kaki lurus (ayat 7); dapat bergerak dengan leluasa ke arah mana Roh itu hendak pergi (ayat 15,16,19,20); bila hendak berubah arah mereka tidak mengubah posisi badan sebab mempunyai muka yang menghadap keempat jurusan (ayat 17).

* Ditengah-tengah mereka ada seperti bara api (ayat 13).

* Diatas kepala mereka ada seperti cakrawala, yang diatas mereka ada yang menyerupai tahta, diatas tahta tersebut ada yang seperti rupa manusia (ayat 22, 25-26); Yehezkiel 9.

* Kemuliaan Allah Israel terangkat dari atas kherubim (ayat 3, 10:4); Yehezkiel 10.

* Tahta Allah diatas kepala kherubim (ayat 1, 11:22).

* Dibawah kherubim, diantara roda-roda ada bara api (ayat 2, 3, 6-7).

* Suara sayap kherubim itu dahsyat (ayat 5).

* Tangan kherub menyerupai tangan manusia (ayat 7-8, 21).

* Disamping setiap kherub ada roda untuk berjalan atau bergerak. Roda itu bergerak sesuai gerak kherub (ayat 9-11, 17, 19).

* Kherub mempunyai badan, punggung, tangan yang penuh mata (ayat 12).

* Mempunyai empat muka (ayat 14-15).

* Mempunyai 4 buah (2 pasang) sayap (ayat 21).

* Sayap kherub adalah untuk terbang (ayat 16, 19, 11:22).

Dalam Yehezkiel 8:1 dan 9:8, jelas diungkapkan bahwa ini adalah penglihatan Yehezkiel tentang Tuhan Allah (Lord, God-KJV). Dalam bahasa aslinya istilah ini ditulis dengan kata ADONAI YEHOVAH. Bode menerjemahkannya menjadi “Tuhan Hua”, yang maksudnya adalah “Tuhan YEHOVAH” atau “Tuhan TUHAN”, memang isitlah “Tuhan TUHAN” asing bagi telinga kita, sehingga diciptakan suatu istilah menurut terjemahan baru yakni: “Tuhan ALLAH”, yang pasti berbeda dengan istilah “Tuhan Allah”, Kejadian 2:4. Jadi jelas bahwa penglihatan Yehezkiel itu adalah tentang Allah Bapa yang kemuliaanNya bertahta di atas sejumlah kherub.

Tafsirannya:
Sudah pasti bahwa kherubim ini adalah malaikat-malaikat khusus yang melayani Bapa. Bila kemudian kherubim ini dikaitkan dengan makhluk-makhluk yang ada dalam Wahyu 4 dan 5, yang penampilannya merupakan gabungan dari seraphim dan kherub. Apapun juga makhluk “tak bernama” itu tetaplah mereka merupakan roh-roh ciptaan yang melayani Allah secara khusus.

d. Kherubim dalam Yehezkiel 41.

Deskripsi tentang kherub dalam ayat 18-20, 25 begitu singkat. Tidak disebutkan berapa buah sayapnya, bentuk tubuh, kaki atau tangan. Hanya yang disebutkan adalah dua buah wajah, yang satu berbentuk manusia dan yang lain berbentuk singa.

Tafsirannya :
Meskipun sulit menafsir sesuatu yang informasinya begitu singkat, tetapi masih ada patokan umum yang dapat menjadi pegangan. Walaupun bait Allah Yehezkiel itu bukanlah Bait Allah fisikal, seperti kaabah Salomo, tetapi prinsipnya tetap sama. Jadi, prinsip penafsiran yang diterapkan untuk menafsir kherub dalam Tabernakel Musa dan kaabah Salomo, juga dapat menjadi prinsip untuk menafsir kherub dalam Bait Allah Yehezkiel itu.

5. Keberadaan malaikat. Setelah asal dan arti kata malaikat sudah diuraikan, kini akan dibahas tentang keberadaan malaikat.

5.1. Malaikat adalah mahkluk ciptaan.

Alkitab mengajarkan bahwa malaikat-malaikat adalah makhluk-makhluk yang diciptakan, Mazmur 148:2, 5; Kolose 1:16; Wahyu 4:11. Hanya Alkitab yang dapat menjadi patokan tentang bentuk atau penampilan malaikat, sesuai dengan deskripsi yang tercatat dalam Alkitab. Segala sesuatu diciptakan oleh sang Firman yang adalah Yesus sendiri, Yohanes 1:1-3; Kolose 1:16; Wahyu 4:11. Jadi malaikat-malaikat juga diciptakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Memang Alkitab tidak mencatat dengan pasti kapan para malaikat diciptakan. Tetapi kalau malaikat-malaikat itu hadir pada waktu penciptaan dunia, Ayub 37:7cf; lihat juga Yehezkiel 28:13, sudah dapat diketahui bahwa para malaikat itu sudah ada sebelum dunia diciptakan.

5.2 Malaikat adalah mahkluk roh.

Dengan tegas Alkitab mencatat bahwa malaikat-malaikat adalah roh-roh ciptaan, Mazmur 104:4; Ibrani 1:14. Alkitab juga mencatat adanya tubuh rohani, 1 Korintus 15:40, 44. Jadi para malaikat adalah makhluk roh yang mempunyai “bentuk rohani”. Sebenarnya, pemahaman makhluk roh bagi manusia mempunyai konotasi seperti gas, tak berbentuk. Karena dengan tegas Alkitab mencatat adanya “tubuh rohani”, maka walaupun mereka makhluk roh, mereka mempunyai bentuk tertentu.
Dalam bentuk tertentu itu, mereka dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia, Ibrani 13:2. Pada umumnya penampakkan malaikat dalam bentuk seorang pria, Kejadian 32:24; Matius 28:5; Markus 16:5-6; Lukas 24:4; Kisah Para Rasul 1:10. Mungkin juga penampakkan mereka seperti wanita, Zakaria 5:9.

5.3 Malaikat lebih mulia daripada manusia.

Alkitab mencatat bahwa pada awal penciptaan malaikat, lebih mulia daripada manusia, Mazmur 8:6cf, Ibrani 2:7cf. Menurut kodrat penciptaannya mereka adalah makhluk roh dan lebih kuat dari manusia manapun. Tetapi keadaan ini hanya sementara, karena ketika manusia percaya kepada penebusan darah Yesus, lahir baru, maka kelak ia akan menjadi seperti Yesus Kristus, lebih tinggi derajatnya dari malaikat.

5.4 Malaikat berkepribadian.

Sebagai makhluk yang mulia, malaikat mempunyai kepribadian. Jelas bahwa manusia mempunyai keinginan, 1 Petrus 1:12, Yudas 1:6; mempunyai perasaan, Lukas 1:10; mempunyai pikiran, Yesaya 12:14cf; Yudas 1:9; Lukas 1:19 cf; 1:35cf. Malaikat yang derajatnya lebih tinggi dari manusia adalah makhluk kudus yang agung, dengan kepribadian yang agung pula, Ayub 38:7; Wahyu 19:10; 28:8. Hanya saja sebagai hamba, maka Alkitab memang mengutamakan Allah dalam segala hal, sehingga kepribadian para malaikat hanyalah pelengkap tambahan dalam pernyataan khusus itu.

5.5 Malaikat tidak dapat mati.

Salah satu keistimewaan malaikat adalah mereka tidak mengalami kematian fisikal, Lukas 20:36. Sebagai makhluk roh, mereka tidak mempunyai tubuh alamiah. Para malaikat yang berdosa mengalami kematian rohani, Yesaya 14:15, II Petrus 2:4; Yudas 1:5; Wahyu 20:1-3. Dan kelak akan mengalami kematian kekal, Wahyu 19:20; 20:10, 14-15.

5.6 Malaikat tidak kawin-mawin, Matius 22:30; Markus 12:25; Lukas 20:35cf.

Walaupun ada orang yang menafsirkan bahwa malaikat dapat bersetubuh dengan manusia, seperti penafsiran mereka terhadap Kejadian 6:2cf, tapi ayat-ayat di atas menegaskan bahwa malaikat tidak kawin-mawin. Hanya mahkluk biologis alamiah yang ditakdirkan untuk kawin-mawin (bersetubuh), sebab dengan cara ini mereka berkembangbiak. Jadi sebagai makhluk roh malaikat tidak bertambah karena kelahiran.

6. Persamaan dan Perbedaan antara malaikat dan manusia.

Pokok yang satu ini merupakan hal yang jarang dibahas, tetapi penting untuk diketahui karena mempunyai banyak manfaat. Antara lain, menambah pemahaman kita tentang mengapa Alkitab melarang manusia menyembah malaikat.

6.1. Persamaan.

Sukar untuk mencari persamaan antara manusia dan malaikat. Kalaupun ada, hanyalah pada hal-hal yang abstrak, yaitu:

a. Kehidupan keduanya berasal dari Allah.
b. Keduanya adalah makhluk yang berkepribadian.
c. Keduanya berakal budi.
d. Keduanya adalah makhluk yang berkehendak bebas dan dapat jatuh ke dalam dosa.
e. Keduanya adalah makhluk yang harus bertanggungjawab.

6.2. Perbedaan.

Perbedaan keduanya juga harus dengan teliti disimak walaupun lebih mudah ditemukan daripada persamaan. Untuk mencari perbedaannya kita harus paham tentang antropologi dan juga tentang hasil keselamatan bagi orang percaya.

a. Manusia adalah makhluk dunia dengan tubuh alami, Kejadian 2:7; 1 Korintus 15:44, 47. Malaikat adalah makhluk sorga dengan tubuh rohani.

b. Manusia mempunyai tubuh alami yang hidup oleh roh dalam kehidupan biologis, Kejadian 1:27. Tubuh alami manusia ia dapat mati, Kejadian 2:17 ataupun binasa, Kejadian 3:19. Malaikat mempunyai tubuh rohani yang hidup oleh roh dan tubuh rohani itu tidak dapat mati.

c. Manusia mempunyai tubuh alami yang mengalami pertumbuhan dan kemerosotan, Kejadian 1:28; II Korintus 4:16. Malaikat mempunyai tubuh rohani yang kekal.

d. Dalam tubuh alami itu, manusia dapat kawin dan mendapatkan keturunan. Dalam tubuh rohani itu malaikat tidak dapat kawin dan mendapat keturunan, Matius 22:30; Markus 12:25; Lukas 20:34-36.

e. Manusia adalah makhluk mulia pada awal penciptaannya. Malaikat lebih mulia dari penciptaan awal manusia.

f. Manusia dicipta serupa dengan gambar dan rupa Allah, Kejadian 1:26-27. Tidak di- deskripsikan apa-apa tentang malaikat.

g. Dosa pada manusia diwariskan lewat keturunan, Roma 5:12. Dosa pada malaikat sifatnya individual, sebab malaikat tidak berketurunan.

h. Bagi manusia ada pengampunan setelah ia berdosa, Kejadian 3:15. Bagi malaikat tidak ada pengampunan sesudah ia berdosa.

i. Dalam proses keselamatan setelah mendapatkan pengampunan dosa, bagi manusia ada kelahiran baru. Sedangkan untuk malaikat hal tersebut tidak ada.

j. Bagi manusia kelak status dan kemuliaannya akan berubah lebih tinggi atau lebih mulia, karena ia menjadi “pengantin” Yesus Kristus. Status dan kemuliaan malaikat tetap sama, tidak ada perubahan.

7. Susunan organisasi malaikat.

Sudah jelas Alkitab menunjuk tentang adanya strata kedudukan atau kekuasaan di kalangan malaikat, yaitu dengan adanya istilah “penghulu malaikat”, 1 Tesalonika 4:16; Yudas 1:9 atau istilah-istilah “singgasana”, kerajaan, pemerintah, penguasa, Kolose 1:16, hal ini didasarkan pada sifat penciptaan Allah itu sendiri yang teratur dan berjenjang. Ada lagi fakta lain dalam Alkitab, yakni para malaikat dapat “nampak” bersama-sama dengan Allah seperti mimpi Yakub, Kejadian 28:21cf dan Yohanes 1:51. Ataupun penampakan rombongan malaikat saja, Lukas 2:13. Juga Alkitab mencatat bahwa setan dan kerajaan kegelapannya juga memiliki suatu strata yang teratur, Efesus 2:2; 6:12. Kenyataan inilah yang selalu mendorong berbagai macam tafsiran tentang strata organisasi malaikat ini.

Ketidak jelasan susunan organisasi malaikat dalam Alkitab dapat dijelaskan oleh prinsip-prinsip dalam Alkitab itu sendiri, yakni: Pertama, bahwa malaikat itu hanyalah pesuruh Allah. Pusat pemberitaan Alkitab adalah pernyataan tentang Allah dan obyek utamanya adalah manusia itu sendiri. Karena bertugas sebagai hamba maka fakta tentang malaikat hanya dideskripsikan secara garis besarnya saja. Bukankah ketika Yesus digambarkan sebagai “hamba” oleh injil Markus, maka untuk seorang hamba, silsilah menjadi tidak penting. Kedua, bukankah nanti orang percaya akan lebih tinggi derajatnya dari malaikat. Itulah sebabnya dalam Alkitab tidak dideskripsikan dengan jelas susunan organisasi malaikat.

Walaupun tidak cukup penting bagi keselamatan manusia, tapi karena Allah mencipta segala sesuatu secara teratur, maka isyarat Alkitab tentang adanya strata dalam dunia malaikat memancing niat para ahli Alkitab untuk membuktikannya.Terdapat dua kelompok besar tafsiran tentang strata dunia malaikat, yaitu:

Pertama: strata malaikat dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai “The Heavenly Sanhedrin” – “Mahkamah Ilahi”.

Kedua: strata yang khusus hanya ada dalam dunia malaikat.

The Heavenly Sanhedrin adalah merupakan tradisi bangsa Yahudi. Menurut itu, “Tuhan” dikaitkan dengan “dua belas penghulu malaikat” dan “tujuh puluh” malaikat dalam mahkamah ilahi itu. Tujuh puluh malaikat itu adalah pemimpin dari tujuh puluh bangsa waktu manusia terserak sesudah menara Babel. Tradisi itu menunjuk pada analogi Alkitab tentang Yakub dengan kedua belas anaknya, dan menjadi tujuh puluh orang keturunannya ketika tiba di Mesir. Di Elim ada dua belas mata air dan tujuh puluh pokok kurma. Musa mendirikan dua belas tugu batu dan bersamanya ada tujuh puluh tua-tua Israel. Masih ada lagi beberapa analogi, yang mungkin masih erat dengan alasan pemilihan tujuh puluh tua-tua terkemuka untuk membentuk Sanhedrin bagi orang Yahudi.

Nampaknya struktur The Heavenly Sanhedrin itu kurang tepat dengan prinsip Alkitab, karena:
Pertama, orang Yahudi tidak mengenal Trinitas Ilahi. Bila Yakub, dua belas anak dan tujuh puluh turunan dijadikan patokan dimanakah posisi Abraham dan Ishak ?
Kedua, setinggi-tingginya posisi malaikat, ia tidak akan menjadi hakim.
Ketiga, Alkitab menceritakan tentang adanya kherubim dan seraphim yang amat “dekat” dengan tahta Allah. Dimanakah tempat mereka seandainya The Heavenly Sanhedrin itu ada ?
Keempat, betapapun tingginya malaikat itu, mereka tidak dapat disamakan dengan Allah, ingat Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Pandangan tentang adanya “Heavenly Sanhedrin” itu lebih banyak bersifat spekulatif. Penafsiran yang bersifat kurang spekulatif adalah adanya strata dalam dunia malaikat itu sendiri. Memang tidak sama dengan kerajaan kegelapan yang strukturnya jelas dalam Efesus 2:2 dan Efesus 6:14. Dalam dunia malaikat struktur itu tidak begitu jelas, bahkan masih ada kherubim dan seraphim yang sulit ditempatkan dalam struktur tersebut.

7.1 Penghulu malaikat. Archangel (Inggris) – Arckhaggelos (Grika)

Hanya dua kali disebut dalam Alkitab, yakni dalam 1 Tesalonika 4:16 dan Yudas 1:9. Dengan tegas Yudas 1:9 menulis bahwa Michael adalah “penghulu malaikat”, yang artinya pemimpin dari sejumlah malaikat.

Ada ahli Alkitab yang berpendapat, hanya Michael lah yang “penghulu malaikat”, Yudas 1:9, Wahyu 12:7. Tetapi Alkitab mencatat bahwa Lucifer, yang kemudian menjadi setan atau iblis itu, sebenarnya adalah penghulu malaikat yang lebih besar dari pada Michael. Yudas 1:9 dengan tegas mengatakan bahwa, “tetapi penghulu malaikat, Michael . . ., tidak berani menghakimi iblis . . .”

Ada suatu pandangan tradisional yang berpendapat bahwa penghulu malaikat ada tiga, yakni: Lucifer, Yesaya 14:12; Michael dan Gabriel, Daniel 8:16; 9:21. Bahkan ada yang berpandangan bahwa ketiga malaikat besar tersebut dikaitkan dengan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, dalam tugas kepelayanan mereka, tetapi, nampaknya Alkitab memberi informasi yang lain, sehingga pandangan tersebut harus ditinjau kembali. Wahyu 9:11cf mencatat bahwa roh-roh atau malaikat-malaikat jahat dipenjara di “abyss” atau “jurang maut” itu, diperintah oleh raja mereka yang bernama “Abadon” (Ibrani) atau “Apolion” (Grika). Jadi nampaknya ada penghulu malaikat lain selain ketiga malaikat tadi. Nampaknya “empat malaikat yang terikat dekat sungai Efrat itu”, Wahyu 9:14cf, juga harus dipertimbangkan sebagai penghulu “malaikat”, karena berkaitan langsung dengan peristiwa besar yang terjadi bagi umat manusia, ingat bahwa, setiap penampakkan penghulu malaikat dalam Alkitab itu berkaitan erat dengan peristiwa-peristiwa besar bagi kehidupan manusia.

Ketika Lucifer disebut-sebut, Yesaya 14; Yehezkiel 28, adalah saat dimana ia memberontak melawan Allah. Ketika Michael disebut pertama kali, Yudas 1:9, hal itu erat kaitannya dengan masuknya Israel ke Palestina. Yang kemudian segera disusul dengan penampakkan panglima balatentara Tuhan, Yosua 5:14. Ketika Gabriel pertama kali disebut, Daniel 8:16, saat itu erat kaitannya dengan pengungkapan rahasia besar nubuatan tentang akhir zaman dan nubuatan tentang “Tujuh Puluh Sabat”. Kemudian disusul oleh Michael, Daniel 10:13; 11:1, yang erat kaitannya dengan kelepasan bangsa Israel dari pembuangan di Babel. Ketika Gabriel muncul lagi dalam Matius dan Lukas, kala itu ia dalam tugas menyampaikan berita tentang kelahiran Yesus, Juruselamat. Ketika Michael muncul lagi dalam Wahyu 12, itu saat setan atau naga besar atau si ular tua atau iblis diusir dari Surga. Ketika Abadon atau Apolion dilepaskan dari Abyss jurang maut dan keempat malaikat yang terikat ditepi sungai Efrat dilepaskan dari ikatannya, Wahyu 9, juga erat kaitannya dengan peristiwa besar bagi umat manusia.

7.2 Pemimpin-pemimpin terkemuka.

Kalau Alkitab perjanjian baru memakai istilah “penghulu malaikat”, dalam kitab perjanjian lama ditemukan istilah “pemimpin terkemuka”, Daniel 10:13, 21. Amat menarik bahwa dalam Daniel 10:13 ada tiga pemimpin, yakni: “pemimpin Persia”, “Gabriel”, dan “Michael”. Ternyata Michael adalah “pemimpin Israel”, Daniel 10:21; Yudas 1:9. Kalau dalam ayat itu ada Gabriel dan Michael, siapa lagi “pemimpin Persia” kalau bukan setan?!. Mungkin saja istilah “penghulu malaikat” sama dengan istilah “pemimpin terkemuka”.

7.3. Kherubim.

Di depan sudah diuraikan tentang kherubim dalam beberapa penampilan. Ternyata posisi kherubim itu, Yehezkiel 1:9; 10-11, amat dekat dengan tahta Allah. Setan yang pada mulanya adalah salah satu kherubim (Lucifer), Yehezkiel 28:13-14cf, yang posisinya amat dekat dengan tahta Allah maka Lucifer ingin menyaingi Allah, Yesaya 14:12-14. Walaupun tidak ditegaskan secara eksplisit, tetapi makin jelas bahwa kherubim adalah malaikat-malaikat tingkat tinggi dengan tugas-tugas istimewa dari Allah.

7.4 Seraphim.

Sebagaimana telah dijelaskan terlebih dahulu, nampaknya “seraphim” itu adalah malaikat-malaikat khusus yang melayani Yesus.

7.5 Strata yang lebih rendah.

Malaikat-malaikat itu merupakan satu kumpulan yang amat besar jumlahnya, Daniel 7:9-10; Matius 26:53; Lukas 2:13; Ibrani 12:22; Wahyu 5:11. Ungkapan “seribu kali beribu-ribu yang melayani dan selaksa kali berlaksa-laksa yang berdiri di hadapanNya”, memberi gambaran adanya segolongan malaikat yang berkedudukan tinggi dengan tugas istimewa. Mereka yang berkedudukan tinggi lebih sedikit jumlahnya. Sedangkan yang “berdiri dihadapanNya” lebih besar jumlahnya. Hal itu sudah pasti sejak ada istilah “penghulu malaikat”.
Hanya saja Alkitab tidak memberi gambaran yang jelas tentang tingkat-tingkat kekuasaan dari strata bawah ini, dibandingkan dengan susunan kuasa kerajaan kegelapan.

Rasul Paulus hanya memberi isyarat tentang adanya tingkat-tingkat kekuasaan dalam dunia malaikat, tapi tidak secara terperinci. Ditemukan beberapa istilah seperti Singgasana-singgasana (Thrones), Kerajaan-kerajaan (Dominions), pemerintah-pemerintah (Principalities), penguasa-penguasa (Powers), kekuasaan (Might), Roma 8:38; Efesus 1:21; 3:10; Kolose 1:16; 2:10, 10:15. Istilah-istilah ini belum dapat dijadikan patokan untuk membagi tingkatan dalam dunia malaikat dengan pasti. Satu hal yang pasti, yaitu, malaikat bagaimanapun rendah stratanya, lebih kuat dari manusia, II Petrus 2:11.

8. Nama-nama Malaikat.

Nampaknya setiap malaikat mempunyai nama sendiri-sendiri. Tetapi karena mereka begitu banyak jumlahnya, sehingga hanya pemimpin-pemimpin mereka saja yang disebutkan namanya. Perlu diketahui, nama malaikat terang itu berubah ketika ia jatuh, misalnya, Lucifer yang menjadi setan, atau Abadon si penghulu malaikat jurang maut. Nama bagi malaikat yang jatuh sesuai dengan sifat jahat mereka. Kecuali Lucifer, malaikat lain yang telah jatuh tidak akan dibicarakan disini. Selain yang tertulis dalam Alkitab, terdapat pula nama-nama lain seperti Rafael dan Uriel, tapi nama-nama malaikat ini hanya muncul pada kitab-kitab Apokrifa Perjanjian Lama, yakni Hanokh dan Tobit. Ada juga nama-nama malaikat lain yang diungkapkan dalam pengalaman rohani hamba-hamba Tuhan dewasa ini. Walaupun demikian, hanya nama-nama malaikat dalam Alkitab saja yang akan dibicarakan.

8.1 Lucifer.

Sebenarnya istilah “Lucifer” ini hanya ada pada Alkitab bahasa Inggris terjemahan King James Version dan tidak ada pada terjemahan-terjemahan lain di dunia ini. Walau istilah Lucifer sangat terkenal, banyak pemakainya tidak mengetahui dari mana sumbernya. Istilah “Lucifer” ini hanya tertulis satu kali dalam Yesaya 14:12 KJV. Istilah lainnya adalah “Bintang Timur”. Istilah Lucifer atau Bintang Timur ini datang dari kata Ibrani “heilel” yang berarti “bercahaya-cahaya”.

Bila diparalelkan dengan Yehezkiel 28 dan ayat-ayat lain, maka tidak pelak lagi Lucifer adalah “penghulu malaikat” yang tertinggi kedudukannya di Surga. Sehingga justru karena keadaannya itu maka ia memberontak terhadap Allah dan kemudian ia dibuang ke bumi, Yesaya 14:12-15; Yehezkiel 28:12-19. Alkitab tidak mencatat dengan tegas kepan terjadinya pemberontakan Lucifer, tapi para ahli menafsirkan hal tersebut terjadi sebelum manusia diciptakan. Sesudah ia dijatuhkan dari langit, Lukas 10:18, namanya berubah. Beberapa istilah terkenal seperti : “ular”, “setan”, “iblis”, menjadi nama kejatuhannya.

Penampilan pertamanya pada zaman manusia adalah dalam bentuk “ular” pada Kejadian 3 (bandingkan dengan Bilangan 21:9 dan Yohanes 3:14). Penampilan berikutnya adalah ketika muncul di Surga, dalam sebutan “setan”, untuk menuduh Ayub, Ayub 1,2. Dalam perjanjian baru ia lebih sering disebut iblis atau si jahat, yang dalam bahasa Grika disebut “diabolos”. Dalam kitab Wahyu, ia disebut dengan nama “naga”, Wahyu 12 atau “si ular tua”, Wahyu 20:2.
Kitab dalam berbagai gaya bahasa, menggambarkan kehebatan Lucifer. Ia mampu mengubah dirinya menjadi ular yang dapat bicara, Kejadian 3. Ia mampu mengubah dirinya menjadi malaikat terang, II Korintus 11:14. Ia mampu naik turun ke Surga, Ayub 1,2. Ia mampu menahan Gabriel dalam perjalanan membawa pesan Allah kepada Daniel, Daniel 10:13cf. Michael, penghulu malaikatpun takut kepadaNya, Yudas 1:9. Masih banyak lagi keistimewaannya, tetapi tetap saja ia hanya makhluk ciptaan dan ia menjadi pecundang oleh darah anak domba dan oleh kesaksian orang-orang percaya, Wahyu 12:11; Wahyu 19:10; Efesus 6:17.

8.2 Michael (Mikhael).

Michael artinya, “siapakah yang seperti Allah?” – who is like God ?. Inilah malaikat yang kepadanya dengan tegas diberi gelar “penghulu malaikat”, Yudas 1:9; dan gelar “salah satu pemimpin terkemuka – one of the chief princes”, Daniel 10:13. Hanya di Wahyu 12:7 gelarnya tidak disebutkan. Dalam literatur-literatur yang ditulis diantara kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru (intertestament literature), Michael ini digambarkan sebagai malaikat pemimpin bangsa Israel dan pembela orang-orang benar. Walaupun demikian, informasi dari literatur non Biblika itu hanya merupakan bahan perbandingan yang tidak bisa menjadi pertimbangan untuk penafsiran. Walaupun dalam Alkitab tiga kali Michael disebutkan, tetapi ketiganya tidak dalam penampilan langsung dengan manusia yang hidup.

Penampilan Michael yang pertama adalah yang tercatat dalam Yudas 1:9, yaitu pada saat ia berhadapan dengan iblis dalam memperebutkan mayat Musa. Sang penghulu malaikat itu mempunyai tugas khusus sebagai “pemimpin orang Israel”, Daniel 10:21; 12:1, yang dibandingkan dengan setan yang secara alegoris disebut sebagai pemimpin orang Persia, Daniel 10:13. Bila sebagai pemimpin malaikat, maka tepatkah ucapan Yosua dan Kaleb dalam Bilangan 14:6-9, “…sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka ..”. Malaikat-malaikat kegelapan pemimpin bangsa kafir (principalities pemerintah-pemerintah, Efesus 6:12) sudah tercerai berai oleh Tuhan.

Dapatlah kita menggambarkan apa yang ditulis dalam Bilangan 10:35; “Apabila tabut itu berangkat, berkatalah Musa: “Bangkitlah Tuhan supaya musuhMu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri …”. Penampilan Michael yang pertama erat kaitannya dengan kejadian besar dalam sejarah Alkitab, yakni proses masuknya orang Israel ke tanah Kanaan. Segera sesudah Michael mengambil tubuh Musa, orang Israelpun mulai memasuki tanah Kanaan, dengan melewati sungai Yordan. Diseberang Yordan itulah, setelah selesai sunat masal, datanglah kepada Yosua sang panglima balatentara Tuhan, Yosua 5:13-15. Nampaknya, sang panglima itu bukanlah malaikat biasa melainkan Christophany.

Ternyata, walaupun hanya merupakan “pesuruh Allah”, tetapi Michael dicatat oleh Alkitab, muncul pada saat menentukan bagi bangsa Israel. Saat ketika Allah menepati sumpahnya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikan tanah Kanaan kepada keturunan mereka, Michael juga mendapat bagian tugas dari Allah, walaupun Michael tidak dicatat oleh Alkitab melakukan penampakkan fisik diantara orang Israel pada waktu itu tidak diketahui apa saja tugasnya selain yang tercatat dalam Yudas 1:9.

Penampilan Michael yang kedua dicatat dalam Daniel pasal 10 sampai 12. Dalam bagian ini, Michael muncul untuk membantu tugas Gabriel menyampaikan pesan Allah kepada Daniel. Dalam kitab Daniel pasal-pasal akhir diungkap kepada Daniel penglihatan tentang zaman-zaman selanjutnya, termasuk nubuat tentang 70 Sabat. Pada waktu nubuat 70 Sabat itu mulai diungkapkan kepada Daniel, perlu diketahui bahwa nubuat 70 Sabat itu erat kaitannya dengan kembalinya bangsa Yahudi ke Palestina, setan mencoba menggagalkan rencana Allah itu. Sebagaimana waktu Israel hendak memasuki Kanaan, dan setan mau merusak rencana Allah, dengan menguasai mayat Musa, kali ini setan menahan Gabriel selama 21 hari sehingga pesan yang dibawa untuk Daniel juga tertunda, Daniel 10:12-13. Disinilah Michael mengulangi perannya menentang setan, yang dialegorikan sebagai “pemimpin kerajaan Persia”. Dalam Daniel 12:1 Michael dikukuhkan sebagai malaikat yang mendapat tugas khusus dari Allah untuk membela kepentingan-kepentingan orang Israel.

Penampilan Michael yang ketiga adalah dalam Wahyu 12:7, menarik untuk diperhatikan karena dalam kitab Yudas dan Daniel selalu disebut predikat atau gelarnya. Tetapi dalam kitab Wahyu hanya namanya saja yang disebutkan. Walaupun banyak tafsiran, namun jelas betapa Michael adalah agennya Allah yang penting di Surga diantara para malaikat. Sebagaimana waktu Israel memasuki Kanaan, mereka menang karena kuasa Allah, Bilangan 10:35, demikian juga di Surga, Michael dan malaikat-malaikatnya menang oleh “darah Anak Domba” dan “kesaksian”, Wahyu 12:11, Wahyu 19:10.

Penampilan Michael yang keempat adalah waktu kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali dalam 1 Tesalonika 4:16, hal ini masih merupakan tafsiran eskatologi. Seandainya istilah “penghulu malaikat” itu hanya untuk Michael, maka pasti malaikat dalam 1 Tesalonika 4:16 itu adalah Michael. Tetapi bila saja masih ada penghulu malaikat yang lain, maka malaikat dalam 1 Tesalonika 4:16 itu mungkin saja bukan Michael.

8.3 Gabriel.

Gabriel itu berarti “Pahlawan Allah” – man of God atau “Allah itu Perkasa” – “God is mighty”. Walaupun tidak pernah diberi predikat “penghulu malaikat”, banyak orang yakin bahwa Gabriel adalah salah satu “penghulu malaikat” di Surga. Hal itu disebabkan oleh informasi dari literatur non Biblika orang Yahudi sebelum kitab perjanjian baru, seperti kitab Tobit dan Henokh. Tetapi informasi itu bukanlah dasar pertimbangan, melainkan Daniel 10:13 secara implisit mengungkapkan bahwa disamping Michael, Gabriel juga adalah “pemimpin terkemuka” diantara para malaikat. Kitab perjanjian lama tidak mengenal istilah “penghulu malaikat” melainkan “pemimpin terkemuka” atau “pemimpin besar”. Daniel 10:13, 21; 12:1). Jadi Alkitab sendiri yang memberi kemungkinan orang menafsir bahwa Gabriel itupun adalah seorang penghulu malaikat di Surga.

Disamping itu, penampilan Gabriel itu amat istimewa. Tiga kali penampilannya dalam Alkitab, ia berpenampilan sebagai manusia dan menemui orang-orang tertentu sambil membawa pesan khusus dari Allah. Bukan hanya sekedar menyampaikan pesan Allah, melainkan dalam tugas penampilannya itu, ia berdialog dengan orang-orang yang ditemuinya, memberi penjelasan, mengajari penerima pesan supaya mereka mengerti akan perintah Allah itu.

Penampilan pertama Gabriel yaitu ketika menemui Daniel, penampilan diri Gabriel kepada Daniel itu setidaknya terjadi tiga kali dengan selang waktu yang cukup lama, yakni pada waktu pemerintahan raja Belsyasar, Darius, dan Koresy, Daniel 8,9,10. Gabriel datang berdialog dengan Daniel dan memberi penjelasan tentang arti penglihatan tentang nubuat 70 Sabat, bahkan mengungkapkan beberapa hal penting yang akan terjadi pada akhir zaman. Juga dari pengungkapan Gabriel inilah kita menemukan penjelasan awal tentang Michael, juga sekilas gambaran tentang dunia roh atau dunia malaikat.

Penampilan Gabriel yang kedua adalah penampakannya kepada Zakharia, untuk memberitahukan tentang kelahiran Yohanes pembabtis. Suatu hal yang sangat menarik yakni dalam dialog antara Gabriel dan Zakharia, Gabriel dengan wibawa ilahi memberi sanksi kepada Zakharia sampai kebenaran berita yang dibawanya dari Allah menjadi kenyataan. Sanksi itu yakni Zakharia menjadi bisu, Lukas 1:20. Dari dialog inilah kita tahu apa posisi Gabriel itu, Lukas 1:19.

Penampilan Gabriel yang ketiga adalah untuk memberitahukan kelahiran Yesus Kristus kepada Maria. Kemungkinan besar malaikat yang menemui Yusuf beberapa kali itu adalah Gabriel, mengingat betapa penting berita itu. Dalam pertemuan dengan Maria terjadi dialog yang penting, Gabriel memberi gambaran tentang Yesus dan kuasa ilahi yang akan menjadikan semua pesan itu terlaksana. Jelas sekali bahwa Gabriel ini bukanlah utusan biasa, lihat 1 Petrus 1:12.

9. Malaikat-malaikat yang memberontak.

Alkitab tidak memberi gambaran terinci tentang pemberontakan malaikat, sebab hal itu terjadi di dunia rohani dimana manusia asing untuk hal itu. Tetapi pasti bahwa substansi penyebab kejatuhan malaikat adalah pelanggaran mereka terhadap hukum Allah. Hanya saja karena para malaikat itu ada dalam berbagai strata kedudukan, sehingga menariklah untuk disimak nuansa kejatuhan mereka.

Kejatuhan Lucifer. Yesaya 14:11-15 dan Yehezkiel 28:11-19 dengan gamblang menggambarkan sebab kejatuhan si malaikat termulia di Surga itu. Dalam Yesaya diungkapkan lima keinginannya yang bermuara untuk menyamai Yang Maha Tinggi. Dalam Yehezkiel diungkapkan tentang kesombongannya.

Kejatuhan malaikat-malaikat lain. II Petrus 2:4 dan Yudas 1:6 mencatat bahwa malaikat-malaikat yang berdosa itu ialah mereka yang melangkahi batas-batas kekuasaan yang telah ditetapkan Allah. Sebagaimana Adam diberi begitu banyak kekuasaan dan keistimewaan, sekaligus ada batasan, demikian juga setiap makhluk berakal budi dan berkehendak bebas itu mendapatkannya. Tinggal terserah pilihan mereka sendiri, mau setia pada Firman Allah atau mau berjalan menurut kemauannya sendiri. Allah akan meminta pertanggung-jawaban kelak.

BAB II: RIBADI, STATUS DAN TUGAS MALAIKAT.

Penjelasan dalam bab ini agak berimpit dengan bab yang terdahulu, tetapi mempunyai nuansa yang perlu diperhatikan. Uraian tentang keberadaan eksistensi malaikat bersifat umum; uraian tentang pribadi dan status malaikat bersifat lebih formal atau khusus dan ada hal-hal yang diuraikan lebih terinci lagi.

1. Malaikat adalah pribadi.

Pribadi artinya keadaan seseorang sebagai perseorangan. Dalam pribadi itu terdapat keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang tersebut, sehingga orang tersebut dapat dibedakan dengan orang lain. Inilah yang disebut kepribadian. Malaikat adalah pribadi atau oknum, karena masing-masing mempunyai sifat sendiri-sendiri, yang membedakannya dengan malaikat yang lain, atau pribadi-pribadi lainnya, seperti manusia. Walaupun tidak terlalu jalan, Alkitab cukup memberi isyarat untuk itu. Dalam berpribadi itulah letak kesamaan substansial antara malaikat dan manusia.

Dalam uraian tentang pribadi ini banyak kali dikaitkan dengan manusia sebagai pribadi untuk perbandingan. Dengan demikian kita dapat lebih mengenal dan mengagumi Allah yang Maha Pribadi itu.
Unsur-unsur yang membentuk suatu pribadi pada malaikat. Unsur penting bagi pembentukan suatu pribadi adalah adanya pikiran, perasaan dan keinginan yang independen, yang dengannya membentuk suatu pola tingkah laku. Jelas malaikat mempunyainya, yakni: pikiran, Yesaya 14:13a; perasaan, Lukas 15:10; keinginan, 1 Petrus 1:12.

Unsur penting lainnya bagi pembentukan suatu pribadi adalah adanya tubuh rohani atau tubuh surgawi. Alkitab dengan tegas mencatat bahwa kemuliaan tubuh surgawi lain dengan kemuliaan tubuh duniawi, 1 Korintus 15:40. Sudah jelas bahwa tubuh duniawi atau tubuh alami itu dibentuk dari tanah liat. Dalam tubuh duniawinya itu, manusia makhluk alami dan makhluk biologis.

Sebagai makhluk alami kelangsungan kehidupan di dalam tubuhnya amat dipengaruhi oleh unsur-unsur alam yang menopang kehidupan. Sebagai makhluk biologis Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan dengan segala konsekuensinya. Sudah pasti tubuh surgawi pada malaikat tidak sama dengan tubuh duniawi manusia. Tubuh surgawi bukanlah tubuh alami atau biologis. Hidup malaikat tidak tergantung pada unsur-unsur alami, dan karena malaikat bukanlah makhluk biologis maka malaikat tidak kawin seperti manusia atau hewan. Faktor tubuh amat mempengaruhi kepribadian seseorang, tentulah dengan tubuh surgawinya malaikat itu mempunyai pribadi yang mulia, lebih mulia daripada pribadi Adam ketika ia belum jatuh ke dalam dosa.

Malaikat tidak dapat mengingkari hakekat penciptaannya. Hakekat tubuh surgawi tidak sama dengan tubuh duniawi. Malaikat tidak dapat mengubah hakekat tubuh surgawinya menjadi tubuh duniawi, itu ada takdir oleh ke-Maha Kuasa-an Allah. Oleh penentuan Tuhan Allah, kelak manusia akan menjadi seperti malaikat, memiliki tubuh surgawi dan hidup seperti malaikat di Surga, Matius 22:29-31; Markus 12:24-25; Lukas 20:34-36.

Sebagai pribadi malaikat mempunyai sifat-sifat. Sebagai pribadi, Gabriel menunjukkan sikap tegas kepada Zakharia yang tidak percaya pada kata-katanya sebagai utusan Allah. Gabriel memberi sanksi kepada Zakharia – menjadi bisu sampai semua ucapannya terlaksana, Lukas 1:19-20. Sebagai pribadi, dengan tegas malaikat yang tidak disebut namanya menolak disembah oleh Yohanes ketika malaikat itu memberi keterangan-keterangan tentang penglihatan-penglihatan Agung itu kepada Yohanes, Wahyu 19:10; 22:8-9. Sikap itu datang dari sifat rendah hati malaikat pilihan itu. Cukup banyak informasi Alkitab yang menjelaskan sifat-sifat malaikat itu. Juga arti nama-nama malaikat itu, seperti : Gabriel dan Mikhael, menunjukkan sifat kerelaan mereka untuk tetap setia kepada Allah.
Sedangkan sifat-sifat dari para malaikat yang sudah jatuh sangat jelas dalam nama atau julukan mereka. Setan itu berarti musuh atau penuduh. Iblis berarti si jahat. Appolion atau Abaddon berarti perusak. Dalam Alkitab juga ditemukan istilah-istilah seperti : roh najis, roh jahat, atau roh jahat yang najis. Semuanya menunjuk pada sifat masing-masing pribadi itu.

Beberapa sifat malaikat yang dapat direkam dari Alkitab, antara lain:

a. Setia. Sifat setia ini ditujukan dalam hubungan dengan pihak lain, apakah itu kepada pihak yang sederajat atau kepada pihak yang lebih tinggi. Setia kepada pihak yang sederajat adalah sikap tetap dan teguh dalam pendirian dengan prinsip yang baik dan benar dalam hubungan dengan orang lain. Setia kepada pihak yang lebih tinggi derajatnya adalah sikap patuh terus menerus dengan prinsip yang benar. Tidak mungkin ada kesetiaan kepada pihak yang sederajat bila tidak ada kesetiaan kepada pihak yang lebih tinggi. Malaikat memiliki sifat setia ini, jelas sekali malaikat pilihan itu. I Timotius 5:21, mempunyai kepatuhan yang tidak diragukan lagi. Mazmur 103:20-21; I Petrus 3:22; Matius 26:53.

b. Rendah hati. Salah satu tugas malaikat di Surga adalah memuji dan menyembah Allah, Mazmur 103:20; Lukas 2:13, Wahyu 4:8; 5:11; Nehemia 9:6: Mazmur 29:1,2; Ibrani 1:6. Malaikat-malaikat yang terpilih itu bukan hanya mengungkapkan kerendahan hati mereka dengan memuji dan menyembah Allah, melainkan kemurnian hati mereka nampak dengan menolak penyembahan terhadap mereka, Wahyu 15:10; 22:8-9. Malaikat yang setia mengarahkan penyembahan kepada Allah.

c. Kudus. Salah satu sifat utama dari malaikat adalah kudus. Jelas bahwa Allah itu maha kudus dan malaikat ciptaanNya itu kudus, Markus 8:38; Wahyu 14:10. Malaikat-malaikat pilihan yang tetap setia itu tetap tinggal dalam keadaannya yang semula yakni kudus. Pengungkapan sifat kudus itu nampak pada penampilan mereka dihadapan manusia. Menurut pandangan mata manusia, malaikat itu berpakaian putih, bahkan pakaian itu digambarkan dengan ungkapan berkilau-kilauan, Matius 28:3; Markus 16:5; Lukas 24:4; Kisah 1:10; Wahyu 15:6cf. Semua itu adalah gambaran kemuliaan mereka.

d. Taat. Walaupun malaikat itu agung, lebih mulia daripada Adam pertama, tapi mereka nampaknya mempunyai tanda ketaatan kepada Allah, I Korintus 11:10. Ketaatan itu menggambarkan kesederhanaan mereka dalam menerima aturan Allah.

e. Lembah lembut. Sebenarnya, malaikat itu jauh lebih kuat, lebih hebat daripada manusia. Tetapi sepanjang Alkitab disaksikan kelemah-lembutan malaikat dalam berkomunikasi dengan manusia. Contoh nyata, yakni di tengah kegarangan singa liar yang lapar, Daniel dilemparkan. Tetapi malaikat dari Allah datang hanya untuk menutup mulut singa-singa itu, Daniel 6:23cf. Malaikat itu tidak mengusir atau menghajar singa-singa itu.

f. Ketegasan mereka pada keyakinan terhadap Firman Allah. Lemah-lembut bukan berarti tidak tegas. Ketika Zakharia meragukan perkataan Gabriel, sebagai utusan Allah, dengan tegas ia memberi sanksi kepada Zakharia dengan membuatnya menjadi bisu, Lukas 1:20cf. Ketika Yohanes menyembah malaikat yang memberi keterangan kepadanya, dengan tegas malaikat itu menolak penyembahan, dan mengarahkan penyembahan itu kepada Allah, Wahyu 19:10; 22:8-9.

g. Berhikmat. Malaikat pasti berhikmat. Kepada Lot, kedua malaikat mengabulkan permintaannya dengan pertimbangan yang baik, Kejadian 19:17-25. Kepada Maria, malaikat datang dengan penampilan penuh, tetapi kepada Yusuf malaikat hanya menemuinya lewat mimpi. Tidak ada lagi selain karena malaikat tahu akan sifat keduanya dan dengan hikmat datang menemui keduanya dalam kondisi yang pas.

h. Berpengetahuan. Malaikat pasti mempunyai pengetahuan. Sebagai contoh, malaikat yang jatuh tahu bahwa akan ada waktunya mereka dihakimi, Matius 8:29, Lukas 8:31. Sepanjang Alkitab diceritakan, bahwa selain menemui orang-orang Ibrani, malaikat juga pernah datang menemui orang-orang dari berbagai bangsa dan berdialog dalam bahasa mereka masing-masing.

i. Mempunyai kekuatan yang hebat. Beberapa contoh kecil yakni : malaikat dapat menutup mulut singa-singa, Daniel 6:23. Kalaupun itu dipandang sebagai wibawa rohani, malaikat dapat menggulingkan batu besar penutup kubur Yesus. Batu itu sebenarnya hanya dapat digerakkan oleh beberapa laki-laki dewasa yang kuat, Matius 28:2; Markus 16:1-4; Lukas 24:1-2. Contoh lain, seorang malaikat dapat membunuh seratus delapan puluh lima ribu tentara musuh, II Raja-raja 19:35; II Tawarikh 32:21; Yesaya 38:36. Tidak salah bila mereka diberi gelar orang-orang perkasa, Mazmur 29:1; Yesaya 13:3.

j. Mempunyai kemampuan. Malaikat mempunyai kemampuan-kemampuan istimewa. Salah satu kemampuan istimewa itu ialah mereka mampu menembus batas alam rohani dan alam jasmani.

k. Mempunyai perasaan. Alkitab mencatat bahwa para malaikat itu bersukacita bila tahu ada orang bertobat. Malaikat-malaikat yang telah jatuhpun takut dan gentar pada Allah, Markus 5;6; Yakobus 2:19.

l. Mempunyai keinginan. Mereka mempunyai keinginan. Salah satu keinginan mereka adalah ingin mengetahui rahasia keselamatan manusia, I Petrus 1:12.
Sebagai pribadi, malaikat mempunyai kehendak bebas. Meskipun banyak perdebatan tentang arti kehendak bebas, tapi Alkitab mencatat bahwa malaikat-malaikat itu mempunyai kehendak bebas – free will. Kehendak bebas dapat dikatakan sebabai kebebasan untuk mengambil keputusan memilih sesuai dengan kemauan sendiri. Kehendak bebas inipun ada pada manusia.

Sesuatu dapat dikatakan kehendak bebas bila dalam pengekspresian kebebasan itu terdapat pilihan lain atau alternatif. Bagi malaikat-malaikat terdapat dua pilihan yakni : patuh dengan sepenuh hati terhadap perintah dan hukum Allah atau mengikuti kehendak sendiri. Yang maksudnya adalah menjadikan Allah sebagai Raja atau menjadikan diri sendiri sebagai raja.

Yehezkiel 28:12-19 dengan jelas menggambarkan betapa Lucifer memilih untuk menjadikan dirinya sendiri raja. Dalam Yesaya 14:12-14 sebanyak lima kali kali ia menyatakan kehendak pribadinya sendiri. II Petrus 1:4; Yudas 1:6, dengan tegas mencatat bahwa malaikat-malaikat yang berdosa itu, dengan penuh kesadaran memilih melanggar batas-batas kekuasaan mereka daripada taat pada aturan atau hukum Allah.

Bila dibandingkan dengan kebebasan memilih yang diberikan kepada Adam, maka akan nampak seperti ini. Kepada Adam diberi keleluasaan yang begitu besar untuk menikmati fasilitas yang Allah ciptakan baginya. Hanya ada satu pembatasan kecil, yakni jangan makan buah pengetahuan baik dan jahat itu, Kejadian 2. Nampaknya hal itu juga yang terjadi dalam dunia malaikat. Keleluasaan yang begitu besar dalam menikmati fasilitas yang diberikan Allah, Yehezkiel 28:12-15a, nampaknya dirasakan kurang cukup, sehingga akhirnya aturan atau hukum Allah yang nampaknya kecil itu dilawan, Yudas 1:6. Tindakan malaikat-malaikat melawan hukum Allah datang dari keputusan pribadi-pribadi yang memiliki kehendak bebas – free will.

Sebagai pribadi yang dianugerahi kehendak bebas, masing-masing malaikat harus bertanggung-jawab kepada Allah. Konsekuensi dari kebebasan untuk memilih sesuai dengan kemauan sendiri, adalah pertanggung-jawaban dari si pemilik kehendak bebas itu. Pertanggung-jawaban adalah suatu kondisi atau hasil akhir dari suatu proses tindakan yang dibawa ke hadapan sidang penuntutan. Untuk manusia, kehendak bebas dan pertanggung-jawaban itu erat kaitannya dengan kedewasaan, Ulangan 1:39cf. Bagi malaikat, istilah kedewasaan tidak dibutuhkan, karena roh-roh ciptaan itu telah diciptakan dalam keadaan sempurna.

Bandingkan dengan penciptaan Adam. Dengan tegas II Petrus 2:4 dan Yudas 1:6 menulis bahwa para malaikat yang berdosa itu “. . . disimpan sampai pada hari penghakiman . . .” Ketika Yesus bertemu dengan dua orang yang dirasuki roh-roh jahat, terjadilah dialog antara Yesus dan roh-roh jahat itu. Inilah ucapan roh-roh jahat itu : “Apa urusanMu dengan kami hai Anak Allah? Adakah Engkau menyiksa kami sebelum waktunya?”, Matius 8:29. Jadi para malaikat yang telah jatuh itu tahu bahwa mereka harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka, yang melanggar hukum Tuhan itu, berdasarkan kehendak bebas mereka pada hari penghakiman, Matius 5:7; Lukas 8:28, 31; II Petrus 2:4; Wahyu 12:12. Disanalah mereka harus bertanggung-jawab kepada Allah yang menganugerahi mereka kehendak bebas itu. Rupanya dalam konteks inilah kelak orang percaya akan turut menghakimi malaikat-malaikat itu, I Korintus 6:3.

2. Status Malaikat.

Status artinya suatu keadaan kedudukan dari suatu pribadi. Jelas malaikat mempunyai status atau posisi di Surga. Walaupun tidak secara eksklusif, tetapi Alkitab mengisyaratkan adanya strata dalam dunia malaikat itu, Kolose 1:16; Roma 8:38. Tetapi yang dimaksud dengan status itu bukanlah strata dalam dunia malaikat, melainkan kedudukan atau posisi mereka sebagai makhluk ciptaan dihadapan Allah.

Malaikat adalah roh ciptaan yang pertama-tama menghuni Surga. Allahlah yang menciptakan Surga, Kejadian 1:1; Yohanes 1:1-3. Ia pulalah yang menciptakan makhluk-makhluk penghuni Surga. Makhluk-makhuk itu adalah para malaikat yang tidak terbilang jumlahnya, Ayub 38:7; Wahyu 5:11. Merekalah penghuni Surga yang pertama-tama. Kelak orang percaya akan turut menjadi pewaris Surga sesudah para malaikat.

Status malaikat itu tetap, tidak pernah berubah. Walaupun malaikat diberi gelar anak-anak Allah dalam Ayub 1:6; 38:7, akan tetapi gelar itu harus dilihat dalam konteks kata Bapa untuk Allah. Bukan hanya para malaikat yang disebut anak-anak Allah. Adampun disebut juga anak Allah. Status mereka yang sebenarnya adalah roh-roh yang melayani, Mazmur 103:21; Ibrani 1:13-14. Status itu tidak berubah sepanjang masa.

Berbeda dengan orang percaya. Dari makhluk ciptaan yang lebih rendah dari malaikat, orang percaya kelak mempunyai status yang lebih tinggi daripada malaikat. Allah sendiri yang mengirim Anak TunggalNya untuk menebus manusia berdosa menjadi anak-anak Allah lewat kelahiran baru dan kemudian mewarisi Surga. Kepada malaikat tidak pernah diberi gelar pengantin Kristus, juga tidak pernah disebutkan memakai mahkota, hanya kepada orang-orang percaya yang menang.

3. Tugas Malaikat.

Sebenarnya bagian ini akan dibicarakan lebih lengkap dalam bab tentang Pelayanan Malaikat. Kalau pelayanan malaikat itu lebih banyak mengungkap tentang isi pelayanan, tugas malaikat dikaitkan dengan Sang Pemberi tugas, yakni Allah. Bila Allah itu pencipta, Ia Maha Kuasa, Ia Maha Ada, Ia mengatur segala sesuatu dengan kuasaNya, Ia tidak kekurangan suatu apapun, untuk apa ada malaikat? Tetapi jika kita mengingat bahwa tujuan penciptaan dan rencana penyelamatanNya adalah untuk manusia yang terbatas dalam suatu jangka waktu maka nyatalah kemuliaan dan keagungan Allah. Dari tugas dan uraian tentang betapa hebat dan ajaib rencanaNya.

Tugas di Surga. Tugas para malaikat yang pertama dan utama adalah di Surga, melayani Allah. Allah menciptakan Surga terlebih dahulu. Para penafsir berpendapat bahwa malaikat sudah diciptakan sebelum bumi diciptakan. Kitab Perjanjian Lama hanya memberi informasi singkat bahwa malaikat itu bertugas memuji, menyembah Allah, Ayub 38:7; Mazmur 103:20-22; Nehemiah 9:6. Kitab Wahyulah yang memberi gambaran indah tentang tugas para malaikat, adalah memuji dan menyembah Allah.

Tugas di Dunia (alam jasmani). Kemudian Allah menciptakan alam yang kelihatan atau alam jasmani ini. Ditambah dengan menciptakan manusia. Manusia jatuh ke dalam dosa dan menjadi bangsa-bangsa. Rencana penyelamatan Allah bagi umat manusia dalam kaitan dengan perkembangan zaman dan jumlah serta berbagai aspek yang saling terkait dan saling melengkapi. Sehingga kini pertanyaan *untuk apa ada malaikat ?* tidak perlu lagi dipersoalkan. Justru kini nampak nyata betapa sempurnanya karya Allah itu.

Secara garis besar, karena Alkitab tidak mendeskripsikannya dengan jelas, tugas malaikat bagi manusia sesuai dengan tingkatannya dalam dunia malaikat itu. Kira-kira gambarannya adalah seperti berikut ini:

Malaikat Pribadi. Matius 18:10 memberi isyarat adanya seorang malaikat yang menjadi penjaga bagi setiap anak kecil. Jangan lupa, kanak-kanak seperti itu adalah pewaris Kerajaan Surga. Bila kanak-kanak itu dapat dianalogikan dengan seorang anak Tuhan, maka setiap orang percaya dijaga oleh seorang malaikat. Malaikat-malaikat pribadi ini kemungkinan besar berasal dari strata rendah dalam dunia malaikat.

Malaikat bangsa-bangsa. Dalam Bilangan 14:9 terlihat bagian dari ucapan Yosua dan Kaleb kepada bangsa Israel :” . . . yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita, . . .” Siapa yang menyertai bangsa-bangsa kafir itu? Mereka adalah malaikat dari strata tinggi yang melawan Allah. Ingat akan istilah “pemimpin Persia”, raja-raja orang Persia, pemimpin orang Yunani, Daniel 10:13, 20. Bukanlah penghulu malaikat Mikhael disebut pemimpin Israel, Daniel 10:21; 12:1.

Malaikat-malaikat pembawa pesan Allah. Dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru tercatat beberapa kali pemunculan malaikat yang membawa pesan Allah kepada manusia. Tetapi dari sekian banyak pemunculan pembawa pesan Allah itu, hanya seorang malaikat saja yang disebut-sebut namanya, yakni Gabriel. Tidak diketahui dengan pasti apakah hanya Gabriel saja malaikat yang khusus membawa pesan-pesan Allah, ataukah ada lagi malaikat-malaikat lain. Seandainya ada banyak malaikat yang sering disuruh Allah membawa pesan kepada manusia, maka khusus kepada Gabriel Allah menugaskannya membawa pesan-pesan agung yang bersifat soterologis dan eskhatologis. Melihat penampilan malaikat-malaikat pembawa berita, kemungkinan besar ada banyak malaikat yang bertugas datang menemui manusia dan menyampaikan berita. Sebagai contoh, seraphim yang datang menemui Yesaya dapat dipastikan bukanlah Gabriel, Yesaya 6:6cf.
Malaikat-malaikat pelaksana keputusan Allah. Dalam Alkitab ada ayat-ayat yang menegaskan pekerjaan yang dilakukan oleh malaikat-malaikat , misalnya dalam Daniel 6:23; Matius 13:41; atau Lukas 16:22; lebih jelas lagi bila dilihat dalam kitab Wahyu. Semuanya itu dalam rangka melaksanakan keputusan Allah. Tetapi ada juga peristiwa-peristiwa yang tidak secara langsung ditulis sebagai pekerjaan malaikat, tetapi ditafsirkan sebagai pekerjaan malaikat bagi pelaksanaan keputusan Allah, misalnya dalam Yosua 6:20; 10:11; Hakim-hakim 5:20.

BAB III. PELAYANAN MALAIKAT.

Penjelasan dalam bab inipun merupakan kelanjutan dari bab sebelumnya, khususnya tentang tugas malaikat, walaupun memang ada beda penguraiannya. Bila tugas malaikat diuraikan secara umum maka pelayanan malaikat diuraikan secara mendetil.

1. Malaikat adalah roh yang melayani.

Malaikat adalah roh ciptaan, penghuni Surga yang bertugas melaksanakan kehendak Allah. Dengan kata lain: melayani Allah. Itulah status malaikat yang bersifat kekal. Justru karena Allah itu Maha Kuasa, Maha Ada dan Maha Tahu, maka penciptaan malaikat itu menunjuk pada ke-Maha BesaranNya. Walaupun tidak ditulis secara eksplisit, tetapi malaikat itu menjadi pelaksanaan begitu banyak tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka, Maz 103:19-22.

1.1 Malaikat melayani Allah.

Yang dimaksud dengan tugas pelayanan kepada Allah yakni kepada Trinitas Allah: Bapa, Putra dan Roh Kudus.

a. Malaikat yang melayani Allah Bapa. Alkitab mencatat bahwa malaikat-malaikat melaksanakan perintah Allah Bapa dan melayaniNya, Matius 18:10; 26:53. Nampaknya para Kherubium dalam Yehezkiel 1 dan 10 adalah para malaikat yang melayani Bapa.

b. Malaikat melayani Allah Anak. Para malaikat itupun melayani Allah Anak, Matius 4:11; Markus 1:13. Bukankah Ia itu Firman yang menciptakan segala sesuatu? Dalam hal ini nyatalah ke-Maha BesaranNya. Nampaknya, para Seraphim dalam Yesaya 6 adalah para malaikat yang melayani Allah Anak.

c. Malaikat melayani Roh Kudus. Alkitab tidak pernah secara eksplisit menulis tentang kepelayanan malaikat kepada Roh Kudus. Ada yang tidak mau melanjutkan kerangka berpikir logis. Tetapi ada juga yang mau melanjutkan penafsirannya bahwa ada juga malaikat yang melayani Roh Kudus. Tetapi ada hamba-hamba Tuhan yang oleh *visi rohani* yang diberikan Allah kepadanya menyatakan bahwa ada malaikat yang melayani atau melaksanakan perintah Roh Kudus.

1.2 Malaikat melayani manusia.

Sebenarnya bila dipikirkan, hal ini nampak bertentangan, sebab malaikat lebih dari manusia. Tetapi, karena mereka adalah pesuruh Allah, maka Alkitab menulis bahwa atas perntah Allah, para malaikat itu datang melayani orang-orang percaya yang menjadi pewaris keselamatan, Ibrani 1:14. Beberapa ayat mencatat bagaimana para malaikat itu melindungi dan menolong orang-orang percaya atas perintah Allah, Mazmur 34:7-8; Daniel 6:22-23; Daniel 10:11-12; Matius 2:13; 24:31; Lukas 16:22; Kisah Para Rasul 5:19-20; 12:7-11; 27:23. Kepada orang yang melawan Allah, malaikat dapat melakukan hal yang sebaliknya atas perintah Allah, Kisah Para Rasul 12:23.
Menjadi pertanyaan: bila malaikat dari Allah melayani orang-orang percaya atas perintah Allah:

a. Sampai seberapa jauh tugas itu ?
b. Apakah bedanya dengan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup manusia ?
Secara ringkas, kedua pertanyaan itu memang harus dijawab untuk dapat membedakannya dengan tugas Roh Kudus bagi orang percaya.

Pertama: Dari ayat-ayat Alkitab, jelas terbaca bahwa malaikat menjaga manusia dari bahaya-bahaya yang datang dari luar. Bahkan malaikat dapat membawa pesan Allah kepada orang percaya melalui alam mimpi atau lewat penglihatan.

Kedua: Perbedaannya banyak, tetapi yang paling penting yakni, bila malaikat disuruh Allah melayani manusia itu hanya bersifat eksternal saja. Roh Kudus bekerja dalam roh manusia yang bersifat internal, antara lain : pembaharuan dalam roh manusia, karunia-karunia Roh dan buah-buah Roh.

2. Penampakan-penampakan malaikat dalam tugas pelayanannya.

Dalam melaksanakan perintah Allah melayani manusia, malaikat dapat datang dengan berbagai penampilan.

2.1 Berpenampilan dalam bentuk rohani yang tidak kasat mata.

Yudas 1:9 mencatat bagaimana Mikhael penghulu malaikat berselisih pendapat dan bertengkar dengan iblis tentang mayat Musa. Dalam Lukas 16:22 dicatat bagaimana para malaikat membawa jiwa Lazarus ke pangkuan Abraham. Dalam Mazmur 34:7-8 dicatat, bagaimana malaikat-malaikat utusan Allah berkemah atau tinggal disekitar orang percaya. Tidak perlu dijelaskan apa makna pelayanan mereka, tapi jelas para malaikat itu datang melaksanakan perintah Allah dalam bentuk rohani mereka yang tidak kasat mata jasmani. Setan si penguasa udara bersama para roh jahat pesuruhnya juga bekerja melawan rencana Allah, malaikat-malaikat bekerja melaksanakan perintah Allah untuk suksesnya rencana Allah itu.

2.2 Penampilan dalam bentuk rohani lainnya.

Penampilan malaikat kali ini dalam bentuk rohani tetapi dapat dipantau oleh indra manusia. II Raja-raja 2:11-12 menggambarkan penampilan malaikat dalam bentuk kereta dan kuda berapi. Hal yang sama terjadi dalam II Raja-raja 6:17. Dalam Daniel 5:5, 24 itu adalah penampakan malaikat yang hanya dalam bentuk tangan atau jari-jari manusia yang menulis kata-kata “mene, mene, tekel, ufarsin”. Dalam Daniel 6:23, 28 nampak hasil perbuatan malaikat, tetapi wujud malaikat itu sendiri tidak kelihatan.

2.3 Penampilan dalam bentuk manusia.

Penampilan inilah yang paling banyak ditulis dalam Alkitab, baik dalam Kitab Perjanjian Lama maupun Kitab Perjanjian Baru. Kejadian 19; 32:24cf; Matius 28:2cf; Markus 16:5-6; Lukas 24:4cf; Ibrani 13:2 dengan jelas menggambarkan penampilan malaikat yang persis seperti manusia. Gambaran para artis tentang suatu makhluk manusia yang ganteng dan mempunyai sepasang saya agak kurang tepat. Rupanya gambaran tentang malaikat yang ada selama ini dipengaruhi oleh gambaran Kherubium yang menjadi ornamen dalam Tabernakel Musa dan Kaabah Salomo. Padahal, penampakan malaikat secara fisikal kepada manusia adalah seperti manusia, penambahan sepasang sayap besar mungkin hanya untuk menambahkan kesan agung dan visualisasi kesanggupan mereka untuk terbang.

Dalam penampakan secara fisikal malaikat dapat makan minum seperti manusia, Ibrani 13 :2. Hal itu tidak mengherankan sebab dalam tubuh rohani, Yesuspun dapat makan minum seperti manusia jasmani lainnya, Lukas 24:41-42; Yahanes 21:15.
3. Malaikat utusan Allah tidak mau disembah.

Salah satu ciri utama kepelayanan malaikat adalah ia tidak mau disembah oleh manusia. Dengan tegas malaikat menolak ketika ia disembah oleh Yohanes, Wahyu 19:10; 22:9. Kelihatannya sederhana saja, tetapi dalam dua ayat ini terungkap prinsip-prinsip kehidupan malaikat.

Pertama : ternyata malaikat mempunyai pengetahuan yang akurat tentang kebenaran.

Malaikat tahu persis bahwa mereka juga hamba dan dengan tegas menyuruh Yohanes menyembah Allah. Malaikat tahu persis bahwa hanya Allah saja yang layak disembah. Keluaran 20:4-5, merekalah penyembah Allah di Surga, Wahyu 5:11cf. Mereka tahu persis sumber kejatuhan Lucifer yakni ingin disembah dan ingin menjadi seperti Allah.

Kedua : ternyata malaikat mempunyai kerendahan hati yang prima.

Bayangkan, orang seperti Yohanes itu saja dapat salah menyembah kepada malaikat. Memang makhluk Surga itu amat mulia dalam kekudusan surgawi. Walaupun demikian, bagi malaikat pilihan, I Timotius 5:21, hal itu merupakan ujian dan tidak menggoyahkan kerendahan hati mereka untuk menerima penyembahan dari manusia. Ketiga : ternyata malaikat pilihan mempunyai ketaatan yang sempurna kepada Allah. Ketaatan artinya melakukan apa yang diperintahkan Allah dan tidak melakukan apa yang tidak boleh dilakukan.

Ketaatan malaikat pilihan itu sempurna dengan tidak melakukan apa yang tidak boleh ia lakukan. Sebagai hamba, maka ia hanya melakukan perintah majikannya, Lukas 17:10, semua penghormatan karena pekerjaannya sebagai hamba harus diteruskan kepada majikannya, yakni Allah; Yohanes 3:30. Malaikat itu ternyata lulus dari ujian karena memiliki ketaatan yang sempurna kepada Allah.

Jelas Allah melarang penyembahan kepada malaikat atau apapun selain Dia, Keluaran 20:4-5; Ulangan 4:19cf. Justru malaikat yang jatuh itu mau disembah oleh manusia, Kolose 2:18-19.

4. Malaikat utusan Allah tidak pernah merasuki manusia.

Dengan latihan dan tambahan bantuan kekuatan alam roh, manusia dapat menghipnotis sesamanya. Roh-roh jahat dapat merasuki manusia, kita tahu bahwa roh-roh jahat itu adalah malaikat-malaikat yang jatuh dari Surga. Dengan dua perbandingan ini nampak bahwa sebenarnya para malaikat mampu merasuki manusia : ya, sebagai makhluk roh, malaikat dapat merasuki roh manusia. Tapi sepanjang Alkitab, malaikat tidak pernah melakukan hal itu. Walaupun tidak secara mendalam, perlulah hal itu dibahas.

4.1 Arti kerasukan.

Dari informasi Alkitab, I Raja-raja 18:29cf; 22:21cf; Matius 8:28-34; 9:32-34; Markus 1:23-26; 5:1-10; Lukas 8:26-31, dapat disimpulkan yakni : kerasukan adalah didominasinya roh seseorang oleh roh atau kekuatan alam roh yang melebihinya, sehingga orang itu diperbudak untuk melakukan kehendak roh perusak itu. Jadi kerasukan merupakan wahana penjajahan terhadap seseorang atau sekelompok individu untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya dalam keadaan normal tidak diingini orang itu. Hal ini merupakan manifestasi penjajahan dosa terhadap manusia. Tercatat dalam kitab Perjanjian Lama, pelacur bakti dan sundal/semburit bakti serta pengorbanan kanak-kanak maupun ritual sex di bukit-bukit pengorbanan kepada para dewa merupakan manifestasi kerasukan itu.
Kerasukan berawal dari dosa roh penyembahan berhala ataupun dari ketidak pahaman akan ajaran kebenaran Alkitab tentang dunia roh. Nampaknya, kerasukan ada tingkatannya. Mulai dari dirasuk secara pasif, mencari kerasukan, bahkan sampai pada tingkat medium kerasukan.

4.2 Allah menghargai kehendak bebas manusia.

Walaupun Allah adalah pencipta dan pemilik seluruh sekalian alam, termasuk manusia, tetapi Allah tetap menghargai kehendak bebas manusia. Rencana Allah terhadap alam dan manusia tetap harus jalan terus. Tetapi walaupun Ia Maha Kuasa, Allah itu tidak diktator, melainkan Maha Adil. Kepada manusia diberinya hukum, perjanjian, janji, anugerah, tetapi tetap saja manusia diberi pilihan, percaya dan terima atau tidak percaya dan menolak.

Amat mengherankan bahwa setiap kepenuhan Roh Kudus pun tetap memberi peran penting pada kehendak bebas manusia, I Korintus 14:32; Galatia 6:8. Manusia atau orang percaya tetap diberi kebebasan untuk menerima atau menolak kepenuhan Roh Kudus, I Tesalonika 5:19. Berbeda dengan kerasukan, sekali orang itu dirasuki, seterusnya ia menjadi budak roh yang merasukinya.

4.3 Malaikat dari Allah menjadi pelaksana perintah dan sifat Allah kepada Manusia.

Mungkin saja orang akan berkata, mengapa malaikat memaksa Bileam mengucapkan sesuatu diluar kehendak pribadinya? Jangan lupa, malaikat menyetujuinya, Bilangan 22:38; 23:26. Ternyata setelah tugas yang disanggupinya itu dilaksanakan, malaikat tidak lagi memaksakan kehendaknya untuk mengatur ucapannya bagi bangsa Israel. Ternyata Bileam memberi nasehat yang bertujuan untuk menghancurkan orang Israel, Bilangan 31:16. Ingat juga istri Lot.

Jadi malaikat sebagai utusan Allah tetap melakukan tugasnya dengan mengacu pada sifat-sifat majikan tugasnya dengan mengacu pada sifat-sifat majikan agungnya yakni Allah. Bila malaikat merasuki manusia itu berarti ia mau menjadi tuan. Sedangkan malaikat tahu persis bahwa iapun hanyalah hamba. Sebagai hamba, ia harus menghormati Allah dan melaksanakan titahNya sesuai kehendakNya.

5. Peranan Malaikat dalam rencana Allah bagi keselamatan manusia.

Banyak catatan Alkitab tentang tugas pelayanan malaikat bagi orang percaya. Tetapi dari catatan Alkitab yang ada, ternyata malaikat bukanlah subyek keselamatan, karena sasaran keselamatan dari Allah itu adalah manusia.

5.1 Pelayanan malaikat kepada orang percaya dalam kitab Perjanjian Lama.

Kitab Perjanjian Lama diwarnai oleh hal ini. Kevin J. Conner mencatat sedikitnya 20 kali pelayanan malaikat ini.

* Kejadian 16:10; 21:17, seorang malaikat melayani Hagar.

* Kejadian 18:2, tiga malaikat mengunjungi Abraham dan Sara.

* Kejadian 19:1-24, dua malaikat menyelamatkan Lot sekeluarga keluar dari Sodom.

* Kejadian 22:11-15, Malaikat dari Tuhan berseru kepada Abraham untuk melepaskan Ishak anak tunggalnya, dan mempersembahkan seekor domba jantan menggantikannya.

* Kejadian 25:12; 31:11; 32:1; 48:16, Yakub mengalami pelayanan malaikat-malaikat sepanjang hidupnya.

* Kejadian 32:24-32; Hosea 12:4,5, Malaikat perjanjian bergulat dengan Yakub dan mengubah namanya menjadi Israel.

* Keluaran 3:2, Musa menerima penyataan nama Allah dari malaikat Tuhan di dalam semak yang bernyala.

* Ulangan 33:2; Mazmur 68:8; Kisah Para Rasul 7:35,38,53; Galatia 3:19; Ibrani 2:2, malaikat-malaikat terlibat dalam pemberian Taurat kepada Musa di gunung Sinai.

* Keluaran 14:19-24; Bilangan 20:6; Keluaran 23:20; 32:34; 33:2, malaikat hadiratNya berjalan di depan Israel untuk memimpin dan membimbing mereka dalam tiang awan dan tiang api.

* Bilangan 22:30-35, Allah mengirim seorang malaikat untuk memperingatkan Bileam dari ketidak-taatannya.

* Hakim-hakim 2:1-4, seorang malaikat mencela orang Israel karena kompromi dan penyembahan berhala mereka diantara orang Kanaan.

* Hakim-hakim 5:23, seorang malaikat mengucapkan kutuk kepada mereka yang tidak membantu Tuhan dalam peperangan melawan musuh-musuh Israel.

* Mazmur 34:7; 35:5-6, malaikat Tuhan berkemah di sekeliling mereka yang takut kepadaNya.

* II Samuel 24:16-17; II Tawarikh 21:12-30, seorang malaikat membunuh 70.000 orang Israel ketika Daud berdosa menghitung rakyat tanpa uang penebusan.

* I Raja-raja 19:35; Yesaya 37:36, Allah mengizinkan seorang malaikat untuk membunuh 185.000 tentara Assyria dalam satu malam penghukuman.

* Daniel 3:20-28, tiga orang pemuda Ibrani telah dilindungi dalam dapur api oleh seorang malaikat.

* Daniel 6:22, Daniel dilindungi oleh seorang malaikat di dalam gua singa.

* Zakharia 1:9, 11, 19; 2:3; 3:1-6; 4:1-5; 5:5, 10:6; 4-5; Ayub 33:23, malaikat Tuhan membawa tafsiran penglihatan-penglihatan dan wahyu kepada nabi muda, Zakharia.

* Pengkhotbah 5:4-5, malaikat-malaikat mendengar janji yang dibuat umat Allah di dalam rumah Tuhan.

* Hakim-hakim 6:11-12, malaikat dari Tuhan menampakan diri kepada Gideon.

* Hakim-hakim 13:1-21, kepada Manoakh; I Raja-raja 19:5-7, kepada Elia dan juga kepada yang lain.

* Daniel 10:13, 20-21; 12:1; II Samuel 24:16-17, Efesus 2:2; 6:12; Yohanes 14:30, malaikat pemimpin atas berbagai bangsa.

* Keluaran 12:18-30, malaikat-malaikat juga dipakai dalam penghukuman dan berkat. Malaikat yang sama yang melintasi rumah orang Israel yang diperciki darah, pada pintunya, malaikat itu jugalah yang membunuh semua anak sulung di Mesir.

* Mazmur 103:20-21, malaikat-malaikat sebagai pesuruh Allah melaksanakan perintah Allah di dunia, demikian juga di Surga.

5.2 Pelayanan malaikat kepada orang percaya dalam kitab Perjanjian Baru.

Kitab Perjanjian Baru ini istimewa. Waktu penulisannya sekitar lima puluh tahun dan mencatat kejadian-kejadian dan situasi orang percaya selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Berbeda dengan kitab Perjanjian Lama yang mencatat kejadian-kejadian dan situasi orang percaya sepanjang ribuan tahun. Tetapi ada satu kitab dalam kitab Perjanjian Baru yang sifatnya amat istimewa yakni kitab Wahyu. Antara kondisi akhir penulisan kitab Perjanjian Baru, yakni kondisi Gereja mula-mula, dengan inti kitab Wahyu sudah berjarak sembilan belas abad. Menurut kesaksian Alkitab, Ibrani 13:2, dan kesaksian banyak orang kudus akhir zaman, pasti begitu banyak penampilan dan pelayanan malaikat kepada orang percaya selama ini. Itulah sebabnya penampilan malaikat dalam kitab Wahyu mempunyai makna khudus.

Satu hal yang amat penting untuk diingat yakni, bila Allah menampakkan diri dalam kitab Perjanjian Lama itu bersifat Theophany atau Christophany. Sedangkan dalam kitab Perjanjian Baru, Allah menyatakan diri lewat Putra TunggalNya, dalam bentuk inkarnasi. Ternyata inkarnasi itu dalam bentuk manusia.
Itulah sebabnya penampilan malaikat dalam kitab Perjanjian Baru dibagi dalam tiga bagian.

Pertama : Dalam pelayanan kepada Tuhan Yesus.

* Matius 1:21-23; Lukas 1:26-38; malaikat berbicara kepada Maria tentang berita kelahiran Yesus.

* Matius 1:20-21; 2:13, 19, malaikat menyampaikan pesan kepada Yusuf.

* Lukas 2:10-15, malaikat-malaikat berbicara tentang kelahiran Yesus di Bethlehem.

* Matius 2:2, kemungkinan malaikatlah yang memperingatkan para Majus, lewat mimpi untuk tidak kembali kepada Herodes.

* Matius 4:11; Lukas 4:10; Markus 1:13, malaikat-malaikat melayani Tuhan Yesus sesudah masa pencobaan berakhir.

* Yohanes 1:51, malaikat-malaikat turun naik keatas Anak Manusia dalam pelayananNya, ingat mimpi Yakub.

* Lukas 22:43; Matius 26:53; seorang malaikat menguatkan dan menghibur Yesus di Getsemani ketika Ia masuk masa sengsaraNya. Dua belas legion malaikat dalam keadaan siaga bila Ia membutuhkan pertolongan dalam keadaanNya sebagai manusia.

* Matius 28;2-7; Lukas 24:23; Yohanes 20:12, seorang malaikat turun ke kubur Yesus, membuat para tentara yang menjaga kubur Yesus melarikan diri ketakutan, malaikat itu kemudian menggulingkan batu penutup kubur supaya para murid wanita dapat masuk kedalam kubur. Kemudian nampak dua malaikat dalam kubur itu.

* Kisah Para Rasul 1:10-11; Lukas 24:50-51; dua orang dalam pakaian yang bercahaya berbicara kepada murid-murid tentang kenaikan dan kedatanganNya kembali. Tidak diragukan lagi bahwa ada pasukan malaikat yang menyertai Yesus kembali ke Surga.

* Matius 16:27; 25:31; 13:41-43; I Tesalonika 4:16; II Tesalonika 1:7-9; Matius 24:36, malaikat-malaikat akan menyertai Tuhan Yesus dalam kedatanganNya yang kedua kali. Para malaikat akan mengumpulkan orang-orang pilihan dan memisahkan mereka dari orang fasik.

Kedua : Dalam Gereja mula-mula.

* Kisah Para Rasul 5:19, seorang malaikat membuka pintu-pintu penjara dan melepaskan rasul-rasul itu supaya mereka bersaksi.

* Kisah Para Rasul 8:26, seorang malaikat Tuhan menyuruh Filipus ke jalan yang menuju Gaza untuk bersaksi kepada seorang sida-sida Ethiopia yang rindu mencari keselamatan.

* Kisah Para Rasul 10:3; 30:32, seorang malaikat menyuruh Cornelius untuk menjemput Petrus yang akan memberikan Injil keselamatan kepadanya.

* Kisah Para Rasul 12:5-11, seorang malaikat melepaskan Petrus dari penjara menjelang ia akan dibunuh, karena belum saatnya Petrus mati.

* Kisah Para Rasul 12:23, seorang malaikat menampar Herodes karena kesombongannya.

* Kisah Para Rasul 27:23, seorang malaikat hadir menemui Paulus dalam suasana badai, waktu perjalanannya ke Roma.

* I Korintus 6:3, orang-orang percaya akan mengadili malaikat-malaikat.

* Kolose 2:18; Wahyu 19:10; 22:8-9; Ibrani 1:5; 2:6-7, orang-orang percaya dilarang untuk menyembahkan malaikat. Semua malaikat telah diciptakan untuk menyembah Allah. Hanya malaikat-malaikat yang telah jatuh yang mencari penyembahan untuk dirinya sendiri yang sebenarnya adalah untuk Allah.

* Ibrani 12:22-24; I Korintus 4:9; 11:10; Efesus 3:10; I Timotius 5:21, malaikat-malaikat ada disekitar Gereja sebagai perkumpulan orang percaya.

* Lukas 16:22; Mazmur 91:11-12; Ibrani 1:13-14; Mazmur 34:7; Lukas 24:50-51; malaikat-malaikat juga mengawal roh-roh orang percaya yang dibawa ke Firdaus, sampai tiba saatnya kedatangan Yesus yang kedua kali. II Raja-raja 2:1-11; Yudas 1:9. Bandingkan dengan pengangkatan Henokh, Musa dan Ela secara fisikal. Kereta-kereta berapi adalah simbol transportasi Illahi dan kemalaikatan dari orang-orang percaya untuk masuk ke alam rohani.

* Matius 18:10; Kisah Para Rasul 12:5-16, Kitab Suci menyatakan secara tidak langsung bahwa semua orang mempunyai seorang malaikat pelindung.

Ketiga : Malaikat dalam kitab Wahyu.

Kitab Wahyu menubuatkan tugas-tugas yang banyak dan rumit dari malaikat dalam penggenapan rencana dan karya keselamatan Allah kepada manusia.

* Wahyu 5:11, malaikat-malaikat yang tidak terhitung jumlahnya itu menyembah Anak domba.

* Wahyu 7:1, empat malaikat menahan angin-angin penghukuman yang bertiup di atas muka bumi sampai pemeteraian hamba-hamba Tuhan.

* Wahyu 12:7-10, Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang denga setan dan malaikat-malaikatnya dan melemparkan mereka keluar dari Surga.

* Wahyu 14:6, 8, 9, 15, 17-19, pelayanan malaikat adalah bukti dalam penghukuman atas dunia.

* Wahyu 14:8, seorang malaikat memberitahukan kejatuhan Babylon.

* Wahyu 14:6, 9, seorang malaikat membertahu penghukuman Injil yang kekal dan memperingatkan penduduk dunia untuk tidak memakai tanda dari binatang itu.

* Wahyu 14:10, orang-orang fasik disiksa di hadapan hadirat Anak Domba dan malaikat-malaikat kudus itu, mereka itulah yang menolak dengan congkak kemurahan dan pelayanan.

* Wahyu 14:17-19; Matius 13:24-30, 36-43; 13:49-50, malaikat-malaikat dipakai sebagai penuai-penuai pada akhir zaman untuk orang baik maupun jahat. Tuaian-tuaian ini dilambangkan dengan gandum dan lalang, ikan yang baik dan yang jahat, panen gandum dan anggur.

* Wahyu 15-16, malaikat-malaikat mencurahkan tujuh piala penghakiman keatas orang yang tidak mau bertobat.

* Wahyu 17:17; 21:9, seorang malaikat Tuhan menunjukan kepada Yohanes pelacur dan pengantin wanita itu.

* Wahyu 19:17, Yohanes melihat seorang malaikat berdiri diatas matahari, berseru kepada burung-burung dan binatang-binatang liar untuk datang makan malam dengan hidangan tubuh para orang fasik itu.

* Wahyu 20:1-4, seorang malaikat yang kuat dan besar menangkap setan, merantainya dan memasukannya kedalam lubang yang tidak terduga dalamnya (abyss) selama 1000 tahun.

* Wahyu 21:9; 22:1, 9, salah seorang malaikat yang memegang tujuh piala penghukuman itu membawa Yohanes dalam roh ntuk melihat kemuliaan Allah dan kota kudusNya serta hal-hal penting lainnya.

5.3 Malaikat-malaikat tidak diizinkan memberitakan injil keselamatan.

Walaupun malaikat dilibatkan Allah dalam rencanaNya menyelamatkan manusia, tetapi peran malaikat itu hanyalah sebagai pelengkap rencana. Allah sajalah satu-satunya yang melaksanakan keselamatan bagi manusia. Malaikat-malaikat tidak diperkenankan memberitakan Injil, karena; pertama, mereka tidak pernah mengalami penebusan dosa. Kedua, Allah mau manusia mengasihiNya dengan standar Alkitab dan menerima keselamatan denan berdasarkan kehendak bebasnya sendiri. Bila malaikat yang memberitakan Injil, manusia dapat mengasihi Allah dan menerima keselamatan karena paksaan.

Nampaknya, meskipun para malaikat amat dekat dengan Injil, tetapi ternyata mereka tidak mengerti apa arti Injil itu sampai hal itu diungkapkan oleh Allah sendiri. Petrus menulis bahwa para malaikat ingin melihat kedalam rahasia agung keselamatan yang sudah mulai diberitakan sejak dari kitab Perjanjian Lama, I Petrus 1:9-12. Nampaknya, bila para malaikat mengerti rahasia Injil keselamatan, setan akan berjuang supaya Yesus tidak mati di salib. Justru sebaliknya, setanlah yang berusaha membunuh Yesus lewat tangan orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus itu, Yohanes 14:30; 13:2, 27; Lukas 22:3-6; Yohanes 18:2-3.

Rahasia Injil sebenarnya ada dalam kematian Yesus Kristus di kayu salib, I Korintus 15:1- 4. Tetapi ternyata bahwa kebanaran Injil itu telah dirahasiakan berabad-abad (ribuan tahun) oleh Allah, Roma 16:25-26. Justru beban pemberitaan Injil itu ada di pundak orang percaya, Matius 28:19-20; Markus 16:15-16. Lihatlah gambaran itu didalam Alkitab.

* Lukas 1:5-25, malaikat Gabriel memberitahukan kedatangan penghulu Mesias kepada Zakharia.

* Lukas 26-35, malaikat Gabriel juga memberitahu kepada perawan Maria bahwa kelahiran Juruselamat melalui kandungannya dan menyuruh Maria menamakanNya Yesus. Selanjutnya malaikat itu memberi bimbingan kepada Yusuf untuk menyelamatkan bayi Yesus dari kekejaman Herodes Agung, sebab waktunya belum tiba.

* Matius 2:2, 12, kemungkinan besar, malaikat jugalah yang membimbing para Majus mencari *Raja Orang Yahudi*.

* Lukas 2:10-11, malaikat memberitahu para gembala di padang Efrata bahwa Mesias sudah lahir di Bethlehem.

* Kisah Para Rasul 8:26, malaikat menyuruh Filipus untuk membawa berita Injil kepada oknum orang Ethiopia itu. Para malaikat sudah tahu rahasia Injil .

* Kisah Para Rasul 10:1-8, 22, 44-46; 11:13-14, malaikat yang memberitakan Injil.

* Kisah Para Rasul 27:23-24, seorang malaikat memberitahu bahwa Paulus akan selamat dari bahaya angin topan yang sedang melanda mereka, karena harus terus ke Roma untuk memberitakan Injil kepada kaisar. Manusialah yang mempunyai tugas memberitakan Injil, bukan malaikat.

6. Malaikat maut.

Seringkali kita mendengar istilah umum tentang *malaikat maut*. Istilah ini membentuk opini tentang seorang malaikat yang menguasai kematian atau maut itu sendiri. Opini ini menggiring manusia untuk mempunyai gambaran bahwa malaikat ini adalah malaikat khusus yang sangat berkuasa atas hidup atau mati manusia. Opini ini juga menggiring manusia mempunyai gambaran tentang adanya malaikat atau makhluk roh yang dapat menentukan nasib manusia, yakni mencabut nyawa manusia, bahkan menggambarkan bahwa malaikat itulah yang berkuasa mutlak atas dunia orang mati. Memang kearah inilah gambaran yang ada dalam dunia agama penyembahan berhala – polytheisme, baik di Timur maupun di Barat. Penyembahan kepada malaikat atau dewa penguasa maut diadakan secara khusus dalam agama-agama itu. Lihat saja pandangan tersebut dalam agama Mesir, Kanaan, Babylon, India dan Yunani.

Ternyata Alkitab tidak mengenal konsep malaikat mau itu, memang dalam Ibrani 2:14 disinggung tentang *si iblis yang berkuasa atas maut*, dalam Yohanes 8:44 ditulis bahwa *ia adalah pembunuh manusia sejak semula*, dalam I Yohanes 5:19 ditulis bahwa *seluruh dunia berada dibawah kuasa si jahat*. Tetapi maksudnya bukan untuk menyatakan bahwa si iblis itu berkuasa menentukan kematian seseorang atau berkuasa mutlak atas dunia orang mati. Kejadian 7 mencatat bahwa Allah membinasakan orang-orang berdosa denan air bah. Kejadian 19 mencatat bahwa Allah membinasakan orang-orang di Sodom dan Gomorah. Keluaran 12 mencatat bahwa Allah membunuh semua anak sulung orang Mesir. Ketika orang Israel menaklukan Kanaan, yang mati oleh tangan Allah lebih banyak daripada oleh pedang orang Israel. Jadi, Allah berkuasa atas maut dan maut itu adalah penghukuman Allah atas dosa manusia.

6.1 Apakah maut itu ?

Maut atau kematian ternyata adalah penghukuman Allah kepada manusia karena mereka melawan perintah atau hukum Allah, Kejadian 3. Dengan berdosanya manusia kepada Allah, manusia akan mengalami tiga macam kematian. Kematian yang pertama adalah kematian rohani (spiritual death), yakni terpisahnya roh manusia dari Allah, Kejadian 2:17. Kematian yang kedua adalah kematian tubuh (physycal death), yakni saat manusia putus nafasnya. Kejadian 5:5, 8, 11; Lukas 16:22-23. Kematian yang ketiga adalah kematian kekal (eternal death). Inilah penghukuman kekal di neraka. Lihat pelajaran tentang dosa (Harmatologi).

6.2 Apakah alam maut itu ?

Alam maut yang dalam bahasa Ibrani disebut Sheol dan dalam bahasa Grika disebut Hades adalah tempat penyimpanan roh-roh manusia yang mati diluar Tuhan. Mereka disimpan disini menunggu penghakiman kekal dan masuk ke Neraka. Di bagian lain dari Hades, yang disebut jurang maut – Abyss, disimpanlah malaikat-malaikat jahat yang tidak diizinkan Allah berkeliaran di bumi, Lukas 8:31cf; Wahyu 9:1cf. Bahkan si setanpun kelak akan dikurung dalam jurang maut ini selama seribu tahun, Wahyu 20:1cf.

6.3 Apakah penyebab maut itu ?

Sudah ditegaskan di depan, penyebab mau adalah tindakan manusia melawan hukum Allah. Hal ini perlu ditegaskan untuk mencegah opini yang keliru dimana terdapat kesan bahwa maut itu dibawah kuasa si iblis.

6.4 Apakah arti pembunuh manusia itu ?

Apakah pembunuh manusia berarti penguasa maut ?  Pembunuh artinya orang yang membunuh atau menghilangkan nyawa orang dengan sengaja. Tidak seorangpun berhak mencabut atau menghilangkan nyawa orang lain. Alitab mencatat bahwa hal itu adalah dosa, Kejadian 4:8cf; Keluaran 20:13. Jadi, malaikat apapun ia, tidaklah ia berhak mencabut nyawa orang lain. Memang harus diakui dalam kondisi tertentu, orang-orang yang lebih kuat dapat membunuh atau membantai orang lain. Sejarah mencatat bagaimana kaisar-kaisar Romawi, Mongol banyak membantai manusia. Bahakan di zaman modern ini, Hitler menyuruh membantai lebih dari enam juta orang Yahudi di Eropa. Ditegaskan bahwa setan adalah pembunuh manusia, Yohanes 8:44; 10:10, tetapi tetap ia bukanlah malaikat maut.

Tetap saja, membunuh manusia tidak berarti ia menguasai mau. Dengan tegas Alkitab mencatat : \Dan janganlah kamu taku kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa, takutlah kepada Dia yang berkuasa membinasakan jiwa maupun tubuh di dalam Neraka\”, Matius 10:28. Ternyata Allah-lah yang berkuasa atas maut. Allah memberi hukumNya yang adil yang mengatur segala sesuatu dalam alam ciptaanNya termasuk maut, alam maut dan neraka.

6.5 Apakah maut dapat dikalahkan ?

Ternyata maut itu adalah penghukuman Allah karena dosa. Penghukuman terhadap malaikat yang berdosa tidak dapat diubah dengan kata lain kepada malaikat tidak ada pengampunan. Penghukuman Allah kepada manusia dapat diubah, dengan kata lain kepada manusia ada pengasihan dan pengampunan dari Allah, Ibrani 2:16cf.

Allah sendirilah yang harus mengubah penghukumanNya kepada manusia, dari maut atau kematian kepada kehidupan. Untuk itulah Anak Allah, Yesus Kristus datang ke dunia mengalahkan maut, Wahyu 1:17-18. Jadi maut atas manusia dapat dikalahkan. Tuhan Yesus sendiri yang membawa *kehidupan*Nya bagi manusia, Yohanes 10:10; 14:6. Setelah Yesus membalikkan maut, pada gilirannya orang percaya menikmati kemenangan atas maut, I Korintus 15:54-57.

Jadi, maut tidaklah dikuasai oleh *malaikat* sebagaimana persepsi banyak orang. Maut itu sebenarnya adalah penghukuman Allah atas dosa. Maut itu sendiri dapat dikalahkan sesuai hukum yang Allah berikan.

7. Batas-batas kekuasaan malaikat.

Tidak ditulis oleh Alkitab secara terinci apa saja kekuasaan malaikat. Tetapi sebagai perbandingan, kepada Adam, Allah memberi otoritas yang luar biasa terhadap alam dan makhluk hidup lainnya, Kejadian 2. Secara simbolis, malaikat digambarkan melebihi manusia dalam derajatnya, Ibrani 2:7, dalam keperkasaannya, Mazmur 89:6; Matius 28:2, dalam penampilannya Mazmur 104:4; Ibrani 12:18; dalam kemuliannya, Ayub 38;7; Yesaya 12:12-14, dalam otoritasnya, Keluaran 1:18 dan sebagainya. Jadi sudah pasti bahwa kekuasaannya melebihi manusia.

Tetapi sebagai makhluk ciptaan, dan sebagai hamba, kekuasaan malaikat terbatas. Allah pencipta, sekaligus pember hukum supaya semua ciptaanNya itu hidup harmonis. Semua ciptaan Allah, dari benda-benda material sampai makhluk hidup harus tunduk pada hukum Allah. Bahkan Allah sendiri melangsungkan semua rencana dan karyaNya itu sesuai hukum yang Ia tetapkan sendiri. Sebagai contoh : untuk menyelamatkan manusia, Allah melaksanakannya lewat Yesus Kristus dengan menggenapkan Hukum Taurat. Atau dengan kata lain, harus sesuai dengan hukum yang Allah tetapkan sendiri. Batas-batas kekuasaan malaikat merupakan bagian hukum Allah yang berlaku dalam dunia rohani. Mereka yang melangkahi hukum itu adalah dosa, Yesaya 12:12-14; Yudas 1:6.

Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan rencana dan tujuan yang ditetapkan oleh Allah sendiri, termasuk malaikat itu, dalam keterbatasan kekuasaan malaikat itu nampak nyata prinsip-prinsip keilahianNya, yakni : Pertama, hanya Allah saja yang tidak terbatas. Kedua, Allah adalah majikan, semua makhluk ciptaanNya adalah hamba, yang harus melaksanakan rencanaNya dan taat pada hukumNya yang kudus dan adil, sesuai dengan sifat Allah itu sendiri. Ketiga, Mereka yang setia kepada hukum Allah, mendapatkan pahala. Mereka yang melanggar hukum Allah pasti mendapatkan hukuman.

[END] @2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).

Author : .us

Related Post

Comment(1)

  1. Reply
    cheap ray ban sunglasses says

    Hi, just wanted to tell you, I enjoyed this post. It was inspiring.Keep on posting!

Post a comment