1

Doktrin Tentang Roh Kudus – Pneumatology

Roh Kudus – Pneumatology

dilihat: 3259 kali

Pasal 1: PENDAHULUAN

Roh Kudus adalah oknum ketiga dari lembaga Trinitas ke-Alahan. Pokok ajaran tentang oknum Roh Kudus dan pekerjaanNya menjadi salah satu pokok yang sangat menarik untuk dibicarakan. Gereja yang dinamis dan bergerak terus dalam pertumbuhan tidak pernah menjadi jemu dan selalu ingin semakin bertumbuh mendalam dalam pengenalan oknum ketiga dari Allah. Mengapa? Sebab doktrin itu tidak statis tetapi Roh Kudus memberikan iluminasiNya sehingga semakin membukakan kehendakNya kepada Gereja. Bahkan Alkitab menjelaskan bahwa para malaikat sekalipun ingin sekali mengetahui semua rahasia Ilahi yang diberitakan oleh hamba-hamba Tuhan yang diurapi oleh Roh Kudus (1 Petrus 1:12).

Apabila berbicara tentang Roh Kudus, sudah tentu tidak dapat terlepas dari Gereja Tuhan, sebab gereja dan Roh Kudus bagaikan rumah dan penghuninya. Bukanlah rumah dalam arti yang benar bila tidak ada penghuninya. Demikianlah tentang gereja Tuhan, bukanlah gereja dalam arti yang sesungguhnya tanpa peranan oknum Roh Kudus. Gereja tanpa Roh Kudus adalah sama nilainya dengan lembaga organisasi sosial masyarakat biasa. Gereja bukanlah lembaga dimensi dunia tetapi adalah tubuh Kristus sebagai lembaga ilahi menjadi sarana Yesus Kristus kepala Gereja menyalurkan perkara rohani yaitu kehendak ilahi (Efesus 1:22-23).

Kematian Yesus Kristus sebagai penebusan dosa isi dunia adalah kasih karunia yang terdalam dari Allah sesungguhnya kasih karunia itu tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Sehingga tidaklah mungkin manusia mampu mengenal dan mengerti anugrah kemurahan yang terbesar dari Allah. Roh Kuduslah yang memberi kemampuan sehingga dunia dapat mengerti dan mengenal perbuatan supranatural tersebut (1 Korintus 12:10-12). Tanpa peranan pekerjaan Roh Kudus sesungguhnya tidak seorangpun akan mampu mengenal dan percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib tidak dipahami oleh orang Yahudi sehingga penyembelihan binatang berjalan terus. Kematian Yesus Kristus sebagai domba sembelihan untuk tebusan dosa isi dunia menjadi tidak berfaedah apabila tidak ada peranan pekerjaan Roh Kudus (1 Korintus 12:3, Yohanes 16:7-8).

Dalam Kisah Para Rasul pasal 2, Roh Kudus telah dicurahkan ke atas bumi dan mendiami GerejaNya, yaitu orang-orang percaya yang membuka diri bagi oknum ketiga dari Allah dan pada saat itu orang-orang percaya resmi menjadi gereja Tuhan atau tubuh Kristus. Roh Kuduslah yang menjadi kriteria untuk menjadi satu Gereja yang hidup. Sehingga Gereja selain dimensi organisasi juga berdimensi organisme tubuh Kristus (Efesus 1:22-23). Dan sejak kenaikan Kristus ke Sorga dan dicurahkannya oknum Roh Kudus dan membaptis serta memenuhi murid-murid di kamar loteng Yerusalem sampai kepada kedatangan Yesus Kristus kedua kali, gereja telah berada dibawah otorisasi Roh Kudus. Karena itu semua kemuliaan perjanjianNya tergantung bagaimana Gereja Tuhan membuka diri ke dalam intervensi oknum dan pekerjaan Roh Kudus (baca Yohanes 16:7). Disitu dikatakan bahwa betapa pentingnya kenaikan Yesus Kristus ke Sorga supaya Roh Kudus dapat datang ke atas muka bumi. “Namun benar yang Kukatakan kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu supaya Aku pergi, sebab jika Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu; tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Apabila kita merenungkan perkataan Tuhan Yesus tadi, tentang lebih berfaedah jikalau Yesus pergi ke Sorga supaya Roh Kudus itu diutusNya ke muka bumi. Pernyataan tersebut mengandung perenungan teologis, bahwa kehadiran oknum serta pekerjaan Roh Kudus lebih berfaedah bagi orang percaya daripada kehadiran Yesus terus menerus di muka bumi. Salah satu kefaedahan telah diuraikan di atas bahwa Roh Kuduslah yang memberi kesanggupan illahi sehingga manusia dapat terbuka hatinya untuk mengenal dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat isi dunia (1 Korintus 2:10-12). Kefaedahan utama lainnya kita akan menemukan dalam uraian selanjutnya.

Karena Roh Kudus menjadi ukuran atau nilai kemuliaan keberadaan Gereja maka ajaran tentang Roh Kudus menjadi begitu menarik dan menjadi pokok utama dalam ajaran iman Kristen. Tidak heran terjadinya begitu banyak interpretasi/tafsiran yang berbeda tentang dasar-dasar ajaran tentang oknum dan pekerjaan Roh Kudus. Ada banyak yang membangun ajaran tentang oknum peranan Roh Kudus setuju dengan penyataan-penyataan langsung dari Alkitab namun tidak Pneumatologis. Karena tidak mempu memberi jawaban tentang hakekat atau substensi dari ajaran yang dibangun. Sedangkan yang lain terlalu Pneumatologis, sehingga mengabaikan banyak penyataan langsung yang ditulis oleh Alkitab. Sehingga juga tidak dapat memberi jawaban atas penyataan yang sangat praktis tertulis dalam Alkitab. Kekeliruan yang terbesar adalah bila Gereja tidak membuka diri terhadap kenyataan bahwa Roh Kudus sedang membuka diriNya seluasnya sekarang ini. Gereja tidak boleh membangun doktrin yang berorientasi kepada konsep organisasi Gereja sendiri (Denominatis doctrin oriented), tetapi harus terbuka dan berorientasi kepada Firman Allah (Bible Oriented Doctrin). Kita harus mengakui bahwa begitu bayak kemiskinan rohani disebabkan oleh kekeliruan doktrin. Kesehatan ajaran merupakan syarat mutlak Gereja menuju kepada kesempurnaan (Efesus 4:11-15).

Pasal 2: KEMULIAAN ROH KUDUS SEBAGAI OKNUM ALLAH.

Tidak semua ajaran Gereja menerima Roh Kudus sebagai oknum Allah. Gerakan Liberalisme, Rationalisme, Jehovah Witness, Mormonisme, Christian Science, ajaran-ajaran sesat lainnya. Mereka dengan terang-terangan menolak percaya bahwa Roh Kudus adalah Oknum Allah. Karena itu, tidaklah patut golongan tersebut dikatakan sebagai Gereja Tuhan. Gerakan tersebut di atas tidak memiliki kualitas supranatural, semua normatif ajaran gerakan tersebut terperangkap kepada normatif akal budi. Ciri filsafat telah menjadi ciri membangun pengertian Alkitab. Dari situ lahirlah Ateisme, keinginan mereka yang berbau spiritual menjadikan mereka terperangkap kepada dunia spiritisme. Perhatikanlah di era modern ini bahwa pola kepercayaan dunia barat banyak telah tenggelam kepada kepercayaan spiritisme.

Demikianlah juga kita mengetahui melalui Alkitab bahwa Roh Kudus adalah oknum Allah, namun sering Gereja tidak memuliakan Dia sebagai satu oknum. Roh Kudus bukanlah sekedar satu kuasa, atau satu pengaruh yang bersifat suggestif. Gereja harus memuliakan dan menerima Dia layaknya sebagai satu oknum Roh Kudus adalah satu dari Trinitas ke-Allahan. Bukti bahwa Roh Kudus adalah satu oknum yaitu, kriteria yang harus dimiliki sebagai satu oknum ada pada Roh Kudus Kriteria itu sebagai berikut :

1. Roh Kudus mempunyai pikiran.

Dalam Roma 8:27 bahwa Allah yang menyelidiki hati nurani mengerti maksud Roh Kudus. Disini jelas bahwa Roh Kudus mempunyai maksud tertentu dan itu diketahui oleh Allah Bapa. Dalam 1 Korintus 14:2 Roh Kudus dalam bahasa roh menceritakan sesuatu yang rahasia kepada Allah Bapa. Roh Kudus mempunyai pikiran karena mampu merencanakan sesuatu yang hanya diketahui oleh Bapa Kisah Para Rasul 15:28 bahwa Roh Kudus mampu membuat satu keputusan. Karena itu Roh Kudus adalah makluk intelek satu bukti bahwa kriteria dari satu oknum.

2. Roh Kudus mempunyai perasaan.

Roh mempunyai pikiran serta kehendak untuk dilakukan oleh orang percaya. Roh Kudus dapat di dukacitakan apabila kehendakNya tidak dilakukan oleh orang percaya. Banyak kali terjadi dalam pengalaman sebagai orang percaya bahwa kita merasakan bagaimana Roh Kudus di dukacitakan. Orang percaya yang baik dan bergaul dengan Roh Kudus pasti dapat merasakan perasaan dari Roh Kudus yang ditransformasikan kedalam perasaan orang percaya. Karena itu kita mampu merasakan dukacita Roh Kudus (Efesus 4:30). Sebagai satu oknum Roh Kudus mempunyai perasaan.

3. Roh Kudus mempunyai kehendak.

Roh Kudus memiliki kehendak layaknya sebagaimana manusia mempunyai kehendak. Adalah kehendak Roh Kudus supaya orang percaya yang dipenuhkan oleh Roh Kudus boleh memberi diri untuk hidup dipimpin sesuai kehendak Roh. Jikalau hidup kita oleh Roh baiklah juga hidup kita dipimpin oleh Roh jelaslah, Roh Kudus mempunyai kehendak yang dikehendakiNya supaya orang percaya dapat hidup dalam ketaatan kepada kehendakNya (Galatia 5:25).

Selanjutnya, dalam 1 Korintus 12:11 bahwa Roh Kudus memberi karunia-karunia Roh sesuai yang dikehendakiNya. Roh Kuduslah yang menganugrahkan karunia-karunia kepada kita dalam pelayanan sesuai kehendakNya. Tidak ada karunia di bawah otoritas orang percaya, semua diberikan Roh Kudus setuju dengan kehendakNya. Karena itu, Roh Kuduslah menjadi kunci manifestasi karunia-karunia dalam ibadah orang percaya.

4. Roh Kudus dapat dibohongi.

Dalam Kisah Para Rasul 5:3 Rasul Petrus menegur dengan keras kepada Ananias dan istrinya Safira, karena mereka membohongi Roh Kudus. Perhatikan, Roh Kudus dapat tersinggung dan menghukum apabila kita berdusta kepadaNya suatu komitmen atas satu kebenaran. Manusia berusaha untuk membohongi, tetapi jelaslah bahwa Roh Kudus tidak dapat didustai. Ananias dan Safira dihukum karena mendustai Roh Kudus.

5. Roh Kudus dapat dihina, dihujat.

Sebagaimana Tuhan Yesus Kristus sebagai satu Pribadi dan dapat dihujat, demikian pula dengan Roh Kudus. Tuhan Yesus berkata bahwa segala macam dosa dan hujat dapat diampuni tetapi menghujat Roh Kudus tidak dapat diampuni. Bahkan apabila kita mengucapkan sesuatu yang menentang Anak Manusia maka dosa itu dapat diampuni tetapi menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni di dunia ini dan dunia akan datang (Matius 12:31-32).

Alangkah dahsyatnya apabila kita menghujat Roh Kudus, Tuhan Yesus sangat mengistimewakan oknum Roh Kudus, menghormati dan memandang kemutlakan keberanan yang terletak ke atas misi oknum ketiga dari Allah ini. Kita mengerti secara teologis makna misi Roh Kudus dalam memproklamirkan arti salib dan Darah Kristus bagi keselamatan isi dunia. Menghujat Roh Kudus disamakan dengan menolak salib Kristus sebagai jalan keselamatan (Ibrani 9:13-14). Jelaslah Roh Kudus adalah satu oknum.

6. Roh Kudus dapat berbicara.

Rasul Petrus dalam Kisa Para Rasul 10:19-20, mendengar suara Roh yang berbicara, bahwa ada tiga orang yang mencari dia. Mereka memberitakan tentang Kornelius yang perlu dilayani oleh Petrus, suara Roh Kudus tersebut didengar jelas oleh Petrus. Roh Kudus sebagai satu oknum haruslah memanifestasikan diriNya sepenuhnya sebagai oknum Allah.

Kebenaran tentang Roh Kudus sebagai oknum yang berbicara dapat kita lihat juga dalam kitab Wahyu. Kesemua apa yang dilihat dan dipesankan Roh Kudus kepada rasul Yohanes yang ditujukan kepada ketujuh sidang jemaat di Asia disimpulkan dengan kata-kata bahwa siapa yang bertelinga hendaklah ia mendengar apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat (Wahyu 2:7,17,29).

Alangkah berbahagianya jemaat-jemaat masa kini apabila mempunyai kepekaan terhadap suara Roh Kudus. Gereja pasti akan melimpah dengan kemuliaan sebab begitu banyak berita yang ingin dikatakan Roh Kudus kepada gerejaNya.

7. Roh Kudus dapat dipadamkan.

1 Tesalonika 5:19 “Janganlah padamkan Roh”, telah diuraikan bahwa Roh Kudus dapat didukacitakan. Mendukacitakan Roh Kudus melalui melukai perasaanNya itu akan berakhir dengan memadamkan pekerjaan Roh. Roh Kudus sering dilambangkan seperti api. Karena itu sebagaimana api dapat menyala dan juga padam maka Gereja dengan menolak melakukan kehendak Roh maka Roh Kudus dapat dihina dan didukacitakan dan akhirnya memadamkanNya sama sekali. Roh Kudus sebagai oknum dapat meninggalkan orang percaya. Sebagaimana Dia bisa datang demikian pula kita harus percaya bahwa Dia dapat pergi. Ingat, Roh Kudus sebagai oknum Allah memiliki “kedaulatan” yang tidak dapat dirintangi.

Pasal 3: ROH KUDUS ADALAH SATU OKNUM DALAM TRITUNGGAL.

Sebagaimana telah diuraikan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi dan Dia sederajat dalam kualitas ke-Tuhanan dengan Bapa maupun Anak. Dia memiliki karakter ilahi seperti Bapa maupun Anak. Sifat-sifat dan atribut ke-Allahan dari Bapa ataupun anak juga ada pada Roh Kudus. Yaitu, bahwa Dia Maha Kekal (Eternity) Ibrani 9:14, Dia Maha Tahu (Omni Science), Dia Maha Hadir (Omni Presence), serta Dia Maha Kuasa (Omni Potence), Yohanes 14:26, Mazmur 139:10. Jelaslah, bahwa semua atribut ke-Allahan ada kepada Roh Kudus menjadikan Roh Kudus bukan hanya sebagai oknum atau Pribadi Allah. Tetapi dalam segala dimensi Dia sederajat dan sekualitas dengan Bapa ataupun Anak.

Beberapa bukti berikut sebagai bukti kesederetan Roh Kudus dengan Bapa ataupun Anak, yaitu, nama Roh Kudus disamakan dengan nama Yesus Kristus (Matius 28:19). Nama Roh Kudus disamakan dengan Bapa dan Anak (2 Korintus 13:13). Begitu juga bahwa nama Roh Kudus dengan Allah dipakai berganti-ganti membuktikan kualitas ke-Allahan yang sama. Walaupun Roh kudus adalah oknum Allah, tetapi harus diingat bahwa Roh Kudus bukan pribadi Allah Bapa dan juga bukan pribadi Allah Anak. Perhatikan Matius 28:19, Yohanes 14:16, Kisa Para Rasul 2:33.

Allah kita adalah Allah Tri-Tunggal (Trinitas), yang terdiri dari tiga oknum yang berbeda, namun mereka adalah esa. Bukti Alkitab : Ulangan 4:35, Yesaya 44:6, Markus 10:18, 1 Timotius 2:5. Firman Allah di atas membuktikan bahwa Allah kita esa. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mampu membuktikan ke-esaan dari Allah namun terdiri dari tiga oknum. Kejadian 1:26, kata “Marilah Kita . .” begitu juga dengan pemakaian kata “Elohim” yang menyatakan kejamakan dari keberadaan Allah kita. (Kejadian 1:1-2).

Ke-esaan daripada ke-Trinitasan Allah tampak ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, demikian juga ketika Yesus memberi amanat agungNya. Yesus perintahkan untuk membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Begitu juga dalam Perjanjian Baru penyebutan ketiga oknum Allah tersebut disamakan dengan Allah. Silih berganti Bapa dan Anak dan Roh Kudus dikatakan sebagai Allah (Roma 1:7, Korintus 2:8-10, Yohanes 20:28, Yohanes 1:1, Titus 2:13, Kisah Para Rasul 5:3-4).
Memahami Fungsional Bapa, Anak dan Roh Kudus

Dalam pelajaran sebelumnya, nyatalah bahwa dalam lembaga Tritungal, Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki kesetaraan kualitas sifat ilahi. Ke-Ilahan Bapa sama dan sederajat dengan Anak begitu pula dengan Roh Kudus. Kewenangan ke-Allahan ini perlu diaktualisasi dalam ibadah, karena tanpa disadari bahwa Gereja tidak berhasil menempatkan oknum Roh Kudus pada status ke-IlahianNya yang sebenarnya. Kita tidak menyembah dan menghormati Dia sebagaimana pujaan kepada Bapa dan Anak, padahal Roh Kudus merupakan kunci rahasia kemuliaan Gereja.

Apabila kita belajar tentang kesetaraan kualitas ke-Ilahian Bapa, Anak dan Roh Kudus, dalam dimensi kepangkatan lembaga ke-Allahan tersebut. Kita akan menjumpai bahwa Bapa lebih tinggi dari Anak dan Roh Kudus, dan Anak dan Roh Kudus tunduk kepada Bapa. Begitu pula bahwa Anak lebih tinggi kepangkatan dari Roh Kudus, dimana Roh Kudus tunduk kepada Anak. Demikianlah terjalin secara harmonis hirarki lembaga “Tritunggal ke-Allahan (Yohanes 14:28, 15:8, 20:21, 16:14, 16:7).

Hubungan lembaga Trinitas ke-Allahan hendaklah diketahui dengan baik kebenarannya. Hubungan yang harmonis (memahami status dan fungsi ke-ilahian dari masing-masing oknum) dalam fungsional masing-masing oknum Allah dalam lembaga ke-Trinitasannya adalah menjadi dasar untuk membangun ajaran yang benar. Kekurangan pengertian lembaga Trinitas terutama dalam hubungan fungsi masing-masing dinamika Allah dalam keselamatan umat manusia itu, bisa menjadi penyebab kesalahan membangun doktrin gerejani. Betapa pentingnya doktrin yang sehat bagi pertumbuhan dan keselamatan manusia (Efesus 4:12-14).

Kita mengetahui bahwa ada gerakan yang membangun doktrin ke-Allahan yang Father Oriented (hanya Allah Bapa), dan tidak memberi tempat yang tepat kepada peranan Anak dan Roh Kudus. Begitu pula ada yang membangun ajarannya “Yesus Oriented” (hanya Anak), sedangkan yang lain menekankan ajaran “Spirit Oriented” (penekanan pada pekerjaan Roh Kudus yang berlebihan).

Father Oriented, yaitu ajaran yang hanya mengakui keberadaan Bapa dan menolak ke-ilahian Yesus dan Roh Kudus, jelaslah ajaran ini menolak semua bentuk supranatural dari Alkitab. Mereka terperangkap kepada normatif logika. Sebaliknya bagi yang Yesus Oriented, ajaran yang menekankan hanya pada Yesus (banyak di Amerika), menolak peranan Bapa dan Roh Kudus. Kelihatannya baik namun hakekat ajaran ini adalah sesat.

Demikian pula adanya gerakan yang terlalu berorientasi kepada pekerjaan Roh Kudus dan melupakan hubungan yang harmonis dari masing-masing fungsional dalam lembaga Trinitas. Perintah Firman Allah yang menjadi kaidah, normatif dan azas iman menjadi nomor dua. Penekanan karunia-karunia yang berlebihan bisa mengakibatkan penyimpangan dan kesesatan. Lebih percaya nubuatan dari Firman Allah, penglihatan lebih otoritas dari Firman tertulis (Neo Pantekosta). Ketiga golongan ini termasuk sekte yaitu bidat yang perlu dihindari. Firman Allah begitu terang menjelaskan tentang apa dan bagaimana fungsional masing-masing oknum dalam lembaga Trinitas.

Fungsional Allah Bapa dalam Trinitas

Dalam lembaga Trinitas ke-Allahan, kedudukan Bapa sebagai kepala lembaga. Dia kepala pemerintahan lembaga sorgawi. Bapalah yang merencanakan dan menetapkan segala rencana program ilahi, baik dalam penciptaan, ke-paripurnaan rencana ilahi lainnya dan terutama dalam rencana keselamatan umat manusia yang telah jatuh dalam dosa. Dimana rencana keselamatan tersebut ditetapkan dalam Allah Yesus Kristus (Efesus 1:3-4).

Allah Bapa tidak berwujud, Dia tetap di dalam hakekat Allah yang Roh adanya. Walaupun dalam Perjanjian Lama, Bapa sering menampakkan diri dalam wujud manusia (Theofani), Kejadian 18:1-2. Allah Anak dan Allah Roh Kudus tunduk kepada semua ketetapan Bapa. Anak dan Roh Kudus taat dibawah otorisasi Bapa. Yohanes 5:37, Yohanes 14:28, Yohanes 15:1, 1 Yohanes 4:14, Wahyu 3:5. Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa Bapa adalah kepala lembaga Trinitas. Allah kita yang Trinitas, walaupun masing-masing sebagai oknum atau pribadi tetapi ketiganya selalu dalam kebersamaan yang tidak dapat dipisahkan (Inseparably Position). Disinilah terletak salah satu keunikan ajaran Tritunggal, yaitu bahwa ketiganya masing-masing adalah oknum, tetapi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Walaupun mempunyai dispensasi otoritas waktu yang berbeda tetapi pada hakekatnya mereka selalu bersama (Yohanes 10:30, 38).

Di atas telah diuraikan tentang kedudukan Allah Bapa dalam Trinitas, serta hakekat keberadaanNya, maka fungsional Bapa dalam Trinitas dapat diuraikan sebagai berikut; di dalam Allah Bapa adalah terletak totalitas (Keparipurnaan) dari Allah yang memerintah, merencanakan serta menetapkan segala program lembaga Tri-Tunggal. Contoh: Dalam Kejadian 1:1-3, inisiatif perencanaan dari Bapa, Roh Allah melayang-layang dan berfirmanlah Allah. Terlihat jelas keterlibatan langsung ke-Tritunggalan dalam penciptaan. Hanya harus diingat bahwa awal atau subyek penciptaan datang dari Allah Bapa sesuai fungsional hakekatnya. Itulah yang dimaksud dengan “Totalitas” keterlibatan.

Fungsional Allah Anak dalam Trinitas

Tidak seorangpun mampu mengenal Allah kalau bukan karena Yesus yang sudah menyatakan diriNya. Yesus (Firman) Anak Allah sudah menjadi manusia (bahasa asli daging). Dia telah meninggalkan hakekatNya sebagai Roh. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa penuh kasih karunia dan kebenaran”. Yohanes 1:14.

Apabila Anak Allah tidak menjadi manusia maka tidak seorangpun mampu mengenal Allah, karena sangat abstrak dan tidak berwujud sebab Roh adanya. Kedatangan Yesus sebagai Anak dan mengambil wujud manusia (daging). Dia tidak sekedar berwujud manusia tetapi Daya Psikologis, mental dan moral manusia ada kepadaNya. Dia merasa lapar bila tidak makan, Dia merasa tersiksa bila dianiaya, Dia terhina bila dihina. Memang Yesus menjadi manusia sejati. Satu-satunya yang berbeda dengan manusia biasa yaitu, bahwa Yesus tidak memiliki kecacatan moral (1 Petrus 1:19). Posisi Yesus sebagai manusia tidak mempunyai kecacatan moral dan dosa, karena Dia adalah manusia yang bukan keturunan daging tetapi lahir oleh Roh Kudus. Allah yang tidak kelihatan telah menjadi nyata di dalam Yesus.

Sungguh mulia tidak terkatakan rencana Bapa di dalam Yesus, karena Yesus adalah Allah yang berwujud, menjadi nyata, maka Dia menjadi domba yang tersembelih guna mengangkut dosa isi dunia. Kepada Yesus, Allah berkenan melimpahkan “pewujudan” kepenuhan ke-Allahan (Kolose 2:9). Secara teologis disebabkan Allah kita Tri-Tunggal maka kesemuanya telah berwujud di dalam Yesus Kristus. “Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9). Jadi, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa di dalam Yesuslah terletak totalitas (keparipurnaan) dari Allah yang dinyatakan. Karena itu, Dia menjadi pusat ibadah iman Kristen, arah penyembahan iman Kristen. Dia telah menjadi Anak Domba Allah yang telah mati menjadi tebusan dosa isi dunia. (1 Petrus 1:18-19). Tanpa penyataan Yesus Kristus, maka kita tidak mempunyai arah penyembahan yang jelas.

Fungsional Allah Roh Kudus dalam Trinitas

Allah menyatakan pekerjaanNya dan KuasaNya di dalam Roh Kudus. Kisah Para Rasul 1:8, bahwa murid-murid akan beroleh kuasa kelak kalau Roh Kudus turun ke atas mereka. Dan dalam 1 Korintus 12:7-11, bahwa Roh Kudus memberi karunia-karunia secara khusus sesuai kehendakNya. Dalam Kejadian 1:2, Roh Kudus melayang-layang di atas permukaan air, kemudian terjadilah penciptaan alam secara beruntun sesuai rencanaNya dalam minggu penciptaan. Juga dalam Zakaria 4:6, Firman Tuhan kepada Zerubabel bahwa bukan dengan keperkasaan dan bukan oleh kekuatan melainkan oleh Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memampukan Gereja Tuhan untuk dapat memahami apa yang ada dalam diri Allah. Walaupun rahasia yang tersembunyi dalam diri Allah sekalipun (1 Korintus 2:10).

Roh Kuduslah yang mewujudkan semua rencana Allah Bapa. Roh Kudus yang menyatakan semua kekuatan kuasaNya. Ketika Yesus memanggil Lazarus yang telah mati untuk keluar dari kubur, Roh Kuduslah yang mewujudkan kuasa kebangkitan itu. Tetapi harus dimengerti bahwa Roh Kudus yang mewujudkan kuasa, tunduk kepada otoritas Firman Allah. Sedangkan Yesus menerima otoritas kemuliaanNya dari Allah Bapa (Yohanes 16:13-14, Matius 28:18). Seluruh kuasa yang diperintahkan Bapa dan Anak diwujudkan oleh Roh Kudus. Di dalam Roh Kuduslah terletak totalitas (kapripurnaan) Allah yang berkuasa, Allah yang bekerja sampai saat ini di dalam GerejaNya. Itulah sebabnya tanpa intervensi oknum ketiga dari Trinitas ke-Allahan maka Gereja akan mengalami kemiskinan rohani menjadi tidak berdaya di atas muka bumi. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa tanpa Roh Kudus maka Gereja hanya menjadi lembaga sosial masyarakat belaka.

Pasal 4: PEKERJAAN ROH KUDUS.

Dalam Yohanes 16:7, Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu, “Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab, jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.

Yesus menyatakan suatu tabir rahasia tentang kemutlakan kedatangan Roh Kudus yang berhubungan bagi keselamatan manusia yang telah dikerjakanNya di atas kayu salib Golgota. “Adalah lebih berguna bagi kamu” ini pengungkapan perbandingan kefaedahan tentang kehadiran Yesus dan kehadiran Roh Kudus, Yohanes 16:8-9, menjadi jawaban pernyataan Yesus tersebut. Sebab, kalau Roh Kudus datang, “Dialah” yang sanggup membimbing manusia untuk datang kepada pertobatan. “Pengakuan” Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia. Berarti keterkaitan dengan apa yang Yesus sudah lakukan di atas kayu salib sebagai jalan keselamatan. Karena, Roh Kudus sajalah yang mampu untuk mencelikkan pikiran dan mata hati manusia untuk mempunyai kesanggupan rohani dapat mengaku dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (1 Korintus 12:3). Artinya, pekerjaan “Pendamaian” oleh darah Kristus manusia dengan Allah tidak akan berfaedah apabila kuasa kemampuan rohani untuk mengaku Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak turun kemuka bumi. Roh Kuduslah yang menjadi dinamika keselamatan umat manusia.

Pernyataan Yesus Kristus tersebut, menjadi pratanda dimulai satu babakan “otoritas” yaitu zaman Roh Kudus. Zaman Roh Kudus dimulai pada hari pencurahan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:4). Artinya, Otoritas keselamatan umat manusia diberi hak penuh atau wewenang penuh kepada oknum dan pekerjaan Roh Kudus. Sudah tentu Hak dan Wewenang tersebut dilimpahkan oleh Bapa dan Anak. Kita dapat mengatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus yaitu Allah. Allah telah meletakkan Yuridis keselamatan secara sempurna antara Manusia dengan Allah Bapa (Efesus 2:13-14). Kematian Tuhan Yesus dan oleh darahNya, telah merobohkan tembok pemisah karena dosa dan dengan jalan itu mendamaikan manusia dengan Allah. Manusia yang jauh sekarang telah menjadi dekat bahkan menjadi “Keluarga Allah” (Efesus 2:18-19). Secara sempurna dasar Yuridis Keselamatan manusia telah dikerjakan oleh Yesus Kristus.

Roh Kuduslah yang menyanggupkan memberi fasilitas kemampuan rohani untuk masuk dalam Kasih Karunia keselamatan Yesus Kristus. Kita menemukan makna perkataan Yesus “lebih berguna” bila Dia naik ke Sorga dengan maksud supaya yang akan memberi kesanggupan memahami hikmat salib boleh diutusNya. Memang benar bahwa Roh Kuduslah yang mewujudkan keselamatan Yesus Kristus kepada umat manusia (1 Korintus 2:10-11). Kita harus mengakui bahwa hikmat salib hanya dapat di-iluminasi oleh kuasa Roh Kudus, Kasih karunia Allah tidak hanya terbatas kepada pekerjaan Yesus Kristus di atas kayu salib tetapi termasuk anugerah Roh Kudus yang dikaruniakan kepada GerejaNya. Alangkah dalamnya kasih karunia Allah kepada kita orang percaya. Ketika Roh Kudus turun memenuhi murid-murid dalam Kisah Para Rasul 2:4, pada waktu itu kuasa salib Kristus mulai dinyatakan, sekali berkhotbah 3000 orang percaya menerima Yesus sebagai Juruselamat (Kisah Para Rasul 2:41).

Pribadi dan Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama.

Berbicara tentang subyek Roh Kudus biasanya orientasi hanya kepada Perjanjian Baru. Sebab, otoritas Roh Kudus baru berlaku sejak hari keturunan dan Kisah Para Rasul pasal 2, itulah sebabnya sering Roh Kudus di-identikkan dengan Perjanjian Baru. Tidak menjadi rahasia, bahwa banyak orang percaya menjadi bingung bila mempelajari Perjanjian Lama tentang manifestasi oknum dan pekerjaan Roh Kudus. Benarkah Roh Kudus tidak berperan secara langsung dalam Perjanjian Lama dan mengapa tidak menampakkan PribadiNya secara jelas. Dan apa yang menjadi latar belakang alasan teologisnya. Memang, harus diakui bahwa memahami latar belakang teologis tentang pekerjaan Roh Kudus dan penyataan oknumNya dalam Perjanjian Lama akan sangat menolong untuk kita mengerti Perjanjian Baru secara lengkap.

Walaupun Roh Kudus baru dicurahkan pada Kisah Para Rasul pasal 2 dan memulai satu era otorisasi Roh Kudus, namun sesungguhnya Roh Kudus telah berperan aktif sejak Perjanjian Lama. Alangkah timpangnya ajaran bila dikatakan bahwa Roh Kudus belum berperan dalam Perjanjian Lama, bahkan bila terjadi maka itu adalah satu kesesatan. Roh Kudus sebagai satu Pribadi dalam Tri Tunggal selalu aktif, melakukan peranan fungsionalnya dimana dan kapan saja. Ketiga-Nya memiliki peranan yang spesifik dan tidak saling bergantian peranan (telah diuraikan sebelumnya). Bapa melakukan peranNya sebagai Bapa dan tidak berobah sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru bahkan sampai selamanya, begitu juga dengan Roh Kudus. Hanya harus diketahui bahwa peranan ketigaNya sesuai dengan waktu yang ditetapkan Bapa. Karena itu, keaktifan dinamika itulah yang berbeda, disesuaikan dengan ketetapan Bapa dalam program ilahiNya.

Jelaslah, pekerjaan Roh Kudus sudah dimulai sejak Perjanjian Lama. Eric S. Fife menulis dalam bukunya, bahwa mustahil kita dapat mengenal pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru apabila kita tidak mengenal pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama. Mengerti dengan baik pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama memberi pengertian yang sempurna tentang peranan utamaNya dalam Perjanjian Baru. Didalam Perjanjian Lama ada delapan puluh lima kali disebutkan kata Roh Kudus atau sepertiga jumlah yang disebutkan dalam Perjanjian Baru. Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dapat dibagi atas tiga hubungan pekerjaan :

1. Hubungan pekerjaan Roh Kudus dengan penciptaan.
2. Hubungan pekerjaan Roh Kudus dengan tokoh-tokoh tertentu yang diberi Kuasa melakuka tugas pekerjaanNya.
3. Pekerjaan Roh Kudus dalam Nubuatan tentang apa yang akan dikerjakan Tuhan di masa yang akan datang.

Pertama, Peranan Pekerjaan Roh Kudus dalam Penciptaan

Kejadian 1:2, ” . . . . . dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa Allah Tri-Tunggal, merupakan lembaga ilahi yang mempunyai fungsional masing-masing Pribadi secara teratur dan pasti. Allah Bapa yaitu kepenuhan Trinitas Allah yang memerintah, yang memimpin lembaga ilahi itu. Allah Anak, yaitu pekenuhan Trinitas yang menjadi kenyataan, sehingga Allah dinyatakan kepada umat manusia (Real). Dialah yang melakukan tugas penebusan dosa manusia. Allah Roh Kudus, Dialah kepenuhan Allah yang bekerja dan merealisasi keselamatan melalui iman orang percaya.

Trinitas Allah tampak jelas pada ayat itu, bumi belum berbentuk dan kosong maka Roh Allah melayang-layang seperti induk ayam mengerami telurnya dalam arti semua terangkum dan termaktub dalam program (Ibrani). Tindakan Roh allah melayang-layang adalah akibat suatu kehendak yaitu Allah Bapa sebagai pokok tindakan melayang-layang. Allah Anak yaitu : Firman yang merupakan permulaan segala ciptaan (Yohanes 1:1-3), tanpa Firman maka tidak akan ada segala sesuatu yang diciptakan. Allah Roh yaitu totalitas (kepenuhan) Allah yang berkuasa, siap melaksanakan niat Allah Bapa melalui FirmanNya. Kita dapat melihat sistematis kepenuhan cara Trinitas melakukan KuasaNya. Semuanya dalam satu keterikatan kerjasama yang paripurna.

Ketika Allah menjadikan manusia pertama (Kejadian 1:26), jelaslah ada kerjasama seperti halnya Kejadian 1:2. Disana Allah berkata “Baiklah Kita . . . . . ” (bahasa Ibrani = Elohim), keterlibatan langsung Roh Kudus dalam penciptaan manusia. Suatu kebersamaan terjadi antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kelihatan jelas, bahwa Roh Kudus melaksanakan perananNya sebagai pemberi hidup, yang melahirkan kuasa. Kejadian 2:7, “Allah menghembuskan nafas hidup . . . . .” Allah memberi atau menghembuskan nafas (angin) dalam bahasa Ibrani = Ruach atau Grika = Pneuma. Benar Firman Allah dalam Yohanes 6:63, bahwa tubuh satupun tidak berguna (clay) tetapi Roh itulah yang menghidupkan.

Kita manusia berdosa, kemuliaan rohani itu menjadi lenyap dan Roh Allah meninggalkan manusia dan manusia mengalami kematian rohani. Kematian rohani adalah perpisahan Roh Allah dan roh manusia. Namun, apa yang terjadi pada saat manusia percaya kepada Yesus Kristus melalui penebusan darahNya, kemuliaan Roh Kudus sebagai kuasa dalam penciptaan itu dipulihkan. Perhatikan Rasul Paulus menulis, “Aku berdoa supaya Ia (Yesus), menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam batinmu” (Efesus 3;16). Selanjutnya, supaya kamu dibaharui di dalam roh pikiranmu, dan mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah didalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Efesus 4:23-24). Peranan Roh Kudus untuk mengembalikan atau memulihkan manusia kepada maksud ciptaan Allah, Roh Kudus berperan dalam ciptaan manusia, begitu pula setelah kejatuhan, memulihkan manusia kepada maksud ciptaan semula.

Begitu juga dalam Yehezkiel 37, hembusan Roh Kudus menghidupkan tulang-tulang kering, yaitu perlambangan Israel yang akan dipulihkan pada akhir zaman dari kematian rohani. Hakekat kehidupan tetap sama yaitu hanya oleh peranan Roh Kudus.

Kedua, Peranan Roh Kudus Keatas Tokoh-tokoh Perjanjian Lama

Yusuf, Roh Kudus telah memberi hikmat kebijaksanaan yang luar biasa kepadanya. Peranan Roh Kudus yang telah membuka tabir mimpi raja melalui Yusuf, sehingga dia boleh diangkat menjadi pangkat kedua di negeri Mesir. Ternyata, maksud dan rencana Allah, melalui Yusuf untuk menyelamatkan bangsa ini dari musim kelaparan yang akan datang, bagi Mesir dan keluarga Yusuf menjadi orang yang tidak mementingkan diri sendiri, tidak kenal kompromi dengan dosa. Roh Kudus ada padanya untuk mengerjakan peranan tertentu bagi rencana Allah atas umat Israel (Kejadian 41:38).

Musa, Bilangan 11:17,25, pada saat Musa akan mendelegasikan kuasa untuk memerintah Israel kepada tujuh puluh orang, dikatakan sebagian Roh hikmat atas Musa akan diberikan kepada mereka. Musa adalah pemimpin yang diurapi Allah. Barangsiapa yang berani menentangnya selalu mendapat hukuman langsung dari Allah. Himat Roh Kudus dibagikan kepada pemimpin yang telah dipilih lainnya. Tujuh puluh orang mendapat hikmat kuasa oleh Roh Kudus, atas kehendak Allah.

Bezaleel, Kemah sembahyang diperlengkapi dengan perangkat perkakas/perlengkapan ritual yang harus dibuat sesuai ketentuan yang ditetapkan Allah. Kemahiran manusia biasa tidak memungkinkan menciptakan perkakas perlengkapan kemah sembahyang. Roh Kudus turun ke atas Bezaleel, memberi kemampuan dan ketrampilan untuk mengerjakan semua perkakas dari Emas, Perak, Tembaga serta ukiran. Bezaleel menerima kemampuan supranatural oleh Roh Kudus. Jadi, Roh Kudus turun ke atas Bezaleel khusus dipersiapkan Tuhan untuk mengerjakan alat-alat suci Tabernakel (Keluaran 31:1-6, 35:30-35).

Yosua dan para Hakim, menjelang hari kematiannya maka Musa memanggil Yosua bin Nun dan menetapkannya sebagai pemimpin Israel selanjutnya. Melalui penumpangan Musa, Roh Kudus turun ke atas Yosua. Yosua adalah pemimpin Israel yang luar biasa yang membuat peperangan dan merebut bagian demi bagian tanah Kanaan yang telah dijanjikan kepada Israel. Dibawah urapan Roh Kudus Yosua sangat terkenal sebagai pemimpin yang gagah berani dan tidak ada musuh yang sanggup bertahan di hadapannya (Bilangan 27:18, Ulangan 34:9). Kepemimpinan Yusak diikuti oleh zaman para hakim untuk memimpin Israel. Para Hakim juga banyak melakukan perkara ajaib, karena Roh Kudus yang sama diberikan juga kepada mereka. Hakim Otniel (Hakim-hakim 3:7), Hakim Gideon (6:34), Yefta (11:29), Simson (13:25).

Saul, kebenarannya bahwa Allah tidak menghendaki bahwa bangsa Israel untuk mempunyai seorang raja, sebab Bapa berkeinginan menjadi raja langsung untuk bangsa ini. Namun, mencontohi bangsa-bangsa di sekitar yang mempunyai seorang raja atas tiap bangsa, mereka meminta kepada Allah supaya kepada mereka juga diberikan seorang raja. Tuhan memilih Saul sebagai raja atas mereka dan memperlengkapi Saul dengan Roh Kudus (1 Samuel 10:6, 10; 11:6; 11:23). Raja Saul mendapatkan kekuatan oleh Roh Kudus membangkitkan dia memimpin Israel berperang dengan orang Amalek. Ketika raja Saul mulai tidak taat kepada Allah maka Roh Kudus mengundurkan diriNya, Saul kehilangan kuasa Allah.

Daud, melalui pengurapan Samuel ke atas Daud sebagai raja yang akan menggantikan Saul, mulai saat itu Roh Kudus mempersiapkan Daud sebagai raja Israel berikutnya. Daud melimpah dengan kemampuan ilahi akibat bekerjanya Roh Kudus ke atasnya. Melalui Daud, kita dapat pahami bahwa Roh Kudus dapat mundur atau kembali kepada Bapa. Ketika dia berdosa, dia naikkan doa: “Janganlah mengambil RohMu yang kudus dari padaku”.

Ketiga, Roh Kudus Kaitannya Dengan Nubuatan Tentang Apa YangDikerjakan Tuhan di Waktu Yang Akan datang.

Diatas kita telah membicarakan peranan Roh Kudus dalam penciptaan dan keatas tokoh-tokoh Perjanjian Lama, yaitu para pemimpin Israel. Pada bagian ini peranan Roh Kudus dalam semua nubuatan Perjanjian Lama tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang menurut rencana Allah.

Misalnya, Roh Kudus memakai pada Nabi, menubuatkan tentang Mesias (Yesus Kristus) yang akan lahir di Bethlehem Israel (Yesaya 9:5-6). Dan semuanya nubuatan tentang Yesus telah dengan jitu dalam waktu dan tempat digenapkan Allah, Perhatikan lagi: “Maka Roh Tuhan meliputi aku dan Tuhan berfirman kepadaku . . . . .” (Yehezkiel 11:5), Roh Kuduslah memberi berita Firman Allah untuk dinubuatkan. Kekerasan hati Israel telah dinubuatkan sehingga mengalami dua kali pembuangan yang sangat mengerikan. Pertama, negeri Babelonia oleh Nebukadnesar. Kedua, terbuang ke seluruh penjuru dunia setelah mengalami penghancuran total oleh Jenderal Titus pada tahun 70 Masehi. Kedua nubuatan tersebut dilengkapi juga dengan nubuatan Allah akan mengembalikan mereka ke negerinya kembali. Kesemuanya telah digenapkan dan kita telah menyaksikan kebenarannya, digenapi secara akurat.

Namun, diantara nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Lama maka nubuatan tentang kedatangan Mesias dan pencurahan Roh Kudus menjadi nubuatan paling utama. Yoel 2:28-29 : “Kemudian daripada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapatkan mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hambamu laki-laki dan perempuan akan kucurahkan RohKu pada hari-hari itu.”

Nubuatan itu telah menjadikan pemberitaan tentang Roh Kudus yang akan datang paling penting dalam Perjanjian Lama. Karena, pada hari Pantekosta dalam Kisah Para Rasul 2:4, nubuatan tersebut telah digenapkan. Begitu banyak orang menyaksikan Roh Kudus tersebut, dengan menuduh mereka telah mabuk sebab berbicara dalam bahasa Roh, dalam manifestasi bahasa-bahasa bangsa sekitar. Pada saat itu rasul Petrus menjawab mereka tentang penggenapan nubuatan Yoel pasal 2. Perhatikan penjelasan rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:16-17. Itulah sebabnya, tidak mungkin kita dapat memahami pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru tanpa memahami lebih dahulu pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama.

Beberapa Prinsip Pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Lama

Apabila kita meneliti dengan jelas maka kita akan menemukan beberapa prinsip cara Roh Kudus bekerja (Despensasi PL) dalam Perjanjian Lama. Kita bisa menamakan “Despensasi” Roh Kudus dalam Perjanjian Lama. Prinsip-prinsip itu sebagai berikut :

Pertama, bukan despensasi Roh Kudus secara umum seperti dalam Perjanjian Baru. Roh Kudus diberikan terbatas kepada orang-orang tertentu, yang dipilih dan ditetapkan Allah untuk melaksanakan pekerjaan tertentu sesuai rencana Allah Bapa. Contoh : Musa, Daud, Bezaleel, Yusuf, Ezra, Daniel dst.nya.

Kedua, pemberian itu diberikan untuk memberi kemampuan ilahi atau supranatural untuk melaksanakan rencana Allah, semua berhubungan dengan misi khusus ilahi. Bezaleel dalam mengerjakan perlengkapan Kemah Sembahyang.

Ketiga, sifat kehadiran kepada seseorang dalam hubungan melaksanakan tugas dan pekerjaan Allah dalam rencana ilahiNya. Kediaman Roh Kudus dikaitkan dengan maksud Allah, dan Roh Kudus tidak bersifat permanen.

Keempat, sifat kehadiranNya atas seseorang dibawah otoritas Allah Bapa yaitu, Roh Kudus akan turun keatas orang-orang yang dipercayakan Bapa untuk maksud dan pekerjaan tertentu, berbeda dengan di dalam Perjanjian Baru, bahwa Roh Kudus dicurahkan dan diutus oleh Yesus Kristus. Yesus Kristuslah menjadi tujuan utama pekerjaan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru. Semuanya itu jelas melalui pengungkapan Yesus sendiri. Apabila Yesus Kristus telah menyelesaikan misiNya maka pada giliranNya Dia akan mempersembahkan segala sesuatu kepada Kemuliaan Allah Bapa (Yohanes 16:7, 13:15).

Kelima, sifat kehadiranNya pada seseorang dalam Perjanjian Lama berbeda dengan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama bahwa Roh Kudus tidak menjadikan orang-orang menjadi tempat kediamanNya atau menjadi Kaabah Allah. Karena kediaman Allah tetap berada dalam ruang Maha Kudus Tabernakel. Dalam Perjanjian Baru orang percaya menjadi tempat kediamanNya dan menjadi Bait Allah yang hidup, I Korintus 3:16, 6:19.

Roh Kudus dan Monotheisme Israel

Roh Kudus dalam Perjanjian Lama belum dapat menunjukkan diriNya sebagai satu oknum atau pribadi kepada Israel. Terkecuali terbatas kepada orang-orang tertentu yang dipakai Tuhan untuk mewujudkan kehendakNya, kepada mereka Roh Kudus telah menampilkan diri sebagai suatu oknum Allah. Contoh: Ibrahim, Daud dan lainnya. Kepada Ibrahim Allah Tritunggal menampakkan diri dalam bentuk Theopany (Kejadian 18:1-2). Disana Ibrahim menyongsong Allah Tritunggal, bahkan melayani mereka dengan persiapan makanan. Begitu pula Daud telah melihat Yesus sebagai oknum kedua dan juga Roh Kudus sebagai oknum ketiga (Mazmur 110:1, Mazmur 51:13). Daud memahami telah mengerti bahwa kuasa Allah diwujudkan dalam kuasa Roh Kudus. Karena itu Daud berdoa, janganlah mengambil RohMu yang kudus dari padanya.

Teologis, bahwa kita harus memahami bahwa Perjanjian Lama tidak boleh secara nyata memperkenalkan Trinitas (tiga oknum) kepada Israel. Mengapa, hal itu ada sangkut-paut dengan kepercayaan polytheisme yang dianut oleh bangsa-bangsa yang disekitar Israel. Semua bangsa disekitar Israel menyembah tuhan yang banyak, bahwa tuhan itu adalah dewa-dewa. Kepercayaan itu merupakan kebencian dalam teologi Israel, Israel menganut kepercayaan “Monotheisme” yang begitu ketat dan fanatik. Tidak ada Tuhan selain “Yahwe” atau Jehovah.

Monotheisme Israel adalah kebanggaan Israel. Jehovah adalah Allah satu-satunya supaya seluruh Israel menyembah Dia dan hanya Dia saja. Perintah itu begitu ketat dan melahirkan fanatisme yang tidak ada tandingannya dalam sistem keagamaan Israel. Pernyataan Taurat bahwa tidak boleh ada ilah lain selain Jehovah dijalankan secara disiplin dalam religius Israel. Karena itu, Roh Kudus begitu limpah dengan hikmatNya, sehingga sampai pada waktu kedatangan Yesus sedikitpun tidak pernah tersirat atau dikenal oleh bangsa ini tentang ke-Tritunggal-an dari Allah.

Itulah sebabnya menjadi alasan terbesar Israel menolak Yesus, bahkan menuduh Yesus telah menghujat Allah karena mereka mendengar kata-kata Yesus, bahwa siapa sudah melihat Aku itu berarti sudah melihat Bapa. Mereka begitu tersinggung Yesus menyamakan diriNya dengan Jehovah bahwa itu berarti bahwa Yesus adalah Tuhan. Kemarahan mereka tidak dapat terbendung sehingga mereka menyalibkan Yesus Juruselamat. Justru, perbuatan itu menggenapkan semua rencana agung dari Bapa. Baca Yohanes 12:45, 14:9, 1 Korintus 2:9-12. Bila Israel telah mengenal Tritunggal Allah sejak Perjanjian Lama itu berarti tidak akan terjadi penyaliban Yesus. Bila kita merenungkan kita hanya bisa berkata alangkah dalamnya rencana Allah.

Roh Kudus tidak boleh memperkenalkan diri sebagai oknum Allah dalam Perjanjian Lama sehubungan dengan “Monotheisme” yang ciri dan kebanggaan bangsa. Kefanatikan religius ini juga menjadi penyebab penolakan Yesus sebagai Tuhan dan Mesias oleh Israel, ternyata merupakan hikmat yang terdalam yang ada di hati Allah. Bahkan sampai tulisan ini disusun mereka (Israel) secara bangsa tetap membanggakan monotheisme mereka. Namun, sebagaimana penggenapan rencana Bapa di dalam Yesus Kristus tak terduga sebelumnya, maka begitu juga penolakan Israel kepada Yesus sebagai Mesias ada maksud Tuhan yang teramat dalam dan melimpah dengan misteri kemuliaan. “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya” (Roma 11:34).

Roh Kudus Dan Karya Yesus Kristus Di Atas Kayu Salib.

Pada bagian ini dijelaskan kembali sebagaimana telah diuraikan pada awal pasal ini. Kedatangan Roh Kudus adalah mutlak dan merupakan bagian dari kasih karunia Allah. Begitu banyak orang menduga bahwa kematian Yesus diatas kayu salib merupakan kekalahan besar.

Pada zaman Taurat imam besar memerlukan darah domba ataupun lembu untuk ritual pendamaian manusia dengan Allah. Pendamaian oleh darah disebabkan Firman Allah berkata bahwa nyawa kehidupan berada dalam darah (Imamat 17:10-11). Sehingga melalui darah domba binatang yang dikorbankan telah terjadi penebusan dan penyucian dosa orang banyak dan manusia didamaikan dengan Allah (Ibrani 19:13-14).

Kematian Yesus sebagai domba tanpa cacat dan cela untuk jalan penebusan sehingga manusia didamaikan dengan Allah itu semua tindakan atau intervensi Tritunggal Allah (1 Petrus 1:18-19). Karena itu, Roh Kudus harus mengambil peranan untuk mengartikan salib atau makna kematian Yesus kepada isi dunia. Secara yuridis keselamatan, Darah Kristus telah menebus seluruh dosa isi dunia. Yesus tidak mati hanya untuk sebagian manusia sebagaimana ajaran Calvinisme, tetapi Dia mati untuk seluruh dunia (Yohanes 1:29, 2 Petrus 3:9).

Walaupun secara yuridis keselamatan bahwa dunia telah ditebus oleh Yesus Kristus, namun tidak semua manusia memberi respons atau tanggapan untuk menerima. Mengapa?, karena untuk menerima tawaran itu harus dimengerti melalui iluminasi Roh Kudus. Dibawah bimbingan iluminasi Roh Kudus setelah kita mendengar Firman Allah (menerbitkan iman) kita dimampukan akibat penerangan ilahi mengambil keputusan dibawah pengaruh Roh Kudus. Sehingga Roh Kuduslah menjadi pokok utama penyebab kita dimampukan menjawab tantangan rohani untuk keselamatan. Manusia mengambil keputusan untuk bertobat dibawah bimbingan iluminasi dan keyakinan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Memang Roh Kuduslah yang berperan utama menyebabkan manusia dapat percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (1 Korintus 12:3).

Kasih Karunia Allah Berdimensi Supranatural

“Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Kejatuhan manusia kedalam dosa yang begitu dalam telah merusakkan hakekat manusia. Manusia pertama penuh kemuliaan Allah dan bersifat rohani namun telah rusak total dalam arti tidak memiliki dimensi rohani sedikitpun. Manusia sekarang berasal dari bumi dan berdimensi daging semata-mata (Yohanes 3:6). Perubahan hakekat dari manusia rohani menjadi berdimensi daging merupakan perubahan 180 derajat, jadi dapat dikatakan telah rusak total (bertentangan dengan maksud abadi kehendak Allah).

Kerusakan total bukan dalam arti bahwa manusia sudah lebih rendah harkat dan martabat dari binatang. Karena bagaimanapun sisa bahwa manusia pernah mengecapi kemuliaan Allah sebab diciptakan menurut gambarNya, masih ada dan jelas perbedaannya dengan ciptaan lain. Buktinya, bahwa manusia tetap mempunyai pikiran, kehendak dan perasaan. Manusia masih mampu berpikir dan merenungkan serta mengambil keputusan. Jelas, binatang tidak mampu berbuat demikian. Manusia sebagai makhluk intelek walaupun telah jatuh dalam dosa ciri intelek yang dapat berpikir tetap ada. Ingat manusia diciptakan menurut gambar Allah. Allah sang pencipta mempunyai intelek yang bersifat “Omniscience” (Maha Tahu). Hanya harus digaris bawahi, manusia berdosa sebagai makhluk intelek tetapi tidak lagi berdimensi rohani, sehingga tidak punya kemampuan lagi untuk mengenal dan berpikir hal-hal rohani termasuk tanggapan tawaran keselamatan.

Keadaan manusia setelah kejatuhan diketahui Allah. Itulah sebabnya, bahwa tindakan atau inisiatif keselamatan manusia harus datang dari pihak Allah, dalam Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Pengertian keselamatan hanya oleh kasih karunia Allah, bahwa dalam kematian rohani tidak mungkin manusia dapat menghampiri Allah. Manusia telah menjadi mati terhadap hal-hal rohani. Tindakan untuk menyelamatkan manusia sepenuhnya harus datang dari pihak Allah. Tidak seorangpun dibawah kolong langit bisa memenuhi syarat menjadi korban tebusan. Karena semua telah berdosa dan terlahir oleh kehendak daging. Hanya Yesuslah Allah yang telah menjadi manusia yang memenuhi syarat sebagai domba yang tak bercacat-cela. Disebabkan, Dia adalah Allah yang menjadi manusia dan terlahir oleh Roh Kudus. Kerelaan keputusan kehendak Allah didalam Yesus Kristus itulah dimaksud “Kasih Karunia” Allah.

Jadi, kasih karunia Allah adalah “subyek penyebab keselamatan manusia”. Dialah Yesus Kritus dan telah datang bukan karena kehendak manusia tetapi berdasarkan kasih Allah yang besar. Alangkah keliru bila mengartikan bahwa sedikitpun tidak ada peranan manusia dalam arti keseluruhan, tentang “konsep” hanya oleh kasih karunia. Manusia oleh Roh Kudus harus merespons dan mengambil keputusan mau atau tidak menerima kasih karunia tersebut. (Yohanes 3:16, Kisah Para Rasul 2:38, Markus 16:16). “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Markus 16:16).

Roh Kudus Memberi Kemampuan Supranatural Untuk Menjawab Tawaran Keselamatan Dalam Kasih Karunia.

Telah diuraikan sebelumnya bahwa setelah kejatuhan maka manusia kehilangan dimensi rohani dan tidak memungkinkan lagi bisa mengerti perkara-perkara rohani. Kalau Bapa telah menyiapkan jalan keselamatan, maka Bapa juga akan memperlengkapi manusia untuk mampu menjawab tawaran keselamatan. Disinilah keagungan kemurahan Allah yang kita temui. Kemuliaan salib Kristus sampai sekarang tidak mampu dianalisa melalui pembenaran akal-budi, karena itu bersifat supranatural. Mendasar, apabila dunia sampai hari ini tidak dapat menerima dan membenarkan cara Allah menyelamatkan melalui kasih karunia.

Firman Allah menulis bahwa perkara rohani hanya dapat dimengerti oleh orang rohani (1 Korintus 2:15).

Firman Allah dalam 1 Korintus 2:9-10, bahwa hanya dengan Roh Kuduslah manusia akan mengerti apa yang ada di hati Allah. Hikmat Allah yaitu Salib Kristus hanya mampu dimengerti di dalam iluminasi Roh Kudus. Roh Kuduslah yang mampu menyelidiki apa yang terkandung dalam rahasia Allah. Mustahilah manusia dapat memahami hikmat Allah terkecuali bila Roh Kudus menyatakan itu kepada kita. Roh Kuduslah yang menolong mengiluminasi sifat supranatural Firman Tuhan dan kebesaran kedalam Anugrah Keselamatan (1 Korintus 12:3).

Peranan Roh Kudus tidak terbatas hanya membimbing kepada pertobatan. Tetapi juga kepada langkah-langkah pertumbuhan Gereja secara terus menerus sampai Gereja mengalami transformasi kedalam Yesus Kristus, yaitu mengalami kepenuhan Kristus (Efesus 4:12-13). Bayangkan sejenak, bahwa tanpa Roh Kudus maka sia-sialah kasih karunia kematian Yesus Kristus diatas kayu salib Golgota. Alangkah tragisnya, dan merupakan bencana rohani terbesar apabila Roh Kudus sudah datang dengan seluruh kemuliaanNya, namun ada Gereja yang tidak mengalami kehadiranNya. Hanya karena menolak atau membangun doktrin yang tidak membuka pintu untuk kehadiranNya. Lebih tragis, banyak Gereja percaya dinamika Roh Kudus, tetapi tidak membangun doktrin sesuai Firman Allah. Banyak yang membangun doktrin sesuai selera ajaran yang disukainya.

Pasal 5: RELASI MISI KRISTUS DAN PEKERJAAN KUDUS.

Pada pasal sebelumnya telah banyak diungkapkan bagaimana hebatnya peranan Roh Kudus dalam mewujudkan keselamatan sesuai kehendakNya melalui kematian Kristus di kayu salib. Roh Kudus akan segera datang menjalankan tugas ke-ilahianNya itulah sebabnya Yesus harus kembali ke Sorga (Yohanes 16:7-8). Bila Allah Bapa mengaruniakan AnakNya demi keselamatan dunia, sekarang Yesus Kristus segera kembali ke Sorga dan akan mengutus Roh Kudus untuk bertugas memimpin manusia kepada semua kebenaran (Yohanes 16:13).

Yesus Kristus sudah mengerjakan pekerjaan penebusan dosa yaitu mendamaikan manusia dengan Allah secara tuntas (Filipi 2:7-9), Efesus 2:13-14). Karena sejak kejatuhan, bahwa manusia telah menentukan sendiri hakekatnya yaitu hakekat “keberdosaan” dan telah terjadi dinding pemisah diantara manusia dengan Allah. Hakekat keberdosaan manusia hanyalah mampu diselamatkan oleh Allah sang Pencipta. Karena kasih karuniaNya maka Allah sudah mengambil keputusan untuk menyelamatkan manusia kembali.

Konsep penyelamatan telah kelihatan sejak awal ketika Tuhan menyembelih seekor binatang dan mengambil kulitnya dipakaikan untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa. Semuanya itu menggambarkan pengorbanan Yesus sebagai Anak Domba yang rela meninggalkan tahta kemuliaan Sorgawi menjadi manusia dan mati sebagai jalan penebusan untuk keselamatan manusia. Pengorbanan Yesus Kristus adalah merupakan Kasih Karunia yang terbesar. Itulah sebabnya, semua kemuliaan sorga diberikan kepadaNya.

Yesus Kristus telah menjadi pokok utama kasih karunia Allah untuk keselamatan manusia. Saya merasa bahwa definisi yang paling tepat untuk “kasih karunia” yaitu melibatkan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Karena demikian kasih yang ada kepada Bapa keatas manusia yang telah jatuh kedalam dosa sudah rela memberikan AnakNya, sebagai satu-satunya yang memenuhi syarat untuk menjadi tebusan bagi dosa isi dunia dan tindakan ilahi ini sangat berbau ke-ilahian atau supranatural. Itulah sebabnya, Roh Kudus harus ada ditengah-tengah manusia untuk memberi bimbingan ilahi supaya manusia dimampukan memahami dan percaya serta menerima kasih karunia Allah ini (Yohanes 3:16, Efesus 2:8, Filipi 2:7-9).

Pekerjaan Roh Kudus memberitakan arti kasih karunia dan menyentuh hati manusia. Pekerjaan Roh Kuduslah menjadikan kasih karunia Allah menyatukan sorga dan bumi. Kasih karunia Allah bukan sekedar menawarkan keselamatan tetapi membawa manusia secara total dapat merasakan keindahan persekutuan bersama Allah Tritunggal. Kasih Karunia adalah sesuatu yang hidup yang menjadikan kita orang percaya menjadi manusia Allah (1 Timotius 6:11). Ini dari kasih karunia yaitu keselamatan orang percaya didalam Tuhan Yesus Kristus, oleh Roh Kudus dan melalui persekutuan dengan FirmanNya, maka orang percaya semakin bertumbuh dan mengecapi kemuliaan Allah (Filipi 1:9-10).

Yesus Kristus telah meletakkan “Yuridis Keselamatan” artinya secara hukum bahwa seluruh dunia telah ditebus dan berhak atas keselamatan. Manusia secara “Yuridis” telah didamaikan dengan Allah. Tetapi keselamatan tersebut belum menjadi “De Facto” belum real atau belum berubah dari yuridis menjadi kenyataan, Roh Kudus akan memproklamirkan berita keselamatan tersebut kepada seluruh dunia sekaligus memberi kesanggupan kepada manusia untuk merespons dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat isi dunia. Roh Kudus akan memberi kemampuan untuk menginsyafi akan dosa dan terlepas dari kutuk yaitu maut (Roma 6:23).

Efesus 3:16:17. “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya didalam hatimu, sehingga oleh imanmu Kristus diam didalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar didalam kasih”.

Dalam mengaktualkan keselamatan kepada manusia maka akal-logika tidaklah sanggup karena manusia pada hakekatnya telah mati rohani saat kejatuhan. Roh Kuduslah yang akan memberi dimensi rohani sehingga dengan demikian dapat mengambil keputusan rohani untuk percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Yesus berkata kepada Bartimeus yang buta. “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”, bagaimana percaya Bartimeus kepada Yesus Kristus ternyata telah menjadi kunci keselamatannya.

Dalam Markus 16:16, Yesus berkata: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan mengaku “Yesus adalah Tuhan, selain Roh Kudus.

Dengan ajaran diatas bahwa tidak seorangpun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan selain Roh Kudus, manusia dimampukan untuk percaya kepada Yesus dan dibaptis sebab telah dipengaruhi sifat rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena itu, semua keputusan untuk percaya kepada Dia adalah keputusan rohani dan motivatornya adalah Roh Kudus. Manusia yang telah didiami hatinya oleh Roh Kudus yang mempengaruhi bahkan merobah pola pikir sehingga kita dibaharui dan mampu berpikir sebagaimana Yesus berpikir. Dengan berpikir rohani seperti itulah manusia dapat mengambil keputusan rohani untuk percaya dan lahir baru.

Filipi 2:5, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Roma 12:2, “Janganlah kamu serupa dengan dunia ini, tetapi berobahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Tuhan meminta supaya kita dapat memiliki pikiran dan perasaan yang ada kepada Yesus Kristus. Maksudnya, supaya kita mendapat satu pembaharuan akal-budi, bagaimana hal tersebut dapat terjadi yaitu, kita harus memberi diri untuk taat dibawah bimbingan Roh Kudus. Sehingga kita dapat memiliki sifat Allah kembali dan mulai bertumbuh dalam diri kita sifat rohani. Benarlah Firman bila kita memutuskan untuk mengaku Yesus sebagai Tuhan maka itu adalah keputusan rohani. Dan kalau itu adalah keputusan rohani yang walaupun dilakukan oleh manusia namun pokok pengendali bukanlah manusa tetapi Roh Kudus (1 Korintus 12:3). Dengan demikian bahwa tidak benar ajaran yang mengajarkan bahwa manusia tidak mempunyai peranan sedikitpun didalam keputusan keselamatan. Roh Kudus berdiam dihati kita dan mampu memotivasi kehendak manusia untuk tunduk dan taat kepada kehendakNya. Manusia mampu mengambil keputusan untuk percaya dan melakukan seluruh kehendak Allah. Kami telah uraikan hal utama tentang relasi misi Kristus dengan pekerjaan Roh Kudus yaitu, memampukan manusia mengambil “keputusan rohani” untuk percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Selanjutnya, pada hakekatnya namusia telah diperdamaikan dengan Allah oleh darahNya. Tetapi, siapakah yang akan meneruskan berita keselamatan ini kepada isi dunia? Tuhan Yesus Kristus sebelum naik ke sorga memberi “Amanat Agung” atau misi Agung kepada murid-muridNya.

Matius 28:19-20. “Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

Ketika perintah ini disampaikan maka tanggung-jawab pelaksana itu belum dicurahkan, buktinya Yesus sendiri melarang mereka untuk pergi meninggalkanYerusalem (Kisah 1:4-5). Memang mereka belum dapat pergi, sebab Yesus Kristus tahu bahwa yang akan memberi dimensi rohani untuk manusia dapat percaya kepadaNya sebagai Juruselamat belum ada. Karena itu mereka harus menunggu sampai mereka dipenuhkan oleh Kuasa dari atas.

Kita tidak dapat menyamakan Yesus dengan murid-muridNya, sebab Yesus mampu menginjil tanpa menanti hari Pantekosta. Dia adalah Firman itu sendiri dan sebagai Anak Allah dimanapun keberadaanNya selalu bersama dengan Trinitas. Dimana ada Yesus pasti disana ada Bapa dan Roh Kudus. Disitulah kuncinya, ketika Dia memanggil murid-muridNya mereka langsung dapat meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus.

Penginjilan untuk memberitakan pertobatan bukanlah misi utama Yesus. Misi utama Yesus ke bumi adalah untuk mati sebagai korban tebusan supaya oleh darahNya manusia dapat didamaikan dengan Allah dan memperoleh keselamatan (Yohanes 3:16, Efesus 2:13-14). Kehadiran Yesus sebagai manusia dibatasi oleh hakekat manusia itu sendiri. Dia dibatasi oleh ruang lingkup dan waktu. Sebagai manusia maka Dia harus taat kepada hukum eksistensi manusia. KeberadaanNya tidak boleh berada di dua tempat dalam waktu yang sama, begitu pula Dia harus tunduk kepada hukum waktu. Dia telah mengosongkan diriNya sebagai manusia (Kenosis), tidak lagi memakai atribut ke-Maha-anNya yang Omni Potence, Omni Science, Omni Presence walaupun atribut itu dalam seketika dapat dipergunakan bila Dia kehendaki. Hakekat sebagai manusia benar telah digenapkanNya dengan sesungguhnya. Buktinya, Dia dapat mati diatas kayu salib untuk menjadi tebusan orang banyak.

Pada hari Pantekosta merupakan suatu babakan baru bagi zaman Roh Kudus. Roh Kudus yang adalah oknum ketiga dari Tritunggal. Allah memiliki ketiga atribut kewenangan Allah. Roh Kudus yang maha tahu akan mampu menyatakan kehendak Allah kepada Gereja. Roh Kudus yang adalah totalitas dari Allah yang berkuasa akan melengkapkan misi Gereja dengan perlengkapan kuasa. Kesemuanya itu dianugerahkan kepada Gereja sebagai tubuh Kristus untuk melaksanakan “Amanat Agung” supaya memberitakan Karya Kristus diatas kayu salib kepada seluruh isi dunia.

Tubuh Kristus (orang percaya) mengemban misi Kristus (Kepala) untuk menyampaikan berita kesukaan yaitu keselamatan yang telah dikerjakan Yesus Kristus. Kami menutup bagian ini menggaris bawahi bahwa misi Kristus dan keselamatan penebusan oleh darahNya keseluruh dunia. Jikalau akal dan hikmat manusia dapat mendatangkan pembaharuan rohani sudah tentu murid-murid tidak akan diperintahkan menunggu sampai mereka dipenuhkan dari tempat yang maha tinggi. Akal manusia tidak akan pernah sanggup membuktikan kuasa darah Tuhan Yesus Kristus. Kuasa darahNya dan oleh Roh Kudus sajalah yang mampu lakukan itu. Allah memakai mulut manusia untuk memberitakan dan pemberitaan itu harus diurapi oleh Roh Kudus. Roh Kudus adalah motivator Gereja melaksanakan amanat Yesus untuk memenangkan dunia bagiNya (Kisah Para Rasul 1:8; 2:38).

Pokok Misi Yesus adalah Keselamatan Pendamaian Manusia dengan Allah. Sejak manusia pertama melanggar perintah FirmanNya (Kejadian 2:17), manusia telah menentukan ” hakekat ” manusia sebagai makhluk berdosa menjadi gelap dan buta hal – hal rohani (Roma 6:23). Kemuliaan Allah yang telah diciptakan menurut gambarNya menjadi hilang (Roma 3:23). Lebih dahsyat lagi bahwa manusia harus menanggung akibat dosa. Namun Allah Maha pemurah, panggilan Allah kepada manusia setelah kejatuhan adalah pratanda bahwa Allah telah menyiapkan jalan keluar yang menjadi rahasia besar Allah dan merupakan hikmat terdalam dari Allah bagi keselamatan umat manusia (Kejadian 3:9, 10 & 1 Korintus 2:9-10). Hikmat Allah itu adalah penebusan didalam Tuhan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah. Rahasia tersebut sangat dalam dan diteliti oleh para nabi dan telah bernubuat tentang keselamatan didalam Yesus Kristus.

Efesus 2:13-14.”Tetapi sekarang didalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu jauh sudah menjadi dekat oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merobohkan tembok pemisah yaitu perseteruan”.

Untuk memahami dan merasakan kemuliaan rahasia kasih karunia, baiklah lebih dahulu harus diketahui seberapa jauh kejatuhan dan akibatnya yang telah menimpa manusia. Kejatuhan manusia membawa tiga akibat besar (ada ajaran lebih dari tiga), yaitu :

Pertama, Kematian rohani, Allah telah berfirman bahwa pada hari engkau makan buat itu engkau akan mati. Kematian rohani adalah perpisahan Roh Allah dari roh manusia. Roh Allah menjadi adanya kehidupan dan tanpa Roh Allah manusia mati rohani dan gelap dalam arti tidak mempunyai kehidupan sesungguhnya. “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna” (Yohanes 6:63).

Mengalami kematian rohani, manusia tidak lagi mampu mengerti dan mengecapi hal-hal rohani. Firman Allah menyamakan kematian rohani sama dengan sudah mati. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang bekerja diantara orang-orang durhaka” (Efesus 2:1-2).

Kematian rohani diikuti oleh kematian jasmani. Manusia yang tadinya dalam kemuliaan Allah bersifat kekal sekarang harus mati.” . . . . . . Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Keluasan kata mati disini menunjuk kepada kematian rohani dan kematian badani. Karena itu Firman Allah berkata bahwa semua orang akan mati (Ibrani 9:27). Kematian rohani tidak berhenti kepada kematian badani tetapi akan mencapai puncak yaitu manusia mengalami kematian kekal. Menunjuk penghukuman di “neraka” untuk selama-lamanya. “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkan ke dalam lautan api, itulah kematian yang kedua, “Lautan Api” (Wahyu 20:14).

Kedua, Akibat Psikologi, manusia sekarang telah memiliki perasaan takut (Kejadian 3:9-10). Perasaan takut adalah satu bukti bahwa manusia bukan saja mati rohani dan terpisah dari Allah tetapi sekarang akibat dosa manusia telah terpisah dari diri sendiri. Keutuhan komponen dalam diri yang utuh karena persekutuan dengan Allah sehingga melimpah dengan damai sejahtera dan sukacita sekarang karena dosa tercabik berpuing-puing. Terjadi instabilitas dalam diri dan meledak dalam satu perasaan ketakutan.

Dampak rasa takut ini dimiliki oleh seluruh manusia dalam aneka ragam status. Cendekiawan, Konglomerat, Seniman, Teknokrat, Pendidik, Budayawan, dstnya, bahwa tidak ada yang terbebas dari rasa takut. Rasa takut penyebab tidak adanya sukacita, menerbitkan segala macam gejala penyakit. Manusia menjadi stress, depresi, frustrasi, dan segala macam penyakit fisik dan psikis. Banyak orang telah berusaha dan menghabiskan harta untuk sembuh dari penyakit psikis tersebut tetapi gagal. Kesembuhannya hanya melalui “damai dengan Allah” (Markus 5:26-27).

Ketiga, Akibat Kosmologi, Tuhan berfirman bahwa manusia akan berpeluh lelah mencari rezekinya. Setelah kejatuhan maka bukan hanya manusia yang terkena akibatnya, tetapi tanah ikut terkutuk sehingga manusia harus mengusahakan tanah itu seumur hidup sampai mati (Kejadian 3:17-19). Ternyata manusia tidak saja terpisah dari Allah dan dari dirinya sendiri tetapi manusia ikut terpisah dari alam sekeliling.

Akibat Kosmologi, membuat manusia berpacu bekerja keras untuk mempertahankan hidup. Terjadi kompetisi kehidupan diantara manusia melahirkan kelompok kaya, kelompok miskin, kelompok berhasil dan tidak berhasil, kelas-kelas dalam masyarakat dan telah menjadikan salah satu kompleksitas kehidupan umat manusia.

Merenungkan ketiga akibat dosa tersebut membuat kita menyadari betapa sangat parahnya dan mengerikan keadaan manusia sekarang. Mazmur 14 dan 53, mengungkapkan kebobrokan manusia Roma 3:10-18, menceritakan bahwa tidak seorangpun benar, semuanya telah menyeleweng dan tidak berguna. Rasa takut kepada Allah tidak ada lagi. Roma 6:23, “Upah dosa ialah maut . . . . .”. Memang setelah kejatuhan kita dapat mengatakan semua telah menjadi sia-sia, telah kehilangan tanggung-jawab sebagai makhluk Tuhan.

Namun, prakarsa keselamatan telah datang dari pihak Allah, semua terjadi menurut kerelaan kehendakNya (Efesus 1:5). Didalam kasih Ia akan mengangkat kembali manusia didalam Yesus Kristus untuk kembali bersekutu denganNya, bahkan diangkat menjadi anak-anakNya. Sudah diuraikan pada pasal sebelumnya bahwa “Kasih Karunia” melibatkan ke-Tritunggalan dari Allah, namun diwujudkan didalam AnakNya Yesus Kristus (Efesus 1:6-7). Kasih karunia keselamatan diwujudkan melalui pengorbanan Yesus Kristus dan oleh darahNya kita beroleh penebusan dan pengampunan dosa (Efesus 1:7). Tidak ada perbuatan manusia dalam pewujudan kasih karunia keselamatan, satu-satunya peranan manusia merespons anugerah yang ajaib ini.

Terhadap ajaran keselamatan oleh pengorbanan Yesus Kristus ada ajaran yang agak menyimpang interpretasinya, bahwa manusia tidak mempunyai peranan sama sekali, semuanya adalah tindakan ilahi. Tetapi bagaimana dengan Roma 10:13-14, “Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya jika mereka tidak percaya Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan?”. Jelaslah ada peranan manusia dalam menanggapi keselamatan kasih karunia itu yaitu percaya kepada Dia. Markus 16:16, “. . . . .siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan”. Ayat sebelumnya “Barangsiapa yang berseru”, kemudian “Siapa yang percaya”, sangat mudah difahami keselamatan yang didalam kasih karunia Allah terbuka kepada barangsiapa yang mau percaya. Begitu banyak lagi ayat Firman Allah yang menyatakan bahwa keselamatan itu terbuka kepada siapa yang percaya.

Kolose 1:20-21.”Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya baik yang ada di bumi maupun yang ada di Sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikanNya untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercacat dihadapanNya”.

Keterpisahan manusia dengan Allah, memerlukan seorang Juruselamat yang bersedia “mati” (Penggenapan Domba), dan mencurahkan darahNya untuk jalan tebusan dan pendamaian serta pengampunan dosa. Yesus Kristus Anak Domba Allah mempunyai misi utama yaitu, mendamaikan manusia dengan Allah, Dia telah mati dan oleh darahNya sebagai tebusan dan pengampunan dosa.

Pekerjaan Roh Kudus harus dimengerti dengan jelas. Fakta Alkitabiah, kita harus dapat membedakan kedua misi yaitu Yesus Kristus dan Roh Kudus dengan jelas, yaitu Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang akan mati sebagai korban sembelihan dan oleh darahNya menjadi penebusan dosa manusia serta pengampunan dosa. Dengan jalan demikian manusia didamaikan dengan Allah. Yesus adalah Juruselamat isi dunia membawa kembali manusia kedalam persekutuan dengan Penciptanya (1 Petrus 1:18-19, Ibrani 9:14, Kolose 1:20-21, Efesus 2:13-14). Melalui korban Yesus Kristuslah manusia telah didamaikan dengan Allah.

Roh Kudus mempunyai misi merealisasi “keselamatan” yang telah digenapkan melalui kematian dan oleh darahNya. Roh Kudus memampukan manusia menanggapi kasih karunia keselamatan didalam Yesus Kristus. Begitu juga selanjutnya Roh Kuduslah yang akan menuntun orang percaya untuk bertumbuh terus sehingga mencapai kesatuan iman kedewasaan penuh yaitu kepenuhan Kristus. Roh Kudus menuntun Gereja mengalami dinamika transformasi ke arah Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 16:13, Efesus 4:11-13, Filipi 1:9-10). Perhatikan gambar dibawah ini yang membedakan misi Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Gambar: Menjelaskan perbedaan misi utama Yesus Kristus dan misi utama Roh Kudus.

Keterangan Gambar :
A. Yesus sebagai perantara Manusia dengan Allah
B. Peranan Roh Kudus membawa Manusia dapat menerima Yesus
C1 & C2: Pertumbuhan Rohani
D. Menjadi sempurna seperti Yesus

a. Yesus telah meletakkan dasar “pendamaian” manusia dengan Allah. Landasan Yuridis keselamatan (1 Korintus 15:3-4, Kolose 1:20-22).

b. Roh Kudus

– Keselamatan didalam Yesus menjadi “kenyataan” (de facto)
Selanjutnya, menuntun pertumbuhan iman orang percaya ke arah Yesus Kristus. (Dalam lingkaran adalah ruang dinamika pekerjaan Roh Kudus).
(Yohanes 16:13, Efesus 3:14-21, 1 Korintus 2:4).
– Yesus Kristus adalah dasar itu.
– Roh Kudus melalui Firman Allah membangun iman orang percaya.

c. (C1, C2, C3) tingkat pertumbuhan iman.
Yesus Kristus Adalah Pusat Kebenaran Iman Kristen Inkarnasi Yesus Kristus adalah fakta utama yang menjadi inti iman Kristen. Kita bayangkan apabila tidak ada inkarnasi Yesus menjadi manusia, sudah pasti fakta iman Kristen tidak pernah ada. Hakekat Allah yang adalah Roh tidak memungkinkan untuk diimani apalagi diemperis. Kerelaan kehendak Allah didalam Yesus Kristus untuk menjadi manusia telah menungkinkan iman Kristen memiliki iman yang obyektif dan pasti.

Kita mengakui bahwa Allah Bapa adalah kepala didalam Trinitas ke-Allahan. Kebenaran ini adalah bukti Alkitab. Namun, tidak seorangpun mampu memahami apalagi percaya apabila Trinitas tetap didalam hakekat Roh adanya. Kita akan memiliki Allah yang tidak dikenal seperti dalam kepercayaan kuno yaitu kepercayaan animisme. Percaya bahwa segala sesuatu dapat menjadi Allah tergantung bila kita ingin memujanya. Kita semua akan mereka-reka seperti berada didalam kamar yang gelap pekat.

Yohanes 1:14 “Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasi karunia dan kebenaran”. Inkarnasi Yesus merupakan kekuatan “teologi” kekristenan sebab oleh inkarnasiNya dan berita kebenaran yang diploklamirkanNya menjadi kekristenan satu-satunya sistem kepercayaan yang diploklamirkan oleh pihak Allah sendiri. Sebab, ini iman Kristen yaitu, bahwa Allah yang tidak dikenal telah datang memperkenalkan diriNya. Allah sendirilah yang dengan kasih telah datang memperkenalkan diri kepada umat manusia. Jadi Yesus merupakan perwujudan dari Allah yang tidak dikenal dan sekarang kita telah melihat kemuliaanNya. Dan inkarnasi terjadi dikarenakan oleh kehendak Bapa di sorga (Yohanes 3:13).

Yesus telah melaksanakan pekerjaan Trinitas untuk memperkenalkan kepada dunia tentang siapakah Allah yang sesungguhnya. InkarnasiNya serta proklamasi yang dikumandangkanNya membuktikan bahwa iman Kristen tidak mencari-cari siapa Tuhan dan Juruselamatnya, tetapi Trinitas sendirilah melalui Yesus Kristus telah datang memperkenalkan diri sekaligus melalui kasih karunia menjadikan diriNya jalan keselamatan isi dunia (Yohanes 4:42).

Filipi 2:5-9. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya Nama diatas segala nama”.

Firman Allah diatas merupakan doksologi Allah Bapa untuk AnakNya Yesus Kristus. Yesus bukan saja realita keberadaan Allah tetapi Dia telah melakukan perbuatan terbesar sepanjang zaman di Sorga dan di bumi. Didalam Yesuslah semua kemuliaan sorgawi dari Allah Trinitas diproklamirkan kepada manusia.

Kolose 1:15-19. “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena didalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang di Sorga dan yang di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada didalam Dia. Ialah kepala tubuh yaitu jemaat, Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam didalam Dia”.

Kita menikmati pernyataan Roh Kudus tentang Dia. Yesus adalah gambar dari Allah yang tidak kelihatan. Hal itu menyebabkan kita mampu melihat Allah yang tidak kelihatan didalam Dia. Semua diciptakan oleh Dia, sesuatu apoleget betapa Bapa menjadi Dia menjadi pokok dan penyebab adanya segala sesuatu. Rupanya, Allah Bapa tidak hendak mengaburkan proyek iman semua dijadikan terang dan jelas kepada Yesus yang telah menjadi manusia. Secara logika, hal tersebut tak terbantahkan sebab manusia phisik memerlukan arah penyembahan kepada obyek yang jelas dan eksis. Melalui inkarnasiNya, Dia telah menyatakan kemuliaan Allah.

Didalam inkarnasi Kristus maka Allah yang Roh adanya ikut mengfaktualkan diri. Karena itu, pembelaan teologia bahwa Tritunggal Allah menjadi jelas didalam Yesus Kristus. Bukan sekedar menjadi realita tetapi Bapa dan Roh melimpahkan kemuliaan dan wewenang sepenuhnya kepada Yesus Kristus. “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam didalam Dia” (ayat 19). Kita melihat pernyataan apa dalam Matius 28:18, bahwa segala kuasa di Sorga dan di bumi telah diberikan kepada Yesus. Begitu juga pernyataan Firman Allah dalam Yohanes 16:13-14 “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang dikatakanNya . . . Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitahukan apa yang diterimanya dari padaKu”. Oleh kesepakatan lembaga Tritunggal Allah semua otoritas dilimpahkannya kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus dengan tegas memproklamirkan diriNya, “Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan kebenaran dan hidup . . . .”. (Yohanes 14:6).

Roh Kudus membimbing kepada Kebenaran (Yesus Kristus) dan Dia adalah Firman itu sendiri (Yohanes 1:1). Pada mulanya adalah Firman . . . dan Firman itu adalah Allah dan telah menjadi (inkarnasi) manusia (Yesus Kristus) . . . (Yohanes 1:4). Teologi Kristen akan hancur berpuing-puing apabila kita mengalihkan pusat kebenaran Yesus Kristus yang juga adalah Firman Allah, kepada pokok kebenaran yang lain. Didalam Yesuslah titik central rencana Allah Bapa di Sorga (Kolose 1:23).

Pasal 6: DIBAPTIS DAN DIPENUHKAN ROH KUDUS.

Kita telah datang kepada pokok bahasan yang sangat menarik, yaitu tentang “Dibaptis” dan “Dipenuhkan oleh Roh Kudus”. Sebelum masuk lebih lanjut kita harus mampu menempatkan kedua istilah tersebut kepada suatu pengertian yang jelas dan sesuai Firman Tuhan. Pengertian dibaptis dan dipenuhkan oleh Roh Kudus menjadi istilah yang cukup mengundang kemelut dalam pemahaman. Sering terjadi bahwa waktu untuk membahas kedua istilah menjadi begitu panjang dan menarik, sehingga pembahasan itu menjadi lebih menarik daripada aktualisasi baptisan dan kepenuhan itu sendiri.

Ada yang berkata bahwa baptisan Roh Kudus adalah berbeda dengan kepenuhan Roh Kudus, sedangkan yang lain berkata bahwa baptisan dan kepenuhan hanyalah merupakan dua istilah yang berbeda pada hakekatnya makna kedua istilah itu adalah sama. Bagaimanapun terang Firman yang Alkitabiah harus menjadi jawaban untuk menjadi “Pembenaran” sebagai kebenaran. Kita sangat keliru apabila mencari kebenaran tentang pokok-pokok ini hanya melalui pengalaman. Apabila membangun ajaran yang berorientasi kepada selera doktrin organisasi Gereja masing-masing (Denominational Doctrin Oriented).

Pengertian “Dibaptiskan” dan “Dipenuhkan” oleh Roh Kudus Yesus berkata bahwa tidak lama lagi kamu akan dibaptis oleh Roh Kudus. “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis oleh Roh Kudus”. (Kisah Para Rasul 1:5). Hal yang sama Yohanes pembaptis memberi kesaksian tentang baptisan Roh Kudus, “Aku membaptis kamu dengan air tetapi yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasutNyapun aku tidak layak, Ia akan membaptis kamu dengan Roh dan dengan api” (Lukas 3:16).

Tuhan Yesus begitu pula Yohanes pembaptis memakai istilah yang sama yaitu “Baptis” tentang pengalaman yang akan datang. Marilah kita melihat tentang kegenapan pengalaman baptisan Roh Kudus ketika Dia dicurahkan dari Sorga dalam Kisah Para Rasul 2:4 : “Tiba-tiba turunlah dari langit satu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, dimana mereka duduk dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing maka “penuhlah” mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain, seperti diberikan oleh Roh Kudus untuk mengatakanNya”.

Perhatikan bahwa janji tentang “baptisan” yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus untuk dibaptis dengan Roh Kudus kepada murid-muridNya, tidak lagi mempergunakan kata “baptis”, namun dipakai istilah “penuhlah” mereka dengan Roh Kudus (Inggris KJV; They were filled). Tidak dikatakan bahwa mereka masing-masing dibaptis, sesuai dengan perkataan Yesus dalam nubuatanNya. Roh Kudus dalam mengurapi penulisan firman Allah tidak pernah keliru. Selanjutnya, perhatikan pula dalam Kisah Para Rasul 9:17, “Lalu pergilah Ananias kesitu dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangan ke atas Saulus dan berkata, “Saulus saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui telah menyuruh aku kepadamu supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh denan Roh Kudus” (Inggris = “Filled”).

Pemakaian istilah yang berbeda penuhlah, penuh dan turunlah itu bukan berarti bahwa ketiga momen tersebut mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan istilah yang dipakai, ataupun ketiga momen tersebut bertentangan dengan perkataan Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis. Bandingkan pula dengan Kisah Para Rasul 19:6, ” . . . turunlah Roh Kudus ke atas mereka . . . (Inggris KJV “Came upon”). Tidak ada satupun kata “Baptis” dipakai dalam Kisah Para Rasul dipergunakan ketika orang percaya mengalami pengalaman Roh Kudus. Kata baptis “Baptizo” (Grika), “Baptize” (Inggris), itu berarti “seluruh tubuh masuk ke dalam air”, to immerse berarti menyelam. Baptisan, berarti tenggelam (masuk seluruh tubuh) ke dalam air. Kita tenggelam ke dalam cairan (air). Makna rohaninya berarti tenggelam ke dalam pribadi Yesus Kristus dan menjadi satu secara total dengan Dia (Roma 6:3-5), sebagai jalan keselamatan (Markus 16:16).

Rupanya Yohanes pembaptis dan Yesus Kristus, mengsinkronkan dalam arti “makna” bukan dalam arti kata. Sebab tidak ada sama sekali persamaan perubahan diantara baptisan air dan baptisan Roh Kudus. Baptisan air kita menyelam total kedalam cairan, baptisan Roh Kudus bahwa kita juga tenggelam total kedalam oknum Roh Kudus mendapatkan pengalaman menyeluruh didalam kehendak Allah dan kedalam pribadi Roh Kudus. Dalam arti perbuatan kedua baptisan itu sangat berbeda tetapi rupanya mempunyai kesamaan pengertian dalam makna. Keduanya, bermakna “tenggelam kedalam” Tuhan Yesus Kristus (Roma 6:3-5) dan tenggelam kedalam pribadi Roh Kudus yang menyebabkan Kristus hidup dalam diri orang percaya (1 Yohanes 3:24). Materi air yang dipakai sebagai simbol didalam empat injil untuk tenggelam atau menyatu total, rupanya kata ini juga yang relevan untuk dipakai menerangkan untuk mengalami pengalaman Roh Kudus yang akan datang.

Melihat hubungan istilah tersebut diatas yaitu: Lukas 3:16, Kisah Para Rasul 1:5, keduanya memakai istilah “Baptis”, Kisah Para Rasul 2:4, Kisah Para Rasul 9:17, memakai istilah “penuh”, Kisah Para Rasul 10:44, Kisah Para Rasul 19:6, keduanya memakai istilah “turunlah”. Kita harus mengingat bahwa Roh Kudus adalah satu oknum sehingga setiap istilah merupakan satu aspek dari satu pengalaman. Satu istilah tidak akan mampu menjangkau pengertian menyeluruh dari pengalaman itu.

Stanley M. Horton, dalam bukunya “Oknum Roh Kudus”, menulis : “Penting juga untuk mengingat bahwa baptisan Roh Kudus berarti terbenam dalam hubungan dengan oknum ilahi, bukan terbenam kedalam satu cairan atau satu pengaruh. Hubungan ini dapat bertumbuh dan meluas. Jadi, baptisan air menyangkut tindakan ketaatan iman yang nyata dari pihak kita. Tetapi peristiwa yang terjadi pada hari Pantekosta bukan hanya disebut baptisan, sebab banyak istilah lain yang dapat digunakan. Karena Roh Kudus adalah oknum, baptisan hanyalah dapat menggambarkan satu aspek dari pengalaman itu. Sama seperti Gereja Tuhan digambarkan sebagai mempelai perempuan, tubuh Kristus, kebun anggur dstnya. Benarkah itu satu baptisan, tetapi Alkitab juga menerangkan bahwa itu adalah juga suatu pemenuhan. Selanjutnya, beliau menambahkan itu adalah pengalaman pencurahan Roh Kudus keatas mereka”.

Suatu pengalaman, dalam satu diskusi Alkitab tentang baptis dan kepenuhan Roh Kudus. Kebetulan seorang pembicara menampilkan pendapat tentang bahwa Baptis Roh Kudus adalah berbeda dengan kepenuhan Roh Kudus. Dengan bersemangat beliau menekankan bahwa kualitas baptis melebihi kualitas dipenuhkan. Tiba-tiba seorang bertanya bahwa kalau si pembicara sudah mengalami baptis atau baru dipenuhkan. Sang pembicara sungguh tidak mampu mengidentifikasi dirinya dalam pengalaman yang mana diantara baptis atau kepenuhan.

John R.W. Stott, dalam bukunya, “Baptisan dan Kepenuhan”, menulis ; “Apa yang terjadi pada hari Pantekosta ialah bahwa Yesus “mencurahkan Roh dari Sorga dan dengan demikian membaptis dengan Roh, pertama-tama 120 orang dan kemudian 3000 orang. Buah baptisan ialah bahwa “penuhlah” mereka dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:4). Jadi kepenuhan Roh Kudus adalah akibat baptsian Roh Kudus. Baptisan itulah yang Yesus perbuat, yaitu mencurahkan Roh dari Sorga. Kepenuhan itulah apa yang mereka terima”.

Selanjutnya, John R.W. Stott, berkata bahwa baptisan itu tidak dapat hilang tapi pemenuhan dapat diulangi. Jika dipertahankan akan hilang, jika hilang berarti dapat ditemukan kembali.

Jadi, menurut pemahaman John R.W. Stott, baptisan itu tidak dapat hilang, tetapi kepenuhan itu dapat hilang. Jadi, menurut teologi ini diketahui begitu banyak pengikutnya (diantara Gereja Metodist Amerika, sebagian besar Persekutuan Injili Indonesia), bahwa “baptisan Roh Kudus” permanen dan itu jelas menurut faham, karena baptisan adalah tindakan Yesus “mencurahkan” dari Sorga. Memang sejak hari Pantekosta, Roh Kudus telah dicurahkan menjadikan Gereja menjadi tubuh Kristus. Roh Kudus itu tetap ada pada GerejaNya sampai kedatangan Tuhan kedua kali. Jadi, pengalaman setiap orang percaya dimana Roh Kudus masuk kedalam dirinya menurut R.W. Stott, itu adalah “kepenuhan”.

Billy Graham, dalam bukunya Roh Kudus, menulis (mengutip pendapat DR. Graham Scroggic). “Yang jelas ialah bahwa baptisan Roh Kudus itu adalah menyangkut dengan status kita di hadapan Allah, bukan keadaan subyektif masa kini, dengan posisi kita dan bukan pengalaman kita. Artinya, baptisan Roh Kudus adalah perobahan posisi dari tidak percaya ke posisi orang percaya. Karena selanjutnya, Billy Graham pribadi berpendapat bahwa baptisan Roh Kudus adalah dibaptis kedalam tubuh Kristus oleh Roh pada waktu bertobat.

Jelaslah, Billy Graham juga membedakan tentang baptisan Roh dan kepenuhan Roh Kudus. Baptisan yaitu tatkala kita percaya sebab memang tidak ada orang mampu percaya kalau bukan pekerjaan Roh Kudus (1 Korintus 12:3). Rupanya itulah yang dimaksudkan dalam Efesus 1:13, bahwa kamu telah dimeteraikan oleh Roh ketika percaya. Ibarat kita berada didalam air pada satu kolam renang. Air telah menyelimuti kita tetapi air tidak berada dalam diri kita. Gereja sekarang berada di zaman Roh Kudus secara lembaga (Tubuh Kristus). Air dalam kolam renang diatas itu adalah Roh Kudus dan Gereja berada didalamNya, namun air itu atau Roh Kudus belum berada dalam diri orang tersebut. Bila air masuk kedalam tubuh orang itu inilah yang dimaksud Billy Graham dengan Kepenuhan Roh Kudus.

Selanjutnya; R.W. Stott, menulis bahwa maksud “dipenuhkan” karena Allah menghendaki orang percaya supaya terjun kedalam pelayanan atau Allah menyiapkan suatu tugas atau misi khusus kepada orang percaya. Bagi kami, bahwa kepenuhan adalah kehendak Bapa untuk semua orang percaya supaya kita boleh menikmati semua perjanjian kemuliaan Allah begitu juga untuk dapat mampu melayani Dia. Roh Kudus adalah satu kuasa yag melengkapi kita dengan kuasa untuk melayani.

Kontekstual teologi terhadap pemahaman Baptis dan kepenuhan Roh Kudus masa kini ternyata telah berbeda dengan penguraian kedua teolog diatas. Kata baptis dan dipenuhkan oleh Roh Kudus telah mengarah kepada pengertian satu pengalaman langsung yaitu mengalami pengalaman didiami oleh Roh Kudus dan manifestasi kuasaNya (Kisah Para Rasul 1:8).

Ariel Edvardsen dalam bukunya. Baptisan dan Karunia Roh Kudus, menulis: “ada banyak nama untuk pengalaman indah dengan Roh Kudus yang diperuntukkan bagi semua orang Kristen yang telah dikuduskan oleh darah Kristus. Tetapi semua sebutan yang berdasarkan Alkitab itu berbicara tentang pengalaman yang sama yaitu pengalaman “Pantekosta” yang lebih dikenal dengan baptisan Roh Kudus. Di buku ini kita akan memakai ungkapan dipenuhi atau dibaptis dengan Roh Kudus”.

Ariel Edvardsen jelas tidak membedakan kedua istilah itu. Memang kedua istilah telah diartikan langsung sebagai pengalaman dalam kuasa Roh Kudus. Saya melihat bahwa kata baptis yang diungkapkan Yesus bukan sekedar pencurahan dari Sorga atau pengalaman lahir baru tetapi manifestasi dinamika supaya mengalami kuasa untuk melakukan tugas tubuh Kristus melaksanakan “Amanat AgungNya” (Matius 28:19-20). Berarti menunjuk kepada “dipenuhi Roh Kudus” sesuai ungkapan ayat “dipenuhi” (Kisah Para Rasul 2:4).

Pendapat Pdt. W.W. Patterson, beliau tidak membedakan baptisan Roh Kudus dan dipenuhkan oleh Roh Kudus dari segi pengalaman, karena menurutnya bahwa itu hanya dua istilah yang berbeda namun menunjukkan pengalaman yang sama. Beliau berkata: “tentang kepenuhan Roh, yang dimaksud kata *kepenuhan* disini ialah menaruh (mengisi) sesuatu kedalam sebuah tempat sehingga semua kekosongan yang ada di tempat itu terisi semuanya. Demikian juga pengertian “kepenuhan” Roh Kudus, yaitu: seluruh keberadaan kita diisi dengan Roh Kudus. Sebelum dapat dipenuhkan dengan Roh Kudus tentu saja kita harus mati terhadap dosa dan kejahatan terlebih dahulu. Setelah disucikan oleh darah Anak Domba Allah. Inilah nama kedua untuk dipakai menjelaskan baptisan Roh Kudus. Kisah Para Rasul 2:4, . . . mereka semua “penuh dengan Roh Kudus”, bandingkan dengan Kisah Para Rasul 1:5, dimana pengalaman yang sama disebut dengan “Baptisan Roh Kudus”.

Jadi Pdt. W.W. Patterson juga menganggap bahwa kepenuhan Roh Kudus dapat juga dikatakan dibaptis dengan Roh Kudus dengan membandingkan kedua ayat Firman Allah diatas.

Saya sangat tertarik dengan uraian Stanley M. Horton dalam Oknum Roh Kudus, beliau mengatakan, “Tetapi peristiwa yang terjadi pada hari Pantekosta bukan hanya disebut baptisan”. Banyak istilah lain yang digunakan, karena Roh Kudus adalah Oknum, baptisan hanya dapat menggambarkan satu aspek dari pengalaman itu.” . . . Benarlah, itu suatu baptisan, tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa itu suatu “pemenuhan”. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus.

Kita telah menemukan tiga hamba Tuhan yang besar pada abad ini, kesemuanya berpendapat bahwa kedua istilah Baptisan dan kepenuhan menunjuk pengalaman yang sama. Istilah baptisan dan kepenuhan mempunyai arti yang sama, keduanya terjadi dalam Kisah Para Rasul pasal 2. Sudah tentu begitu banyak lagi hamba Tuhan, para Teolog berpendapat demikian tidak perlu untuk memenuhkan buku ini.

Kita datang pada kesimpulan tentang Baptisan dan Kepenuhan Roh Kudus, jelaslah diatas ada banyak istilah yang berbeda tentang baptisan Roh Kudus dan dipenuhkan Roh Kudus. Tetapi yang pasti ketika Yesus berjanji tentang baptisan Roh Kudus, bahwa Yesus bermaksud harus mengalami pengalaman dibaptis atau dipenuhkan dengan Roh Kudus.

Kembali kepada uraian diatas, bahwa semua janji sebelum pencurahan Roh Kudus memakai istilah “dibaptis” (Lukas 3:16), Kisa Para Rasul 1:5). Ketika nubuatan janji itu digenapkan maka istilah berikut dipakai, yaitu : Kisah Para Rasul 2:4, memakai kata “dipenuhi”, Kisah Para Rasul 9:17, memakai kata “penuh”, Kisah Para Rasul 10:44, memakai kata “turunlah”, dan dalam Kisah Para Rasul 19:6, memakai kata “turunlah”, kesemuanya menunjuk pengalaman “kepenuhan” oleh Roh Kudus. Perjanjian Baptisan ternyata digenapkan dengan Pemenuhan. Kita datang kepada kesimpulan bahwa kedua istilah itu menunjuk kepada aspek yang sama bahwa Baptisan Roh Kudus juga dikatakan dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Kanonisasi Istilah Baptisan dan Kepenuhan Pemakaian istilah “baptisan Roh Kudus” tidak dapat dipisahkan dengan istilah “baptisan air”. Maksud kami menguraikan “kanonisasi” istilah baptis adalah untuk menolong meng-sinkronisasi dengan istilah “dipenuhkan”, kalau tidak demikian yaitu dengan memahami latar belakang lahirnya satu istilah dalam konteks yang tengah berlaku, maka sulitlah bagi kita dan menemukan kekeliruan karena tenggelam dalam sekedar menafsir maksud satu istilah yang dipergunakan dalam firman Allah. Kita harus menyadari bahwa Firman Allah itu adalah kudus dan tak tergugat. Problematiknya firman yang oleh Roh Kudus harus melalui filter komunikasi dengan bahasa manusia. Disinilah pentingnya klarifikasi satu istilah dalam firman Allah. Setiap kebenaran yang diungkapkan tidak terlepas dari masalah kontekstual sebagai konsep pembanding. Demikian juga berlaku pengungkapan maksud Allah sejak zaman Perjanjian Lama sampai penulisan Perjanjian Baru, juga tidak terlepas dengan kontekstual budaya yang berlaku pada waktu itu. Contoh: Yesus mengumpamakan kesulitan orang kaya masuk Kerajaan Sorga, lebih gampang seekor unta untuk masuk ke lubang jarum. Di Yerusalem apabila pintu gerbang kota telah ditutup maka semuanya harus melalui satu pintu kecil yang juga dikenal sebagai lubang jarum. Memang seekor unta akan sangat sulit untuk dapat masuk ke kota melalui lubang jarum tersebut. Karena pintu itu tidak cukup besar untuk seekor unta. Begitu banyak kontekstual lainnya lagi.

Istilah baptisan ini pertama kali dipakai oleh Yohanes pembaptis justru pada saat dia sedang mengerjakan pekerjaan membaptis orang dengan air di Sungai Yordan. Yohanes membaptis dengan cara memasukkan seluruh tubuh orang tersebut kedalam air. Sehingga air membungkus orang yang dibaptis secara total, kemanusiaan tidak tampak lagi. Berarti, memberi diri sepenuhnya kepada siapa dia dibaptis. Tenggelam kedalam air berarti tenggelam kepada siapa kita dibaptis. Perhatikan dalam Roma 6:3-6, bahwa dibaptis kedalam Kristus berarti kita tenggelam kedalam pribadi Yesus Kristus dan secara total orang percaya menjadi satu dengan Dia yaitu Yesus Kepala Gereja, kita menjadi tubuhNya. Bukankah tubuh itu merupakan satu kesatuan dari kepala dan tidak dapat dipisahkan.

Roma 6:3-6. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua telah dibaptis kedalam Kristus telah dibaptis dalam kematianNya?. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikianlah juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematianNya, kita juga akan menjadi satu dengan kebangkitanNya”.

Ciri dan makna yang sama itulah menjadi sebabnya bahwa janji Roh Kudus yang akan datang oleh Yohanes pembaptis langsung memakai istilah “baptisan”. Karena memang baptisan Roh dan baptisan Air mempunyai makna yang sama dengan obyek yang berbeda. Yang pertama memakai percontohan tenggelam dalam air perlambangan tenggelam kedalam pribadi Kristus, sedang yang kedua, bermakna tenggelam dalam kemuliaan oknum Roh Kudus dan segala kekayaan kemuliaan manifestasinya.

Matius 3:11.Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku . . . Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api”.

Mari kita melihat sinkronisasi baptisan Air dan baptisan Roh Kudus :

1. Ketika Yohanes pembaptis sedang membaptis, ia melihat satu kebenaran yang lebih besar mirip dengan baptisan air yang harus dialami orang percaya. Yaitu, tentang baptisan Roh Kudus yang akan dikerjakan oleh Yesus sebagai Pembaptis dengan Roh (Matius 3:11, Markus 1:7-8, Lukas 3:16, Kisah Para Rasul 1:5).

2. Pengalaman baptisan Roh Kudus adalah satu pengalaman yang pasti dan nyata. Hal itu sama dengan orang yang mengalami baptisan air, ia tahu pasti bahwa ia sudah mengalami pengalaman yang nyata. Sebagaimana baptisan air itu tenggelam seluruh tubuh kedalam air, demikianlah baptisan Roh Kudus dilihat oleh Yohanes pembaptis bahwa kita tenggelam kedalam oknum ilahi. Bahwa yang tenggelam kedalam air sebagai jalan pertobatan, yang satu tenggelam kedalam ilahi, yaitu Roh Kudus.

3. Sama halnya, dalam baptisan air memerlukan seorang pembaptis, begitu juga Roh Kudus dimana Yesus Kristus adalah sebagai Pembaptisnya. “Dia yang datang kemudian lebih besar dari padaku . . ., Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api”. Penggenapannya, benar disertai dengan lidah-lidah api, telah dilihat jelas oleh Yohanes pembaptis (Lukas 3:16).

4. Baik baptisan air maupun baptisan Roh Kudus, keduanya adalah kehendak Allah yang harus dialami. Baptisan air (Matius 28:19), Markus 16:16). Baptisan Roh Kudus, Yohanes pembaptis mengenal oknum dan pekerjaan Roh Kudus itu.

Aku melihat Roh Kudus turun dari langit seperti merpati dan Ia tinggal diatasNya (Yohanes 1:32), Roh Kudus adalah oknum Allah yang kedalamNya, orang percaya harus dibaptiskan dan mengalami kepenuhan ilahi.

Dengan persamaan tersebut diatas, demikian pula mempunyai persamaan makna sesuai dengan konteks waktu maka untuk mengalami penyatuan dengan Roh Kudus sebagai janji besar yang akan datang, maka Yohanes pembaptis dengan jitu memaki istilah “baptisan”.

Sesungguhnya, sejak hari Pantekosta bahwa kuasa itu telah ada dan tinggal di dalam tubuh orang percaya. Dia atau Roh Kudus tidak lagi tinggal di luar tetapi di dalam tubuh orang percaya. Dalam kehidupan kita mengalami dinamika yang digerakkan oleh Roh Kudus di dalam hati kita. Karena itu istilah baptisan jangan lagi dipolemikkan dengan istilah dipenuhkan, keduanya mengandung arti yang sama, yaitu pengalaman Roh Kudus dalam hidup orang percaya di dalam GerejaNya.

Roh Kudus Tinggal Dalam Diri Manusia Pada hari Pentekosta Roh Kudus dicurahkan dari Sorga dan murid-murid mengalami kepenuhan Roh Kudus. Perlu direnungkan bahwa kata baptis oleh Roh yang dijanjikan Yesus Kristus sebelum naik ke Sorga lebih berbicara makna yaitu, pengertian yang mendalam arti satu kepenuhan (telah dijelaskan). Karena, seluruh penggenapan dari janji baptis oleh Roh Kudus tersebut ternyata tidak lagi memakai istilah “baptis”, lebih menunjuk kepada manusia sebagai “bejana” untuk diisi sampai penuh. Manusia menjadi tempat kediaman Roh Kudus dimuka bumi. Karena itu apabila dihubungkan bahwa manusia sebagai rumah kediamanNya (bejana), kelihatannya istilah “dipenuhkan” lebih tepat sangat relevansi. Perhatikan :

1. Zaman Gereja, Roh Kudus tidak bertempat diluar tubuh orang percaya. Dia datang dan bertempat tinggal dalam diri orang percaya. Roh Kudus menjadikan tubuh orang percaya menjadi rumah kediamanNya, menjadikan Bait Allah (1 Korintus 3:13). Tentu sangat relevansi untuk kita mengundang, masuklah dan “penuhilah”.

2. Roh itu bersaksi bersama-sama roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:14-16). Dan karena kamu adalah anak maka Allah telah menyuruh Roh anakNya ke dalam hati kita, yang berseru “Ya Abba, Ya Bapa” (Galatia 4:6). Sejak hari Pantekosta Roh Kudus telah turun ke muka bumi dan membaptis GerejaNya, orang percaya harus mengundang Dia masuk ke dalam diri orang percaya dan bertempat tinggal di dalam hati kita.

3. “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaanNya menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam batinmu”. (Efesus 3:16). “Memeteraikan tanda MilikNya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan bagi kita . (II Korintus 1:22).

4. Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam didalam Allah dan Allah didalam dia. Dan dengan demikian kita ketahui bahwa Allah ada didalam hati kita, yaitu Roh yang telah dikaruniakan kepada kita (1 Yohanes 3:24).

5. ” . . .Sebab Roh didalam kamu lebih besar dari roh yang ada didalam dunia”, (1 Yohanes 4:4).

Roh Kudus yang dicurahkan pada hari Pantekosta dan membaptis dan memenuhi orang percaya menjadikan orang percaya menjadi tempat kediamanNya, sekaligus menjadikan tubuh kita baitNya. Dia ingin memerintahkan dan berdaulat didalamNya. Itulah sebabnya, pada Kisah Para Rasul 2:4, “maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus.” Baptisan Roh Kudus tidak usah dibedakan lagi dengan kepenuhan, bila itu menunjuk pekerjaan Roh Kudus dalam diri orang percaya. Stanley M. Horton berkata bahwa benar itu merupakan baptisan tetapi juga kepenuhan Roh Kudus. Dua istilah berbeda tetapi menunjuk pengalaman yang sama, yaitu masuknya Roh Kudus dalam diri orang percaya.

Percaya Tidak Identik Dengan Dipenuhkan Roh Kudus Pada saat kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, belum berarti bahwa kita sudah dipenuhkan oleh Roh Kudus. Memang banyak Gereja mendasarkan doktrin kepenuhan Roh Kudusnya pada ajaran yang sangat klasik bahwa pada saat menjadi orang percaya bahwa orang percaya telah dipenuhkan oleh Roh Kudus. Ajaran tersebut begitu banyak pengikutnya karena kelihatannya begitu mudah dan sederhana kita percaya berarti telah dipenuhkan oleh Roh Kudus. Tanpa mempedulikan tanda-tanda rohani yang sangat dibutuhkan sebagai satu bukti terjadinya pengalaman kepenuhan. Ajaran ini menjadikan Gereja mengalami pekerjaan Roh Kudus yang fiktif dan Gereja tenggelam kedalam rutinitas dan lesu kehilangan kegairahan, semangat dan sukacita dan yang paling mengerikan Gereja mengalami kemiskinan rohani. Dasar doktrin bertitik tolak pada Efesus 1:13-14 : “Didalam Dia kamu juga karena kamu juga telah mendengar Firman kebenaran, yaitu injil keselamatan didalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya *dimeteraikan* dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milikNya”.

Dimeteraikan dengan Roh adalah tidak sama pengertiannya dengan dipenhkan oleh Roh. Dimeteraikan atau “sealed” (Inggris), Sphragizo (Yunani), meterai adalah lambang pengesahan. Pada zaman Perjanjian Lama bahwa semua keputusan oleh raja harus dimeterai dengan cincin raja. Berarti satu pengesahan sudah dilakukan raja dan keputusan itu harus dikerjakan (Esther 8:8, 1 Raja-raja 21:8).

Ketika Yesus mati dan dikuburkan maka kubur itu dimeterai sebagai tanda telah sempurna tertutup (Matius 27:66). Kata “Sphragizo” (Yunani) berarti meneguhkan dan memastikan. Begitu pula semua surat berharga di negara kita Indonesia, harus tertulis diatas kertas bermeterai, sebagai kekuatan peneguhan dan pengesahan hukum dan resmi berlaku.

“Meterai dengan Roh” adalah suatu pengesahan keyakinan keselamatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Billy Graham dalam bukunya Roh Kudus bahwa berkenan dengan dimeteraikannya oleh Roh Kudus. Paulus mempunyai dua pokok pikiran, pertama, berkenan dengan keamanan, kedua berkenan dengan hak milik.

Dalam Perjanjian Lama, raja membubuhkan cincinnya sebagai tanda atau meterainya, supaya surat itu tidak ada seorangpun yang dapat merobah atau membatalkannya. Pada zama dahulu, bila terjadi persetujuan jual-beli, maka surat itu dimeteraikan oleh pembeli. Suatu tanda bahwa jual-beli telah resmi terjadi dan barang itu menjadi hak milik pembeli.

“Dimeteraikan oleh Roh”, pengesahan keyakinan keselamatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menginsyafkan dunia akan dosa. Tidak seorangpun yang dapat mengaku Yesus sebagai Tuhan kalau bukan oleh Roh Kudus (1 Korintus 12:3). Roh Kuduslah yang memeteraikan keselamatan kita. Tak seorangpun mampu mengenal Yesus Kristus apabila tidak dibimbing oleh Roh Kudus (1 Korintus 2:10-11).

Dimeteraikan oleh Roh tatkala kita menjadi percaya adalah satu pengalaman kelahiran baru pada saat kita menjadi percaya dan bertobat. Roh Allah mengurapi Firman Allah dan mampu menyentuh hati kita dan oleh Roh Kudus itulah melalui mendengar Firman Allah manusia mengalami kelahiran baru. “Kelahiran baru” dialami pada mula pertama mendengar firman dan oleh Roh Kudus kita dimampukan untuk bertobat (1 Petrus 1:23). Tidak ada orang yang mampu percaya dan bertobat kalau bukan hasil keyakinan Roh Kudus.

Rasul Paulus pada mula pertama “dimeteraikan oleh Roh Kudus”, yaitu pada perjalanan ke Damsyik. Allah memanggil dia dan oleh Roh Kudus dia bertobat dan percaya. Rasul Paulus telah percaya ketika jumpa Yesus dalam perjalanan ke Damsyik dan disitulah dia lahir baru mengalami “Meterai Roh”. Kemudian oleh palayanan Ananias, Paulus dipenuhkan oleh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 9:17).

Jelaslah bahwa Paulus mengalami dua kali momentum Roh Kudus yaitu, pertama, ditengah perjalanan ke Damsyik, dia dipanggil Tuhan, ketemu Tuhan dan Paulus bertobat ditengah jalan. Pada waktu itu dia lahir baru oleh Roh Kudus, melalui Firman Allah yang langsung berseru memanggil namanya, pada saat itulah dia mengalami “dimeteraikan oleh Roh”, sebagai milik Allah dan dipakai melayani pekerjaanNya. Kedua, di kota Damsyik, Tuhan menyuruh Ananias untuk melayani Paulus dan dalam pelayanan tersebut Paulus dipenuhkan oleh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 9:17).

Contoh lain lagi, Kisah Para Rasul 19:1-2. Sekelompok murid mengaku bahwa mereka belum menerima kepenuhan Roh Kudus pada saat mereka percaya. Sekelompok murid-murid tersebut baru mengalami kelahiran baru atau dimeterai oleh Roh tatkala mereka percaya. Apabila tatkala percaya telah “dimeteraikan oleh Roh” dalam arti sama dengan telah dipenuhkan oleh Roh Kudus, sudah tentu murid-murid tersebut tidak memerlukan lagi dipenuhkan dengan Roh Kudus. Tapi jelas mereka menjawab mereka belum dipenuhkan bahkan belum pernah mendengar adanya Roh Kudus. Atas pelayanan Paulus maka mereka semua dipenuhkan oleh Roh Kudus. Karena itu, semua orang percaya harus mengalami “dipenuhkan atau dibaptiskan oleh Roh Kudus”. Begitu percaya bukanlah berarti telah dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Apabila kita baru mengalami pengalaman lahir baru kita telah merasa persekot keselamatan oleh Roh Kudus dilimpahkan kepada kita. Marilah kita lebih merenungkan keselamatan apa yang akan terjadi apabila Roh Kudus sepenuhnya telah mengendalikan GerejaNya. Dan itu tidak akan pernah terjadi, terkecuali kita membuka diri mengalami kepenuhan Roh Kudus.

Kelahiran baru pada saat percaya adalah satu perobahan posisi dari manusia daging yang berdosa dilahirkan oleh Roh menjadi manusia rohani masuk dalam keluarga Allah menjadi anggota tubuh Kristus (II Korintus 5:17). Namun dipenuhkan oleh Roh Kudus berarti Allah telah bertempat tinggal dalam diri kita dan kita akan segera berlayar mengarungi dan mengalami semua janji-janji ilahi yang luar biasa sampai akhirnya Roh Kudus membawa kita sebagai jemaat yang tidak bercacat dan bercela, limpah dengan semua marifat hikmat dan mengalami kepenuhan Kristus (Efesus 4:13, Filipi 1:9-10).

Kapankah Orang Percaya Dipenuhkan oleh Roh Kudus

Pada saat orang menjadi percaya “dimeteraikan oleh Roh Kudus” (Efesus 1:13), yaitu oleh Roh Kudus dia dilahirkan baru dan menjadi anggota tubuh Kristus, bukan lagi orang asing tetapi telah menjadi keluarga Allah (Efesus 2:19). Pengalaman itu bukan kepenuhan Roh Kudus, bila hendak lebih masuk dalam kemuliaan harus memberi diri dipenuhkan atau dibaptis oleh Roh Kudus. Contoh-contoh telah diketengahkan pada tulisan sebelumnya. Terlalu banyak orang Kristen hanya berhenti pada pengalaman lahir baru. Sesuai firmanNya kita harus mengizinkan tubuh kita menjadi tempat kediamanNya supaya semua otoritas Roh kudus mampu dimanifestasikan melalui kehidupan orang percaya.

Paulus telah bertemu Yesus ditengah jalan menuju ke Damsyik, tetapi dia belum dipenuhkan oleh Roh Kudus pada saat dia bertobat. Tuhan merencanakan menjadikan Paulus menjadi alat yang melebarkan kerajaanNya, karena itu Paulus harus dipenuhkan oleh Roh Kudus. Dan melalui pelayanan Ananias, Paulus dapat melihat dan sekaligus “penuh” dengan Roh Kudus. Terjadi pula di Efesus, bahwa murid-murid disana telah lama percaya tetapi belum penuh dengan Roh Kudus dan melalui palayanan Paulus mereka semua dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Apabila seandainya setiap orang tatkala percaya pada waktu itu sesuai firman memang benar telah dipenuhkan, jelaslah sudah tentu tidak akan pernah ada pertanyaan dari rasul kepada mereka, “sudahkah engaku penuh Roh Kudus tatkala engkau percaya?”, tidak akan pernah ada sebab tidak relevansi. Baca Kisah Para Rasul 19:1-3.

Beberapa contoh dari hal orang-orang besar Gereja yang menjadi besar setelah mengalami kepenuhan Roh Kudus seketika pelayanan mereka berubah :

Charles G. Finney, pendiri Gereja Methodis, Gereja yang terbesar pengikutnya di Amerika Serikat, menyaksikan : “I received mighty babptism of the Holy Ghost. Without any expectation of it, without ever having the thought in my mind that there was any such thing for me. Without any recollection that I have ever hear that thing mention on me in a mannger that seemed to go through me, body and soul. I could feel the impression like a wave of electricity, going through and through me.” (Harold Lindsell – The Holy Spirit in the latter days).

Siapapun pasti mengenal nama besar Charles Finney, bapak Gereja Methodis di Amerika Serikat, dia menjadi berhasil sebab dipenuhkan oleh Roh Kudus. Billy Graham, penginjil besar abad ini adalah anggota Gereja Methodis di Amerika Serikat. Charles Finney mengalami baptisan Roh Kudus setelah cukup lama menjadi penginjil. Setelah pengalaman baptisan Roh Kudus yang dia alami maka pelayanannya mendapat kekuatan berlipat kali ganda. Sebab yang empunya otoritas manifestasi Roh Kudus telah berada dalam kehidupannya.

Dwight L. Moody, penginjil terbesar awal abad ini di Amerika Serikat, dalam kesaksian dia merasa bahwa dia telah berhasil dalam pelayanan. Sebagai gembala dia memperhatikan selalu ada dua ibu tua anggota jemaat yang setiap ibadah selalu melimpah dengan doa kepada Tuhan. Akhirnya, Pdt. D.L. Moody bertanya kepada kedua ibu tadi bahwa apa yang mereka doakan dan D.L. Moody sangat terkejut mendapat jawaban mereka bahwa supaya Pdt. D.L. Moody dipenuhkan oleh Roh Kudus untuk melipat-gandakan kuasa pelayanan. D.L. Moody sangat terkejut dan menyadari kekurangannya bahwa ternyata dia belum dipenuhkan oleh Roh Kudus. “My heart was not in the work of begging, I could not appeal, I was crying all the time that God would fill me with His Spirit. Well, one day, in the city of New York, oh what a day, I cannot describe it. It almost too sacred an experience to a name. Paul had an experience of which he never spoke for fourteen years, I can only say that God revealed Himself to me.” (Ibid. Hal. 134).

D.L. Moody dipenuhkan oleh Roh Kudus ketika dia berada di New York dan sejak itu pelayanannya menjadi berlipat ganda, dalam waktu yang singkat ribuan orang bertobat dibawah pelayanannya. D.L. Moody memandang hari kepenuhannya seperti hari yang sangat sakral.

Kesaksian-kesaksian di atas sengaja ditampilkan bahwa penginjil besar tersebut di atas juga belum penuh Roh Kudus ketika mereka percaya. Bahkan telah menjadi pendeta sekian lama barulah mengalami kepenuhan Roh Kudus.
Tuhan Yesus berkata : “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Sorga. Ia akan memberi Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya. (Lukas 11:13).
Anugrah baptisan Roh Kudus hanyalah kepada mereka yang merindukan dan meminta kepada Allah. Patut dicamkan bahwa Roh Kudus itu adalah Oknum, Dia memiliki kehendak dan perasaan, sehingga Dia dapat didukacitakan.

Basilea Schlink, dalam “Hidup yang dikuasai Roh”, menulis satu kenyataan bahwa mereka yang telah percaya kepada Yesus tidak dengan otomatis menerima Roh Kudus. Itu jelas menunjukkan bahwa pengalaman kepenuhan Roh Kudus tidak perlu diberikan dengan segera, meskipun pertobatan itu sendiri dikerjakan oleh Roh Kudus. Demikian juga dengan baptisan air biasanya tidak meliputi pengalaman ini. (Hal.21).

Kita datang kepada kesimpulan tentang kapankah orang percaya dapat dipenuhkan oleh Roh Kudus :

1. Kepenuhan Roh Kudus dapat terjadi segera setelah kita percaya, tergantung sikap kita dalam menyiapkan diri untuk kepenuhan Roh Kudus, juga tergantung kehendak Roh Kudus itu sendiri. (Kisah Para Rasul 10:44-48, Kisah Para Rasul 9:17).

2. Dapat pula terjadi dalam waktu relatif lama sejak kita percaya. Dipenuhkan Roh Kudus menyangkut dua pribadi, yaitu, orang percaya yang menerima dan Roh Kudus yang membaptis.

Tentang kapankah kita dipenuhi oleh Roh Kudus juga diingat keterkaitan dengan dua hal utama, yaitu bagaimana prasyarat kesediaan hati kita untuk melengkapi diri dengan seluruh kehendak Firman Allah untuk dipenuhkan Roh Kudus. Begitu pula jangan lupa bahwa Roh Kudus adalah satu Oknum yang mempunyai perasaan dan kehendak. Sikap pribadi dan mengerti serta percaya kehendak Firman tersebut sangat menentukan untuk dapat dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Sikap Rohani Sebagai Syarat Supaya Dipenuhkan atau Dibaptis oleh Roh Kudus

Roh Kudus bukan sekedar anugrah dari Allah tetapi Dia adalah Oknum Allah sendiri. Bagaimana sikap kita seandainya Allah mewujudkan diri dan datang kepada kita. Sudah tentu kita akan menyambut Dia dengan sikap yang sangat berbeda. Karena Dia datang dengan mengambil wujud manusia. Kita pasti akan menyanjung dan memuja Dia. Kita akan berusaha menyenangkan Dia.

Contoh di atas hanya satu perbandingan bagaimana sebagian besar umat Kristen telah lalai menyambut Roh Kudus sebagai satu Oknum. Kita hanya menyukai kuasaNya, pemberianNya lebih dari Oknum itu sendiri. Menjadi kunci rahasia kehadiranNya harus menyambut Dia sabagai satu Pribadi. Gereja harus menempatkan Oknumnya melebihi karunia dan pekerjaanNya. Kita berusaha mengerti kehendakNya, pikiranNya dan perasaanNya, sehingga Ia berkenan. “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Efesus 5:17).

Gereja hanya berdoa, memohon pemberianNya, penjagaanNya, karuniaNya dstnya. Kita selalu melupakan untuk memuja pribadiNya. Padahal kunci kemuliaanNya terletak kepada bagaimana kita menyenangkan pribadiNya. Ketika Martha dan Maria dikunjungi oleh TuhanYesus terjadilah bahwa Yesus lebih menghargai Maria lebih daripada Martha. Sebabnya, Maria lebih memperhatikan Pribadi Yesus dengan duduk di kakiNya mendengar perkataan-perkataanNya. Yesus menegur Martha dengan berkata bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik (Lukas 10:38-42). Begitulah sikap yang positif untuk dapat mengambil hati pribadi Roh Kudus, sehingga kerinduan orang percaya untuk dipenuhkan tidak relatif terlalu lama. Selanjutnya, beberapa syarat rohani kami tampilkan supaya atau menjadi syarat dipenuhkan oleh Roh Kudus.

1. Merasa Berdahaga.

Sebagaimana seorang yang dahaga dan sangat membutuhkan air untuk diminum. Sikap ini adalah sikap bahwa sangat membutuhkan air untuk diminum. Roh Kudus tidak akan memenuhi apabila kita tidak mempunyai perasaan kebutuhan. Apabila kita membutuhkan sesuatu pasti kita akan berusaha. Dan Roh Kudus mengerti kebutuhan kita. “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum. Barangsiapa percaya seperti yang dikatakan Alkitab, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air yang hidup”. (Yohanes 7:37-38).

2. Memuliakan Dia.

Sebagai Oknum Allah, Roh Kudus mempunayai karakter sama seperti Bapa dan Yesus Kristus. Kita harus hadapi Roh Kudus sebagaimana Dia pribadi adanya. Muliakan Dia, serta menghormati dan menyembah kepadaNya. Ingat ! Sebagai Oknum Allah Dia memiliki intelek, kehendak dan perasaan. Ketika ciri yang ada kepadaNya menjadikan Dia satu Pribadi yang harus dimengerti. Kita harus berusaha menyentuh PribadiNya karena Dialah yang mempunyai otoritas didalam kehendakNya untuk memenuhi seseorang atau tidak. Kehidupan yang banyak pujian, ucapan syukur dan doa bisa menyentuh hatiNya. Kalau Firman Allah berkata bahwa jangan dukakan Roh Kudus, itu berarti bahwa menyenangkan pribadi Roh Kudus sebagai syarat untuk Dia mengasihi kita. Masuklah dalam satu kehidupan yang melimpah dengan pujian, ucapan syukur yang menyenangkan Dia (Efesus 4:30, Ibrani 13:15). Berdoalah selalu untuk meminta kepadaNya (Lukas 11:13).

3. Bertekun dan Bersehati.

Para rasul berkumpul dikamar loteng Yerusalem, mereka bertekun dan bersehati menantikan janji Bapa. Sikap bertekun dan bersehati adalah sikap yang menyenangkan Allah dan diperintahkanNya harus dilakukan. Maksud ayat untuk bertekun dan bersehati (Kisah Para Rasul 1:4), mengandung pengertian :
Kesetiaan beribadah, kerinduan untuk dipenuhkan harus disertai fakta kecintaan mendengar Firman Allah. Mereka berkumpul sebagaimana kehendakNya juga untuk mendengar Firman Allah. Sebab melalui mendengar FirmanNya terbitlah iman. Iman menjadi kunci utama juga untuk dapat dipenuhkan oleh Roh Kudus. Tuhan tidak menghendaki orang percaya untuk meninggalkan ibadah. Bila kita berkumpul untuk berbakti kepadaNya untuk berbakti itu menarik hadiratNya (Ibrani 10:25). Dimana orang percaya bersehati Yesus didalam Roh Kudus berada ditengah-tengah mereka.

Kesetiaan berkorban, orang percaya tidak hidup bagi dirinya sendiri tetapi bagi Dia yang mati untuk menyelamatkan isi dunia. Apa yang Yesus telah lakukan harus dicontohi oleh orang percaya. Kita harus melakukan kewajiban kita untuk berkorban. Memberi sebagian yang ada pada kita bagi pekerjaan Tuhan. Perbuatan itu bisa menyentuh pribadi Roh Kudus (II Korintus 5:15).

4. Hati yang taat, mempersembahkan diri sebagai korban yang hidup merupakan wujud dari yang taat.

Allah bukan melihat apa yang kita berikan atau korbankan kepada Dia, tetapi dasar hati sebagai pokok untuk berkorban. Allah mengenal sampai kedalaman hati kita, kepada siapaka Allah akan memberi karunia yang besar itu yaitu rohNya sendiri yaitu kepada semua yang taat kepada Dia (Kisah Para Rasul 5:32). Allah bertempat tinggal di Sorga, tetapi Dia akan tinggal dihati yang hancur (Yesaya 57:15). Ketaatan dan takluk kepada ketentuan-ketentuan firmanNya harus dipenuhi sebelum dipenuhkan oleh Roh Kudus.

5. Memelihara Kekudusan hidup, dipenuhkan oleh Roh Kudus, berarti datangnya Allah bertempat tinggal didalam diri kita.

Dia menjadikan tubuh kita menjadi Bait Allah yaitu tempat kediamanNya. Orang percaya yang telah lahir baru berarti telah disucikan oleh darah Kristus. Kita telah mengalami pengampunan dosa dan didamaikan dengan Allah (Kolose 1:20-21).

Salah satu hakekat Allah yaitu “kekudusan”. Hendaklah kamu kudus sebab Aku kudus adanya. Kekudusan berarti satu kehidupan yang telah dibentuk oleh Allah untuk membenci dosa. Pada saat kita percaya dan lahir baru maka kita telah disucikan dari dosa-dosa kita. Pertahankanlah kesucian itu. Karena itu sebagai satu syarat untuk didiami oleh Allah. Kekudusan Allah adalah syarat untuk dipenuhkan oleh Roh Kudus (1 Petrus 13:16).

Waspada Ajaran Keliru.

Kita harus mengidentifikasi tentang adanya ajaran yang tidak sedikitpun memberi peranan kepada manusia ciptaan menurut “gambar” Allah dalam dinamika keselamatan. Mereka menaruh manusia pihak “kerusakan total” akitbat dosa dan kehilangan kesanggupan total. Ternyata keseluruhan pelajaran tersebut juga tidak memberi peranan kepada manusia yang telah lahir baru yang memiliki kesanggupan rohani setelah percaya (Efesus 1:13), sehingga keselamatan hanya dari pihak Allah semata tanpa melihat apakah manusia percaya itu bertumbuh rohani atau tidak. Ajaran itu kelihatan baik karena melihat Allah adalah segala-galanya. Namun, tidak bisa ditolak ajaran itu menjadikan hakekat manusia hanya seperti robot, tidak mempunyai pertanggung-jawaban sama sekali dalam keselamatan. Peranan Roh Kudus yang mampu menjadikan manusia bersifat rohani bahkan menjadi manusia Allah (1 Timotius 6:11) sehingga harus bertanggung-jawab sangat diabaikan. Keselamatan menurut ajaran ini tidak memperhitungkan kondisi moral. Sekali selamat pasti selamat selamanya.

Kita jangan menempatkan kekudusan atau kesucian sebagai syarat, itu berarti menyalahi bahwa keselamatan hanya oleh kasih karunia Allah, ajaran ini tidak memberi syarat satupun dipihak manusia asal kita percaya termasuk pilihan Allah, kondisi lainnya tidak perlu diperhitungkan. Kita tidak perlu berusaha hidup kudus karena bukan itulah prasyarat Allah. Dengan demikian upaya dan usaha untuk dipenuhkan tidak dibutuhkan secara otomatis dikaruniakan Allah tanpa sedikitpun melihat persiapan rohani orang percaya (Unconditional Election). Karena itu, begitu banyak orang percaya tidak menempatkan ajaran dibaptis Roh Kudus sebagai satu kebutuhan.
Begitu pula ada ajaran lain lagi yang mengajarkan bahwa kita tidak perlu hidup kuuds karena kita tidak sanggup berbuat itu. Justru tugas itu ada pada Roh Kudus, dalam syarat yang tidak kudus mereka menanti Roh Kudus, supaya dapat menuntun mereka kepada kekudusan. Jadi, dalam kehidupan yang tidak kudus mereka menanti Roh Kudus akan datang memenuhi supaya mengkuduskan mereka. Pendapat itu sangat keliru. Manusia telah jatuh ke dalam dosa dan menjadi manusia daging. Itulah sebabnya kita memerlukan kelahiran baru. Pada waktu kita percaya oleh Roh Kudus manusia dilahirkan baru dan disucikan oleh darah Kristus. Tingkat penyucian oleh darah Kristus pada saat percaya dan lahir baru dimensinya sampai kedalam hati nurani. Sebagai syarat untuk bisa beribadah kepadaNya (Ibrani 9:14). Pada waktu kita percaya oleh Roh Kudus dilahirkan baru saat itu dikuduskan oleh darah Yesus Kristus.

Kekudusan yang diperoleh orang percaya pada saat lahir baru yang dikerjakan oleh darah Kristus, menjadikan dibenarkan oleh Allah dan mempunyai kesanggupan untuk memelihara kekudusan itu. Mata rohani telah terbuka dan dapat membedakan yang baik dan jahat. Apabila kita berkata bahwa kita belum kudus pada saat lahir baru berarti kita mengkecilkan kemampuan darah Kristus yang mengkuduskan sampai kedalam hati nurani (Ibrani 9:13-14). Yang kita butuhkan adalah untuk tidak berbuat dosa lagi dan memelihara kondisi kelahiran baru yang telah diperoleh pada saat percaya (II Korintus 5:17). Hanya orang yang telah lahir barulah yang akan dibaptis atau dipenuhkan oleh Roh Kudus.
Karena itu, kita harus menjaga ajaran yang sehat supaya anugrah baptisan menjadi bagian kita. Kita harus menyucikan kehidupan untuk dipakai oleh Roh Kudus selanjutnya menjadi alat yang ajaib di tangan Tuhan. Dipenuhkan adalah karunia ajaib bagi orang percaya. Bila kita dipenuhkan berarti kita mulai bergerak dalam semua rencana ilahi bagikita dan mulai melihat manifestasi kemuliaan Allah. Saya bisa memberi ilustrasi sebagai berikut, pada saat kita percaya dan lahir baru berarti kita berhasil memasuki pintu gerbang kerajaanNya dan mampu melihat kemuliaan didalam kerajaan itu tetapi hanya terbatas kepada melihat belum mampu merealisasi atau memilikinya. Namun, pada waktu kita dipenuhkan, kita mulai bererak dan mulai menikmati secara nyata satu demi satu apa yang telah kita lihat dari pintu gerbang tadi. Kita menikmati seluruh fasilitas kerjaan itu Alkitab dengan segala perjanjianNya tidak menjadi fatamorgana menjadikan Gereja lelah dan lesu mengetahui perjanjian ilahi tetapi tidak pernah menikmati. Gereja dipenuhkan Roh Kudus akan menikmati semua kemuliaan perjanjian ilahi (Yesaya 61-1-2). “Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh Tuhan sendiri.

Pasal 7: TANDA BUKTI DIPENUHKAN ROH KUDUS.

Tentang tanda bukti dipenuhi oleh Roh Kudus belum terjadi kesepakatan pendapat. Ajaran tentang tanda bukti telah dipenuhkan oleh Roh begitu berbeda-beda tetapi semua sepakat bahwa dipenuhkan oleh Roh Kudus harus mempunyai tanda bukti. Karena itu, tentang tanda bukti dipenuhkan oleh Roh, kami melihat ada tiga bukti yang harus menyertai. Kesemuanya dilihat dari terang Firman Allah. Pertama, tanda bukti lahiriah, kedua, tanda bukti moral, ketiga, tanda bukti dinamika pertumbuhan rohani.

Pertama, Tanda Bukti Lahiriah.

Kisah Para Rasul 2:4 “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dengan bahasa lain seperti yang diberikan Roh kepada mereka untuk mengatakannya”. Diawali dengan tiupan angin yang keras dan lidah api bertebaran ditas kepala mereka, kemudian mereka mulai bertutur dengan “bahasa yang lain” seperti yang diberikan oleh Roh Kudus untuk bertutur. Bahasa yang lain itu tidak pernah dipelajari sebelumnya (Kisah Para Rasul pasal 2). Jelaslah bahwa apa yang terjadi dikamar loteng Yerusalem telah menjadi satu pola, yaitu tanda yang khas bila dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Kisah Para Rasul 10:44-46 “Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang karena melihat bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah . . .”

Bagaimana Petrus dan orang-orang bersama dia dapat menidentifikasi bahwa mereka telah dipenuhkan oleh Roh Kudus. Jawabnya, “Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh”. Rupanya bagi mereka bahasa Roh telah menjadi identifikasi tentang ciri dipenuhkan oleh Roh Kudus. Namun ada sebagian berkata bahwa “dipenuhkan” oleh Roh Kudus pada hari Pantekosta tidak sama dengan selanjutnya. Sebab pada hari Pantekosta mereka dipenuhkan dengan tanda memakai bahasa roh dengan bahasa bangsa-bangsa sekitar Israel. Ada lima belas bahasa dipakai oleh mereka pada hari Pantekosta. Ya, memang satu argumentasi yang baik, tetapi coba perhatikan, pada Kisah Para Rasul 11:15, “dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita”. Rasul Petrus tidak membedakan kepenuhan mereka di rumah Kornelius dengan para rasul di kamar loteng Yerusalem. Petrus berkata, “Sama seperti dahulu ke atas kita”.

Rasul Petrus tidak membedakan bahasa Roh pada hari Pantekosta dan pengalaman bahasa roh selanjutnya dalam pengalaman dipenuhkan oleh Roh Kudus. Kita harus maklum kebenaran tentang bahasa roh bahwa bahasa roh tidak dipakai untuk berkomunikasi dengan manusia. Bahasa roh adalah supranatural tidak dipahami oleh manusia. Karena bahasa roh adalah satu konumikasi Roh Kudus dalam diri kita dengan Allah di Sorga. Ke 120 murid yang dipenuhkan di kamar loteng Yerusalem tidak pernah mengetaui bahwa mereka telah berbicara dengan bahasa-bahasa bangsa sekitar mereka. Rupanya bukti pertama dipenuhkan oleh Roh Kudus bahasa Roh diwujudkan melalui bahasa yang dimengerti oleh orang sekeliling . Tuhan membuktikan, bahwa bahasa roh itu sumbernya bukan manusia tetapi Roh Kudus. Mereka tidak sekedar dengar bahsa roh yang tidak dipahami tetapi yang dipahami oleh manusia sebagai bukti dalam bahasa roh bukan sekedar bunyi tetapi sedang menyampaikan berita. Kalau selanjutnya, bahasa roh memakai bahasa yang tidak dipahami memang kita harus mengerti bahwa berkata-kata dengan bahasa roh adalah bukan berkata-kata kepada manusia tetapi kepada Allah Bapa.

1 Korintus 14:2 “Siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak seorangpun yang mengerti bahasanya, oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia”.
Dalam 1 Korintus 14, Rasul Paulus memberi penjelasan tentang pemakaian bahasa roh ditengah perhimpunan orang percaya. Tentang etika kafaedahan penggunaannya. Kita harus mempelajari dengan seksama fasal ini, karena banyak kali telah dipakai untuk mengargumentasi perlu tidaknya bahasa roh. Paulus menekankan kafaedahannya untuk kebersamaan.

Perhatikan, bahwa Rasul tidak pernah melarang untuk memakai bahasa roh dalam perhimpunan. Karena dalam fasal tersebut dia menekankan kefaedahan untuk orang banyak. Berbicara dalam bahasa roh apabila tidak diterjemahkan sangat tidak menguntungkan bagi seluruh perhimpunan (1 Korintus 14:1-10). Kiranya, segala sesuatu yang dilakukan di dalam perhimpunan bermakna untuk keuntungan rohani seluruh perhimpunan (jemaat). Jadi kalau ada bahasa roh dipakai dalam perhimpunan dan tidak diterjemahkan itu berarti orang tersebut sedang berbicara suatu rahasia kepada Allah. Melalui fasal tersebut juga suatu misteri apakah Rasul Paulus berbicara dalam bahasa roh atau tidak terungkap. Hal ini penting karena adanya pendapat bahwa Paulus tidak berbicara dalam bahasa roh tatkala dia dipenuhkan (Kisah Para Rasul 9:19). Ternyata Rasul Paulus berkata bahwa dalam berkata dengan bahasa roh, Paulus bahwa dia lebih daripada kamu semua. Itu berarti bahwa Paulus memanfaatkan bahasa roh dalam berkomunikasi dengan Tuhan ketika dia berdoa seorang diri, sebagai ibadah yang terus menerus kepada Tuhan (1 Korintus 14:18). Jadi, Paulus juga berbahasa roh dalam pengalaman kepenuhannya.

Ada pendapat bahwa bagaimana mungkin bahasa roh itu bisa mengirim berita atau mengandung komunikasi bahasa kepada Tuhan: alasannya, bahwa bunyi yang dikeluarkan tetap sama terus menerus. Mungkin hanya kombinasi dari tiga huruf terus menerus. Banyak kali dalam pengalaman memimpin seminar kami jumpai pertanyaan yang cenderung menolak tanda bahasa ini. Perhatikan, 1 Korintus 14:10 , “Ada banyak entah berapa banyak macam bahasa di dunia tidak satupun diantaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti”. Yang penting dalam bahasa bukanlah banyaknya huruf yang dikombinasi, tetapi “bunyi” itu. Begitu banyak bahasa di dunia yang tidak memakai seluruh huruf-huruf yang ada dalam abjad. Jadi, kunci satu bahasa bukannya banyak huruf yang tersusun menjadi kata, tetapi bunyi itu. Contoh: “Morse” ialah satu komunikasi elektronik yang dipakai dalam dunia pelayaran ataupun kemiliteran ataupun di kantor perhubungan untuk kepentingan masyarakat. Bahasa morse adalah melalui bunyi yang terdiri dari bunyi titik (pendek) dan titik panjang. Sepintas lalu seperti tidak mengandung apapun arti dalam bunyi tersebut. Namun, ternyata bunyi yang itu yaitu . . . .. . .. . . dstnya silih berganti bisa mengirimkan berita yang tidak terbatas. Bagaimana dengan bahasa roh yang juga mengandung bunyi dan miskin kombinasi huruf. Kalau morse oleh teknologi dapat mengirim berita yang tidak terbatas, sudah tentu Roh Kudus yang lebih dari teknologi dapat melakukan lebih dahsyat dari morse. Benarlah firman Allah bahwa mereka yang berkata-kata dengan bahasa roh sedang berkata-kata dengan Allah. Roh Kudus sedang mengucapkan satu misteri dengan Allah (1 Korintus 14:2).

Dan sekarang, menjawab pertanyaan apakah benar pendapat sebagian orang bahwa bahasa roh hanyalah tanda yang berlaku pada hari Pantekosta dan tidak terulang lagi (Kisah Para Rasul 2:4). Saya melihat itu tidak Alkitabiah. Alasannya, baca : Kisah Para Rasul 19:16, ” . . .dan ketika Paulus menumpangkan tangan turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat”.
Kejadian tersebut di atas terjadi 25 tahun setelah hari Pantekosta. Kalau pendapat mereka tentang berbahasa roh hanya terjadi pada hari Pantekosta maka itu suatu kekeliruan. Jelaslah, Kisah Para Rasul 19:16, tidak boleh terjadi. Bayangkan, setelah 25 tahun sejak hari Pantekosta dalam Kisah Para Rasul pasal 2, pengalaman berbahasa oleh Roh masih lagi terjadi. Dan itu berarti pengalaman dipenuhkan oleh Roh dengan tanda bahasa roh masih terjadi sampai hari ini.

Kita datang pada kesimpulan bahwa tanda fisik berbicara dalam bahasa roh adalah merupakan bukti tanda pertama bagi semua orang tanpa terkecuali harus dialami bagi setiap orang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus melalui pengakuan percaya dan juga bersedia untuk dibaptis ke dalam Yesus Kristus dalam baptisan air (Markus 16:16, Matius 28:19, Kisah Para Rasul 2:38).

Kedua, Tanda Bukti Moral.

Kalau tanda bukti fisik adalah berbicara dalam bahasa roh bahwa tanda itu seketika dapat dilihat dan disaksikan oleh orang sekeliling. Maka tanda moral adalah satu akibat kehadiran Roh Kudus dalam hati manusia. Roh Kudus mulai mempengaruhi sikap dan sikap moral orang percaya. Camkan selalu, Roh Kudus adalah satu pribadi dan dimana pribadi itu hadir maka otorisasiNya harus kelihatan. Alangkah tidak benar kalau oknum Roh Kudus ada dalam diri tetapi bukti kehadiran itu tidak nampak. Bukan pribadi Roh Kuduslah yang tidak benar, tetapi manusianya yaitu orang percaya yang tidak benar. Tidak mau memberi diri untuk taat kepada Roh Kudus. Roh Kudus tidak pernah meniadakan kebebasan moral manusia. Tetapi Dia ingin membimbing supaya memberi diri taat sepenuhnya kepada bimbingan Roh (Galatia 5:24-25).

Kita harus membedakan karunia-karunia Roh Kudus (Gifts) dengan buah-buah Roh Kudus (Fruits). Karunia-karunia (kharismata), adalah manifestasi Roh kepada siapa yang dikehendakiNya. Kharismata (karunia-karunia) adalah manifestasi sesuai kehendakNya, dan itu tidak paten berada atau tampak dalam pelayanan. Hanya setuju dengan kehendak Roh Kudus. Pemberian itu tidak selalu nyata, karena jelaslah merupakan satu manifestasi, (1 Korintus 12:7-11). Manifestasi tersebut berdasarkan pemberian yang bersifat khusus seperti yang dikehendakiNya (1 Korintus 12:11). Karunia-karunia itu dinyatakan bukan untuk pribadi orang yang dipenuhkan Roh Kudus, tetapi kepentingan pelayanan tubuh Kristus (baca: 1 Korintus 12:26-30).

Kita melihat contoh satu jenis pohon, entah pohon durian, pohon mangga, pohon manggis, dstnya. Bagaimanakah kita mampu mengidentifikasikan masing-masing jenis pohon. Sudah tentu dengan buah-buah yang dikeluarkan kita akan tahu tentang jenis pohon (Matius 7:19-20). Buah bukanlah sesuatu yang diusahakan tetapi konsekuensi logis dari jenis keberadaan. Sebagai contoh lagi, bila kita menyalakan api unggun maka akan kelihatan satu nyala api yang besar dan kita akan merasakan pengaruhnya yaitu merasa panas bila mendekati api itu. Panas bukanlah sesuatu yang dapat dipisahkan dari api itu tetapi akibat langsung. Begitu adanya api pada saat yang sama juga ada panas. Jadi panas tersebut bukan suatu pemberian dari api tetapi identik dari api itu sendiri. Panas adalah karakteristik dari Roh Kudus itu sendiri.

Galatia 5:22-23, “Tetapi buah Roh adalah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, tiada hukum yang menantang hal-hal itu”.

Kesembilan buah Roh tersebut harus menjadi pakaian yang tampak bagi setiap orang yang dipenuhkan oleh Roh Kudus. Roh Kudus adalah Pribadi Allah mempunyai sifat-sifat rohani yang ditampilkan sebagai buah-buah Roh Kudus. Sudah tentu buah-buah Roh Kudus tersebut tidak secara otomatis seketika harus secara absolut menjadi karakter orang percaya. Sebagaimana sebuah pohon tidak otomatis mengeluarkan buah, tetapi karakter buah itu telah ada bagi tiap-tiap jenis pohon. Demikian juga bahwa buah-buah Roh secara pasti harus tampil melalui moral orang percaya.

Tampilnya, buah-buah Roh Kudus melalui kita mentaatkan diri di bawah dominasi otoritas Roh Kudus dimana kehendakNya yaitu Firman Allah menguasai hidup orang percaya. Karena itu, rasul Paulus memberi rahasia supaya buah-buah Roh Kudus menjadi nyata, yaitu: “Barangsiapa telah menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Galatia 5:24).

Melalui penyangkalan diri, maka satu persatu karakteristik atau buah Roh Kudus menjadi kenyataan dalam moral orang percaya. Pertama-tama, ialah “kasih”, karena kasih menjadi sifat utama dari Allah. Kemudian buah yang lain, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan dstnya secara pasti menjadi karakter atau moral. Buah-buah Roh Kudus harus mendominasi kelakuan orang percaya sehari-hari.

Efesus 5:18: “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”.

Peringatan di atas bukan berarti bahwa mereka orang percaya di Efesus semuanya sebelumnya mempunyai kebiasaan selalu mabuk oleh anggur. Paulus sedang memberi keterangan tentang bagaimana pola hidup bila “penuh” dengan Roh Kudus. Kalau seseorang mabuk oleh minuman keras (anggur) secara pasti keadaan orang itu sedang dibawah kendali minuman keras dan cenderung melakukan hal yang tidak etis yaitu kehendak daging. Demikianlah gambaran bila kita penuh oleh Roh maka kita harus dibawah kendali otoritas kuasa Roh Kudus. Perhatikan hidup dibawah kendali bukanlah suatu himbauan, tetapi printah. Mabuk dipakai kata Yunani “asotia” yang berarti tidak dapat mengawasi dirinya sendiri. Dalam keadaan dipengaruhi oleh minuman keras. Sebaliknya dibawah keadaan penuh Roh Kudus bukan berarti kita kehilangan jati diri tetapi justru kita penuh pengendalian diri, artinya secara kesadaran penuh kita memberi diri takluk kepada kehendak Firman Allah dan melimpah buah-buah roh (Galatia 5:25).

Efesus 5:19: “Dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati”.

Orang percaya yang dipenuhkan Roh Kudus yang memiliki moral Kristus yaitu buah-buah Roh Kudus, harus mempunyai model hidup yang disaksikan orang banyak. Hadiwijono, dalam bukunya Baptisan dan Kepenuhan, menulis bahwa semua orang yang dipenuhkan Roh Kudus harus mampu menampilkan pola hidup yang mengutamakan “persekutuan” bersama-sama orang percaya, melimpah pujian dan nyanyian rohani serta ucapan syukur kepada Tuhan. Berkata-kata seorang kepada yang lain, adalah satu kehidupan ibadah persekutuan dengan semua orang percaya. Kasih sebagai buah Roh yang pertama hanya mampu diwujudkan di dalam persekutuan dengan orang percaya lainnya. Demikian pula kedelapan buah roh lainnya hanya dapat berwujud melalui kehidupan persekutuan sesama tubuh Kristus. Hendaklah kamu penuh dengan Roh, sebenarnya suatu perintah supaya hasil kepenuhan harus tampak.

Memang buah-buah Roh bagian misi setiap orang percaya, keberadaan tiap orang percaya harus menjadi garam di tengah dunia. Semua orang percaya dimanapun dia berada pasti sedang mengemban misi penyelamatan sebagai pertanggungjawaban iman, membawa sebanyak mungkin orang-orang kepada keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Matius 5:13).

Ketiga, Mengalami Dinamika Pertumbuhan Rohani terus menerus.

Tanda bukti yang ketiga, yaitu bukti terjadinya pertumbuhan rohani terus-menerus menuju kepada kedewasaan atau kepenuhan Kristus. Salah satu maksud mengapa Roh Kudus dicurahkan untuk mendiami orang percaya yaitu supaya bertumbuh terus dalam kebenaran. Tingkat pertumbuhan rohani ini juga harus menjadi satu bukti tanda dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Yohanes 16:13. “Tetapi apabila Ia datang yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran . . . . . . . “.
Firman Allah adalah Allah sendiri (Yohanes 1:1). Mempunyai dimensi rohani limpah dengan misteri rahasia Allah. Dunia tidak dapat mengerti hikmat Allah, intelek manusia sangat terbatas. Siapakah yang dapat mengerti apa yang ada dalam hati Allah selain Roh Kudus. Manusia sendiri sukar dan tidak dapat memahami. Tetapi apabila kita memiliki Roh Allah maka kita akan mengerti apa yang ada di hati Allah.

Efesus 1:3-4 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kita segala berkat rohani di dalam Sorga. Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat dihadapanNya”.
Sesungguhnya, di dalam Kristus Yesus ketika Dia memberi diriNya untuk mati di kayu salib Golgota, Dia tidak datang memberi diriNya saja, tetapi juga di dalam Dia oleh kematianNya, maka segala kekayaan kemuliaan Sorga telah diberikan kepada GerejaNya. Firman Allah berkata, “sudah memberkati kita dengan segala berkat rohani di dalam Sorga”. Bagaimana cara untuk mewujudkan segala kekayaan rohani sorgawi yang harus menjadi milik orang percaya. Kedewasaan rohani menjadi kunci segala keberkatan sorgawi dapat menjadi kenyataan dalam kehidupan mengiring Dia.

Efesus 4:12-13. “Dan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”
Roh Kudus aktif mendorong dan memberi kesanggupan rohani supaya Gereja Tuhan dapat bertumbuh kedalam semua kepenuhan Kristus. Perjanjian keberkatan rohani tergantung bagaimana kita bertumbuh didalam Dia.

Berbahasa Roh Tanda Kepenuhan Berbeda dengan Karunia Bahasa Roh dalam Kharismata – 1 Korintus Fasal 12.
Bahasa roh tanda kepenuhan Roh Kudus dibedakan dengan karunia berbahasa roh yaitu dari sembilan kharismata di dalam 1 Korintus 12:7-11. Bahasa roh tanda kepenuhan wajib dimiliki semua orang percaya sebagai tanda awal dipenuhkan oleh Roh Kudus. Sedangkan karunia bahasa roh tidak dimanifestasikan untuk semua orang.

1 Korintus 12:29-30, ” . . . . .Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat atau untuk menyembuhkan atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh”. Rasul Paulus menjelaskan tentang karunia-karunia 1 Korintus 12:7-11, adalah mereka semua bernubuat, dstnya. Berarti kharismata (karunia-karunia) tersebut tidak dimanifestasikan sama untuk semua orang. Sedangkan berbahasa roh tanda kepenuhan di dalam Kisah Para Rasul pasal 2,10,19 bahwa mereka semua berbicara dalam bahasa roh.

Berbahasa roh sebagai bukti pertama dipenuhkan oleh Roh Kudus, itu wajib untuk menjadi tanda bagi semua orang. Itu harus terjadi pada pengalaman pertama dipenuhkan oleh Roh Kudus. Pendeta W.W. Paterson dalam Pelajaran Roh Kudus, menulis bahwa berkata-kata dalam bahasa roh sebagai bukti pertama kita dipenuhkan oleh Roh Kudus, bukanlah karunia lidah yang dibicarakan dalam 1 Korintus 12 dan fasal 14. 1 Korintus 14:27-28, Paulus memberi peraturan untuk memakai karunia bahasa roh ini, biarlah dua orang sebanyak-banyaknya tiga orang, tetapi seorang lepas seorang dan biarlah seorang mengartikan maknanya . . . “Pada hari Pantekosta Kisah Para Rasul 2:4 murid sekaligus berbicara dengan pelbagai-bagai bahasa.” Karunia bahasa roh, mempunyai peraturan dan supaya diartikan maknanya. Jadi, karunia bahasa roh mengandung arti nubuat apabila diterjemahkan.

Pasal 8: TUJUAN DIPENUHKAN ROH KUDUS.

Hari Pantekosta dimulainya satu era yaitu zaman Roh Kudus Gereja Tuhan resmi lahir pada hari Pantekosta. Ada ajaran yang mengajarkan bahwa Gereja telah lahir sebelum hari Pantekosta bahkan telah lahir dari Perjanjian Lama. Kita harus jeli melihat dasar kebenaran Firman Allah. Sebab Gereja tidak boleh ada sebelum Kristus melakukan karyaNya di atas kayu salib. Apabila kita percaya dan benarkan bahwa Gereja secara fakta telah lahir sebelum kematian Yesus, itu berarti kita membenarkan kebenaran bahwa tanpa “Darah Kristus” Gereja bisa lahir. Keselamatan dapat juga diperoleh tanpa darah Yesus. Saya percaya bahwa biang keladi “penolakan persembahan Kain di atas mezbah, sebab Kain dengan beraninya membuat persembahan kepada Allah tanpa mengandung darah. Kain mempersembahkan hasil ladang sedangkan Habil mempersembahkan korban sembelihan (Kejadian 4:1-5). Sudah sejak awal Allah telah memberi percontohan tentang korban yaitu korban sembelihan, hal itu Allah sendiri telah lakukan untuk menutupi ketelanjangan manusia pertama (Kejadian 3:21).

Karena itu Gereja harus lahir pada hari Pantekosta sekaligus telah menggenapkan dua syarat ilahi, yaitu, darah Kristus sebagai korban tebusan dan pengampunan dosa dan Roh Kudus yang menghidupkan GerejaNya (1 Petrus 1:18-19, Kisah Para Rasul 2:4). Apakah maksud ilahi dengan Gereja Tuhan, yaitu kelompok orang-orang percaya yang telah dibasuh oleh darahNya dan dihidupkan oleh Roh Kudus 1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”.

Gereja terpanggil untuk memberikan perbuatan-perbuatan besar yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus, Gereja sebagai tubuh Kristus merupakan kepenuhan Dia dalam segala sesuatu Gereja harus menyampaikan kepada dunia tentang keselamatan didalam Yesus Kristus. Segala sesuatu yang telah diletakkan Yesus Kristus harus digenapkan oleh dan didalam GerejaNya sebagai tubuh Kristus.

Roh Kudus Menjadikan Gereja Misi.

Kisah Para Rasul 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun keatas kamu dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan diseluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Roh Kudus tidak datang untuk hanya kepentingan diri orang percaya. Tetapi Dia memberi kuasa supaya Gereja bergerak dan menyampaikan berita keselamatan sampai ke ujung bumi.

Sebelum murid-murid dipenuhkan, Yesus melarang mereka untuk pergi meninggalkan Yerusalem sampai mereka dipenuhi oleh kemampuan ilahi. Tanpa Roh Kudus memang tidak mungkin terjadinya misi dimuka bumi. Pra-syarat “dipenuhkan oleh Roh Kudus” adalah pra-syarat paling utama. Dalam bukunya, “Penginjilan Perorangan” Prof. Dr. W.S. Stanley Heat, mengatakan bahwa Roh Kuduslah yang empunya pekerjaan penginjilan. Bahwa Gereja hanyalah menjadi alat belaka. Memang kalau tinjau dari sudut bahwa Gereja adalah tubuh Kristus, maka kita mengerti bahwa kehidupan dan gerakan dinamika persekutuan Gereja dan Kepala hanyalah oleh Roh Kudus (Efesus 1:22-23).

Kita mengutip tulisan Prof. DR. J.I. Abmeno, bukunya “Roh Kudus dan PekerjaanNya”, menulis : “Subyek Apostolad yaitu Roh Kudus atau Roh Kristus, Ialah pelaku sebenarnya, Ialah yang menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yohanes 16:8), bukan kita. Dalam Yohanes 15:26-27, Yesus katakan, kalau Penghibur yang diutus telah datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, maka Roh itu akan bersaksi tentang Dia, dan murid-muridNya juga harus turut bersaksi, Yesus bermaksud disini yaitu bahwa sekalipun Roh Kudus adalah subyek apostolad, kita juga bertanggung-jawab penuh atas tugas yang dipercayakan kepada kita.

Sebelum Yesus Kristus naik ke Sorga, Tuhan Yesus memberi amanat Agung sebagai tugas utama yang harus dilaksanakan oleh Gereja Tuhan.
Matius 28:19 : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptilah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.
Kehadiran Roh Kudus mengemban tugas pokokNya relevansi dengan pekerjaan penebusan yang telah dikerjakan Yesus sebagai Juruselamat isi dunia. Roh Kudus sebagai Oknum Allah yang mempunyai kemampuan dan bertugas untuk menginsyafi dunia akan dosa itu sudah datang. Gereja menjadi bejana Roh Kudus untuk melaksanakan misi pokok Roh Kudus. Oleh karena itu bahwa penginjilan bukanlah sesuatu opsi apakah hendak dilakukan atau tidak. Penginjilan adalah misi Agung dari Roh Kudus, dimana untuk itulah Yesus akan meminta kepada Bapa supaya diutus kepada kita orang percaya.

Sayang begitu banyak Gereja yang tidak lagi menaruh penginjilan sebagai prioritas utama dalam program Gereja. Apabila Gereja kehilangan misi penginjilan maka Roh Kudus sangat diduka-citakan. Kehadiran Roh Kudus adalah untuk menggenapkan amanat agung sebab kemampuan untuk itu sudah datang.
Ada dua hal yang sangat penting yang menjadi misi utama Roh Kudus, yaitu :

Pertama, Roh Kudus mempersiapkan hati orang untuk mendengar berita Injil.

“Sebab kalau Ia datang Ia akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8). Kita hanya memberitakan sebagai alat memberitakan injil itu. Roh Kuduslah bertugas memberi kemampuan hati untuk mengambil keputusan bertobat. Roh Kudus yang memiliki presensia yang lebih meluas mampu masuk kedalam hari, menyelidiki batin manusia dan membimbing kepada pertobatan.

Jadi, Roh Kudus mempersiapkan dengan membuka selaput mata jasmani untuk mengerti perkara-perkara rohani. Kemampuan mengambil keputusan sebab Roh Kudus telah mempersiapkan hati yang mampu mengerti maksud pertobatan. Apabila kita bercakap-cakap dengan orang yang belum memahami perkara rohani maka pada saat yang sama Roh Kudus sedang menjalankan tugas “evangelistisNya”. Roh Kudus tidak pernah melakukan tugas evangelistisNya tanpa pemberitaan Firman Allah.
Roma 10:14 “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia, bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia, bagaimana mereka mau mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya” Roh Kudus mempersiapkan segala sesuatu, Gereja hanya menyampaikan berita keselamatan.

Kedua, Roh Kudus memberi kepastian selamat.

Kita maju kepada aspek kedua pada tugas Roh Kudus pada Gereja Apostolat. Yesus menjawab, kataNya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali ia tidak dapat melihat kerajaan Allah (Yohanes 3:3). Kelahiran baru adalah hasil pekerjaan Roh Kudus dan Firman Allah. Firman Allah oleh urapan Roh Kudus dapat menyentuh hati manusia, sehingga mengambil keputusan percaya kepada Yesus, bertobat dan lahir baru. Kelahiran baru, berarti kita berubah posisi, kita masuk kepada keluarga Allah, mengapa? Karena kita dilahirkan oleh Roh dan tidak lagi termasuk keluarga daging yang lahir oleh daging. Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerimaNya, diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”. Bayangkan selama kita tidak bertobat maka kita masih berada dalam penghukuman akibat dosa. Firman Allah berkata bahwa upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal didalam Yesus Kristus (Roma 6:23).

Kelahiran baru oleh Roh Kudus menjadikan orang percaya sebaai anak-anak Allah sehingga kita bukan lagi orang asing tetapi anggota-anggota keluarga Allah. Sebagai anggota keluarga Allah kita harus menikmati dengan iman. Sebagai anak-anak Allah kita berhak atas janji-janji Allah. Orang percaya menjadi perwaris bersama dengan Kristus Yesus.

Roma 8:16 “Roh itu bersaksi bersama-sama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus”. Sungguh bahagia Roh Kudus memberi jaminan keselamatan kepada kita. Karena olehNya, orang percaya diangkat menjadi keluarga Allah.

Roh Kudus Menghidupkan Gereja Sebagai Tubuh Kristus

Tinggallah didalam Aku dan Aku didalam kamu, sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah jikalau kamu tidak tinggal didalam Aku” (Yohanes 15:4).

Yesus Kristus menjelaskan keinginanNya supaya orang percaya tidak dapat berpisah dariNya dan tinggal tetap didalam Dia. Bagaimana perkara itu dapat terjadi? Bagaimanapun perkataan Yesus adalah suatu pernyataan dan harus diwujudkan. Pekerjaan Roh Kuduslah yang akan mewujudkan supaya orang percaya dapat tinggal didalam Yesus untuk selama-lamanya. Sebab itu, ketika Yesus berkata, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu; adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi Penghibur itu tidak akan datang kepadamu. Tetapi jakalu Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”. Yohanes 16:7).

Setelah Roh Kudus turun, orang percaya diikat dengan satu persekutuan yang indah dengan Yesus Kristus, melalui pekerjaan Roh Kudus. Persekutuan itu diwujudkan bahwa kita orang percaya adalah tubuhNya, dan Yesus Kristus adalah Kepala atas tubuh itu. Sebagaimana kepala dan tubuh adalah satu, demikianlah terwujud persekutuan Kristus dan Gereja untuk seterusnya.

Efesus 1:22-23 “Dan segala sesuatu telah diletakkan dibawah khaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat, sebagai kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu”.

“Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia”. Yesus Kristus yang adalah kepala tubuh berada di Sorga, semua orang percaya yang lahir baru sebagai tubuhNya diatas bumi adalah kepenuhan Dia. Tuhan Yesus telah menetapkan satu prinsip bagaimana akan menggenapkan kehendak Dia di zaman Roh Kudus, Gereja tempat kediaman Roh Kudus sebagai tubuhNya harus melaksanakan semua apa yang dikehendaki dan direncanakan Kepala.

Prinsip otorisasi ini dapat dimengerti dengan melihat hubungan antara kepala dan tubuh yang berlaku dalam diri manusia. Semua yang dilakukan tubuh adalah satu keputusan yang datang dari kepala. Sebab otak yang menjadi tempat berpikir (kedudukan intelek) dalam mempertimbangkan, merenungkan dan memutuskan segala sesuatu untuk dikerjakan terletak di kepala. Sehingga, semua komando tentang apa yang hendak dilakukan datang dari Kepala. Tubuh tempat terletaknya organ yaitu alat untuk melaksanakan kehendak kepala. Sehingga terjadi keharmonisan dalam tubuh manusia segala yang direncanakan dapat dilaksanakan. Begitu juga berlaku dalam tubuh Kristus. Yesus Kristus telah meletakkan dasar keselamatan melalui kematianNya di kayu salib Golgota, Gereja Tuhanlah yang harus melaksanakan seluruh “amanatNya” untuk memberitakan keselamatan kepada seluruh dunia. Gereja adalah kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Misi Kristus tidak menjadi sempurna tanpa keselamatan isi dunia Gereja berkewajiban sebagai tubuh untuk memberikan amanat mulia itu, memang Gereja adalah kepenuhan Dia.

Makna utama tubuh Kristus, supaya kita tahu bahwa kita adalah tubuhNya dan dapat melakukan tugas yang diamanatkan Kristus Kepala Gereja.

Pertama, Matius 25:14-30, perumpamaan tentang “talenta”. Talenta telah dibagikan, maka tanggung-jawab kita memperdagangkan talenta itu. 1 Korintus 12:14, bahwa tubuh itu bukan hanya satu anggota tapi banyak anggota. Selanjutnya, bahwa tiap anggota mempunyai tugas berbeda dengan anggota yang lain. Semua anggota harus melakukan pertanggung-jawaban fungsionalnya dalam tubuh Kristus.

Pekerjaan Roh Kudus yang organis ini membuat semua orang percaya harus bergerak dan hidup, bertanggung-jawab kepada fungsinya. Makna tubuh Kristus berarti semua orang percaya harus mengetahui tempatnya, tidak memberi tempat kepada orang yang dengan alasan tertentu tidak dapat melayani Dia. Semua mesti memperdagangkan talenta itu untuk Dia. Bila ada yang tidak mau melayani maka itu berarti bukan tidak sanggup tetapi tidak mau melakukannya, contoh jelas kepada hamba yang mendapat satu talenta dan menguburkan talenta itu. Dia menolak melaksanakan amanat yang empunya talenta.

Sebagai anggota tubuh tidak boleh terjadi kekacauan tugas diantara anggota-anggota itu. Khaki tentunya tidak boleh karena memang tidak mampu melakukan tugas mata atau telinga sudah pasti tidak dapat melaksanakan tugas tangan dan sebaliknya. Semua orang percaya sudah pasti mempunyai tempat dalam tubuh Kristus.

Bagaimanakah kita mengetahui tempat kita dalam tubuh Kristus. Karena itu semua orang percaya harus selalu terlibat dalam persekutuan ibadah. Melalui kegiatan didalam ibadah dan melalui latihan-latihan pelayanan yang dikerjakan setiap ibadah. Akhirnya, Roh Kudus akan menyatakan kepada kita apa yang harus dikerjakan dalam melayani Dia. Tidak mungkin kemampuan melayani dengan talenta dapat kita temukan tanpa terlibat dalam persekutuan orang percaya.

Kedua, 1 Korintus 12:25-26, dalam anggota tubuh Kristus tidak ada satu anggota lebih indah dari anggota lainnya. Karena, semuanya merupakan satu persekutuan dan saling melengkapkan satu dengan yang lain. Kesempurnaan terjadi dalam persekutuan yang terdiri dari berbagai talenta atau karunia yang saling membutuhkan.

Jika terjadi bahwa satu anggota merasa sakit, maka semua anggota turut merasakan penderitaan tersebut. Bila satu bersukacita, maka seluruh anggota ikut bersukacita. Perasaan kebersamaan harus dimiliki oleh semua anggota tubuh Kristus. Anggota jemaat tidak ada yang harus merasa terisolasi. Anggota jemaat harus saling mengasihi dan saling memperhatikan.

Ibrani 10:25 Sebagai anggota tubuh Kristus harus sangat memperhatikan pertemuan ibadah kita. Persekutuan ibadah adalah manifestasi bahwa kita adalah satu tubuh didalam Dia. Dalam ibadah kita saling menasehati dan saling membangun, sehingga fungsi kita dalam tubuh Kristus semakin bertumbuh sempurna menjelang hari Tuhan.

Roh Kudus Penolong Pertumbuhan Rohani.

Pada waktu kita percaya dan bertobat maka kita mengalami kelahiran baru oleh Roh Kudus dan pada saat kita dalam posisi sebagai anggota keluarga Allah keadaan kita seperti seorang bayi rohani. Seorang bayi yang baru lahir kedalam keluarga Allah dan hal yang paling penting yaitu untuk makan supaya segera bertumbuh menjadi seorang anak dan akhirnya menjadi dewasa dalam keluarga Allah (Ibrani 5:12-14, 6:1-2).

Semua orang percaya harus bertumbuh untuk segera terlibat secara bersama dalam tubuh Kristus untuk ikut melayani Dia. Kita belum dapat melayani bila belum diperlengkapkan dengan semua pengetahuan dan pengertian. Orang percaya harus bertumbuh menjadi dewasa, menjadi matang dalam semua permasalahan rohani. Hanya orang yang dewasa dalam rohanilah yang dapat mempertanggung-jawabkan tentang imannya kepada dunia. Kematangan rohani melibatkan pengetahuan Firman Allah dan kematangan moral mampu membedakan mana yang baik dan kekuatan moral rohani untuk bertahan dari segala macam tipuan iblis untuk menjatuhkan iman.

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya suci dan tak bercacat menjeleng hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (Filipi 1:9-11). Sebegitu kita menjadi manusia rohani maka kita seperti masuk kedalam jalan tol rohani dan harus bergerak menuju sasaran yang merupakan satu perjalanan rohani yang panjang dan setiap saat kita diperhadapkan dengan perkara-perkara rohani yang sangat indah (Efesus 3:16-19). Perjalanan rohani tersebut menuju sasaran Yesus Kristus, Gereja bergerak untuk sampai kepada satu ketika mengalami kesatuan iman kedewasaan penuh yang mengalami kepenuhan Kristus.

Orang percaya yang statis karena tidak mengijinkan bertumbuh dalam rohani mengalami situasi rohani yang sangat memprihatinkan. Tidak bertumbuh berarti tidak memberi tempat kepada Roh Kudus untuk berperan aktif dalam hidup rohani. Roh Kudus menjadi “Dinamis” atau kuasa yang memanifestasikan semua janji ilahi Allah didalam FirmanNya. Kehidupan statis tidak bertumbuh, mengakibatkan kemiskinan rohani dan hidup tanpa manifestasi Roh Kudus mengalami kelelahan, kehilangan gairah semua menjadi serba rutin dan tradisi. Tidak ada satupun kemuliaan menjadi orang percaya yang kita dapatkan. Sebab semua janji kemuliaanNya hanya diberikan kepada Gereja yang bertumbuh artinya memberi tempat kepada Roh Kudus untuk ber-otoritas membimbing kedalam semua rahasia Allah.

Kolose 3:5,9-10 “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi . . . . Karena kamu telah meninggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya”. Kita harus mempunyai keberanian tindakan meninggalkan semua yang duniawi dan hawa nafsu . . ., dan memberi diri kepada Roh Kudus yang memperbaharui dan memimpin rohani kita.

Tuhan Yesus Kristus ketika menjadi manusia, bukanlah manusia theofani (Allah berwujud manusia), tetapi manusia sejati. Dia menjadikan diriNya sebagai sasaran pertumbuhan Gereja. Gereja harus bertumbuh kedalam diri Yesus Kristus (Kolose 3:10, Yohanes 3:2-3).

Pertumbuhan rohani mengandung pengertian bertumbuh ke arah Yesus Kristus sebagai pusat kebenaran, itu berarti :

Pertama : Bertumbuh ke Dalam Kepenuhan Kristus
Efesus 4:11-13 : “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan palayanan bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

Perhatikan sasaran pertumbuhan ialah ke arah “Kepenuhan Kristus”. Kata “Kristus” berarti “yang diurapi”, yaitu manusia Yesus yang diurapi sepenuhnya oleh Roh Kudus. Demikian juga orang percaya oleh pengurapan Roh Kudus menuju ke sasaran kepenuhan Kristus. Apakah definisi dari kepenuhan Kristus akan dibahas pada bagian berikut.

Pertumbuhan ke dalam kepenuhan Kristus adalah dinamika Roh Kudus dimana kita mengalami “transformasi” ke arah Kristus yang adalah kebenaran Gereja. Dinamika transformasi, adalah dinamika rohani yang hanya dimungkinkan oleh bimbingan Roh Kudus. Gereja tanpa menyerah sepenuhnya kepada oknum Roh Kudus tidak memungkinkan bisa mengalami kemuliaan rohani. Memang pertumbuhan ke arah Kristus adalah salah satu tugas mulia Roh Kudus, Yesus berkata bahwa masih banyak yang akan diajarkanNya tapi mereka atau murid-murid belum dapat memahami tetapi apabila Roh Kudus itu telah datang (Roh Kebenaran), hanya Dialah yang mampu membimbing orang percaya kepada seluruh kebenaran (Yohanes 16:13).

Kemampuan atau kepandaian manusia tidak mungkin dapat mengenal Allah. Ada perbedaan hakiki antara pemikiran rohani dan pemikiran manusia biasa. Pemikiran rohani berbasis Roh Kudus yang memungkinkan melihat hakiki ke-Allahan yang Roh adanya. Sedangkan pemikiran manusia berbasis dunia fisik cenderung menguntungkan manusia daging belaka. Manusia jasmani tidak bisa berpikir masalah rohani, karena itu hanya dapat difahami melalui sarana rohani, yaitu Roh Kudus. Ada dua komponen yang ada dalam diri manusia yang harus takluk kepada Roh Kudus, supaya dapat berlayar dalam pelayaran rohani menikmati pewujudan Kristus dalam hidup (Yohanes 14:21,23). Kedua komponen manusia tersebut, sebagai berikut :

1. Akal, Intelek manusia, yang pertama harus dibaharui yaitu, akal atau intelek, bagian untuk berpikir.

Akal manusia setelah kejatuhan dalam dosa tidak lagi mampu berpikir rohani semua telah menjadi gelap. Manusia yang telah lahir baru sekalipun apabila tidak memperbaharui akal-budinya, juga tidak mampu bergerak melakukan kebenaran Allah. Roma 12:2 supaya kita memperbaharui akal-budi (Inggris = mind) untuk dapat membedakan mana kehendak Allah yang berkenan dan sempurna.

Akal atau pikiran tempat kedudukan daya pikir manusia untuk mengambil keputusan harus mengalami pembaharuan rohani. Bagaimana caranya, sangat sederhana untuk memberi akal-pikiran kita kepada Roh Kudus. Dalam Filipi 2:4, dikatakan bahwa hendaklah semua orang percaya memiliki pikiran dan perasaan seperti yang ada kepada Yesus Kristus. Bagaimana pola Yesus berpkir (ingat: Dia adalah manusia sama seperti kita) harus menjadi pola kita berpikir. Jawaban untuk memiliki pikiran yang ada kepada Yesus terdapat dalam Filipi 2:7-8, yaitu : “Melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia Ia telah merendahkan diriNya sendiri dan taat sampai mati di kayu salib”.

Pola Yesus memberi ketaatan sepenuhnya kepada kehendak Bapa dengan cara mengo-songkan otoritasnya sebagai Allah. Supaya misinya sebagai Anak Manusia yaitu Domba yang akan tersembelih menjadi kenyataan. Pola pikir dari Yesus adalah berpikir menurut kehendak Bapa dan disinilah peranan Roh Kudus memberi kekuatan sepenuhnya kepada Yesus. Bayangkan, bagaimana Yesus Kristus berjuang untuk mengalahkan diriNya sendiri menghadapi kayu salib. Sampai Alkitab menceritakan bahwa peluhNya menjadi seperti titik-titik darah.

Tuhan Yesus telah memberi teladan bagi orang percaya supaya dapat berjalan dan bertumbuh terus dalam bimbingan Roh Kudus. Kepada siapakah harus kita memberi ketaatan sepenuhnya? Jawabannya, yaitu kepada kehendak Allah melalui kepatuhan kepada FirmanNya. Setelah kita bertindak dalam Roh Kudus untuk taat sepenuhnya, maka Roh Kudus yang sama akan memimpin orang percaya terus-menerus kedalam kebenaran Allah (Efesus 4:13).

2. Hati manusia juga harus dipersiapkan supaya menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

Hubungan manusia dengan Allah adalah melalui hati manusia. Mengapa demikian? Hati manusia tempat kediaman Roh Kudus dan menjadikan hidup kita sebagai Bait Allah. Dalam Perjanjian Lama bahwa Allah bertahta di “Tempat Maha Kudus” dan dari sana memerintah Israel melalui para Imam Lewi. Pada zaman Roh Kudus ini, hati kita menjadi tempat kediaman Allah oleh Roh Kudus. Dan Allah memerintah orang percaya dalam hati kita tempat kediaman Roh Kudus dan juga tempat kita menyimpan semua Firman Allah yang kita dengar.

Pertumbuhan rohani adalah bukti pewujudan Yesus Kristus didalam kehidupan kekristenan. Firman Allah yang kita dengar tidak sekedar disimpan tetapi berubah menjadi karakter kita; Karakter Kristus secara perlahan-lahan mulai bertumbuh dari dalam hati kita dan tampak keluar. Itulah sebabnya, Gereja harus menjadi garam di tengah-tengah dunia. Oleh Roh Kudus dan FirmanNya membuat Kristus Yesus tinggal didalam hati kita. Karena itu, kita harus pelihara hati kita dengan baik karena dari sana terpancar mata air kehidupan, perhatikan ayat yang indah :

Efesus 3:16-17 “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya didalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam didalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar didalam kasih. Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus”.

Jelaslah pertumbuhan Kristus adalah pewujudan Yesus didalam hati yang terus-menerus bertambah sedikit demi sedikit melalui kebenaran FirmanNya, sampai sekali ketika kebenaran bahwa Gereja akan mengalami kepenuhan Kristus menjadi kenyataan.

Pertumbuhan rohani sama dengan kita mengambil bagian dalam kodratNya, Gereja akan mengambil sifat Allah sepenuhnya. Moral dan karakter Yesus Kristus ketika menjadi manusia berhasil sepenuhnya berwujud dalam diri orang percaya. Gereja menjadi sama seperti Yesus bukan berarti bahwa Gereja menjadi Allah. Tetapi maksudnya, bahwa ukuran Yesus sebagai manusia sempurna yang tidak bercacat-cela berhasil dinyatakan sebagai sasaran terakhir pertumbuhan Gereja.

Beberapa keuntungan rohani yang diperoleh dalam dinamika pertumbuhan rohani :

Pertama, kita menjadi mitra aktif Roh Kudus, Roh Kudus mewujudkan suasana kerajaan Allah dalam diri kita dan hidup dihiasi oleh buah-buah Roh Kudus, begitu pula karunia-karunia Roh Kudus menyertai pelayanan Gereja (Lukas 17:21, Galatia 5:22-23, 1 Korintus 12:7-11).

Kedua, memiliki pengetahuan rahasia Kristus, menjadikan hidup berdasar dan berakar dalam kasih Kristus dan tidak dapat diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pelajaran sesat, permainan palsu dan filsafat (Efesus 4:11-13, Kolose 2:2,3,7).

Ketiga, semua janji-janji ilahi hanya dinyatakan kepada orang percaya yang bertumbuh imannya. Pertumbuhan ke arah Kristus menyebabkan sifat dan karakterNya menjadi sifat kita. Kita bukan hanya dijauhkan dari segal dosa-dosa kita bahkan sifat ilahi telah menyebabkan kita tidak punya kemampuan untuk melakukan perkara-perkara dosa. Kodrat ilahi semakin mendominasi kehidupan walaupun kita masih merupakan manusia daging (1 Timotius 6:11, 2 Petrus 1:4).

Keempat, pertumbuhan yang terus-menerus kedalam Yesus Kristus maka Gereja akan menyaksikan dan mengalami bagaimana musuh yang terakhir dikalahkan, yaitu kuasa maut, yaitu Gereja akan mengalami pengubahan tubuh jasmani kedalam tubuh kemuliaan pada kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya (1 Korintus 15:53-54).

Kedua : Kepenuhan Kristus Berarti Pewujudan Firman Allah ke Dalam Kehidupan Orang Percaya.

Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Selanjutnya, Yohanes 1:14 “Firman itu sudah menjadi manusia dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”.

Tuhan Yesus adalah Firman yang telah ber”inkarnasi” menjadi manusia. James Barr, dalam *Alkitab Di Dunia Modern*, berkata bahwa para teolog menekankan bahwa yang dinyatakan Allah dalam proses penyataan, ialah Allah sendiri. Allah menyatakan Diri didalam firmanNya. Dan Firman Allah ialah Yesus sendiri. Firman Allah adalah pribadi dari Yesus sendiri, sebab Firman itu telah menjadi manusia.

Konsep bertumbuh menjadi dewasa dan mengalami “kepenuhan” Kristus berarti segenap pribadi Kristus harus terakomodasi dalam kehidupan orang percaya. Pola bagaimana “Firman” telah menjadi manusia itu juga menjadi pola bagaimana Firman bertempat tinggal dalam diri kita. Harus kita ingat tentang makna “kepenuhan Kristus”, itu bukan berarti kita menjadi seperti Yesus dalam arti tingkat ke-Allahan-Nya, hal ini berarti bahwa orang percaya harus mampu bertumbuh dan mencapai tingkat ukuran kemanusiaan Yesus sepenuhnya. Sebagaimana Yesus Kristus telah menjadi manusia dilahirkan oleh Roh Kudus dan mengalami pertumbuhan menjadi dewasa oleh Roh Kudus, demikian pola ini dapat berlaku pada diri orang percaya. Bahwa sejak lahir baru Roh berperan terus-menerus dalam diri orang percaya mengalami pertumbuhan rohani sampai hari pengubahan kedalam tubuh kemuliaan.

Kolose 3:10, bahwa kita sejak lahir baru sudah mengenakan pakaian seperti Yesus Kristus dan terus-menerus diperbaharui melalui mendengar Firman Allah dan oleh Roh Kudus bertumbuh terus ke arah Yesus Kristus. Sebagaimana Yesus Kristus adalah seratus persen Firman yang berinkarnasi menjadi manusia yang terdiri dari “daging dan darah”, demikian juga makna pertumbuhan ke arah Kristus, berarti bahwa Firman Allah harus menempati kehidupan kita dan sedikit demi sedikit (terus-menerus) oleh Firman itu dan Roh Kudus kita bertumbuh secara pasti untuk mendapatkan sepenuhnya ukuran atau kepenuhan Kristus dalam diri orang percaya. Kepenuhan Kristus adalah pewujudan Firman Allah dalam diri orang percaya.

Banyak orang tidak memahami arti pertumbuhan rohani. Pertumbuhan rohani tidak sekedar bertambahnya pengetahuan dan pengertian tentang Firman Allah melalui kegiatan proses belajar mengajar. Begitu banyak orang percaya bertambah dalam pengetahuan dan pengertian Firman, namun tidak mengalami transformasi ke arah Kristus. Firman Allah bukanlah konsumen akal bertujuan memperkaya pengetahuan dan pengertian yang mengakibatkan Gereja penuh dengan orang-orang pandai Alkitab, namun tidak memiliki karakter Kristus. Bukti pertumbuhan rohani ialah bukan kekayaan pengetahuan Alkitab, tetapi pewujudan sifat Kristus dalam Jemaat.

Masa kini begitu menjamurnya seminar-seminar Alkitab. Tapi sayang, kebanyakan masih bersifat argumentasi keabsahan Alkitab, kebanyakan seminar masih dalam tingkat apolegetika yang ingin membuktikan terlebih dahulu benarkah paragraf tertentu adalah kanon Firman Allah. Waktu kita hanya habis tersita bukan dengan tujuan memuliakan Tuhan dengan segala kemuliaanNya, tetapi habis berlalu dalam debat untuk diterimanya kebenaran Firman tertentu sebagai kanon Firman. Kita kembali mencurigai ketetapan Roh Kudus tentang Alkitab adalah Firman Allah, dimana Roh Kudus telah membela kanon Alkitab sepanjang zaman kita melupakannya.

Pertumbuhan rohani dimungkinkah terjadi apabila Gereja menerima bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Memang telah terjadi perubahan sikap terhadap Alkitab setelah abad 17 sampai abad ke 19 ketika di Eropa yang menjadi pusat dunia pada waktu itu mengalami satu masa revolusi ilmu pengetahuan kita kenal dengan istilah masa Enlightment atau pencerahan. Pada waktu itu terjadi suatu kemajuan pesat di bidang filsafat yang ditandai dengan terjadinya penemuan-penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan. Begitu banyak awal dari satu teknologi yang dilahirkan pada waktu itu. Demikian pula bersamaan dengan revolusi industri yang melanda Eropa pada waktu bersamaan dampaknya terasa dalam bidang teologia. Lahirlah gerakan Liberal, Rationalisme, Empirisme, Materialistik, Idealisme, kesemuanya menambah kritiks dan serangan kepada Alkitab sebagai Firman Allah.

Dari satu sisi, kemajuan ilmu pengetahuan yang melahirkan kemampuan berpikir dan melahirkan penemuan-penemuan baru, bertumbuhnya dengan pesat pemikiran-pemikiran filsafat kesemuanya diakui merupakan cikal bakal kemanjuan ilmu pengetahuan yang menghasilkan konsekuensi logis yaitu pemikiran yang kritis melanda Gereja. Sekarang lahirlah satu kecenderungan untuk melihat Alkitab juga harus berdasar kaidah atau normatif logika yang rasionalis. Sehingga iman Kristen yang sebelumnya percaya kanon Alkitab sebagai Firman Allah mulai mendapat tantangan. Segala sesuatu harus melalui pencernaan dan pembenaran akal manusia. Iman Kristen harus difilter melalui pembenaran akal budi. Lahirlah gerakan tersebut diatas yang menolak semua bentuk supranatural dalam iman Kristen. Bahkan sebagian besar Gereja Tuhan dan teolog pada masa itu terperangkap dan juga ikut menolak otorisasi Alkitab sebagai Firman Allah sepenuhnya.

Sebagaimana kami telah uraikan diatas bahwa bukanlah manusia yang membela Alkitab sebagai otoritas Firman Allah sepenuhnya melainkan Roh Kudus. Bagaimana berlaku pada awal pertama sehingga semua Bapa-bapa Gereja mampu sepakat menerima ke 66 buku dalam Alkitab sebagai Firman Allah oleh pekerjaan Roh Kudus, demikian juga Roh Kudus membela Alkitab yang adalah Firman Allah dari serangan Liberalisme, Rationalisme, Modernisme. Khususnya, dimulai pada awal abad ke 20. Roh Kudus sangat berperan melahirkan gerakan Pantekosta dan aliran Injil sepenuh lainnya, dan lahirnya teolog-teolog Injil sepenuh dengan sikap bahwa iman Kristen harus menerima dan percaya “otorisasi” Alkitab sebagai Firman Allah. Menutup bagian ini menjadi prasyarat utama untuk Gereja dapat bertumbuh dalam pertumbuhan rohani yang dinamis Gereja menemukan karakter Kristus, yaitu kepenuhan Kristus yaitu pewujudan Firman dalam kehidupan orang percaya Gereja harus beriman bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

Ketiga, Relasi Pekerjaan Roh Kudus dan Firman Allah

Penulisan Alkitab adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus menuntun para penulis untuk menulis Firman Allah sebagaiman kehendak Roh Kudus. Caranya, Roh Kudus menguasai serta mendorong orang-orang untuk menulis apa yang dikehendaki oleh Allah. Roh Kudus bukan berpikir apa yang hendak ditulis tetapi Firman Allah itu telah ada sejak semula bersama dengan Allah karena Dia adalah Allah sendiri. Roh Kudus mengilhami sehingga para penulis mampu mengidentifikasi kehendak Roh Kudus dalam pikiran mereka dan dengan utuhnya mampu menyatakan itu tanpa kesalahan sedikitpun. Bahkan dengan penuh keunikkan tulisan itu secara penuh dan verbal memakai kemampuan yang tersedia dalam kapasitas diri penulis. Karakteristik dan pengetahuan bahawa mewarnai setiap tulisan, tanpa mengurangi sedikitpun kepenuhan arti dari Firman itu sendiri (Ibrani 10:15-17), II Petrus 1:21, II Timotius 3:16).

Tentang pengilhaman ini Henry C. Thiessen, dalam Sistimatika Teologi, menulis beberapa hal :

 1. Pengilhaman tidak dapat dijelaskan sepenuhnya, mengandung arti bahwa si penulis biasanya diilhamkan seutuhnya apa yang hendak ditulis walaupun berita itu tidak dimengerti sedikitpun oleh si penulis. Artinya, otoritas Roh Kudus sebagai Allah dalam penulisan tetap dipertahankan. Penulis tidak perlu mengerti sepenuhnya maksud penulisan, tetapi harus taat sepenuhnya dibimbing oleh Roh Kudus.

2. Roh Kudus bukan sekedar mengilhami tetapi juga menjaga secara ketat penulisan itu sehingga tidak pernah menyimpang dari keberadaanNya yang utuh. Sudah saya uraikan sebelumnya bahwa Firman itu bukan baru berada pada waktu penulisan menurut kehendak Roh Kudus tetapi Firman itu telah ada bahkan bersama-sama dengan Roh Kudus (Yohanes 1:1).

3. Roh Kudus memakai konsep pikiran dan karakteristik sifat bahkan penguasaan bahasa dari penulis menjadi bahan baku untuk dipakai Roh Kudus dalam pengilhamanNya menulis Alkitab. Karena itu penulisan rasul Paulus menghasilkan tulisan-tulisan yang sangat sukar dimengerti oleh Rasul Petrus. Seutuhnya, karakteristik mereka terbawa dan dipakai sebagai sarana untuk Allah mengaktualkan diriNya dalam penyataan khusus yaitu Firman Allah.

4. Roh Kudus melindungi para penulis dari membuat kesalahan. Kata demi kata, arti demi arti bahkan makna semua tidak terlepas dari kontrol Roh Kudus.

5. Karena itu, otoritas Firman Allah sebagai Allah dan otoritas Alkitab sebagai Firman Allah tetap dalam otoritas Roh Kudus.
Disitulah rahasianya, Yesus berkata, “tetapi apabila Dia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran . . .” (Yohanes 16:13). Tidak seorangpun mampu untuk memahami Firman Allah terkecuali yang mengilhami itu diberi peranan. Firman Allah mengandung rahasia atau hikmat terdalam dari Trinitas, tidak seorangpun dengan kemampuan intelek atau bahasa dapat menganalisa dan menggali rahasia yang terselindung dalam firmanNya. Hanya roh yang ada pada orang itu yang mengerti apa yang tersembunyi dalam hati seseorang. Begitu pula hanya Roh Kuduslah yang dapat menuntun Gereja mengerti apa yang terselindung dalam hati Allah (1 Korintus 2:10-12).

Roh Kuduslah yang dapat mengungkapkan maksud Firman Allah. Firman Allah tanpa Roh Kudus menjadikan Firman Allah tidak lebih hanyalah ajaran etika manusia biasa sederajat dengan buku-buku sosial masyarakat lainnya. Roh Kudus membimbing Gereja Tuhan dan setiap orang percaya untuk dapat memahami rahasia yang terdalam dalam hati Allah (Efesus 3:16-19).

Roh Kudus Menjadikan Gereja Kharismatis.

Pada waktu dipenuhkan oleh Roh Kudus kita mesti meluaskan otoritas pribadi Roh Kudus didalam diri dan itu akan menghasilkan terbitnya buah-buah Roh Kudus dalam diri orang percaya. Buah-buah Roh Kudus adalah mewujudkan karakter atau sifat Yesus Kristus dalam diri orang percaya. Karunia-karunia Roh Kudus diberikan oleh Roh Kudus sebagai pertanggungjawaban orang percaya untuk melanjutkan misi Kristus. Karya Kristus yaitu penebusan atas dosa isi dunia harus diwartakan. Karena itu karunia-karunia Roh Kudus menjadi perlengkapan pelayanan bagi orang percaya yang terpanggil untuk melayani Dia.

Kepenuhan Roh Kudus dan dilanjutkan dengan manifestasi karunia-karunia bagi orang percaya untuk melaksanakan pelayanan. Roh Kuduslah yang empunya karunia-karunia bukan GerejaNya. Pewujudan kembali karunia-karunia didalam Gereja masa kini merupakan persiapan Gereja untuk menyongsong kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya. Yang mempunyai semua karunia-karunia oknum Roh Kudus berada dalam diri orang percaya. Diperlukan masa kini adalah satu, kesadaran tentang tanggung-jawab tubuh Kristus. Kemampuan untuk melaksanakan sudah berada didalam Gereja Tuhan. Karunia-karunia Roh Kudus (Kharismata) tidak akan pernah berwujud atau menjadi nyata selama Gereja berdiam diri, karena karunia-karunia itu adalah satu perlengkapan yang menyertai Gereja yang melayani.

Pernah dalam satu diskusi ada pertanyaan tentang mengapa karunia-karunia Roh Kudus yang dijanjikan Alkitab tidak beroperasi dalam Gereja masa kini. Saya meralat pertanyaan itu, bahwa bukan semua Gereja tetapi sebagian besar Gereja tidak mengalami manifestasi mujizat tersebut. Saya menjawab bahwa karunia-karunia itu adalah satu perlengkapan untuk tugas utama Gereja. Perlengkapan itu menjadi jelas dalam pelayanan apabila Gereja Tuhan melakukan amanat pelayanan, misalnya, Gereja harus keluar untuk memberitakan Injil. Karunia adalah manifestasi (penyataan) yang menyatakan diri apabila dibutuhkan untuk tugas tertentu. Apabila Gereja berdiam diri tentu kita tidak boleh mengharapkan memiliki perlengkapan itu. Karunia-karunia bukanlah milik Gereja tetapi tetap milik Roh Kudus.

Secara potensial bahwa semua karunia-karunia Roh Kudus diperuntukkan bagi orang percaya yang didiami Roh Kudus kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Maka secara praktis karunia-karunia itu ada tetapi hanya boleh berwujud bila kita melayani (Efesus 4:7). Kedaulatan untuk menyatakan diri tetap berada kepada Roh Kudus bukan kepada diri orang percaya. Sebab Ia memberi karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus seperti yang dikehendakiNya.

Roh Kudus menjadikan Gereja menjadi bersifat khismatis, yaitu Gereja adalah identik dengan mengemban tugas supaya dapat memenangkan isi dunia bagi kerajaanNya. “Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh” (Yesaya 62:1).

Pasal 9: POLA PEKERJAAN ROH KUDUS DALAM DIRI ORANG PERCAYA

Roh Kudus sebagai oknum Allah yang mempunyai kehendak, intelek dan perasaan. Dia tidak bergerak tanpa perencanaan tetapi bergerak menurut kehendakNya. Tata cara Roh Kudus bekerja dalam diri manusia harus dikenal. Orang percaya harus belajar karakter Roh Kudus melalui Firman Allah. Memahami dan tundukkan diri kepada kehendak Roh Kudus membuat kita berhasil menjadi orang percaya yang melimpah dengan pewujudan penyataan Allah dalam kehidupan rohani. (Filipi 1:9-10). “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan, sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (Galatia 5:17).

Terjadinya kemiskinan rohani dalam Gereja bukan hanya karena kehidupan yang tidak menjauh dari dosa tetapi juga karena tidak mau memberi diri untuk belajar mengerti apa kehendak Roh. Firman Allah berkata, “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan”. Roh Kudus berdiam diri dalam hati kita menjadi nahkoda untuk memimpin kita menurut kehendakNya. Roh Kuduslah yang bertanggung-jawab untuk memimpin orang percaya supaya dapat tiba kepada kepenuhan Kristus sebagaimana dijelaskan dalam Efesus 4:12-13.

Roh Kudus mempunyai faktor presensia yang menyebabkan Tri Tunggal Allah dapat berada dimana-mana (Onmipresence). Yesus Kristus bertempat tinggal di hati manusia dalam hadirat RohNya (Efesus 3:16-17). Roh Kudus bertempat tinggal dalam hati manusia bahwa itu belum menjamin bahwa orang itu akan mengalami pertumbuhan rohani yang mantap. Sebagai contoh, begitu banyak orang percaya yang telah dipenuhkan oleh Roh Kudus tetapi tetap hidup dalam dosa dan mengalami stagnasi rohani dan tidak mustahil dapat murtad kembali. Menerima kepenuhan Roh Kudus bukan akhir dari satu perjalanan tetapi justru baru merupakan awal dari satu perjalanan pengalaman yang begitu indah dengan Tuhan. Karena itu setiap orang percaya haruslah mempelajari dengan penuh kerendahan hati untuk dapat mengerti kehendak Roh Kudus yang memenuhi orang percaya.

Manusia Diciptakan Menurut Gambar Allah.

Dalam Kejadian 1:26, Tuhan Allah berfirman, “Baiklah kita jadikan manusia menurut gambar dan rupa kita . . .” Manusia adalah makhluk yang paling mulia sebab diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Salah satu hakekat ciptaan menurut gambar Allah yang terukir pada manusia ciptaanNya, yaitu sifat memiliki kehendak yang bebas (free moral agent to choose). Artinya manusia dalam melakukan dan menetapkan sesuatu mempunyai kebebasan untuk memutuskan mau melakukan atau tidak mau melakukan. Kebebasan mengambil keputusan atas suatu pilihan. Manusia tidak diciptakan sebagai robot, tetapi sebagai makhluk yang mempunyai tanggung-jawab. Allah tidak menciptakan manusia tanpa kehendak, tetapi dia memiliki kehendak yang bebas sebagai ciptaan menurut gambar dan rupa Allah.

Satu sifat Allah sebagai Allah yang berdaulat penuh dimana mempunyai kedaulatan penuh dalam mengambil keputusan. Sifat itulah yang tercermin pada manusia sebagai pelaku moral. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai kehendak bebas menurut pertimbangan manusia itu sendiri untuk mengambil keputusan. Karena itu, ketika Allah menciptakan manusia dengan kehendak yang bebas, maka Allah memberi satu ujian supaya manusia dapat menentukan hakekatnya sendiri. Manusia dijadikan menurut gambar Allah menjadi manusia sebagai ciptaan melimpah dengan kemuliaan Allah, tetapi belum diberi kesempatan untuk menentukan hakekat sendiri. Kehendak yang bebas yang melekat pada diri manusia harus diuji, supaya kemuliaan persekutuan dengan Allah menjadi hakekat manusia selama-lamanya.

Manusia sebagai makhluk yang mempunyai kehendak bebas menjadi bukti dengan adanya ujian. Bila manusia dijadikan seperti robot semua serba dikendalikan oleh Allah maka saya percaya ujian itu tidak perlu diberikan. Karena manusia adalah makhluk bermoral bebas maka ujian harus diadakan supaya manusia sendiri dapat memutuskan hakekat kehendak bebasnya terbukti memang memilih untuk bersekutu dengan Allah. Ternyata manusia telah gagal dan telah memilih melanggar perintah Allah yang lengkap dengan sangsinya manusia telah berdosa dan sudah memilih hakekat yaitu keberdosaan. Menjadi manusia daging dan bukan lagi manusia rohani (Roma 3:23).

Kegagalan di taman Eden terus berlanjut, begitu banyak juga orang-orang percaya masa kini yang telah ditebus oleh darah Yesus Kristus juga telah keliru memakai kehendak bebasnya. Begitu banyak yang telah selamat namun masih tetap hidup dalam dosa.

Memahami Susunan Tubuh, Jiwa dan Roh Dalam Diri Manusia.

Dalam 1 Tesalonika 5:23 “. . . dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus”. Manusia makhluk ciptaan Allah terdiri dari tiga unsur, yaitu tubuh, jiwa dan roh, ketiga unsur manusia tersebut haruslah mengalami penyempurnaan dengan tanpa cacat pada hari kedatangan Yesus kedua kali.

Ketiga unsur tersebut haruslah terlibat dalam pertumbuhan rohani dan bagaimana peranan masing-masing unsur dalam pertumbuhan akan diuraikan selanjutnya. Sebelumnya, kita harus lebih dahulu memahami fungsional masing-masing unsur tersebut dalam kehidupan manusia.

1. Tubuh -> Adalah fisik tempat kedudukan kekuatan jasmani untuk manusia melakukan kegiatan sehari-hari. Menjadi bagian yang tampak dan menjadi seperti rumah dimana di dalamnya bertempat tinggal jiwa dan roh manusia. Dengan tubuh maka manusia mengadakan kontak dengan dunia fisik. Disinilah tempat kedudukan “panca indra” yakni, pencium, peraba, perasa, penglihatan, pendengaran dari manusia.

2. Jiwa -> Unsur ini tidak dapat tampak dari luar. Disinilah tempat kedudukan pikiran (akal), kehendak dan perasaan dari manusia. Dari unsur ini manusia kontak dengan dunia mental (mental realm). Kita mengenal ilmu Jiwa (Psikologi), yaitu mempelajari kejiwaan manusia. Bagaimana manusia berpikir dan berperilaku yang merupakan sikap mental setiap hari.

3. Roh Manusia -> Di dalam 1 Tesalonika 5:23, Roh manusia ditempatkan pada prioritas pertama yaitu segenap roh dan jiwa dan tubuh . . . memang dari sudut pandang rohani maka seharusnyalah roh manusia mendapat tempat yang pertama. Roh manusia merupakan pintu gerbang komunikasi dengan Allah yang Roh adanya. Manusia adalah ciptaan yang khas sangat berbeda dengan ciptaan lainnya. Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah untuk ciptaan sukacitaNya, karena hanya manusialah yang punya kapasitas untuk dapat menyembah kepada Allah. Allah itu Roh adanya, itulah rahasinya, bahwa Allah ingin berkomunikasi dengan manusia di dalam roh manusia.

Roh Allah bersama-sama dengan roh kita bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah. Roh manusia tempat manusia membina rohaninya melalui persekutuan dengan Allah yang Roh adanya. Dengan Roh maka manusia berkomunikasi dengan Allah yang Roh. Manusia juga dapat berkomunikasi dengan roh-roh jahat yang memerintah di udara. Disitulah manusia membangun dunia rohaninya (Spiritual realm) Roma 8:16, Yohanes 4:23-24.

Cara Roh Kudus Bekerja

Pada saat kejatuhan manusia menjadi mati rohani. Roh Allah meninggalkan manusia yaitu perpisahan Roh Allah dengan roh manusia. Manusia menjadi mati rohani dan tidak mampu lagi bersekutu dengan Allah. Perhatikanlah, bahwa roh manusia punya kewajiban untuk menyembah. Kalaupun manusia mati rohani yaitu orang-orang yang belum bertobat dan lahir baru, namun dikarenakan mereka mempunyai roh maka tetap ada unsur penyembahan walaupun bukan kepada Allah. Orang-orang animisme, suku terpencil mereka menyembah batu besar, ataupun pohon besar yang dianggap didalamnya ada kuasa gaib sebagai bukti bahwa memang manusia adalah makhluk roh dan memerlukan sesuatu untuk disembah. Inilah tugas Gereja supaya mengembalikan manusia kepada Roh yang benar dan daapt menyembah Allah yang benar.

Ketika manusia percaya dan bertobat mengalami kelahiran baru, karena roh manusia (hati) tersentuh oleh Firman yang diurapi oleh Roh Allah, Roh Allah itulah yang memberi keinsyafan akan dosa. Roh manusia yang tadinya telah mati, sekarang dihidupkan kembali oleh Roh Kudus dan mulai menyembah Allah. Ketika dipenuhkan oleh Roh Kudus maka Roh Allah tinggal dalam hati (roh) manusia dan mulai berperan langsung dari dalam hati kita membimbing kita supaya melakukan kehendakNya yaitu Firman Allah (Roma 8:16, Galatia 4:6).

Ada ajaran yang tidak memisahkan jiwa dan roh keduanya disamakan arti menjadi nyawa hidup atau jiwa saja bahwa manusia hanya terdiri dari dua unsur tubuh dan jiwa atau tubuh dan nyawa hidup. Ajaran tersebut menolak bahwa manusia terdiri dari tiga unsur. Namun ajaran bahwa manusia hanya terdiri dari dua unsur sukar diterima karena bukti Alkitab bahwa jiwa dan roh dapat dipisahkan (Ibrani 4:12). Begitu pula ajaran manusia hanya tubuh dan jiwa tidak memberi tempat yang jelas kepada peranan oknum Roh Kudus dalam diri manusia.

Teori Dikhtoni (manusia hanya tubuh dan jiwa), banyak dianut oleh Gereja yang berfaham Liberalisme atau Rationalisme. Memang ajaran itu didasarkan oleh beberapa fakta Alkitab terutama dalam Perjanjian Lama. Tetapi jangan lupa bahwa Perjanjian Lama belum memperkenalkan secara jelas tentang oknum dan pekerjaan Roh Kudus. Hal ini telah dijelaskan pada bagian awal buku ini, terkait dengan “monoteisme” Israel.

Tetapi dalam Perjanjian Baru bahwa manusia adalah Tubuh dan Jiwa dan Roh disebutkan secara jelas, Matius 10:28, “dan jangan kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tak berkuasa membunuh jiwa . . .”, 1 Korintus 5:5, “. . . agar rohnya terselamatkan pada hari Tuhan”. Dengan ayat-ayat tersebut sebaai bukti bahwa manusia itu terdiri dari tiga unsur : tubuh, jiwa dan roh.

Jiwa dan roh manusia adalah bagian manusia yang kekal (baca : Matius 16:26, 1 Korintus 5:5) sebenarnya manusia sesungguhnya adalah manusia rohani. Karena rohani inilah yang kekal, sedangkan tubuh manusia bersifat sementara yang berakhir tatkala manusia mati. Firman Allah berkata bahwa umur manusia adalah tujuh puluh tahun dan dapat mencapai delapan puluh tahun (Mazmur 90). Karena itu, masalah jiwa dan roh yang menyangkut keselamatan manusia harus menjadi tempat prioritas utama dalam hidup.

Sebelum lahir baru manusia tidak akan mengerti perkara-perkara rohani karena pikiran dan hatinya tertutup kepada hal-hal rohani. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Allah dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1 Korintus 2:14).

Kekuatan pikiran, perasaan dan kehendak tidak sanggup mengenal Allah bila hati kita belum disentuh atau diterangi oleh Roh Kudus (Efesus 1:13). Melalui sentuhan Roh Kudus dan bimbinganNya yang menghidupkan roh yang telah mati, menyebabkan hati kita diberi dimensi rohani yang pada gilirannya dari hati kita mengalirlah Roh iluminasi yang memberi keterangan dan penjelasan lebih lanjut kepada pikiran. Pada saat itu akal kita diterangi oleh Roh Kudus dan mempunyai kemampuan rohani untuk mengerti dan mempertimbangkan kemudian mengambil keputusan. Semuanya dapat terjadi oleh bimbingan Roh Kudus. Selaput mata duniawi menjadi luruh dan sekarang pikiran dapat mengecapi hal-hal berdimensi rohani. Keselamatan, bukan keputusan fisik atau duniawi tetapi keputusan rohani (Roma 12:2).

Karena di dalam jiwa manusia terletak unsur akal atau pikiran dan kehendak maka kapasitas mengambil keputusan setiap saat ada terletak pada jiwa manusia. Bagaimana manusia berpikir begitulah dia mengambil keputusan, apabila pikiran kita menjadi pikiran rohani dikuasai oleh peranan Roh Kudus yang dari hati manusia itu menjadi sumber pertumbuhan rohani dari hari ke sehari. Pertumbuhan rohani selalu melalui keputusan-keputusan rohani setiap saat. Iblis atau setan juga ingin merebut jiwa kita supaya pikiran kita menjadi gelap dan tertutup kepada hal-hal rohani. Perhatikan bagan berikut bagaimana terjadi medan perebutan merebut untuk menguasai jiwa kita. Karena disitulah terjadi keputusan-keputusan etis manusia yang mengisi kehidupan ini.

Manusia:

Tubuh
1. Pendengaran
2. Penglihatan
3. Penciuman
4. Perabaan
5. Pencicipan

Jiwa
1. Pikiran
2. –
3. Kehendak
4. –
5. Perasaan

Roh
1. Intuisi
2. –
3. Suara Batiniah
4. –
5. Hati Nurani

Tubuh Jiwa Roh

Iblis penguasa roh diudara—-> ARENA <——–Allah Roh adanya
Allah yang Roh adanya dan oleh Roh Kudus bekerja dalam hati manusia, karena disitulah kediaman roh manusia. Roh Kudus yang bertahta di hati manusia membimbing manusia kepada kesempurnaan atau kedewasaan oleh Firman Allah. Roh Kudus menjadi dinamika mendorong orang percaya supaya melakukan kehendak Allah yaitu Firman Allah.

Itulah sebabnya orang harus rajin mendengar Firman Allah yang melahirkan iman dan membawa Gereja kepada pertumbuhan yang pasti ke dalam Yesus Kristus. Yang dibutuhkan oleh orang percaya harus mampu mempersembahkan tubuhnya menjadi korban yang hidup. Kehendak daging adalah musuh yang terbesar dari Roh Kudus. Mempersembahkan tubuh sebagai korban sama dengan menyangkal diri supaya bertumbuh terus dalam pertumbuhan rohani (baca: Roma 12:1, Galatia 5:17, Matius 16:26).

Karena itu dari dalam hati orang percaya Roh Kudus terus bekerja dan terus membaharui pikiran kita supaya tetap mampu mengambil keputusan-keputusan rohani untuk melakukan kehendakNya. Pikiran orang percaya, menjadi bagian yang sangat penting untuk secara terus menerus dapat dibaharui oleh Roh Kudus untuk selalu dikuasai oleh Roh Kudus (Roma 12:2, Filipi 2:5). Jiwa manusia menjadi arena perebutan di antara kekuatan Roh Kudus dan iblis melalui kehendak daging (perhatikan cara kerjanya dalam uraian berikut).

Melalui pancaindra manusia berhubungan atau kontak langsung dengan dunia fisik. Iblis melalui pancaindra ingin mempengaruhi jiwa kita supaya dapat dipengaruhi dan mengambil keputusan-keputusan setuju kehendak daging. Bagaimanapun juga daging dan darah selalu bertentangan dengan kehendak Roh karena memang keduanya selalu bertentangan. Pancaindra melalui kontak fisik dengan alam lingkungan dapat menstimulasi keinginan daging kita untuk melakukan apa yang diindrai dari lingkungan yaitu, perkara-perkara duniawi (baca: 1 Yohanes 2:15-17, Galatia 5:17, Efesus 6:12).

Rahasia Hidup Berkemenangan

Mengecapi kehidupan iman yang berkemenangan terus terang saja bahwa syarat yang utama harus sudah dialami yaitu telah mengalami bukan saja lahir baru tetapi telah dibaptis atau dipenuhkan oleh Roh Kudus. Bahkan sudah dipenuhkan oleh Roh Kudus belum menjadi bahwa orang percaya telah menjalani hidup rohani yang berkemenangan.

Kelengkapan kuasa Roh Kudus, tidak menghilangkan kehendak bebas seseorang. Disini justru orang percaya harus diperlengkapi pengetahuan tentang bagaimana mengendalikan kehendak bebas yang ada. Perhatikan nasehat Paulus.

Galatia 5:16-18 “Maksudku ialah, hiduplah oleh Roh maka kamu tidak akan menuruti kehendak daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan kehendak Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup dibawah hukum Taurat”.

Tersirat di dalam Firman Allah di atas dimana Paulus memberi peringatan bahwa “dipenuhkan oleh Roh Kudus” belum menjadi jaminan bahwa kita telah berhasil sepenuhnya hidup dibawah pimpinan Roh. Rupanya tetap ada peluang orang yang telah dipenuhkan tetapi masih hidup dibawah kehendak daging (taurat). Dipenuhkan oleh Roh menjadikan dalam diri orang percaya adanya dua kekuatan yang saling bermusuhan dan kedua kekuatan tersebut terlibat dalam peperangan rohani terus menerus.

Unsur kehendak bebas kelihatan jelas ada pada orang percaya kepada siapa orang percaya memberi kedaulatan untuk memimpin kehidupan ini. Artinya, kepada kekuatan siapakah kita memberi diri untuk takluk maka kepadanyalah kemenangan itu. Artinya, apabila kita menyerahkan diri kepada kehendak daging maka kehendak daginglah yang memerintah hidup kita. Sebaliknya apabila kita memberi diri dibawah notoritas kehendak Roh maka Dialah yang berotoritas dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus hanya berkewajiban mendorong, membimbing dan berkehendak supaya kita menyerah selalu kepada kehendakNya. Namun, keputusan untuk hidup di bawah otoritas Roh Kudus adalah hasil keputusan kita.

Perhatikanlah aya Firman Allah berikut :

Galatia 5:24-25 “Barangsiapa menjadi milik Yesus Kristus, Ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh”

Kita telah menerima Yesus Kristus telah dalam posisi berkemenangan karena telah menyalibkan semua keinginan daging. Berkemenangan dengan arti musuh telah ditaklukkan telah menjadi tawanan setiap hari. Konsekuensi hidup di dalam Tuhan Yesus bahwa kita harus mempunyai keberanian iman untuk mengambil langkah mematikan semua keinginan daging. Bukan Roh Kudus yang menyalibkan tetapi kita orang percaya yang bertindak menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

Selanjutnya, kami mengutip beberapa ayat yang memperlihatkan bahwa hidup berkemenangan di dalam Yesus Kristus adalah peperangan rohani setiap orang percaya yang harus bertindak untuk memenangkan peperangan rohani itu.

Kolose 3:5 “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”.

Kita harus mengambil otoritas untuk bertindak karena Roh Kuduslah yang memerintah untuk mematikan segala hal duniawi. Kita harus tunduk kepada kehendak Roh Kudus untuk matikan semua hal-hal duniawi. Memberi diri dan takluk kepada kehendak daging berarti kita telah menjadikan kehendak daging tersebut menjadi tuan dalam diri kita. Rasul Paulus menyamakan bahwa itu sama saja dengan penyembahan berhala. Bayangkan, kita meninggalkan kehendak Roh yang adalah Tuhan dan beralih kepada kehendak daging. Kehendak daging telah menjadi lawan dari kehendak Roh bahwa itu disamakan dengan penyembahan berhala. Menjadikan kehendak daging seperti Tuhan, berarti menciptakan berhala dalam diri orang percaya.

Yakub 4:7 “Karena itu, tunduklah kepada Allah dan lawanlah iblis, maka dia akan lari daripadamu”.

1 Petrus 5:8-9 “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si iblis berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”.

1 Yohanes 4:4 “Kamu berasal dari Allah anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada dalam kamu lebih besar dari roh yang ada dalam dunia”.
Markus 16:17-18″Tanda-tanda ini akan menyertai orang percaya, mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka, mereka akan meletakkan tangan atas orang sakit, dan orang sakit akan sembuh”.

Efesus 6:10-11″Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis”.

Begitu banyak lagi kebenaran Firman Allah di dalam Alkitab yang menjadi bukti Roh Kudus hanya memperlengkapi kita dengan senjata-senjata rohani. Orang percaya harus memenangkan peperangan dengan memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu, dan tetap berdiri (Efesus 6:13).

Jangan menjadi orang percaya yang bodoh, sebab bersama Kristus kita telah mengalahkan iblis. Kematian Yesus Kristus di kayu salib dan oleh darahNya iblis telah dimusnahkan. Orang percaya hanya memerlukan iman dan bertindak maka iblis akan lari meninggalkan kita. Kita harus menyadari bahwa Yesus Kristus di atas kayu salib telah memenangkan peperangan atas iblis yang berkuasa atas maut. Sebenarnya, orang percaya tidak lagi mempunyai peperangan untuk menentukan siapakah yang menang. Yesus Kristus telah memenangkan peperangan kita semua. Kita hanya mengecapi kemenangan, hidup dalam kemenangan atas iblis setiap hari (Ibrani 2:14).

Ibrani 2:14 “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya, Ia memusnahkan dia, yaitu iblis yang berkuasa atas maut”.

Kita tidak lagi memenangkan peperangan atas iblis tetapi Yesus sudah memenangkan peperangan. Pengertian Firman Allah ini harus menjadi iman kita bersama. Janganlah kita merasa bahwa kita sedang berperang dalam satu ujian berat untuk mencapai kemenangan, tetapi haruslah mengangkat iman bahwa kita sudah menang. Di dalam iman kita hanya bertindak dan memproklamirkan bahwa kita sudah menang di dalam dan oleh Yesus Kristus. Roh Kudus Meneguhkan Kemenangan di Dalam Yesus Kristus.

Keliru apabila kita membangun ajaran bahwa dengan kuasa Roh Kudus kita akan dapat mengalahkan setan. Sesungguhnya, pada saat Yesus berseru sudah selesai, dan darahNya tercurah ke bumi mengadakan grafirat atas dosa ini dunia penebusan itu tuntas. Darah inilah yang telah mendamaikan manusia dengan Allah, tengoklah tirai di Bait Allah Yerusalem tercabik dari atas ke bawah, momentum itu adalah “klimaks” pekerjaan penyelamatan isi dunia dan pada saat itu juga iblis telah dikalahkan.

Sebuah contoh, pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Pada saat itu secara Yuridis Indonesia telah merdeka dan telah mengalahkan penjajah. Sehingga seluruh bangsa mengecapi alam kemerdekaan sesudah tanggal tersebut dan seterusnya. Kita sudah resmi mengalahkan penjajah. Tetapi kenyataannya, bangsa Indonesia masih harus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya bahkan sampai sekarang dan seterusnya perjuangan mengisi kemerdekaan tersebut masih berlaku.

II Korintus 2:14 “Tetapi syukur bagi Allah, yang di dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia dimana-mana”.

Roh Kudus datang membuka rahasia kemenangan di dalam Yesus Kristus, Yesus Kristuslah yang telah memenangkan peperangan. Roh Kudus diutus supaya kita boleh hidup di dalam kemenangan dan merealisasi semua janji-janji ilahi. Roh Kudus mengingatkan dan meneguhkan kita, mengambil keputusan untuk berjalan di jalan kemenangan Yesus Kristus.

Pada bagian berikut kami memberi beberapa syarat untuk tetap bergerak dalam pertumbuhan rohani :

1. Orang percaya harus kaya dan melimpah dengan Firman Allah dan dengan segala macam pengertiannya.

Pengetahuan Firman Allah akan membuat kita mengetahui keputusan-keputusan rohani apakah yang harus kita lakukan. Tindakan iman selalu relevansi dengan pengetahuan Firman Allah. Ketika iblis berkata kepada Yesus untuk menjadikan batu menjadi roti, maka dengan jitu Yesus memukul balik dengan memberi Firman sebagai akar iman, bahwa bukan saja dari roti manusia bisa hidup tetapi oleh Firman Allah (Matius 4:4). Firman Allah adalah akar iman. Iman yang memenangkan peperangan adalah iman yang keluar bersumber dari porsi Firman Allah yang relevansi. Roh Kudus akan meneguhkan dan memberi kemenangan apabila kita beriman yang berakar kepada Firman Allah yang relevansi. Contoh lagi, bahwa pernah kami menghadapi satu serangan kuasa roh kegelapan dalam satu ibadah kebangunan rohani di lapangan terbuka. Saya mengambil Firman Allah dalam 1 Yohanes 4:4, sebagai akar iman untuk mengusir roh-roh kegelapan. Bahwa roh di dalam kita lebih besar dari roh di dalam dunia. Hasilnya seketika iblis melarikan diri meninggalkan tempat itu, dan ibadah berjalan terus penuh dengan kemuliaan Allah.
Saya ingin menitikberatkan uraian ini, jadi banyak kali kegagalan iman karena mengangkat iman yang bersifat iman umum. Iman umum dimaksud ialah sekedar mengangkat percaya bahwa Tuhan akan melepaskan kita dari ujian yang sedang dihadapi. Kita tidak mempunyai porsi Firman Allah tertentu yang sangat relevansi dengan masalah yang dihadapi. Renungkan, Tuhan Yesus saja telah melawan iblis dengan iman berdasar porsi Firman Allah yang televansi bahwa sampai tiga kali Tuhan Yesus lakukan itu. Hasilnya, iblis lari terbirit-birit. Gereja harus semakin rajin mendengar serta mencintai Firman Allah. Hanya yang kaya dengan Firman Allah yang mampu mengangkat iman yang khusu yang relevansi.

2. Harus penuh dengan Roh Kudus senantiasa.

Kekayaan Firman Allah tanpa Roh Kudus menjadi tidak bermanfaat. Karena Roh Kuduslah yang mengurapi Firman Allah menjadi pribadi Allah (Yohanes 1:1). Tanpa Roh Kudus semua isi Alkitab hanyalah tulisan manusia biasa. Roh Kuduslah yang menerangi pikiran kita, memotivasi perasaan kita untuk mengasihi Allah, kemudian Roh Kudus jugalah yang mendorong kepada kita untuk memiliki keberanian bertindak dan berani melakukan tindakan iman (Yohanes 14:17, Efesus 5:18).
Harus penuh Roh selalu, karena Roh Kudus sebagai satu pribadi dapat didukacitakan sehingga Dia tidak selalu menyatakan diri sepenuhnya. Melalui kesetiaan berdoa, kesetiaan mendengar Firman Allah melakukan kehendakNya kesemuanya adalah jalan memelihara kepenuhan Roh dalam diri kita.

3. Harus berani menyangkal diri yaitu, tidak berjalan di dalam kehendak daging.

Tuhan Yesus telah mengingatkan bahwa apabila hendak mengikut Dia harus hidup menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari. Dengan menyangkal diri berarti kehendakNya bertumbuh dalam diri orang percaya (Matius 16:26), Kolose 3:8-10).

4. Hal ini sangat penting untuk kita menyadari setiap saat bahwa Roh Allah yang di dalam diri kita adalah Allah sendiri (1 Yohanes 3:24).

Dia menjadi pusat komunikasi dengan Bapa di sorga. Kehendak Bapa dan Firman selalu dinyatakan melaui Roh itu. Dipenuhkan oleh Roh Kudus dan memberi Dia seluas-luasnya berdaulat dalam diri kita menyebabkan kita menjadi orang percaya memiliki visi-visi dan pengetahuan Firman yang dalam, sehingga kita mempunyai pengetahuan tentang Allah lebih dari pada malaikat (1 Petus 1:12).

Demikian pula, untuk apa Roh Kudus ada di hati kita yaitu supaya Dia memimpin kita untuk dapat menyembah Bapa dengan roh dan kebenaran. Roh Kudus juga bertugas untuk menghidupkan roh kita supaya secara aktif menjalankan kewajibannya yaitu menyembah Bapa. Roh manusia mempunyai fungsi utama yaitu menuntun roh kita untuk menyembah kepada Bapa. Mengembalikan makna manusia kepada maksud penciptaan. Dipenuhkan oleh Roh Kudus berarti hidup dalam penyembahan. Makna Roh di dalam diri orang percaya juga adalah persekutuan dengan Bapa terus-menerus.

Roma 8:26-27 “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan yang tak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu Ia sesuai dengan kehendak Allah berdoa untuk orang-orang kudus”.
Sebab itu, orang-orang yang telah dipenuhkan oleh Roh Kudus menjadi orang percaya yang hidupnya penuh dihiasi dengan doa.

5. Dipenuhkan oleh Roh Kudus berarti hidup penuh dengan sukacita dan ucapan syukur kepada Bapa di sorga.

Keberadaan Roh Kudus menjadikan hakekat kerajaan sorga berada disitu. Penuh Roh Kudus menjadikan hidup penuh nyanyian, penuh mazmur dan sorak dan sukacita. “Sebab kerajaan Allah bukanlah persoalan makan dan minum tetapi sukacita, damai sejahtera dan kebenaran oleh Roh Kudus” (Roma 14:17).

Pasal 10: KARUNIA – KARUNIA ROH KUDUS.

Topik tentang karunia-karunia Roh Kudus menjadi sangat menarik masa kini karena adanya sebagian orang percaya menjadikan pokok ini menjadi hal utama dalam ibadah mereka. Kita sering mendengar “Neo Pantekosta” yaitu istilah yang diberikan kepada kelompok yang mengutamakan karunia-karunia Roh Kudus dalam ibadah. Sering terjadi kekeliruan penekanan makna ibadah akibat terlalu mengutamakan wujud karunia-karunia terutama karunia nubuat dalam ibadah.

Memang benar, bahwa Gereja sangat membutuhkan realisasi karunia-karunia Roh Kudus untuk menjadi perlengkapan Gereja dalam tugas evangelistisnya. Tetapi penggunaan karunia-karunia Roh Kudus dengan baik diatur oleh Firman Allah sendiri. Pengoperasian dari karunia-karunia haruslah tunduk kepada otorisasi Firman Allah tentang karunia-karunia Roh Kudus. Karunia-karunia Roh Kudus adalah bagian dari Firman Allah, sehingga semua pola operasionalnya harus tunduk kepada pengaturan Firman Allah. Semuanya harus berjalan dengan tertib dan disiplin.

Karunia-karunia dalam bahasa Inggris “Gifts” dan bahasa Yunani “Kharisma” (tunggal) dan “Kharismata” (jamak), mempunyai arti “pemberian” yaitu pemberian Roh Kudus yang diberikan dengan cuma-cuma kepada Gereja sebagai perlengkapan Gereja untuk kepentingan bersama

(1 Korintus 12:7). Kepentingan untuk membangun tubuh Krisuts dan kepentingan untuk melaksanakan tugas “evangelistis” (1 Korintus 12:12, Kisah Para Rasul 1:8).
Sangat berbeda dengan “buah-buah Roh Kudus” dimana keberadaannya bersifat spontanitas sebagai karakter pribadiNya yang secara otomatis harus menyertai pribadi Roh Kudus. Karunia-karunia adalah satu pemberian dengan cuma-cuma untuk kepentingan bersama sebagai perlengkapan pelayanan, namun dimanifestasikan atau dinyatakan sesuai kehendakNya.

1 Korintus 12:11 “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya”.
Sangat keliru apabila ada yang menafsir bahwa karunia-karunia Roh Kudus menjadi milik orang percaya. Hal tersebut sering terdengar dalam kelompok “neo-Pantekosta”, sering bersaksi bahwa saya oleh kemurahan Tuhan memiliki dua karunia, dsb-nya. Karunia-karunia Roh Kudus bukanlah milik seseorang percaya, tetapi adalah paten milik Roh Kudus yang akan menyatakan (Ingg. Manifestion) kepada seseorang sesuai kehendakNya. Karena itu kita menyaksikan dapat terjadi seseorang pada beberapa waktu yang lalu dapat mengerjakan pekerjaan mujizat yang luar biasa, tetapi hari ini dia tidak dapat berbuat banyak dalam pelayanan. Apabila karunia-karunia tersebut memang diberikan menjadi milik orang percaya, maka hal itu tidak akan hilang untuk selama-lamanya.

Dewasa ini karunia-karunia Roh Kudus tidak saja beroperasi di dalam Gereja-Gereja gerakan Pantekosta (Pantecostal Movement), tetapi telah melanda kepada sebagian besar Gereja-Gereja di dunia. Semua Gereja yang membuka pintu untuk pekerjaan Roh Kudus menerima anugerah Allah ini. Kita sering mendengar gerakan “kharismatis”, yaitu orang percaya yang telah membuka pintu bagi pekerjaan Roh Kudus maka kharismatika Roh berlaku atas orang percaya tersebut. Namun semuanya menjadi tanda bahwa Allah akan segera bekerja oleh RohNya dengan dahsyat di akhir zaman untuk memenangkan dunia bagi kerajaanNya (Matius 28:19-20).

1 Korintus 12:8-11 adalah daftar kesembilan karunia-karunia Roh Kudus berhubungan untuk perlengkapan pelayanan. Roma 12:4-6 juga memakai kata “kharismata” atau karunia-karunia. Hanya disini dicampur-adukkan antara karunia perlengkapan dan karunia-karunia panggilan pelayanan (Pribadinya). Karunia-karunia panggilan peayanan tidak dibatasi, tetapi karunia perlengkapan pelayanan dibatasi hanya ada sembilan karunia (1 Korintus 12:8-11).

1 Korintus 12:8-11 “Sebab kepada yang seorang Roh Kudus memberi karunia untuk berkata-kata dengan hikmat dan kepada yang lain Roh yang sama memberi karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat dan kepada yang lain Ia memberikan untuk membedakan bermacam-macam roh, kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsir bahasa roh itu. Tetapi semua dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus seperti yang dikehendakiNya”.

Apabila kita memperhatikan maka kesembilan karunia-karunia tersebut terdiri dari tiga kelompok karunia yang sejenis. Yaitu kelompok karunia-karunia “Penyataan”, kelompok karunia-karunia “kuasa” dan kelompok karunia-karunia “Ilham”. Perhatikan bagan pembagian karunia-karunia kepada kelompok masing-masing di bawah ini :

A. Karunia-Karunia

Karunia Pernyataan
1. Berkata-kata dengan hikmat.
2. Berkata-kata dengan pengetahuan.
3. Membedakan bermacam-macam roh.

Karunia Kuasa
1. Iman.
2. Mujizat.
3. Menyembuhkan

Karunia Ilham
1. Bernubuat.
2. Berkata-kata bahasa roh.
3. Menafsir bahasa roh.

Berkata-kata dengan Hikmat .

Karunia Iman Karunia bernubuat Berkata-kata dengan Pengetahuan. Karunia Mujizat Karunia berkata-kata Bahasa Roh. Membedakan bermacam-macam roh Karunia Menyembuhkan Menafsir Bahasa Roh.

Dalam 1 Korintus 12:28, “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat, pertama sebagai Rasul, kedua sebagai Nabi, dan ketiga sebagai Pengajar, selanjutnya, mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh”. Pada ayat itu tidak didaftarkan secara lengkap kelima jabatan pelayanan tubuh Kristus, seperti dalam Efesus 4:11.

Dalam hubungan di atas yang penting kita ketahui bahwa karunia-karunia itu bukan hanya karunia-karunia perlengkapan untuk melayani, tetapi karunia untuk melayani juga. Misalnya : untuk melayani, untuk memimpin, untuk mengajar dst-nya.

Kharismata atau karunia perlengkapan tersebut tidak saja terbatas untuk kelima jabatan pelayanan dalam Efesus 4:11, tetapi diperuntukkan melengkapi bagi semua orang percaya. Perhatikan, adakah mereka semua rasul, atau nabi atau pengajar ? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat ?” (1 Korintus 12:28-30). Jelaslah bahwa kesembilan karunia-karunia Roh dikaruniakan kepada tubuh Kristus, kelima jabatan pelayanan dan kepada semua orang percaya untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). Karunia-karunia Roh tidak diberikan untuk menjadi milik dan dikuasai sepenuhnya. Karunia-karunia Roh adalah penyataan Roh (Ingg. Manifestation) atau “showing forth”, Yunani “phanerosis”, semuanya dapat berarti penampakkan luar atau penyataan (1 Korintus 12:7).

Pemahaman tentang karunia-karunia perlu dijelaskan sebagaimana telah diuraikan sedikit di atas. Banyak pemahaman dewasa ini terutama dikalangan kharismatik bahwa karunia-karunia itu diberikan untuk dimiliki sepenuhnya. Apabila karunia-karunia Roh itu adalah milik dan dikuasai sepenuhnya oleh orang percaya, kami berpendapat bahwa sudah tentu tidak akan ada lagi orang yang menderita sakit di tengah jemaat. Dan rumah-rumah sakit akan menjadi kosong karena pelayanan orang percaya. Tetapi bukanlah melalui pelayanan telah menunjukkan bahwa apabila kita berdoa untuk orang sakit, ternyata hasilnya ada yang sembuh dan sebagian tidak mengalami kesembuhan.

Karunia-karunia ini bukan milik kita, tetapi milik Roh Kudus. Roh Kudus akan menyatakan karuniaNya apabila Dia kehendaki. Semua karunia-karunia itu adalah ajaib bersifat “adikodrati” sama sekali tidak ada unsur alami. Baiklah kita mempelajari karunia-karunia itu satu persatu.

A. Kelompok Karunia-Karunia Penyataan

Kelompok ini terdiri dari, berkata-kata dengan pengetahuan (Marifat), berkata-kata dengan hikmat, membedakan bermacam-macam roh. Sangat diperlukan dalam pelayanan kepemimpinan rohani, pengembalaan dan konseling Kristen.Dalam pelayanan pengembalaan dan konseling Kristen sangat dibutuhkan karunia-karunia tersebut karena hikmat dan pengetahuan manusia biasa sangat terbatas untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang termasuk bagian dari strategi iblis untuk menghancurkan iman Kristen.

1. Karunia berkata-kata dengan hikmat

Berkata-kata dengan hikmat ialah pernyataan adikodrati oleh Roh Kudus memberitahu tentang maksud ilahi. Manifestasi pikiran Allah dan kehendak Allah dalam pikiran kita. Dia datang begitu mendadak dan mengiluminasi segala sesuatu yang terselubung. Melalui pikiran Allah diberitahukan sesuatu sekaligus jawabannya.

Hikmat yang datang bukanlah menjadikan pikiran kita menjadi cerdas dan dapat menyelesaikan dengan pengetahuan yang meluas. Tetapi itu adalah pikiran Allah. Pikiran Roh Kudus dinyatakan melalui akal kita sehingga dapat memahami segala sesuatu sekaligus memberi jalan keluar yang tepat. Contoh : ketika Sulaiman menyelesaikan masalah dua orang ibu yang memperebutkan seorang anak. Sulaiman dengan hikmat Allah mampu menyelesaikan dengan baik. Ketika Yesus menyelesaikan masalah seorang wanita yang akan dilontar dengan batu sampai mati (1 Raja-Raja 3:25, Yohanes 8:7).

Karunia berkata-kata dengan “hikmat”, sangat dibutuhkan masa kini terutama dalam percakapan pastoral. Menolong menyelesaikan masalah-masalah untuk terbebas dari tipu daya yang menjadi strategi iblis atas orang percaya.

2. Karunia berkata-kata dengan pengetahuan

Karunia berkata-kata dengan pengetahuan ialah penyataan adikodrati sehingga fakta-fakta pikiran Allah dinyatakan dalam pikiran kita. Sehingga kita dapat mengetahui segala sesuatu yang terselubung dan menjadi fakta yang jelas karena pada saat tertentu pikiran Allah untuk fakta yang dihadapi ada pada pikiran kita.

Harus kita mengerti bahwa hal ini bukanlah pengetahuan pikiran kita diperluas karena karunia ini bukan pengembangan kemampuan berpikir. Tetapi pikiran Alah dinyatakan pada kita, sama halnya dengan karunia berkata dengan hikmat. Penyataan pikiran Allah bukanlah dalam arti yang luas (Maha tahu, Omniscience), tetapi khususnya situasi tertentu dan fakta tertentu juga.

Contoh : Rasul Petrus mengetahui tentang apa yang ada di hati Ananias dan Safira. Disini bukan hikmat tetapi satu fakta tertentu bahwa mereka berdusta pada Roh Kudus. Pikiran Allah untuk fakta tertentu dimanifestasikan. Tidak ada yang dapat menyembunyikan diri bila karunia marifat ini dinyatakan. Begitu juga ketika nabi Elisa mampu mengetahui dimana letaknya perkemahan tentara Aram (Kisah Para Rasul 5:3, II Raja-Raja 6:9).
Karunia berkata-kata dengan pengetahuan (Marifat) sangat dibutuhkan dalam pelayanan Pastoral untuk dapat mengerti apa yang terselubung di dalam hati manusia sehingga dapat memberi teguran, nasehat dan membimbing kepada pertobatan dan kebenaran Allah.

3. Karunia membedakan bermacam-macam roh

Karunia membedakan bermacam-macam roh ada hubungannya dengan dunia roh yang dikuasai oleh iblis. Dalam kegiatan pelayanan dimana karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan maka karunia ini dapat membedakan tentang jenis roh yang sedang bekerja di dalam orang yang terlibat dalam karunia-karunia tersebut. Iblis juga roh adanya dan mampu mengadakan mujizat-mujizat palsu serta meniru karunia-karunia Roh Kudus.

Kita menyadari bahwa ada tiga macam roh, yaitu : Roh Allah yang ilahi, roh iblis dan roh manusia. Roh Allah dan roh iblis keduanya bersifat adikodrati dan sudah tentu pikiran manusia tidak akan mampu untuk membedakan. Hanya dua cara untuk dapat mengenal pekerjaan roh kegelapan atau roh iblis. Sebab, kadang-kadang juga iblis datang dengan berpakaian kebenaran (palsu), karena itu untuk menidentifikasi tentang kegiatan roh-roh kegelapan hanya dengan dua cara, yaitu pertama, kita harus mengusahakan adanya karunia membedakan segala macam roh dinyatakan kepada seseorang. Kedua, pengetahuan Firman Allah yang luas sebab dengan Firman Allah segala sesuatu dapat diidentifikasikan.

Karunia membedakan segala macam roh, sangat dibutuhkan dalam pelayanan. Kita dapat melihat roh-roh yang mengikat seseorang sehingga tetap dalam ikatan. Begitu juga mampu melihat roh yang menyamar seperti malaikat terang sehingga ajaran sesat dan palsu dapat diungkapkan. Dengan begitu kita dapat bertindak dalam satu doa pengusiran setan untuk membebaskan seseorang dari belenggu ikatan.

B. Kelompok Karunia-Karunia Kuasa.

Kelompok kedua, Karunia iman, Karunia kesembuhan, Karunia mujizat, kelompok karunia-karunia ini sangat diperlukan untuk mengiringi tugas-tugas penginjilan dan pelayanan di luar Gereja lainnya. Karunia-karunia ini sebagai alat untuk membuktikan kepada orang yang belum percaya bahwa Tuhan kita adalah hidup dan berkuasa. Begitu banyak kesaksian tentang datangnya orang-orang bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat karena menyaksikan bukti karunia adikodrati tersebut.

4. Karunia Iman

Karunia iman harus dibedakan dari iman yang menyelamatkan (Kisah Para Rasul 16:31). Kalau iman yang menyelamatkan kita peroleh pada saat bertobat (lahir baru), maka karunia iman adalah pemberian Roh Kudus, tatkala kita sudah dipenuhkan oleh Roh Kudus. Karunia iman adalah pemberian Roh Kudus kepada orang percaya supaya dapat mengadakan perkara-perkara mujizat. Perbedaan karunia mujizat dan karunia iman ialah bahwa karunia mujizat mampu melakukan perkara-perkara mujizat oleh Roh Kudus. Pekerjaan mengerjakan mujizat bersifat aktif tidak pasif. Kita melakukan mujizat oleh Roh Kudus dengan karuniaNya. Karunia iman pekerjaan mujizat bersifat pasif, sebab oleh iman kita menerima mujizat dari Roh Kudus.

Iman yang menyelamatkan karena mendengar Firman Allah harus ada terus menerus dalam kehidupan kita, karena itu, kita dikatakan orang beriman. Sedangkan karunia iman adalah penyataan Roh Kudus yang akan menyatakan diri bila kita membutuhkannya dalam menghadapi satu pekerjaan khusus dan memerlukan mujizat Tuhan. Contoh : ketika Tuhan Yesus meredakan angin dan gelombang yang menerpa perahu murid-murid sehingga hampir tenggelam, Yesus berkata, “Diam tenanglah”. Maka danau itu seketika menjadi teduh sekali. Mujizat yang terjadi ketika itu karena karunia iman oleh Roh Kudus.

Harus kita ketahui bahwa Tuhan Yesus selama di muka bumi melakukan semua mujizat dengan karunia iman. Tidak satupun mujizat yang Dia lakukan dalam status sebagai Allah. Dia pernah berkata kepada murid-muridNya tentang mujizat yang Yesus kerjakan. Bahwa kamu akan melakukan juga seperti yang Aku lakukan bahkan perkara-perkara yang lebih besar lagi (Yohanes 14:12). Apabila semua mujizat yang dilakukan Yesus terjadi dalam posisiNya sebagai Allah sudah tentu Yesus tidak akan mengatakan perkataan tersebut. Memang Yesus tahu bahwa oleh karunia iman maka Gereja akan melakukan begitu banyak perkara ajaib bahkan lebih ajaib dari yang dilakukan Tuhan Yesus.

Mujizat dikerjakan oleh Karunia Iman yaitu perkara ajaib yang kita terima dari Allah melalui Roh Kudus. Jadi karunia iman yaitu kemampuan adikodrati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Sehingga apa yang dijanjikan Allah di dalam firmanNya bisa menjadi kenyataan. Allah melakukan perkara adikodrati dikarenakan karunia iman yang oleh Roh Kudus dinyatakan kepada orang percaya.

5. Karunia untuk Menyembuhkan.

Karunia menyembuhkan dalam bahasa aslinya ditulis dalam bentuk jamak, yaitu, karunia-karunia untuk menyembuhkan. Sehingga banyak penafsir yang menafsir bahwa untuk menyembuhkan segala macam penyakit dalam tubuh manusia maka setiap orang memiliki khusus manifestasi karunia kesembuhan untuk penyakit tertentu. Misalnya, Pdt. A diberi karunia penyakit dalam, sedang Pdt. B diberi karunia untuk penyakit luar, dst-nya. Karena dalam 1 Korintus 12:9,28,30 semua ditulis dalam bentuk jamak.

Kita tidak perlu persoalkan penafsiran yang berbeda tersebut, tetapi yang jelas bahwa karunia menyembuhkan adalah manifestasi Roh Kudus untuk memberi kesembuhan kepada manusia, memberi kesehatan dan mengusir penyebab penyakit yang melemahkan tubuh manusia. Sudahlah tentu kesembuhan terjadi tidak saja semata-mata untuk kesembuhan fisik tetapi maksud utamanya ialah untuk membawa manusia memuliakan Allah supaya percaya dan hidup di dalamnya.

Karunia ini sangat berfaedah mengikuti pelayanan penginjilan di dalam meneguhkan orang-orang untuk dapat percaya dan bertobat kepada Yesus sehingga menerima keselamatan (Kisah Para Rasul 4:29,30,33 pasal 5:12 dan pasal 8:6-7, Markus 16:15,18) Di dalam keempat Injil begitu banyak kesembuhan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus. Ingat, bahwa kesembuhan ini adalah proses adikodrati dan bukan alami. Semua penyembuhan yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus adalah karunia kesembuhan oleh Roh Kudus.

6. Karunia Mengadakan Mujizat

Karunia mujizat adalah perbuatan Roh Kudus yang adikodrati dan tidak tunduk kepada rumus hukum alam. Semua yang ada di alam ini tunduk kepada rumus yang alami dan dapat diukur serta diterima oleh akal budi manusia. Tetapi karunia mujizat yaitu peristiwa mujizat yang terjadi karena tindakan aktif dari kedaulatan Allah yaitu Roh Allah.

Bukanlah menjadi satu perkara yang besar bila oleh kuasa Allah maka terjadi mujizat. Salah satu karakter kuasa Roh Kudus yang tetap melekat kepadaNya yaitu, bahwa Roh Kudus adalah pencipta itu sendiri. Kemampuan melakukan atau mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada tetap ada kepada Roh Kudus. Bukankah semua universal atau alam raya serta bumi dan segala isinya telah diciptakan Allah dari tidak ada menjadi ada. Karena itu, karunia mujizat merupakan refleksi dari kemampuan mengadakan dari Allah yang “barra”. Orang mati dapat hidup, orang buta dapat melihat, memberi makan 5000 orang cukup dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan.

Karunia mujizat adalah kemampuan kuasa Allah untuk melakukan perkara-perkara yang bersifat mujizat yang diluar kemampuan jangkauan pengertian akal-budi manusia biasa. Semua ini dapat terjadi dalam pelayanan Gereja yang diurapi oleh Roh Kudus. Maksudnya, supaya menyatakan kebesaran Allah, dan membuktikan dengan perbuatan-perbuatan besar, memperlihatkan kebesaran iman melebihi kemampuan ilmu pengetahuan dan meneguhkan Firman Allah dengan semua janjinya. Ribuan orang telah bertobat karena melihat mujizat Allah dinyatakan.

C. Kelompok Karunia-Karunia Ilham

Terdiri dari “Karunia nubuat”, “Karunia berkata-kata dengan bahasa roh”, “Karunia membedakan bermacam-macam roh”.
Semuanya merupakan karunia ilham untuk diucapkan secara terbuka. Roh Kudus menghilhamkan sesuatu untuk diucapkan. Semuanya bersifat adikodrati yaitu seratus persen datang dari Roh Kudus.

7. Karunia Nubuat.

Karunia nubuat, artinya orang mendapat ilham dari Allah untuk diucapkan dan itu bersifat adikodrati. Sesorang mendapat dorongan dari Roh Kudus dan berbicara atas nama Allah. Brian Bailey, dalam bukunya “Roh Kudus Sang Penghibur”, menulis bahwa nubuat ialah orang berbicara atas nama Allah, mewakili Allah dan menyatakan pesanNya. Dan perkataan itu diilhami secara ilahi. The Pantecostal Truth terbitan Gandum Mas, Malang, menulis bahwa nubuat ialah ucapan yang diilhami dan diurapi oleh Allah.

Dengan demikian secara lengkap karunia nubuat ialah, seorang mendapat ilham oleh Roh Kudus untuk diucapkan sebagai pesan Allah dan perkataan itu bersifat adikodrati. Dalam 1 Korintus pasal 14, karunia nubuat mendapat tempat yang paling utama “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat” (1 Korintus 14:1).

Dari ayat Firman di atas sekelompok orang percaya membangun ajaran bahwa karunia nubuat adalah karunia yang terbesar di antara kesembilan karunia yang ada. Sehingga dalam satu ibadah maka orang yang ingin bernubuat begitu banyaknya bahkan terjadi penjadwalan dalam menyampaikan nubuat. Sesungguhnya ajaran itu sangat keliru karena Rasul Paulus sedang menyampaikan kefaedahan karunia-karunia dalam hal tengah berlangsungnya persekutuan jemaat. Sebab, memang apabila jemaat tengah berkumpul maka karunia nubuat lebih berfaedah dari karunia lainnya. Nubuat dapat menghibur, menasehati dan meneguhkan iman jemaat. Kefaedahannya dalam persekutuan atau ibadah bersama jemaat melebihi karunia-karunia lainnya. Hal kefaedahan itulah yang sedang ditekankan oleh Rasul Paulus. Hal tersebut sesuai dengan Firman Allah dalam 1 Korintus 12:7, bahwa semua penyataan Roh Kudus itu adalah untuk kepentingan bersama.

Membedakan Karunia Nubuat dan Jabatan Nabi

Seorang nabi sangat berbeda dengan seorang yang berkarunia nubuat. Seorang nabi adalah salah satu dari Lima Jawatan Pelayanan dalam tubuh Kristus. Nabi adalah seorang yang terpanggil dan diangkat oleh Yesus kepala Gereja dan menjadi salah satu jawatan untuk membawa Gereja kepada kedewasaan yaitu kepenuhan Kristus. Yesus Kristus kepada Gerejalah yang mengangkat kelima jawatan palayanan. Berbeda dengan karunia nubuat dimana dikatakan bahwa semua orang boleh bernubuat. Karunia adalah manifestasi Roh Kudus dalam diri semua orang percaya. Lima jawatan di dalamnya ada jawatan nabi adalah panggilan dan pengangkatan khusus dari Yesus Kristus. Tidak untuk semua orang khusus yang terpanggil dan diangkat oleh Yesus Kristus (Efesus 4:10-11).

Panggilan untuk bernubuat tentang hal-hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang terdapat pada jawatan nabi. Karunia nubuat terbatas untuk keteguhan iman jemaat. Karunia nubuat tidak dipakai untuk memberitakan perkara-perkara yang terjadi di waktu yang akan datang. Perhatikan bagan di bawah ini membedakan seorang jawatan nabi dan karunia nubuatan.

Jawatan Nabi:

Satu jabatan tetap.
Dipanggil dan ditetapkan Yesus.
Apa yang diucapkan merupakan Nubuatan.
Hal-hal terjadi di waktu akan datang
Hanya yang dipilih dan ditetapkan, bukan untuk semua orang.
Jawatan Nabi bersifat tetap.
Seorang Nabi.

Karunia Nubuat:

Karunia berdasar penyataan Roh, tidak tetap.
Meneguhkan, menasehati, membangun.untuk melengkapkan pelayanan pertumbuhan.
Hanya manifestasi dalam ibadah.
Berguna pada saat manifestasi karunia.
Semua orang percaya dapat bernubuat.
Pada saat manifestasi karunia nubuat.
Hanya roh Nabi, melakukan pekerjaan Nabi.

8. Karunia Bahasa Roh

Kita harus membedakan karunia bahasa roh dengan bahasa roh tanda fisik dibaptis atau dipenuhkan dengan Roh Kudus. Karunia bahasa roh tanda fisik ketiak dibaptis dengan Roh Kudus wajib menjadi tanda bagi semua orang percaya. Sedangkan karunia bahasa roh tidak dimanifestasikan untuk semua orang. Hanya kepada siapa Roh Kudus menghendaki untuk kepentingan bersama.

Karunia bahasa roh merupakan suatu pesan kepada tubuh Kristus yang diberikan dalam bahasa roh dan tidak dimengerti oleh si pemakai. Harus diikuti oleh satu penafsiran oleh bahasa yang dimengerti oleh jaemaat. Biasanya terjadi dalam suasana beribadah. Karena itu, karunia bahasa roh biasanya merupakan berita suatu nubuatan bagi jemaat Tuhan. Karena itu, harus diikuti oleh satu penafsiran. Apabila karunia bahasa roh tersebut tidak diikuti oleh satu penafsiran maka itu adalah bahasa roh tanda fisik pada waktu kita dipenuhkan oleh Roh Kudus. Sebab bahasa tanda fisik, ketika kita dipenuhkan oleh Roh Kudus tetap ada untuk seterusnya dan dapat dipergunakan kapan saja. Rasul Paulus berkata bahwa dalam berbahasa roh dia lebih dari kita semua.

Bahasa roh tanda awal ketika kita dibaptis oleh Roh Kudus tidak hanya berlaku pada Kisah Para Rasul 2:4, tetapi tetap ada seterusnya menjadi alat yang ajaib bagi orang percaya. Bahasa roh itu dapat dipakai membantu kita ketika berdoa, dan menyampaikan suatu rahasia kepada Bapa di Sorga.
Dibedakan karunia bahasa roh sebagai manifestasi Roh Kudus kepada yang dikehendaki dan karunia bahasa roh ini harus diikuti oleh satu penafsiran dengan bahasa yang difahami jemaat Tuhan. Karena itu karunia bahasa roh yang disertai tafsiran artinya, juga dapat disamakan beritanya dengan karunia bernubuat. Apabila tidak diterjemahkan maka itu adalah bahasa roh tanda kepenuhan yang tetap berada kepada orang percaya yang telah dipenuhkan oleh Roh Kudus (Roma 8:26-27, 1 Korintus 14:2, Kisa Para Rasul 19:1-6).
Pada bagan dibawah kita melihat perbedaan karunia bahasa roh dan bahasa roh tanda kepenuhan :

Bahasa Roh Tanda Kepenuhan:

– Bagi semua orang percaya yang dipenuhkan oleh Roh Kudus (Kisah 2:4, 10:46).
– Tidak perlu diterjemahkan, bicara rahasia dengan Allah (Kisah 10:46, 1 Korintus 14:2).
– Tetap ada seterusnya dalam orang percaya yang telah dipenuhkan oleh Roh Kudus (Rom 8:26-27).
– Meneguhkan iman diri sendiri. Kekuatan oleh Roh (1 Korintus 14:4).
– Lebih baik dipakai berdoa seorang diri. (Roma 8:26-27, 1 Korintus 14:4).

Karunia Bahasa Roh (1 Korintus 12:8-11):

– Bukan untuk semua orang. Kepada siapa roh berkehendak (1 Korintus 12:28-30).
– Karunia bahasa roh harus diterjemahkan (1 Korintus 14:13).
– Pada waktu Roh Kudus berkehendak (1 Korintus 12:7,11).
-Meneguhkan iman seluruh anggota jemaat (1 Korintus 14:4).
– Dipakai pada kebaktian bersama jemaat (1 Korintus 14:12).

9. Karunia Menafsir Bahasa Roh

Karunia Roh Kudus yang terakhir ini adalah pasangan dengan Karunia Bahasa Roh. Keduanya haruslah senantiasa dipakai bersama. Karunia menafsir bahasa roh adalah tafsiran yang bersifat supranatural tentang satu pesan berupa bahasa roh. Penafsiran itu bahwa Roh Kudus memberikan kemampuan supranatural mengartikan makna dari satu pesan yang diucapkan dalam bahasa roh.

Menafsir bukan menerjemahkan sebab bahasa roh bukan terdiri dari arti setiap kata tetapi yang dibutuhkan untuk ditafsir yaitu tentang maksud Roh Kudus. Intinya, adalah maksud Roh Kudus dan bukan kata demi kata untuk diterjemahkan. Jadi, dari arti maksud Roh diberikan seutuhnya kepada seseorang oleh Roh Kudus untuk dinyatakan. Pengertian tentang Karunia-Karunia yang Paling Utama

Kesembilan karunia perlengkapan untuk melayani dalam 1 Korintus 12:8-11, kesemuanya bersifat supranatural dan semuanya mempunyai nilai yang sama, tidak satu karunia lebih besar dalam arti nilai atau kegunaan dari karunia yang lain. Semuanya karunia-karunia itu merupakan manifestasi Roh Kudus untuk kepentingan bersama. Rasul Paulus tidak pernah menaruh urutan dalam arti ukuran besar karena memang kesemuanya mempunyai faedah masing-masing secara khusus.

1 Korintus 12:28-31. “Dan Allah telah menetapkan beberapa dalam Jemaat, pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya, mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar. Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh atau untuk menafsir bahasa roh ? Jadi berusahalah untuk mendapat karunia yang paling utama”.

Dalam rentetan karunia-karunia yang disebutkan rasul Paulus di atas tidak ada ataupun karunia yang mendapat tempat lebih besar dari karunia yang lain. Justru, Paulus menekankan ciri spesifikasi masing-masing karunia berbeda satu dengan lain. Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh atau untuk menafsirkan bahasa roh, demikian penguraian Paulus. Jadi masing-masing karunia mempunyai ciri spesifikasi dalam pelayanan tertentu.

Rasul Paulus berkata, “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. . . .” (1 Korintus 12:31). Coba perhatikan, bahwa setelah Paulus menulis beberapa karunia-karunia yang berbeda kepada masing-masing orang tidak terdapat di dalamnya karunia untuk bernubuat. Kemudian Paulus menutup pasal 12 tersebut dengan mendorong supaya memperoleh karunia yang paling utama. Seharusnya, karunia nubuat bila itu yang dimaksudkan adalah karunia yang paling utama, mestinya tercantum dalam daftar nubuat dalam 1 Korintus 12:28-31.

Logisnya, dorongan untuk mendapat karunia yang paling utama (ayat 31), ialah salah satu karunia yang Paulus cantumkan sebelumnhya. Mengapa Paulus tidak cantumkan karunia nubuat dalam daftar karunia-karunia dalam 1 Korintus 12:28-31. Jawabnya, karena urutan daftar karunia-karunia dalam ayat-ayat itu hanya menampilkan spesifikasi masing-masing karunia yang diberikan berbeda untuk masing-masing orang percaya. Memang bahwa masing-masing karunia tersebut memperlengkapi pelayanan dalam situasi tertentu untuk kepentingan bersama. Karunia Terutama ialah yang Paling Berfaedah yang Relevan Tempat dan Keadaan Tertentu.

Sebelumnya telah diuraikan tidak terdapatnya “karunia nubuat” dalam daftar sebagai pilihan untuk mendapat karunia yang utama. Dalam 1 Korintus 14, Paulus menekankan keutamaan dari karunia bernubuat. Perhatikan ayat-ayat berikut :
1 Korintus 14:1. “Kejarlah kasih, dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia roh, terutama karunia untuk bernubuat”.
1 Korintus 14:5. “Aku suka supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih daripada itu supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga daripada orang yang berkata-kata dalam bahasa roh . . .”

Itulah ayat-ayat Firman Allah yang telah menjadi sumber kesalahan penafsiran. Mereka menempatkan nubuat adalah karunia yang paling besar sehingga terjadilah perebutan untuk bernubuat dalam satu ibadah. Saya pernah menyaksikan di dalam satu ibadah Kharismatis karena demikian berebutnya orang-orang ingin bernubuat, sehingga pemimpin persekutuan terpaksa memberi nomor urut kepada mereka masing-masing untuk beroleh kesempatan bernubuat. Sungguh, situasi itu menggelikan, namun inilah akibat membangun ajaran yang keliru tentang karunia nubuat.

Mengapa rasul Paulus mendorong mereka untuk memperoleh karunia utama yaitu bernubuat. Sebab dalam konteks ibadah bersama maka kepentingan jemaat yaitu kepentingan bersama jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi. Karunia nubuat sangat berfaedah bila beroperasi di tengah-tengah ibadah jauh lebih bermanfaat dari karunia-karunia lainnya. Karunia nubuat dapat membangun jemaat. “Siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat ia membangun jemaat” (1 Korintus 14:4).

Jelaslah karunia bernubuat lebih utama apabila ditengah-tengah perkumpulan bersama, karena itu membangun seluruh jemaat Tuhan. Dari ayat tadi sekaligus Paulus juga menekankan bahwa bahasa roh jauh lebih utama dari karunia nubuat apabila sedang berdoa pribadi. Karena itu, semua karunia-karunia Roh Kudus mempunyai tempat dan situasi tertentu sehingga masing-masing menjadi berfaedah melebihi karunia lain. Apabila menghadapi orang sakit, karunia kesembuhan lebih utama dari lainnya, dalam konseling pastoral, jelaslah kita membutuhkan karunia hikmat, menghadapi sesuatu yang mustahil maka diperlukan karunia mujizat, dstnya.

Dalam 1 Korintus 12:31, “Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. . .”. Paulus tidak menulis “karunia” tetapi karunia-karunia (jamak). Artinya, berusahalah untuk mendapat karunia yang relevansi pada tempat dan kondisi yang tertentu. Dengan demikian semua karunia dapat menjadi yang paling utama . . ., berusahalah kamu, kata Paulus.

Membedakan ke-Sembilan Karunia Roh dan Karunia Panggilan.

Karunia perlengkapan supranatural untuk melayani, kita harus membedakan dengan karunia panggilan atau talenta untuk melayani. Karunia perlengkapan supranatural untuk melayani hanya ada sembilan karunia yang tercantum dalam daftar karunia Roh (1 Korintus 12:7-11). Kita harus mengingat bahwa karunia Roh sebagai perlengkapan adalah bersifat supranatural (adikodrati). Kemampuan Roh Kudus sebagai perlengkapan diberikan kepada orang percaya.

Panggilan atau talenta pelayanan seseorang juga memakai kata “kharisma”, sehingga bila tidak diteliti kita dapat campuradukkan dengan kesembilan karunia perlengkapan dan ini bisa membingungkan ajaran tentang kharismata.

Contoh : Saya mendengar langsung seseorang memberi ceramah dan menyebutkan dengan jelas nama organisasi Gereja yang katanya telah mengajar keliru bahwa karunia Roh Kudus hanya terdiri dari sembilan karunia Roh Kudus. Padahal karunia Roh Kudus lebih dari sembilan. Disini, justru penceramah itulah yang kurang pengetahuan dan tidak dapat membedakan karunia-karunia tersebut.

1 Korintus 12:7-11 -> Disana dicatat ke-sembilan karunia Roh Kudus, kesemuanya adalah karunia-karunia Roh untuk perlengkapan supranatural menyertai pelayanan. Karunia-karunia Roh Kudus tersebut hanya sembilan karunia roh, tidak lebih.

Roma 12:6-8 -> Disana kharismata, karunia-karunia Roh Kudus dicatat bercampur dengan karunia talenta atau panggilan pelayanan. Beberapa karunia talenta atau panggilan pelayanan dicatat karunia untuk melayani, karunia untuk mengajar, karunia menasehati, karunia pimpinan, karunia kemurahan, semua hendaknya melakukan dengan sukacita. Begitu juga ada beberapa karunia dicatat dalam Efesus 4, dan juga dalam 1 Petrus 4, rentetan jumlah karunia-karunia cukup banyak. Hanya dalam tulisan ini tidak akan merinci keseluruhannya. Jelaslah, bahwa karunia-karunia Roh Kudus sebagai perlengkapan adikodrati untuk pelayanan sebagaimana ditulis dalam 1 Korintus 12:7-11, hanya terbatas kepada sembilan karunia Roh Kudus. Selain daripada itu ialah karunia atau talenta panggilan untuk melayani.

Seseorang dengan begitu baik dapat mengajar yang sangat disukai karena metode mengajarnya memudahkan orang untuk mengerti dengan cepat. Hal tersebut telah banyak saya lihat dalam Gereja. Begitu juga seorang anggota jemaat dapat menjadi alat untuk mampu menasehati orang lain dengan kemampuan bahkan melebihi Gembala sidang. Seseorang begitu dengan mudah dapat memberi atau mengorbankan sesuatu kepada orang lain, sedangkan orang yang lebih kaya daripadanya tidak mampu melakukan apa dikorbankannya. Begitu banyak lagi contoh-contoh lain yang membuat perbedaan kemampuan karena karunia atau panggilan oleh Roh Kudus kepada seseorang. Kesembilan karunia-karunia Roh Kudus sudah jelas berbeda dengan karunia talenta untuk melayani sesuai karunia Roh itu sendiri.

Pasal 11: KEFAEDAHAN BAHASA ROH.

Lebih dahulu saya ingin uraikan apakah maksudnya berbahasa roh (roh kecil). Itu merupakan satu doa adikodrati karena terlalu sering doa kita bersumber dari akal budi kita. Sehingga kita naikkan doa kepada Tuhan berdasar apa yang kita pikirkan menjadi kebutuhan kita. Sehingga doa kita naik berdasar pertimbangan apa yang kita pikirkan menjadi pokok doa kita.

Roh Kudus yang mendiami diri kita menuntun roh kita bersekutu dengan Allah. Kita tidak dapat bersekutu dengan Allah dengan akal-budi atau dengan tubuh fisik sebab tidak sehakekat. Firman Allah berkata bahwa kita menyembah Allah dengan roh dan kebenaran. Bahasa roh ialah Roh Kudus menyatakan sesuatu kepada kita untuk mengucapkannya. Roh Kudus tidak menyampaikan itu kepada akal kita tetapi kepada roh kita. Sehingga oleh Roh Kudus yang berdiam dengan roh kita mengatakan sesuatu untuk diucapkan oleh roh kita. Dalam hal ini roh akan memakai lidah kita atau suara kita untuk mengeluarkan maksud Roh Kudus dalam hati kita, sehingga oleh Roh Kudus mendorong roh kita untuk mengucapkan sesuatu kepada Allah. Lidah kita dipinjam oleh roh untuk menyampaikan sesuatu dari Roh Kudus kepada Allah yang Roh adanya. Jadi bahasa roh adalah tanda bukti keaktifan Roh Kudus sejak detik awal Dia bertempat tinggal dalam diri orang percaya (Kisah Para Rasul 2:4, Roma 8:16, 26-27).

Oleh karena itu, selama Roh Kudus berada dalam diri orang percaya itu berarti dia tidak akan berhenti berbicara di dalam bahasa roh. Mengapa kita harus berdoa dengan bahasa roh, bukankah sudah cukup kita berdoa dengan akal-budi dengan doa itu kitapun dapat mengerti apa yang kita mohon kepada Allah. Memang Allah mendengar doa yang dinaikkan dengan akal-budi tetapi Dia juga menyiapkan suatu bentuk doa yang supranatural dimana doa itu melebihi dari doa melalui akal-budi.

Bayangkan kekayaan rohani yang disiapkan Allah kepada GerejaNya, begitu banyak Gereja yang sampai sekarang belum dapat menerima kebenaran bahasa roh ini. Hal itu berarti kita melalaikan satu fasilitas rohani yang dipersiapkan Allah untuk kekuatan GerejaNya. Begitu pula saya percaya banyak orang yang telah dipenuhkan dengan Roh Kudus tetapi belum mempraktekkan bahasa roh ini sebab kekurangan pengertian. Tetapi bahasa roh juga adalah tanda bukti bahwa kita telah dipenuhkan dengan Roh Kudus. Selama kita belum berbicara dengan bahasa roh kita menghilangkan identitas bahwa kita telah dipenuhkan oleh Roh Kudus. Apabila kita dipenuhkan dengan Roh Kudus, Dia ingin supaya kita meluaskan segala kekayaan rohani yang menyertai pribadiNya, Dia ingin supaya kita didalam kedaulatanNya.

Ada pendapat bahwa bahasa roh telah berhenti pada hari Pantekosta, itu cukup hanya terjadi pada hari Pantekosta. Tetapi ternyata tidak demikian sebab setelah hari Pantekosta ketika isi rumah Kornelius mendengar Firman Allah dipenuhkan oleh Roh Kudus mereka juga berkata-kata dalam bahasa roh. Bahkan dalam Kisah Para Rasul 19:1-6, setelah dua puluh lima tahun sejak hari Pantekosta sekelompok orang percaya dipenuhkan oleh Roh Kudus dengan bukti bahasa roh. Di dalam kitab Kisah Para Rasul, bahwa bahasa roh dijadikan tanda bukti bahwa seseorang telah dipenuhkan oleh Roh Kudus.

Mereka yang Tidak Setuju Berbahasa Roh.

Beberapa orang tidak sependapat dengan bahasa roh yang dipakai orang-orang percaya dengan bahasa yang tidak dimengerti. Alasannya, bahwa bahasa roh itu harus dimengerti seperti contoh pada hari Pantekosta ke 120 murid berbahasa roh yang dimengerti oleh semua orang. Itulah sebabnya mereka menolak bahasa roh yang tidak dimengerti oleh manusia. Dengan dasar seperti itu mereka menolak semua penyataan bahasa roh oleh orang percaya dan bahkan menuduh seperti orang yang kesurupan.

Pdt. Stephen Tong dalam bukunya Roh Kudus, Doa dan Kebangunan, dengan tegas menolak bahkan mencerca penggunaan bahasa roh. Dalam bukunya itu beliau bukan hanya tidak sependapat bahkan menelanjangi beberapa kekurangan dari orang percaya yang berbahasa roh. Dasar beliau menolak, bahwa bahasa roh (Yun. Glosalali) yang dicantumkan sebanyak 50 kali dalam Perjanjian Baru adalah berarti bahasa dan itu harus dimengerti. Beliau menekankan bahwa Glosalali adalah karunia bahasa dan itu harus dimengerti seperti pada hari Pantekosta. Bukan seperti yang terjadi sekarang membingungkan dan tidak dimengerti.

Dasar kebingungan Pdt. Stephen Tong, sebab beliau tidak membedakan bahasa roh tanda kepenuhan dan karunia-karunia bahasa roh oleh Roh Kudus. Sehingga ayat-ayat yang terkait untuk keterangan karunia-karunia Roh Kudus beliau pakai untuk memberi keterangan tentang bahasa roh tanda kepenuhan yang wajib berlaku kepada semua orang yang dipenuhkan oleh Roh Kudus. Memang, karunia-karunia roh yang adalah satu dari sembilan karunia-karunia Roh Kudus, tidak dimanifestasikan untuk semua orang.

Kami sayangkan Pdt. Stephen Tong yang dikenal bijaksana ternyata menjadi tidak bijaksana dalam menyelesaikan masalah yaitu bahasa roh yang beliau belum mengerti sebab belum mengalaminya. Beliau berkata bahwa bahasa itu harus dimengerti. Pertama, bahwa bahasa roh bukanlah komunikasi untuk manusia, tetapi komunikasi manusia dengan Tuhan. Dengan demikian manusia tidak perlu untuk mengerti karena memang berita itu bukan untuk ditujukan kepada sesama orang percaya. Baca: Roma 8:26-27, bahwa Roh Kudus berdoa untuk kita kepada Allah dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, bahwa Ia (Roh), sesuai kehendak Allah berdoa untuk orang-orang kudus. Perhatikan, bahwa tidak dibutuhkan arti langsung dari bahasa (seperti bahasa manusia), tetapi bahasa roh menjadi sarana atau media bunyi bahwa Roh Kudus sedang berkomunikasi dengan Allah melalui roh kita orang percaya. Karena yang utama disini bukan bahasa itu tetapi maksud Roh Kudus dalam diri orang percaya diketahui Allah (1 Korintus 14:2).

Begitu juga, beliau menekankan, Glosalali berarti bahasa. Suatu bahasa harus dimengerti oleh yang mendengarnya. Kalau hanya bunyi dan tidak dimengerti bahwa itu bukan bahasa. Beliau melupakan bahwa bahasa tidak selalu diterjemahkan dengan yang harus dimengerti oleh orang sekeliling. Saya memberi contoh, dua kapal dimana kedua nahkoda dari jarak jauh pada malam hari mampu bercakap-cakap dengan memakai cahaya lampu dengan cara mengkedip-kedipkan cahaya lampu. Itu tidak dimengerti oleh orang banyak tetapi itu adalah bahasa.

Begitu juga dua stasiun telekomunikasi antara dua kota berjarak ribuan Kilo Meter, mereka saling tukar-menukar informasi dengan memakai bunyi yang kita katakan morse sangat tidak dimengerti tetapi ternyata itu adalah bahasa. Bahasa morse dengan bunyi yang terbatas hanya titik pendek dan titik panjang dalam bunyi yang saling berganti, tetapi itu adalah bahasa yang dapat menyampaikan berita yang tidak terbatas. Apabila manusia dapat menciptakan bunyi yang bisa menyampaikan maksud hati, saya bertanda kepada Bapak Pdt. Stephen Tong, apakah Roh Kudus melalui roh kita dan memakai lidah kita tidak mampu memakai bunyi suara kita untuk menyampaikan maksud Roh Kudus kepada Allah Bapa.

Roma 8:26-27: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana seharusnya berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu Ia sesuai dengan kehendak Allah berdoa untuk orang-orang kudus”

1 Korintus 14:2: “Siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh tidak berkata-kata dengan manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya, tetapi oleh roh ia mengucapkan yang rahasia”

1 Korintus 14:4: “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat ia membangun jemaat”
Berbahasa roh adalah satu perlengkapan ilahi yang Allah berikan supaya mengalami kehidupan rohani yang segar dan efektif. Bahkan melalui fasilitas sorgawi ini kita akan mampu mengetahui kebutuhan rohani kita yang sesungguhnya.

Sebagaimana karunia nubuat untuk kepentingan jemaat tetap berlaku sampai hari ini, begitu juga bahasa roh untuk keteguhan iman pribadi berlaku sampai hari ini. Berbahasa roh berarti kita memberi kesempatan Roh Kudus menyelidiki hati nurani kita dan mampu menemukan kebutuhan kita yang sesungguhnya. Mengapa demikian, sebab Roh Kudus lebih mengetahui diri kita daripada diri sendiri mengetahui kebutuhan. Roh Kudus mengungkapkan kebutuhan kita yang sesungguhnya di hadapan Bapa. Milikilah kekayaan orang percaya yang tak ternilai ini. Beberapa Keuntungan Berkata-kata Dalam Bahasa Roh.

Setiap pemberian Allah pasti mendatangkan keuntungan apabila kita menerima dan melakukannya. Demikian juga berkata-kata dalam bahasa roh yang masih berlaku sampai sekarang, sudah tentu mempunyai makna tersendiri yang berkaitan dengan kehidupan rohani. Rasul Paulus berkata bahwa di dalam berkata-kata dengan bahasa roh maka dia lebih dari orang-orang percaya di Korintus. Nyatalah, bahwa rasul tidak akan mempergunakan apabila berkata-kata dalam bahasa roh tidak mendatangkan kefaedahan.

Yang berikut, kami akan mengungkapkan beberapa keuntungan rohani apabila kita berbicara dalam bahasa roh. Keuntungan itu, sebagai berikut:

1. Kesadaran Kehadiran Allah.

Allah itu Roh adanya, dan bahwa kehadiranNya yang bersifat Omnipresence dimampukan karena keberadaanNya di dalam Roh, Kehadiran Roh Kudus di dalam diri orang percaya adalah sama dengan kehadiran Allah dalam diri kita. Keyakinan kehadiran Allah bukan sekedar diyakini tetapi harus dibuktikan kehadiranNya yang menyertai kita selamanya. “Bagaimana kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1 Yohanes 3:24). Dengan demikian bahwa seorang yang berkata-kata dengan bahasa roh meneguhkan imannya bahwa Allah ada bersama dengan dia.

Yohanes 16:17: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu”.

Pengalaman kehidupan rohani yang sering menjadi lemah bukanlah kekurangan kita, tetapi sebagai fakta bahwa sebagai keluarga Allah kita sedang bertempat tinggal dalam rumah yang bukan milik kita. Dunia ini mempunyai penguasa yaitu iblis yang bekerja melalui roh-roh kegelapan (Efesus 6:12). Itulah sebabnya, kita dapat mengalami penurunan kekuatan iman di dalam dunia yang bukan rumah kita. Kesadaran kehadiran Allah sangat menguntungkan supaya tetap teguh di dalam Dia. Berkata-kata dalam bahasa roh membuat kita teguh, sebab hal itu menyadarkan bahwa Allah ada menyertai dan tinggal di dalam kita (1 Yohanes 3:24).

2. Berkata-kata dengan bahasa roh meneguhkan kerohanian diri sendiri.

Kita telah mengerti bahwa berkata-kata dengan bahasa roh, itu berarti Roh Kudus sedang berkata-kata tas nama kita kepada Allah. Dan sudah tentu hal itu dilakukan Roh Kudus untuk kepentingan kita sendiri. 1 Korintus 14:4: “Supaya yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri”

Tidak setiap hari kita beribadah di gedung Gereja. Beribadah pada hari minggu telah menjadi tradisi membentuk opini ke-Kristenan bahwa disitu kita dikuatkan, diteguhkan kembali. Tetapi sesungguhnya, orang percaya tidak cukup terbatas hanya seminggu sekali beribadah. Kita memerlukan peneguhan iman setiap saat. Itu dapat dilakukan pada waktu dan tempat dimana saja, bahkan waktu kita sedang tidur sekalipun.

Satu pengalaman yang tidak pernah saya lupakan, ketika itu saya dan isteri berada di Amerika Serikat. Kami mengikuti satu pendidikan yang berlangsung selama enam bulan dan ditempatkan di satu hotel yang cukup mewah. Seminar berjalan cukup padat bahkan sampai malam hari pukul 22:00. Sehingga setiap selesai seminar badan cukup lelah memerlukan istirahat yang baik. Kejadiannya, setiap malam selalu saya dan isteri saya terganggu, karena suara hingar-bingar datangnya dari dalam kamar tetangga. Sehingga pada satu malam terdorong ingin mengetahui tentang apa yang sedang mereka lakukan, maka saya datangi kamar tetangga yang dihuni oleh para Pendeta dari Karibia dan terkejut kebengongan dan terharu, ternyata mereka bukan sedang mengobrol tetapi sedang tertidur nyenyak, namun sedang berkata-kata dalam bahasa roh dengan suara cukup keras. Ternyata, orang tidur sekalipun mampu berkata-kata dalam bahasa roh. Memang benar, bahwa tubuh fisiklah yang tidur, tetapi Roh Kudus dan roh manusia mereka adikodrati dan tidak pernah tidur.

Berkata-kata dengan bahasa roh adalah suatu ibadah yang dikerjakan oleh Roh Kudus memakai roh kita untuk memuliakan Allah. Ternyata dalam diri orang percaya terdapat fasilitas untuk beribadah terus-menerus, untuk membangun iman diri sendiri (1 Korintus 14:4).

3. Berdoa dalam bahasa roh membantu kita untuk berdoa dengan benar.

Jelaslah, bahwa Roh Kudus lebih memahami kebutuhan diri kita dari kita memahaminya. Banyak kali terjadi orang percaya salah berdoa, sebab motivasi berdoa untuk keinginan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Kita berdoa dan kita tidak pernah mendapatkannya. Kuncinya, karena kita salah meminta.

Roma 8:26-27: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus”

Begitu juga, kalau pada suatu ketika bahwa kita tidak tahu apa yang harus kita doakan maka kesempatan itu Roh Kudus berdoa untuk kepentingan kita. Tetapi ini hanya terjadi bila kita mengizinkan lidah kita menjadi saluran Roh Kudus dan memimpin kita untuk berdoa.
Tidak jarang bahwa karena sering berdoa dengan bahasa roh mendapat keuntungan-keuntungan (surprise) yang tidak pernah terduga sebelumnya. Kalau itu terjadi maka itu bukan satu kebetulan bagi mereka yang selalu berdoa dengan memakai bahasa roh. Roh Kudus dalam diri kita yang mengerti apa yang kita inginkan telah berdoa kepada Bapa tanpa kita menyadarinya.

Pernah seorang gembala jemaat teman saya bersaksi tentang satu kebutuhan yang sangat mendasar. Tetapi teman itu tidak pernah berdoa kepada Tuhan disebabkan pikirnya, bahwa kebutuhan itu terlalu tidak mungkin diperoleh dengan menghubungkan kemampuan yang ada pada jemaat yang kecil yang digembalakannya. Dia sangat terkejut keheranan, sebab pada suatu pagi datanglah seorang yang digerakkan Tuhan untuk memberikan satu sepeda motor sesuai dengan kebutuhannya. Sesuatu dengan ukuran kemampuan keuangan tidak mungkin bagi gembala di tempat terpencil, tetapi Roh Kudus yang menyelidik hati nurani mengetahui apa yang dibutuhkan telah berdoa kepada Bapa tentang kebutuhannya, dan kalau Roh Kudus yang berdoa pasti terjawab.

4. Bahasa roh membuat hubungan intim dengan Allah menjadi peka kepada hal-hal rohani.

Melalui berdoa dengan bahasa roh memelihara persekutuan diri kita dengan pribadi Allah. Kita selalu merasa sangat dekat dengan Allah. Sehingga menjadi sangat peka kepada Roh Kudus. Roh Kudus menjadikan hubungan Bapa di sorga menjadi dekat dengan anak-anak Allah sebagai keluargaNya yang ada di dunia ini. Berkata-kata dengan bahasa roh sama dengan kita bercakap-cakap dengan Allah. Roh Kudus menjadi pusat ke diri kita. Roh Kudus menyampaikan maksud hati nurani kita kepada Bapa, sebaliknya kehendak Bapa diberitahukan kepada hati nurani kita (roh kita) menjadikan hati nurani kita melimpah dengan kehendakNya (Firman Allah). Disinilah rahasia sehingga Yesus Kristus berdiam di dalam hati kita dan melimpah dengan kasih illahi (Efesus 3:16-17).

Efesus 3:16-17: “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya, di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu, Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih”.
Roma 8:14-16: “Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah Anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan, yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu Anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya, Abba, ya Bapa !” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah Anak-anak Allah”.

Bisa kita bayangkan kalau seluruh anggota keluarga berkumpul di ruangan keluarga dan terlibat dalam percakapan keluarga. Anak dengan bebas kemukakan hatinya kepada Bapak dan Ibu. Sebaliknya, Bapak dan Ibu jelaskan rencana keluarga kepada anak. Hubungan terasa begitu dekat dan intim. Begitulah gambaran apabila kita senantiasa berkata-kata dengan bahasa roh, berdoa dengan bahasa roh pada setiap waktu. Berarti, membuat kita tenggelam dalam satu persekutuan yang indah dengan Bapa di sorga. 5. Berkata-kata dalam bahasa roh sebagai tanda supaya kita tetap penuh dengan Roh Kudus. Kalau kita berkata-kata dengan bahasa roh itu berarti kita menghidupkan peranan Roh Kudus dalam diri orang percaya. Roh Kudus adalah “parakletos” atau penolong dimana aspek kehadiranNya mendorong kita untuk melakukan sesuatu bagi Allah. Firman Allah adalah kehendak Allah dan juga sebagai kebenaran yang harus digenapkan dalam kehidupan kita.

Dalam Kisah Para Rasul 1:8; Berkata-kata dalam bahasa roh adalah bukti bahwa kita penuh dengan Roh Kudus dan siap melakukan tugas misi. Perhatikan, tatkala para murid pada hari Pantekosta dipenuhkan oleh Roh Kudus maka mereka berkata-kata dengan bahasa roh sebagai tanda kepenuhan. Seketika mereka langsung berobah menjadi begitu bersemangat memberikan kabar keselamatan, karena bahasa roh melahirkan keyakinan kekuatan kehadiran Roh Kudus. Rasul Paulus setiap saat berbicara dengan bahasa roh sebagai keyakinan bahwa dia dalam keadaan penuh selalu. Bahasa roh sebagai salah satu cara untuk menjaga dan memelihara supaya kita senantiasa penuh dengan Roh Kudus. “…tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18).

Memperhatikan pekerjaan Roh Kudus dalam kitab Kisah Para Rasul, dan suratan 1 Korintus 12:13,14, semuanya mengajarkan bagaimana manifestasi atau karunia-karunia Roh Kudus memperlengkapi sehingga para rasul memiliki kekuatan untuk melayani. Karunia-karunia Roh Kudus ialah suatu konsekuensi logis akibat dipenuhkan oleh Roh Kudus. Jadi yang terutama disini bahwa kita perlu keyakinan diri bahwa kita dalam keadaan penuh Roh Kudus untuk mampu melakukan tugas-tugas pelayanan. Berkata-kata dalam bahasa roh memberi keyakinan iman bahwa kita penuh dengan Roh Kudus dan mendorong semangat kita untuk dapat melakukan satu tugas tertentu.

Berkata-kata dengan bahasa roh bukan hanya mengingatkan kita bahwa Dia ada bersama dengan kita tetapi keyakinan bahwa kita sedang penuh dengan Roh dan semua karunia-karunia Roh siap dimanifestasi untuk menyertai pelayanan. Merasa kehadiran Allah dirumah kita atau sementara mengendarai kendaraan atau dimana saja menciptakan suasana tentram dan merasa damai sejahtera. Tetapi berkata-kata dengan bahasa roh kita merasa dipenuhkan dan menerbitkan keberanian iman siap untuk melayani bahkan siap untuk mengalami suatu peperangan rohani. Sebagai contoh, menjadi pengalaman bagaimana bahasa roh memberi kekuatan. Sekali waktu bahwa kami harus melayani suatu kebaktian kebangunan rohani di satu daerah yang terpencil. Orang-orang memberitahukan bahwa betapa dahsyat roh-roh kegelapan di tempat itu. Berarti kami segera masuk dalam satu pelayanan yang penuh tantangan. Saya telah berdoa dengan bahasa yang dimengerti, tetapi perasaan takut tetap ada, namun ketika kami berdoa dengan bahasa roh, saya mendapat keyakinan iman dan kekuatan yang luar biasa (adikodrati). Tanda kepenuhan ini memberi kekuatan rohani yang luar biasa.

Pasal 13: Nama-Nama dan Lambang-Lambang Roh Kudus

Nama-nama dan lambang-lambang Roh Kudus sangat penting karena berhubungan dengan sifat dan pekerjaanNya. Memahami makna dalam nama dan lambang dari Roh Kudus membuat kita tidak akan keliru dalam mengartikan dan menafsir makna dari maksud oknum pekerjaanNya.

Roh Kudus adalah satu dari Tri-tunggal Allah dimana ketigaNya adalah esa, saling didalam dan terkait, karena kebenaran setiap pribadi adalah bagian kebenaran Pribadi lainnya. Misalnya; ketika Tuhan Yesus memanggil Simon Petrus untuk menjadi muridNya, bahwa itu adalah kehendak Allah Bapa dan Roh Kudus memberi kesadaran kepada Petrus untuk mengambil keputusan mengikut Dia. Karena itu oknum Roh Kudus ada kaitan dengan Allah Bapa, dengan Yesus Kristus dan karakter pekerjaanNya sendiri. Nama-Nama Roh Kudus yang ada Kaitannya Dengan Allah Bapa.

Beberapa nama Roh Kudus yang berhubungan dengan Allah Bapa:
1. Roh Allah. 1 Korintus 3:16, menyatakan bahwa kehidupan Bapa ada bersama Dia. Dan tinggal di dalam diri orang percaya menjadikan Kaabah Allah, kediaman Allah.
2. Roh Allah Yang Hidup. II Korintus 3:3, Allah yang hidup kenyataan penyertaan Bapa yang membuat setiap orang percaya menjadi kesak sian terbuka.
3. Roh-Mu. Mazmur 143:10, Roh-Mu, menyatakan bahwa Allah Bapalah yang ikut menuntun perjalanan orang percaya. Pimpinan Roh Kudus sama dengan pimpinan Allah Bapa.
4. Roh Tuhan. Yesaya 61:1, Bapa adalah gelar dari Tuhan. Tuhan atau “Yahwe”, itulah Roh yang ada dalam diri orang percaya.
5. Roh. Yohanes 3:5, Roh itu adalah Allah, mempunyai otoritas menyelamatkan. Bukan hanya Dia sebagai Roh Allah, atau Roh Kristus, tetapi Dia yang adalah Roh memiliki otoritas Allah sepenuhnya. Nama-Nama Roh Kudus yang ada Kaitannya Dengan Yesus Kristus.

Beberapa nama Roh Kudus yang ada kaitanNya dengan Yesus Kristus:
1. Roh Kristus. Roma 8:9, Menekankan hubungan Roh Kudus dengan pekerjaanNya yang mengurapi. Sebagaimana Yesus diurapi untuk melaksanakan tugas penebusanNya, demikian juga orang percaya harus mencontohi langkah tersebut. Kita harus mengandalkan pengurapan dalam semua aspek atau jenis pelayanan kepada Dia.
2. Roh AnakNya. Galatia 4:6, Pelayanan Roh Kudus meneguhkan dan menyampaikan misi Yesus ke dalam hidup kita. Semua kehendak Yesus kepala Gereja dinyatakan oleh Roh Kudus kepada kita. Dalam posisi tersebut maka Roh Kudus juga dikatakan Roh AnakNya (Yohanes 16:13-14).
3. Roh Yesus Kristus. Filipi 1:19, Firman Allah menjelaskan tentang bahwa Yesus adalah 100% Allah, juga 100% manusia. Maka Roh Anak menekankan ke-Ilahian dari Yesus sebagai Allah, sedangkan Roh Kristus menekankan kemanusiaan dari Yesus yang diurapi. OtoritasNya adalah sama dengan Roh Kudus.
4. Roh Yesus. Yesus sebagai Anak Allah benar telah menjadi manusia dan bernama Yesus. Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia. Dan kedudukan ke-AllahanNya tetap ada di dalam Dia. Roh Yesus sama dengan ketiga yang telah diuraikan di atas.

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa Roh Kudus telah diutus oleh Bapa dan Anak dari sorga. OtoritasNya sebagai Allah tidak berkurang sedikitpun sederajat dengan Bapa dan Anak. Hanya harus diingat bahwa keutamaan misi ilahiNya ialah bahwa Ia telah diutus dicurahkan pada hari Pantekosta untuk mempermuliakan Yesus Kristus.

Yesus Kristus yang amat kaya dengan segala “Hikmat dan Kemuliaan” namun telah menjadi miskin ketika Dia mati di kayu salib, supaya semua “Kekayaan Kelimpahan KemuliaanNya”, menjadi bagian kita orang percaya. Dan itulah tugas utama Roh Kudus (II Korintus 8:9). Nama-Nama Roh Kudus di-Hubungkan dengan PekerjaanNya dan Karakter.

Roh Kudus adalah oknum ketiga dari Allah dalam mengemban misi “ilahiNya”. Dia tidak melepaskan karakterNya sebagai Allah. Karena itu, Roh Kudus bukan hanya dilihat tugas dan misiNya sehubungan dengan salib Kristus, tetapi Dia harus juga dipuja dan disembah sebagai Allah KarakteristikNya sebagai Allah menyebabkan Dia harus dipuja berhubungan dengan tugas serta fungsionalNya dalam Tri-tunggal.

Karakteristik Roh Kudus:

1. Roh Kudus. Lukas 11:13, Dia sama dengan Allah Bapa dan Firman Allah, memiliki sifat yang kudus, karakter Roh yang kudus seperti Bapa dan Firman maka Dia dikatakan Roh Kudus (Keluaran 3:5, 1 Petrus 1:13-16). Sifat dan perangai Roh Kudus mewajibkan semua orang percaya harus hidup memelihara kekudusan Allah.

2. Roh Kekudusan. Roma 1:4, Kalau yang pertama tadi bahwa Dia adalah Roh Kudus, sebagaimana karakter Bapa dan FirmanNya. Disini Dia dikatakan “Roh Kekudusan”, bukan hanya sifat atau perangai yang memungkinkan berubah. Kata sifat atau perangai mengandung pengertian yang melekat bahwa itu dapat berubah. Roh Kekudusan, bukan menunjukkan karakter atau sifat, tetapi “Kekudusan” mengandung arti “Hakekat” satu simbol keberadaan yang tidak pernah berobah. Bahwa itu berarti Roh Kudus tidak mendapatkan sifat atau perangai dari Bapa atau FirmanNya, tetapi “kekudusan” adalah hakekat atau substensi dari Pribadi Roh Kudus itu sendiri.

3. Roh Kebenaran. Yohanes 16:13, Yohanes 15:26, Roh Kudus hakekatnya kudus, itu berarti “kebenaran”. Yesus Kristus sebagai penyataan khusus Allah kepada umat manusia adalah “kebenaran”. Pribadi Yesus Kristus, yang telah menyatakan diri sebagai manusia menjadikan bahwa “kebenaran” tidak lagi fiktif atau relatif seperti yang dimiliki begitu banyak kepercayaan di muka bumi. Yesus Kritus sendiri pernah berkata; “Akulah Jalan Kebenaran . . .” (Yohanes 14:6). Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran mampu masuk ke dalam kebenaran itu dan menuntun kita ke dalamNya (Yohanes 16:13).

Pekerjaan Roh Kudus.

Telah diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya, Roh Kudus menuntun kepada Keselamatan, Roh Kudus memberi pertumbuhan rohani, Roh Kudus menyingkapkan rahasia-rahasia Allah, Roh Kudus memperlengkapi dengan karunia-karunia Roh Kudus, Roh Kudus memberi dimensi supranatural, Roh Kudus menghidupkan Gereja sebagai tubuhNya, dst.nya.
Dimana akhirnya, Roh Kudus akan mempersembahkan Gereja Tuhan sebagai Gereja yang melimpah dengan buah-buah kebenaran dan penuh dengan kemuliaan ilahi, dipersembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Raja yang akan datang. Dia akan datang sebagai mempelai laki-laki menyunting Gereja sebagai mempelai wanita (II Korintus 11:2).

Lambang-lambang Roh Kudus
Dari sifat atau karakteristikNya, yang dihubungkan dengan suatu pekerjaan tertentu dari Roh Kudus. Maka kita dapat melihat ada beberapa lambang yang ditujukan kepada Roh Kudus:

1. Seperti Angin. Tidak seorangpun yang mampu melihat angin bagaimana cara bergeraknya. Angin dapat saja datang bertiup dengan kerasnya yang dapat menggerakkan sesuatu. Roh Kudus dilambangkan sebagai angin dimana maknanya ialah bergerak dan dinamis. Angin membawa oksigen berarti membawa kehidupan kepada makhluk. Demikian Roh Kudus sebagai dinamis yang bergerak dan menggerakkan dilambangkan sebagai angin. Tanpa angin tidak ada kehidupan (Kisah Para Rasul 2:2, Kejadian 2:7, Yohanes 20:22).

2. Seperti Api. Roh Kudus dilambangkan seperti api. Melambangkan karakteristik dari Roh Kudus. Roh Kudus seperti api yang menyucikan, api yang membakar segala macam kekotoran rohani dalam hidup orang percaya. Ketika Allah Bapa memperlihatkan diriNya kepada Musa (Keluaran 2:2-3), dalam nyala api, maka ada suara dari Allah Bapa dari dalam nyala api: “tanggalkan kasutmu karena tempat ini kudus”. Roh Kudus seperti api yang menguduskan. Pada hari Pantekosta Roh Kudus turun seperti lidah-lidah api dan hinggap ke atas kepala murid-murid di kamar loteng Yerusalem. Roh Kudus bagaikan api yang menghanguskan kemanusiaan murid-murid Yesus. Roh Kudus dilambangkan sebagai api, dikarenakan Roh Kudus memiliki karakter seperti api (1 Raja-raja 18:38, Kisah Para Rasul 2:3, Lukas 3:16,17, Yesaya 6:6-7). Roh Kudus seperti api yang melambangkan juga kehadiran Allah (Keluaran 2:2-3).

3. Seperti Burung Merpati. Ketika Tuhan Yesus diurapi oleh Roh Kudus di sungai Yordan, maka Roh Kudus datang seperti burun Merpati. Berbeda ketika Roh Kudus turun keatas murid-muridNya Dia datang sebagai api. Roh Kudus mengurapi Yesus Dia datang sebagai burung merpati, menandakan bahwa dalam diri Yesus tidak ada satupun yang perlu dibakar atau disucikan, sebab Yesus sebagai Anak Allah memang kudus tanpa cela. Sifat-sifat merpati, tulus, penuh kasih, dengar-dengaran, lemah-lembut, tidak membalas, tidak menyakiti, berdamai selalu, sifat ini ada pada Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, Roh Kudus dilambangkan sebagai burung merpati (Markus 1:10, Matius 3:16, Lukas 3:22, Yohanes 1:32).

4. Seperti Air Anggur. Apabila kita meminum air anggur, maka tubuh merasa bersemangat, air anggur dengan kemanisannya sangat menyegarkan dan menyenangkan dan memberi kesehatan yang baik. Pesta di Israel selalu harus ada air anggur tanda sukacita pesta dan juga menandakan harga dan kebesaran satu pesta. Sebaliknya, apabila kita meminum air anggur maka terasa pengaruhnya dan kita bisa tenggelam kebawah pengaruh air anggur. Karena itulah, Roh Kudus dilambangkan sebagai air anggur yang bisa mendatangkan sukacita, kemanisan, bergairah didalam Dia dan kita harus tenggelam dalam pengaruh Roh Kudus. (Efesus 5:18, Kisah 2:14, Wahyu 6:6). Dalam kitab Wahyu dikatakan bahwa dunia akan tiba kepada satu kesulitan besar, tetapi kita akan selamat bila Anggur itu tetap terpelihara.

5. Dilambangkan sebagai minyak. Minyak selalu melambangkan kuasa Roh Kudus. Roh Kudus yang memampukan, Roh Kudus yang mengesahkan, Roh Kudus yang mengurapi, Roh Kudus yang menguasai. Karena itu, Raja Israel sebelum bertahta harus ada pengurapan tanda pelimpahan kekuasaan dan kemampuan Tuhan (1 Samuel 16:13, Mazmur 23:5, Kisah Para Rasul 10:38, Yesaya 61:1-3). Dalam perumpamaan 10 anak dara dalam Matius 25:1-13, semua lengkap dengan perlengkapan sebagai pra-syarat untuk menanti sang Pengantin laki-laki, tetapi sayang ada 5 anak dara yang kehabisan minyak dan tidak memenuhi syarat untuk penjemputan. Bayangkan urapan Roh Kudus merupakan perlengkapan rohani sebagai pra-syarat untuk menanti kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Kehabisan minyak disini berarti “gagal memelihara pekerjaan Roh Kudus”. Sebagai satu pribadi maka Dia dapat tinggalkan kita apabila selalu didukacitakan (Efesus 4:30).

6. Sebagai Meterai. Dalam Efesus 1:13, pada saat kita percaya bahwa kita di “Meterai” oleh Roh Kudus. Meterai merupakan tanda pengesahan atas sesuatu secara hukum. Semua orang percaya ketika percaya ketika percaya dan lahir baru, maka ketika itu telah disahkan secara hukum ilahi sebagai milik Allah. Pengesahan ini tidak dapat diganggu-gugat, dibenarkan oleh Roh Kudus sendiri di hadirat Allah. Tidak ada satupun dapat diselamatkan kalau bukan peranan pekerjaan Roh Kudus. Pengertian Tentang Dosa Menghujat Roh Kudus.

Matius 12:31-32: “Sebab itu Aku berkata kepadamu, segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, akan tetapi hujat kepada Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, Ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, tidak akan diampuni. Di dunia ini tidak, yang akan datangpun tidak”.
Dalam “Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan”, terbitas Gandum Mas Malang, menguraikan tentang “Menghujat Roh Kudus”, yaitu penolakan terus-menerus tentang suara Roh Kudus tentang karya Yesus, firmanNya untuk menginsyafkan dunia akan dosa.

Berdosa kepada Anak Manusia ada ampunannya, tetapi berdosa kepada Roh Kudus tidak ada ampunannya, sekarang di dunia ini bahkan di dunia yang akan datang. Yesus datang untuk orang berdosa dan kematianNya adalah menjadi tebusan dosa orang banyak. Apabila kita berdosa kepada Firman Allah dengan rendah hati kita dapat datang kepadaNya dan memohon pengampunan dosa (1 Yohanes 1:9-10). Anak Manusia tidak datang untuk orang benar tetapi untuk orang berdosa. Yesus datang untuk membawa orang berdosa untuk bisa memiliki hidup (Matius 9:13). Jadi, berdosa kepada Anak mendapat ampun, berhubungan dengan karya Yesus di kayu salib.

Roh Kudus datang untuk menginsyafkan dunia akan dosa (Yohanes 16:7), sehingga tugas utamaNya untuk membawa pertobatan isi dunia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Menghujat atau berdosa kepada Roh Kudus ialah menentang terus-menerus terhadap misi Roh Kudus pada zaman Roh Kudus. Menentang dan menghujat Roh Kudus itu tidak terjadi sekaligus tetapi secara bertahap. Menghujat Roh Kudus itu berarti kita telah sampai kepada satu klimaks tertentu sehingga tidak lagi mempunyai hati yang dapat tersentuh oleh firmanNya, kembali mengalami kematian rohani.

Zaman Gereja ialah zaman Roh Kudus dan mempunyai batas waktu untuk bekerja. Menentang dan menghujat Roh Kudus yaitu penolakkan kepada Misi AgungNya, menolak tawaran keselamatan oleh Roh Kudus dan menentang untuk tidak mau melakukan kehendakNya selama hidup. Maka manusia kehilangan kesempatan untuk diselamatkan.
Menghujat Roh Kudus janganlah kita identikkan dengan satu perbuatan tertentu dari seseorang. Misalnya, mengejek atau merintangi pekerjaan Roh Kudus dalam satu ibadah. Beberapa pengajar Alkitab dengan berani telah mengidentikkan tentang menghujat Roh Kudus dengan perbuatan tertentu misalnya beralih agama. Apakah memang benar apabila suatu ketika seseorang yang telah beralih agama kembali memohon ampun akan dosanya kepada Tuhan dan ditolak karena telah murtad. Yesus Kristus menerangkan tentang ruang lingkup pengampunan dengan mengutip nubuatan tujuh puluh kali tujuh minggu. Hal itu berarti selama Tuhan Yesus belum datang kedua kali masih ada kesempatan memohon ampun akan dosa-dosa kita (Daniel 9:24, Matius 18:21-22).

Karena itu, ciri menghujat Roh Kudus ada dua macam:

Pertama, orang berdosa yang belum bertobat, dan sudah banyak kali mendapat kesempatan mendengar Injil, Roh Kudus telah membuka hatinya, namun selalu pertimbangan manusianya dia menolak. Dan itu terjadi sampai berakhir zaman Roh Kudus, tetap mengeraskan hati dan menolak mengambil keputusan walaupun kesempatan begitu banyak. Dia telah diketuk hatiNya oleh Roh Kudus tetapi tetap menolak (Wahyu 3:20). Orang itu telah menentang misi Roh Kudus sama dengan menghujat oknum Roh Kudus.

Kedua, berlaku kepada orang yang sudah percaya namun, mulai merosot imannya oleh pengaruh dunia. Dimulai dengan perbuatan yang menduka-citakan Roh Kudus dan hal tersebut terjadi berulang-ulang dan datang kepada tahap memadamkan pekerjaan Roh Kudus (Efesus 4:30, 1 Tesalonika 5:19).

Tahap menduka-citakan Roh Kudus, melalui hidup yang selalu takluk kepada kehendak daging. Orang percaya menolak untuk dibimbing Roh Kudus ke dalam pertumbuhan, sebaliknya kehendak daging subur dalam hidupnya. Selalu menolak melakukan kehendak Roh Kudus yaitu Firman Allah (Galatia 5:17-21, 1 Yohanes 2:15-17).

Tahap memadamkan pekerjaan Roh Kudus, yaitu: apabila kita selalu menolak melakukan kehendak Allah itu berarti menolak Misi Agung Roh Kudus dalam diri kita. Sudah tentu hal ini menyakitkan Roh Kudus yang mempunyai perasaan. Apabila ini terjadi terus-menerus, Roh Kudus akan meninggalkan diri kita, kita telah memadamkan pekerjaanNya atau rencanaNya dalam diri kita sendiri. Ciri itu terasa bahwa kita tidak lagi mempunyai minat akan firmanNya. Hati menjadi tawar dan tidak pernah tersentuh lagi sebab Roh Kudus telah dipadamkan (1 Tesalonika 5:19).

Tahap kehidupan rohani yang dingin, menjadi tawar terhadap Firman Allah dan tidak pernah tersentuh lagi. Hati telah beku tidak berbau rohani sama sekali. Garam itu telah menjadi tawar dan tidak dapat diasinkan lagi. Inilah dosa menghujat Roh Kudus, kita masih di dunia tetapi kesempatan telah kita buang dengan sia-sia (Matius 5:13). Bahkan Roh Kudus berbalik menjadi musuh kita (Yesaya 63:10). Pasal 13: PENUTUP

Kasih karunia Allah yaitu, kematian Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah sebagai jalan keselamatan melalui penebusan oleh darahNya, kasih karunia ini mempunyai dimensi rohani yang sangat dalam. Roh Kudus telah memampukan manusia untuk dapat mengenal kasih karunia dan mengerti hikmat yang terdalam dari Allah Bapa. Bayangkan, betapa menjadi sia-sia kematianNya apabila Roh Kudus tidak diutus ke muka bumi. Karena itu, Tuhan Yesus menekankan untuk difahami, bahwa lebih berfaedah bagi kita untuk Dia naik ke Sorga agar supaya Roh Kudus dapat diutus ke muka bumi. Roh Kudus mempersiapkan jalan supaya manusia dapat insyaf dan sadar akan dosanya. “De Jure” keselamatan oleh pekerjaan Roh Kudus berobah menjadi “De facto”. Roh Kudus memampukan manusia untuk mengambil keputusan rohani menjadikan Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat (Yohanes 16:8, 1 Korintus 12:3, 1 Korintus 2:10-12).

Kedatangan Roh Kudus telah menjadikan Gereja Tuhan menjadi Tubuh Kristus yaitu Gereja yang organisme yang mempunyai kehidupan dan kuasa. Oleh Roh Kudus setiap orang percaya memiliki fungsional sesuai bagiannya dalam tubuh itu sendiri. Yesus Kristus sebagai Kepala berdiam di Sorga, sekarang memiliki komunikasi yang adikodrati dengan tubuhNya. Tubuh secara keseluruhan merupakan “kepenuhanNya”, yang berarti bahwa semua pewujudan dari rencana Allah Bapa di dalam Yesus Kristus dinyatakan oleh tubuhNya.

Kepada Yesus Kristus, telah dilimpahkan segala “otoritas kuasa” di Sorga dan di bumi, maka semua otoritas yang ada dalam diri Yesus yang adalah Kepala Tubuh telah dilimpahkan kepada tubuh yaitu kepenuhanNya. Karena itu, Gereja Allah melimpah dengan otoritas sorgawi dalam melaksanakan program Allah melalui Kepala. Tuhan Yesus sebelum naik ke Sorga, telah memberi “Amanat AgungNya”, untuk memberitakan kabar keselamatan yaitu penebusan oleh DarahNya, untuk menyelamatkan isi dunia. Roh Kudus merealisasi berita keselamatan oleh tubuhNya ke seluruh dunia. Segala otoritas yang dilimpahkan kepada Yesus Kristus oleh Roh Kudus menyertai pelayanan Gereja Tuhan. Gereja memiliki otoritas sorgawi dan mampu menaklukkan segala sesuatu di atas muka bumi. Kuasa setan tidak akan dapat bertahan dengan Gereja yang memiliki otoritas Roh Kudus (Matius 28:19-20), Markus 16:16-18, Kisah Para Rasul 1:8).

Kalau di dalam Perjanjian Lama hadirat Allah berada di ruangan “Maha Kudus” Kaabah Sulaiman, Allah bertempat tinggal dalam Bait Allah fisik, yaitu bangunan buatan manusia, maka pada zaman Roh Kudus Allah bertempat tinggal dan menjadikan orang percaya menjadi Kaabah kediamanNya. Roh Kudus yang ada dalam diri orang percaya itu adalah Allah sendiri (1 Yohanes 3:24). Kita bayangkan, di dalam Perjanjian Lama untuk satu bangsa Israel hanya ada satu tempat kediaman Allah yaitu di dalam tempat Maha Kudus di Bait Allah Yerusalem. Betapa mulianya, kita harus menyadari bahwa setiap orang percaya merupakan Rumah Allah, tempat kediaman Roh Kudus (1 Korintus 3:16). Kemuliaan rumah Allah ini, haruslah kita rayakan setiap hari, kita menyadari sedalam-dalamnya, kita memuliakan Dia, barulah kita dapat menikmati kebesaran kemuliaan kehadiranNya.

Dalam doa Tuhan Yesus bahwa ada satu kebenaran yang dirindukanNya digenapkan dalam diri orang percaya. Yaitu, “Datanglah KerajaanMu”. Pada saat Dia mengajarkan doa tersebut, murid-murid belum mengerti makna “datanglah kerajaanMu”, sebab Roh Kudus belum dicurahkan untuk mendiami hati orang percaya. Tuhan Yesus sedang bernubuat, supaya orang percaya dapat menikmati kemuliaan Kerajaan Allah di atas muka bumi, sebagai pengajar tentang janji Kerajaan Sorga yang akan datang.

Dalam Roma 14:17, bahwa kerajaan Sorga ialah sukacita, damai sejahtera dan kebenaran oleh Roh Kudus. Inti suasana Kerajaan Sorga adalah oknum Roh Kudus. Tidak satupun perkara jasmani atau materi menjadi pelengkap suasana Kerajaan Sorga, hanyalah Roh Kudus satu-satunya. Kemuliaan manusia pertama sebelum jatuh ke dalam dosa ialah persekutuan, sukacita, damai sejahtera dengan Allah, semuanya lenyap seketika, dan manusia berubah diliputi oleh kekuatiran dan ketakutan. Roh Kudus mengembalikan makna sesungguhnya dari manusia ciptaan Allah. Kehadiran Roh Kudus di dalam hati manusia memiliki makna kehadiran Kerajaan Allah di dalam kehidupan. Manusia atau orang percaya akan melimpah dengan damai sejahtera, suasana Sorga dalam persekutuan Allah oleh Roh Kudus. Bayangkan, kita menjadi anggota keluarga Allah, bukan dalam arti simbolis, tetapi anggota keluarga sesungguhnya, sehingga semua warisan kemuliaan Yesus juga menjadi warisan kita orang percaya (Roma 8:14-16, Galatia 4:6, Yohanes 14:27).

Apabila Gereja Tuhan secara terus-menerus oleh Roh Kudus dibimbing dalam pertumbuhan ke arah Yesus Kristus, sekali ketika secara pasti akan tiba di puncak pertumbuhan. Kita mampu menemukan kemuliaan manusia yang pernah hilang ketika jatuh kedalam dosa. Kepenuhan Kristus, yaitu kesempurnaan manusia Yesus oleh Firman Allah dan bimbingan Roh Kudus mampu berwujud dalam diri kita. Ini merupakan “Rahasia Besar”, bahwa orang percaya yang berhasil bertumbuh ke dalam kesempurnaan bisa menyaksikan bahwa maut ditelah dalam kemenangan (1 Korintus 15:51-54).

Dikatakan bahwa kita tidak akan mati semua, tetapi akan diubahkan. Gereja atau orang percaya yang berhasil bertumbuh sampai kepenuhan Kristus di akhir zaman tidak akan mengalami kematian, karena semua akan “diubahkan”. Pengubahan dari tubuh sempurna yang dari daging dan darah seperti tubuh Yesus ketika ada di bumi, kita akan peroleh tubuh rohani, dan tubuh inilah yang akan mewarisi Sorga yang kekal selama-lamanya, (baca: 1 Korintus 15:51-54). Ini yang dikatakan rasul Yohanes, bahwa sekarang sebagai anak-anak Allah kita telah merasakan kemuliaan, apalagi apabila Yesus menyatakan diri dan kita menjadi serupa dengan Dia, bagaimana dahsyatnya kemuliaan kita.

Saya tidak mampu ungkapkan secara keseluruhan betapa hebatnya kemuliaan Gereja yang dipersiapkan Allh apabila kita menyerah total memberi ketaatan sepenuhnya kepada oknum Roh Kudus. Masih melimpah kemuliaan yang diberi Roh Kudus yang belum bisa diungkapkan. Begitu pula, terlalu banyak janji-janji Allah di dalam Yesus Kristus, dan diwujudkan oleh Roh Kudus yang belum kami ungkapkan dalam tulisan yang pendek ini. Saya mengakhiri tulisan ini, mengutip:

Yesaya 62:1-2: “Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya, dan keselamatannya menyala seperti suluh. Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh Tuhan sendiri”.

Selanjutnya, ternyata kita bukan sekedar menikmati suasana Kerajaan Sorga. Tetapi tubuh kita benar-benar menjadi tempat kediamanNya dalam arti bukan hanya oknum Roh Kudus tetapi Tri-tunggal Allah. Bagaimana hal itu dapat terjadi; Yesus berkata bahwa apabila kita mengasihi Dia berarti kita harus melakukan segala perintahNya. Roh Kudus mempunyai tugas ilahi untuk memimpin orang percaya kepada semua kebenaran. Orang percaya yang mengasihi Dia, ditandai dengan bahwa mereka melakukan segala perintahNya, melakukan kehendakNya yaitu, Firman Allah (Yohanes 14:21,23). Kepada semua yang mengasihi dan melakukan perintahNya, Yesus akan menyatakan diriNya kepada orang percaya, bahkan seluruh Tri-tunggal; Bapa, Anak dan Roh Kudus akan tinggal dan diam bersama-sama orang percaya. Itulah, makna doa Yesus, tentang “datanglah KerajaanMu”. Seluruh kehidupan kita berubah menjadi Kerajaan Sorga di bumi tempat kediaman Allah.

Gereja bertugas mengemban Amanat Agung dari Tuhan Yesus. Dalam tugas evangelistis, kita tidak pergi tanpa senjata rohani, segenap perlengkapan untuk menaklukan dunia diberikan kepada GerejaNya. Daftar kharismata atau karunia-karunia (1 Korintus 12:7-11), dan karakteristik Yesus Kristus yaitu kesembilan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23), semuanya, menjadi perlengkapan yang harus ada di dalam Gereja Tuhan untuk memenangkan dunia. Kesembilan karunia-karunia Roh Kudus bersifat adikodrati akan mampu menaklukkan semua kuasa roh kegelapan. Segala kuasa menyertai Gereja sehingga akhirnya memenangkan peperangan rohani di atas bumi (Efesus 6:12, 1 Korintus 2:1-5).

Dalam Efesus 4:12-13, Gereja Tuhan sedang bergerak dalam satu pertumbuhan kualitas ke arah dewasa penuh, yaitu “Kepenuhan Kristus”. Roh Kudus mempunyai peranan untuk menjelmakan Kristus Yesus dalam diri orang percaya. Yesus Kristus ialah Allah yang menjadi manusia, sehingga dalam diri Yesus yang seratus persen manusia yaitu darah dan daging, tetapi Dia seratus persen juga berdimensi Illahi. Dia adalah Firman yang menjadi manusia, demikian juga menjadi kehendakNya dan oleh Roh Kudus menjadikan Firman Allah untuk hidup dalam diri orang percaya. Sampai kita mendapatkan ukuran penuh bahwa seluruh Firman Allah telah menjadi sifat dan karakter serta moral itulah makna “kepenuhan Kristus”, kita menjadi sama seperti Dia (Kolose 3:10, 1 Yohanes 3:2-3). Inilah titik klimaks pertumbuhan rohani orang percaya. Kristus berwujud dalam diri kita. Manusia sekeliling akan menyaksikan kemuliaan Kristus melalui kehidupan kita.

[END]@2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).

Author :

Comment(1)

  1. Reply
    Pembicara Internet Marketing says

    blog yang cukup menarik, dan themes yang sangat seo frendly. salam hangat http://www.marinirseo.web.id Pembicara Internet Marketing

Post a comment