No comments yet

Doktrin Tentang Yesus Kristus – Christology

Yesus Kristus – Christology

dilihat: 1135 kali

I. PENDAHULUAN.

Di dalam Injil disajikan dua pertanyaan yang sangat penting berhubungan dengan Tuhan Yesus Kristus. Pertanyaan-pertanyaan ini dinyatakan oleh Kristus sendiri kepada para pemimpin agama pada masaNya, dan oleh Pilatus saat orang banyak mendesakkan penyaliban Yesus.

– Matius 22:42 “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak Siapakah Dia?”
– Matius 27:22 “Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?”

Rencana keselamatan, seperti yang diungkapkan Allah di dalam Yesus Kristus bebas dari jawaban atas kedua pertanyaan ini. Apa yang dipercayai seorang tentang Yesus akan menentukan bagaimana ia berhubungan dengan Kristus. Pada gilirannya ini akan menentukan nasib yang kekal dari manusia itu. Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang kekal, yang oleh kelahiranNya dari perawan kemanusiaan tanpa dosa, kematian pengganti penguburan dan kebangkitan, membuat korban yang sempurna untuk dosa, dan oleh sebab itu menjadikan penebusan itu mungkin diterima oleh manusia yang telah jatuh. Terpisah dari Siapa Dia dan apa yang telah Ia lakukan, secara mutlak tidak ada jalan untuk mendekati Allah Bapa (Yohanes 14:16; Ibrani 7:25).
Doktrin tentang Kristus mempunyai dua bagian:

1. Oknum Kristus – siapa Ia.

2. Karya Kristus – apa yang telah Ia lakukan.

Dalam bab ini, kita akan mempertimbangkan mengenai oknum Kristus dan di dalam bab berikut mengenai karya Kristus. Ada perbedaan yang amat besar di dalam pandangan-pandangan dan bidat-bidat di seputar oknum dan karya Kristus. Semua agama dapat diuji di dalam doktrin mereka dengan melihat pandangan mereka mengenai oknum dan karya Kristus.

II. BIDAT-BIDAT MENGENAI OKNUM KRISTUS

Semua bidat mendasar mengenai oknum Kristus telah dimanifestasikan dalam bentuk benih selama masa Gereja mula-mula dan telah ditangani didalam Injil-injil dan suratan-suratan para penulis rasuli, sebenarnya tidak ada bidat baru sekarang ini tetapi yang ada hanya kebangkitan kembali bidat-bidat kuno. Karena bidat-bidat inilah maka berbagai konsili Gereja, Bapak-bapak Gereja yang berkumpul bersama-sama untuk merumuskan pernyataan doktrin serta kredo untuk membela Kristologi Gereja. Yang berikut adalah bidat-bidat yang paling terkenal mengenai oknum Kristus, yang diatasnya beberapa ajaran palsu mendirikan ajaran-ajaran mereka.

A. Ebionit.

Ebionit adalah orang-orang percaya Yahudi yang muncul di awal abad kedua. Nama mereka dari bahasa Ibrani asalnya: “Ebion” yang berarti “miskin”, “rendah” dan “tertindas”. Karena kemiskinan mereka, mereka menganggap diri mereka sebagai satu-satunya murid Kristus yang benar. Kaum ebionit percaya bahwa upacara ajaran Musa dan Yahudi masih tetap mengikat pada orang percaya Kristiani. Sementara mereka menegakkan ajaran Petrus dan Yakobus, mereka tidak menyukai tulisan-tulisan Paulus (contoh: Kolose 2:13-17) yang menolak upacara-upacara Yahudi karena telah dipakukan, disalib dan tidak mengikat orang percaya di dalam Kristus). Sebelum pengaruh mereka berangsur hilang tahun 135 M, mereka telah terbagi menjadi dua kelompok: Ebionit Farisi yang merupakan kelanjutan dari Yudais dari zamannya Paulus dan Ebionit Essenik yang lebih toleran dalam menangani para orang percaya kafir yang tidak bersunat yang tidak memelihara Sabat dan kebiasaan-kebiasaan Yahudi lainnya. Pandangan utama bidat Ebionit adalah mengenai oknum Kristus. Mereka menolak bahwa Kristus mempunyai kodrat yang Illahi, dan mengabaikan konsepsiNya yang supra natural. Di dalam penolakan ke-Tuhanan Kristus, mereka memandang Dia hanya sebagai manusia. Mereka menolak ke-TuhananNya karena percaya bahwa hal itu bertentangan dengan fakta mengenai keesaan Allah. Mereka mengajarkan bahwa bila Yesus adalah Allah, hal ini akan bertentangan dengan monoteisme, yang adalah kepercayaan bahwa hanya ada satu Allah. Ada juga bidat-bidat modern yang menjadi rekan dari bidat ini menolak ke-Tuhanan Kristus.

B. Gnostik.

Gnostik muncul pada sekitar waktu yang sama dengan Ebionit, namun mereka menempuh yang ekstrim lainnya, dengan menolak kemanusiaan yang penuh dari Kristus, kaum Gnostik juga disebut Docetas yang berarti “yang rupanya” atau “sepertinya”, karena pandangan mereka mengenai oknum Kristus. Secara mendasar ada tiga kelompok Gnostik yang memegang pandangan bidat yang sama mengenai kemanusiaan Kristus.

1. Docetas > kelompok ini menolak realitas tubuh Kristus dengan mengatakan bahwa tubuhNya hanya sebagai penampilan seperti hantu.

2. Gnostik > kelompok ini mengajarkan bahwa Kristus mempunyai tubuh riil tetapi menolak fakta bahwa tubuh itu adalah secara fisik atau materi. Mereka percaya bahwa karena daging bersifat jahat, maka tubuh Kristus tidak mungkin sebagai manusia.

3. Cerintian > Gnostik dengan nama Cerinthius yangmengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah berbeda, bahwa Yesus hanya manusia biasa, putera Yusuf dan Maria, dan bahwa Kristus adalah roh dan kuasa Allah yang turun ke atas Yesus pada saat pembaptisanNya di sungai Yordan, mereka mengajarkan bahwa Kristus berpisah dari Yesus pada saat penyalibanNya dan meninggalkan Dia menderita dan mati sendiri.

Bidat-bidat Gnostik ini disinggung dan ditangani di surat Kolose, I Timotius, II Timotius, I Yohanes, Yudas dan Wahyu (baca juga Yohanes 20:31, I Yohanes 5:20, I Yohanes 21, Ibrani 2:14, I Yohanes 4:1-4, I Timotius 3:16, Kolose 1:19, 29).

C. Arian.

Arius adalah seorang penatua di Alexandria, Mesir. Ajaran Arius berhubungan lebih tepat dengan doktrin tentang Allah bukan dengan oknum Kristus. Namun ajaran-ajarannya tidak semua dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Orang Arian mengajarkan bahwa Kristus tidak hidup sebelum penciptaan, dan bahwa Ia mahluk yang diciptakan dan bahwa oleh Dialah semua yang lain diciptakan. Dalam keadaanNya yang diciptakan, Ia disebut sebagai Logos, Anak, satu-satunya yang dilahirkan dan permulaan dari Ciptaan Allah (Yohanes 1:1-3, 14-18, Wahyu 3:14). Arius mengajarkan bahwa walaupun Anak disebutkan sebagai Allah, Ia bukan Allah dalam pengertian yang penuh dari kata itu, tetapi merupakan yang tertinggi dari semua mahluk ciptaan. Ia adalah Illahi, tetapi bukan Allah, pertengahan yang setengah allah diantara manusia dan Allah. Arianisme disalahkan diantara tahun 321-325 M oleh Alexander, Uskup Alexandria dan Arius diberhentikan dari memegang suatu jabatan di Gereja dan juga dari persekutuan, bidat ini menolak kekekalan dan bersama-sama dari oknum Kristus dengan Bapa dan Roh Kudus, menjadikan Dia sebagai mahluk ciptaan saja.

D. Apollinarian.

Apollinarius adalah seorang Uskup yang terkenal di Laodikia. Ia mengajarkan bahwa Kristus mempunyai tubuh yang sebenarnya dan jiwa animal tetapi bukan roh yang rational atau akal budi. Karena kesulitan dalam mengajarkan bahwa Anak yang kekal memberikan roh atau akal budi Yesus Kristus. Jadi tubuh dan jiwa adalah bagian yang manusiawi dan Anak yang kekal adalah Ilahi atau bagian yang roh dari Yesus. Pengajaran ini menolak kesempurnaan kodrat manusia dari Kristus, dengan mengajarkan bahwa Ia hanya mempunyai dua bagian dan bukan kemanusiaan yang total dan penuh ialah roh, jiwa dan tubuh (I Tesalonika 5:23). Apollinarianisme disalahkan oleh Konsili dan Konstantinopel tahun 318 M dan dicap bidat.

E. Nestorian.

Nestorius, Uskup di Konstantinopel, mengajar mengenai oknum Kristus, bahwa ada dua kepribadian yang tersangkut. Ia menolak persatuan yang sebenarnya dari kodrat yang Ilahi dan manusiawi di dalam Kristus, dengan mengatakan bahwa Logos (kepribadian yang Ilahi) berdiam di dalam Yesus Kristus (kepribadian yang manusiawi), menjadikan dua oknum yang berhubungan. Ia mengajukan Kristus sebagai manusia yang dipenuhi Roh, manusia yang dipenuhi Allah, tetapi bukan ke-Allahan yang sebenarnya dan manusia yang sebenarnya di dalam satu oknum. Cyrilus dari Alexandria menentang ajaran Nestorius dan Nestorius disalahkan dan dikucilkan oleh Sinode di Efesus tahun 431 M, bentuk Kenoticisme yang mengajarkan bahwa waktu Anak Allah menjadi manusia, Ia mengosongkan diriNya dari sifat-sifat Ilahi sehingga adalah sebagai manusia yang dapat melakukan kekeliruan intelektual dan kesalahan, sangat erat hubungannya dengan Nestorianisme.

F. Eutyehian.

Dalam tahun 415 M bidat mengenai oknum Kristus beralih ke aliran lain. Ekutyches mengambil posisi ekstrim yang bertentangan dengan Nestorius. Ia berpegang bahwa Kristus hanya mempunyai satu kodrat dan kehendak, bukan dua kodrat atau kehendak, Ia mengajarkan bahwa kodrat yang Ilahi dan yang manusiawi itu demikian bercampur ke dalam yang satu sehingga sebenarnya telah membentuk kodrat ketiga. Ajaran ini menjadikan Kristus bukan Allah dan bukan manusia tetapi orang ketiga yang dihasilkan oleh percampuran dari yang dua walaupun keduanya berbeda. Ini mengurangi Kristus menjadi oknum yang bersifat “hebrida”. Eutyches berpegang bahwa segala sesuatu mengenai Kristus adalah Ilahi, malahan juga tubuhNya dan sifat manusiaNya.

G. Monofisit.

Eutychianisme juga mengalir menjadi beberapa aliran yang lebih kecil, yang disebut secara singkat disini.

1. Monofisit adalah nama lain suatu cabang Eutychian karena mereka menekankan bahwa Kristus hanya mempunyai satu kodrat atau kehendak.

Ini muncul dari kesulitan untuk melihat keharmonisan dan hubungan dua kodrat dan kehendak dalam satu oknum Kristus. Dalam tahun 680-681 M, Konsoli di Konstantinopel menyalahkan doktrin mereka dan berpegang bahwa Kristus sesungguhnya mempunyai dua kodrat yang berbeda, yang Ilahi dan yang manusia dan dengan demikian mengharuskan mempunyai dua inteligensi dan dua kehendak. Keduanya dalam kesatuan yang harmonis dimana kehendak yang manusia tunduk pada kehendak yang Ilahi.

2. Adopsionis sesungguhnya satu cabang dari Eutychianisme, Apolinarianisme dan Nestorianisme.

Bidat ini mengajarkan bahwa kemanusiaan dari Kristus hanya dengan adopsi. Ini menolak kemanusiaan Kristus yang dilahirkan dan yang sekarang adalah kemanusiaan yang kekal. Sebelum mendefinisikan dan menafsirkan pandangan ortodoks mengenai oknum Kristus kami akan meringkaskan bidat-bidat penting yang telah dibicarakan.

Ebionit – menolak ke Allahan Kristus. Gnostik – menolak kemanusiaan Kristus Arian – mengajarkan bahwa Kristus adalah mahluk ciptaan. Apollinarian – menolak persatuan kedua kodrat didalam Kristus, merendahkan Dia menjadi manusia yang dipenuhi dengan Allah. Eutychian – menolak pembedaan kedua kodrat Kristus, jadi mengadakan kodrat ketiga atau hibrida dari keduanya. Monofisit – menolak kedua kodrat dan kehendak di dalam satu oknum Kristus.

III. PERNYATAAN ORTODOKS MENGENAI OKNUM KRISTUS.

Karena bidat-bidat marah-marah mengenai oknum Kristus, berbagai konsili Gereja berkumpul secara periodik untuk menyiapkan kredo yang berlandaskan kebenaran didalam suatu usaha untuk memelihara dan menjaga “iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3) para rasul sendiri tidak pernah memformulasikan suatu kredo sedemikian, namun kebenaran itu terserak dalam pernyataan-pernyataan fragmentasi di seluruh tulisan-tulisan mereka. Ini semua perlu dibawa bersama-sama dan dipelajari secara seksama untuk merumuskan kredo yang akan mendefinisikan sebaik-baiknya kebenaran mengenai oknum Kristus. Kami mencatat beberapa kredo yang menyatakan sebaik-baiknya posisi ortodoks mengenai oknum Kristus yang mulia itu. Kredo berikut adalah yang dirumuskan di Konsili Chalcedon tahun 441 M. Karena sehatnya secara teologis maka dikutip lengkap.

“Mengenai bapak-bapak suci kita semua dengan bersetuju mengajarkan dan mengakui Anak yang satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, sama sempurna dalam ke-Allahan, dan sama sempurna dalam kemanusiaan, Allah yang sebenarnya, dan manusia sebenarnya yang sama, dari jiwa dan tubuh yang layak, dari substansi yang sama dengan Bapa dalam hal ke-IlahianNya, dari substansi yang sama dengan kita dalam kemanusianNya, dalam segala sesuatu sama dengan kita, kecuali dosa, sebelum masa peranakkan Bapa dalam hal ke-AllahanNya, namun pada hari kemudian, untuk kita dan untuk penebusan kita, diperanakkan (sama) dari Perawan Maria, bunda Allah, untuk kemanusianNya, Kristus yang satu dan yang sama, Anak, Tuhan, satu-satunya yang dilahirkan, yang dimanifestasikan dalam dua kodrat tanpa kekacauan, tanpa pertukaran, tak dapat dibagikan, tak dapat dipisahkan. Pembedaan kodrat tidak dihapuskan oleh persatuan, namun milik masing-masing terpelihara dan dikombinasikan dalam satu oknum dan satu gypostatis; bukan satu yang kuat atau yang terbagi ke dalam dua oknum, tetapi anak yang satu dan yang sama dan yang dilahirkan satu-satunya, yaitu Allah, Logos, dan Tuhan Yesus Kristus. (Robert Clarke, dalam “The Christ of God” hal. 41-42).”

Henry Thiessen dalam “Lectures in Systematic Theology” (hal. 286), dalam mengutip dari Strong, menulis: “Dalam satu oknum Yesus Kristus, ada dua kodrat, kodrat yang manusia dan yang Ilahi, masing-masing di dalam kesempurnaan dan integritasnya, dan kedua kodrat ini bersatu secara organis dan tak dapat dilarutkan, namun sedemikian sehingga tak ada kodrat ketiga yang terbentuk. Secara singkat (dengan menggunakan diktum antik) doktrin ortodoks melarang kita untuk membagi oknum itu atau mengacaukan kodrat-kodratnya”.

Selanjutnya: “Penebusan manusia dari dosa seharusnya dihasilkan melalui seorang Perantara yang seharusnya menyatukan di dalam DiriNya kodrat manusia dan yang Ilahi supaya Ia dapat mendamaikan Allah dengan manusia, dan manusia dengan Allah”.

Dan akhirnya, pernyataan dari penulis buku ini: “Tuhan Yesus Kristus adalah Anak yang kekal dari Allah, yang ada sebelumnya, bersama Bapa, dan oleh inkarnasiNya dan kelahiranNya dari Perawan. Mengenakan pada DiriNya bentuk Manusia dan diungkapkan sebagai Manusia Allah. Di dalam satu oknum Kristus, ada dua kodrat, yang manusia dan yang Ilahi, yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dibagi, mengklasifikasikan Dia untuk menjadi satu-satunya perantara diantara Allah dan manusia. Yesus Kristus adalah tanpa dosa, sempurna, disalibkan dikuburkan, bangkit, naik, dimuliakan dan Ia akan datang kembali kali yang kedua dalam kemuliaan dan penghakiman”.

Posisi ortodoks mengenai oknum Kristus adalah bahwa Kristus adalah Allah yang sebenarnya dan Manusia yang sebenarnya, bahwa oleh karena persatuan dua kodrat di dalam Dia, maka Ia menjadi perantara yang sempurna di antara Allah dan manusia.

IV. NUBUAT-NUBUAT PERJANJIAN LAMA MENGENAI OKNUM KRISTUS

Penyelidikan atas nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai kedatangan Mesias mengungkapkan bahwa ada dua aliran pemikiran. Aliran yang satu berbicara mengenai ke-Allahan Kristus, sementara yang lain berbicara mengenai kemanusiaan dari Kristus. Para penafsir Yahudi atas Perjanjian Lama tidak dapat mendamaikan aliran ini. Mereka tak dapat memahami bagaimana Mesias itu Ilahi, namun juga manusia. Oleh karena itu mereka salah memahami dan tidak bertemu dengan Mesias itu yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci mereka bahwa Ia akan datang.

A. Ke-Allahan dari Kristus.

Ayat-ayat yang berikut menyatakan ke-Allahan dari Kristus, menunjukkan bahwa Penebus itu adalah Allah yang berinkarnasi.

1. “Seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14).

2. “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita … dan namaNya disebut orang : “Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5-6). ” … Tuhan keadilan kita” (Yeremia 23:5-6).

3. Hai Betlehem … dari padamu akan bangkit bagiKu, seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala (sejak masa kekekalan)” (Mikha 5:1).

4. “Siapa namanya dan siapa nama anaknya ? Engkau tentu tahu” (Amsal 30:4).

5. “AnakKu engkau. Engkau telah Kuperanakkan hari ini” (Mazmur 2:7).

6. “Tahtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya (Mazmur 45:7).

B. Kemanusiaan Kristus.

Ayat-ayat ini menyarankan bahwa Penebus itu seorang manusia, lahir dari seorang perempuan. Ayat itu menyatakan kemanusiaan Mesias, sebagaimana ayat-ayat sebelumnya menyatakan ke-AllahanNya.

1. Penebus itu adalah “benih perempuan itu” yang akan meremukkan kepala ular itu (Kejadian 3:15). Ini adalah nubuat tentang Kelahiran dari Perawan dalam bentuknya yang mengandung teka-teki.

2. Mesias juga akan datang dari Kemah Sem (Kejadian 9:26).

3. Penebus adalah “benih Abraham” (Kejadian 22:18).

4. Penebus itu adalah “benih Ishak” (Kejadian 26:2-4).

5. Janji ini juga dikuatkan pada “benih Yakub” (Kejadian 28:13-14).

6. Mesias akan datang dari bangsa Israel (Bilangan 24:17-19).

7. Tuhan juga menubuatkan bahwa seorang nabi “seperti Musa” yang mati akan dibangkitkan dari antara saudara-saudaranya (Ulangan 18:15-18).

8. Mesias akan datang dari suku Yehuda (Kejadian 49:10-12).

9. Mesias akan datang dari keluarga Isai (Yesaya 11:1-2).

10. Mesias akan datang dari Rumah Daud (II Samuel 7:12-14).

11. Janji Kitab Suci bawha “seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan menamakan Dia – Imanuel” (Yesaya 7:14).

12. Mesias ini adalah “seorang laki-laki, yang namaNya “Sang Tunas” (Zakharia 3:8; 6:10-12; Yesaya 11:1-4).

Semua referensi ini menunjukkan bagaimana Allah menyendirikan seorang laki-laki, kemudian suatu bangsa dari laki-laki”, yang namaNya “Sang Tunas” (Zakharia 3:8; 6:10-12; Yesaya 11:1-4).

Para nabi Perjanjian Lama menubuatkan Mesias sebagai Allah dan manusia, memiliki kodrat yang Ilahi dan manusiawi di dalam seorang oknum. Bahwa sulit untuk mendamaikan kedua aliran nubuat Mesianik itu tentu jelas, karena bagaimana dapat terjadi bahwa Penebus ini sebagai Allah dan manusia pada waktu yang sama? Hanya didalam kesaksian Perjanjian Baru mengenai penggenapan historis didalam Injil-injil dan kemudian adanya wahyu doktrinal di suratan-suratan kita dapat menemukan penyelesaian teka-teki itu dan dapat melihat bagaimana Allah mendamaikan kedua aliran nubuat ini. Mujizat inkarnasi adalah jawaban Allah atas pertanyaan itu. Semasa manusia diturunkan oleh seorang bapa secara manusiawi dan dilahirkan oleh seorang ibu sebagai manusia, mulai dari penciptaan Adam dan Hawa, orang tua yang pertama ini bukan halnya pada Mesias. Ia dilahirkan dari ibu manusia, seorang anak dara. Tetapi Ia tidak diturunkan oleh seorang bapa manusia, karena Allah adalah BapaNya. Anak ini adalah “benih perempuan itu” (Kejadian 3:15). Tetapi “Anak Allah” oleh anak dara (Yesaya 7:14). Ini mendapatkan penggenapannya yang mulia di dalam kelahiran oleh anak dara pada Yesus Kristus oleh kuasa dan naungan dari roh Kudus (Matius 1:18-23 dengan Lukas 1:35).

Para modernis dapat saja menolak kelahiran oleh anak dara, pengetahuan ilmiah mungkin saja tidak dapat mengakuinya, dan kesombongan rohani dapat saja menyatakan bahwa konsekuensinya tidak riil, namun pentingnya secara Alkitabiah dari hal ini bukan anggapan yang terlalu berlebihan. Di atas fakta kelahiran dari anak dara inilah doktrin Alkitab itu tergantung. Bila Yesus Kristus tidak lahir dari anak dara, Ia bukannya tanpa dosa, dan bila Ia bukan tanpa dosa, maka Ia sendiri memerlukan Juru Selamat. Bila Ia sendiri memerlukan keselamatan, maka Ia tak dapat menjadi Juruselamat kita, Tuhan atau Raja kita, dan semua rencana penebusan jatuh berkeping-keping ke tanah. Jadi kita perlu memahami dan mempercayai arti mendasar dari inkarnasi.

V. INKARNASI KRISTUS

A. Fakta Inkarnasi.

Semua penulis Perjanjian Baru membuktikan kebenaran dari Inkarnasi. Kelahiran Yesus Kristus adalah fakta historis dan penulis-penulis Alkitab di bawah inspirasi Roh Kudus memberikan kepada kita seluk-beluk dari peristiwa mujizat ini. Kata “inkarnasi” secara sederhana berarti “Allah mengambil pada DiriNya daging manusia”. Allah mengambil bentuk manusia atau menyaluti DiriNya dengan daging di dalam kelahiran dari anak dara itu. Asal-usul dari Kristus, Anak itu, dalam hal kemanusiaanNya, ditelusuri asalnya dari karya Roh Kudus. Allah menjadi manusia di dalam Yesus, ke-Allahan memakaikan kepada DiriNya kemanusiaan. A.B. Bruce mengatakan “Bukanlah kemanusiaan yang di Allahkan, tetapi turunnya Allah ke dalam kemanusiaan. Bukannya manusia yang mengambil Allah kepada dirinya, melainkan Allah yang mengambil kemanusiaan”.

1. Inkarnasi secara Historis.

a. Kepada Maria (Lukas 1:26-35, Yeremia 31:22).

Malaikat Gabriel dikirim kepada Maria, seorang dara muda Ibrani, untuk mengumumkan kelahiran Mesias. Perkataan itu jelas, Anak itu bukan hasil benih laki-laki, tetapi bahwa Roh Kudus sendiri yang menaungi perawan itu dan menempatkan di dalam kandungannya benih dari Allah Bapa. Anak ini nanti adalah sebagai ciptaan tanpa dosa yang dihasilkan oleh mujizat Allah dan respons dari anak dara yang suci ini. Tidak ada sesuatu yang tidak suci dalam kelahiran Anak ini, Allah akan menghasilkan mahluk tanpa dosa, yang sempurna, yang kekal dari mahluk berdosa, tidak sempurna dan yang fana. Inilah mujizat kelahiran dari anak dara. Ini tak dapat diterangkan oleh alat-alat yang murni manusiawi atau alamiah. Maria, dalam kepenuhan iman mau menerima tanggung jawab dan tantangan untuk menjadi ibu dari Kristus – Anak itu (Lukas 2:34-35).

b. Kepada Yusuf (Matius 1:18-25).

Matius, setelah mencatat silsilah Yesus memecahkan pola keturunan biasa dengan memperkenalkan kelahiran mujizat dari Yesus dengan “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: laporan ini mengatakan bahwa Maria ternyata mengandung dari Roh Kudus. Silsilah Mesianik adalah kelahiran dari manusia, tetapi Mesias lahir dari Maria. Yusuf yang mengetahui bahwa isteri yang besertanya mengandung bermaksud untuk menceraikannya, supaya ia tidak akan dirajam mati, sesuai hukum Musa. Tetapi, malaikat dari Tuhan datang kepadanya dan secara khusus mengatakan kepadanya bahwa anak itu akan menjadi Anak yang akan dinamakan Yesus, Anak ini hasil dari naungan Roh Kudus dan menjadi Imanuel, yang berarti “Allah beserta kita”. Di dalam iman, Yusuf bersedia untuk menjadi pemelihara resmi dari anak yang lahir dari anak dara itu, menerima kesaksian dari malaikat mengenai kesucian dari isteri yang besertanya, dan menerima fakta mujizat dari kelahiran anak dara itu.

2. Inkarnasi secara Pribadi.

 Yesus sendiri memberikan banyak kesaksian tentang asal-usulNya sendiri termasuk kebenaran kelahiranNya secara mujizat. Yesus mengatakan “Aku datang dari Allah, Aku datang dari Bapa …” (Yohanes 16:27, 8:42). Yesus mengetahui bahwa Ia adalah Tuhan dari Daud (dalam hal ke-AllahanNya) dan anak Daud (dalam hal kemanusiaanNya – Matius 22:42-46, Wahyu 22:16, Mazmur 110:1). Dalam beberapa kesempatan Ia menyatakan bahwa Allah adalah BapaNya dan tidak pernah mengatakan bahwa Yusuf adalah BapaNya (Yohanes 2:16, 5:17-47, 6:32-40, 8:42). Allah Bapa juga membuktikan atas kelahiran anak secara mujizat. Tiga kali Ia bersabda dari Surga, dua kali dari padanya membuktikan fakta itu. “Inilah anakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan”. (Matius 3:16-19; 17:1-5; Yohanes 12:27-29). Inilah pengambilan tanggung jawab oleh Bapa atas cara kelahiran anakNya. Ini adalah cara Bapa mengakui kelahiran dari Anak, Yesus mengetahui mengenai keberadaanNya sebelumnya bersama Bapa, ke-AllahanNya, dan bahwa Ia dilahirkan dari perawan sebagai Manusia Allah. Menolak kelahiran dari perawan berarti menolak kesaksian Kristus, dan juga menyaksikan Bapa.

3. Inkarnasi secara Teologia.

Sudah diperdebatkan oleh mereka yang menolak kelahiran dari perawan bahwa para penulis suratan tidak pernah berbicara mengenai hal itu. Tetapi hal ini tidak demikian, karena mereka secara jelas berbicara tentang ke-Allahan Kristus dan kemanusianNya, namun lebih banyak dalam bahasa teologia. Kutipan-kutipan singkat yang berikut serta referensi-referensinya adalah cara rasul-rasul meneguhkan kebenaran dari kelahiran oleh perawan.

a. Paulus.

Rasul Paulus mempunyai beberapa ungkapan yang unik yang berbicara tentang inkarnasi. Ini membuktikan kebenaran mendasar kelahiran dari perawan.

(1) Yesus Kristus Tuhan kita menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud” (Roma 1:3-4).
(2) Allah mengutus AnakNya, pada waktunya, “yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum “Taurat” (Galatian 4:4).
(3) Di dalam Kristus “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9; 1:19).
(4) Agunglah rahasia ibadah kita, “Allah telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia” (I Timotius 3:16).
(5) Perantara yang esa diantara Allah dan manusia, yaitu “manusia Kristus Yesus” (I Timotius 2:5).
(6) “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya, Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14).
(7) Allah mengutus AnakNya “yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Roma 8:3).
(8) Kristus datang dari bapa-bapa leluhur “dalam keadaanNya sebagai manusia” (Roma 9:5).
(9) Walaupun Kristus secara asli “dalam rupa Allah”, namun Ia telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil “rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:5-8).
(10) Waktu Yesus masuk ke dalam dunia dengan inkarnasi, Ia berkata, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu” (Ibrani 19:5). Tubuh ini disediakan atau dilengkapi secara sempurna untuk melakukan kehendak Allah pada perawan Maria. Waktu Allah menjadikan Adam, Ia membuat tubuh dari debu tanah (Kejadian 2:7). Waktu Allah membuat Hawa, Ia membuat tubuh dari rusuk Adam (Kejadian 2:21-22). Semua mahluk manusia lainnya menerima tubuh melalui proses alamiah yang meliputi persatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan, tetapi di dalam hal tubuh Anak Allah tidak diciptakan secara demikian, namun disediakan di dalam kandungan perawan Maria dengan kuasa Roh Kudus (Lukas 1:30-33).

b. Petrus.

Rasul Petrus juga mengetahui dengan wahyu kebenaran dari ke-Allahan Kristus dan kelahiran dari perawan.

(1) Petrus mengakui bahwa Yesus Kristus adalah “Anak Allah yang hidup” (Matius 16:16). Ia bukan hanya sebagai Anak Manusia, sebagaimana Yesus menyebutkan DiriNya, tetapi Anak Allah, Yesus mengetahui bahwa Petrus telah menerima wahyu ini dari Allah Bapa. Ini adalah acara lain untuk mengakui kelahiran dari perawan, dan keputeraan yang Ilahi dari Kristus.

(2) Ia telah dipilih sebelum menjadi Anak Domba Allah sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kita baru menyatakan diriNya pada zaman akhir (I Petrus 1:18-20). Pra-eksistensi, inkarnasi dan penebusan adalah kebenaran yang dinyatakan Petrus disini.

c. Yohanes.

Yohanes juga meneguhkan ke-Allahan dan kemanusiaan Kristus.

(1) Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita (Yohanes 1:1-3, 14-18). Inilah cara Yohanes berbicara mengenai kelahiran dari perawan.

(2) Nabi-nabi palsu menyangkal bahwa “Yesus Kristus telah datang sebagai manusia” (I Yohanes 4:1-3).

(3) Penyesat dan anti Kristus tidak mengakui bahwa “Yesus Kristus telah datang dan sebagai manusia” (2 Yohanes 7:10).

Setelah memperhatikan referensi-referensi singkat ini bahwa semua menunjuk kepada kebenaran mendasar dari inkarnasi, Yesus Kristus adalah Allah yang dimanifestasikan di dalam daging. Ialah Manusia Allah. Para rasul itu menguatkan secara teologis di dalam suratan-suratan mengenai kelahiran dari perawan sebagaimana telah dinyatakan secara historis di dalam Injil-injil.

Di dalam Matius, Yesus disajikan sebagai Anak Daud (Yesaya 11:1; Matius 1:1).

Di dalam Markus, Yesus disajikan sebagai Anak Manusia (Zakharia 3:8; Markus 8:38). Di dalam Lukas, Yesus disajikan sebagai Anak Adam (Zakharia 6:12-13; Lukas 3:38). Di dalam Yohanes, Yesus disajikan sebagai Anak Allah (Yesaya 4:2; 7:14; Yohanes 3:16).
Di atas fakta inkarnasi atau kelahiran dari perawan itulah kebenaran tentang pra-eksistensi, ke-Allahan, Juruselamat, ke-Tuhanan, kebangkitan dan keseluruhan rencan penebusan itu terletak.

B. Pentingnya Inkarnasi.

Ada dua perkara utama yang mengharuskan adanya inkarnasi. Kejatuhan dan keberdosaan manusia, serta Allah yang mengadakan dan memelihara perjanjian. Waktu Allah menciptakan manusia, itu adalah di atas dasar Perjanjian Eden. Fakta bahwa Allah adalah pembuat perjanjian dan pemeliharaan perjanjian berarti bahwa sebagai Pencipta Ia mewajibkan diri demi ciptaan itu (Kejadian 1:26-28). Waktu manusia berdosa Allah tetap diwajibkan oleh kehendakNya sendiri, terutama dalam hal penebusan. Ini harus digenapi oleh Perjanjian Baru (Yeremia 31:31-34) sesungguhnya semua perjanjian Allah menyokong fakta ini. Untuk menyatakannya secara lebih khusus, manusia berdosa dan oleh sebab itu berada dibawah hukuman maut (Kejadian 2:16-17). Jadi ia memerlukan seseorang untuk menebusnya dari maut. Tetapi semua yang akan lahir dari Adam bagaimanapun tidak dapat menebus saudaranya (Mazmur 49:7-8; 51:5; 58:3). Bila seorang manusia harus ditebus, maka manusia harus mati untuk manusia, dan bila tak seorangpun dari ras Adam yang dapat melakukan hal ini maka hanya Allah saja yang dapat menebus manusia sebagai Allah, Ia harus menjadi manusia. Kejatuhan manusia mengharuskan Allah yang memelihara perjanjian itu untuk menjadi manusia supaya menebus manusia kembali kepada hubungan dengan diriNya.

Dosalah yang mengharuskan inkarnasi. Tetapi, bila Allah harus menjadi manusia maka manusia itu harus tanpa dosa atau terpisah dari dosa. Bila tidak, maka Ia sendiri akan menjadi berdosa dan tidak sanggup menebus yang lainnya. Jawaban Allah kelihatan di dalam mujizat kelahiran dari perawan, dimana Allah memakaikan pada DiriNya dengan daging manusia dan dilahirkan oleh Maria ke dalam ras manusia. Tetapi tidak mewarisi sifat dasar manusi yang telah jatuh, yang berdsoa atau rusak. Ia mengambil kodrat manusia yang tanpa dosa dan menyatukannya dengan kodrat yang Ilahi. Waktu Allah menubuatkan sebelumnya malalui nabi Yeremia bahwa akan datang hari-hari waktu Ia akan mengadakan suatu Perjanjian Baru dengan Rumah Israel dan Rumah Yehuda, Ia mengharuskan DiriNya untuk mati. Ini juga mengharuskan adanya inkarnasi, karena Allah tidak dapat mati sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia (Yeremia 31:31-34; Ibrani 8:8-13), mempunyai kekuatan sesudah manusia mati. Jadi Perjanjian Baru belum dapat berjalan sampai kematian dari yang mewasiatkan yaitu Yesus Kristus ringkasannya:

1. Manusia berdosa dan oleh sebab itu harus mati (I Korintus 15:21; Roma 5:12-21; Kejadian 2:16-17).

2. Hanya manusia yang dapat mati untuk manusia, tetapi tak seorangpun manusia yang lahir dari ras Adam yang memenuhi syarat, karena semua lahir di dalam dosa, dibentuk didalam kesalahan. Tak seorangpun yang lahir dari ras Adam yang bersih (Ayub 14:4; Mazmur 51:1-5; 58:3).

3. Hanya Allah yang dapat menebus manusia. Namun Allah tidak dapat menebus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia. Jadi Allah menjelma menjadi manusia yang tidak berdosa oleh inkarnasi untuk menebus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia. Jadi Allah menjelma menjadi manusia yang tidak berdosa oleh inkarnasi untuk menebus manusia kembali kepada DiriNya (Galatia 4:4-5; 1 Petrus 2:22; 1 Yohanes 3:5; 2 Korintus 5:21). Oleh kelahiran dari perawan, Allah menghasilkan mahluk ciptaan yang tanpa dosa dari mahluk ciptaan yang berdsoa.

C. Sifat Dasar dari Inkarnasi.

Sifat dasar inkarnasi diberikan kepada kita oleh Paulus di surat Filipi dalam penghinaan diri rangkap tujuh. Tujuan langkah penghinaan diri oleh Kristus dituliskan di dalam ringkasan dari Filipi 2:6-8 berikut:

1. Walaupun dalam rupa Allah.

2. Tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.

3. Melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri.

4. Mengambil rupa seorang hamba.

5. Menjadi sama dengan manusia.

6. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya.

7. Taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.

Perendahan diri rangkap tujuh ini dapat diringkaskan menjadi tiga pokok teologis besar :

1) Ke-AllahanNya, klausa 1 dan 2;

2) KemanusiaanNya, klausa 3,4 dan 5

3) PenyalibanNya, klausa 6 dan 7.

Waktu Paulus menyatakan bahwa Kristus “telah mengosongkan diriNya sendiri”, ia mengatakan bahwa Kristus mengosongkan diriNya. Dengan adanya “dalam rupa Allah” lalu mengambil “rupa seorang manusia” disana ada proses pengosongan diri ini dikatakan sebagai Teori Kenosis. Ungkapan “mengosongkan diriNya” berasal dari kata Grika “Kenoo” yang berarti “menjadikan kosong”. Para teolog umumnya menerima Teori Kenosis, bahwa Kristus memang mengosongkan diriNya dalam inkarnasi, namun ada banyak kesalah-pahaman mengenai teori ini. Pertanyaan yang biasa yaitu, “dengan cara bagaimana Kristus mengosongkan diriNya? “terdiri dari apakah pengosongan diri itu?” dan “waktu menjadi manusia apakah Ia berhenti menjadi Allah?”.

1. Konsep-konsep yang salah.

a. Teori ini berpegang bahwa Kristus di dalam pengosongan diriNya, mengesampingkan ke-AllahanNya, melepaskan atribut-atribut esensialNya waktu Ia mengambil kemanusiaan pada diriNya. Dapat dibuktikan bahwa Yesus selalu sadar akan ke-AllahanNya. Ke-Allahan dapat mengambil kemanusiaan dan menyatukan dengan diriNya namun tidak dapat berhenti dari ke-Allahan, maka Yesus adalah Allah yang memanifestasikan di dalam daging.

b. Ia mengosongkan diriNya dari pemilikan atribut-atribut Ilahi. Teori ini berpegang bahwa waktu menjadi manusia, Kristus melepaskan dari atribut-atribut ke-Allahan esensial tertentu, seperti kemaha-kuasaan, kemaha-hadiran, dan kemaha-tahuan. Dipihak lain, teori ini berpegang bahwa Kristus waktu menjadi manusia tidak mengosongkan diriNya dari atribut-atribut moralNya, seperti kasih, kebenaran, kekudusan dan kehidupan atribut esensial lain seperti self eksistensi (keberadaan sendiri), kekekalan dan kesatuan dengan Bapa tidak diserahkan. Tetapi, bila sekiranya Kristus telah menyerahkan beberapa atribut Ilahi, dan rupanya ini tidak mungkin, maka Ia sudah berhenti dari menjadi Allah sepenuhnya.

c. Ia mengosongkan diriNya dari Pemilikan secara nyata akan atribut-atribut Ilahi. Teori ini berpegang bahwa Kristus tidak membebaskan diriNya dari atribut-atribut esensial dan moral, tetapi hanya bertindak seolah-olah Ia tidak memilikinya. Teori ini memperkenalkan unsur penipuan yang sama sekali bukan sifat dari Allah yang benar.

d. Ia mengosongkan diriNya dari penggunaan atribut-atribut Ilahi. Konsep ini berpegang Kristus dalam pengosongan diriNya, berhenti menggunakan atribut-atribut Ilahi. Ini berpegang bahwa Ia tidak berhenti memiliki kodrat Ilahi dan atribut ilahi tetapi hanya berhenti menggunakannya. Tetapi, Injil-injil seperti yang akan terlihat menunjukkan bahwa Ia menggunakan atau mempraktekkan atribut-atribut Ilahi sewaktu-waktu.

2. Konsep yang benar.

Waktu menjadi manusia Kristus tidak berhenti menjadi Allah, dan Ia juga tidak melepaskan dari pemilikan atau menggunakan atribut-atribut Illahi, baik yang esensial maupun yang moral. Nanti akan dilihat bahwa Allah tidak berubah menjadi manusia, tetapi hanya mengambil kodrat manusia tanpa berhenti menjadi Allah.

Jadi terdiri dari apakah pengosongan diri ini ? Kristus menyerahkan penggunaan yang bebas dari atribut-atribut Ilahi. Ia mengesampingkan prerogatifNya sebagai Allah untuk bertindak sebagai Allah, dan menjadi tergantung pada kehendak Bapa untuk pelaksanaan, bekerjanya atau manifestasi apapun dari atribut-atribut ini. A.H. Strong dalam “Systematic Theology” mengatakan “Perendahan diri ini terdiri dari penyerahan yang terus menerus di pihak Manusia-Allah sejauh yang dimaksudkan adalah kodrat manusiaNya, di dalam menerapkan kuasa-kuasa Ilahi yang dengannya diberkati berdasarkan persatuanNya dengan yang Ilahi, dan di dalam penerimaan sukarela, yang mengikuti ini, yaitu pencobaan, penderitaan dan kematian.”

a. Kristus selalu adalah Allah.

Sebelum inkarnasiNya, Kristus adalah dalam rupa Allah (Filipi 2:6-8). Waktu menjadi manusia Ia tidak berhenti menjadi Allah. Kebenaran dari ke-AllahanNya yang esensial sebelum inkarnasiNya menghindari bahwa Ia dapat berhenti menjadi Allah karena menjadi manusia. Yesus adalah Allah sebelum dan selama inkarnasiNya. Tidak pernah Ia berhenti menjadi Allah, Ia kekal sebagai Allah, tetapi mengambil kemanusiaan atas diriNya. Waktu mengambil kemanusiaan, Ia tidak mengosongkan diriNya dari ke-Allahan. Menolak hal ini berarti jatuh ke dalam bidat dari abad-abad permulaan dan bersekutu dengan mereka yang menolak ke “Allahan Kristus”.

Herbert Lockyer dalam “All the Doctrines of the Bible” mengatakan: “Pada inkarnasiNya Kristus menambahkan pada kodrat IlahiNya yang sudah ada kondrat manusia dan menjadi Manusia-Allah. Di masa generasi kita, ditambahkan pada kodrat manusia kita yang sudah ada, kodrat Ilahi sehingga kita menambil bagian dalam kodrat Ilahi itu (2 Petrus 1:4). Jadi, seperti Kristus, setiap orang Kristen yang benar adalah manusia-Ilahi”.

Dalam mengutip Dr. Lousis Berkhof, Lockyer selanjutnya menulis “Kristus mempunyai kodrat manusia, tetapi Ia bukan oknum manusia. Oknum perantara adalah Anak Allah yang tak dapat diubah. Dalam inkarnasi Ia tidak berubah menjadi oknum manusia, dan juga Ia tidak mengambil oknum manusia. Ia hanya mengambil, sebagai tambahan atas kondrat IlahiNya, kodrat manusia yang tidak berkembang menjadi suatu kepribadian yang bebas, tetapi menjadi pribadi di dalam oknum dari Anak Allah”.

b. Kristus selalu memiliki atribut Ilahi.

Waktu menjadi Manusia, Kristus tidak mengosongkan diriNya dari suatu atribut esensial atau moral apapun. Kita mencatat ini dalam ayat-ayat Firman Tuhan berikut:

(1) Atribut-atribut Esensial.

(a) Kemaha-hadiran (Yohanes 3:13; Matius 28:19-20; 18:20).

Yesus tahu, sebagai Anak Allah, bahwa Ia ada di bumi dan juga ada di Sorga. Inilah kemaha-hadiran. Hanya dengan atribut ini Ia dapat beserta dengan umatNya dimana saja pada setiap waktu.

(b) Kemaha-kuasaanNya (Yohanes 6:36; 14:11; 10:25, 37-38; 15:24).

Karya Kristus adalah karya Ilahi. Ada pekerjaan tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Yesus mengampuni dosa, menyatakan nama Ilahi, AKU ADA, dan mempraktekkan kuasa-kuasa kreatif yang hanya menjadi milik ke-Allahan Yesus adalah Maha Kuasa.

(c) Kemaha-tahuan (Yohanes 2:24-25; 18:4).

Yesus mengetahui semua manusia. Ia juga mengetahui semua yang ada didalam manusia. Dalam hal ke-AllahanNya, Ia mengetahui semuanya. Tak ada yang tersembunyi dari pemandanganNya.

(d) Tak berubah (Ibrani 1:12; 13:8).

Yesus Kristus sama kemarin, sekarang dan selama-lamanya. WatakNya, kasihNya dan kehidupanNya tidak pernah berubah.

(e) Self-eksistensi (Yohanes 8:58, Yohanes 1:4; 5:26).

Yesus memberikan kepada manusia kehidupan kekal dengan mengatakan bahwa hidup adalah di dalam diriNya. Ia yang memiliki Anak Allah mempunyai kehidupan kekal. Ini adalah atribut ke-Allahan (1 Yohanes 5:26). Yesus adalah Anak Allah yang kekal, Ia memberikan kehidupan kekal kepada semua yang akan percaya kepada Bapa melalui Dia.

(f) Kekal (Wahyu 1:8; Yohanes 3:16; 5:26).

Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Ia memberikan kehidupan kekal kepada semua yang akan percaya kepada Bapa melalui Dia.

(2) Atribut-atribut Moral.

Atribut-atribut moral berikut juga dimanifestasikan dalam Anak Allah. Waktu menjadi Manusia, Ia tidak mengosongkan diriNya dari atribut-atribut moral ke-Allahan.

(a) Kekudusan (Markus 1:24, Wahyu 4:8, 1 Petrus 1:15-16).

(b) Kebenaran (1 Korintus 1:30, Yeremia 23:4-5, 1 Yohanes 2:1-2).

(c) Kasih (Yohanes 3:16, Galatia 2:20, 1 Yohanes 4:16-19). Yesus Kristus dimanifestasikan sebagai kasih yang sempurna. Ini meliputi kebaikan, kemurahan, kasih sayang dan kebaikan hati, semua ini adalah kualitas dari kasih Allah (Efesus 2:4-7, Titus 3:4-7).

(d) Kesetiaan (Yohanes 14:6), 1 Yohanes 5:20, Ibrani 2:17. Yesus Kristus adalah kesetiaan yang dipersonifikasikan.
Yesus dulu dan sekarang adalah Allah, memiliki atribut-atribut esensial dan moral ke-Allahan Ia memiliki atribut-atribut Allah karena Ia adalah Allah. Yesus sadar akan ke-Allahan dan ManusiaNya.

c. Kristus sebagai Allah menjadi Manusia yang tergantung.

Pengosongan diri Kristus sebagai Allah adalah di dalam fakta bahwa Ia merendahkan diriNya, dan dari rupa Allah, Ia memakaikan kepada diriNya rupa seorang hamba. Walaupun ia adalah Allah dan tak pernah berhenti sebagai Allah karena inkarnasi, Ia menjadi manusia yang tunduk,yang taat dan yang tergantung dari Bapa dalam melakukan atribut-atribut esensialNya. Dari kehendak bebasNya Ia menundukkan diriNya sebagai Manusia Allah kepada kehendak Allah di dalam ketergantungan sepenuhnya pada Roh Kudus.

Anak itu mengambil pada diriNya keterbatasan dari kemanusiaan yang sempurna dan melaksanakan penyerahan yang terus menerus dari kehendakNya. Ia tidak perlu menderita lapar, haus, keletihan, susah, penderitaan atau kematian, dan tidak pernah menggunakan prerogatifNya yang Ilahi untuk meringankan kelemah-lembutan kodrat manusia ini.

Perendahan diri ini tidak dipaksakan kepadaNya atau bertentangan dengan kehendakNya, tetapi kasih ke-Allahan yang kekal yang mengharuskan Dia untuk mengerjakan penebusan manusia yang telah jatuh. Kristus dengan senang hati melakukan kehendak Bapa (Mazmur 40:6-7, Ibrani 1:5-10). Sebagai Manusia-Allah yang tunduk dan tergantung Ia mengatakan bahwa Ia tak dapat melakukan sesuatu apapun dari diriNya tetapi hanya yang diarahkan Bapa (Yohanes 5:30). Jadi Ia tidak pernah bertindak yang bertentangan dengan kehendak Bapa dan setiap pelaksanaan atau pengungkapan atribut esensial atau moral selalu bersesuaian dengan kehendak Bapa sebagai Manusia Allah yang sempurna, Ia sepenuhnya tergantung pada Roh Kudus atas semua yang Ia katakan dan lakukan. Ringkasannya:

(1) Dalam pengosongan diriNya Ia membuang kemuliaan, keagungan yang cemerlang pengungkapan luar dari ke-Allahan yang dimilikiNya bersama Bapa (Yohanes 17:5).

(2) Dalam pengosongan diriNya Ia membuang rupa Allah dan mengambil pada diriNya bentuk hamba, namun tak berhenti sebagai Allah. Ini Ia lakukan dalam kelahiran dari perawan (Yohanes 1:14, Filipi 2:6-8, 1 Petrus 1:16-18).

(3) Dalam pengosongan diriNya Ia mengajarkan apa yang hanya dikatakan BapaNya untuk dikatakan (Yohanes 5:30, 8:28, 35, 12:44-50).

(4) Dalam pengsongan diriNya Ia hanya melakukan apa yang ditunjukkan oleh BapaNya untuk dilakukan (Yohanes 5:36).

(5) Dalam pengosongan diriNya Ia mempraktekkan hanya otoritas yang diberikan Bapa kepadaNya (Yohanes 10:18).

(6) Dalam pengosongan diriNya Ia menjadi tergantung secara sukarela kepada urapan dan kuasa kemampuan dari Roh Kudus (Kisah 10:38, Lukas 4:14-18, Matius 12:36, Ibrani 9:14, Kisah 1:2).

(7) Dalam pengosongan diriNya Ia mengesampingkan pelaksanaan secara bebas atribut-atribut IlahiNya, dan hanya melaksanakan apa yang dikehendaki Bapa. Ini adalah penempatan diri lebih rendah untuk maksud penebusan. Ia tidak pernah menggunakan sesuatu prerogatif IlahiNya untuk maksud kepentingan diri (Yohanes 14:28: 3:16; 10:18, 1 Korintus 11:3; 15:27-28).

D. Alasan untuk Inkarnasi.

Ada sembilan alasan akan inkarnasi dan semua mendapat penggenapan secara penuh di dalam oknum dan karya Kristus.

1. Untuk mengukuhkan perjanjian keselamatan yang diadakan pada nenek moyang.

Allah membuat janji perjanjian dengan para patriarkh: Adam, Nuh, Abraham, Isak dan Yakub. Perjanjian-perjanjian ini termasuk keselamatan Israel dan orang kafir melalui benih perempuan itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kristus datang dalam inkarnasi untuk menggenapi janji-janji yang diberikan kepada bapa-bapa ini (Roma 15:8-9, Matius 1:1, Yesaya 7:14; 9:69, Kejadian 3:15; 22:18, Mikha 5:1-2).

2. Untuk menggenapi hukum Taurat, Mazmur dan Nabi-nabi.

a. Hukum Taurat. Menggenapi Hukum Taurat secara Moral.

Yesus datang untuk menggenapi tuntutan Hukum Taurat dan memuaskan tuntutan kekudusan Allah. Adalah perlu bagi seorang untuk menggenapi hukum Taurat sebelum Ia dapat menebus yang melanggarnya, manusia melanggar hukum Taurat dan berada di bawah penghukuman maut. Yesus adalah satu-satunya manusia yang pernah memelihara secara sempurna hukum Taurat Allah itu. Segi tipe dari hukum Taurat meliputi : pelayanan korban, keimanan, persembahan dan masa raya. Hukum upacara ini adalah tipe dari pelayanan keimanan dari Kristus Ia datang untuk menggenapi hukum Taurat di dalam semua hal sampai yang terkecil di dalam oknum dan karyaNya sendiri.

b. Mazmur.

Banyak Mazmur adalah mesianik. Mazmur-mazmur ini menubuatkan penderitaan Kristus dan kemuliaan yang menyusul (1 Petrus 1:10-12). Kristus datang untuk menggenapi hal-hal ini.

c. Nabi-nabi.

Hukum Taurat, Mazmur dan Nabi-nabi menunjuk kepada Kristus yang akan datang, Penebus yang akan datang. Mereka memberi tipe dan menubuatkan oknum dan karyaNya. Yesus secara khusus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi semua yang ada dalamnya (Matius 5:17-18, Lukas 16:16, Roma 2:21, Ibrani 10:5-8, Lukas 24:27, 44:16, Galatia 4:4-5, Mazmur 16:8-10, 22:1-8, 41:9-11).

3. Untuk memberikan Wahyu yang lengkap tentang Allah Bapa para orang suci,

Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama hanya memberikan wahyu sebagian-sebagian tentang Allah dan tidak dapat memberikan wahyu yang penuh dan sempurna. Hanya Anak Allah, yang adalah Allah yang berinkarnasi yang dapat melakukan hal ini. Didalam Kristus Allah dipakaikan dengan daging manusia. Wahyu khusus dalam Perjanjian Baru adalah mengenai Bapa, Yesus Kristus adalah wahyu yang paling penuh dan jelas dari hubungan Bapa dan Anak yang dikehendaki Allah untuk dimasuki oleh mereka yang lahir baru (Yohanes 1:14-18; 14:9; 16:27, Matius 6:8, 5:45, Mazmur 103:13, Yohanes 3:1-5, Matius 11:27, 1 Yohanes 3:1-2).

4. Untuk menghancurkan pekerjaan dari iblis dan kerajaannya.

Kerajaan iblis adalah kerajaan gelap dan semua pekerjaannya datang dari alam itu. Dosa, penyakit, kesakitan, maut dan belenggu adalah karya dari iblis. Yesus datang untuk menghancurkan semuanya dan membawa manusia keluar dari kerajaan gelap ke dalam kerajaan terang (1 Yohanes 3:5, 8; Roma 13:12, Efesus 5:11, Ibrani 2:14-15, Yohanes 12:31; 14:30, Wahyu 20:10-15).

5. Untuk hidup dalam kehidupan manusia tanpa dosa secara sempurna

Yesus datang supaya hidup dalam kehidupan yang sempurna dan tanpa dosa sebagaimana yang Allah kehendaki manusia ada di bumi ini, Adam jatuh dari kehidupan ini, tetapi Yesus hidup dalamnya. Walaupun para penulis Alkitab memberikan ajaran yang tak mungkin salah dalam inspirasi Roh, namun tak seorangpun dari mereka yang tidak salah di dalam watak, hanya Yesus sendiri yang tidak berdosa, tak ada ketidak sempurnaan di dalam watakNya. Ia tidak mempunyai kodrat manusia yang jatuh atau yang duniawi. Oleh sebab itu Ialah satu-satunya manusia teladan kita yang sempurna (1 Yohanes 2:6, 1 Petrus 2:21, Matius 11:29).

6. Untuk menanggalkan dosa oleh pengorbanan diriNya.

Upah dosa adalah maut dan satu-satunya jalan untuk menanganinya adalah kematian korban. Waktu Adam jatuh, Allah memperkenalkan sebagai Imam Raja Yesus menggabungkan di dalam diriNya apa yang dinyatakan di dalam orde Melkisedek (2 Timotius 4:18, Yeremia 23:5-6, Kejadian 14:18-19, Ibrani 7:1-29, Zakaria 6:12; 3:8, Ibrani 1:8, Lukas 1:30-33, Kejadian 17:6, 16; 49:9-10, Yesaya 11:1, 9:6-9, Bilangan 24:17, Matius 2:2, Yohanes 1:49, 1 Timotius 1:17; 6:5). Yesus Kristus menggabungkan di dalam diriNya semua jabatan Perjanjian Lama sebagai Hakim, Kristus adalah Juru Selamat bagi Allah dan Pelepas kita. Sebagai Nabi, Kristus adalah Firman Allah bagi kita, sebagai Imam, Kristus adalah Mediator Pembela dan Perantara Allah sebagai Raja, Kristus adalah pemerintah Allah dan Kekuasaan atas kita.

7. Untuk menjadikan Perjanjian Baru berjalan.

Kristus datang untuk menggenapi di dalam diriNya semua ucapan di Perjanjian Lama termasuk semua perjanjian. Ia datang untuk menjadikan Perjanjian Baru sebagaimana yang dinubuatkan Yeremia itu berlaku. Hanya berdasarkan kematian dari pewasiatlah janji-janji berkat Perjanjian Baru dapat berjalan dan dapat diperoleh oleh seisi dunia (Yeremia 31:31-34; Ibrani 8; Matius 26:26-28). Perjanjian Baru adalah penggenapan dari semua perjanjian sebelumnya dan membawa manusia yang ditebus kepada maksud dari perjanjian yang diadakan dalam sidang ke-Allahan di kekekalan sebelum dosa mulai (Ibrani 13:20).

8. Untuk menggenapi semua jabatan Perjanjian Lama.

Ada empat jabatan utama Perjanjian Lama yang membayangkan pelayanan Kristus yang untuk itu Ia datang untuk menggenapinya.

a. Jabatan Hakim.

Hakim adalah pelepas dan penyelamat umat Allah, Israel. Masing-masing dari mereka dalam jabatannya adalah tipe dan membayangkan pada Kristus sebagai Hakim, Pelepas dan Juru Selamat. Fungsi utama mereka adalah untuk melepaskan Israel dari belenggu perbudakan dan penindasan dari musuh mereka dan membawa mereka kembali kepada hubungan mereka dengan Tuhan Allah. Ini juga sebagai pelayanan Kristus kepada umatNya (Hakim 2:14, Nehemia 9:27, Yohanes 5:19-20, Kisah 17:31, Yesaya 33:22, Wahyu 20:11-15, Kisah 5:31). Injil Yohanes secara khusus menyajikan Kristus sebagai Hakim dan Juru Selamat.

b. Jabatan Nabi.

Musa secara khusus membayangkan Kristus sebagai Nabi, Firman Allah kepada manusia. Nabi-nabi Israel adalah juru bicara Allah untuk umatNya. Mereka datang dari Allah dan mewakili Allah pada manusia. Dengan demikian mereka membayangkan sebelumnya Kristus yang datang dari Allah, dan mewakili Allah pada manusia, menjadi Firman yang terakhir, wahyu yang sempurna dari Allah kepada manusia (Yohanes 1:17-18, Lukas 10:16, Ibrani 1:1-2, Kisah 2:22-23; 7:37, Lukas 13:33, Matius 13:57, Ibrani 12:25, Yohanes 6:14, 7:40, Lukas 7:16, Keluaran 4:14-16, 17:1, Ulangan 18:15-18). Kristus adalah Guru yang tidak dapat salah dan Nabi Allah. Injil Markus terutama menyajikan Kristus sebagai Nabi.

c. Jabatan Imam.

Bila nabi mewakili Allah kepada manusia, imam mewakili manusia kepada Allah. Harun Imam Besar dan semua imam yang sesudahnya dalam jabaan mereka menjadi tipe dari Kristus dalam jabatan ini. Kualifikasi, pengurapan dan pentahbisan imam pada jabatan mereka menjadi tipe dari Kristus sebagai Imam Besar kita dalam fungsiNya. Ia imam bukan menurut “orde Harun” tetapi menurut “orde Melkisedek” (Imamat 21:16-24, Keluaran 28-29, Imamat 8:23-26, Ibrani 1:9, Zakharia 6:12-13, 1 Samuel 2:27-35). Gereja juga disebut sebagai mengikuti orde Melkisedek (1 Petrus 2:5-8, Wahyu 1:6, 5:9-10). Jabatan ini secara vital dihubungkan dengan sistim korban persembahan karena dosa. Kristus sebagai Imam Besar, dengan mempersembahkan diriNya menggabungkan yang mempersembahkan dan persembahan di dalam seorang oknum. Ialah pendamaian, Pembela, Perantara, Imam Besar untuk dosa-dosa manusia (Ibrani 2:10, 17-18, 4:15-16, 5:1-5, 1 Timotius 2:5, Yesaya 53:10-13, Yohanes 1:29, 36; 1 Yohanes 2:1-2, Mazmur 110:4).

Kristus sebagai Imam di bumi mempersembahkan di mezbah Kalvari tubuhNya dan darahNya sendiri sebagai korban yang tertinggi untuk dosa. Kristus sebagai imam di Sorga mengadakan perantaraan di mezbah sorgawi bagi umatNya sendiri. Ini adalah berdasar paa kebangkitan dan kenaikanNya dan menggenapi yang ditipekan pada upacara Hari Pendamaian besar sebagaimana diatur di Imamat 16 (Ibrani 7:26-27, Roma 3:25, Ibrani 8:1-2, 9:24, Roma 8:34). Injil Lukas terutama menyajikan Kristus sebagai Imam kita.

d. Jabatan Raja.

Raja-raja Israel dan Yehuda, walaupun tidak sempurna di dalam karakter dan perbuatan, membayangkan Tuhan Yesus Kristus yang akan menjadi Raja segala raja dan Tuhan semua tuan, Anak Daud. Inkarnasi juga untuk menggenapi Perjanjian Daud yang menjanjikan Mesias Raja menjadi pemerintah yang tertinggi dari dunia (Mazmur 89, Mazmur 2, Mazmur 45, Mazmur 72, Mazmur 110, Yohanes 18:26, 2 Samuel 7:8-17, Wahyu 15:3, 19:16). Injil Matius terutama menyajikan Kristus sebagai Raja.
Sebagai Imam-Raja Yesus menggabungkan di dalam diriNya apa yang dinyatakan di dalam orde Melkisedek (2 Timotius 4:18, Yeremia 23:5-6, Kejadian 14:18-19, Ibrani 7:1-29, Zakharia 6:12, 3:8, Lukas 1:30-33, Kejadian 17:6, 16, 49:9-10, Yesaya 11:1, 9:6-9, Bilangan 24:14, Matius 2:2, Yohanes 1:49, 1 Timotius 1:17, 6:5).

Yesus Kristus menggabungkan di dalam diriNya semua jabatan Perjanjian Lama. Sebagai Hakim, Kristus adalah Juru Selamat bagi Allah dan Pelepas bagi kita. Sebagai Nabi, Kristus adalah Firman Allah bagi kita. Sebagai Imam Kristus adalah Mediator, Pembela dan Perantara Allah. Sebagai Raja Kristus adalah Pemerintah Allah dan kekuasaan atas kita.

9. Untuk menyempurnakan rencana Penebusan pada kedatanganNya kedua kali.

Kedatangan Pertama Kristus oleh inkarnasi hanya merupakan persiapan untuk kedatangan kedua dari Kristus. Kedatangan pertama dan semua yang tercakup dalam rencana penebusan membuat jalan bagi yang kedua kali. Kedatangan yang pertama adalah pembukaan dari rencana penebusan dan kedatangan yang kedua adalah penyempurnaan dari hal itu. Dalam kedatangan pertama kita diselamatkan dari rasa salah dan hukuman dosa dan dalam kedatangan kedua kita akan ditebus sepenuhnya dari kuasa dan kehadiran dosa, kedatangan kedua menyelesaikan apa yang dimulaikan pada kedatangan pertama, masing-masing tidak lengkap tanpa yang lainnya (Daniel 9:24-27, Roma 8:18-25, Ibrani 9:27-28, Filipi 3:21, 1 Korintus 15:25-28, 1 Tesalonika 4:15-18).

VI. KE-ALLAHAN KRISTUS.

Sebagaimana yang dicatat sebelumnya, bidat-bidat mengenai ke-Allahan dan kemanusiaan Kristus muncul pada abad-abad permulaan dalam sejarah Gereja Bandul bergoyang balik dan kembali dalam keestrimannya.  Tetapi, lebih banyak penolakan ke-AllahanNya dari pada atas kemanusiaanNya, ke-Allahan dan kemanusiaan Kristus perlu dipertahankan dalam keseimbangan yang sebaik-baiknya, sebagaimana yang disaksikan oleh para penulis Perjanjian Baru, utnuk menghindari bidat.

Yang berikut adalah ayat-ayat Kitab Suci yang mengukuhkan ke-Allahan Kristus bukti yang terkuat bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yaitu atribut-atribut Ilahi, nama-nama Ilahi, karya-karya Ilahi, penyembahan Ilahi, hak-hak Ilahi dan hubungan Ilahi yang dianggap berasal dari Dia.

A. Atribut-atribut Ilahi yang dianggap dari Dia.

1. Atribut-atribut Esensial.

a. Kekekalan wujud.

Keputraan Kristus adalah keputraan yang kekal dalam ke-Allahan yang kekal.  NamaNya Aku ADA dan mengungkapkan kekekalan wujud.  Yesus tahu bahwa Ia ada sebelumnya bersama Bapa dan Ia datang dari Sorga (Yohanes 1:1-3, Amsal 30:4, Roma 1:20, Yohanes 17:3-5, Matius 3:11, 16:16, Ibrani 7:1-4, Yesaya 7:14, 9:6-9, Amsal 8:23-31, Wahyu 1:8,11, Yohanes 6:33,41,50,51,62, 8:56-58, Keluaran 3:14, Mikha 5:2).

b. Pra-eksistensi dari wujud.

Yesus sendiri menyaksikan untuk pra-eksistensiNya.  Ia tahu bahwa Ia ada dipangkuan Bapa, kekekalan wujud meliputi pra-eksistensi wujud. Yesus telah ada sebelum Ia lahir dari perawan Maria (Yohanes 1:1-3, 27, 30, 16:26-28, 17:1-5, Lukas 12:49-51, Matius 10:40, Amsal 8:13-36, Yohanes 6:38-57, 8:28, 38, 58, Markus 1:38, Mikha 5:2).

c. Self-eksistensi.

Anak ada bersama Bapa dan Roh Kudus, Anak adalah sumber kehidupan dan mempunyai kuasa untuk memberikan kehidupan kekal kepada semua yang akan percaya. Ia hidup dalam kuasa dari kehidupan tanpa akhir, bahasa sedemikian hanya dapat diaplikasikan  kepada ke-Allahan, kepada Allah yang self-eksten (berada sendiri) (Yohanes 1:4, 5:21-26, 14:16, Ibrani 7:16, 1 Yohanes 5:11-12).

d. Ke-Allahan.

Kesaksian Alkitab menyaksikan ke-Allahan Kristus.

(1) Ia ada pada permulaan sebagai Firman, sebagai Allah (Yohanes 1:1, Filipi 2:6, Wahyu 19:13).
(2) Ia bersama Allah, Bapa (Yohanes 1:1).
(3) Ialah Allah, Anak (Yohanes 1:1, Roma 9:5, Ibrani 1:8,10, 1 Yohanes 5:20, Titus 2:13).
(4) Ia adalah Allah yang dimanifestasikan di dalam daging (Yohanes 20:28, 1 Timotius 3:16, Kolose 2:9, 1:19, Kisah 20:28, Ibrani 1:8).
(5) Ialah Allah yang berkuasa (Yesaya 9:6, Mazmur 45:6).
(6) Ialah Imanuel, Allah beserta kita (Yesaya 7:14, Matius 1:23).
(7) Ialah Firman yang menjadi daging (Yohanes 1:14-18).
(8) Ialah Allah yang benar (1 Yohanes 5:20, Titus 2:13, Roma 9:5).
(9) Ialah Allah yang besar (Titus 2:13).
(10) Ialah Allah dan Juru Selamat kita (2 Petrus 1:1).
(11) Ia ada dalam rupa Allah sebelum inkarnasiNya dan sama dengan Allah Bapa (Filipi 2:5-7).
(12) Ialah satu-satunya Allah yang bijaksana (Yudas 25).

e. Kemaha-kuasaan.

Anak adalah Maha Kuasa, Ia adalah pencipta dan memelihara alam semesta (Kolose 1:17; Efesus 3:9; Ibrani 1:10; Wahyu 3:14; Yohanes 1:3, 10; 1 Korintus 8:6).

(1) Ia mempunyai kuasa di Sorga (Matius 28:18).
(2) Ia mempunyai semua kekuasaan di bumi (Yohanes 17:2).
(3) Ia mempunyai kuasa atas semua alam (Matius 8:23-27).
(4) Ia mempunyai kuasa atas semua pasukan iblis (Lukas 4:35-41).
(5) Ia mempunyai kuasa atas semua rombongan malaikat (1 Petrus 3:22; Efesus 1:20-22).
(6) Ia mempunyai kuasa atas segala sesuatu (Ibrani 1:3).

f. Kemaha-tahuan.

Anak serba mengetahui karena ke-AllahanNya, tak ada yang tersembunyi dari pemandanganNya (Yohanes 16:30; 2:24-25; Kolose 2:3; Yohanes 14:16-19; 21:17; Ibrani 4:12-13; Wahyu 2:23).

g. Kemaha-hadiran.

Anak itu hadir dimana saja pada setiap waktu.  Karena atribut ini Ia sanggup berhimpun dengan umatNya dimana saja mereka berhimpun dalam namaNya (Matius 18:20; Yohanes 3:13; Efesus 1:23; 1 Korintus  1:2; 54).  Karena alasan ini Ia dapat berkata bahwa Ia ada di Sorga dan juga di bumi.

h. Tak berubah.

Anak itu tak dapat berubah dan sama kemarin, hari ini dan selama-lamanya dalam hal watakNya dan atributNya (Ibrani 1:12; 13:8; Mazmur 102:26-32; Maleakhi 3:6).

i. Tak dapat salah.

Anak itu tak dapat salah, yaitu tidak dapat keliru atau berbuat salah, hanya ke-Allahan yang tak dapat salah.  Semua manusia dapat berbuat salah.  Ia tak pernah mengatakan yang salah atau keliru, karena perkataanNya adalah perkataan Bapa (Yohanes 12:44-50; 14:6).  Ialah kebenaran.

j. Kedaulatan.

Setiap lutut akan bertelut pada Anak Allah dan mengakui ke-TuhananNya, yaitu mengakui ke-AllahanNya (Filipi 2:8-11, Yesaya 9:6; Wahyu 19:16; Matius 25:31-46).  Ialah Raja segala raja dan Tuhan semua tuhan.

2. Atribut Moral.

a. Kekudusan yang sempurna.

Anak Allah adalah kekudusan yang dipersonifikasikan Ialah satu-satunya oknum yang kudus yang pernah berjalan di bumi ini (Lukas 4:34; Kisah 4:27-30; 1 Petrus 2:22).  (Ini ditangani secara lebih penuh di ketidak-berdosaan Kristus).

b. Kebenaran yang sempurna.

Anak Allah adalah Tuhan kebenaran kita Yehoyah Tsidkenu.  Ini hanya dapat diterapkan kepada ke-Allahan (Yeremia 23:5-6; 1 Korintus 1:30; Ibrani 1:9; 1 Petrus 2:22).

c. Kasih yang sempurna.

Anak Allah adalah kasih yang sempurna.  Inilah kodrat dan watak yang sesungguhnya dari ke-Allahan.  Manusia dapat mempunyai kasih, tetapi  Allah adalah kasih (Yohanes 15:9-10, 1 Yohanes 3:16, 4:7-8, 15-16).  Ini meliputi kualitas belas kasihan, kasih karunia, rasa kasihan dan kebaikan.

d. Kesetiaan yang sempurna.

Anak Allah setia secara sempurna (Wahyu 1:5).

B. Nama-nama Ilahi yang diterapkan kepadaNya.

1. Ialah Bapa yang kekal atau Bapa kekekalan (Yesaya 9:6).
2. Ia dinamakan Tuhan (Yoel 2:32; Kisah 2:21; Roma 10:13; Kisah 9:17).

Adalah suatu penghujatan bila menyebut manusia “Tuhan” menurut pemikiran Yunani, karena ini adalah nama ke Allahan.

a. Ialah Tuhan semesta alam (Yesaya 8:13-14; 1 Petrus 5:15, 1:7-8).
b. Ialah Tuhan kebenaran kita (Yeremia 23:5-6).
c. Ialah Tuhan (Matius 22:43-45; Mazmur 110:1; Lukas 2:11).
d. Ialah Tuhan Yesus Kristus (Kisah 2:34-37; Lukas 2:11).

3. Ia dinamakan Yehovah (Kejadian 19:24; Hosea 1:7; Zakharia 12:10; Mazmur 83:18; Yesaya 12:2).
4. Ialah Alfa dan Omega (Wahyu 1:7,8,11; 22:13, 16).
5. Ialah yang Awal dan yang Akhir (Yesaya 44:6; 41:4; 48:12; Wahyu 1:17-18).
6. Ialah Firman yang kekal (Yohanes 1:1,4; Wahyu 19:13; Ibrani 1:1-2).

7. Ialah AKU ADA (Keluaran 3:14-15; Yohanes 8:56-58; Imamat 24:12-16).  (Perhatikanlah semua AKU ADA dari Yesus di Injil Yohanes). Adalah suatu penghujatan menggunakan nama ke Allahan ini kecuali bila Yesus adalah Allah.

8. Ialah akar dan keturunan Daud. Ialah anak Daud dan Tuhannya Daud, karena pra-eksistensi, ke Allahan dan inkarnasi.  Ialah akar dan Tuhan karena ke AllahanNya.  Ialah keturunan dan Anak, karena kemanusianNya (Wahyu 22:16; Matius 9:27; 22:41-46).

9. Ialah Malaikat Yehovah (menunjuk kepada Teofani Perjanjian Lama atau Kristofani).  (Kejadian 16:7-14; 22:11-18; 31:11-13; Keluaran 3:1-5; 14:19; Hakim 6:11-23; 13:2-25; 1 Tawarikh 21:1-27; Bilangan 22:22-35; 1 Raja-raja 19:5-7; 2 Raja-raja 19:35; Zakharia 1:11; 6:12-15).  Orang Ibrani mengenai manifestasi ini sebagai manifestasi dari ke Allahan.

10. Ialah Anak Allah, keputraan ini adalah keputraan yang kekal, dan diakui oleh semua kalangan.

a. Oleh Allah Bapa (Kisah 13:33, Ibrani 1:5; Matius 17:5).
b. Oleh roh-roh iblis (Matius 8:29).
c. Oleh malaikat Gabriel (Lukas 1:35).
d. Oleh rasul-rasul (Matius 16:16-17, Roma 1:1-3).
e. Oleh Tuhan sendiri (Markus 1:61-62, 17; Lukas 22:70; Yohanes 5:25; 11;4; Mazmur 2:7; Amsal 30:4; Yesaya 7:14; 9:6-9).

11. Ialah yang Kudus Allah (Markus 1:24).
12. Ialah kebenaran (Yohanes 14:6).  Ia berbicara kebenaran, Ia adalah kebenaran (lampau dan kini).  Ialah kebenaran yang dipersonifikasikan.

C. Karya-karya Ilahi yang dipertalikan kepadaNya.

Karya-karya Ilahi yang dilakukan oleh Anak Allah (Yohanes 14:11; 10:37; 5:36).

1. Ialah pencipta alam semesta (Ibrani 1:3; Kejadian 1:1-5; Yohanes 1:1-4,10; Ibrani 1:10; Kolose 1:16-17).

2. Ialah pencipta malaikat dan manusia (Kejadian 1:26; Amsal 8:30; Kolose 1:16-17).

3. Ia mengampuni dosa (Kisah 5:31; Lukas 5:21-24; Matius 9:6; Markus 2:5-7;  Kolose 3:13).  Adalah hak prerogatif Allah, pengampunan dosa, karena semua dosa, terutama melawan Allah sendiri (Mazmur 51:4).

4. Ia membangkitkan orang mati dan akan mengubah tubuh yang buruk orang percaya waktu kedatanganNya karena siapa Ia (Yohanes 5:28-29; 11:25; Filipi 3:21; 2 Timotius 4:1).

5. Ia akan menghakimi seluruh dunia di dalam kebenaran.  Semua penghakiman telah diberikan kepadaNya oleh Bapa.  Ia hanya dapat menghakimi keseluruh  dunia dalam keadilan yang sempurna karena atribut Ilahi (Yohanes 5:22-29; Kisah 17:31; 2 Korintus 5:10; 2 Timotius 4:1; Matius 25:31-46).

6. Ia menegakkan dan memelihara alam semesta oleh FirmanNya yang berkuasa (Ibrani 1:3; Kolose 1:17).

7. Ialah pemberi kehidupan kekal kepada semua yang percaya kepada Bapa melalui Dia Sendiri (Yohanes 10:28; 17:2).

8. Ia akan mengadakan pembaharuan langit dan bumi (Ibrani 1:10-12; Wahyu 21:5; Matius 19:28).

D. Penyembahan Ilahi Yang Diberikan KepadaNya.

Penyembahan Ilahi diberikan kepada dan diterima oleh Yesus tidak pernah menolak penyembahan sedemikian.  Ini sangat bertentangan dengan manusia Allah lainnya yang secara mutlak menolak penyembahan dari manusia lainnya, seperti yang dilakukan pada malaikat terpilih.  Hanya manusia penyembah diri yang menerima penyembahan  orang lain seperti terlihat pada kaisar-kaisar Roma (Kisah 10:26, 14:15; Wahyu 22:9).  Menyembah Yesus sebagai Allah akan merupakan penghujatan dan penyembahan berhala jika Ia bukan Allah, dengan demikian bila Yesus menerima penyembahan yang hanya menjadi milik Allah BapaNya maka itu akan merupakan perampokan, penghujatan dan penyembahan berhala.

1. Ia disembah malaikat (Ibrani 1:6; Yesaya 6:1-5; Wahyu 5:12-14).

2. Ia disembah manusia (Matius 8:2, 15:25-28, 28:17; Lukas 24:51-52; Kisah 1:24, 7:59-60; 1 Tesalonika 3:11; Yohanes 9:38; Filipi 2:9-11; Mazmur 45:11; 1 Korintus 1:2).

3. Ia disembah oleh semua mahluk (Wahyu 5:13).

4. Ia menerima doa sebagaimana berdoa kepada Allah (Kisah 1:24, 7:59-60).

5. Ia dihormati secara sama dengan Allah Bapa (Yohanes 5:23; Wahyu 1:5-6; Ibrani 1:6-8).

E. Klaim Ilahi Yang Dibuat OlehNya.

Yesus membuat klaim (tuntutan) yang seharusnya hanya dibuat oleh Allah.  Sekiranya klaim ini sebenarnya tidak demikian, maka Yesus menipu diri atau sebagai pembohong dan penipu yang lihai.

1. Ia mengklaim bahwa Ia satu dengan Allah (Yohanes 10:30, 38; 5:23; 14:10).

2. Ia mengklaim Allah sebagai BapaNya (Lukas 2:41-52; Matius 12:48; Markus 3:33-34).  Ia tidak pernah mengakui Yusuf sebagai bapaNya.

3. Ia mengklaim Ia mengasihi sebagaimana Bapa mengasihi (Matius 10:37-38;  Lukas 14:26).

4. Ia mengklaim sebagai AKU ADA, yang menunjukkan eksistensi yang kekal (Yohanes 8:56-58; 18:1-5 dengan Keluaran 3:14-15).

5. Ia mengklaim Keputeraan Ilahi, menjadikan Dia sendiri Allah (Yohanes 5:25; 11:4; Markus 12:6; Amsal 30:4).

F. Hubungan Ilahi Yang Dikatakan OlehNya.

Anak dihubungkan dengan Bapa dan Roh Kudus dalam hubungan perjanjian di kekalan dan di dalam waktu, hal ini tidak dapat terjadi kecuali bila Anak adalah Ilahi, bersama-sama dalam ke-Allahan.

1. Baptisan dilaksanakan di dalam nama Tritunggal Allah, dimana Anak dilibatkan di pusat.  (Matius 28:18-20; Kisah 2:34-36).

2. Berkat Apostolik meliputi ke-Allahan kekal, dimana Anak merupakan wahyu dari kasih karunia Allah (2 Korintus 13:13).

3. Baca juga Yohanes 14:1,6; 10:28-30; 17:5,17,18; Matius 11:27; Kolose 1:19; 2:9; 1 Korintus 8:6; Efesus 4:8-10; 1 Timotius 1:15-16; Yohanes 14:1,6; 10:28-30; 17:21; 5:17-18; Matius 11:27; Kolose 1:19; 2:9; 1 Korintus 8:6; Efesus 4:8-10; 1 Timotius 1:15-16; Yohanes 14:9; Kolose 1:15; 1 Yohanes 2:23; 1 Tesalonika 3:11; 1 Korintus 12:4-6; Lukas 22:29; Mazmur 2:7; 45:6-7; 110:1-4; Yesaya 53:10-11).

Tidaklah mungkin untuk menyangkal atau menolak kebenaran tentang ke-Allahan Anak Allah dalam terang ayat-ayat Kitab Suci ini bagi Yesus, menerima klaim-klaim, penyembahan, nama-nama dan karya seperti yang dianggap berasal dari Dia atau yang dipertalikan kepadaNya, sekiranya Ia yang pernah membuat klaim sedemikian atau yang menerima penyembahan yang berdosa secara lancang dan layak untuk mati, tetapi Yesus menerima dan mendemonstrasikan klaim ke-Allahan.  Yesus Anak Allah sesungguhnya Allah, Allah yang memanifestasi didalam daging orang percaya yang benar hanya dapat berucap bersama Thomas “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yohanes 20:28 dengan Yesaya 25:9).

VII. KEMANUSIAAN KRISTUS.

Kitab Suci menyajikan Kristus yang berinkarnasi sebagai mempunyai dua kodrat Ia adalah Allah dan manusia namun satu oknum. Besarkan rahasia ke Allahan ini, Allah dimanifestasikan di dalam daging (1 Timotius 3:16; Kolose 2:2-3).  Dalam bagian ini kita akan mempertimbangkan bukti dari kemanusiaan Kristus yang sempurna dan tanpa dosa, dan teladan Nya yang agung kepada semua orang percaya.

A. Kemanusiaan Kristus.

1. Ia punya kelahiran manusia.

a. Dalam hal kemanusiaanNya, ia lahir dari perempuan (Matius 1:18-23, 2:11; Lukas 1:30-33; Galatia 4:4).  Perawan Maria adalah yang terpilih untuk menjadi ibu kemanusiaan Kristus.

b. Ia dikatakan sebagai benih Daud secara manusia (Roma 1:3; Matius 1:1).
c. Ialah Benih Perempuan yang dijanjikan (Kejadian 3:15; Matius 1:23; Yesaya 7:14).

d. Ia datang dari bangsa Israel secara manusia (Roma 9:5).

e. Ia dikenal sebagai Anak Daud (Matius 15:22; Kisah 13:22-23; Ibrani 7:14).  SilsilahNya dapat ditelusuri melalui IbuNya kembali pada Daud Raja Israel.

f. Ia dalah Firman yang dibuat dan dimanifestasikan secara manusia (Yohanes 1:14; Roma 1:3; 1 Timotius 3:16).

2.  Ia mempunyai nenek moyang manusia.

Silsilah Kristus secara daging ditelusuri kembali pada Daud dan Adam di Injil Lukas melalui IbuNya Maria, dan kembali pada Daud dan Abraham di Injil Matius melalui yang dianggap BapaNya Yusuf (Lukas 3:23-38; Matius1:1-17).

Tetapi walaupun orang lain mengatakan BapaNya secara manusia, Ia sungguh mengklaim bahwa Allah adalah BapaNya, dan mengakui Maria sebagai IbuNya (Lukas 3:23, 4:22; Matius 13:55-56; Yohanes 1:45, 6:42).  Sejauh dalam hal orang Yahudi dimana Yesus yang dimaksudkan.  Ia sesungguhnya adalah manusia, yang dari daging dan darah seperti manusia lainnya.  Ia bukan momok atau hantu tetapi manusia yang sebenarnya.

3. Ia Mempunyai nama-nama Manusia dan Gelar-gelar yang diberikan kepadaNya.

a. Ia dinamakan manusia sebelum kelahiranNya oleh malaikat Gabriel, kepada Maria dan juga Yusuf (Matius 1:21-23).

b. Ia disebut Anak Daud (Matius 1:1, 9:27, 20:30-33).
c. Ia disebut Anak Abraham (Matius 1:1).
d. Ia disebut Anak Manusia lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru (Matius 16:28, 26:64-65; Kisah 7:56; Wahyu 1:13, 14:4).
e. Ia dinamakan Mediator, manusia Kristus Yesus (1 Timotius 2:5).
f. Ia digelar orang Yahudi menurut kebangsaanNya (Yohanes 4:9, 8:57).
g. Ia digelar Adam yang terakhir (1 Korintus 15:45-47).
h. Ia  digelarkan  Manusia  (Yohanes 8:40, 1:30; Kisah 2:22; Filipi 2:8; 1 Korintus 15:21, 47).
i. Ia masih sebagai manusia di Sorga walaupun kini telah dimuliakan (Yakobus 20:15; 1 Timotius 2:5; Kisah 17:31).
j. Ia akan datang sebagai Anak Manusia pada kedua kalinya untuk menghakimi dunia (Matius 16:27-28, 25:31, 26:64-65).

4. Ia Mempunyai Kodrat Manusia Yang Lengkap.

Anak Allah mempunyai semua yang essensial dari kodrat manusia sebagaimana yang diciptakan Allah pada permulaannya.  Yesus adalah manusia yang lengkap yang mempunyai roh, jiwa dan tubuh (1 Tesalonika 5:23; Ibrani 4:12).  Kebenaran ini membuktikan kesalahan bidat Apollinarianisme yang menolak kemanusiaan Kristus (1 Yohanes 4:3).

a. Yesus mempunyai roh manusia (Lukas 23:46; Markus 2:8, 8:12; Yohanes 13:21).

b. Yesus mempunyai jiwa (Matius 26:38; Lukas 23:43; Yohanes 12:27; Kisah 2:27; Yesaya 53:10; Markus 14:34).  Ini meliputi pikiran, kehendak dan emosi (1 Yohanes 1:1-2).

c. Yesus mempunyai tubuh manusia dari daging, tulang dan darah (Ibrani 2:14; Yohanes 1:14; Matius 26:12; Lukas 22:19; Yohanes 2:21; Lukas 23:52-56; Ibrani 10:5,10).  Sesudah kebangkitanNya, Ia mempunyai tubuh daging dan tulang (Lukas 24:39).  Dalam tubuh manusiaNya Ia  terbatas secara lokal dan geografis, dan terbatas oleh kelemahan tanpa dosa.

5. Ia Mengalami Perkembangan Secara Manusia.

Dalam hal kemanusiaanNya, Yesus bertumbuh dan berkembang secara normal dan alamiah seperti manusia lainnya.  Ini terlihat dalam referensi dan komentar berikut.

a. Ia bertumbuh sebagai seorang anak (Lukas 2:40).
b. Ia bertumbuh dalam hikmat dan semakin besar (Lukas 2:52).
c. Ia belajar kepada Tuhan dari hal-hal yang Ia deritakan (Ibrani 5:8).
d. Ia bekerja keras sebagai manusia mengikuti pekerjaan Yusuf sebagai tukang kayu (Markus 6:3; Lukas 3:23).
e. Ia menderitakan keterbatasan manusia (Ibrani 2:10).
f. Ia mengalami pencobaan manusia (Matius 4:1-11; Ibrani 2:18; Markus 1:55; Lukas 22:28; Ibrani 4:15).
g. Ia belajar untuk hidup tergantung pada Bapa dengan terus berdoa (Matius 14:23; Ibrani 5:7; Lukas 6:12, 22:39-46).  Ada sekitar 25 referensi Yesus berdoa di Perjanjian Baru.
h. Ia belajar bergantung pada Bapa dan kuasa Roh Kudus terus menerus, Ia tidak dapat mengatakan atau melakukan sesuatu dari DiriNya tetapi hanya apa yang diberikan kepadaNya (Mazmur 1:35; Yohanes 6:1; Kisah 1:2; Ibrani 9:14; Kisah 10:38; Ibrani 5:7).
i. Ia adalah manusia yang diperkenalkan Allah (Kisah 2:22).
j. Ia terbatas dalam pengetahuan manusia (Matius 24:36; Markus 13:32; Lukas 7:9).
k. Ia menginginkan simpati manusia di Taman (Matius 26:36-40).

6. Ia Mempunyai Kelemahan Yang Tak Berdosa Karena Kodrat Manusia.

Sebagai Kristus menderitakn keterbatasan dan kelemahan kodrat manusia yang tidak berdosa di dalamnya, namun bagian dari nasib manusia sejak kejatuhan.  Tuhan manusia yang dimuliakan nanti tidak akan mempunyai kelemahan tanpa dosa ini (Filipi 3:20-21).

a. Yesus menjadi letih (Yohanes 4:6).
b. Yesus mempunyai nafsu makan yang normal dan lapar (Matius 4:2, 21:18).
c. Yesus juga haus (Yohanes 4:7, 19:28).
d. Ia juga menikmati tidur secara alamiah (Matius 8:24).
e. Ia terbatas dalam pengetahuan manusia (Markus 11:13; 13:32; 5:32; 5:30-34; Yohanes 11:34).
f.  Ia masygul hatiNya (Yohanes 11:33).
g. Ia menangisi umat (Yohanes 11:35; Matius 23:37; 26:38).
h. Ia perlu dikuatkan karena penderitaan disalib oleh malaikat (Lukas 22:43).

7. Ia Menderita Kemanusiaan Manusia.

Kematian telah menjadi milik manusia sejak kejatuhan di Eden.  Waktu Yesus  menderitakan dosa kita kepada diriNya pada tubuhNya sendiri di kayu itu, Ia menderitakan upah dosa, yaitu maut (1 Petrus 2:24; Kejadian 2:17; Ibrani 9:17; Ibrani 9:17; Lukas 23:33; Ibrani 2:29).  KematianNya adalah maksud yang tertinggi dan inkarnasi yang akan diikuti kebangkitanNya.

8. Ia Mengalami Kebangkitan Manusia.

Ia dibangkitkan dari orang mati dan masih memiliki tubuh yang lahir dari perawan, disalibkan, dikuburkan, dibangkitkan dan kini telah dimuliakan.  Tubuh Yesus adalah tanpa dosa, kekal dan tak dapat rusak.  Ia mengorbankan  kehidupanNya, seperti yang diperintahkan Bapa kepadaNya (Lukas 23:39; Yohanes 20:27; Kisah 7:55-56).  KebangkitanNya sebagai manusia adalah sebagai contoh dari semua kebangkitan lainnya.  Dalam kenaikanNya, Ia telah membawa kemanusiaan di dalam ke-AllahanNya.  Ia tetap manusia Yesus Kristus dalam kedudukanNya yang dimuliakan di tahta di ketinggian (1 Timotius 2:5; Ibrani 8:1-5).

Kemanusiaan Kristus adalah fakta yang tak dapat dibantah.  Yesus, Anak Allah yang kekal menjadi Anak Manusia.  Ia adalah ke-Allahan dan kemanusiaan yang dipersatukan dalam satu oknum.  KelahiranNya sebagai manusia, silsilah, nama-nama gelar, keterbatasan, penderitaan, kematian dan kebangkitanNya semua membuktikan realitas kemanusianNya secara penuh dan lengkap.  Manusia yang sama ini yang sekarang telah dimuliakan dan bila Ia datang kembali nanti pada kali yang kedua adalah “Yesus yang sama” yang akan datang dalam cara yang sama seperti waktu Ia pergi ke Sorga (Kisah 1:11).

B. Ketidak-berdosaan Kristus.

Bahwa Kristus mempunyai kemanusiaan yang tanpa dosa secara sempurna dan tak dapat rusak merupakan kesaksian Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.   Adalah penting bahwa Kritus itu tanpa dosa yaitu supaya menjadi Juruselamat dunia.  Sekiranya Ia bukan tanpa dosa, Ia harus mati untuk dosaNya sendiri dan harus memerlukan penebusan untuk DiriNya, Kristus tidak akan menjadi wahyu Allah yang sempurna, penuh dan final kepada manusia bila sekiranya Ia orang berdosa.  Tanpa ketidak -berdosaan Kristus maka rencana penebusan gagal, karena Penebus dosa tidak mungkin terjadi bahwa Ia sendiri seorang berdosa.

Ketidak-berdosaan adalah kesesuaian yang lengkap dengan kehendak Allah di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.  Keberdosaan adalah kekurangan kesesuaian pada kehendak Allah di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.  Jadi Kristus, sebagai manusia yang sempurna, mengenai secara sempurna kehendak Allah, Ia tak pernah terlibat dalam dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.  KesempurnaanNya adalah kesempurnaan tanpa dosa.

1. Teori-teori Mengenai Ketidak-berdosaan Kristus.

a. Teori Daging Berdosa.

Teori ini berpegang bahwa Kristus mempunyai “daging berdosa” dan bahwa Ia harus memenangkan dosa dengan kuasa Roh Kudus, sebagaimana yang dialami orang percaya.  Ini didasarkan pada kesalah-pahaman atas Roma 8:3 dimana Paulus menyatakan bahwa Kristus “serupa dengan daging yag dikuasai dosa”

b. Teori Berpotensi Berdosa.

Teori ini berpegang bahwa Kristus, walaupun sebagai Allah yang berinkarnasi, dapat saja berdosa tetapi tidak akan berdosa.  Ia mampu mengatasi dosa.  Teori ini menyatkaan fakta bahwa Kristus dicobai membuktikan bahwa Ia dapat saja berdosa.  Argumentasi diberikan bahwa supaya suatu pencobaan sah harus terpenuhi syarat bahwa orang yang dicobai itu dapat berdosa.  Teori ini juga mengajarkan bahwa Kristus tidak akan dapat menjadi Imam Besar yang penuh belas kasihan dan bersimpati kepada kita dalam pencobaan kita, kecuali bila Ia dapat berdosa.

c. Teori Kesempurnaan Tanpa Dosa.

Aliran pemikiran ini berpegang bahwa Kristus tidak dapat berdosa karena siapa Ia sebenarnya.  Pandangan ini yang dipegang oleh buku ini.  Sebelum mempertimbangkan alasan-alasan bagi pandangan ini, kita harus mencatat dasar umum dari iman yang dipegang oleh kebanyakan orang percaya Injil, dalam pernyataan-pernyataan berikut :

– Anak Allah memiliki kodrat manusia yag sempurna dan kodrat Ilahi.

–Anak Allah menderitakan pencobaan dalam semua hal, seperti kita juga dan ini merupakan pencobaan yang sah.

–Anak Allah tidak berdosa, tidak dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

–Anak Allah dapat bersimpati dan menolong mereka yang menderitakan pencobaan yang sama (1 Yohanes 3:5, 1 Petrus 2:22, 2 Korintus 5:21,  Ibrani 4:15; 7:26; 2:18).

Ketidak-samaan diantara teori-teori ini adalah didalam pernyataan-pernyataan berikut :

Kristus dapat saja berdosa tetapi tidak akan dan tidak berdosa.

Pernyataan yang muncul, “Mungkinkah bagi Kristus untuk tidak berdosa atau mungkinkah bagi Kristus untuk berdosa?”

Pertanyaan-pertanyaan ini telah merangsang pikiran orang Kristen berabad-abad.  Tetapi harus diingat baik-baik bahwa apakah Kristus dapat atau tidak berdosa, faktanya adalah Ia tidak berdosa.  Jadi Ia sendiri saja yang dapat menjadi Juruselamat orang-orang berdosa.

2. Kesempurnaan Tanpa Dosa Dari Kristus.

a. Pertanyaan dan Keberatan Utama Dipertimbangkan.

(1) Bila tak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, maka apakah maksudnya Ia dicobai? Tidakkah ini menjadikan pencobaanNya tidak riil dan oleh sebab itu tidak sah?  Mengapa mencoba mahluk yang tidak berdosa?  Malaikat berdosa waktu dicobai.  Adam berdosa waktu dicobai.  Mengapa Kristus tidak dapat berdosa waktu dicobai?  Apakah tidak harus ada keinginan didalam yang menarik pencobaan itu?

(2) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, maka ini berarti bahwa Ia tidak mempunyai kuasa untuk memilih, kemauan untuk memilih diantara yang baik dan yang jahat.  Tidakkah mungkin bahwa Ia telah melakukan kehendaknya sendiri dan bukan kehendak BapaNya. Seperti yang rupanya diindikasikan pencobaan di Getsemani? (Matius 26:39).

(3) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, maka Ia sebenarnya tidak beridentifikasi secara benar dengan ras manusia.  Dan tidak dapat memahami secara penuh kemanusiaan dan kodrat kita yang berdosa.  Tidakkah ini secara otomatis menempatkan kesenjangan diantara Juruselamat dan orang berdosa yang tak dapat dijembatani?

(4) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, lalu bagaimana pencobaan dapat menjadi penyebab penderitaan kepadaNya dan bagaimana Ia dapat bersimpati dengan kita dalam pencobaan kita?

(5) Bila tidak mungkin bagi Kristus untuk berdosa, lalu tidakkah pencobaanNya berbeda dengan pencobaan pada kita orang berdosa alami?

Kita akan maju untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keberatan-keberatan ini dengan beberapa argumentasi mengenai pencobaan Adam, Yesus dan semua manusia, sifat dan arti pencobaan, dan akhirnya kesaksian dari ketidak berdosaan Kristus.

b. Percobaan pada Adam, Yesus dan Semua Manusia.

Hanya ada dua manusia dalam Kitab Suci yang pencobaannya unik, Adam dan Yesus.  Keduanya adalah Anak Allah dalam arti yang unik, Adam sebagai anak yang diciptakan Allah, dan Yesus Anak Allah yang diperanakkan (Lukas 3:38; Yohanes 3:16).  Keduanya mempunyai kodrat manusia tanpa dosa, yang tidak memiliki prinsip dosa di dalam keberadaan mereka.  Mereka dicobai dari luar oleh iblis.  Adam memberi respons kepada pencobaan, sementara Kristus tidak.  Adam dan Yesus merupakan kepala perwakilan atau manusia yang mewakili ras ciptaan lama dan ras ciptaan baru.  Allah melihat semua manusia di dalam Adam atau di dalam Kristus (1 Korintus 15:46-47).  Semua fakta ini menempatkan pencobaan Adam atau Yesus dalam perbedaan langsung dari pencobaan semua manusia yang lahir dari Adam sesudah kejatuhan.  Semua manusia lainnya yang lahir dari ras Adam dicobai sebagai orang berdosa yang  lahir dalam dosa.  Tak seorangpun dari mereka yang mengalami pencobaan dalam keadaan tanpa dosa.  Pencobaan Adam dan Yesus unik dalam hal keduanya bukan dicobai dari dalam, tetapi dari luar.  Semua orang berdosa dicobai dari luar dan dari dalam.  Semua manusia dicobai bila ditarik oleh hawa nafsu mereka dan tertarik.  Kemudian bila hawa nafsu dibuahi menghasilkan dosa, dan dosa bila telah selesai menghasilkan maut (Yakobus 1:13-14).

Dosa adalah gangguan ke dalam manusia Adam.  Hanya Adam dan Yesus yang mempunyai kodrat manusia yang tanpa dosa, jadi pencobaan mereka khusus.  Tetapi ada juga perbedaan besar diantara Adam dan Yesus, Adam hanya manusia tetapi Yesus sebagai Allah dan manusia.  Walaupun Adam dan Yesus tanpa dosa, Adam adalah mahluk ciptaan sedang Yesus bukan, Adam hanya mempunyai satu kodrat manusia, sementara Yesus mempunyai dua kodrat, manusia dan yang Ilahi.

Pernyataan di Roma 8:3 bahwa Kristus “serupa dengan daging yang dikuasai dosa”, tidak boleh disalahpahami.  Ayat ini tidak mengatakan bahwa Yesus mempunyai “daging berdosa” tetapi Ia adalah kelemahan tanpa dosa dari kodrat manusia.  Kristus sesungguhnya mempunyai daging yang sebenarnya, namun daging yang tanpa dosa.  Tidak ada dosa asal atau prinsip dosa di dalam Dia sebagai Anak Allah yang kekal dan diperanakkan Dosa bukan essensial kepada kodrat manusia tetapi gangguan.  Kristus mempunyai kodrat manusia tanpa dosa seperti Adam sebelumnya kejatuhan.  Tetapi, Ia juga mempunyai “kesamaan”dengan daging Adam sesudah kejatuhan, yaitu kodrat manusia dengan kelemahan tanpa dosa.  Walaupun ajaran Gnostik tertentu mengajarkan bahwa daging inheren dengan keberdosaan, tetapi hal ini bertentangan dengan  Firman Allah.  Kristus mempunyai daging yang bebas dari hukum dosa, namun itu adalah “serupa dengan (dan hanya serupa) daging yang dikuasai dosa.  Perbandingan dan perbedaan pencobaan Adam dan Yesus, orang tak percaya dan orang percaya, akan menolong membawakan fakta-fakta kedalam fokus lebih tajam.

ADAM
-Adam yang pertama
-Manusia pertama, dari bumi
-Tak ada kecenderungan jahat, asalnya
-Kecenderungan pada dosa
-Satu kodrat, kodrat manusia
-Dicobai dari luar pada roh, jiwa dan tubuh
-Memberi respons pada dosa
-Kodrat manusia yang jatuh
-Ciptaan Allah
-Anak Allah yang diciptakan
-Mahluk manusia

YESUS
-Adam yang terakhir Manusia kedua, Tuhan dari Sorga
-Tak ada kecenderungan jahat di dalamnya
-Tak ada kecenderungan pada dosa
-Dua kodrat, Ilahi dan manusia
-Dicobai dari luar pada roh, jiwa dan tubuh
-Tak memberi respons pada dosa
-Kodrat manusia yang tak jatuh
-Inkarnasi dari Allah
-Anak yang diperanakkan Allah
-Mahluk manusia Ilahi

ORANG YANG TAK PERCAYA
-Di dalam Adam” – anak manusia
-Kodrat manusia yang jatuh
-Kecenderungan berdosa
-Prinsip dosa menguasai di dalam
-Dicobai dari dalam dan luar, secara tubuh, jiwa dan roh
-Dilahirkan di dalam dosa
-Tak ada yang baik dalam daging
-Ciptaan lama, dari orang tua
-Mahluk manusia yang berdosa
-Dosa akan menghancurkan sampai kematian

ORANG PERCAYA
-”Di dalam Kristus” – Anak Allah
-Kodrat manusia yang jatuh pengambil bagian kodrat Ilahi
-Kecenderungan berdosa mengatasi
-Prinsip dosa dihapuskan pada waktunya
-Dicobai dari luar dan dalam secara tubuh, jiwa dan roh, namun dikuatkan untuk mengatasi oleh Roh Kudus
-Dilahirkan di dalam dosa, namun dilahirkan kembali
-Kristus di dalam anda, harapkan kemuliaan
-Ciptaan baru dalam ciptaan lama
-Mahluk manusia yang ditebus
-Dosa dikuasai menuju hidup

c. Arti dan Sifat dari Pencobaan.

Perjanjian Baru menggunakan dua kata khusus Grika yang mempunyai arti “percobaan” di dalamnya, karena pencobaan ada hubungan dengan pengujian baik oleh Allah maupun oleh setan atau yang lain

(1) Kata Grika “Dokimazo” berarti “membuktikan suatu hal apakah itu layak diterima atau tidak, mengetes (harfiah atau hiasan), implikasinya, menyetujui, mengijinkan, melihat perbedaan, menguji, membuktikan, mencoba”.  (Lukas 14:10; Roma 2:18, 12:22; 1 Korintus 3:13, 11:28; Galatia 6:4; Ibrani 3:9; Yakobus 1:12; 1 Petrus 1:17; 1 Yohanes 4:1).  Ini digunakan dalam cara berikut di Perjanjian Baru.  Orang menguji api, orang percaya menguji apa kehendak dari Allah; orang percaya merelakan agar iman mereka dicobai dan diakui.  Allah mencobai orang kudusNya. Semua orang percaya diuji dan dicobai oleh lingkungan hidupnya, oleh kelemahan dan kekurangan kodrat manusia.  Maksud dari tipe pencobaan ini untuk membuktikan dan menyetujui.  Ini adalah pencobaan untuk membuktikan dan menyetujui.  Ini adalah pencobaan yang mengharapkan hasil positif.  Dalam cara ini, Allah “mencobai” Abraham (Ibrani 11:17 dengan Kejadian 22:1).  Kata ini digunakan sekitar 25 kali dalam Perjanjian Baru dan tak pernah digunakan untuk iblis mencoba untuk membuktikan seseorang.

(2) Kata Grika “Peirazo” yang diterjemahkan “mencobai” berarti “menempatkan pada percobaan” dengan percobaan (yang baik), pengalaman (yang jahat), permintaan, disiplin atau provokasi, implikasinya kemalangan. Kata ini digunakan sekitar 40 kali di Perjanjian Baru, dan membawa ide mengetes dan mengadakan percobaan pada seseorang. Ini digunakan dalam cara berikut.

(a) Manusia Mencobai Allah.

Yang dimaksudkan manusia menempatkan Allah untuk dicobai untuk mendapatkan apakah Ia akan melakukan yang baik atau yang jahat kepada mereka.  Jadi Israel “mencobai Allah” di padang gurun (Ibrani 3:9).  Guru-guru hukum Taurat “mencobai Allah” dengan keinginan meletakkan kuk pada tengkuk orang kafir (Kisah 15:10).  Ananias dan Sapira “mencobai Roh Kudus”dalam  tindakan mereka menipu (Kisah 5:9).  Manusia diingatkan untuk tidak mencobai (mengetes) Tuhan Allah (Matius 4:7).

(b) Manusia Dicobai Allah.

Allah pada waktunya mengetes atau mencobai manusia yaitu  tak pernah untuk yang jahat tetapi dengan pandangan untuk membuktikan apa yang di dalam manusia dan menyingkapkan kepada manusia kebutuhannya di dalam (Yakobus 1:2, 12). Tetapi Allah tak dapat dicobai dengan yang jahat, juga Ia tidak pernah mencobai seseorang supaya berdosa (Yakobus 1:13-14).  Seperti yang dicatat, Abraham dicobai Allah dalam hal mengorbankan anak tunggalnya, Ishak (Ibrani 11:17) dengan (Kejadian 22:1) orang-orang suci Perjanjian Lama dicobai dan dicobai oleh penganiayaan, tantangan dan dengan demikian membuktikan bahwa mereka setia kepada Allah dalam segala  sesuatu (Ibrani 11:37; Galatia 4:13-14; 1 Korintus 10:13; Yohanes 6:6; Matius 6:13.

(c) Manusia Dicobai Iblis.

Iblis juga mencobai dan mengetes manusia.  Tetapi pencobaan ini selalu sebagai umpan supaya berdosa, tarikan untuk melakukan yang jahat.  Pencobaan ini tidak datang dari Allah (Yakobus 1:13-14).  Ini datang dari iblis atau dari kodrat berdosa dari manusia.   Jadi iblis mencobai malaikat, mencobai Adam dan mencobai Yesus.  Ia juga mencobai orang berdosa yang lahir dari ras Adam (Kejadian 3:1-6; Matius 4:1).

d. Sifat dari Pencobaan Kristus.

(1) Yesus dicobai oleh Allah BapaNya.

Percobaan ini yang pertama meliputi penderitaan yang Yesus pikul dalam kemanusiaanNya tanpa dosa dengan mempunyai kelemahan tanpa dosa.  Ia dicobai oleh pertentangan, penganiayaan, keletihan, perbantahan orang berdosa, lingkungan yang bertentangan, orang Yahudi, saudara-saudaraNya, pemimpin-pemimpin agama dan murid-muridNya.  Dalam semua hal ini Ia dicobai dan diuji namun diperkenalkan dalam segala hal oleh Bapa. Inilah bagian dari “pencobaan-pencobaan Kristus” (Lukas 22:28).

(2) Yesus dicobai oleh Iblis.

Yesus dicobai untuk melakukan yang jahat oleh Iblis, yaitu untuk melakukan kehendakNya dan bukan kehendak BapaNya.  Iblis berusaha mencari kesempatan agar Bapa punya alasan untuk tidak berkenan kepada Yesus.  Ini terjadi dalam keseluruhan hidupNya.  Cerita tentang pencobaan empat puluh hari hanya contoh masa khusus pencobaan yang dialami Yesus.  Kitab Suci mengatakan bahwa iblis meninggalkan Yesus untuk satu waktu sesudah kemenanganNya yang terkenal dalam ketiga pencobaan utama (Markus 1:13).

(3) Yesus tidak dicobai oleh kodrat yang berdosa.

Yesus tidak dicobai oleh kodrat yang berdosa atau daging di dalam.  Inilah perbedaan yang kekal di antara pencobaan Yesus dengan pencobaan manusia yang lahir dari ras Adam, baik orang percaya maupun orang tidak percaya.  Yesus tidak mempunyai kodrat berdosa atau yang daging di dalam sehingga Ia tidak menderitakan pencobaan dari dalam agar berdosa, sebagaimana dialami semua orang yang telah jatuh.  Tak  ada  yang  dapat mengganti atau mengubah perbedaan fakta ini.  Bila dikatakan bahwa Yesus “telah dicobai dalam semua segi, seperti kita, tetapi tanpa dosa (AV)” (Ibrani 5:15), secara harfiah berarti “terpisah dari dosa”.  Yaitu dapat dikatakan, Ia dicobai untuk berdosa, dari luar, tetapi tidak dicobai oleh dosa dari dalam, karena tidak ada yang jahat di dalam Dia.  Ia tidak mempunyai kodrat manusia berdosa, tak ada keinginan berdosa didalam Dia.  Tidak ada konflik batin seperti yang dijelaskan di Roma 7:14-18 di dalam kehidupanNya (Yakobus 1:14).  Karena itu Ia dicobai dalam semua segi, seperti kita, namun tanpa keinginan di dalam (Ibrani 2:18; 4:15, Yohanes 8:46, 14:30).

(4) Yesus dicobai dalam KemanusiaanNya, bukan dalam Ke-AllahanNya.

Yesus adalah Allah yang berinkarnasi dan Allah tidak dapat dicobai dengan kejahatan (Yakobus 1:13-14).  Iblis menyerang kemanusiaan Kristus.  Yesus menderitakan pencobaan dalam kemanusiaanNya, bukan dalam ke-AllahanNya.  Jadi Yesus “dicobai dalam semua segi seperti kita”, terpisah dari dosa.  Segi-segi dimana Yesus dicobai adalah dalam :

(a) Roh – dicobai untuk menyembah Setan.
(b) Jiwa – dicobai untuk meragukan kuasa pemeliharaan Allah.
(c) Tubuh – dicobai untuk memuaskan nafsu badani manusia yang normal dengan menggunakan kuasa mujizat (Matius 4:1-11 dengan 1 Yohanes 2:16-17).  Setiap pencobaan ini datang dari luar, tidak dari dalam. Sebagai manusialah waktu Ia mengalahkan dengan kuasa Firman, dengan mengatakan “ada tertulis”.  Sebagai manusia, Yesus tidak mengundang prerogatif IlahiNya untuk menghancurkan Iblis. Ia dicobai untuk menghindari salib seperti yang dikatakan Petrus berdasarkan pikiran yang iblis berikan kepadaNya (Matius 16:21-24). Ia dicobai di Getsemani untuk menghindari penderitaan cawan Kalvari, namun Ia menyerahkan kehendakNya kepada kehendak Bapa dan dikuatkan oleh malaikat.  KemanusiaanNya yang kudus secara alami menyembunyikan diri dari cobaan berat karena dijadikan dosa.  Namun ini bukan perasaan berdosa sama sekali.  Ia juga dicobai di salib waktu orang-orang Yahudi beragama menantang Dia untuk turun dari salib dan menyelamatkan diriNya sendiri (Lukas 23:35-37).

Ini adalah pencobaan yang riil pada kemanusiaanNya dan sudah tentu kodrat manusiaNya menderita, takut akan penderitaan di salib, baik secara fisik maupun rohani. Dijadikan dosa dan ditinggalkan Bapa merupakan kesengsaraan terbesar dan menyebabkan penderitaan yang tak terkatakan atas kemanusiaanNya yang kudus dan tanpa dosa.  Ia tidak perlu sanggup berdosa untuk mengesahkan penderitaan dari pencobaan ini.  Penderitaan pencobaan ini akan lebih kuat pada kemanusiaanNya yang tanpa dosa dari pada apa yang dapat dipahami kemanusiaan yang berdosa.  Menderitakan kehadiran dosa lebih hebat rasanya pada Seorang yang tidak dapat berdosa dan yang tidak berdosa dari pada mahluk hidup berdosa.  Juga harus diingat bahwa pencobaan bukan dosa, tetapi menyerah pada pencobaan itulah dosa.

Pengajaran bahwa Allah Bapa dan malaikat di Sorga berada dalam keterangan selama kehidupan Kristus di bumi, ketakutan jangan-jangan Anak Manusia jatuh dan berdosa, mengecilkan nasihat dan maksud penebusan oleh Allah.  Ini mengecilkan watak Allah dalam atribut esensialNya dan moralNya.  Rencana keselamatan sudah dihasilkan dalam musyawarah ke-Allahan yang  kekal dan tidak ada kemungkinan untuk gagal di pihak Anak Allah (1 Petrus 1:19-20; Mazmur 40:5-8; Ibrani 12:1-4. 13-20).

e. Alasan-alasan Yesus Menderitakan Pencobaan.

Kami sekarang akan menjawab keberatan-keberatan mengenai maksud Yesus menderitakan pencobaan bila Ia tak mungkin dapat berdosa.  Yesus memang menderitakan pencobaan dan oleh sebab itu Ia dapat menguatkan dan menghiburkan semua orang percaya yang dicobai.

(1) Ia menderitakan pencobaan demi perkembangan kemanusiaan yang penuh dan komplit.

Waktu kemanusiaan Yesus bertumbuh dalam hikmat dan semakin besar dan makin berkenan kepada Allah dan manusia (Lukas 2:52), Ia belajar dengar-dengaran pada hal-hal yang Ia deritakan (Ibrani 5:8).  Ia berkembang secara rohani, mental dan fisik. Ia menderitakan kelemahan tanpa dosa, Ia menderitakan pencobaan dalam kodratNya manusia dan membuktikan DiriNya sempurna.  Apa yang Ia deritakan dalam kodrat kemanusiaanNya, di dalam pengalamanNya menambahkan kelengkapan pada kodrat Ilahi, karena Pencipta itu satu dengan ciptaan, yang Ilahi satu dengan yang manusia.

(2) Ia menderitakan pencobaan supaya diperkenankan Allah BapaNya.

Yesus dari Nazaret adalah Manusia yang diperkenankan Allah.  Jadi Bapa berbicara dari Sorga dan menempatkan perkenanNya atas AnakNya yang dikasihiNya.  Anak tidak menggunakan prerogatif IlahiNya terpisah dari kehendak Bapa, tetapi tunduk dan patuh kepada BapaNya, oleh Roh, untuk semua keberadaanNya, semua yang dikatakanNya dan yang dilakukanNya.

(3) Ia menderitakan pencobaan untuk mempertunjukkan kepada rombongan iblis akan kemanusiaan yang sempurna.

Iblis menaklukan Adam, manusia pertama, melalui pencobaan, dan dengan cara yang sama telah menaklukkan semua manusia sejak itu.  Yesus adalah permulaan “ciptaan baru” dari Allah (Wahyu 3:14).  Iblis menggunakan yang terkuat dari pencobaannya untuk membujuk Yesus  agar berdosa.  Iblis beserta semua kekuatan iblisnya gagal oleh ciptaan ini yaitu Manusia-Allah.  Ia adalah ciptaan dimana tidak ada respons pada dosa.  Ini adalah wahyu kekalahan dosa yang akan datang, atas penulisannya dan atas keseluruhan kerajaan yaitu di salib (Kolose 2:14-17).  Allah sangat disenangkan dengan ManusiaNya yang sempurna, karena Ia merupakan contoh dari banyak anak yang akan datang (Roma 8:20-28).

(4) Ia menderitakan pencobaan supaya menjadi Imam Besar yang berkemurahan.

Karena imam diambil dari antara manusia dan dirupai untuk manusia, ia harus seorang yang disentuh dengan perasaan kelemahan manusia yang ia layani. Yesus Kristus diambil dari kalangan manusia untuk maksud yang sama (Ibrani 4:14-16).  Ungkapan “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” berarti bahwa Kristus dapat bersimpati dengan kita dalam pencobaan dan percobaan kita.  Kristus, sebagai Manusia-Allah, beridentifikasi dengan manusia  dalam hakekat manusiaNya, dengan ketidak-berdosaan dalam kelemahan.  Apakah Kristus dapat atau tidak dapat berdosa, faktanya  adalah Ia tidak berdosa.  Sekiranya Ia beridentifikasi dengan kita dalam dosa, Ia tidak akan pernah dapat menjadi Juruselamat kita.  Inilah perbedaan yang kekal diantara Kristus dan kita.  Inilah identifikasi terbatas Manusia-Allah dengan kita, sebagaimana hubungan diantara Pencipta dan ciptaan dan diantara Juruselamat dan orang berdosa ada hubungan perbedaan dan keterbatasan.  Ia selamanya Manusia-Allah dan kita selamanya manusia yang ditebus.  Satu-satunya jalan Ia beridentifikasi dengan kita dalam dosa kita adalah waktu Ia menanggungkan kita kepada DiriNya di salib.  Dalam hal Yesus menderitakan pencobaan, percobaan dan ujian, Ia sanggup menjadi Imam Besar yang berkemurahan dan yang bersimpati dengan kita.  Harus diingat bahwa Ia bersimpati dengan kita di dalam pencobaan kita, bukan di dalam keberdosaan kita.

Pertanyaan yang dapat ditanyakan:

-“Haruskan dokter sendiri menderita penyakit yang hebat yang sama sebelum ia dapat bersimpati dan menolong seorang yang sakit ?”

-“Apakah seorang harus menjadi pecandu alkohol atau pelacur sebelum ia dapat menolong dan bersimpati dengan mereka yang terbelenggu sedemikian ?”

-Apakah seorang hakim harus dipersalahkan dalam kriminalitas yang sama sebelum ia menghakimi secara benar orang lain?”

-Atau “Apakah Yesus harus berdosa atau dapat berdosa sebelum Ia dapat menolong dan bersimpati dengan orang berdosa?”

Mengatakan bahwa oknum-oknum ini akan menjadi lebih bersimpati bila kasus mereka sama, sama dengan mengatakan bahwa Yesus akan lebih bersimpati kepada kita sekiranya Ia telah berdosa.  Yesus memang menderitakan pencobaan dan percobaan, dan karena itu Ia dapat menguatkan dan menghibur serta bersimpati kepada kita dalam percobaan dan pencobaan kita.

(5) Ia menderitakan pencobaan agar supaya dapat memberikan pertolongan kepada orang percaya yang dicobai.

Karena Ia menderitakan pencobaan, Ia tahu apa yang kita jalani dan dapat memberi kekuatan, kasih karunia dan kemurahan untuk menolong kita waktu kita membutuhkannya. Ia telah berjanji bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai lebih dari apa yang dapat kita sanggup pikul tetapi dengan pencobaan itu Ia akan mengadakan jalan keluar supaya dapat menanggungnya (Ibrani 2:18; 4:14-16; 1 Korintus 10:13).

(6) Ia sekarang telah berada dibalik semua pencobaan dan demikian nanti semua orang percaya.

Sejak kebangkitanNya dan pemuliaan dari KemanusianNya yang tidak berdosa dan tak dapat rusak, Kristus telah ada di balik semua pencobaan.  Tubuh kemuliaanNya tidak lagi tunduk pada kekurangan tanpa dosa dan kelemahan kodrat manusia.  Ia tak pernah tidur atau tertidur.  Ia tak pernah letih.  Ia tak perlu makan atau minum.  Ia hidup dalam kuasa dari kehidupan tak berakhir.  Tubuhnya adalah contoh dari apa yang akan terjadi pada tubuh orang percaya pada kedatangan Kristus (Filipi 3:20-21; 1 Tesalonika 4:15; 15-18; 1 Korintus 15:51-57).

f.  Ke-Allahan dan Kemanusiaan Kristus.

Faktor utama lainnya yang harus dipertimbangkan adalah fakta persatuan ke Allahan dan kemanusiaan Kristus. Seperti yang dicatat sebelumnya, pembedaan diantara Adam dan Yesus dan semua manusia lain tak dapat dilupakan.  Adam sebagai anak Allah yang diciptakan adalah manusia, dan dengan demikian dicobai dari luar Yesus sebagai Anak Allah yang diperanakkan, adalah Manusia Allah, yang juga dicobai dari luar.  Tetapi Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, dan di dalam menjadi manusia Ia tidak pernah berhenti menjadi Anak.  Keseimbangan yang indah di antara ke AllahanNya dan kemanusiaanNya harus dipertahankan.

Dalam hal ke-AllahanNya, “Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun” (Yakobus 1:13-14).  Sebagai Allah yang berinkarnasi, Ia tidak ada dosa dan tak dapat berdosa.  Dalam hal kemanusiaanNya, Yesus dicobai dalam segala segi bagaimana kita (Ibrani 2:18; 4:15).  Sebagai manusia, Ia dapat dicobai dan terbuka pada semua jenis pencobaan luar.  Tetapi karena siapa Yesus, yaitu Allah yang menjadi daging, Ia adalah kodrat Ilahi yang bersatu dengan kodrat manusia yang membawa kodrat manusia melalui pencobaan secara berkemenangan.

Memang teori bahwa Yesus dapat berdosa dalam kodrat manusiaNya, tetapi yang tak dapat berdosa dalam hal meruntuhkan rencana penebusan dari Allah.  Kedua kodrat ini, walaupun dapat dibedakan, bersatu secara tak dapat dibagi di dalam satu oknum Kristus.  Mempunyai kemanusiaan yang berdosa atau berpotensi untuk berdosa dan ke Allahan tanpa dosa dalam satu oknum Kristus, Allah yang memanifestasi di dalam daging, adalah suatu kemustahilan.  Mengatakan bahwa Yesus dapat saja berdosa, adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah dapat berdosa karena Ia memakaikan kemanusiaan.  Ini akan membatasi kuasa Allah Yang Maha Kudus.

3. Kesaksian dari ketidak-berdosaan Kristus.

Kitab Suci membuktikan fakta tentang ketidak-berdosaan Kristus.  Orang percaya ortodoks semuanya menyetujui bahwa Kristus dapat berdosa atau tidak tetapi Ia tidak berdosa.  Ada banyak kesempatan bagi seorang dalam waktunya untuk menghukum Dia karena dosa tetapi tak seorangpun yang dapat melakukan sedemikian.  Bukti-bukti beriktu memberi kesaksian atas kebenaran ketidak-berdosaan Yesus Kristus.

a. Kesaksian Gabriel.

Gabriel mengatakan tentang Yesus sebagai “Yang Kudus” (Lukas 1:35).  Ini tidak pernah dikatakan pada anak manapun yang lahir dari ras Adam.

b. Kesaksian iblis. Roh jahat mengenal Yesus sebagai “Yang Kudus” (Markus 1:24); Lukas 4:34; Matius 8:28-29).

Mereka tak pernah mengatakan hal ini kepada seorang manusiapun, bahkan tidak kepada orang suci yang paling kuduspun.

c. Kesaksian Manusia.

(1) Ia dikatakan sebagai Anak Yang Kudus (Kisah 4:27,30).
(2) Pilatus tidak menemukan suatu kesalahanpun padaNya (Yohanes 18:38).
(3) Isteri Pilatus bersaksi bahwa Ia adalah “orang benar” (Matius 27:19).
(4) Pencuri yang hampir mati mengenal Yesus sebagai tidak layak untuk mati (Lukas 23:4).
(5) Kepala pasukan mengakui Yesus sebagai “Orang Benar” (Lukas 23:47).
(6) Herodes juga mengatakan bahwa Ia tidak berlayak untuk mati (Lukas 23:15).
(7) Yudas mengetahui bahwa ia telah menjual “darah yang tidak bersalah” (Matius 27:4).

d. Kesaksian Allah.

Bapa juga bersaksi dari Sorga akan perkenanNya atas AnakNya yang diperanakkan.  Tak ada orang lain yang pernah mendapat persetujuan Ilahi dan Sorgawi seperti itu (Matius 3:15-17; 17:1-5).

e. Kesaksian Kristus.

(1) Yesus menantang setiap orang untuk menyatakan dosaNya (Yohanes 8:46).

(2) Yesus juga mengatakan bahwa penguasa duni ini sedang datang dan ia tidak berkuasa atasNya, tak ada persamaan denganNya, bahwa tak ada sesuatupun di dalam Dia yang menjadi milik iblis (Yohanes 14:30 Amplified).  (Baca juga Yohanes 8:29; 15:10; 17:4).  Ini berarti bahwa kesaksian ini benar atau Yesus yang berdusta atau menipu diri. Tak seorangpun yang pernah sanggup membuat klaim sedemikian.

f. Kesaksian Rasul-Rasul.

(1) Paulus mengatakan “Dia tidak mengenal dosa” (2 Korintus 5:21).
(2) Petrus mengatakan “Ia tidak berdosa” ( 1 Petrus 2:21-22).
(3) Yohanes mengatakan “Di dalam Dia tak ada dosa” (1 Yohanes 3:5).
(4) Ibrani mengatakan bahwa Ia dicobai dalam semua segi, seperti kita, “tetapi tanda dosa” (AV) atau “terpisah dari dosa” (Ibrani 4:15).
(5) Dia adalah suci (1 Yohanes 3:3).
(6) Ia yang lahir dari Allah tak dapat berdosa sebab benih dari Allah tinggal di dalam Dia (1 Yohanes 3:9).  Bila ini demikian pada orang percaya, lebih lagi adalah benar terhadap Dia, Anak Allah.
(7) Yesus adalah “saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibrani 7:26-27).
(8) Ia adalah persembahan “yang tak bercacat” waktu dikorbankan dalam persembahan (Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19-20).

g. Kesaksian dari Hukum Taurat.

Korban-korban karena dosa dalam Perjanjian Lama membayangkan korban Kristus untuk dosa.  Ketidak-berdosaan Kristus dinyatakan dengan tegas dalam  pemikiran-pemikiran berikut.

(1) Allah mengambil binatang yang tak bersalah dan tak berdosa untuk mati bagi manusia yang bersalah dan berdosa.  Tak ada binatang yang pernah berdosa, atau dapat berdosa.

(2) Semua korban harus “yang sempurna agar dapat diterima (AV)” (Imamat 22:21).  Kata “sempurna” berarti “tanpa cacat, lengkap,  penuh, tulus”.

(3) Korban-korban harus “tanpa cela” untuk dipersembahkan kepada Allah (Bilangan 19:2, 28:3, 9,11 dengan Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19-20).

(4) Korban-korban harus “tidak bercacat” (Keluaran 12:5; 29:1, Imamat 4:3, 23, 28:32).

(5) Malahan di dalam “Persembahan karena dosa”.  Allah menekankan bahwa persembahan karena dosa itu harus “persembahan maha kudus” (Imamat 4; 7:1; Lukas 1:35).

Tetapi kodrat hewan tidak dapat mendamaikan kodrat manusia.  Hewan hanya dapat digunakan sebagai korban pengganti sampai kodrat manusia yang sempurna tanpa dosa dari Yesus dapat dipersembahkan dalam karya pendamaian di salib.  Sistem korban hukum Taurat menjadi tipe Yesus yang walaupun sebagai persembahan karena dosa, namun harus tak berdosa.

h. Kesaksian Mazmur.

Mazmur Mesianik berbicara mengenai Kristus sebagai yang benar dan yang kudus.  Mazmur-mazmur ini menubuatkan kedatangan Kristus yang akan menjadi Juruselamat Israel dan dunia yang tak berdosa.  Mazmur-mazmur ini juga menubuatkan bagaimana Ia akan dipersembahn sebagai persembahan untuk keselamatan kita (Mazmur 40:6-10; 16:8-11; 22:1-31).

i. Kesaksian Nabi-Nabi.

Nabi-Nabi menubuatkan kedatangan Penebus, yang akan menjadi “Tunas Yang  Adil” Kerajaan Daud yang akan menjadi jiwaNya yang tak berdosa sebagai “korban untuk dosa”, dan oleh sebab itu menjadikan “Tuhan Kebenaran Kita”.  Ini menubuatkan mengenai ketidak-berdosaan Kristus.  Nubuat-nubuat ini mengungkapkan pengetahuan sebelumnya dari Allah Yang Maha Kuasa mengenai inkarnasi dan ketidak-berdosaan Kristus.  (Yeremia 23:5-6; Yesaya 53:10; Zakharia 3:8-9; 6:12-13).

j. Argumentasi dari Kristologi.

(1) Kristus adalah Allah yang berinkarnasi, Allah yang memanifestasi di dalam daging, Allah yang memakaikan kepada DiriNya kemanusiaan.

(2) Waktu menjadi manusia Ia tidak mengesampingkan atribut esensial atau moralNya, tetapi menundukkan DiriNya kepada kehendak Bapa untuk semua keadaanNya, semua yang dikatakanNya dan semua yang dilakukanNya.

(3) Persatuan kodrat Ilahi dan yang manusiawi dalam satu oknum Kristus memungkinkan ketidak-berdosaan Kristus, walaupun dicobai dalam semua segi seperti kita.

Kesaksian Kitab Suci adalah lengkap. Walaupun lahir dari perawan Maria, dimana ia sendiri orang berdosa dan perlu penebusan, namun Yesus tidak mewarisi kemanusiaan yang berdosa.  Allah menghasilkan “sesuatu yang bersih” dari perempuan itu (Ayub14:4; 15:14; 25:4).  Ketidak-berdosaan kemanusiaan Yesus adalah hasil mujizat.

Dr. Charles A. Ratz dalam \The Person of Christ\” mengutip inskripsi Latin kuno yang dipahatkan di marmer, yang ditemukan di Asia mengenai iman akan Tuhan Yesus Kristus, kekristenan abad pertama. Tulisan itu berbunyi :

Aku ada (sekarang) apa yang aku ada (dulu) – Allah.
Aku ada (dulu) bukan yang Aku ada (sekarang) – manusia.
Aku ada sekarang keduanya disebut, Allah dan Manusia.

Kristus yang sebenarnya sebagai Manusia-Allah adalah \”Mediator yang lebih baik\” dari \”Perjanjian yang lebih baik.\”

 

[END] @2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).”

Author :


Translation…

Jesus Christ – Christology

 

I. INTRODUCTION.

In the gospel presented two very important questions related to the Lord Jesus Christ. These questions revealed by Christ himself to the religious leaders of his time, and by Pilate when the crowds pressing for the crucifixion of Jesus.

– Matthew 22:42 “What think ye of Christ? Kids Who is He? ”

– Matthew 27:22 “What shall I do with Jesus who is called Christ?”

Salvation plan, as revealed by God in Jesus Christ, free from the answers to both questions. What is believed a Jesus will determine how it relates to Christ. This in turn will determine the eternal fate of man. The Bible states that Jesus Christ is the eternal Son of God, who by the virgin birth of humanity without sin, death, burial and resurrection substitute, made the perfect sacrifice for sin, and therefore makes it possible redemption is received by the fallen man. Separated from Who He is and what He has done, is absolutely no way to approach God the Father (John 14:16; Hebrews 7:25).The doctrine of Christ has two parts:

  1. Person of Christ – who He is.
  2. Work of Christ – what he has done.

In this chapter, we will consider the person of Christ and in the next chapter of the work of Christ. There are huge differences in the views and cults around the person and work of Christ. All religions can be tested in their doctrines to see their view of the person and work of Christ.

II. Person-HERETICS HERETICS OF CHRIST

All cults fundamental about the person of Christ has been manifested in the form of seeds during the early church and have been addressed in the Gospels and the twist-twist of the authors apostolic, there really is not heresy is only now but there is only a revival of the cults of antiquity. Because of these cults, the various councils of the Church, the Church Fathers were gathered together to formulate a statement of doctrine and creed to defend the Church Christology. The following are the cults of the most famous of the person of Christ, surmounted some false teachings establishing their teachings.

A. Ebionites.

Ebionites were Jewish believers who emerged in the early second century. Their name is of Hebrew origin: “Ebionites” which means “poor”, “low” and “oppressed”. Because of their poverty, they consider themselves as the only true disciple of Christ. Ebionites believed that the teachings of Moses and the Jewish ceremony is still binding on believers Christians. While they uphold the teachings of Peter and James, they do not like the writings of Paul (example: Colossians 2: 13-17) who rejected Jewish ceremonies having been nailed, crucified, and do not bind the believer in Christ). Before their influence fade away in 135 AD, they had been divided into two groups: Ebionites Pharisees which is a continuation of the Judaizers of his day Paul and Ebionites Essenik more tolerant in dealing with believers infidels who are not circumcised do not keep the Sabbath and customs Jewish more. The main view of Ebionite cults is the person of Christ. They denied that Christ had a divine nature, and ignoring the supernatural conception. In the rejection of the deity of Christ, they regarded him as a human being. They rejected all TuhananNya because it believes that it is contrary to the facts of the unity of God. They teach that if Jesus is God, it would be contrary to monotheism, which is the belief that there is only one God. There is also a modern heretics who became a fellow of this heresy reject the deity of Christ.

B. Gnostics.

Gnostics appear at about the same time as Ebionites, but they take the other extreme, by denying the full humanity of Christ, the Gnostics also called Docetas which means “apparently” or “seems”, because of their views regarding the person of Christ. Fundamentally, there are three groups of Gnostic heresy which holds the same view regarding the humanity of Christ.

  1. Docetas> group resisting the reality of the body of Christ by saying that the body only as a ghost-like appearance.
  2. Gnostic> This group teaches that Christ had a real body but deny the fact that the body is physical or material. They believe that since the flesh is evil, then the body of Christ can not be a human being.
  3. Cerintian> Gnostic Cerinthius who introduce name of Jesus Christ that is different, that Jesus was merely a man, son of Joseph and Mary, and that Christ is the spirit and power of God that descended upon Jesus at His baptism in the Jordan, they teach that Christ separated from Jesus at His crucifixion and left him to suffer and die alone.

This Gnostic heretics touched and handled in Colossians, I Timothy, II Timothy, I John, Jude and Revelation (see also John 20:31, I John 5:20, I John 21, Hebrews 2:14, I John 4 : 1-4, I Timothy 3:16, Colossians 1:19, 29).

C. Arian.

Arius was an elder in Alexandria, Egypt. The teachings of Arius associated more precisely with the doctrine of God and not with the person of Christ. However, his teachings can not all be separated from one another. Arians taught that Christ did not live before creation, and that He is a creature created by Him and that all the others are created. In the situation that was created, he called the Logos, the Son, the only one who was born and the beginning of God’s creation (John 1: 1-3, 14-18, Revelation 3:14). Arius taught that although mentioned as God’s Son, he is not God in the full sense of the word, but it is the highest of all creatures. He is divine, but not God, medieval half-god among men and God. Arianism blame between the years 321-325 AD by Alexander, Bishop of Alexandria and Arius dismissed from holding a position in the Church and also of the fellowship, and the cult resisting eternity and together from the person of Christ with the Father and the Holy Spirit, making Him as creatures only ,

D. Apollinarian.

Apollinarius is a famous bishop in Laodicea. He taught that Christ had a real body and animal soul but not a rational spirit or mind. Because of the difficulty in teaching that the eternal Son gives spirit or mind of Jesus Christ. So the body and the soul is a part of the human and the eternal Son is divine or part of the spirit of Jesus. Teaching resisting perfection of human nature of Christ, by saying that he only has two parts and not the total and full humanity is spirit, soul and body (I Thessalonians 5:23). Apollinarianism blamed by the Council and Constantinople in 318 AD and was branded a heretic.

E. Nestorian.

Nestorius, Bishop of Constantinople, teaching about the person of Christ, that there are two personalities are involved. He refused the actual unity of the divine and human natures in Christ, saying that the Logos (Divine personality) dwells in Jesus Christ (the human personality), makes two related elements. He filed Christ as a man filled with the Spirit-filled man of God, but not the Godhead real and actual human in one person. Cyril of Alexandria against the teaching of Nestorius and Nestorius blamed and ostracized by the Synod of Ephesus in 431 AD, shape Kenoticisme which teaches that when the Son of God became man, He emptied Himself of the properties of the Divine that is as a man who can make errors intellectual and error, is closely related to Nestorianism.

F. Eutyehian.

In the year 415 AD heresy regarding Christ unscrupulous switch to another stream. Ekutyches taking extreme positions that are contrary to Nestorius. He held that Christ had only one nature and the will, not two natures or volition, he teaches that the nature of the divine and the human is so mixed up into one that actually formed a third nature. This doctrine makes Christ is not God and not man, but a third person produced by a mixture of the two even though they are different. It reduces Christ be persons who are “Hebrides”. Eutyches holds everything about Christ is divine, even also of His body and His human nature.

G. Monophysites.

Eutychianism also flowed into several smaller streams, called briefly here.

  1. Monophysites is another name for a branch Eutychian because they emphasize that Christ had only one nature or the will.

This arises from the difficulty to see harmony and relationship of two natures in one person and the will of Christ. In the years 680-681 AD, in Constantinople Konsoli blame their doctrine and hold that Christ had two distinct natures, divine and human, and thus requires having two intelligence and two wills. Both are in harmonious unity in which the will of the human subject to the will of the Divine.

  1. Adopsionis actually a branch of Eutychianism, apollinarism and Nestorianism.

These heretics taught that humanity of Christ only by adoption. It rejected the humanity of Christ were born and that now is an eternal humanity. Before defining and interpreting the orthodox view of the person of Christ we will summarize important cults that have been discussed.

Ebionites – refused to the divinity of Christ. Gnostics – rejected the humanity of Christ Arian – taught that Christ was a created being. Apollinarian – rejected the union two natures in Christ, humble He became a man filled with God. Eutychian – rejected the distinction the two natures of Christ, so hold a third nature or a hybrid of both. Monophysites – rejecting both the nature and the will in the person of Christ.

III. STATEMENT OF ORTHODOX Person of Christ.

Because heretics grumpy about the person of Christ, the various councils of the Church gathered periodically to prepare a creed based on the truth in an effort to preserve and maintain the “faith once delivered to the saints” (Jude 3) the apostles themselves never formulate a creed so, but the truth of it is scattered in statements fragmentation throughout their writings. These all need to be brought together and studied them carefully to formulate a creed that will define the best truth about the person of Christ. We noted some creed that states as well as possible to an orthodox position regarding the person of Christ glorious. The following credo was formulated at the Council of Chalcedon in 441 AD Since then quoted his common theological complete.

“Concerning fathers, holy us all to agree to teach and recognize the Son are one and the same, our Lord Jesus Christ, the same perfect in Godhead and the same perfect in humanity, God’s truth, and the man is actually the same, from the soul and the body proper, of the same substance with the Father in all divinity, of the same substance with us in his humanity, in all things as we are, except sin, before the begotten of the Father in all Godhead, but at a later date , for us and for our redemption, begotten (equal) of the Virgin Mary, mother of God, for his humanity, Christ is one and the same, the Son of God, the only one who was born, which is manifested in two natures without confusion, without exchange, can not be shared, can not be separated. The distinction nature is not abolished by the union, but the property of their respective preserved and combined in one person and one gypostatis; not a strong or divided into two persons, but the children were one and the same and that is born only one, that is God, the Logos, and the Lord Jesus Christ. (Robert Clarke, in “The Christ of God,” p. 41-42). ”

Henry Thiessen in “Lectures in Systematic Theology” (p. 286), in quoting from Strong, wrote: “In the person of Jesus Christ, there are two natures, the nature of the human and the divine, each in perfection and integrity, and These two natures united organically and can not be dissolved, but so that no third nature are formed. Briefly (using antique dictum) orthodox doctrine forbids us to divide it or disrupt unscrupulous nature-nature “.

Furthermore: “The redemption of man from sin should be generated through a Mediator should unite in Himself human nature and the Divine that He can reconcile God and man, and man to God”.

And finally, the statement of the author of the book: “The Lord Jesus Christ is the eternal Son of God, which existed before, with the Father, and by His incarnation and birth of the Virgin. Imposes on Himself human form and is expressed as a Man of God. In the one person of Christ, there are two natures, the human and the divine, which can be distinguished but can not be divided, classifying him to be the only mediator between God and man. Jesus Christ was sinless, perfect, crucified, buried, rose, rose, glorified and He will come back a second time in glory and judgment “.

Orthodox position regarding the person of Christ is that Christ is true God and true Man, that because the union of the two natures in Him, then He became the perfect intermediary between God and man.

IV. PROPHECY-OLD TESTAMENT PROPHECY OF CHRIST PERSON

Investigations into the Old Testament prophecies concerning the coming Messiah revealed that there are two schools of thought. The flow of the talk about the divinity of Christ, while others spoke of the humanity of Christ. Jewish commentators on the Old Testament can not reconcile this flow. They can not understand how the Messiah was divine, but human. Therefore they misunderstand and do not meet the Messiah foretold by their scriptures that He will come.

A. Godhead of Christ.

The following verses declare the divinity of Christ, indicate that the Redeemer was God incarnate.

  1. “A young woman with child and will give birth to a son, and she will call His name Immanuel” (Isaiah 7:14).
  2. “For unto us a child is born to us, a son is given to us … and His name is called the” Advisory Magic, Mighty God, Eternal Father, Prince of Peace “(Isaiah 9: 5-6). “… The Lord our Righteousness” (Jeremiah 23: 5-6).
  3. Hai Bethlehem … out of thee shall rise up for Me, a man who will be ruler in Israel; whose goings are from old (from eternity) “(Micah 5: 1).
  4. “What is his name and the name of his son? You certainly know “(Proverbs 30: 4).
  5. “My daughter thee. Today I have begotten thee “(Psalm 2: 7).
  6. “Throne belong to God, will last for ever and ever (Psalm 45: 7).

B. Humanity of Christ.

These verses suggest that the Redeemer was a man, born of a woman. The verse states humanity of the Messiah, as the previous verses declare all Godhead.

  1. Redeemer is the “seed of the woman” who will crush the head of the serpent (Genesis 3:15). This is a prophecy of the Birth of the Virgin in a form that contains puzzles.
  2. The Messiah will come from the tent of Shem (Genesis 9:26).
  3. Redeemer is the “seed of Abraham” (Genesis 22:18).
  4. Redeemer is the “seed of Isaac” (Genesis 26: 2-4).
  5. This promise was also corroborated the “seed of Jacob” (Genesis 28: 13-14).
  6. The Messiah would come from the nation of Israel (Numbers 24: 17-19).
  7. God also foretold that a prophet “like Moses” the dead shall be raised from among his brothers (Deuteronomy 18: 15-18).
  8. Messiah would come from the tribe of Judah (Genesis 49: 10-12).
  9. The Messiah will come from the family of Jesse (Isaiah 11: 1-2).
  10. Messiah would come from the House of David (II Samuel 7: 12-14).
  11. The promise of Scripture; that “a young woman with child and will give birth to a son, and he will call him – Immanuel” (Isaiah 7:14).
  12. The Messiah is “a man, whose name is the” Branch “(Zechariah 3: 8; 6: 10-12; Isaiah 11: 1-4).

All these references show how God isolate a man, then a nation of men “, whose name is the” Branch “(Zechariah 3: 8; 6: 10-12; Isaiah 11: 1-4).

The Old Testament prophets foretold Christ as God and man, has the divine and human natures in one person. That it is difficult to reconcile these two streams Messianic prophecy was certainly clear, because of how it can happen that this Redeemer as God and man at the same time? Only in the New Testament witness of the historical fulfillment in the Gospels and then their doctrinal revelation in the twist-twist we can find a solution to the puzzle and can see how God was reconciling the two schools of this prophecy. Miracles incarnation is God’s answer to that question. During humans descended by a father humanely and born by a mother as a human being, ranging from the creation of Adam and Eve, the first parents this is not the case in the Messiah. He was born of a human mother, a virgin. But he is not lowered by a human father, because God is his Father. This child is the “seed of the woman” (Genesis 3:15). But the “Son of God” by a virgin (Isaiah 7:14). It’s getting a glorious fulfillment in the virgin birth to Jesus Christ by the power and the shade of the Holy Spirit (Matthew 1: 18-23 with Luke 1:35).

The modernists can only reject the virgin birth by the scientific knowledge may not be able to admit it, and spiritual pride can only state that the consequences are not real, but the importance of this biblically presumption is not excessive. The above facts virgin birth is the doctrine of the Bible it depends. When Jesus Christ was not born of a virgin, he is not without sin, and if he is not without sin, therefore he need a Savior. When he himself need of salvation, then He could not be our Savior, the Lord or King, and all the plan of redemption was falling to pieces on the ground. So we need to understand and believe in the fundamental meaning of the incarnation.

V. INCARNATION OF CHRIST

A. The fact of the Incarnation.

All the writers of the New Testament to prove the truth of the Incarnation. The birth of Jesus Christ is a historical fact and the writers of the Bible under the inspiration of the Holy Spirit gives us the ins and outs of this miraculous event. The word “incarnation” simply means “God took on Himself human flesh”. God took on human form or menyaluti Himself with the flesh in the virgin birth. The origins of the Christ, the Son, Manhood, traced the provenance of the work of the Holy Spirit. God became man in Jesus, the Godhead put humanity to Himself. A.B. Bruce said “It is not humanitarian in Allahkan, but the descent of God into humanity. Instead of a man who took God to him, but God who took humanity “.

  1. Incarnation in Historical.

a. To Mary (Luke 1: 26-35, Jeremiah 31:22).

The angel Gabriel was sent to Mary, a young virgin Hebrew, to announce the birth of the Messiah. Those words clearly, it was not the seed of the Son of man, but that the Holy Spirit himself who overshadow a virgin and placed in the womb the seed of God the Father. The child later was as creatures without sin generated by the work of God and the response of this holy virgin. No there is something sacred in the birth of this child, God will produce being sinless, perfect, eternal beings sinful, imperfect and mortal. This is the miracle of the virgin birth. It can not be explained by means of purely human or natural. Maria, in the fullness of faith to accept the responsibility and the challenge to be the mother of Christ – the Son (Luke 2: 34-35).

b. To Joseph (Matthew 1: 18-25).

Matthew, after the genealogy of Jesus to break the pattern by introducing regular descent of the miraculous birth of Jesus with the “birth of Jesus Christ was as follows: The report says that Mary turns of the Holy Spirit. Messianic genealogy is the birthplace of the man, but Christ was born of Mary. Yusuf, who knows that his wife is with him containing intends to divorce her, so that he will not be stoned to death, according to the law of Moses. But the angel of the Lord came to him and specifically told him that the child will be a child who will be named Jesus, the Son is the result of the shade of the Holy Spirit and become Emmanuel, which means “God with us”. In faith, Joseph was willing to be the official custodian of the children born of a virgin, accept the testimony of the angel of the sanctity of the wives were with him, and accepts the fact the miracle of the virgin birth.

  1. Personally Incarnation.

Jesus himself gave testimony about its own origins including the truth of his birth as a miracle. Jesus said, “I came from God, I came from the Father …” (John 16:27, 8:42). Jesus knew that He is the Lord of David (in the case of all AllahanNya) and son David (Manhood – Matthew 22: 42-46, Revelation 22:16, Psalm 110: 1). On several occasions he declared that God was his Father, and never said that Joseph was His Father (John 2:16, 5: 17-47, 6: 32-40, 8:42). God the Father also prove on the child’s birth is a miracle. Three times he said from Heaven, twice of it proves this fact. “This is my child, my beloved, in whom I am well pleased”. (Matthew 3: 16-19; 17: 1-5; John 12: 27-29). This is taking responsibility for the way the Father of His birth. This is the way the Father acknowledge the birth of the Son, Jesus knew about the previous existence with the Father, all AllahanNya, and that He was born of a virgin as a Man of God. Reject the virgin birth is to reject the testimony of Christ, and also watched the Father.

  1. Incarnation in Theology.

It has been argued by those who deny the virgin birth twist that writers never talk about it. But this is not so, because they were clearly talking about the divinity of Christ and his humanity, but more in the language of theology. Short excerpts that follows and references is the way the apostles confirm the truth of the virgin birth.

a. Paul.

The Apostle Paul has some unique phrase which speaks of the incarnation. This proves the fundamental truth of the virgin birth.

(1) Our Lord Jesus Christ according to the flesh of the seed of David “(Romans 1: 3-4).

(2) God sent His Son, in time, “born of woman and subject to the law” the law “(Galatians 4: 4).

(3) In Christ “dwells bodily all the fullness of the Godhead” (Colossians 2: 9; 1:19).

(4) Great is the mystery of godliness, “God was manifest in the flesh” (I Timothy 3:16).

(5) the one Mediator between God and men, the “man Christ Jesus” (I Timothy 2: 5).

(6) “Because children are the children of blood and flesh, he likewise with them and share in their circumstances, so that by his death, he might destroy him, the devil, the power of death” (Hebrews 2:14).

(7) God sent His Son “which is similar to that of sinful flesh” (Romans 8: 3).

(8) Christ came from the fathers “as he is as a human being” (Romans 9: 5).

(9) While the original Christ “in the likeness of God”, but He has emptied himself, taking “the form of a servant, and being made in human likeness” (Philippians 2: 5-8).

(10) When Jesus came into the world with the incarnation, He said, “The body you have prepared for Me” (Hebrews 19: 5). This body supplied or fitted perfectly to do the will of God in the virgin Mary. Time God made Adam, He made a body from the dust of the ground (Genesis 2: 7). Time God made Eve, He keeps the body from the rib of Adam (Genesis 2: 21-22). All other human beings receive the body through a natural process that includes the union of a man and a woman, but in terms of the body of the Son of God was not created in this manner, it is provided in the womb of the Virgin Mary by the power of the Holy Spirit (Luke 1: 30-33 ).

b. Peter.

The apostle Peter also know the revealed truth of the divinity of Christ and the virgin birth.

(1) Peter confessed that Jesus Christ is “the Son of the living God” (Matthew 16:16). He is not only the Son of Man, as Jesus said Himself, but the Son of God, Jesus knew that Peter had received this revelation of God the Father. This is another event to recognize the virgin birth and divine keputeraan of Christ.

(2) He has been before the Lamb of God before the foundation of the world, but because we are only revealed Himself in the last days (I Peter 1: 18-20). Pre-existence, incarnation and redemption is the truth which Peter claimed herein.

c. John.

John also affirmed the divinity and humanity of Christ.

(1) In the beginning was the Word, the Word was with God and the Word was God. The Word was made flesh, and dwelt among us (John 1: 1-3, 14-18). This is how John is talking about the virgin birth.

(2) The false prophets deny that “Jesus Christ has come in the flesh” (I John 4: 1-3).

(3) deceiver and the antichrist does not recognize that “Jesus Christ has come in the flesh” (2 John 7:10).

Having noticed this brief references that all points to a fundamental truth of the incarnation, Jesus Christ is God manifested in the flesh. Man is God. Apostles strengthen theologically in the twist-twist about the virgin birth as expressed historically in the Gospels.

In Matthew, Jesus is presented as the Son of David (Isaiah 11: 1; Matthew 1: 1).

In Mark, Jesus is presented as the Son of Man (Zechariah 3: 8; Mark 8:38). In Luke, Jesus is presented as the Son of Adam (Zechariah 6: 12-13; Luke 3:38). In John, Jesus is presented as the Son of God (Isaiah 4: 2; 7:14; John 3:16). The above facts incarnation or the virgin birth is the truth about the pre-existence, the Godhead, the Savior, deity, resurrection, and the whole plan of redemption was located.

B. The importance of the Incarnation.

There are two main cases that require incarnation. The Fall and human sinfulness and God hold and maintain the agreement. The day God created human beings, it is on the basis of the Agreement of Eden. The fact that God is the creator of the agreement and maintenance agreement means that as creator He obliges himself for the sake of creation (Genesis 1: 26-28). Time sinful man of God was still required by his own will, especially in the case of redemption. It must be fulfilled in the New Testament (Jeremiah 31: 31-34) substantially all of God’s covenant support this fact. To state it more specifically, human sin and therefore are under sentence of death (Genesis 2: 16-17). So he needed someone to redeem from death. But all that will be born from Adam however can not redeem his brother (Psalm 49: 7-8; 51: 5; 58: 3). When a man has to be redeemed, then the man should die for the people, and if none of Adam’s race who can do this then only God can redeem mankind as God, He must be a man. Fall man of God who maintains covenant requiring it to become a man in order to redeem humanity back to communion with Himself.

Sin that requires incarnation. But, if God should become man, the man must be innocent or separate from sin. If not, then he himself will be able to redeem sinners and not the other. Answer God visible in the miracle of the virgin birth, where God put on Himself with human flesh and was born of Mary into the human race. But do not inherit the nature of his being that has fallen, which berdsoa or damaged. He took human nature without sin, and unite with the divine nature. God foretold the time before malalui prophet Jeremiah that there will come days when he will hold a New Covenant with the house of Israel and the house of Judah, He requires Himself to die. It also requires that incarnation, because God can not die as a God, but only as a man (Jeremiah 31: 31-34; Hebrews 8: 8-13), has the power of man after death. So the New Testament was not able to walk until the death of Jesus Christ who bequeath a summary:

  1. All have sinned and therefore must die (I Corinthians 15:21; Romans 5: 12-21; Genesis 2: 16-17).
  2. Only man can die for man, but no man born of Adam’s race are eligible, as are all born in sin, shaped in error. No one born of Adam’s race were clean (Job 14: 4; Psalm 51: 1-5; 58: 3).
  3. Only God can redeem mankind. But God can not redeem as God, but only as a human being. So God became man innocent by the incarnation to redeem as God, but only as a human being. So God became man innocent by the incarnation to redeem man back to Himself (Galatians 4: 4-5; 1 Peter 2:22; 1 John 3: 5; 2 Corinthians 5:21). By the virgin birth, God produces a creature who is without sin from creation would sin..

 

C. Nature of the Incarnation.

The nature of the incarnation given to us by Paul in Philippians the grovel double seven. Objective measures of self humiliation by Christ written in the summary of Philippians 2: 6-8 the following:

  1. While in the likeness of God.
  2. Do not count equality with God a thing to be grasped.
  3. Rather had emptied himself.
  4. Taking the form of a servant.
  5. Being equal with humans.
  6. In appearance as a man, he humbled himself.
  7. Obedient unto death, even death on a cross.

These seven double humiliation can be summarized into three major theological subject:

1) All His Godhead, clauses 1 and 2;

2) His Humanity, clauses 3.4 and 5

3) His crucifixion, clauses 6 and 7.

When Paul states that Christ “emptied himself”, he said that Christ emptied Himself. With the “in the form of God” took “the form of a human being” there is no self-emptying process is said to be a kenosis theory. The phrase “emptied himself” comes from a Greek word “Kenoo” which means “to make empty”. Theologians generally accept kenosis theory, that Christ emptied Himself in the incarnation, but there is a lot of misunderstanding regarding this theory. The usual questions, namely, “in what way Christ emptied Himself? “Consisted of emptying oneself whether it?” And “a time to be human if he stopped being God?”.

  1. The concepts are wrong.

a. This theory holds that Christ in emptying Himself, ruling out all AllahanNya, releasing its essential attributes when He took humanity to Himself. It can be proved that he was always aware of all AllahanNya. Godhead can take humanity and unite with Him but can not stop from the Godhead, Jesus is God manifest in the flesh.

b. He emptied Himself of divine attributes ownership. This theory holds that the time to be human, Christ release of the attributes of the Deity certain essential, such as omnipotence, omniscience-presence, omniscience and omnipotence. On the other hand, this theory holds that Christ became human time is not emptied Himself of His moral attributes, such as love, truth, holiness and life of other essential attributes such as self-existence (the existence of its own), eternity and unity with the Father is not handed over. But, if in case Christ gave some divine attributes, and apparently this is not possible, then he has been stopped from being fully God.

c. He emptied himself of ownership will significantly divine attributes. This theory holds that Christ did not liberate himself from the essential attributes and moral, but only acted as though he did not have it. This theory introduces an element of deception that was not the nature of the true God.

d. He emptied Himself of divine attributes use. This concept of adhering to Christ in emptying Himself, stop using the attributes of the Divine. It held that he did not cease to have the divine nature and divine attributes but just stop using it. But the Gospels as will be seen indicate that he uses or practice the divine attributes at any time.

 

2. The concept is right.

Time becomes human Christ does not cease to be God, and He did not let go of the ownership or use divine attributes, both essential and the moral. It will be seen that God does not turn into a human, but just take human nature without ceasing to be God.

So comprised of whether this self-emptying? Christ gave free use of the attributes of the Divine. He ruled out prerogatifNya as God to act as God, and be dependent on the will of the Father for the implementation, operation or any manifestation of these attributes. AH. Strong in “Systematic Theology” say “Humiliation ourselves consists of handover ongoing on the part of the God-Man as far as the purpose is human nature, in applying the powers of the Divine which the blessed by union with the Divine, and in the voluntary acceptance , which follows this, the temptation, suffering and death. ”

a. Christ always was God.

Before the incarnation, Christ is in the likeness of God (Philippians 2: 6-8). Time became a man he does not cease to be God. The truth of all essential AllahanNya before incarnation avoid that He may cease to be God because they are human. Jesus was God before and during incarnation. He never stopped being God, He is eternal as God, but took humanity upon Himself. Time taking humanity, He emptied Himself of the Godhead. Rejecting it means falling into the heresy of the early centuries and allied with those who refuse to “divinity of Christ”.

Herbert Lockyer in “All the Doctrines of the Bible” says: “In the incarnation of Christ added to the existing Divine nature and human kondrat become God-Man. In the future our generation, added in our human nature that already exists, the divine nature so we menambil part in the divine nature (2 Peter 1: 4). So, like Christ, every true Christian is a human-divine “.

In citing Dr. Lousis Berkhof, Lockyer went on to write “Christ has a human nature, but he is not a human person. Unscrupulous intermediaries is the Son of God that can not be changed. In incarnation He did not turn into a human person, and also he did not take human officers. He just took, in addition to kondrat Divine, human nature does not develop into an independent personality, but became personal in the person of the Son of God “.

b. Christ always has divine attributes.

Time becomes human, not Christ emptied himself of an essential attribute or morals whatsoever. We noted this in the verses of God’s Word the following:

(1) The Essential attributes.

(A) presence omnipotence (John 3:13; Matthew 28: 19-20; 18:20).

Jesus knew, as the Son of God, that he is on earth and in Heaven. This is the omnipotence presence. Only with these attributes along with his people he can be anywhere at any time.

(B) omnipotence his power (John 6:36; 14:11; 10:25, 37-38; 15:24).

The work of Christ is a divine work. There are certain jobs that can only be done by God. Jesus forgave sins, stating the name of the Divine, I AM, and to practice creative powers that belongs to the divinity of Jesus is Almighty.

(C) knowledge omnipotence (John 2: 24-25; 18: 4).

Jesus knew all men. He also knows all that is in man. In the case of all AllahanNya, he knows everything. Nothing is hidden from His sight.

(D) No change (Hebrews 1:12; 13: 8).

Jesus Christ is the same yesterday, today and forever. His character, His love and His life never changed.

(E) Self-existence (John 8:58, John 1: 4; 5:26).

Jesus gives eternal life to mankind by saying that life is in Him. He who has the Son of God has eternal life. This is the attribute of the Godhead (1 John 5:26). Jesus is the eternal Son of God, He gives eternal life to all who will believe in the Father through Him.

(F) Eternal (Revelation 1: 8; John 3:16; 5:26).

Jesus is the eternal Son of God. He gives eternal life to all who will believe in the Father through Him.

(2) The attributes Moral.

The following moral attributes is also manifested in the Son of God. Time becomes Man, He emptied Himself of the moral attributes of the Deity.

(A) Holiness (Mark 1:24, Revelation 4: 8, 1 Peter 1: 15-16).

(B) the truth (1 Corinthians 1:30, Jeremiah 23: 4-5, 1 John 2: 1-2).

(C) The love (John 3:16, Galatians 2:20, 1 John 4: 16-19). Jesus Christ is manifested as perfect love. It encompasses kindness, mercy, compassion and kindness, all of this is the quality of the love of God (Ephesians 2: 4-7, Titus 3: 4-7).

(D) Loyalty (John 14: 6), 1 John 5:20, Hebrews 2:17. Jesus Christ is faithfulness personified. Jesus was and is God, has the essential attributes and moral Godhead He has the attributes of God because He is God. Jesus was aware of the divinity and humanity.

c. Christ as God made Man hanging.

Self-emptying of Christ as God is in the fact that He humbled himself, and from the form of God, he put to himself the form of a servant. Although he is God and never cease to be God because of the incarnation, He became man submissive, obedient and dependent on the Father in performing its essential attributes. From the free will He submitted himself as a man of God to the will of God in total dependence on the Holy Spirit.

The boy took on Himself the limitations of perfect humanity and implementing continuous delivery of his will. He did not have to suffer from hunger, thirst, fatigue, difficulty, suffering or death, and never use the Divine prerogatifNya to alleviate the gentleness of human nature is.

Humility is not insisted upon Him or contrary to His will, but the love of the eternal Godhead that requires him to work on the redemption of fallen man. Christ gladly do the will of the Father (Psalm 40: 6-7, Hebrews 1: 5-10). As the God-man who is subject to and dependent He says that he can not do anything of Himself but only directed the Father (John 5:30). So he never acted contrary to the will of the Father, and any implementation or disclosure of the essential attributes or moral will always agree with the will of God the Father as a perfect man, He is completely dependent on the Holy Spirit for all that he said and did. In summary:

(1) In the emptying Himself He threw glory, majesty brilliant disclosure outside of the Godhead that He has with the Father (John 17: 5).

(2) In the emptying Himself He threw likeness of God and took on Himself the form of a servant, but did not stop as God. This He did in the virgin birth (John 1:14, Philippians 2: 6-8, 1 Peter 1: 16-18).

(3) In the emptying Himself He taught what was just said to His Father to be said (John 5:30, 8:28, 35, 12: 44-50).

(4) In pengsongan Himself He just did what was indicated by His Father to do (John 5:36).

(5) In the emptying Himself He practiced only the authority given to the Father in Him (John 10:18).

(6) In the emptying himself he became dependent voluntarily to unction and power capabilities of the Holy Spirit (Acts 10:38, Luke 4: 14-18, Matthew 12:36, Hebrews 9:14, Acts 1: 2).

(7) In the emptying Himself freely He ruled out the implementation of His divine attributes, and only do what the Father desired. It is the placement of lower self for the purpose of redemption. He never uses his divine prerogative something for the purpose of self-interest (John 14:28: 3:16; 10:18; 1 Corinthians 11: 3; 15: 27-28).

D. The reason for the Incarnation.

There are nine reasons the incarnation and all got full fulfillment in the person and work of Christ.

  1. To strengthen its safety agreements held ancestors.

God made a promise agreement with the patriarchs: Adam, Noah, Abraham, Isaac and Jacob. These agreements include the safety of Israel and the pagans through the seed of the woman, the Lord Jesus Christ. Christ came into incarnation to fulfill the promises given to the fathers (Romans 15: 8-9, Matthew 1: 1, Isaiah 7:14; 9:69, Genesis 3:15; 22:18, Micah 5: 1-2).

  1. To fulfill the Law, the Psalms and the Prophets.

a. The law. Fulfill the Law as a Moral.

Jesus came to fulfill the demands of the law and satisfy the demands of God’s holiness. It is necessary for a person to fulfill the law before he can make up for a break, man break the law and are under the condemnation of death. Jesus is the only man who never kept perfectly the law of God. In terms of the type of the law include: victim services, faith, sacrifice and feast. The ceremonial law is the type of service of the faith of Christ, He came to fulfill the law in all things to the smallest in his own person and his work.

b. Psalm.

Many psalms are messianic. These psalms foretells the suffering of Christ and the subsequent glory (1 Peter 1: 10-12). Christ came to fulfill these things.

c. Prophets.

Law, the Psalms and the Prophets pointed to Christ’s coming, the Redeemer to come. They gave the type and foretold the person and his work. Jesus specifically stated that He came to fulfill all that is therein (Matthew 5: 17-18, Luke 16:16, Romans 2:21, Hebrews 10: 5-8, Luke 24:27, 44:16, Galatians 4: 4-5, Psalm 16: 8-10, 22: 1-8, 41: 9-11).

  1. To provide a complete revelation of God the Father of the saints,

The prophets in the Old Testament only provide partial revelation of God and not able to provide full and complete revelation. Only the Son of God, who is God incarnate who can do this. In Christ, God dressed in human flesh. Special Revelation in the New Testament is the Father, Jesus Christ is the revelation of the most full and clear of the relationship Father and the Son is God’s will to be entered by those who are born again (John 1: 14-18; 14: 9; 16:27, Matthew 6: 8, 5:45, Psalm 103: 13, John 3: 1-5, Matthew 11:27, 1 John 3: 1-2).

  1. To destroy the work of the devil and his kingdom.

The kingdom of the devil is the kingdom of darkness and all the work comes from nature. Sin, sickness, pain, death and shackles was the work of the devil. Jesus came to destroy everything and bring people out of the kingdom of darkness into the kingdom of light (1 John 3: 5, 8; Romans 13:12, Ephesians 5:11, Hebrews 2: 14-15, John 12:31, 14:30 Revelation 20: 10-15).

  1. To live a life without sin be the perfect man

Jesus came to live a life of perfect and without sin as God wants human beings on this earth, Adam fell from this life, but Jesus lived it. Though the biblical writers give teachings infallible in the inspiration of the Spirit, but none of them were not wrong in character, Jesus alone was without sin, no imperfections in his character. He did not have a fallen human nature or the temporal. Therefore, He was the only perfect man our example (1 John 2: 6, 1 Peter 2:21, Matthew 11:29).

  1. To abandon sin by the sacrifice of Himself.

The wages of sin is death, and the only way to handle it is the victim’s death. When Adam fell, God introduced as the Imam of the King Jesus combines within Himself what is stated in the order of Melchizedek (2 Timothy 4:18, Jeremiah 23: 5-6, Genesis 14: 18-19, Hebrews 7: 1-29, Zakaria 6:12; 3: 8, Hebrews 1: 8; Luke 1: 30-33, Genesis 17: 6, 16; 49: 9-10, Isaiah 11: 1, 9: 6-9, Numbers 24:17, Matthew 2: 2, John 1:49, 1 Timothy 1:17; 6: 5). Jesus Christ combines in Himself all the positions of the Old Testament as the Judge, Christ is the Savior of God and our Release. As Prophet, Christ is the Word of God for us, as a priest, Christ the Mediator Advocate and Mediator of God as King, Christ is God’s government and power over us.

  1. To make the New Testament goes.

Christ came to fulfill in Himself all the words in the Old Testament, including all agreements. He came to make the New Testament as the prophet Jeremiah prophesied that apply. Only by the death of pewasiatlah promises thanks to the New Testament can run and can be obtained by the rest of the world (Jeremiah 31: 31-34; Hebrews 8; Matthew 26: 26-28). The New Testament is the fulfillment of all previous agreements and bring people who redeemed the purpose of the agreement was held in the session Godhead in eternity before sin (Hebrews 13:20).

  1. To fulfill all the positions of the Old Testament.

There are four main positions of the Old Testament who imagines Christ’s ministry that He came to fulfill.

a. Position Judge.

The judge is releasing and the savior of God’s people, Israel. Each of them in his post is the type and imagining Christ as Judge, Pelepas and Savior. Their main function is to release Israel from bondage and oppression of their enemies and bring them back to their relationship with God. This as well as the ministry of Christ to His people (Judges 2:14, Nehemiah 9:27, John 5: 19-20, Acts 17:31, Isaiah 33:22, Revelation 20: 11-15, Acts 5:31). The Gospel of John in particular presents Christ as Judge and Saviour.

b. Position of the Prophet.

Moses specifically imagine Christ as a prophet, the Word of God to man. The prophets of Israel are the mouthpiece of God for His people. They come from God and represent God in humans. Thus they imagined Christ that comes from God and represent God in humans, being the last word, the perfect revelation of God to man (John 1: 17-18, Luke 10:16, Hebrews 1: 1-2, Acts 2: 22-23; 7:37, Luke 13:33, Matthew 13:57, Hebrews 12:25, John 6:14, 7:40, Luke 7:16, Exodus 4: 14-16, 17: 1, Deuteronomy 18: 15-18). Christ is the infallible teacher and prophet of God. Mark’s Gospel mainly presents Christ as a prophet.

c. Priest’s office.

When the prophet represents God to man, the priest represents man to God. Aaron the high priest and all the priests afterward in jabaan they became a type of Christ in this position. Qualifications, anointing and ordination to the offices they became a type of Christ as our High Priest in the function. He was not a priest according to the “order of Aaron,” but according to the “order of Melchizedek” (Leviticus 21: 16-24, Exodus 28-29, Leviticus 8: 23-26, Hebrews 1: 9, Zechariah 6: 12-13, 1 Samuel 2: 27-35). The Church is also called to follow the order of Melchizedek (1 Peter 2: 5-8, Revelation 1: 6, 5: 9-10). This position is vitally linked to the sacrificial system because of sin. Christ the High Priest, offered Himself by combining the sacrifices and offerings in a person. He is the propitiation, Advocate, Mediator, High Priest for the sins of mankind (Hebrews 2:10, 17-18, 4: 15-16; 5: 1-5, 1 Timothy 2: 5, Isaiah 53: 10-13, John 1:29, 36; 1 John 2: 1-2, Psalm 110: 4).

Christ as Priest on earth offered at the altar of Calvary His body and His own blood as a supreme sacrifice for sin. Christ as priest in Heaven held at the altar heavenly intercession for His own people. It is based paa resurrection and ascension and the fulfillment of which is typified in the great Day of Atonement ceremonies as set forth in Leviticus 16 (Hebrews 7: 26-27, Romans 3:25, Hebrews 8: 1-2, 9:24, Romans 8:34) , The Gospel of Luke mainly presents Christ as our High Priest.

d. Position King.

Kings of Israel and Judah, although not perfectly in character and deed, imagine the Lord Jesus Christ will be King of kings and Lord of all hosts, Son of David. Incarnation also to fulfill the Davidic Covenant which promised Messiah King became the highest government of the world (Psalm 89, Psalm 2, Psalm 45, Psalm 72, Psalm 110, John 18:26, 2 Samuel 7: 8-17; Revelation 15: 3, 19:16). The Gospel of Matthew mainly presents Christ as King. As a Priest-King Jesus combines within Himself what is stated in the order of Melchizedek (2 Timothy 4:18, Jeremiah 23: 5-6, Genesis 14: 18-19, Hebrews 7: 1-29, Zechariah 6:12, 3 : 8, Luke 1: 30-33, Genesis 17: 6, 16, 49: 9-10, Isaiah 11: 1, 9: 6-9, Numbers 24:14, Matthew 2: 2, John 1:49, 1 Timothy 1:17, 6: 5).

Jesus Christ combines in Himself all the positions of the Old Testament. As Judge, Christ is the Savior of God and Release for us. As Prophet, Christ is the Word of God for us. As a priest of Christ is the Mediator, Advocate and Mediator of God. As the King Christ is God’s government and power over us.

  1. To enhance the Redemption plan on coming both times.

First Coming of Christ by the incarnation is only a preparation for the second coming of Christ. The first coming and all that is included in the plan of redemption to make way for the second time. The arrival of the first is the opening of a plan of redemption and the second coming is a refinement of it. In the first arrival we were saved from the guilt and penalty of sin and the second coming we will be redeemed in full on the power and presence of sin and, coming second to finish what was started at first arrival, each incomplete without the other (Daniel 9: 24-27 , Romans 8: 18-25, Hebrews 9: 27-28, Philippians 3:21, 1 Corinthians 15: 25-28, 1 Thessalonians 4: 15-18).

VI. The divinity of Christ.

As noted earlier, the heretics concerning the divinity and humanity of Christ emerged in the early centuries of Church history pendulum swaying forth and back in keestrimannya. But, more denial AllahanNya all of the above humanity, the divinity and humanity of Christ needs to be preserved in the best possible balance, as witnessed by the New Testament writers, separately to avoid heresy.

The following are the verses of Scripture that affirm the divinity of Christ is proof of the strongest that the Lord Jesus Christ is God, the attributes of the Divine, the names of the Divine, the works of divine worship of the Divine, the rights of the Divine and the divine relationship that ascribed to Him.

A. Divine attributes that are considered of him.

1. Essential attributes.

a. Immortality form.

Sonship of Christ is the eternal sonship in the Godhead eternal. His name I express ADA and eternity beings. Jesus knew that He was previously with the Father and He came down from Heaven (John 1: 1-3, Proverbs 30: 4, Romans 1:20, John 17: 3-5, Matthew 3:11, 16:16, Hebrews 7: 1-4, Isaiah 7:14, 9: 6-9, Proverbs 8: 23-31, Revelation 1: 8,11, John 6: 33,41,50,51,62, 8: 56-58, Exodus 3 : 14 Micah 5: 2).

b. Pre-existence of beings.

Jesus himself witnessed for pre-his existence. He knew that he was no lap of the Father, eternity form includes the pre-existence of beings. Jesus existed before He was born of the Virgin Mary (John 1: 1-3, 27, 30, 16: 26-28, 17: 1-5, Luke 12: 49-51, Matthew 10:40, Proverbs 8: 13- 36, John 6: 38-57, 8:28, 38, 58, Mark 1:38, Micah 5: 2).

c. Self-existence.

Son was with the Father and the Holy Spirit, the Son is the source of life and have the power to give eternal life to all who will believe. He lived in the power of a life without end, so the language can only be applied to the Godhead, God is self-eksten (being alone) (John 1: 4, 5: 21-26, 14:16, Hebrews 7:16; 1 John 5: 11-12).

d. Godhead.

Testimony Bible testifies to the divinity of Christ.

(1) He was there at the beginning as the Word, as God (John 1: 1, Philippians 2: 6, Revelation 19:13). (2) He was with God the Father (John 1: 1). (3) He is God, the Son (John 1: 1, Romans 9: 5, Hebrews 1: 8.10, 1 John 5:20, Titus 2:13). (4) He is God manifested in the flesh (John 20:28, 1 Timothy 3:16, Colossians 2: 9, 1:19, Acts 20:28, Hebrews 1: 8). (5) He is God in power (Isaiah 9: 6, Psalm 45: 6). (6) He is Emmanuel, God with us (Isaiah 7:14, Matthew 1:23). (7) He is the Word that became flesh (John 1: 14-18). (8) He is the true God (1 John 5:20, Titus 2:13, Romans 9: 5). (9) He is the great God (Titus 2:13). (10) He is God and Savior (2 Peter 1: 1). (11) It is in the form of God before His incarnation and equal with God the Father (Philippians 2: 5-7). (12) He was the only wise God (Jude 25).

e. Omnipotence.

Son is Almighty, He is the creator and maintains the universe (Colossians 1:17; Ephesians 3: 9; Hebrews 1:10; Revelation 3:14; John 1: 3, 10; 1 Corinthians 8: 6).

(1) He has no power in heaven (Matthew 28:18). (2) He has all the power in the earth (John 17: 2). (3) He has power over all nature (Matthew 8: 23-27). (4) He has power over all the army of evil spirits (Luke 4: 35-41). (5) He has power over all the company of angels (1 Peter 3:22; Ephesians 1: 20-22). (6) He has power over all things (Hebrews 1: 3).

f. Omniscience.

Child well-informed because all AllahanNya, nothing is hidden from His sight (John 16:30; 2: 24-25; Colossians 2: 3; John 14: 16-19; 21:17; Hebrews 4: 12-13; Revelation 2:23).

g. Omnipotence presence.

The boy was present anywhere at any time. Because of these attributes He can come together with His people wherever they are gathered in His name (Matthew 18:20; John 3:13; 1:23; 1 Corinthians 1: 2; 54). For this reason he can say that he was in heaven and on earth.

h. Unchanged.

The boy could not be changed and the same yesterday, today and forever in terms of his character and attributes (Hebrews 1:12; 13: 8; Psalm 102: 26-32; Malachi 3: 6).

I. It can not be wrong.

The boy can not be wrong, that can not be mistaken or did wrong, only the divinity that can not be wrong. All human beings are fallible. He never said a wrong or mistaken, because of his words and the words of the Father (John 12: 44-50; 14: 6). He is the truth.

j. Sovereignty.

Every knee will bow to the Son of God and acknowledge all TuhananNya, which recognizes all AllahanNya (Philippians 2: 8-11, Isaiah 9: 6; Revelation 19:16; Matthew 25: 31-46). He is the King of kings and Lord of all lords.

2. Moral Attributes.

a. Perfect holiness.

Son of God is holiness personified He was the only person who sanctuary ever to walk this earth (Luke 4:34; Acts 4: 27-30; 1 Peter 2:22). (This is addressed more fully in the sinlessness of Christ).

b. Perfect truth.

The Son of God is the Lord our righteousness Yehoyah Tsidkenu. It can only be applied to the Godhead (Jeremiah 23: 5-6; 1 Corinthians 1:30; Hebrews 1: 9; 1 Peter 2:22).

c. Perfect love.

Son of God is perfect love. This is the true nature and character of the Godhead. Humans can have love, but God is love (John 15: 9-10, 1 John 3:16, 4: 7-8, 15-16). This includes the quality of mercy, grace, compassion and kindness.

d. Perfect loyalty.

Perfectly faithful child of God (Revelation 1: 5).

B. The names of the Divine that is applied to him.

  1. He is the eternal Father or Father of eternity (Isaiah 9: 6).
  2. He is called the Lord (Joel 2:32; Acts 2:21; Romans 10:13; Acts 9:17).

Is a blasphemy when humans call “God” according to Greek thought, because this is a name to the Godhead.

a. He is the Lord of hosts (Isaiah 8: 13-14; 1 Peter 5:15, 1: 7-8).

b. The Lord is our righteousness (Jeremiah 23: 5-6).

c. Is the Lord (Matthew 22: 43-45; Psalm 110: 1; Luke 2:11).

d. Is the Lord Jesus Christ (Acts 2: 34-37; Luke 2:11).

3. He was called Jehovah (Genesis 19:24; Hosea 1: 7; Zechariah 12:10; Psalm 83:18; Isaiah 12: 2).

4. He is the Alpha and Omega (Rev. 1: 7,8,11; 22:13, 16).

5. He is the Beginning and the End (Isaiah 44: 6; 41: 4; 48:12; Revelation 1: 17-18).

6. He is the eternal Word (John 1: 1,4; Revelation 19:13; Hebrews 1: 1-2).

7. He is I AM (Exodus 3: 14-15; John 8: 56-58; Leviticus 24: 12-16). (Notice all the I AM of Jesus in the Gospel of John). Is a blasphemy to use the name to this divinity unless Jesus is God.

8. He is the root and the offspring of David. He is the son of David and Lord of David, because of the pre-existence, to the divinity and incarnation. He is the root and the Lord due to AllahanNya. He is the offspring and the Son, because of his humanity (Rev. 22:16; Matthew 9:27; 22: 41-46).

9. He is the Angel of Jehovah (refer to the Old Testament Theophany or Christophany). (Genesis 16: 7-14; 22: 11-18; 31: 11-13; Exodus 3: 1-5; 14:19; Judges 6: 11-23; 13: 2-25; 1 Chronicles 21: 1- 27; Numbers 22: 22-35; 1 kings 19: 5-7; 2 kings 19:35; Zechariah 1:11; 6: 12-15). Hebrews about this manifestation as the manifestation of all the Godhead.

10. He is the Son of God, sonship is eternal sonship, and is recognized by all circles.

a. By God the Father (Acts 13:33, Hebrews 1: 5; Matthew 17: 5).

b. By evil spirits (Matthew 8:29).

c. By the angel Gabriel (Luke 1:35).

d. By the apostles (Matthew 16: 16-17, Romans 1: 1-3).

e. By God himself (Mark 1: 61-62, 17; Luke 22:70; John 5:25; 11: 4; Psalm 2: 7; Proverbs 30: 4; Isaiah 7:14; 9: 6-9).

11. He is the Holy One of God (Mark 1:24).

12. He is the truth (John 14: 6). He speaks the truth, he is the truth (past and present). He is truth personified.

 

C. Divine works attributed to him.

The works performed by the Divine Son of God (John 14:11; 10:37; 5:36).

  1. He is the creator of the universe (Hebrews 1: 3; Genesis 1: 1-5; John 1: 1 to 4.10; Hebrews 1:10; Colossians 1: 16-17).
  2. He is the creator of angels and humans (Genesis 1:26; Proverbs 8:30; Colossians 1: 16-17).
  3. He forgave sins (Acts 5:31; Luke 5: 21-24; Matthew 9: 6; Mark 2: 5-7; Colossians 3:13). Is the prerogative of God, the forgiveness of sins, because every sin, especially against God (Psalm 51: 4).
  4. He raised the dead, and will transform the body of poor people believe his coming because of who he (John 5: 28-29; 11:25; Philippians 3:21; 2 Timothy 4: 1).
  5. He will judge the whole world in righteousness. All judgment has been given to Him by the Father. It can only judge the world in perfect justice for Divine attribute (John 5: 22-29; Acts 17:31; 2 Corinthians 5:10; 2 Timothy 4: 1; Matthew 25: 31-46).
  6. It uphold and maintain the universe by His word in power (Hebrews 1: 3; Colossians 1:17).
  7. He is the giver of eternal life to all who believe in the Father through Him Alone (John 10:28; 17: 2).
  8. He will hold the renewal of heaven and earth (Hebrews 1: 10-12; Revelation 21: 5; Matthew 19:28).

D. Divine worship given to him.

Divine worship given to and accepted by Jesus never refused such worship. This is contrary to other men of God who absolutely reject the worship of other men, as is done on the selected angel. Only human worshipers of self receive worship others as shown in the emperors of Rome (Acts 10:26, 14:15; Revelation 22: 9). Worship Jesus as God is blasphemy and idolatry if he is not God, so when Jesus accepted worship that only belongs to God the Father then that would be a robbery, blasphemy and idolatry.

  1. He worshiped angels (Hebrews 1: 6; Isaiah 6: 1-5; Revelation 5: 12-14).
  2. He worshiped man (Matthew 8: 2, 15: 25-28, 28:17; Luke 24: 51-52; Acts 1:24, 7: 59-60; 1 Thessalonians 3:11; John 9:38; Philippians 2: 9-11; Psalm 45:11; 1 Corinthians 1: 2).
  3. He was worshiped by all beings (Revelation 5:13).
  4. He received a prayer as praying to God (Acts 1:24, 7: 59-60).
  5. He is respected equally with God the Father (John 5:23; Revelation 1: 5-6; Hebrews 1: 6-8).

E. Claim Divine made by him.

Jesus makes a claim (claims) which should only be made by God. Had this claim was not the case, then Jesus deceiving themselves or as a liar and impostor.

  1. He claimed that He is one with God (John 10:30, 38; 5:23; 14:10).
  2. He claims God as His Father (Luke 2: 41-52; Matthew 12:48; Mark 3: 33-34). He never acknowledged Joseph as his father.
  3. He claims to love as He loves the Father (Matthew 10: 37-38; Luke 14:26).
  4. He claims to be the I AM, which indicates the existence of eternal (John 8: 56-58; 18: 1-5 with Exodus 3: 14-15).
  5. He claimed Keputeraan Divine, making Himself God (John 5:25; 11: 4; Mark 12: 6; Proverbs 30: 4).

F. Relations Divine Yang is said to him.

Children are connected with the Father and the Holy Spirit in agreement in eternity and in time, this can not happen unless the child is divine, together in the Godhead.

  1. Baptism is executed in the name of the Triune God, wherein the Son are involved in the center. (Matthew 28: 18-20; Acts 2: 34-36).
  2. Apostolic Blessing covering the Godhead everlasting, which the Son is the revelation of God’s grace (2 Corinthians 13:13).
  3. See also John 14: 1,6; 10: 28-30; 17: 5,17,18; Matthew 11:27; Colossians 1:19; 2: 9; 1 Corinthians 8: 6; Ephesians 4: 8-10; 1 Timothy 1: 15-16; John 14: 1,6; 10: 28-30; 17:21; 5: 17-18; Matthew 11:27; Colossians 1:19; 2: 9; 1 Corinthians 8: 6; Ephesians 4: 8-10; 1 Timothy 1: 15-16; John 14: 9; Colossians 1:15; 1 John 2:23; 1 Thessalonians 3:11; 1 Corinthians 12: 4-6; Luke 22:29; Psalm 2: 7; 45: 6-7; 110: 1-4; Isaiah 53: 10-11).

It is not possible to deny or deny the truth of the divinity of the Son of God in the light of the verses of Scripture to Jesus, receive claims, worship, names and works as ascribed to Him or attributed to him, in case he is never made such a claim or accept worship that is presumptuous sinner and deserve to die, but Jesus accepted and demonstrated his claim to divinity. Jesus the Son of God is really God, God manifested in the flesh only a true believer can say with Thomas, “My Lord and my God” (John 20:28 Isaiah 25: 9).

VII. HUMANITY OF CHRIST.

Scripture presents the incarnate Christ as having two natures He is God and man, but one person. Bild secret to this Godhead, God manifested in the flesh (1 Timothy 3:16; Colossians 2: 2-3). In this section we will consider the evidence of the humanity of Christ was perfect and without sin, and His great example to all believers.

A. Humanity of Christ.

  1. He had a human birth.

a. Manhood, he was born of women (Matthew 1: 18-23, 2:11; Luke 1: 30-33; Galatians 4: 4). Virgin Mary was chosen to be the mother of Christ humanity.

b. He is said to be the seed of David as a man (Romans 1: 3; Matthew 1: 1).

c. Woman is the promised Seed (Genesis 3:15; Matthew 1:23; Isaiah 7:14).

d. He came from the people of Israel in the flesh (Romans 9: 5).

e. He is known as the Son of David (Matthew 15:22; Acts 13: 22-23; Hebrews 7:14). Can be traced through His Mother returned to David King of Israel.

f. He is a word created and manifested in the flesh (John 1:14; Romans 1: 3; 1 Timothy 3:16).

2. He has a human ancestor.

Genealogy of Christ according to the flesh traced back to David and Adam in Luke through His Mother Mary, and went back to David and Abraham in the Gospels of Matthew through which is considered the Father of Joseph (Luke 3: 23-38; Matius1: 1-17).

But although others say the Father in the flesh, He really claim that God was his Father, and recognizes Mary as His Mother (Luke 3:23, 4:22; Matthew 13: 55-56; John 1:45, 6:42). As far as in the case of the Jews that Jesus intended. He actually was the one, of flesh and blood like other human beings. He was not a specter or ghost but a real human being.

  1. He Has Human names and titles given to him.

a. He called man before his birth by the angel Gabriel to Mary and Joseph (Matthew 1: 21-23).

b. He called the Son of David (Matthew 1: 1, 9:27, 20: 30-33).

c. He called Children of Abraham (Matthew 1: 1).

d. He is called the Son of man more than 80 times in the New Testament (Matthew 16:28, 26: 64-65; Acts 7:56; Revelation 1:13, 14: 4).

e. He called Mediator, man Christ Jesus (1 Timothy 2: 5).

f. He held the Jews by nationality (John 4: 9, 8:57).

g. He held the last Adam (1 Corinthians 15: 45-47).

h. He deployment of Man (John 8:40, 1:30; Acts 2:22; Philippians 2: 8; 1 Corinthians 15:21, 47).

i. He was still as a man in heaven although now been glorified (James 20:15; 1 Timothy 2: 5; Acts 17:31).

j. He will come as the Son of Man at the second time to judge the world (Matthew 16: 27-28, 25:31, 26: 64-65).

4. He Has The Complete Human Nature.

Son of God has all the essential human nature as created by God in the beginning. Jesus was a complete man who has spirit, soul and body (1 Thessalonians 5:23; Hebrews 4:12). This truth Apollinarianism refute heretics who rejected the humanity of Christ (1 John 4: 3).

a. Jesus had a human spirit (Luke 23:46; Mark 2: 8, 8:12; John 13:21).

b. Jesus has a soul (Matthew 26:38; Luke 23:43; John 12:27; Acts 2:27; Isaiah 53:10; Mark 14:34). This includes the mind, will and emotions (1 John 1: 1-2).

c. Jesus had a human body of flesh, bone and blood (Hebrews 2:14; John 1:14; Matthew 26:12; Luke 22:19; John 2:21; Luke 23: 52-56; Hebrews 10: 5,10) , After His resurrection, He has a body of flesh and bones (Luke 24:39). In His human body He was limited locally and geographically, and are limited by weakness without sin.

5. He Experiencing Development In Humans.

Manhood, Jesus grew and developed normally and naturally like other humans. This is seen in the following references and comments.

a. She grew up as a child (Luke 2:40).

b. He grew in wisdom and greater (Luke 2:52).

c. He studied in the Lord of the things that he deritakan (Hebrews 5: 8).

d. He worked hard as a man to follow the work of Joseph as a carpenter (Mark 6: 3; Luke 3:23).

e. He menderitakan human limitations (Hebrews 2:10).

f. He experienced human temptation (Matthew 4: 1-11; Hebrews 2:18; Mark 1:55; Luke 22:28; Hebrews 4:15).

g. He learned to live depends on the Father continued to pray (Matthew 14:23; Hebrews 5: 7; Luke 6:12, 22: 39-46). There are about 25 references of Jesus praying in the New Testament.

h. He learned to depend on the Father and the Holy Spirit constantly, he can not say or do anything of Himself but only what is given to Him (Psalm 1:35; John 6: 1; Acts 1: 2; Hebrews 9:14; Acts 10 : 38; Hebrews 5: 7).

i. He was a man who introduced God (Acts 2:22).

j. He was limited in human knowledge (Matthew 24:36; Mark 13:32; Luke 7: 9).

k. He wanted sympathy man in the Garden (Matthew 26: 36-40).

6. He Has Weaknesses The Innocent For Human Nature.

As Christ menderitakn limitations and weakness of human nature is not sinful in it, but a part of human destiny since the fall. God honored man later will not have this drawback without sin (Philippians 3: 20-21).

a. Jesus became tired (John 4: 6).

b. Jesus had a normal appetite and hungry (Matthew 4: 2, 21:18).

c. Jesus also thirsty (John 4: 7, 19:28).

d. He also enjoys natural sleep (Matthew 8:24).

e. He was limited in human knowledge (Mark 11:13; 13:32; 5:32; 5: 30-34; John 11:34).

f. He was downhearted His heart (John 11:33).

g. He cried for the people (John 11:35; Matthew 23:37; 26:38).

h. He needs to be strengthened because of the suffering crucified by the angel (Luke 22:43).

7. He has Human Suffering Humanity.

Death has belonged since the fall of man in Eden. When Jesus menderitakan our sins upon Himself in His own body on the wood, he menderitakan wages of sin is death (1 Peter 2:24; Genesis 2:17; Hebrews 9:17; Hebrews 9:17; Luke 23:33; Hebrews 2 : 29). His death was the highest intention and incarnation which will be followed by resurrection.

  1. He Experiencing Human Awakening.

He raised from the dead and still have a body that was born of a virgin, was crucified, buried, resurrected and now has been glorified. The body of Jesus was without sin, eternal and can not be broken. He sacrificed His life, as the Father commanded Him (Luke 23:39; John 20:27; Acts 7: 55-56). Resurrection as a human being is as an example of all the other resurrection. In ascension, He has brought humanity in all AllahanNya. He remains the man Jesus Christ glorified in his position on the throne in altitude (1 Timothy 2: 5; Hebrews 8: 1-5).

Christ’s humanity is the fact that is indisputable. Jesus, the eternal Son of God became the Son of Man. He is the divinity and humanity united in one person. His birth as a human being, genealogy, names of titles, limitations, suffering, death and resurrection all prove the reality of his humanity fully and completely. This same man who is now glorified, and when he came back later in the second time is “same Jesus” will come in the same way as when he went to heaven (Acts 1:11).

B. The lack-of innocence of Christ.

That Christ had sinless humanity is perfect and can not be broken is testament to the Old Testament and the New Testament. It is important that Christ was without sin, namely to become the Savior of the world. Now if he is not without sin, he shall die for his own sin and need to require redemption for Himself, Christ would not be a revelation of God’s perfect, full and final settlement to humans if in case he is a sinner. Without the lack -berdosaan Christ’s redemptive plan failed, because the Redeemer was not possible that he himself was a sinner.

Sinlessness is complete conformity with the will of God in our thoughts, words and deeds. Sinfulness is a lack of conformity to the will of God in our thoughts, words and deeds. Thus Christ, as a perfect man, the perfect is the will of God, He was never involved in sin in thought, word and deed. Sinless perfection is perfection.

  1. Theories Regarding the lack-of innocence of Christ.

a. Sinful Flesh theory.

This theory holds that Christ had “sinful flesh” and that he must win the sin by the power of the Holy Spirit, as experienced by believers. It is based on a misunderstanding of Romans 8: 3 where Paul states that Christ “in the likeness of sinful flesh yag”

b. Potential theory Sinner.

This theory holds that Christ, even as God incarnate, can be sinful but will not sin. He was able to overcome sin. This theory menyatkaan the fact that Christ was tempted to prove that he can only sin. The argument given that for a legitimate temptation must be met provided that the person can be tempted to sin. This theory also teaches that Christ would not be able to become a high priest who is merciful and sympathetic to us in our trials, unless he can sin.

c. Sinless Perfection theory.

This school of thought holds that Christ can not sin because of who he really is. This view is held by this book. Before considering the reasons for this view, we should note the common basis of faith held by most people believe the Gospel, in the following statements:

– Son of God has a perfect human nature and divine nature yag.

– Son of God menderitakan trials in all things, as we are and this is a legitimate trial.

– Son of God does not sin, not in thought, word and deed.

– Son of God can sympathize and help those who menderitakan same temptation (1 John 3: 5, 1 Peter 2:22, 2 Corinthians 5:21, Hebrews 4:15; 7:26; 2:18).

Inequality between these theories is in the following statements:

Christ can not and will sin but not the sinner.

The statement appeared, “Is it possible for Christ to sin or not possible for Christ to sin?”

These questions have stimulated the minds of the Christian centuries. But you must remember well that if Christ could or innocent, the fact is he is not innocent. So he alone can be the Savior of sinners.

  1. Perfection Sinless Of Christ.

a. Top Questions and Objections Considered.

(1) When not possible for Christ to sin, then what does it mean he tempted? Does not this make the temptation is not real and therefore invalid? Why try being innocent? Angels sinned when tempted. Adam sinned when tempted. Why Christ can not sin when tempted? Are not there should be a desire in the attractive temptation?

(2) If it is not possible for Christ to sin, then this means that he does not have the power to choose, a will to choose between good and evil. Is not it possible that he has been doing his own will and not the will of His Father. As apparently indicated temptation in Gethsemane? (Matthew 26:39).

(3) If it is not possible for Christ to sin, then He was not beridentifikasi correctly by the human race. And can not fully understand humanity and our sinful nature. Does not this automatically puts the gap between the Savior and the sinners that can not be bridged?

(4) If it is not possible for Christ to sin, then how temptation can be a cause of suffering to Him and how He can sympathize with us in our trials?

(5) If it is not possible for Christ to sin, then would not the temptation different from us sinners trials experienced?

We are going forward to answer questions and objections with the arguments for the temptation of Adam, Jesus and all human beings, nature and meaning of temptation, and finally the testimony of Christ’s sinlessness.

b. Experiments on Adam, Jesus and All Mankind.

There are only two people in Scripture unique temptation, Adam and Jesus. Both are the Son of God in a unique sense, Adam as a child created by God, and Jesus was begotten Son of God (Luke 3:38; John 3:16). Both have a sinless human nature, which does not have the principle of sin in their presence. They tempted outside by the devil. Adam responds to the temptation, and Christ did not. Adam and Jesus is the chief representative or person representing the old creation races and race the new creation.

God saw all mankind in Adam or in Christ (1 Corinthians 15: 46-47). All these facts put the temptation of Adam or Jesus in the immediate difference from temptation all men born of Adam after the fall. All other human beings born of Adam’s race was tempted as a sinner born in sin. None of those who experience trials in a state without sin. The Temptation of Adam and Jesus is unique in that they are not tempted from within, but from without. All sinners tempted from outside and from within. All men are tempted when drawn by their passions and interest. Then when lust fertilized produces sin, and sin when it has been completed resulting in death (James 1: 13-14).

Sin is human interference into Adam. Only Adam and Jesus have a human nature without sin, so they are a special temptation. But there are also major differences between Adam and Jesus, Adam only humans but Jesus as God and man. Although Adam and Jesus was without sin, Adam was a created being was not Jesus, Adam has only one human nature, while Jesus has two natures, human and divine.

The statement in Romans 8: 3 that Christ “in the likeness of sinful flesh”, should not be misunderstood. This verse does not say that Jesus had “sinful flesh” but he is without sin weakness of human nature. Christ actually have real meat, but the meat without sin. There is no original sin or sin principle in him as the eternal Son of God and begotten Sin is not essential to human nature but a nuisance.

Christ had human nature without sin like Adam before the fall. However, he also has a “similarity” with the flesh of Adam after the fall, which is the weakness of human nature without sin. Although certain Gnostic doctrine teaches that the flesh with the inherent sinfulness, but it is contrary to the Word of God. Christ had meat that is free from the law of sin, but it is “similar to (and just similar) sinful flesh. Comparison and differences temptation of Adam and Jesus, unbelievers and believers, will help bring the facts into sharper focus.

ADAM

-Adam is the first
-The first human, from the earth
-There’s Evil tendencies, origin The tendency to sin
-One Nature, human nature
-Dicobai From outside the spirit, soul and body Ofer response to sin
-Kodrat Man who fell -Ciptaan God -The God created human -Mahluk

JESUS -Adam Last second man, the Lord of Heaven -There’s No evil tendencies in it -There’s No inclination to sin -two Natures, divine and human -Dicobai From outside the spirit, soul and body -There Respond to a sin -Kodrat Man who does not fall Incarnations of God -Children Begotten God Divine human -Mahluk

PEOPLE WHO DO NOT BELIEVE -in Adam “- the son of man -Kodrat Man who fell the tendency to sin -Prinsip Sin mastered in -Dicobai From inside and outside, in body, soul and spirit -Dilahirkan In sin -There’s No good in the flesh -Ciptaan Old, from parents -Mahluk Sinful human -Dosa Be crushing to death

PEOPLE BELIEVE – “In Christ” – the Son of God -Kodrat Fallen mankind partakers of the divine nature Overcoming the tendency to sin -Prinsip Sin abolished in time -Dicobai From the outside and inside in the body, soul and spirit, but strengthened to cope with the Holy Spirit -Dilahirkan In sin, but reborn -Christ in you, hope of glory -Ciptaan New in the old creation -Mahluk Man who redeemed -Dosa Controlled to life

  1. The meaning and nature of Temptation.

The New Testament uses two special a Greek word meaning “experiment” in it, because there is a relationship with the testing trials either by God or by the devil or the other

(1) a Greek word “dokimazÇ” means “prove a point whether it is acceptable or not, test (literal or decoration), by implication, approve, license, notice the difference, test, prove, try”. (Luke 14:10; Romans 2:18, 12:22; 1 Corinthians 3:13, 11:28; Galatians 6: 4; Hebrews 3: 9; James 1:12; 1 Peter 1:17; 1 John 4: 1). It is used in the following ways in the New Testament. People test the fire, people believe examine what the will of God; people believe that their faith are tempted to give up and be recognized. God tested his saints. All the believers were tested and refined by the environment, by the weaknesses of human nature. The purpose of this type of trial to prove and approve. It is a temptation to prove and approve. This is a temptation that expect positive results. In this way, God’s “test” Abraham (Hebrews 11:17 with Genesis 22: 1). This word is used about 25 times in the New Testament and is never used to try to prove one’s demons.

(2) a Greek word “PeirazÇ” which translates to “test” means “put on trial” with the trial (which is good), experience (evil), demand, discipline or provocation, the implication misfortune. This word is used about 40 times in the New Testament, and bring ideas to test and experiment on someone. It is used in the following ways.

(A) Human Tempted God.

Which meant humans put God to be tempted to get what he will do good or evil to them. So Israel “tempting God” in the wilderness (Hebrews 3: 9). The teachers of the law “test God” by putting a yoke on the neck desire Gentiles (Acts 15:10). Ananias and Sapira “tempt the Holy Spirit” in their deceptive actions (Acts 5: 9). Humans are reminded to not test (test) God (Matthew 4: 7).

(B) Human Tempted God.

God in time to test or tempt people are never for evil but with a view to proving what is in man and reveals to the human needs in (James 1: 2, 12). But God can not be tempted with evil, he also never tempted someone to sin (James 1: 13-14). As noted, God tempted Abraham in sacrificing his only son, Isaac (Hebrews 11:17) with (Genesis 22: 1) the Old Testament scriptures tempted and tried by persecution, challenges and thus prove that they are faithful to God in everything (Hebrews 11:37; Galatians 4: 13-14; 1 Corinthians 10:13; John 6: 6; Matthew 6:13.

(C) Human Being tempted by the devil.

Satan also tempts and human testing. But the temptation is always as bait in order to sin, pull to do evil. Temptation does not come from God (James 1: 13-14). It comes from the devil or from the sinful nature of man. So the devil tempt angels, tempted Adam and test him. He also tempt a sinner who is born of the race of Adam (Genesis 3: 1-6; Matthew 4: 1).

  1. The nature of the temptation of Christ.

(1) Jesus was tempted by God His Father.

The first trial covers the suffering that Jesus endured in His humanity without sin to have weaknesses without sin. He was tempted by the opposition, persecution, fatigue, discord sinner, environmental contrary, Jews, his brothers, religious leaders and disciples. In all of this he tried and tested yet introduced in all respects by the Father. This is part of the “temptations of Christ” (Luke 22:28).

(2) Jesus was tempted by the devil.

Jesus was tempted to do evil by Satan, to do His will and not the will of His Father. The devil tried to find an opportunity that the Father had a reason for not pleasing to Jesus. It happened in the whole of his life. The story of the temptation for forty days only example of a special period temptation of Jesus. The Bible says the devil left him for a time after the famous victory in all three major trials (Mark 1:13).

(3) Jesus was not tempted by the sinful nature.

Jesus was not tempted by the sinful nature or the flesh inside. This is the eternal difference between the temptation of Jesus with human trials born of Adam’s race, both believers and unbelievers. Jesus did not have a sinful nature or the flesh in that he did not menderitakan temptation of sin in order, as experienced by all those who have fallen. Nothing can replace or modify the difference this fact. When it is said that Jesus “has been tempted in all respects like us, yet without sin (AV)” (Hebrews 5:15), literally meaning “apart from sin”. That is to say, He was tempted to sin, from the outside, but do not be tempted by sin from within, because there is no evil in him. He did not have a sinful human nature, there is no desire to sin in Him. There is no inner conflict as described in Romans 7: 14-18 in His own life (James 1:14). Therefore, He was tempted in all respects, as we are, yet without the desire in (Hebrews 2:18; 4:15, John 8:46, 14:30).

(4) Jesus was tempted in Humanity, not the All AllahanNya.

Jesus is God incarnate and God can not be tempted with evil (James 1: 13-14). Satan attacked humanity of Christ. Menderitakan temptation of Jesus in His humanity, not in all AllahanNya. So Jesus was “tempted in all points like as we are”, apart from sin. The points where Jesus was tempted is in:

(A) Spirit – tempted to worship Satan. (B) Life – are tempted to doubt the power of God’s providence. (C) The body – tempted to satisfy normal human bodily lust by using the power of miracles (Matthew 4: 1-11 with 1 John 2: 16-17). Each of these trials come from outside, not from within. As humans, when he was defeated by the power of the Word, by saying “it is written”. As a human, Jesus did not invite his divine prerogative to destroy the devil. He was tempted to avoid crosses as Peter by thoughts that the devil gave him (Matthew 16: 21-24). He was tempted to avoid suffering in Gethsemane cup Calvary, but he handed over his will to the will of the Father and corroborated by angels. Humanity holy naturally hide from the ordeal due to be made sin. But this is not the sense of sin at all. He was tempted in the cross when religious Jews challenged him to come down from the cross and save Himself (Luke 23: 35-37).

This is a real temptation in humanity and human nature is certainly suffering, fear of suffering on the cross, both physically and spiritually. Made sin and abandoned Father is the greatest misery and causing untold suffering on humanity holy and without sin. He does not need to be able to certify the innocent suffering of the trial. Suffering this temptation will be stronger in the sinless humanity than what can be understood sinful humanity. Menderitakan greater presence of sin feels the One who can not sin and innocent of the innocent living beings. Also keep in mind that temptation is not sin, but succumbed to the temptation that sin.

Teaching that God and angels in Heaven was in a caption during Christ’s life on earth, fear lest the Son of Man fallen and sinful, discouraging advice and by God’s redemptive purpose. It understate the character of God and His moral in its essential attributes. The plan of salvation has been produced in consultation Godhead are eternal and there is no possibility of failure on the part of the Son of God (1 Peter 1: 19-20; Psalm 40: 5-8; Hebrews 12: 1-4, 13-20).

  1. Reasons Menderitakan Temptation of Jesus.

We are now going to answer the objections concerning what Jesus meant when He did not menderitakan temptation might be innocent. Jesus did menderitakan trials and therefore he can strengthen and comfort all those who are tempted to believe.

(1) He menderitakan trials for the development of humanity is full and complete.

Time humanity Jesus grew in wisdom and the larger and more pleasing to God and man (Luke 2:52), He studied hear a rumor on the things that he deritakan (Hebrews 5: 8). He progressed spiritually, mentally and physically. He menderitakan weakness without sin, he menderitakan trials in human nature and prove Himself perfectly. What he deritakan in the nature of humanity, in his experience adds to the completeness of the divine nature, since it is one with the Creator of creation, the divine with the human one.

(2) He menderitakan temptation that God allowed His Father.

Jesus of Nazareth was the man who allowed God. So the Father speaks from heaven and put perkenanNya on his beloved Son. Child does not use his divine prerogative apart from the will of the Father, but submissive and obedient to his Father, by the Spirit, for all existence, all that He says and He does.

(3) He menderitakan temptation to present a demon entourage will perfect humanity.

Satan conquered Adam, the first man, through trials, and in the same way to have conquered all men since then. Jesus is the beginning of the “new creation” of God (Revelation 3:14). Satan used the strongest of temptations to persuade Jesus to sin. Satan and all his demonic powers failed by this creation is the God-Man. It is a creation in which there was no response to sin. It is the revelation of sins impending defeat, on writing and on the whole kingdom is in the cross (Colossians 2: 14-17). God is very pleased with his perfect human, because he is an example of the many children who will come (Romans 8: 20-28).

(4) He menderitakan temptation to become merciful High Priest.

Because the priest is taken from among men and dirupai to humans, it should be one that is touched with the feeling of human weakness which he served. Jesus Christ taken from among men for the same purpose (Hebrews 4: 14-16). The phrase “touched with the feeling of our infirmities” means that Christ can sympathize with us in our trials and experiments. Christ, as God-man, identified with the man in His human nature, with sinlessness in weakness. Did Christ may or may not be innocent, the fact is he is not innocent. Now if he identified with our sin, He will never be able to be our Savior. This is the eternal difference between Christ and us. This is limited to the identification of Man-God with us, as well as the relationship between Creator and creation and between the Saviour and the sinner is no relationship differences and limitations. He forever Man-God and man redeemed us forever. The only way he identified with us in our sin is the time he afford the us to Himself on the cross. In the case of Jesus menderitakan trials, experiments and tests, he could be a merciful High Priest and sympathizes with us. It must be remembered that he sympathizes with us in our trials and not in our sinfulness.

Questions can be asked:

– “Should the doctor himself had suffered severe illness the same before he can sympathize and help a sick person?”

– “What is a must become alcoholics or prostitutes before he is able to help and sympathize with those who shackled so?”

-Is A judge should be found guilty of the same crime before he judged correctly to others? ”

-Or “Did Jesus have sinned or may sin before he is able to help and sympathize with the sinner?”

Saying that these elements would be more sympathetic if they are the same case, the same as saying that he would be more sympathetic to us in case he has sinned. Jesus did menderitakan trials and experiments, and therefore he can strengthen and entertaining as well as sympathetic to us in our trials and temptations.

(5) He menderitakan temptation in order to be able to provide aid to those who are tempted to believe.

Because He menderitakan temptation, He knows what we live and can give strength, grace and mercy to help us when we needed it. He has promised that He would not allow us to be tempted more than what we might be able to bear, but with the temptation he will hold the way out in order to endure (Hebrews 2:18; 4: 14-16; 1 Corinthians 10:13).

(6) It now has to be behind all the trials and thus later all believers.

Since the resurrection and exaltation of his being innocent and can not be broken, Christ is behind all the trials. His glorious body no longer subject to the shortage without sin and weakness of human nature. He never sleeps or asleep. She never tired. He did not need to eat or drink. He lived in the power of an endless life. Her body is an example of what will happen to the body of believers at Christ (Philippians 3: 20-21; 1 Thessalonians 4:15; 15-18; 1 Corinthians 15: 51-57).

  1. The divinity and humanity of Christ.

Another major factor to be considered is the fact of unity to the divinity and humanity of Christ. As noted earlier, the distinction between Adam and Jesus and all other human beings can not be forgotten. Adam as the son of God who created human, and thus tempted from outside Jesus as Son of God, begotten, is the Man of God, who also tempted from outside. But Jesus is God incarnate, and in becoming man he never stopped being the Son. A beautiful balance between all AllahanNya and humanity must be maintained.

In the case of all AllahanNya, “God can not be tempted by evil, nor does he tempt anyone” (James 1: 13-14). As God incarnate, he is no sin and can not sin. Manhood, Jesus was tempted in every aspect of how we (Hebrews 2:18; 4:15). As a man, he may be tempted and open to all kinds of temptations outside. But because of who Jesus is God who became flesh, He is the divine nature united with human nature that brings human nature through trials is victorious.

Indeed, the theory that Jesus could sin in human nature, but which can not be innocent in terms of undermining the redemptive plan of God. Both of this nature, although it can be distinguished, indivisible united in one person of Christ. Or sinful humanity have the potential to sin and to Godhead without sin in the person of Christ, God manifested in the flesh, is an impossibility. Saying that Jesus could have sinned, is tantamount to saying that God can sin because He put humanity. It would restrict the power of the Most Holy.

  1. Testimony of the sinlessness of Christ.

Scriptures attest to the fact of Christ’s sinlessness. Orthodox believers all agree that Christ could be a sinner or not, but he did not sin. There are many opportunities for the time to punish him because of sin, but no one can do so. Evidence beriktu testify to the truth of Jesus Christ’s sinlessness.

  1. Gabriel’s testimony.

Gabriel says about Jesus as “the Holy One” (Luke 1:35). It is never said in any child born of Adam’s race.

  1. Testimony devil. The evil spirit recognize Jesus as “the Holy” (Mark 1:24); Luke 4:34; Matthew 8: 28-29).

They never say it to a human being, not even the saints of the most kuduspun.

  1. Human testimony.

(1) He is said to be the Holy Son (Acts 4: 27.30). (2) Pilate could not find a correct on Him (John 18:38). (3) Pilate’s wife testified that he was “a righteous man” (Matthew 27:19). (4) Burglar moribund recognize Jesus as not worthy to die (Luke 23: 4). (5) The commander recognized Jesus as “Righteous” (Luke 23:47). (6) Herod also said that he was not worthy to die (Luke 23:15). (7) Judas know that he has sold “innocent blood” (Matthew 27: 4).

  1. Testimony of God.

Father also testified of Heaven will perkenanNya on begotten Son. No one else ever gets approval Divine and heavenly as it (Matthew 3: 15-17; 17: 1-5).

  1. Testimony of Christ.

(1) He challenges everyone to declare their sin (John 8:46).

(2) Jesus also said that the rulers of this duni is coming and he has no power over him, there is no equality with Him, that nothing in Him that belonged to the devil (John 14:30 Amplified). (See also John 8:29; 15:10; 17: 4). This means that the testimony of Jesus is true or lie or deceive themselves. No one had been able to make such a claim.

  1. Testimony of the Apostles.

(1) Paul said, “He did not know sin” (2 Corinthians 5:21). (2) Peter says “He does not sin” (1 Peter 2: 21-22). (3) John says “In Him there is no sin” (1 John 3: 5). (4) Hebrews says that He was tempted in all respects like us, “but a sign of sin” (AV) or “apart from sin” (Hebrews 4:15). (5) He is holy (1 John 3: 3). (6) It is born of God can not sin because the seed of God abide in him (1 John 3: 9). If this is so the believer, even more is true of Him, the Son of God. (7) Jesus is “holy, harmless, undefiled, separate from sinners” (Hebrews 7: 26-27). (8) It is offering “irreproachable” in the offerings sacrificed time (Hebrews 9:14; 1 Peter 1: 19-20).

  1. The testimony of the Law.

Sacrifices for sin in the Old Testament imagine the sacrifice of Christ for sin. Sinlessness of Christ as expressly set forth the following thoughts.

(1) God took an innocent animal and innocent man to die for the guilty and the innocent. There are no animal ever sinned or may sin.

(2) All victims should be “perfect to be accepted (AV)” (Leviticus 22:21). The word “perfect” means “without blemish, complete, full, sincere”.

(3) The victims must be “flawless” to be offered to God (Numbers 19: 2, 28: 3, 9,11 with Hebrews 9:14; 1 Peter 1: 19-20).

(4) The victims must be “blameless” (Exodus 12: 5; 29: 1, Leviticus 4: 3, 23, 28:32).

(5) Even in the “offerings for sin”. God insists that the offerings for sin was to be “the most holy offerings” (Leviticus 4; 7: 1; Luke 1:35).

But the animal nature can not reconcile human nature. Animals can only be used as a surrogate victim to human nature sinless perfection of Jesus could be presented in the atoning work on the cross. The sacrificial system of the law to be the type that even though Jesus as a sacrifice for sin, but to be innocent.

  1. Testimony Psalms.

Messianic Psalm speaks of Christ as the true and holy. These psalms foretold the coming of Christ will be the Savior of Israel and the world are innocent. Psalms also foretold how He would dipersembahn as a sacrifice for our salvation (Psalm 40: 6-10; 16: 8-11; 22: 1-31).

  1. Testimony Prophets.

Prophets foretold the coming of the Redeemer, who would be the “Tunas Fair” kingdom of David would be his soul were innocent as a “sacrifice for sin”, and therefore made the “Lord of Truth Kita”. It foretells the sinlessness of Christ. These prophecies reveal any prior knowledge of Allah Almighty on the incarnation and sinlessness of Christ. (Jeremiah 23: 5-6; Isaiah 53:10; Zechariah 3: 8-9; 6: 12-13).

  1. Arguments of Christology.

(1) Christ is God incarnate, God manifested in the flesh, God put humanity to Himself.

(2) Time became a man he does not rule out the essential attributes or His moral, but subjecting Himself to the Father’s will for all circumstances, all that He says and all He has done.

(3) The unity of the divine nature and the human in the person of Christ allows sinlessness of Christ, although tempted in all points like as we are.

The testimony of Scripture is complete. Although born of the virgin Mary, in which he himself was a sinner and need redemption, but Jesus did not inherit a sinful humanity. God produces “something clean” of women (Ayub14: 4; 15:14; 25: 4). Sinlessness of Jesus’ humanity is the result of a miracle.

Dr. Charles A. Ratz in \ The Person of Christ \ “to quote the old Latin inscription carved in marble, found in Asia regarding faith in the Lord Jesus Christ, Christianity’s first century. The inscription reads:

I’m there (now) what I was (first) – God. I was (first) that I was not there (now) – humans. I was now both called, God and Man.

The real Christ as the God-Man is \ “Mediator better \” from \ “Treaty better. \”

[END] @ 2003-2004. (From the book published by the Ministry of Education and the Central Council GPdI propagated by the Department of Literature and the Mass Media). ”

Author: gpdiworld

 

 

Related Post

Post a comment