Sejarah GPdI Balikpapan (Rapak)
views: 283

Balikpapan merupakan titik awal dari pergerakan Pantekosta di Kalimantan Timur, karena pada bulan Maret 1927 itulah Pantekosta masuk daerah Kalimantan. Adapun Pantekosta tersebut dimulai oleh Saudara Groeneveld, seorang warga negara Belanda. Bekerja sebagai pegawai Doane Balikpapan, mulai mengadakan persekutuan doa/kebaktian rumah tangga, di rumahnya sendiri dan dihadiri oleh beberapa orang yang sepakat untuk memulai pelayanan Pantekosta, karena jauh sebelum ada Pantekosta sudah ada Katholik. Pekerjaan Tuhan yang dimulai sekaligus dilayani oleh Saudara GROENEVELD berjalan terus sekalipun menghadapi banyak tantangan dari pihak-pihak yang tidak senang dengan gaya/cara Pantekosta yang mengutamakan pekerjaan Roh Kudus.

Tahun 1930, seorang Pendeta muda DE BUUR datang di Balikpapan dan mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan terjadi lawatan Allah sehingga beberapa orang menyerahkan diri kepada Tuhan dan dibaptis selam sesuai Firman Tuhan. Beberapa waktu kemudian datang juga seorang hamba Tuhan Pendeta Patiradjawane di Balikpapan mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani sehingga jemaat-jemaat yang sudah di baptis semakin dikuatkan dan bertumbuh dalam kerohaniannya.

Tahun 1932, seorang missionary muda dari Bethel Temple Seattle Washington, USA bernama ARLAND F. WASSEL datang mengunjungi Balikpapan dan malayani jemaat-jemaat Pantekosta di Balikpapan. Kemudian datang juga Pendeta L. JHONSON dan istri, Pendeta L. COCHREN dan Pendeta JHON BANGKS. Selama beberapa tahun mereka melayani jemaat Pantekosta di kota Balikpapan dan pekerjaan Tuhan semakin berkembang, semakin banyak orang datang menyerahkan diri kepada Tuhan. Dalam pelayanan tersebut anak mereka meninggal dunia dan ini merupakan benih bagi kemajuan pelayanan Pantekosta di Kalimantan Timur.

Tahun 1934, pelayanan tersebut kembali dilayani oleh Saudara GROENEVELD, salah satu jemaatnya adalah keluarga KILAPONG SUMUAL dan seorang kemanakan yang sampai sekarang meneruskan pelayanan suami di GPdI jalan Mangga, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Tahun 1949, jemaat Pantekosta di Balikpapan digembalakan oleh dua orang gembala wanita yang bernama Pendeta INESS PRESSO dan EVELYN THIEDERMAN. Tempat ibadah pindah ke Kampung Baru, jalan Sepaku, Gereja di bangun di atas laut. Waktu itu gereja bernama PINKSTER KERK, dibantu oleh Bapak WALEWANGKO dan Bapak RUMAMPUK sebagai Jaksa.

Tahun 1960, pelayanan tersebut dilayani oleh hamba Tuhan berdarah Tionghoa, yaitu Pendeta LIEM HOA SENG, di bantu oleh Bapak H. LAURENS, Bapak LANJANG dan Bapak NELWAN. Kemudian Bapak H. LAURENS dan Bapak NELWAN menghadap Kepala Pertamina Balikpapan untuk mendapatkan sebidang tanah pinjaman untuk mendirikan gedung GPdI. Dan sampai sekarang tanah itu telah menjadi hak milik dari GPdI Balikpapan. Pendeta LIEM HOA SENG membangun gereja di atas tanah tersebut. Kemudian oleh satu dan lain hal Bapak WALEWANGKO keluar dari GPdI dan membangun gereja GBIS, berikut Bapak RUMAMPUK keluar dan membangun Gereja Toraja.

Demikian pekerjaan Tuhan di Balikpapan terus berkembang. Setelah Pdt. Liem Hoa Seng pindah, maka pekerjaan Tuhan di layani oleh Pdt. Rumimpunu, kemudian digantikan oleh Pdt. M. J. Tampongangoy, setelah beliau meninggal dunia pada tahun 1991, maka pekerjaan Tuhan di Balikpapan diteruskan oleh istri almarhum, yaitu Pdt. Ibu M. S. Tampongangoy Manoppo.

Tahun 2005 tongkat penggembalaan GPdI Rapak Balikpapan di lanjutkan oleh Pdt. Herry Y.A. Pelealu bersama Pdt. Paula Stien Pelealu-Tampongangoy sampai sekarang.

Pada akhirnya Gereja Pantekosta di Indonesia terus berkembang, tidak hanya di Balikpapan saja, tetapi juga:

  • Tarakan pada tahun 1935,
  • Samarinda pada tahun 1949,
  • Kabupaten Pasir pada tahun 1953,
  • Daerah Barong Tongkok pada tahun 1954,
  • Tenggarong 1972.
  • Bontang pada tahun 1976,

Dan pada akhirnya pekerjaan Tuhan di Kalimantan Timur sudah berkembang dengan pesatnya keseluruh tempat yang ada di Kalimantan Timur. Ini semua tidak lepas juga dari peranan Sekolah Alkitab yang ada di Balikpapan, di mana telah mencetak hamba-hamba Tuhan yang siap pakai untuk diterjunkan di pedalaman Kalimantan sampai ke daerah-daerah perbatasan… Amin.