P E N D A H U L U A N

Organisasi Gereja Pantekosta di Indonesia adalah salah satu organisasi sosial keagamaan yang sekalipun baru diakui keabsahannya oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937, dan diteguhkan oleh surat keterangan Departemen Agama Republik Indonesia pada tahun 1973, tetapi kalau kita melihat dari waktu masuknya gerakan Injil sepenuh di Indonesia, organisasi ini telah berdiri sejak tahun 1921 atau delapan puluh tiga tahun yang lalu.

Kalau kita kembali kemasa lampau dan melihat sejarah yang menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Gereja Pantekosta di Indonesia, maka akan menarik kesimpulan bahwa berdiri dan berkembangnya organisasi ini semata-mata hanya oleh campur tangan dari Tuhan Yesus Kristus.  Karena tanpa campur tangan dan kehendak dari Tuhan, maka organisasi ini tidak akan berkembang sebagaimana yang sudah ada sekarang ini.

Sebagai seorang hamba Tuhan yang bernaung dibawah organisasi Gereja Pantekosta di Indonesia, ada baiknya untuk kita mengetahui sejarah berkembangnya organisasi tersebut.  Oleh karena itu saya ingin membeberkan secara ringkas masuknya Pantekosta ke Indonesia, dan lebih khusus lagi sejarah perkembangan Gereja Pantekosta di Indonesia yang ada di Balikpapan.

ASAL USUL BERDIRINYA GEREJA

Terdapat berbagai paham yang berbeda dalam menentukan asal usul berdirinya gereja dan biasanya paham-paham tersebut didasarkan atas sistem penafsiran Alkitab yang berbeda pula, misalnya ada penganut yang menafsirkan bahwa gereja telah di mulai sejak zaman Abraham (PL), sebab gereja adalah Israel rohani sehingga segala ritual dalam PL selalu dirohanikan pula kedalam tata ibadah gereja mereka.

Ada pula paham yang mengatakan bahwa gereja telah dimulai ketika Yesus membuat pernyataan dalam  Matius 16:18  “Bahwa diatas batu karang ini Aku akan membangun eklesia Ku (Jemaat Ku).”   Paham lain mengatakan bahwa gereja telah dimulai tatkala Yesus menghembuskan nafas kepada murid-murid-Nya (Yohanes 20:20).  Sementara yang lain lagi mengatakan bahwa gereja di mulai pada saat Yesus memilih ke dua belas murid-Nya  (Matius 4:18).

Tetapi Gereja Pantekosta di Indonesia dan kebanyakan aliran Pantekosta lainnya dengan teguh berkenyakinan pada doktrin yang selama ini dianutnya, yaitu:  Gereja pertama kali dimulai pada peristiwa pencurahan Roh Kudus di kamar loteng Yerusalem (KPR  2:4).

Pada awal mulanya gereja lebih bersifat organisasi dan setelah perkembangan yang pesat di abad I, maka mulai diperlukan saran (wadah) dalam bentuk tempat ibadah sekaligus organisasinya.

Setelah gereja di mulai dengan pencurahan Roh Kudus yang besar di Yerusalem, maka telah terjadi kemajuan-kemajuan yang luar biasa.  Setiap hari jumlah mereka bertambah-tambah.  Gereja menjadi sangat produktif, cemerlang dan berkemenangan.

LAHIRNYA GERAKAN PANTEKOSTA

Gerakan Pantekosta adalah lanjutan dari gerakan kesucian atau Holiness Movement, yang lahir dari kelompok Methodist pada dasawarsa pertengahan abad ke 19 di USA.  Pada paruh ke 2 abada ke 19,  mulai banyak gerekan pembaharuan yang mendambakan gerekan rohani, berbagai denominasi baru berbagai latar belakang kesucian mulai berkembang, ada yang loyal kepada gereja Methodist, tetapi ada yang mulai independent dan membentuk organisasi baru, antara lain:   Church of God, yang didirikan oleh Daniel S. Warner pada tahun 1880, dan berpusat di kota Anderson.  Gereja Kesucian Baptisan Api, pemimpinnya adalah B. H. Irwin pada tahun 1895.  Kelompok-kelompok ini merupakan matarantai penting yang menyambung gerakan kesucian dengan gerakan Pantekosta di abad ke 20.

Charles Fox Parham adalah salah seorang pendeta di Episcopal Methodist Church.  Dia meninggalkan gereja itu karena ia merasakan sudah kurang mementingkan kesucian hidup dan kurang menekankan peranan dan karunia-karunia Roh Kudus serta penyembahan ilahi, dan mengadakan persekutuan dengan nama Bethel Healling Home di Topeka, Kansas.

Menjelang akhir tahun 1900 dia membuka Sekolah Alkitab Bethel (Bethel Bible School) di luar kota Topeka.  Pada liburan Natal tahun 1900, Pdt. Parham mengadakan Tour Penginjilan di luar kota dan menugaskan para siswa-siswi untuk mengkaji kebenaran tentang baptisan Roh Kudus seperti di tulis dalam KPR 1:4; 10:46; 19:6; I Korintus 14:1-33.   Penyelidikan ini membuka banyak rahasia tentang perlunya kepenuhan Roh Kudus dan Glossolalia bagi setiap orang percaya.

Pada malam tutup tahun mereka mengadakan Prayer Vigil (Menara Doa).  Ketika mereka sedang berdoa seorang murid yang bernama Ny. Agnes N. Laberge Ozman dipenuhi dengan Roh Kudus serta berbicara dalam bahasa lidah.  Hal ini terjadi setelah lewat jam 12 malam, sehingga disebut 1 Januari 1901 sebagai hari pertama Roh Kudus dicurahkan kembali sesuai dengan pengalaman rasul-rasul di kamar loteng Yerusalem pada hari Pentakosta.  Kepenuhan Roh Kudus ini juga terjadi pada siswa-siswi lain, dan menurut catatan, saat itu mereka berbicara dalam 21 bahasa sebagai tanda dipenuhi Roh Kudus.  Inilah pertama kalinya Roh Kudus dicurahkan diakhir zaman menandai lahirnya gerakan Pantekosta dan Dogma Bahasa Lidah.  Sejak itu sungai Roh Kudus telah mengalir dengan deras keseluruh dunia yang membawa kemajuan dan kegerakan rohani yang luar biasa.

Dengan demikian Pdt. Charles Parham adalah orang pertama yang mengajarkan doktrin berbicara dalam Bahasa Lidah sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus.  Pada tahun 1901 Pdt. Charles Parham menutup sekolahnya lalu ia mengadakan penginjilan dengan berita kepenuhan Roh Kudus dengan tanda berbicara dalam bahasa lidah.

MASUKNYA GERAKAN PANTEKOSTA KE INDONESIA

Tahun 1919  merupakan tahun bersejarah yang tak dapat dilupakan oleh ribuan orang yang mengunjugi The Bethel Temple Meeting di tepi Green Lake, Seattle, negara bagian Washington Amerika Serikat.  Kebaktian penginjilan itu berlangsung dalam sebuah tenda yang mampu menampung ribuan tempat duduk.

Ratusan orang orang menerima Yesus dan di baptis dalam air, dan lebih dari 150 orang menerima baptisan Roh Kudus.  Mujizat kesembuhan Illahi dialami oleh ratusan orang, juga beberapa orang mengalami panggilan Allah untuk melayani Dia melalui penglihatan dan nubuat, antara lain adalah Richard van Klaveren dengan istri dan Cornelius E. Croesbeek dengan istri.

Dalam suatu penglihatan yang mempesonakan, Tuhan telah membukakan rahasianya bahwa Tuhan menghendaki mereka untuk pergi ke Pulau Jawa di Nederland Oost Indie (Indonesia) untuk menempatkan markas bagi pekerjaan Allah yang besar ini, dan Allah sendiri yang akan menyertai mereka dalam tugas pelayanan tersebut.

Kedua suami istri itu lalu menemui Pdt. W.H. Offiler, gembala jemaat Bethel Temple serta menceritakan tentang penglihatan ajaib itu.  Saat itu dimulailah persiapan untuk suatu perjalanan yang jauh.  Tak lama kemudian telah terkumpul dana sebesar $ 1,700.  Setelah itu pemasukan dana untuk ini terhenti sama sekali.  Keraguan mulai timbul, sementara jadwal keberangkatan kapal yang masih jarang itu semakin dekat.  Situasi menjadi suram, masih diperlukan $. 500 lagi untuk biaya perjalanan.

Pada suatu Sabtu petang, seusai kebaktian di Bethel Temple, saat Pdt. Offiler dan istri masih duduk di kursi mimbar, datang seorang wanita menghampiri mereka.  Matanya basah oleh air mata dan wajahnya tampak susah dan kelihatan sekali bahwa ia sedang dirundung malang, lalu Pdt. Offieler langsung bertanya:  Apa yang menyusahkanmu?  Kemudian berceritalah dia dengan mengatakan bahwa telah 5 tahun ia menderita penyakit tumor sambil menunjuk ke sisi pinggangnya yang telah membengkak sebesar sepak bola.  Kemudian wanita itu mengatakan bahwa dokter ahli bedah yang merawa saya selama ini mengatakan bahwa tumor ini telah menjadi kanker dan dalam 3 hari ini bila tidak dioperasi maka harapan utnuk hidup tipis sekali.  Kemudian Pdt. Offiler bertanya:  jadi apa yang ingin anda lakukan?  Mau dioperasi atau harap pada Tuhan?  Lalu wanita yang bernama Ny. Emily Malquist itu menjawab:  Saya mau percaya dan harap pada Tuhan, Pendeta tolong doakan saya.  Selesai berdoa, wanita itu meninggalkan gereja dan pulang kerumahnya.

Beberapa hari kemudian terjadi mujizat, Tuhan mengangkat tumor tersebut, dan wanita itu mengalami kesembuhan.  Sebelumnya dia telah berjanji kalau ia sembuh, ia akan menyerahkan uang sejumlah $. 500  yang seharusnya dipakai untuk biaya operasi kepada Pdt. Offiler untuk penginjilan.  Dengan sukacita wanita itu segera ke Bank mengambil $. 500 dan segera menyerahkannya kepada Pdt. Offiler sebagai korban ucapan syukur kepada Tuhan.  Tuhan telah cukupkan kebutuhan perjalanan dengan suatu mujizat.

Inilah mujizat, harga Pekabaran Injil Sepenuh masuk ke Indonesia, maka pada tanggal 4 Januari 1921, berangkatlah mereka dari Seattle ke Indonesia dengan kapal laut Suamaru ke Yokohama, Osaka, singgal di Hongkong, lalu ke Pulau Jawa.  Bulan Maret 1921, tibalah mereka di Batavia (Jakarta), lalu dari Jakarta malalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi dan dengan kapal Vankerboot mereka menuju Singaraja (Bali), kemudian menetap di Denpasar dalam sebuah gedung kopra dengan lantai batu bata yang telah hancur dan atas terbut dari rumbia.  Dengan penuh kesulitan mereka mulai menabur benih Injil Sepenuh dari rumah ke rumah.

Setelah dari Bali berkembang ke Surabaya, kemudian ke kota minyak Cepu pada tahun 1923.  Pada bulan Januari 1923 dimulailah kebaktian Pantekosta yang pertama di Deterdink Boulevard Cepu. Pada saat itulah  Sdr. F. G. van Gessel, seorang pegawai BPM bertobat dan menerima Injil Sepenuh.  Kebaktian ini berlangsung terus dengan baik dan jumlah pengunjung bertambah hingga mencapai 50 orang.

Tiga bulan kemudian, pada 30 Maret 1923 terjadi suatu peristiwa penting yang menjadi salah satu tonggak sejarah Gereja Pantekosta di Indonesia.  Benih Injil Sepenuh yang ditabur dengan linangan air mata telah mengelurkan buah pertama dengan diadakannya baptisan air di Pasar Sore Cepu bagi 13 orang, diantaranya adalah suami istri F.G. van Gessel, suami istri S.I.P Lumoindong dan Sdr. Agust Kops.

Karena kemajuan yang pesat, maka pada tanggal 4 Juni 1924 pemerintahan Hindia Belanda mengakui eksistensi De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie, sebagai sebuah Vereeniging (perkumpulan).  Pada tahun 4 Juni 1937  Pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta menjadi Kerkgenootschab.  Berdasarkan Staatsblad 1927 No. 156 & 532, dengan beslid Pemerintah No. 33 tanggal 4 Juni 1937, dengan No. 768, nama Pinkstergemeente ini berubah menjadi Pinkster Kerk in Nederlandsch Indie.

Dan pada zaman pendudukan Jepang pada tahun 1942 di robah menjadi Gereja Pantekosta di Indonesia, yang dipimpin oleh Pdt. H. N. Runkat.

 

MASUKNYA GPdI KE BALIKPAPAN – KALIMANTAN TIMUR

Balikpapan merupakan titik awal dari pergerakan Pantekosta di Kalimantan Timur, karena pada bulan Maret 1927 itulah Pantekosta masuk daerah Kalimantan.  Adapun Pantekosta tersebut dimulai oleh Saudara Groeneveld, seorang warga negara Belanda.  Bekerja sebagai pegawai Doane Balikpapan, mulai mengadakan persekutuan doa/kebaktian rumah tangga, di rumahnya sendiri dan dihadiri oleh beberapa orang yang sepakat untuk memulai pelayanan Pantekosta, karena jauh sebelum ada Pantekosta sudah ada Katholik.  Pekerjaan Tuhan yang dimulai sekaligus dilayani oleh Saudara GROENEVELD berjalan terus sekalipun menghadapi banyak tantangan dari pihak-pihak yang tidak senang dengan gaya/cara Pantekosta yang mengutamakan pekerjaan Roh Kudus.

Tahun 1930, seorang Pendeta muda DE BUUR datang di Balikpapan  dan mengadakan Kebaktian  Kebangunan   Rohani  (KKR)  dan   terjadi  lawatan  Allah sehingga beberapa orang menyerahkan diri kepada Tuhan dan dibaptis selam sesuai Firman Tuhan.  Beberapa waktu kemudian datang juga seorang hamba Tuhan Pendeta Patiradjawane di Balikpapan mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani sehingga jemaat-jemaat yang sudah di baptis semakin dikuatkan dan bertumbuh dalam kerohaniannya.  Tahun 1932, seorang missionary muda dari Bethel Temple Seattle Washington, USA bernama ARLAND F. WASSEL datang mengunjungi  Balikpapan dan  malayani  jemaat-jemaat Pantekosta di Balikpapan.  Kemudian datang juga Pendeta L. JHONSON dan istri, Pendeta  L. COCHREN dan Pendeta JHON BANGKS.  Selama beberapa tahun mereka melayani jemaat Pantekosta di kota Balikpapan dan pekerjaan Tuhan semakin berkembang, semakin banyak orang datang menyerahkan diri kepada Tuhan.  Dalam pelayanan tersebut anak mereka meninggal dunia dan ini merupakan benih bagi kemajuan pelayanan Pantekosta di Kalimantan Timur.

Tahun 1934, pelayanan tersebut kembali dilayani oleh Saudara GROENEVELD, salah satu jemaatnya adalah keluarga KILAPONG SUMUAL dan seorang kemanakan yang sampai sekarang meneruskan pelayanan suami di GPdI jalan Mangga, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Tahun 1949, jemaat Pantekosta di Balikpapan digembalakan oleh dua orang gembala wanita yang bernama Pendeta INESS PRESSO dan EVELYN THIEDERMAN.  Tempat ibadah pindah ke Kampung Baru, jalan Sepaku, Gereja di bangun di atas laut.  Waktu itu gereja bernama PINKSTER KERK, dibantu oleh Bapak WALEWANGKO dan Bapak RUMAMPUK sebagai Jaksa.

Tahun 1960, pelayanan tersebut dilayani oleh hamba Tuhan berdarah Tionghoa, yaitu Pendeta LIEM HOA SENG, di bantu oleh Bapak H. LAURENS, Bapak LANJANG dan Bapak  NELWAN.  Kemudian Bapak H. LAURENS  dan Bapak NELWAN menghadap Kepala Pertamina Balikpapan untuk mendapatkan sebidang tanah pinjaman untuk mendirikan gedung GPdI.  Dan sampai sekarang tanah itu telah menjadi hak milik dari GPdI Balikpapan.  Pendeta LIEM HOA SENG membangun gereja di atas tanah tersebut.  Kemudian oleh satu dan lain hal Bapak WALEWANGKO keluar dari GPdI dan membangun gereja GBIS, berikut Bapak RUMAMPUK keluar dan membangun Gereja Toraja.

Demikian pekerjaan Tuhan di Balikpapan terus berkembang.  Setelah Pdt. Liem Hoa Seng  pindah, maka pekerjaan Tuhan di layani oleh Pdt. Rumimpunu, kemudian digantikan oleh Pdt.     M. J. Tampongangoy, setelah beliau meninggal dunia pada tahun 1991, maka pekerjaan Tuhan di Balikappan diteruskan oleh istri almarhum, yaitu Pdt. Ibu M. S. Tampongangoy Manoppo. Pada tahun 2005 sampai sekarang.

Pada akhirnya Gereja Pantekosta di Indonesia terus berkembang, tidak hanya di Balikpapan saja, tetapi juga Tarakan pada tahun 1935, Kabupaten Pasir pada tahun 1953, Samarinda pada tahun 1949, Daerah Barong Tongkok pada tahun 1954, Bontang pada tahun 1976, Tenggarong 1972.  Dan pada akhirnya pekerjaan Tuhan di Kalimantan Timur sudah berkembang dengan pesatnya keseluruh tempat yang ada di Kalimantan Timur.  Ini semua tidak lepas juga dari peranan Sekolah Alkitab yang ada di Balikpapan, di mana telah mencetak hamba-hamba Tuhan yang siap pakai untuk diterjunkan di pedalaman Kalimantan sampai ke daerah-daerah perbatasan